END (2/?)

end-mybabysuzy-copy

**********

END (2/?)

BAE SUZY | KIM MYUNGSOO |

KANG SORA

HURT/SAD/MARRIED LIFE

Story line by Mybabysuzy or RSA
Poster by rosaliaocha@ochadream stories

**************************************************************************************************************************************

Tubuh lemah milik Sooji yang berbalut sehelai selimut, ia dekap dengan susah payah diujung ranjang berukuran King Size miliknya. Bola mata kecoklatan yang terlihat indah menerawang jauh entah kemana tanpa tujuang. Sama halnya dengan kehidupan yang dimiliknya, terus mengalir jauh namun tanpa tujuang yang jelas. Bukankah menyedihkan?

Sooji masih tidak mengerti, mengapa dirinya terlihat begitu bodoh dan menedihkan? Mengapa rasa cinta yang Sooji miliki tidak pernah luntur sedikit pun? Padahal jelas si suami tidak akan pernah bisa mencintainya, namun mengapa hatinya begitu sulit untuk melepaskan rasa cinta yang ia miliki? Tuhan, mengapa diirnya begitu bodoh?

Perlahan tangan Sooji terulur menyentuh perutnya yang mulai membuncit. Sooji merasa begitu bahagia menerima hadiah Tuhan yang tak ternilai untuknya itu, tetapi mengingat kehidupan suram yang dia miliki, membuat rasa khawatir menggelayuti hati Sooji.

Begitu banyak kekhawatiran yang menghantuinya setiap saaat. Seperti, bagaimana nasib anaknya kelak? Bagaimana jika nanti jabang bayi ini tumbuh besar dan melihat kehidupannya yang seperti ini? Apakah dia mampu untuk tetap menjalani kehidupan ini? Dan masih banyak bagaimana- bagaimana yang menggambarkan kekhawatirannya.

Tanpa Sooji sadari, kini pikirannya mulai melaju mencari sebuah kenangana yang tersimpan di ruang memorinya. Sebuah kenangan manis yang menjadi awal dari kisah kehidupannya, dimana awal dirinya terjebak dalam sebuah jurang yang curam.

“Yya! Bae Sooji! Irreona!”

Seorang gadis berparas cantik menggeliat ketika mendnegar suara yang begitu memekikkan. Tetapi, sudah menjadi kebiasan gadis ini mendengar pekikan yang begitu keras itu. Maka dari itu, si gadis dengan santai menarik selimutnya hingga menutupi tubuhnya dan kembali terlelap untuk menjelajahi alam mimpinya.

“Yya! Anak malas! Palli!”

Wanita setengah baya yang berkacak pinggang disamping ranjang putrinya menggelengkan kepalanya sembari berdecak kesal. Astaga, mengapa putrinya ini sangat pemalas? Bahkan dahulu dirinya selalu membantu sang ibu, mengapa putrinya itu tidak menuruni sifatnya itu?

“Yya!”

Dengan kasar, wanita itu menarik selimut yang menutupi tubuh putri semata wayangnya. Sang putri yang menjadi korban sontak membuka labar kedua matanya dan bangkit dari tidurnya. Tanpa ragu gadis cantik itu melayangkan tatapan tajamnya kepada sang ibu.

“Yya! Gadis nakal! Berani sekali kau menatap ibumu seperti itu, eoh? Dasar nakal!”

Sooji meringis saat ibunya dengan santai membabi buta kepalanya dengan jitakan andalannya itu. Astaga, mengapa Sooji bisa terlahir dari Rahim wanita yang memiliki kekuataan seperti lelaki?

“Eomma!!”

Ny.Bae lantas menghentikan aksi membabi butanya itu. Wanita itu tertawa saat melihat wajah putrinya yang merenggut dengan bibir yang mengerucut, layaknya seorang siswa yang baru saja dimarahi oleh sang guru.

“Astaga, uri Sooji jinjja kyeopta!” Ucap Sang ibu sembari mencubit kedua pipi tirus putrinya gemas, lagi dan lagi membuat si putri semakin merenggutkan wajahnya. Geez.

