[Chapter-5] High Society

Untitled-

mainactor

p  r  o  u  d  l  y    p  r  e  s  e  n  t  s

High   Society

a chaptered fanfiction with rating G

starring

| Suzy “Miss A” | L “Infinite’ | Chanyeol “EXO” | Seulgi “Red Velvet”|

| Krystal f(x) | Lay “EXO” | Irene “Red Velvet” | Suga “BTS” |

Untitled-1


~~~ shall we be friend?~~~

.

Suzy yang sejujurnya masih mengantuk tidak melihat genangan kecil sirup jeruk yang ada di tangga lengkap dengan beberapa bongkah es batu dan gelas plastiknya. Ia tidak sadar terlah menginjak genangan itu dan tergelincir lalu kehilangan keseimbangan.

Ia masih tidak sadar bahwa ia sedang melayang di udara dan hanya dalam sepersekian detik ia akan membentur lantai marmer sekolahan dan mendapat patah tulang atau gegar otak ringan.

Ia baru sadar saat kerasnya marmer tak kunjung menghantam tubuhnya. Memberanikan diri membuka mata, Suzy terkejut melihat tempat pendaratannya.

Kim Myungsoo.

Neo gwencanha?!” Seru Myungsoo panik dengan mata terbelalak. Pria itu merasa jantungnya hampir copot saat melihat Suzy tergelincir tadi. Untung saja ia tidak terlambat.

Suzy hanya membuka mulutnya saat sadar bahwa tempat pendaratannya adalah manusia hidup bernama Kim Myungsoo. Dengan wajah merah padam ia berguling ke samping dan langsung berdiri. ‘Heck! Don’t you realize?! You just landed in Myungsoo!!!’

Myungsoo dengan susah payah berusaha bangun dari posisinya. Memar di tubuhnya masih terasa sakit dan sekarang semakin nyeri setelah menyelamatkan Suzy. Myungsoo yang tadi hendak naik ke kelasnya tak sengaja malah bertemu Suzy yang sedang menuruni tangga. Ia baru saja hendak menyapa saat tiba-tiba tubuh Suzy oleng dan tanpa berpikir panjang ia langsung berlari tiga anak tangga dan membiarkan beban Suzy membuat keduanya terjatuh dengan cukup keras di lantai. ‘Oh good, sekarang aku bahkan menyakiti diriku sendiri demi yeoja ini.’

“Apa kau tidak apa-apa?” Myungsoo merasa dirinya melayang saat mendengar Suzy bertanya seperti itu.

Melihat wajah panik Suzy, Myungsoo tak bisa menahan rasa isengnya. Dengan berlebihan ia jatuh terduduk lagi. “Auuw,” Serunya heboh sambil memegangi kaki dan lengannya.

Suzy refleks mendekati Myungsoo dengan wajah super panik, “Astaga maafkan aku!” Pekiknya sambil menarik Myungsoo bangun dan membalikkan badannya, bersiap menggendong Myungsoo di punggungnya.

Myungsoo tak bisa menahan tawanya dan akhirnya tertawa terbahak-bahak. Ia merasakan perutnya sakit dan air di sudut matanya.

Mendengar tawa Myungsoo, Suzy refleks menoleh dan mendengus kesal. Tanpa ampun ia melayangkan tangannya ke bahu Myungsoo dan memukul namja itu kuat-kuat. “Dasar iseng! Jantungku nyaris copot kukira kau akan mati!” Pekik Suzy kembali melayangkan pukulan.

“Hehehehe, mian Suzy-a, sudah lama aku tidak melihat kau meledak.” Sahut Myungsoo dengan cengiran di wajah dan mengusap bahunya yang dipukuli Suzy tadi.

“Lain kali akan kupastikan kau yang kudo—“

Kata-kata Suzy tepotong saat melihat beberapa titik darah yang menetes ke kerah baju Myungsoo. Refleks Suzy memekik dan langsung memaksa melihat kepala Myungsoo. “Damn! Ini berdarah!” Seru Suzy panik sambil memegang bagian belakang kepala Myungsoo dan mendelik horor.

Myungsoo mengangkat tangannya ke belakang dan mengecek belakang kepalanya. Ia terkejut melihat darah di tangannya. “Kurasa ini—“

Kata-kata Myungsoo terhenti saat pria itu sadar bahwa Suzy sudah menggeretnya menuju UKS yang terletak di ujung koridor. Ia hendak mengatakan bahwa ia tidak apa-apa namun Suzy terlihat sibuk sekali mengumpulkan kasa, perban, dan alkohol dari lemari di UKS.

“Aaaa perih,” pekik Myungsoo saat Suzy dengan ganas menekan lukanya dengan alkohol. Untungnya tidak sobek sehingga hanya perlu dibersihkan.

“Bagaimana bisa kau bilang tidak apa-apa saat kepalamu berdarah seperti ini?!” Seru Suzy sambil maju sedikit untuk membersihkan luka Myungsoo. Sangking paniknya, ia tidak sempat meminta Myungsoo berbalik dan membersihkan luka Myungsoo dari depan, sehingga tanpa sadar kepala Myungsoo berada terlalu dekat dengan perutnya dan jarak keduanya menjadi sangat dekat.

Myungsoo yang menyadari hal itu sedari tadi hanya diam sambil memejamkan matanya. Menikmati aroma khas Suzy dan citrus memenuhi indra pembauannya. Entah kenapa ia menyukai perhatian Suzy.

“Lainkali jangan mengorbankan dirimu please. Kau bisa saja meneriakiku atau menghalangi kepalamu terlebih dahulu.” Omel Suzy yang kini sedang meniup-niup luka Myungsoo.

Myungsoo hanya diam. Sudah berapa lama sejak terakhir kali dirinya diomeli? Ia tidak tahu. Yang jelas orangtuanya benar-benar membiarkannya bertingkah semaunya tanpa pernah memberikan perhatian. Myungsoo selalu iri melihat teman-temannya diteror oleh ibu mereka saat melewati tengah malam belum sampai di rumah. Ia selalu bertanya-tanya mengapa Ibunya tidak seperti itu padahal ibu teman-temannya juga Nyonya Cheongdamdong.

“Bisa kau terus omeli aku? Omeli aku. Tentang apa saja.” Pinta Myungsoo lirih saat Suzy berhenti dengan omelannya.

Suzy terkejut dengan permintaan Myungsoo, namun melihat wajah Myungsoo yang begitu memelas ia tak tega menolaknya. Dengan cepat ia mengomeli Myungsoo tentang segala hal yang ia tidak suka. Mulai dari cara berpakaian yang selalu minus dasi dan jas, model rambut yang menutupi dahi, tugas yang terbengkalai, nilai ulangan yang jeblok, dan masih banyak hal lagi.

“Kau itu namja Myungsoo, bisa tidak sih kau itu bertindak lebih serius? Sudah mau lulus, masih saja bermain-main!”

Saat itu Myungsoo benar-benar tersenyum. Tersenyum karena Suzy menuruti permintaannya dan tersneyum karena sadar bahwa Suzy tahu betul tentang dirinya yang bahkan ia tidak sadari. Tanpa sadar kedua tangannya terangkat dan melingkari tubuh Suzy selama sepersekian detik.

***

God damn it!” Pekik Joohyun setelah membaca pesan yang ia terima dari ibunya. Ia sudah hampir membalas pesan itu ketika satu pesan lagi masuk. “Fuck!

“Hyunnie-a! Tidak baik mengumpat dua kali dalam satu menit,” Seru Yoongi jail dari tempat duduknya saat mendengar Joohyun mengumpat.

