[ONESHOOT] How To Break Up With Your Girlfriend?

L Infinite & Suzy Miss A (306)

© High School Graphics by: HRa

Title : How To Break Up With Your Girlfriend? | Author : dindareginaa | Genre : Angst, Comedy, Romance | Rating : Teen | Main Cast : Kim Myungsoo & Bae Sooji | Other Cast : Find by yourself!

“Kita putus.”

Kim Myungsoo menatap tajam pantulan wajahnya di cermin. Sedetik kemudian ia menghela. Oh, bagaimana ia mengatakan hal ini pada gadis itu? Jujur saja ia tak sanggup membuat seorang gadis menangis karena dirinya.

Gadis yang dibicarakan Myungsoo saat ini adalah Bae Sooji, adik kelasnya di Jaeil High School dan juga siswi yang paling populer. Sebenarnya, Myungsoo termasuk lelaki yang beruntung karena bisa berkencan dengan gadis cantik seperti Bae Sooji. Awalnya Myungsoo memang senang menghabiskan waktunya bersama dengan Sooji. Gadis itu baik, perhatian dan manja. Namun, lama-kelamaan, Myungsoo menjadi muak dengan sifat Sooji yang terlalu kekanak-kanakan.

Setiap Myungsoo selesai latihan basket disekolahnya, Sooji selalu membawakan bekal untuk Myungsoo. Tidak sampai disitu saja, Sooji bahkan bersikeras untuk menyuapi lelaki yang genap berusia 18 tahun Maret lalu itu. Bisa kalian bayangkan bukan bagaimana malunya Myungsoo disuapi oleh Sooji dihadapan teman-temannya?!

Sooji juga memaksa Myungsoo untuk menghapal tanggal-tanggal yang menurut Myungsoo sebenarnya sangat tidak penting. Seperti hari ke 10 mereka pacaran, hari ke 40 hingga ke 100! Sooji bahkan memaksa Myungsoo menghapal ulang tahun anjing betinanya yang bernama Damon! Benar-benar gila!

“Apa yang harus kulakukan sekarang?” Myungsoo menyandarkan wajahnya ke atas meja. Ia benar-benar frustasi.

“Kenapa tidak kau putuskan saja langsung?”

Myungsoo sontak mengangkat kepalanya. Ia menatap tajam Byun Baekhyun.

“Kalau mengatakan putus pada Sooji sangatlah mudah, sudah kulakukan dari dulu!”

Disamping Baekhyun, Chanyeol hanya terkekeh pelan. Ia menyesap hot coffee-nya, menikmati aromanya yang wangi lalu tersenyum simpul. “Kalau kau tidak bisa memutuskannya, buat dia yang memutuskanmu!”

Myungsoo tertegun. Sepertinya ide Chanyeol boleh juga. “Bagaimana caranya?”

1. Jangan pernah angkat telepon dan juga membalas pesannya.

Sooji mendengus kesal. Sudah tiga hari ini Myungsoo tidak mengangkat panggilannya dan juga membalas pesan singkatnya. Biasanya sesibuk apapun lelaki itu, ia pasti sempat menghubungi Sooji. Tapi kenapa sekarang tidak?

Namun, gadis itu tersenyum begitu melihat Myungsoo berjalan kearah kantin bersama dengan kedua sahabatnya – Baekhyun dan juga Chanyeol. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Sooji sontak menghampiri lelaki tampan itu.

Oppa, kenapa kau tidak membalas pesanku?!” rengek Sooji seraya bergelayutan manja di lengan Myungsoo. Ini salah satu alasan Myungsoo ingin putus dengan Sooji. Ia risih dengan sifat Sooji yang seperti ini.

Myungsoo melepaskan genggaman Sooji perlahan lalu memaksakan senyumnya. “Maaf. Aku sedang sibuk. Kau tahu bukan sebentar lagi aku akan menghadapi ujian kelulusan? Oh, sebaiknya aku pergi. Bel akan segera berbunyi.”

Myungsoo melambaikan tangannya pada Sooji yang menatapnya dengan wajah ditekuk.

Ya! Kim Myungsoo! Bukankah kau bilang ingin makan? Kenapa tidak jadi?” sungut Baekhyun.