“Eomma! Appo!”

Ny.Bae mendesis kesal sembari menghentikan aksi konyolnya itu. “Dwaesseo, cepat mandi dan bersiap. Kita harus kembali ke Korea!” Ucapnya. “Ahya, jangan lama-lama! Hilangkan kebiasaan lamban-mu itu! OhGod, bagaimana bisa seorang model bertindak selambanmu?”

“Yya! Eomma!”

******

Sooji menatap keluar jendela kaca mobilnya, menikmati pemandangan kota Seoul yang amat dirindukkannya. Seulas senyum terukir dibibir Sooji saat kedua maniak mata Sooji menangkap segerombolan manusia yang sibuk meliukkan badannya dengan apik. Juga puluhan orang lainnya yang sibuk dengan kegiatan mereka masing- masing.

Meskipun kepindahannya ke Amerika hampir puluhan tahun, tetapi rasanya kota yang amat dirindukkanya ini tidak berubah sedikit pun. Meskipun kenyataannya sudah banyak yang berubah, namun Sooji merasa Seoul adalah kota yang taka sing untuknya. Banyak sejuta kenangan manis yang terjadi di kota besar ini.

“Eomma, kita mau kemana? Seingatku ini bukan jalan ke rumah kita.”

Sooji sedikit mengerutkan dahinya ketika menyadari dia dan sang keluarga bukan menuju kerumah mereka yang di Seoul. Eyy, meskipun Sooji sudah lama pindah dari Korea tetapi kerap kali Sooji berpergian ke Korea untuk perkerjaannya sebagai model. Mungkin terakhir dua atau tiga tahun yang lalu, tetapi dirinya begitu hapal setiap jalan dikota ini. Menakjubkan.

“Ternyata ingatanmu tajam juga ya.”

Lantas Sooji mendelik kepada sang ibu yang sibuk tertawa itu. Hei, ada apa dengan ibunya ini? Memulai pertengkaran di malam seperti ini? Apa ibunya tidak lelah setelah berada dipesawat belasan jam? Astaga, ibunya memang aneh.

“Appa, urus istri tercintamu ini! Aku malas berdebat dengannya!”

Tuan Bae yang sibuk menyetir kendaraan tetawa mendengar pertengkaran kecil Antara kedua wanita yang dicintainya itu.

“Omo, mian Sooji-ya. Appa tidak bisa mengingat betapa menyeramkannya ibu-mu ini.”

“Yya! Yeobo, mworago? Kau ingin mati muda, hm?”

“Aniya, aniya. Aku hanya asal berbicara, yeobo. Minahae, ne?”

“Shiireo!”

“Aigoo, ppopo eootae?”

“Eunggg… call!”

“Later, honey. Sooji is here.”

Rasanya Sooji ingin menerobos keluar dari mobil mewah ini sekarang juga. Bagaimana tidak? Sooji baru saja melihat adegan drama murahan secara gratis, tetapi terlihat menjijikan. Tidak. Sooji tidak cemburu melihat adegan romantic mereka itu. Hanya saja semaunya terlihat menjijikan untuknya. Terlalu klise mungkin.

“Aish, menjijikan! Sebenarnya kita mau kemana, appa?!”

“We’ll meet that boy, honey.”

“Ne? Solma…”

*****

‘Kring… Kring’

Sooji sontak tersadar begitu ponselnya berdering. Segera mungkin Sooji beranjak dari duduknya dan meraih ponselnya yang beradai ditengah ranjang itu, tak lupa ia lilitkan selehai selimut putih yang menutupi tubuhnya.

Helaan nafas kasar Sooji hembuskan begitu kedua mata hazel miliknya melihat si penelpon di layar ponselnya. Tidak, Sooji tak membenci sang penelpon ini. Hanya saja, sikap berlebihannya itu membuatnya terkadang merasa tak nyaman. Mengingat hubungan pertemanan mereka yang masih begitu muda itu.