Saat itu bel pulang baru saja berbunyi, dan kebanyakan murid masih berada di tempatnya untuk meringkasi tas masing-masing.

Shut up!” Yoongi hanya tertawa mendengar seruan Joohyun yang kini dengan kesal memasukkan asal barang-barangnya ke dalam tas.

“Kau kenapa sih?” Tanya Seulgi heran. Tak biasanya Joohyun yang selalu anggun meledak seperti ini. Hal ini membuat Seulgi tersadar bahwa Joohyun benar-benar sepupu Suzy dan darah meledak-ledak mengalir dalam keduanya. Meskipun Joohyun lebih sering berhasil menguasai emosinya.

Eomma menyuruhku untuk menemani—“

WHAT THE FUCK!!

Joohyun memutar kedua bola matanya saat mendengar Suzy menjerit horor di belakang. “Suzy ikut kelas kepribadian, keputusan Halmeoni.” Lanjutnya tanpa semangat.

Yya!! Bae Joohyun!! Apa kau tidak menolak?” Seru Suzy dari tempat duduknya. Di sampingnya, Soojung memegangi Suzy agar gadis itu tidak meledak setelah tahu apa yang terjadi.

Joohyun selesai meringkasi tasnya. Ia berbalik menghadap ke tempat Suzy, “Aku juga tidak mau. Tapi ini keputusan Halmeoni. Sekarang cepat keluar sebelum kepalaku meledak!”

Suzy menatap Soojung meminta pertolongan. Namun Soojung hanya memasukkan barang-barang Suzy ke dalam tas lalu menutupnya dan menyerahkan tas itu ke Suzy. “Joohyun saja tidak berani melawan nenekmu, apalagi aku.”

Dan begitulah, sepuluh menit kemudian Suzy dan Joohyun sudah duduk bersama di mobil Joohyun. Keduanya duduk saling berjauhan dan menempel ke jendela masing-masing. Sama sekali tidak mengucap sepatah kata pun. Joohyun sibuk dengan ponselnya dan Suzy sibuk memandangi lalu lintas yang tidak terlalu macet menuju ke daerah Unnidong.

Saat Suzy merasa hampir mati kebosanan, mobil yang ditumpanginya berhenti di depan sebuah rumah bertingkat dua yang terlihat sangat besar dengan pekarangan dan pilar-pilar besar di terasnya.

“Selamat sore,” Sapa seorang wanita berusia tiga puluhan yang sudah menunggu di depan pintu dengan anggun. Menurut pesan dari Jin Ah Imo wanita ini biasa dipanggil Madam Han. Suzy merasa sedikit takut melihat penampilan Madam Han yang mirip seperti ibu tiri Cinderella dengan scarf lebar dan anting-anting panjang menjuntai. Rambutnya yang hampir memutih disasak tinggi dan make up di wajahnya sangat tebal.

Setelah perkenalan singkat, tanpa basa-basi Madam Han meminta Suzy dan Joohyun untuk mengikutinya ke ruang tamu. Suzy sedikit terpukau melihat ruangan yang menurutnya seperi galeri seni itu. Beberapa lukisan terkenal terpanjang di dinding juga beberapa patung yang tersusun rapi di atas lemari pendek berwarna coklat tua. Di tengah ruangan terdapat satu set sofa kulit berwarna cokelat yang tampak mahal.

Joohyun yang memang hanya bertugas menemani langsung duduk di salah satu sofa begitu Madam Han mempersilahkannya dan asyik dengan smartphone-nya sementara Suzy langsung disuruh bersiap-siap.

“Pelajaran paling dasar yang diminta oleh Kang Hwejang adalah cara berjalan dan berbicara,” Terang Madam Han sambil berjalan dengan anggunnya menuju sebuah rak buku dan mengambil beberapa buku tebal, sementara Suzy hanya diam sambil mati-matian berusaha agar tidak mendengus. “Ja, sekarang coba jalan dari sini menuju tangga lalu kembali ke sini.”

Suzy mengerutkan keningnya dan tetap menuruti perkataan Madam Han. Dengan santai ia berjalan seperti biasa dengan kecepatan sedang. Begitu sampai di mulut tangga, ia berbalik dan kembali ke sisi Madam Han.

Madam Han yang memperhatikan Suzy menggelengkan kepalanya tak setuju. Ia berdecak pelan lalu berdiri di depan Suzy. “Saat berjalan usahakan untuk tegap, angkat bahumu—Tidak bukan seperti tentara, lebih santai.”

Suzy menggaruk tengkuknya bingung dan mengikuti perkataan Madam Han. Ia mencoba untuk menarik bahunya sedikit ke belakang.

“Angkat dagumu, jangan terlalu ke atas, jangan nunduk!” Seru Madam Han sambil memegang rahang bawah Suzy dan mengarahkannya seperti yang diinginkan. Suzy mulai merasa kesal dan bosan. “Sekarang berjalan, kau harus berjalan pelan-pelan dan pandangan mata lurus ke depan!” Kembali Madam Han menjelaskan dan memberi contoh.

Joohyun yang duduk di sofa sambil memperhatikan Suzy saat menunggu balasan dari temannya, tertawa dalam hati melihat tampang kesal Suzy yang terus-terusan salah dan menjatuhkan buku yang ada di atas kepalanya untuk membantu mengatur kecepatan jalannya. Joohyun berani bertaruh Suzy akan meledak sebentar lagi melihat kedua mata gadis itu yang tak berhenti beputar dan melemparkan pandangan tak suka ke arah Madam Han.

Beberapa saat kemudian, setelah Suzy akhirnya berhasil berjalan dan dengan susah payah berbicara dengan nada dan kecepatan yang dijadikan standar oleh Madam Han, gadis itu mendapat istirahat sejenak ketika Madam Han berjalan ke ruang makan untuk menyiapkan latihan selanjutnya.

“Hhhhh,” Suzy membanting tubuhnya di sofa yang terletak di depan Joohyun sambil menyeka keringat di keningnya.

“Apa kau masih lama? Aku sudah mengantuk nih.” Keluh Joohyun sambil mengeluarkan make up pouch untuk men-touch up riasan di wajahnya.

Suzy mendengus, “Bilang sama Madam Han,”

Joohyun tertawa mengejek, “Kau saja yang bodoh. Jalan saja tidak bisa.” Daritadi Joohyun sudah tidak tahan melihat cara berjalan Suzy yang salah terus. Padahal jalan adalah hal paling mudah untuk dilakukan.

“Kau kan memang terlahir dan terlatih seperti itu!” Protes Suzy tidak terima dikatakan bodoh karena tidak bisa ‘berjalan’.

Joohyun memutar kedua bola matanya, “Kukasih tahu rahasianya ya. Bertingkahlah seperti kau yang memegang kuasa, lihat cara berjalan artis. Berpikirlah bahwa kita adalah spotlight. Bukan berarti kita snob, tapi karena kita memang terlahir untuk itu. Kita ini keluarga Bae! Pewaris B-Corp. Jadi sudah pasti orang memandang kita.”

Suzy terdiam sambil mencerna kata-kata Joohyun. Perlahan-lahan ia memahaminya. Meskpiun hatinya tidak setuju, lagi-lagi otaknya menyutujui perkataan Joohyun.

“Nah tuh dia sudah kembali, turuti saja jangan sampai kau direbus nanti,”

Perkataan Joohyun itu membuat Suzy tertawa membayangkan Madam Han sebagai penyihir di cerita anak Hansel dan Grettel yang sering diceritakan ibunya dulu.