“Kita makan ditempat lain saja. Aku yang bayar.”

Kedua sahabat Myungsoo itu mengangkat kedua bahu mereka tak peduli. Terserah Myungsoo sajalah. Yang penting makan gratis!

Sebenarnya Myungsoo merasa tidak enak pada Sooji karena menginggalkan gadis itu begitu saja. Tapi mau bagaimana lagi? Ia memang harus putus dengan Sooji!

2. Suruh Sooji mengerjakan semua tugas sekolahmu.

Sooji tersenyum senang begitu pagi-pagi sekali Myungsoo mengiriminya pesan. Lelaki itu ingin bertemu dengannya! Yah, walaupun itu dirumahnya sendiri. Tapi, tidak masalah selama ia bisa bertemu dengan Myungsoo. Rasanya sudah lama sekali sejak ia terakhir kali berbincang dengan Myungsoo.

“Ada apa, Oppa?” tanya Sooji begitu Myungsoo sudah berada dirumahnya.

Myungsoo tersenyum lalu segera memberikan beberapa bukunya pada Sooji.

Sooji mengernyit bingung. “Apa ini?”

“Tugasku. Kau bisa mengerjakannya bukan? Aku bisa saja mengerjakannya sendiri, tapi aku ada janji bermain basket dengan Chanyeol dan juga Baekhyun. Jadi kumohon,” Myungsoo menatap Sooji dengan tatapan memelasnya. Sooji memang termasuk siswi yang pintar. Jadi, hal ini bukanlah masalah besar baginya. Lagipula, tugas Myungsoo kali ini berhubungan dengan kelas 10, sesuai dengan kelas Sooji sekarang.

Sooji tersenyum kecut. Jadi, Myungsoo datang kerumahnya hanya untuk ini? Sebenarnya Sooji cukup kecewa. Ia kira Myungsoo akan mengajaknya pergi keluar atau sesuatu seperti itu. Namun, ia menyunggingkan senyumannya. Ia tidak ingin membuat Myungsoo kecewa. “Baiklah, Oppa,” ujar Sooji kemudian.

Myungsoo mengernyit heran. Gadis itu tidak marah? Padahal Myungsoo berharap Sooji akan memarahinya dan menyuruhnya mengerjakan tugasnya sendiri. Reaksinya benar-benar tidak sesuai dengan yang Myungsoo harapkan. “Terimakasih, Sooji-ah. Kalau begitu aku pergi dulu,” Myungsoo mengusap lembut puncak kepala Sooji.

Setelah pamit pada kedua orangtua Sooji, barulah Myungsoo pergi.

3. Buat dia risih dengan sikapmu.

Hari ini, Myungsoo memutuskan untuk mengajak Sooji jalan keluar. Lagipula, sudah lama juga sejak terakhir Myungsoo dan Sooji jalan berdua. Jadi, tidak ada salahnya bukan?

Myungsoo mengajak keluar Sooji hari ini bukanlah tanpa alasan. Ia melakukan hal ini karena saran dari Chanyeol. Menurut Chanyeol, jika Myungsoo bisa membuat Sooji risih dengannya, ada kemungkinan Sooji akan memutuskannya!

Myungsoo tahu bahwa Sooji sangat tidak suka dengan lelaki yang bau. Maka dari itu, Myungsoo sengaja tidak mandi setelah latihan basket bersama Baekhyun dan Chanyeol.

“Hai,” sapa Myungsoo begitu Sooji membukakan pintu rumahnya.

“Hai.” Sooji mengernyit. Ia menatap Myungsoo lekat. Sepertinya ada yang berbeda dari penampilan Myungsoo. Rambut lelaki itu basah. Tapi Sooji tahu pasti bahwa hal itu bukan karena Myungsoo habis mencuci rambutnya. Itu keringat. “Oppa, apa yang kau lakukan hingga berkeringat begini?” Sooji merogoh tas sandangnya dan mengeluarkan sapu tangan dari dalam tasnya dan segera menghapus peluh Myungsoo.

Myungsoo hanya meringis. “Aku baru saja selesai bermain basket dengan Baekhyun dan Chanyeol. Aku tidak sempat mandi. Kau tidak masalah dengan ini bukan?”