Karena tidak mau mendapat amukan ataupun puluhan panggilan bahkan ratusan SMS yang akan ia terima. Dengan segera Sooji menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponselnya ketelinganya, tak lupa ia menyapa hangat sang penelpon.

“Yeobseyeo, eonnie?”

“…….”

“Eoh. Hari ini aku akan memeriksakan kandunganku ke rumah sakit, waeyeo? Apa kau sibuk hari ini?”

“…….”

“Ah, geurae? Gwenchanha geurom. Aku hanya perlu mengambil vitaminku dan diberi suntikan seperti biasa untuk menguatkan janinku saja. Kau tak perlu khawatir.”

“……”

“Ne? Ah, tentu saja. Aku akan mengajak suamiku, kebetulan semalam dia bilang hari ini ada waktu renggang dan akan mengantarku. Gongjongkma, dan hati-hati selama diperjalan menuju ke Busan,eonnie.”

“…….”

“Eoh, ne. Keuno.”

Sooji menghela nafasnya setelah memutuskan sambungannya dengan Sora. Sejujurnya Sooji merasa senang karena ada soosk yang mengkhawatirkannya, tetapi mengingat dirinya belum bisa terbuka kepada Sora membuat dirinya merasa tak enak setelah mendapat perhatian berlebihan oleh Sora. Sungguh.

Seketika Sooji mengulum senyum lirihnya, mengingat percakapan Antara dirinya dengan Sora. Apa yang baru saja Sooji bilang? Suaminya tidak sibuk dan bersedia mengantarkannya ke rumah sakit? Yang benar saja. Semua itu hanya sebuah mimpi yang sampai kapan pun Sooji tak bisa meraihnya. Sooji terlalu lemah untuk menggapai sejuta mimpi yang berisi kehidupan bahagia. Sooji adalah sosok yang lemah. Sampai kapan pun.

 “Just dream, honey.” Lirihnya.

****

“Kandungan anda sudah membaik dan cukup sehat. Saya hanya memperingatkan anda, kondisi psikis anda sangat berpengaruh kepada kondisi janin anda. Maka dari itu, saya harap anda jangan memikirkan hal yang berat. Dan maaf, apa anda masih sering melakukan hubungan seks?”

Sooji menganggukkan kepalanya sembari tersenyum kikuk. Bukankah dirinya benar? Sooji masih sering melakukannya. Bukan, lebih tepatnya suaminya memaksanya dan dia hanya diam.

“Lebih baik anda hentikan hubungan intim anda. Dan anda seharusnya memperingatkan kepada suami anda untuk tidak melakukannya dengan kasar. Meskipun kondisi kandungan anda cukup membaik, tetapi kandungan anda sesekali melemah akbiat hubungan intim anda. Mohon diperhatikan, nyonya.”

Sooji menghela nafasnya kasar. Dia lega karena kondisi kandungannya baik- baik saja, tetapi mengingat peringatan yang dokter berikan membuat Sooji takut. Takut jika kondisi janin bayi-nya akan memburuk akibat perlakuan suaminya itu. Terlebih kerap kali kondisi psikis Sooji yang memburuk akibat segala macam luka yang selalu ia ingat dan membuatnya rapuh.

Tubuh Sooji yang sedikit lemah itu akhirnya Sooji istrihatkan, duduk di sebuah bangku dilorong kemudian memejamkan matanya sejenak, guna untuk menenangkan pikirannya yang teramat kacau itu. Tangan milik Sooji terulur, memijat pelipisnya akibat kepalanya yang terasa pening.

“Suamimu kemana? Kau tidak mungkin berbohong kepadaku, kan?”

Seketika kedua mata Sooji terbuka dengan sempurna. Secepat kilat Sooji bangkit dari duduknya dan berdiri tegap sembari menatap tak percaya sosok wanita yang berbalut jas putih sedang berdiri dihadapannya dengan pandangan anehnya.

“Eo.. eonnie, mengapa kau disini? Bukankah kau bilang kau menghadiri seminar di Busan?”