***

Soojung turun dari mobilnya sambil menenteng kotak berwarna ungu dengan merek bakery ternama. Di dalam kotak itu terdapat kue cokelat berdiameter tiga puluh lima centimeter yang dilapisi vanilla cream dan toping buah. Ia berjalan ke arah bagasi dan memberikan senyum terimakasih ke arah Han Ahjussi, sopirnya, yang sedang membawa kotak kardus besar berisi berbagai mainan dan boneka.

“Sore Miss.Jung,” Sapa seorang berpakaian petugas ke amanan yang berjaga di dekat pintu masuk dan langsung dibalas dengan senyuman oleh Soojung.

“Sore Ahjussi,”

Soojung lalu berjalan menuju lift dan menekan tombol bertuliskan angka 5. Sambil menunggu lift sampai di lantai tujuannya Soojung tersenyum senang memandangi kue yang ia bawa. ‘Jimin pasti suka,’ pikirnya.

Hari ini, Soojung sengaja membawa kue dan berbagai macam mainan untuk merayakan ulang tahun Nam Jimin, salah satu anak korban penganiayaan di rumah sakit. Ia sengaja membawa banyak mainan agar semua anak di tempat itu bisa mendapatkan dan bermain-main. Soojung yang sudah lama ingin membawakan mainan dan belum mendapat alasan yang tepat, akhirnya bersorak gembira saat tahu bahwa salah satu anak di situ berulang tahun. Kakaknya memang melarang Soojung membawakan mainan karena akan mengganggu. Kakaknya lebih sering menyuruh Soojung menyumbang uang saja untuk biaya pengobatan kalau Soojung memang peduli.

‘TING’

Pintu lift terbuka, Soojung pun segera melangkahkan kakinya menuju pintu kaca dengan tulisan ‘Penampungan Anak Korban Penganiayaan’. Senyum ceria terpasang di wajahnya.

Nunaaa!!

Eonniiii!!

Anak-anak yang sedang berada di kasur masing-masing sontak menegakkan tubuhnya dan berseru senang menyambut kedatangan Soojung. Beberapa yang tidak mengenakan infus berlari memeluk kakinya.

“Selamat ulang tahun Jimin!!” Seru Soojung sambil mendekati ranjang yang terletak di tengah ruangan dan mengelus sayang rambut Jimin. “Hari ini aku bawa kue, kita nyanyi untuk Jimin sama-sama lalu makan sama-sama. Di sana ada kotak berisi mainan yang boleh dibuka setelah makan kue, arraci?”

NDEEEE!!” Sontak anak-anak itu duduk dengan manis di ranjang masing-masing. Soojung mendekati salah seorang perawat untuk membantunya menyalakan lilin.

Dan tak lama kemudian ruangan itu sudah penuh dengan lagu selamat ulang tahun yang dinyanyikan dengan semangat. Soojung yang duduk di ranjang Jimin bertepuk tangan sambil ikut bernyanyi dan sedikit menahan tangis. Wajah gembira anak-anak di hadapannya membuat hatinya terenyuh. Soojung tak sadar bahwa sedaritadi gerak-geriknya diawasi oleh sepasang mata yang berdiri di balik pintu kaca.

Chanyeol merasakan hatinya tersentuh melihat Soojung di dalam sana menyanyi bersama anak-anak dan sesekali tersenyum. Chanyeol yang sangat penasaran dengan Soojung hari ini memutuskan untuk mengikuti gadis itu saat tak sengaja mendengar perbincangan gadis itu dengan Suzy di sekolah tadi. Jadi di sinilah ia sekarang, melihat Soojung yang dengan senyum ceria membagikan kue ke setiap anak di dalam ruangan itu. Beberapa perawat dan dokter magang juga kebagian kue itu.

Soojung masih belum sadar bahwa sedari tadi ia diikuti Chanyeol hingga Hana, salah satu anak yang baru saja ia beri kue bertanya padanya. “Eonni, apakah kau membawa teman hari ini? Kenapa dia tidak masuk?”

Soojung mengerutkan keningnya dan melihat ke arah pintu kaca lalu terkejut melihat sosok jangkung Chanyeol. Kedua matanya sontak membulat dan ia merasa kesal sekali.

Nuna, temanmu ajak masuk saja biar kami bisa bermain mobil-mobilan,” Seru Jimin semangat. Soojung hanya tersenyum dan pamit sebentar.

Chanyeol sedikit gugup saat melihat Soojung mengambil langkah panjang menghampirinya. Pintu kaca terbuka dan Chanyeol samar-samar mencium aroma lili yang kuat. ‘She smells like flower,’

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Soojung dengan nada dingin sambil menyilangkan kedua tangannya.

“Aku kebetulan sedang menjenguk kakekku,” Jawab Chanyeol tenang. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri yang tak mau jujur.

Soojung menghela napas, “Kalau begitu sebaiknya kau pergi. Karena anak-anak itu melihatmu dengan seragam yang sama sepertiku, mereka ingin bermain denganmu.” Soojung lalu berbalik bersiap kembali ke dalam ruangan.

Chanyeol menarik napas sebentar lalu menahan lengan Soojung. “Aku ingin bermain bersama mereka juga.”

Soojung menaikkan sebelah alisnya tidak percaya lalu kembali menghadap Chanyeol. “Jangan pasang ekspresi kasihan atau jijik. Sampai salah satu dari mereka menangis karenamu, kutendang kau!”

Chanyeol tersenyum dan mengikuti Soojung. Ia mencoba mengontrol wajahnya dari ekspresi terkejut ataupun kasihan saat melihat anak-anak di dalam ruangan itu yang mana sangat sulit. Karena semua anak di dalam situ memiliki banyak luka di sekujur wajahnya, dan usia mereka rata-rata di bawah sembilan tahun.

Yedereul, kenalkan ini temanku namanya Park Chanyeol.” Seru Soojung dengan nada ceria. Ekspresi dinginnya yang diberikan untuk Chanyeol tadi hilang entah kemana.

Anak-anak di ruangan itu tersenyum dan melambai ke arah Chanyeol. Chanyeol buru-buru membalas senyum itu sambil melambaikan tangannya. “Annyeong!” Sapanya dengan nada ramah. Nada yang tidak pernah ia gunakan sebelumnya.

Soojung sedikit terkejut melihat Chanyeol cukup mampu membawa diri. “Nah, sekarang kalian boleh memilih mainan yang kalian suka di dalam kardus itu. Tapi tidak boleh rebutan dan harus berbagi ya!” Seru Soojung lagi sambil mengedarkan kotak kardus berisi mainan itu.

Selama beberapa saat Chanyeol hanya bisa terdiam sambil memandangi Soojung dan anak-anak yang dengan ceria memilih mainan. Perhatiannya teralih saat seorang anak berusia sekitar lima tahun yang tingginya hanya mencapai setengah pahanya menarik-narik celananya.

Hyung hyung hyung,”

Chanyeol butuh sekitar tiga detik untuk memulihkan dirinya dari keterkejutan saat melihat jahitan di dahi anak itu dan lebam parah di sekitar matanya. Buru-buru ia tersenyum sambil berjongkok. “Ada apa?” Tanyanya sambil mengusap belakang kepala anak kecil itu. Ia sendiri kaget dengan tindakannya.