Myungsoo menatap Sooji lekat. Dalam hati ia berdoa agar Sooji segera membatalkan kencan mereka.

“Tidak apa.”

Myungsoo melotot tak percaya. “Kau… yakin?”

Sooji mengangguk pasti. Sebenarnya ia bisa saja menyuruh Myungsoo pulang terlebih dahulu. Tapi ia tak mau merusak kencan mereka. Maka dari itu Sooji berusaha untuk tidak ambil pusing. “Ayo.”

Myungsoo dan Sooji memutuskan untuk makan di sebuah restoran cepat saji langganan mereka. Tapi, sepertinya Sooji kehilangan selera makannya begitu melihat porsi makan Myungsoo.  Lelaki itu memesan cheese burger, chicken fillet, kentang goreng dan juga pepsi semuanya dalam ukuran jumbo.

“Kau tidak makan?” tanya Myungsoo heran karena sedari tadi gadis itu belum menyentuh makanannya.

Sooji memaksakan seulas senyuman lalu menggeleng. “Tidak. Melihat Oppa makan saja sudah membuatku kenyang.”

Myungsoo lalu mengidikkan bahunya tak peduli. “Kalau begitu, punyamu untukku saja.”

Sooji membelalak begitu Myungsoo mengambil burger miliknya. Heol! Sebenarnya perut Myungsoo terbuat dari apa? Karet?!

Setelah menghabiskan makanan mereka – atau lebih tepatnya Myungsoo, karena sedari tadi Sooji hanya diam melihat Myungsoo menikmati santapannya – Sooji dan Myungsoo memutuskan untuk berbincang sejenak. Sebenarnya yang berbicara hanyalah Myungsoo, lelaki itu tak henti-hentinya bercerita mengenai basket, basket dan basket. Sooji bahkan tak diberi kesempatan untuk mengganti topik pembicaraan. Lihat! Sooji bahkan sudah mulai menguap karena bosannya.

“Oh, sudah mulai larut. Sebaiknya kita pulang. Ayo.”

Akhirnya! Sooji menghembuskan nafas lega. Ini pertama kalinya Sooji berharap waktu cepat berlalu saat bersama Myungsoo.

Myungsoo dan Sooji kemudian berjalan menuju kasir. Sesampainya di kasir, Myungsoo merogoh saku celananya. Ia mengernyit begitu tak menemukan dompetnya disana.

“Kenapa, Oppa?”

Myungsoo menoleh pada Sooji lalu terkekeh. “Sepertinya aku lupa membawa dompetku. Tidak apa bukan kalau kau yang membayar kali ini?”

Sooji menggelengkan kepalanya. Sooji bahkan tak makan dan sekarang ia yang harus membayar tagihan Myungsoo? Benar-benar!

Dengan segera, Sooji mengeluarkan dompetnya lalu membayar tagihan Myungsoo. Setelah menyelesaikan pembayaran mereka, barulah keduanya pergi. Ya, Myungsoo memang sengaja meninggalkan dompetnya agar Sooji yang membayar semua makanan mereka.

Dalam perjalanan pulang, Sooji memutuskan untuk tak banyak bicara. Namun, sesampainya di rumah Sooji, saat Myungsoo ingin pulang, gadis itu segera menahannya.

Oppa…”

“Ya?” tanya Myungsoo. Ia mengurungkan niatnya untuk mengendarai motornya.

“Ada apa denganmu hari ini?”

“Apa?” tanya Myungsoo seolah tak mengerti. Ia tahu jelas kemana arah pembicaraan gadis itu.

“Sikapmu! Kau benar-benar kacau. Kau bukan seperti Myungsoo yang kukenal dulu. Aku pikir hari ini akan menjadi hari yang terindah untuk kita. Kita bahkan sudah lama tidak keluar bersama karena alasanmu yang sibuk. Kau selalu sibuk tapi kau selalu punya waktu untuk bermain basket. Aku ingin marah! Aku lelah! Tapi, karena aku menyayangimu, aku berusaha untuk bertingkah seolah semuanya baik-baik saja. Untuk sementara, sebaiknya kita tidak perlu saling berhubungan dulu untuk memikirkan perasaan kita masing-masing. Selamat malam.”