Sora menghelakan nafasnya kasar. Kemudian wanita itu mendudukan dirinya dikursi yang Sooji duduki tadi dan melipat kedua tangannya didepan dada. Sora melayangkan tatapan tajam sekaligus memicing kepada Sooji.

“Eo.. eonnie, wae geurae?”

Sooji menundukkan kepalanya. Jemari tangan miliknya saling bertautan membuat wanita cantik itu terlihat sedang ketakutan. Takut apa yang akan terjadi setelah ini. Misalnya haruskah ia berbagi luka kepada Sora? Sooji ragu dan merasa takut.

“Kau masih ingin berbohong kepadaku?”

*******

Paris, Prancis 2013

“Eonnie, aku akan tetap menjalankan rencanaku!”

Seorang gadis berambut panjang berwarna coklat gelap menyerukan suaranya. Suaranya terdengar begitu tegas seakan menyakin sang kakak bahwa rencana yang ia buat memang harus ia lakukan. Dan supaya sang kakak tak menentang rencananya itu.

“Kau yakin? Aku pikir itu bukan ide yang bagus, sayang.”

Gadis tadi mempoutkan bibirnya. Kakaknya ini sangat keras kepala untuk mengubah keyakinanya itu. Sekali berbicara dan mengeluarkan pendapat, sang kakak enggan untuk mengubahnya. Sama seperti saat ini, sang kakak yang menentang rencana sang adik.

“Eonnie, dengarkan aku! Ini sudah keputusanku, dan keputusanku sudah bulat! Aku tak memiliki rencana lain. Apa kau memiliki ide?”

Sang kakak menopang dagunya. Jujur saja, akhir- akhir ini kepalanya sulit untuk menemukan ide. Pasalnya akhir- akhir ini dirinya disibuk dengan berbagai desain yang harus ia selesaikan satu minggu kedepan. Otaknya sudah terlalu penuh untuk mencari sebuah ide yang baik.

“Tidak, kau tau juga bagaimana otakku penuh karena harus menyelesaikan desain itu.”

Si adik lantas tersenyum lebar. Dia memang sengaja menanyankan ide pada sang kakak, dia jelas tahu bagaimana keadaan otak sang kakanya ini. Sangat jenuh dan penuh karena tumpukan desain yang harus ia kerjakan. Mustahil untuk menemukan ide yang lain.

“Maka dari itu, kau tak bisa menentang rencanaku ini. Aku juga tak memiliki ide yang lain, eonnie.”

Si kakak menghela nafasnya. Di balik sifatnya yang keras kepala, adiknya selalu bisa mencari sebuah celah untuk mengubah pilihan kakanya itu. Si adik memang memiliki otaknya yang sangat cerdas.

“Baiklah, aku tak ingin mendengar sesuatu yang buruk, arratchi?”

Si adik mengangguk cepat. Senyum lebar terukir diwajah cantiknya sebagai pertanda bahwa dirinya dilanda kesenangan yang bukan main saat ini. Benar- benar senang.

“Assa, kau memang yang terbaik!”

**********

“ANDWAE!”

Myungsoo memekik sejurus kedua bola matanya yang terbuka sempurna. Nafasnya terengah- engah seakan Myungsoo baru saja berlari puluhan kilo meter. Pria itu mengusap kasar wajahnya dengan tangan kananya. Pikirannya begitu kacau saat ini. Sungguh.

Mimpi itu datang lagi. Sebuah kejadian yang menjadi kesalahan terbesarnya dalam hidup. Bukan. Kesalahan istrinya lebih tepatnya. Kesalahan yang membuat hidupnya hancur seperti ini. Kehidupan tanpa ada rasa cinta dan kasih sayang, dan hanya berisi sebuah rasa sakit dan luka yang menorah dihatinya. Pria itu jelas tak bisa melupakan semua kejadian itu.

“Eotteokkaji?”