“Kau bisa membuat pesawat? Bisakah ajari aku?” Tanya anak itu sambil menggandeng tangan Chanyeol dan setengah menariknya ke arah ranjang di dekat jendela. Chanyeol buru-buru berdiri dan mengikuti anak itu. Keduanya sampai di ranjang bertuliskan ‘Park Daebin’, yang ia asumsikan sebagai nama anak itu.

Daebin naik ke atas ranjangnya dan mengeluarkan sebuah kertas putih yang bertuliskan beberapa kalimat dengan tulisan acak-acakan. “Bantu aku buat ini menjadi pesawat,” Pintanya sambil mengacungkan kertas itu.

“Memang ini untuk apa? Bukankah di sana ada pesawat dengan remote control?” Tanya Chanyeol sambil duduk di ranjang Daebin dan mencari-cari kertas lain di nakas samping tempat Daebin. Ia menemukan satu dan meluruskannya.

Daebin tersenyum, “Aku ingin memberinya untuk Soojung Nuna. Dia baik sekali. Kalau aku sudah besar aku ingin menikahinya.” Jawab Daebin polos, membuat Chanyeol tertawa.

Ja, mulai dengan seperti ini.” Kata Chanyeol sambil melipat lembaran kertas yang ia temukan menjadi dua bagian yang sama rata. “Memangnya dia baik sekali ya?”

Daebin mengikuti gerakan tangan Chanyeol sambil mengangguk-angguk. “Dia selalu datang kemari kalau tidak ada pelajaran tambahan dan bermain bersama kami. Dia juga sering membawakan cokelat dan permen meskipun selalu dimarahi dr.Jung. Kadang-kadang dia membawakan kaset film untuk kami dan menontonnya sambil mengerjakan tugas.” Cerita Daebin sambil memandang serius langkah-langkah yang ditunjukkan oleh Chanyeol.

Chanyeol terdiam beberapa saat tanpa bisa berkata apa-apa. Ia hanya diam sambil menunjukan langkah-langkah membuat pesawat ke arah Daebin. Pandangannya tak pernah lepas dari sosok Soojung yang kini sedang bermain boneka dengan para yeoja kecil itu. Beberapa namja kecil menghampirinya untuk mengganggu. Soojung pura-pura marah sambil mengelitiki mereka. Tawa Soojung terdengar renyah sekali, membuat Chanyeol ikut tersenyum.

“Kyaaa! Sudah jadi! Gomawo hyung! Nunaaa! Nunaaa!!” Daebin berseru sambil melompat turun dari kasur dan berlari menghampiri Soojung. Chanyeol ikut berdiri sambil berjalan mengikuti Daebin.

“Woaah gomawo Daebin!” Suara Soojung terdengar sangat senang. Chanyeol kembali tersenyum melihat Soojung mengusap kepala Daebin penuh sayang.

Nuna nuna, apakah hyung itu adiknya Lee Kwangsoo? Mereka sama sama seperti jerapah!” Seru salah seorang anak kecil lain yang membuat seisi ruangan tertawa sementara Chanyeol hanya berdiri terdiam sambil menggelengkan kepalanya tak percaya. Ia disamakan dengan tokoh traitor dari acara variety show hanya karena tinggi?

“Woaah, aku ini jauh lebih tampan dari ahjussi itu.” Protes Chanyeol sambil mengejar anak kecil yang mengatainya Lee Kwangsoo tadi.

Yedereul, bantu Yuan dari kejaran jerapah!” Seru Soojung iseng, sontak semua anak yang sudah tidak mengenakan infus ikut mengejar Chanyeol dan menariknya sampai jatuh terduduk lalu menggelitiki pria itu. Soojung dan anak-anak lain yang berdiam di ranjang sontak tertawa melihat Chanyeol dikelitiki sampai minta ampun begitu.

Chanyeol merasakan perutnya kram karena tertawa dan berusaha menghindari serangan tangan-tangan kecil yang berusaha menggelitikinya itu. Saat sebuah tangan kembali menyentuh pinggangnya ia tertawa lagi. Tertawa lepas. Tanpa beban dan tanpa pikiran menjaga image. Hari itu Chanyeol tertawa selepas-lepasnya.

***

Tawanya begitu lepas

Seulgi berjalan memasuki mansion keluarga Kang dengan langkah gontai. Ia baru saja pulang sekolah saat melihat mobil Chanyeol mengikuti Soojung. Dan tanpa pikir panjang ia mengikuti mobil Chanyeol. Ia melihat semuanya sejak saat Soojung menyanyikan lagu ulangtahun di rumah sakit sampai saat Chanyeol diserang dan tertawa begitu lepas.

Bahkan saat bersama kami dia tidak tertawa selepas itu.’

Seulgi memasuki kamarnya dan mengganti pakaian. Ia sedang memikirkan mau ketemuan di mana dengan Joohyun yang masih terjebak dengan Suzy saat ibunya memasuki kamarnya menenteng sebuah kotak sepatu.

“Bagaimana sekolahmu?” Tanya Nyonya Kang sambil duduk di ranjang Seulgi yang ditata rapi sekali dan tak terlihat ada kerutan sedikit pun.

Seulgi yang sedang menghapus riasan make up­-nya mengerutkan keningnya bingung mendengar pertanyaan ibunya yang jarang sekali ia dengar. “Biasa saja,” jawab Seulgi.

“Kau tidak cerita bahwa pewaris B-Corp teman sekelasmu.”

Seulgi mendengus, “Kurasa tanpa aku bercerita Eomma sudah akan tahu dari mata dan telinga Eomma di Myung Won.” Jawab Seulgi sarkas. Hatinya terasa perih. Ia menyangka ibunya benar menanyakan keadaannya di sekolah, ternyata malah menanyakan tentang gadis urakan yang terlalu beruntung itu.

“Kau harus berteman dengannya. Koneksi adalah yang terpenting Seulgi.” Kata Nyonya Kang tanpa menghiraukan jawaban sarkas Seulgi. Ia melirik jam tangannya sebentar lalu kembali bertanya. “Bagaimana dengan putra Park Hwejang?”

Seulgi berdiri sambil berjalan menuju ruang gantinya, “Chanyeol lebih naksir putri Jung daripada aku. Aku kan sudah pernah bilang kita hanya teman dekat.” Kata Seulgi yang memang sejak awal hanya menyukai Chanyeol sebagai teman. Perasaannya pada Chanyeol berkembang setelah ibunya mengemukakan ide perjodohan. Seulgi yang tidak mau memiliki tunangan tanpa dasar cinta atau suka mencoba melihat Chanyeol sebagai namja, bukan sebagai anak kecil yang sering bermain PSP bersamanya di pesta pemegang saham.

“Putri Jung? Astaga Seulgi kau kan juga sama cantik!” Seru Nyonya Kang sambil menghampiri Seulgi yang sedang memilih pakaian.

“Tapi beda Eomma! Soojung juga cantik dan baik! Jangan salahkan aku kalau Chanyeol lebih suka dia! Demi Tuhan aku dan dia hanya sahabat Eomma!” Seru Seulgi kesal, nyaris berteriak.

“Kalau kau tidak bisa dapat yang lebih dari putra Park Hwejang, lihat akibatnya!” Seru Nyonya Kang galak sebelum akhirnya meninggalkan Seulgi dan membanting pintu kamar cukup kuat.

Seulgi merasakan air mata sudah memenuhi pelupuknya. Ia mengambil asal skinny jeans dan sweatshirt dan mengenakannya dengan terburu-buru. Tanpa memedulikan riasan wajahnya, ia menyambar tasnya yang tadi dan langsung masuk ke mobil tanpa berkata apa-apa. Oh Ahjussi, supirnya, hanya melajukan mobil dalam diam, tahu nyonya kecilnya sedang sedih. Seulgi tak perlu mengatakan tujuannya karena Oh Ahjussi sudah mengerti dan langsung men-setting alat navigasi di mobil menuju tempat favorit Seulgi saat ia sedang menangis begitu.