Myungsoo hanya diam seraya menatap Sooji yang menutup pintu rumahnya. Sedetik kemudian ia tersenyum. Sepertinya ia semakin dekat dengan tujuannya: PUTUS. Jujur saja, melihat Sooji yang hampir saja menangis membuat Myungsoo – lagi dan lagi – tidak enak pada gadis itu. Tapi, setiap Myungsoo merasakan perasaan tidak enak itu, selalu saja ada bisikan yang mengatakan bahwa memang itulah tujuan Myungsoo sebenarnya.

4. Jika ketiga cara tersebut tidak berhasil, maka cara terakhir yang paling ampuh adalah… selingkuh!

Myungsoo tersenyum seraya mulai mengetik pesan dan dengan cepat mengirimnya ke nomor tujuan. Saat ini, Myungsoo sedang berkirim pesan pada Jung Soojung, seorang model yang tengah naik daun. Myungsoo mengenal Soojung karena kebetulan gadis itu adalah sepupu Baekhyun! Ch. Kemana saja ia selama ini sampai tidak sadar bahwa sahabatnya memiliki sepupu seorang model?!

Gadis itu – Jung Soojung – benar-benar gadis impiannya. Dia cantik, baik, dewasa dan yang paling penting tidak suka mengatur seperti yang dilakukan Sooji padanya.

Omong-omong tentang Sooji, semenjak Sooji mengatakan bahwa mereka perlu menjaga jarak, Myungsoo benar-benar melakukannya. Ia sama sekali tak pernah menghubungi Sooji, apalagi semenjak ia sibuk mendekati Soojung.

Myungsoo tersenyum begitu merasakan ponselnya bergetar. Namun, senyumnya menguap seketika begitu membaca nama si pengirim pesan. Ternyata Bae Sooji.

From: Soo-ji

Apa yang sedang kau lakukan? Aku merindukanmu.

Myungsoo mendesis. Gadis itu merindukannya? Bukankah ia sendiri yang mengatakan bahwa mereka harus menjaga jarak?

Ponsel Myungsoo kembali bergetar. Kali ini pesan dari Soojung. Myungsoo segera mengabaikan pesan dari Sooji dan dengan cepat membalas pesan Soojung.

Soojung-ah, apakah kau sibuk besok?

Myungsoo dan Soojung kini sedang asik berjalan di sebuah pusat perbelanjaan. Myungsoo memang mengajak Soojung keluar semalam dan karena kebetulan gadis itu memiliki jadwal kosong, ia menyetujuinya.

Myungsoo tak henti-hentinya tersenyum mendengar ocehan Soojung, satu hal yang sudah lama tak dilakukannya bersama Sooji.

“Myungsoo Oppa.”

Myungsoo dan Soojung sontak menoleh ke sumber suara. Melihat siapa yang memanggilnya, Myungsoo membulatkan matanya.

“Bae Sooji…”

Gadis itu – Sooji – tersenyum mendengar Myungsoo menyebut namanya. Ia segera berjalan kearah Myungsoo dan Soojung.

“Jadi, kau lebih memilih untuk tidak membalas pesanku dan pergi dengan gadis ini?!” Tangan Sooji terangkat kearah Soojung.

“Sooji-ah, aku…”

“Kenapa, Oppa?” potong Sooji. “Padahal aku berharap hubungan kita akan kembali seperti semula. Tapi kau malah mengabaikanku.”

Myungsoo menarik nafasnya panjang. “Aku bosan,” katanya akhirnya, membuat Sooji tercekat. Bosan?

“Kau sangat kekanak-kanakan, manja dan suka mengaturku. Aku tidak suka diperlakukan seperti itu!”

Sooji tersenyum lirih. Jadi, alasan Myungsoo tidak menganggapnya adalah karena bosan? Baiklah, sepertinya tidak ada yang bisa diperbaiki dari hubungan mereka. “Baiklah kalau begitu. Sepertinya putus adalah jalan yang terbaik. Aku berharap kau menemukan semua yang kau inginkan dari gadis ini.”

Myungsoo ingin mengejar Sooji, tapi entah kenapa seperti ada yang menahannya. Ia mengurungkan niatnya untuk mengejar Sooji. Lagipula, bukankah ini yang ia inginkan selama ini?

“Gadis itu kekasihmu?” tanya Soojung yang sedari tadi hanya diam.