Gumaman lirih yang terdengar begitu menyedihkan sukses tercipta dari bibir milik Myungsoo. Myungsoo perlahan membuka laci mejanya. DIsana terdapat sebuah album foto using yang berisi kenangan manis yang ia miliki dahulu. Myungsoo mengulurkan tangannya meraih album foto using yang sedikit berduka.

Dengan perlahan, Myungsoo membuka album foto berwarna biru itu. Seulas senyum tipis pria itu lukiskan ketika pria itu melihat sosok gadis dan dirinya yang sedang tersenyum bahagia dengan tangan mereka yang membawa es kirm dan balon. Seingatnya ini adalah kencan pertama mereka.

Dihalaman kedua, masih sama terdapat sepasang makhluk adam yang kini berpose lucu di sebuah Sea World di Korea. Keduanya terlihat tak ingin saling mengalah untuk memancarkan sejuta kebahagian yang mereka miliki. Benar- benar sepasang kekasih yang sangat serasi.

Halaman demi halaman Myungsoo buka satu persatu, membuat puluhan kenangan manis yang tak pernah bisa pria itu lupakan kembali terbayang. Hatinya bergetar merasakan kebahagian yang tak dapat diungkapkan. Senyum diwajah tampannya tak pernah luntur menatap sosok gadis yang amat dirindunya ini.

Setelah menyelesaikan kegiatan bernostalagianya, Myungsoo hendak menaruh kembali ke tempat semula. Tetapi, niatnya terhenti ketika sebuah foto jatuh di atas lantai. Sebuah foto yang terlihat sangat usang dan berdebu. Sebuah foto yang tak pernah ia lihat dan terasa asing baginya.

“Mwoya?”

*******************************

Sora menghentikan mobilnya tepat didepan rumah mewah milik keluarga Sooji. Rumah semewah ini sudah menjadi hal biasa untuk Sora, mengingat dirinya dahulu juga tinggal di istana megah seperti ini. Sora tak perlu terkagum- kagum atau terkejut jika ada rumah semewah ini, terlebih hanya ditinggali oleh sepasang suami istri. Sora juga pernah merasakan tinggal dirumah besar bak istana hanya dengan seseorang yang berarti untuknya, sang adik.

“Sooji-ya, kita sudah sampai.”

Sooji menggeliat pelan begitu mendapat guncangan kecil yang Sora ciptakan guna membangunkannya. Perlahan kedua kelopak mata Sooji terbuka, menampilkan sepasang bola mata kecoklatan yang terlihat begitu indah. Sooji mengulum senyumnya begitu melihat sosok Sora didepannya sembari tersenyum hangat.

“Apa susah membangunkanku, eonnie?” Candanya.

“Aniya, sangat mudah bagiku.”

Sooji tersenyum lagi. Keduanya kemudian terdiam, membungkam mulut mereka rapat dengan bola mata mereka yang saling menatap satu sama lain lekat. Keduanya nampak terlihat sedang menyampaikan pesan satu sama lain melalui sebuah tatapan mendalam itu.

“Eonnie, gomawo telah menerima dan berbagi luka denganku.” Batin Sooji.

“Aniya, sudah seharusnya aku menanggung luka-mu Sooji. Sudah kukatakan, aku tidak ingin membiarkanmu terluka sendirian seperti yang kulakukan kepada adikku, sayang. Aku ingin menebusnya. Dan aku yakin adikku akan bahagia dialam sana.”

“Kau memang sangat baik, eonnie. Aku menyayangimu.”

“Nado, kau seperti sosok adikku Sooji. Aku berjanji akan selalu menyanyangimu dan melindungimu, yagsogi.”

Sooji tertawa hingga memecahkan kehinangan malam yang mereka buat. Sooji tak mengerti mengapa dirinya dan Sora seolah bisa membaca pikiran satu sama lain. Mungkin karena hubungan mereka sudah menjadi lebih dekat, dan bisa saja batin mereka saling terikat, bukan?

“Masuklah, suami-mu pasti sudah menunggu.”