***

Yixing memasuki sebuah coffee shop yang terletak tidak jauh dari sekolahnya bersama beberapa temannya dari klub basket. Mereka baru saja selesai bermain basket di lapangan sekolah dan memutuskan untuk nongkrong sebentar di coffee shop itu.

Sementara teman-temannya memesan, Yixing memutuskan untuk pergi ke lantai dua yang merupakan toko alat-alat musik. Yixing sengaja memilih coffee shop ini karena memang gedungnya menyatu dengan toko alat-alat musik favoritnya. Yixing menaiki tangga sambil bersiul pelan. Ia sedang mendata apa saja yang ingin ia beli hari ini. ‘Pick hadiah dari Soojung sudah rusak, senar juga ada yang putus,’ pikirnya mengingat-ingat perlengkapan gitarnya di rumah yang sudah rusak.

“Oh kau datang?” Sapa seorang pria berusia sekitar tiga puluhan yang Yixing kenal sebagai Jang Wooyoung, pemilik toko musik itu.

“Apa ada barang baru?” Tanya Yixing sambil berjalan ke arah bagian gitar. Ia sedang ingin menambah koleksi gitarnya juga mencari kalau-kalau ada yang cocok untuk Suzy yang sebentar lagi berulang tahun. Ia sealalu ingat Suzy yang terus merengek meminta salah satu koleksi gitarnya.

“Lihat saja sendiri, aku mau ke toilet.” Seru Wooyoung sambil menuruni tangga dan memegangi perutnya.

Yixing mengangguk-angguk sambil menurunkan sebuah gitar akustik berwarna putih. “Sepertinya ini cocok untuk—“

Gumaman Yixing terhenti saat ia mendengar alunan piano dan suara seorang yeoja sedang menyanyi. Ia menoleh dan terkejut mendapati Seulgi yang sedang memainkan piano dengan penuh penjiwaan. Yixing mengenali lagu yang dimainkan Seulgi adalah salah satu lagu dari Simple Plan yang berjudul Perfect.

Do you think I am wasting my time
Doing things I want to do
But it hurts when you dissaprove all along

Saat itu Yixing akui ia merasa terpana melihat permainan Seulgi yang menurutnya sangat bagus. Ditambah saat itu Seulgi berpakaian sederhana dan tidak mengenakan make up sama sekali, membuat Yixing sedikit ragu bahwa gadis di depannya benar-benar Seulgi.

Entah dorongan dari mana, Yixing menarik salah satu kursi dan duduk lalu ikut memetik gitarnya, mengiringi permainan piano Seulgi yang tampak sangat fokus sehingga tidak menyadari kehadiran Yixing. ‘Ck, dia terlihat jauh lebih baik saat sedang seperti ini,’ pikir Yixing.

“Kau boleh juga,” Kata Yixing santai saat Seulgi menyudahi permainan piano-nya. Saat itu Seulgi sontak menegakkan wajahnya dan kaget melihat Yixing. ‘Eh apa gadis ini habis menangis?’ Pikir Yixing melihat wajah sembap Seulgi.

“Sudah berapa lama kau di sini?” Tanya Seulgi dingin sambil bersiap pergi.

“Cukup lama. Kau hebat. Mau bermain satu lagu lagi?” Tanya Yixing sambil menarik kursinya lebih dekat ke arah Seulgi.

Seulgi yang sudah hampir beranjak pergi kembali duduk. Sejujurnya ia memang masih ingin bermain untuk melepaskan sedihnya, namun ia enggan karena ada Yixing. Ia juga merasa sedikit aneh saat sadar ada orang lain yang melihatnya bermain musik. Jujur saja, bakatnya yang ini memang hanya segelintir orang yang tahu.

“Tenang saja, aku tidak akan bilang kalau aku melihat princess Myung Won bermain musik di toko tanpa nama atau bahwa princess Myung Won juga bisa memakai jeans dan tidak mengenakan make up.”

Seulgi mendengus dan tersenyum tipis. Ia kembali mengambil posisi dan memainkan lagu favoritnya. Saat dihadapkan dengan musik, Seulgi memang cenderung lebih ‘jinak’. Dan tahu bahwa Yixing bukan tipe yang suka menyebar gosip, ia mulai menekan tuts tuts itu dengan santai.

Dengan luwes Yixing mengikuti permainan itu, kali ini mengenakan gitar klasik. Keduanya bermain dalam diam. Seulgi sibuk dengan pikiran akan nasibnya sedangkan Yixing sibuk memperhatikan Seulgi yang ternyata memiliki sisi yang tak terduga. Selama beberapa saat, hanya alunan alat musik yang memenuhi ruangan itu.

***

Suzy memandangi pemandangan malam kota Seoul sambil memutar kembali saat pelajarannya bersama Madam Han siang tadi. Ia tak percaya ia mengobrol dengan Joohyun dan sempat bercanda sebentar di meja makan membahas tatanan rambut Madam Han. Ia tak percaya bahwa ia bisa dekat dengan si snob princess meskipun hanya sebentar.

Nuna kau dengar ceritaku tidak sih?!” Seru Jackson yang duduk di sampingnya dengan kesal sambil bersiap ngambek.

Suzy yang malam itu berjanji menemani Jackson menonton aksi street dancer di Hongdae tertawa sebentar sambil mengucapkan maaf.

“Ah Nuna!!” Rajuk Jackson sambil menggeser duduknya menjauhi Suzy dan memandang ke luar jendela.

Suzy mendecak pelan lalu menggeser duduknya mendekati Jackson. “Mianhae, nanti aku yang cari minuman deh.” Kata Suzy mencoba membujuk Jackson.

Jackson memasang tampang seolah berpikir sebentar lalu mengangguk setuju. Ia lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam saku hoodie-nya. “Kita sudah mau sampai, kau cepat kenakan ini.” Kata Jackson sambil menyerahkan sebuah masker hitam rilakuma ke arah Suzy.

“Untuk?”

“Di acara itu nanti banyak juga anggota boyband dan girlband yang hadir. Karena komunitas kami memang luas sekali. Dan untuk membantu mereka tidak dikenali oleh paparazi atau fans menyebalkan kami sepakat untuk semuanya mengenakan masker, karena acaranya kan di lapangan basket umum. Kalau di ruangan tidak terasa street-nya.” Terang Jackson sambil memakai maskernya sendiri. Suzy hanya mengangguk-angguk paham.

Mobil yang dikendari Kwon Ahjussi tak lama kemudian berhenti di sebuah pinggir jalan yang cukup ramai dengan mobil-mobil lain. Terlihat banyak namja dan yeoja yang berjalan memenuhi trotoar menuju ke dalam lapangan basket yang terlihat sudah ramai. Musik hip hop terdengar sampai ke jalanan. Lapangan basket yang dijadikan tempat perlombaan adalah sebuah lapangan yang terletak di dalam sebuh kompleks perumahan.

Jackson memberi kode ke arah Suzy untuk turun dan langsung menggandeng lengan Suzy, takut gadis itu terpencar darinya karena malam itu cukup ramai dan meskipun bulan sedang purnama tetap saja susah menemukan orang kalau sudah terpencar.