“Tidak lagi,” jawab Myungsoo. Ia kemudian menatap Soojung lekat lalu menggenggam tangan Soojung. “Sebenarnya aku mengajakmu keluar hari ini karena ada yang ingin kukatakan padamu. Kau mau jadi kekasihku?”

Soojung tersenyum. “Kita jalani saja dulu.”

Semenjak hari itu, Myungsoo dan Sooji tak pernah bertemu lagi. Lelaki itu kini sedang menikmati hari-harinya bersama Soojung.

Awal mereka pacaran, Myungsoo memang merasa dunia seperti milik mereka berdua. Tapi, lama-kelamaan Myungsoo tak suka saat Soojung berpose mesra dengan model yang tampan. Seperti sekarang ini. Soojung sedang berpelukan mesra dengan seorang model.

Myungsoo mengepalkan kedua tangannya. Lalu segera menghampiri Soojung. “Ayo kita pulang.” Myungsoo segera menarik pergelangan tangan Soojung. Namun, belum sempat Myungsoo membawa Soojung pergi, gadis itu sudah terlebih dahulu melepaskan genggaman Myungsoo.

“Ada apa denganmu sebenarnya?!”

“Aku tidak suka melihatmu bermesraan dengan lelaki itu!”

“Tidak suka? Memangnya kau siapa?”

Myungsoo membelalakkan matanya. Pertanyaan apa itu?!

“Aku kekasihmu, Jung Soojung!”

Soojung tertawa meremehkan. “Kekasihku? Sepertinya kau lupa satu hal, Kim Myungsoo. Aku tidak pernah mengiyakan pernyataanmu itu. Aku hanya bilang kita jalani saja dulu! Sebaiknya kau pulang saja! Tak usah menungguku.”

Myungsoo merasa seperti orang bodoh sekarang. Ternyata ia salah menilai Soojung selama ini. Tak ingin lebih malu lagi, Myungsoo segera pergi.

Selama diperjalanan pulang, berkali-kali Myungsoo merutuki kebodohannya. Ia lebih memilih Soojung yang jelas-jelas tak tulus padanya dari pada Sooji yang mati-matian mempertahankan hubungan mereka. Kim Myungsoo! Kau adalah laki-laki paling brengs*k di dunia ini!

Myungsoo sontak mengerem motornya begitu ia sadar ia telah salah arah, karena sekarang dirinya sudah berada didepan rumah Sooji.

Oppa, apa yang sedang kau lakukan diluar sana?”

Lamunan Myungsoo buyar seketika begitu Sooji berbicara padanya. Ia kini bisa melihat Sooji sedang menunggunya didepan pintu rumahnya.

“Masuklah,” suruh Sooji.

Myungsoo mengangguk kecil lalu segera menuruti perintah Sooji.

“Kau mau pergi?” tanya Myungsoo pada Sooji begitu melihat pakaian Sooji yang sangat rapi. Lelaki itu lalu duduk disamping Sooji – di teras rumah Sooji.

Sooji tersenyum. “Tidak juga. Jadi, apa yang kau lakukan?”

Myungsoo menundukkan kepalanya. Ia merasa sangat menyesal pada Sooji. Sooji masih bersikap ramah padanya setelah apa yang dilakukannya pada gadis itu.

“Maaf.”

“Untuk?” tanya Sooji tak mengerti.

“Untuk semua yang telah kulakukan padamu. Aku sangat jahat padamu.”

“Tidak. Sifatku memang sangat mengesalkan. Wajar saja kau seperti itu.”

Myungsoo menggeleng. Ia lalu menggenggam tangan Sooji, membuat gadis itu tersentak. “Aku ingin mengulang semuanya lagi dari awal. Aku janji aku akan menerimamu apa adanya.”

Sooji melepaskan genggaman Myungsoo perlahan. “Aku tidak bisa, Oppa. Lagipula, bagaimana dengan Soojung?”

“Dia ternyata tidak mencintaiku dengan tulus.”

Jawaban Myungsoo membuat Sooji tersenyum lirih. “Aku… tidak ingin menjadi pilihan terakhirmu. Bagaimana jika kita kembali seperti dulu dan kau menemukan gadis yang lebih baik dariku lagi? Apakah kau akan meninggalkanku lagi? Kurasa begitu.”