Sooji mengangguk kecil sembari tersenyum tipis. “Eoh, aku yakin dia akan mengamuk karena aku pulang selarut ini.” Tawanya. “Aniya, aniya. Aku hanya bercanda, aku yakin dia belum pulang. Dia selalu pulang lebih larut jika weekend seperti ini. Entah apa yang ia lakukan.”

Sora bernafas lega begitu mendengar pernyataan Soooji. Semoga saja wanita bodoh itu tidak berbohong kepadanya.

“Yasudah, masuklah.”

“Eoh, ne. Gomawo telah mengantarkanku, eonnie. Anyyeong!”

Sooji segera melangkah keluar dari mobil hitam melatik milik Sora dan bergegas melangkah menuju istana mewah miliknya. Tidak. Lebih tepatnya milik keluarganya dan sang suami yang dihadiakan untuk pernikahan mereka.

********

Sooji melangkah memasuki rumah mewah miliknya dengan lemas. Sejujurnya tubuhnya sudah terlalu lemah untuk meladeni sikap Myungsoo malam ini. Tetapi, apa daya yang Sooji miliki? Sooji tidak ingin mengambil resiko seperti malam itu akibat ulahnya yang memberontak. Pria itu bahkan memukulinya sebagai hukuman atas ulahnya.

Sooji tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya kelak jika mengulangi kebodohannya untuk kedua kali. Prioritas utamanya saat ini adalah melindungi sang janin bayi yang berada dalam kandungannya. Jika Sooji menurut dan hanya diam, suaminya pasti takkan bersikap kasar apalagi memukulinya kala malam itu.

Langkah kaki Sooji terhenti didepan sebuah pintu putih dengan corak keemasan, di mana dibelakang pintu besar ini terdapat sebuah ruangan yang menjadi saksi buta atas segala lukanya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Sooji membuka pintu putih itu. Namun, yang Sooji dapatkan hanya kegelapan tanpa setitik cahaya yang akan menerangi jalannya.

Apa suaminya itu belum pulang? Sooji selalu menjaga lampu agar tetap menyala ketika dirinya berada dirumah, begitu pun dengan suaminya. Mungkin hanya kebiasaan itu-lah yang sama dengan kebiasaan suaminya itu. Padahal saat ini sudah larut malam, kemana suaminya itu pergi? Jangan berfikiran aneh mengapa Sooji bisa pulang selarut ini. Ketika berada di rumah Sora, dirinya terjebak oleh hujan lebat hingga mengharuskannya pulang selarut ini.

Tanpa berbelit dengan pikirannya lagi, Sooji segera melangkah pelan menuju saklar lampu dan menekan saklar tersebut. Baru saja Sooji hendak melangkah untuk merebahkan tubuhnya, namun langkahnya terhenti begitu melihat tubuh suaminya terbaring dengan mata yang terpejam. Sepertinya suaminya telah tertidur.

Sooji melangkah perlahan mendekati sosok suaminya, senyum Sooji terulas melihat wajah damai suaminya yang tertidur. Sepertinya suaminya sangat lelah hingga terlelap begitu pulas seperti ini. Hei, seberapa banyak luka yang suaminya berikan, hati Sooji takkan pernah berubah. Hatinya hanya milik Myungsoo seorang, suaminya.

Sooji mengeryit begitu indra penciumannya menangkap bau akohol yang begitu menyengat. Astaga, sepertinya Myungsoo meminum minuman keras terlalu banyak hingga membuat pria ini tertidur lelap seperti ini.

Lagi dan lagi Sooji kembali mengerutkan dahinya, ketika dirinya menyadari didahi suaminya terdapat peluh keringat dingin. Segera Sooji melangkah mendekati tubuh Myungsoo, dan menempelkan punggung tangannya di dahi Myungsoo.

“Myungsoo-ssi..” Panggil Sooji.

Myungsoo menggeliat begitu mendengar seseorang menyerukan namanya. Namun, karena pengaruh akohol yang ia habiskan pria itu tidak dapat melihat wajah Sooji dengan jelas begitu Myungsoo membuka kedua matanya. Yang ia lihat saat ini, wajah seorang gadis yang amat dirindukkanya yang kini tengah menatapnya penuh khwatir.