Keduanya berjalan menuju ke dalam lapangan basket dan duduk di tribun yang paling bawah, tak terlalu jauh dari sound system yang sedang melantunkan ocehan Eminem. “Di sini saja gapapa ya?” Tanya Jackson. Suzy hanya mengangguk sambil tersenyum melihat Jackson sudah mengeluarkan ponselnya dan tampak sangat bersemangat malam itu.

‘Kalau Yixing tidak sedang kerja paruh waktu aku pasti sudah mengajaknya ke sini,’ Pikir Suzy teringat Yixing yang juga senang nge-dance. Ia teringat saat ia menunjukkan videonya bersama Yixing sedang menari Jackson langsung meminta bertemu dengan Yixing. Suzy sendiri tadi sudah mengirimkan pesan ke Yixing kalau sempat mampir ke tempat ini.

“Bae Suzy?”

Suzy menoleh ke kiri begitu seseorang menyerukan namanya. Ia mendapati seorang namja dengan mata berbinar dan snapback hitam dipakai terbalik duduk tepat di sampingnya. Masker berwarna hitam polos menutupi bagian bawah wajahnya. Suzy sedikit mengerutkan keningnya mencoba mengingat pemilik suara itu. Saat mengetahui siapa yang duduk di sampingnya ia membulatkan matanya. “Yoongi?” Bisiknya pelan. Takut menarik perhatian.

Namja di sampingnya yang ternyata benar Yoongi mengangguk semangat. “Aku tadi mengikutimu saat melihat mobilmu di pintu depan. Kau sering ke sini juga?”

Nuna,” Seruan Jackson membuat Suzy tersadar ia bersama sepupunya saat itu. Jackson memajukan duduknya dan menarik Suzy ke sebelahnya, menukar posisi keduanya sehingga kini ia duduk di antara Yoongi dan Suzy.

Suzy meringis pelan, “Yoongi kenalkan ini sepupuku Jackson. Jackson ini temanku Yoongi.” Kata Suzy mengenalkan keduanya.

Jackson menaikan sebelah alisnya sebelum akhirnya membalas uluran tangan Yoongi. Yoongi sendiri dari matanya terihat sedang tersenyum lebar sekali. “Panggil aku Gi saja.” Kata Yoongi sambil memberi lirikan you-know-why.

Goodnight everybody!!!” Seruan seorang namja yang sepertinya adalah MC malam itu disambut dengan sorakan dan tepukan meriah dari para penonton yang memadati tribun. “Malam ini waktu kita tidak banyak karena besok beberapa dari kita masih sekolah,” Ia terkekeh sebentar bersama para penonton lalu melanjutkan. “Jadi langsung saja kita sambut penampilan solo dari mereka yang sudah mendaftar kemarin, To open this night, please welcome Lil Drag!!!!”

“Jangan kaget tapi ini adalah G-Dragon,” Bisik Jackson ke arah Suzy. Suzy sontak membulatkan kedua matanya dan buru-buru memperhatikan namja yang dengan luwes mengikuti lagu hip hop yang memenuhi lapangan itu diiringi seruan heboh dari seisi tribun. Namja itu memang terlihat mirip dengan leader Bigbang dengan rambut pirang dan sorot matanya.

“Kalian haus? Aku bawa ini,” Kata Yoongi sambil mengulurkan dua kaleng jus jeruk ke arah Suzy dan Jackson. Kompak keduanya menggumamkan terimakasih.

Yoongi membalasnya dengan senyuman lebar. Malam itu, Yoongi untuk pertama kalinya dalam setahun belakangan bisa kembali menghadiri aksi para street dancer yang diselenggarakan dua bulan sekali secara rutin itu. Kesibukannya untuk promosi album membuatnya tak bisa menghadiri malam-malam itu. Malam itu juga Yoongi tak tahu bahwa ia berkesempatan bertemu dengan Suzy. Sebenarnya saat melihat Suzy turun sambil bergandengan dengan Jackson, Yoongi merasa hatinya sedikit ‘gatal’. ‘Untung saja mereka sepupuan,’ pikirnya tanpa sadar.

Hyung kau mau battle denganku? Sudah sesi battle nih.” Seru Jackson sambil menarik tangan Yoongi. Suzy memperhatikan keduanya dengan antusias.

Yoongi yang tersihir dengan binar mata Suzy mengangguk saja saat ditarik Jackson berdiri memasuki arena. Dari ekor matanya ia bisa melihat Suzy bersorak menyemangati ia dan Jackson sambil merekam dengan ponsel Jackson.

Saat itu Yoongi sempat terdiam. Entah mengapa melihat Suzy ia jadi bersemangat untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya. Saat musik diputar dan Jackson mulai menari, Yoongi merasa kepalanya bekerja dengan lambat sampai akhirnya suara kecil di dalam kepalnya bersuara, ‘Seeing her smile, I think I fall for her

Dan saat itu Yoongi maju melihat Jackson menyelesaikan dance-nya. Ia mulai menggerakan tangan dan kakinya dengan satu tujuan, ‘membuat Suzy tersenyum.’

Selama sekitar lima menit, Jackson dan Yoongi saling menunjukkan kemampuan masing-masing. Keduanya menari mengikuti ritme lagu sambil tertawa-tawa. Battle dalam acara ini memang hanya hiburan semata, karenanya tidak ada pemenang, apalagi hadiah. Jackson menutup battle-nya dengan salto di udara lalu membuka kedua tangannya di udara disambut sorakan riuh para penonton.

You guys are awesome!” Puji Suzy begitu keduanya kembali ke tempat mereka.

Hyung kau keren sekali!!!” Puji Jackson, ia bahkan membiarkan Yoongi duduk si samping Suzy dan membiarkan Suzy duduk di tengah.

Yoongi tertawa sambil mengajah Jackson high five. “Kau juga kiddo,” katanya.

Malam itu, Yoongi kembali tidur dengan senyum. Semalaman tertawa dan menari bersama Suzy dan Jackson benar-benar membuat mood-nya naik. Ia baru tahu selain Screwdriver, ada hal lain yang bisa menaikan mood-nya.

***

Malam itu Suzy kembali duduk di bersila kursi malas di samping kolam renang, ditemani sweater tebal milik ayahnya dulu dan segelas cokelat hangat. Di depannya terdapat laptop yang menampilkan chat room ia, Soojung, dan Yixing.

Jung Soo Jung : You won’t believe it! Park Chanyeol benar-benar mengikutiku dan bermain bersama anak-anak di rumah sakit!!!

Bae Suzy : Hah! Apa kubilang?! Dia suka denganmu!

Zhang Yixing : Bukankah ada kemungkinan bahwa dia hanya penasaran dengan Soojung?

Jung Soo Jung : I agree with Yixing, kkk~ Karena aku mengacuhkannya mungkin dia jadi suka padaku.

Suzy menyesap cokelat hangatnya sebentar sambil melihat Yixing yang sedang mewawancarai Soojung. Ia yakin Chanyeol bisa mendapatkan Soojung kalau pria itu terus melakukan hal ini. Meluluhkan hati Soojung adalah hal termudah.

Zhang Yixing : And why you did it?

Jung Soo Jung : Because he is so damn arogan.

Zhang Yixing : Tapi buktinya dia bisa bermain bersama kau dan anak kecil itu, lebih baik daripada Suzy yang tidak bisa menhan diri dan menangis tersedu-sedu hahahaha.

Bae Suzy : Fuck you.

Jung Soo Jung : By the way, aku lihat di Path Yoongi mengupload video ia menari bersama seorang namja dan yeoja. Dan yeoja-nya mirip denganmu Suez! Meskipun mereka mengenakan masker.