“Aku…”

“Sooji-ah.”

Omongan Myungsoo terhenti begitu seorang lelaki memanggil nama Sooji. Keduanya menoleh. Myungsoo mengernyitkan keningnya begitu melihat seorang lelaki berjalan ke arah mereka – atau ke arah Sooji lebih tepatnya. Sepertinya Myungsoo tidak pernah melihat lelaki ini sebelumnya. Sooji juga sepertinya tak pernah mengenalkan lelaki ini pada Myungsoo.

“Siapa?” tanya Myungsoo tanpa sadar.

Oppa, perkenalkan. Dia Yook Sungjae, kekasihku.”

“Kekasih?” tanya Myungsoo sedikit tak percaya. “Secepat itu?”

“Kenapa? Kau bahkan berkencan dengan Soojung sebelum putus denganku,” ujar Sooji. “Pulanglah, Oppa. Aku harus pergi. Ayo, Sungjae Oppa.”

Myungsoo hanya terdiam terpaku ditempatnya seraya melihat Sooji masuk ke dalam mobil Sungjae. Harusnya sejak awal ia tak pernah egois, hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa sedikitpun pernah memikirkan perasaan Sooji.

“Kau baik-baik saja?” Sungjae akhirnya membuka suara setelah cukup lama terdiam.

Sooji tersenyum simpul lalu mengangguk. “Aku baik-baik saja.”

“Kau tahu, kalau kau memang sedang tidak ingin pergi, kita bisa pulang.”

“Aku tidak apa-apa, sungguh.”

Sungjae akhirnya mengalah dan kembali fokus menyetir. Sedangkan Sooji, ia masih memikirkan Myungsoo. Bohong jika ia mengatakan bahwa dirinya telah melupakan Myungsoo. Tapi, seperti yang ia katakan sebelumnya, ia tidak ingin menjadi pilihan terakhir Myungsoo disaat lelaki itu sadar bahwa ternyata hanya Sooji yang mengertinya. Sooji kemudian menoleh pada Sungjae yang sibuk menyetir.

“Sooji-ah, maukah kau jadi kekasihku?”

“Maaf, Oppa. Aku tidak bisa. Aku masih menyukai Myungsoo Oppa, lelaki yang kuceritakan padamu dulu.”

“Aku akan menunggumu sampai kau benar-benar bisa menerimaku.”

“Aku tidak pantas untukmu. Aku sangat kekanak-kanakan, manja dan aku bahkan suka mengatur.”

Sungjae menghembuskan nafasnya perlahan lalu memegang kedua bahu Sooji. “Aku tidak peduli dengan semua itu. Aku menyukaimu karena itu kau. Aku tidak peduli dengan hal lainnya.”

Sooji terdiam. Ia menatap Sungjae tak percaya. Ia lalu mulai menangis. Kenapa Myungsoo tidak bisa seperti Sungjae?

“Baiklah, Oppa. Tapi, jika aku tidak sesuai dengan harapanmu, aku mohon jangan tinggalkan aku.”

“Tidak akan.” Sungjae memeluk Sooji erat.

THE END

63 responses to “[ONESHOOT] How To Break Up With Your Girlfriend?

  1. dalam sebuah hubungan bukan hanya saling suka tp yg terpenting saling menerima kekurangan masing2….menerima pribadi tersebut apa adanya tentu lebih baik dalam menjalani hubungan…poor myungsoo

  2. Terasa spt pengalaman yg pernah ku alami—aku sooji tp tak bisa bersikap seperti sooji…

    Hanya tersakiti…

    Menyayangkan aku yg dlu tak bisa setegar sooji, kurasa…

  3. huuh dasar myungsoo nappeun!!! sekarang tau kan rasa nya digituin, kyk yg dulu myungppa lakuin ke zyeonn Tsk!!! semoga zyeonn bahagia sm sungjae🙂. cerita nya menarik chingu! nan joha🙂

  4. nyesel deh si myungsooo
    aaaaahh ada sungjaeee lopelope dah saammaa sungjae aku kalo jadi suzy milih sungjae aja deh emng gantengan myungsoo si tp baikan sungjae disini haha

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s