“Kau bisa melihatku?”

Myungsoo mengangguk seraya tersenyum kecil, membuat wanita cantik ini tertegun. Ini pertama kalinya pria ini tersenyum kepada Sooji meskipun hanya sebuah senyuman kecil. Tetapi, Sooji berani bersumpah meski sebuah senyuman kecil namun mampu membuat pria ini semakin terlihat tampan. Dan Sooji baru menyadarinya.

“Tentu, bagaimana aku tidak bisa melihatmu jika wajahmu berada didepanku?”

Sooji semakin tertegun. Tidak. Sooji yakin ini bukanlah mimpi yang selalu ia dambakan setiap saatnya. Ini nyata, Sooji yakin akan hal itu. Terlebih ketika pria itu mengulurkan tangannya dan menyentuh pipinya dengan lembut, Sooji seperti hilang akal karena ketidak percayaannya yang begitu besar.

“Ah, aku akan mengambil kompresan untukmu.”

Sooji yang hendak melangkah pergi, terpaksa menghentikan niatannya itu ketika tangan kekar milik Myungsoo menahan pergelangan tangannya dengan kedua bola matanya yang menatapnya dengan lembut.

“Kajima, tetaplah disini.” Lirih Myungsoo. Lagi dan lagi Sooji terkesiap begitu suaminya menarik tubuhnya dan masuk kedalam dekapannya. Sooji yang seperti orang bodoh hanya terdiam tanpa berniat melakukan apapun. Sungguh, Sooji seakan terbuai dengan perlakuan suaminya yang diluar kata normal ini. Tapi, bisa saja bukan suaminya mulai membuka hatinya dan menyadari keberadaannya?

“Tetaplah disini, kumohon. Tetaplah seperti ini seperti yang dahulu kita sering lakukan, aku merindukanmu. Sungguh.” Ujar Myungsoo seraya mempererat dekapannya. “Selama ini aku selalu merindukanmu dan mencintaimu, Soojung-ah.”

Untuk kesekian kalinya Sooji tertegun. Bukan karena tak percaya akan sikap Myungsoo yang begitu lembut kepadanya. Melainkan karena sebuah perkataan yang menyantakan bahwa semua perilaku Myungsoo yang berikan untuknya bukanlah untuknya, melainkan sosok wanita cantik yang mengisi hati Myungsoo hingga saat ini.

Lagi dan lagi, luka yang Sooji miliki semakin dalam. Benda runcing yang menusuk hatinya semakin mendalam memasuki ruang hatinya dan meninggalkan luka yang selama ini ia pendam. Air mata hanya sebuah isyarat atas lukanya. Luka yang ia miliki tepat menusuk kedalam hatinya, membuatnya sulit untuk bernafas dan melihat dunia yang semakin buram akibat krystal bening yang selalu menghiasi kedua bola matanya. Sooji terluka. Lagi.

******

Hai! Hai, i’m back! Semoga part ini gak mengecewakan kalian semua ya! Dan maaf atas keterlambatan update ff ini! Aku lagi sibuk buat pendaftaran sekolah dan aku sempatin buat ngetik ff ini. Semoga gak mengecewakan dan kalian sukaa yaaa! Dan semoga feelnya dapet.

Give comment and like:)

Gomawooyeooo~

Advertisements

37 responses to “END (2/?)

  1. Iissshhhh penasaran bgt sama kisah awalx.. Huft… Kasian sekali tokoh suzy yg menderita begini..

  2. Suzy bodoh banget.. udah d perlakukan semena-mena ttep aja tinggal sama Myungsoo.. kalo aku mah udah kabur dari dulu.. kan kasian anaknya suzy.. nanti klo keguguran gimna?
    Perasaanku campur aduk bacanya.. ada sedih, mangkel dan perasaan berharap biar myungsoo bisa berubah..
    Emang kenapa kelakuan Myungsoo bisa kejam?

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s