Bae Suzy : Hahahaha itu benar aku. Kami bertemu di acara street dancer Jackson. Yixing ternyata kau benar-benar tidak datang T.T

Zhang Yixing : Mianhae Suez, aku benar-benar sibuk. Kalau begitu Suez kau harus hati-hati, sebentar lagi kau akan mendapat haters karena bisa dekat dengan ‘Suga’.

Jung Soojung : Eissh tidak mungkin. Kau jangan panik Suez, Yoongi meng-uploadnya di Path, dia tidak berteman dengan fans di sana dan anak-anak Myung Won tidak mungkin mengenalimu. Aku tahu itu kau karena kita sahabat hahahaha.

Bae Suzy : Apa tidak apa kita berteman dengan Yoongi?

Zhang Yixing : Aku malah senang mengajarkan arti teman kepada dia.

Jung Soojung : Nde!!

Bae Suzy : Woah Zhang Yixing, bahasamu mengerikan sekali.

Zhang Yixing : Damn.

***

 

Hari-hari berlalu dengan cepat. Tidak terasa sudah hampir sebulan Suzy menjalani kehidupannya sebagai pewaris B-Corp. Ia masih sering bertengkar dengan Joohyun karena masalah sepele, ia juga semakin dekat dengan Jackson, dan tanpa ia sadari hubungannya dengan Yoongi semakin erat karena namja itu sering bergabung dengan ia, Soojung, dan Yixing, Myungsoo sendiri sudah kembali ke sifat asalnya yang hobi membuat gadis itu meledak, dan terkadang tanpa ia sadari ia menikmati posisinya saat ini. Meski sering kali ia benci sekali posisinya. Seperti saat ini. Saat ia harus menghadiri kelas kepribadian bersama Madam Han. Joohyun sudah tidak lagi menemaninya sejak pertemuan kedua karena ia menggunakan alasan ada kegiatan di sekolah.

Dan saat ini Suzy sedang berjalan mengendap-endap keluar dari mansion tanpa sepengetahuan Kwon ahjussi dan para ahjumma yang disuruh mengawasinya. Ia berjalan sambil bersembunyi di balik pohon-pohon menuju gerbang. Kwon ahjussi dan beberapa penjaga mulai mencari dirinya setelah salah satu ahjumma melapor bahwa ia menghilang. Suzy melihat tembok tinggi di belakangnya lalu mendapat ide.

Dengan lihai ia memanjat pohon tempatnya bersembunyi dan lompat ke pagar melalui ranting pohon. Ia mengukur jarak tempatnya berpijak sekarang dengan tanah. Lalu sambil melan ludah ia membalikkan tubuhnya lalu bergantung di tembok. Sambil berdoa dalam hati ia melompat turun.

BUK!

Suzy mendesah lega saat kakinya berhasil menginjak aspal meskipun sedikit keseleo. Ia buru-buru bangun dan berjalan dengan sedikit terpincang menuju keluar gerbang kompleks.

TIIN! TIIN!

Suzy menoleh ke belakang dan mendapati Myungsoo dengan motornya. Ia melihat pria itu membuka helmnya, “Kau mau ke mana?” Tanya Myungsoo yang tadi mengerem mendadak karena terkejut melihat Suzy melompat dari pagar setinggi dua meter.

“Kabur. Bisa mengantarku ke halte terdekat?” Tanya Suzy langsung saat ia sadar ia mungkin tertangkap para penjaga karena kakinya sedang sakit dan jarak halte terdekat sekitar empat kilo.

Myungsoo tertawa lalu mengangguk. “Memangnya kau mau kemana?” Tanyanya sambil menunggu Suzy naik ke atas motornya.

“Mungkin ke tempat Soojung, mungkin ke tempat Yixing. Entahlah, yang penting tidak ke tempat Madam Han.” Jawab Suzy sambil menepuk bahu Myungsoo beberapa kali untuk memberi kode pada pria itu agar cepat meninggalkan kawasan perumahaan mereka.

Myungsoo menelan ludahnya lalu memberanikan diri bertanya, “Kalau kau tidak tahu ke mana mau ikut aku?” Tanya Myungsoo yang hari ini berencana mengunjungi anjingnya.

Suzy berpikir sebentar. Soojung pasti akan sibuk dengan anak-anak di rumah sakit, belum lagi ada Chanyeol yang pasti mengikuti gadis itu. Suzy masih ingat sekali hari ketika Soojung curhat mengenai Chanyeol yang jadi sering mengikutinya. Yixing juga hari ini akan sibuk dengan anggota klub basket. Suzy bisa saja mengikuti Yixing, hanya sebentar lagi akan ada festival olahraga antar sekolah yang membuat latihan klub basket lebih intensif dan tertutup.

“Baiklah,”

Myungsoo hampir saja menjerit mendengar jawaban Suzy. Senyum lebar terukir di wajahnya. Dengan semangat ia menurunkan penutup helm dan menarik gas.

Tidak ada salahnya berteman kan?’ Pikir Suzy sambil memegang jaket Myungsoo erat-erat. Ia tidak mau disangka yang bukan-bukan kalau langsung memeluk namja itu.

Tak lama kemudian Myungsoo menghentikan motornya di depan sebuah pet shop yang terletak dekat dengan Sungai Han. Ia mematikan mesin dan melepas helm-nya. “Kau tidak takut dengan anjing kan?”

Suzy menggeleng sambil turun dari motor Myungsoo, ia masih bertanya-tanya untuk apa mereka ke pet shop. “Apa kau mau membeli anjing?” Tanya Suzy heran.

Myungsoo hanya tersenyum, “Tunggu di sini sebentar.” Serunya lalu berlari masuk ke dalam bangunan pet shop itu.

Suzy hanya mengendikkan bahunya dan menunggu Myungsoo sambil menikmati sisa-sisa angin musim semi yang sebentar lagi akan berubah menjadi kering karena musim panas sudah tak lama lagi tiba. Ia mengedarkan pandangannya ke arah taman dan teringat masa kecilnya. Ia ingat belajar sepeda bersama ayahnya di sini, piknik dengan ibunya dan Yixing, menghabiskan malam tahun baru bersama Soojung dan Yixing, dan beberapa kenangan lainnya.

“Suzy-a!” Myungsoo menghampiri Suzy yang menunggu di dekat motornya. Di tangannya terdapat leash yang terhubung dengan kalung yang dikenakan oleh seekor golden retriever. Suzy menoleh ke arah Myungsoo dan sedikit terkejut melihat anjing itu. “Meet Kayla!” Serunya senang.

Suzy berjongkok dan mengelus kepala Kayla sambil tertawa. “Ini anjingmu?” Tanya Suzy sambil meminta leash yang dipegang oleh Myungsoo.

Myungsoo mengangguk sambil memberi kode untuk berjalan ke arah sungai. “Anjing ini hadiah dari hyung-ku. Hanya aku tak boleh merawatnya karena ia selalu bertengkar dengan kucing milik ibuku dan pernah merusak sofa di rumah.” Cerita Myungsoo sambil tertawa.

Suzy ikut tersenyum mendnegar kisah Myungsoo, “Kau beri nama dia Kayla?” Ulang Suzy yang merasa namanya terlalu feminim dan tak menyangka Myungsoo akan menamainya seperti itu.

Nde, wae?”

Ani, lucu saja melihatmu memberi nama sefeminim itu,” Kata Suzy sambil tertawa. Ia melihat sebuah bangku yang menghadap ke arah sungai dan memilih duduk di sana lalu memberi makan Kayla dengan biskuit anjing yang dibawa Myungsoo.

Myungsoo mengikuti Suzy dan duduk di samping gadis itu, “Kau suka anjing?” Tanya Myungsoo saat melihat Suzy bermain dengan nyaman bersama Kayla. Yoongi saja masih sering kewalahan menghadapi Kayla, entah bagaimana Suzy membuat anjing itu menurut.

“Suka. Aku sangat ingin pelihara, hanya saja ibuku alergi bulu.” Kata Suzy santai. Ia sudah tidak sedih lagi ketika mengenang ibunya.

Myungsoo yang merasa tidak enak mencoba mengganti topik, ia melihat ke arah beberapa orang yang sedang mengantri untuk membeli es krim. “Mau es krim?” Tanya Myungsoo.

Suzy hanya mengangguk karena sedang sibuk mengambil selca bersama Kayla. Myungsoo terkekeh, sebelum beranjak menuju penjual es krim ia berkata, “Woah kau berfoto dengan kembaran?”

Fuck you Kim Myungsoo!!” Pekik Suzy sambil melempar Myungsoo dengan snack milik Kayla. Myungsoo hanya tertawa lalu berlari menuju pedagang es krim itu, membuat Suzy tanpa sadar ikut terkekeh. ‘Good, selera humornya boleh juga,’

Suzy yang beberapa hari lalu dikenalkan dengan Instagram oleh Jackson, belakangan ini jadi suka meng-upload foto-fotonya. Setelah mengambil selca bersama Kayla, ia iseng meng-upload foto itu di akun pribadinya.

“Aku lupa tanya kau suka rasa apa, jadi kubelikan cokelat saja,” Kata Myungsoo yang sudah kembali dengan dua cone es krim cokelat dengan beberapa taburan kacang di atasnya.

Gwenchana, cokelat rasa favorit kedua-ku,” Kata Suzy sambil mengambil es krimnya dan mulai makan sambil menjaili Kayla dengan memainkan snack-nya.

Myungsoo memakan es krimnya sambil berpikir sebentar, “Kau pasti suka vanila,” Tebaknya sambil memberitahu bahwa es krim vanila sudah habis tadi.

“Yup betul. Kenapa kau tidak merawat binatang lain?” Tanya Suzy tiba-tiba dan tak tahu kenapa.

“Aku merawat ikan di rumah. Ikan mas,” Jawab Myungsoo tanpa sadar. Padahal biasanya ia tak bicara mengenai hal pribadi. Biasanya ia tak mengajak orang menemaninya bermain bersama Kayla.

“Ikan? Siapa namanya? Bubble?” Goda Suzy yang merasa image cool Myungsoo hanya samaran karena nama feminim yang ia berikan untuk golden retriever-nya.

Myungsoo terkekeh sebentar, “Tidaklah, namanya Ikan.”

“Ikan? Kau punya ikan namanya Ikan?”

Nde, apa salahnya?”

Dan saat itu Suzy hanya bisa tertawa ngakak dengan Myungsoo yang kebingungan di sampingnya. “Weirdo,” Sahut Suzy di sela-sela tawanya.

Weirdo – weirdo begini aku masuk top 10 hot boys of the year,”

“Yang bikin orang buta berarti,” Seru Suzy sambil kembali memakan es krimnya dan mengelus bulu-bulu Kayla. Ia tidak sadar tangan Myungsoo sudah terangkat ke depan dan mendorong cone yang ia pegang, menyebabkan es krim cokelat memenuhi wajah bagian bawahnya. Myungsoo hanya tertawa sambil menunduk melihat wajah Suzy.

“Woah, kau cari masalah ya?!” Seru Suzy sambil melancarkan serangannya, mengelitiki pinggang Myungsoo, membuat namja itu berseru kegelian.

Keduanya tertawa sambil mencoba mengelitiki satu sama lain. Suzy tak pernah tahu bahwa akan ada hari di mana ia dan Myungsoo menjadi akrab. Myungsoo juga tak pernah tahu bahwa akan ada hari ia menyadari lebih asyik membuat Suzy tertawa dibandingkan membuat gadis itu meledak.

***

Suzy yang sedang terlelap nyaris terjungkal saat seruan heboh dan sorakan memenuhi kelas ditambah bel istirahat yang berdering nyaring. Suzy meraih jaketnya yang tersampir di punggung kursi lalu menutupi kepalanya.

“Berisik,” Gumamnya sambil berusaha memejamkan kembali matanya, mengacuhkan Soojung yang mulai mengguncang tubuhnya.

“Bae Suzy ireoonaaa!!”

Suzy membuka sedikit matanya, ia tahu seruan itu bukan milik Soojung ataupun Yixing. Dengan enggan ia menegakkan tubuhnya dan menyipitkan matanya, menyesuaikan dengan cahaya kelas yang begitu terang.

Di depannya terlihat Yoongi sudah duduk di atas meja Soojung sambil memasang aegyo yang membuatnya geli. Tanpa merasa berdosa ia meraih buku cetak Biologi yang ia jadikan bantal dan menggeplak kepala Yoongi.

“Suruh siapa membangunkanku eoh?” Sahut Suzy tak peduli ketika Yoongi melenguh dan mengusap kepalanya.

“Jangan pernah bangunkan Suzy,” Kata Soojung sambil memandang prihatin ke arah Yoongi.

Yoongi memutar kedua bola matanya, “Seharusnya kau ingatkan aku tadi Miss.Jung,” Sahut Yoongi sambil memasang wajah memelas.

Soojung hanya terkekeh sambil meringkasi tasnya. Gerakannya terhenti saat Chanyeol memanggilnya. “Jadi aku harus bawa apa nanti?” Tanya Chanyeol sambil mengubah arah duduknya hingga menghadap ke Soojung.

Soojung menggaruk kepalanya pelan, “Eung, kau bisa membawa kaca pembesar dan kamus biologi.”

“Buat apa?” Tanya Suzy yang sudah selesai meringkasi tasnya. Ia tak mengerti arah pembicaraan Soojung dan Chanyeol karena selama pelajaran Biologi tadi tertidur.

Yoongi yang masih duduk di meja Soojung sambil memainkan smartphone menjawab dengan senyum ceria, “Kita kan mau field trip pelajaran Biologi,”

What?!!” Seru Suzy horor sambil melihat ke arah wajah Yoongi yang tersenyum ceria. Kalau ini Biologi berarti….

Ia menoleh ke arah Myungsoo dan mendadak merasa kakinya lemas melihat Myungsoo tersenyum jail ke arahnya sambil melambaikan tangan.

Andwaeeeeee!!!”

To be continued

 


Question of This Chapter

WHAT IS YOUR FAVORITE MOMENT?

kalau MyungZy yang nomor satu tolong tuliskan satu lagi ya hihihi😀

KENAPA SUZY KELIATAN SHOCK PAS TAU MAU ADA FIELD TRIP? :p


 

HELLOOOO!!!!

I am sorry for the late update guys :”) Kuota saya kemarin habis hahaha😀 By the way thanks banget buat komen kalian!!! Sangat membuatku bersemangat^^ Ah iya mohon maaf kalau ada salah penulisan atau penggunaan bahasa korea yak😀

97 responses to “[Chapter-5] High Society

  1. huwaaaaa suka semuanya, myungsoonya malu malu lagi kasmaran wkwk, aaaaah tidak yoongi jangan suka sama suzy dong :(((, chanyeol mulai luluh dengan soojung yeay

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s