Mianhae (Special Part)

11218708_391142734406888_7947756647505312390_n

Mianhae (SPECIAL PART)

KIM MYUNGSOO | BAE SUZY | JUNG SOOJUNG

HURT | SAD

Storyline by Mybabysuzy or RSA
Poster by rosaliaocha@ochadreamstories

*****

Sang mentari mulai menunjukkan wujudnya di atas langit, menyapa jutaan makhluk hidup yang tinggal di sebuah planet bernama bumi. Sinar hangat miliknya menjadi salah satu vitamin untuk mengawali kegiatan makhluk hidup di bumi, termasuk Seoul, Korea selatan. Kicauan burung menggema di seluruh penjuru kota bernama Seoul, menyempurnakan suasana pagi yang begitu hangat dan menyenangkan.

Lain halnya dengan seorang gadis berparas cantik, yang kini masih setia bergelung dengan selimut tebal miliknya, menutupi tubuhnya dari sinar sang surya. Decakan halus sukses tercipta dari bibir mungil si gadis, ketika suara keras yang berasal dari alarm miliknya kini menggema di kamarnya. Begitu memekikan telinga.

Tangan gadis itu terulur, meraba- raba meja yang berada di samping ranjangnya hendak mematikan benda sialan yang mengganggu tidurnya. Seulas senyum kecil terukir di wajah cantiknya, saat dirinya berhasil mematikan benda terkutuk itu. Namun, sedetik kemudian kerutan di dahinya mulai nampak lagi. Sepertinya ada sesuatu yang aneh menurutnya.

“Mengapa aku merasa tidurku lama sekali?”Gumamnya.

Karena rasa penasaran yang semakin tinggi, perlahan kedua mata milik si gadis mulai terbuka. Seketika kedua matanya membulat dengan sempurna, melihat angka yang ditunjukkan oleh jam berbentuk bulat miliknya.

“Eomma!!”

Gadis itu lantas bangkit dari tidurnya dan melesat keluar mencari sosok ibunya untuk mengeluarkan seribu dumelan khas miliknya. Kedua kaki jenjangnya melangkah mencari sosok ibunya, namun hasilnya nihil. Yang ia lihat hanya sosok gadis muda, yang tak lain adalah sahabatnya yang bernama Soojung. Gadis itu sibuk berkutat dengan dapurnya untuk menyiapkan bermacam makanan.

“Yya, Jung Soojung! Mengapa kau tidak membangunkanku, eoh?! Kau tahu bukan, hari ini adalah hari sidangku. Dan kau tega tidak membangunkanku? Uwah, daebak! Dan lihatlah, kau bahkan masih sibuk dengan masakanmu. Hari ini adalah hari kita sidahng, dan kau tak bersiap?! Yya! Neo jinjja?!” Pekiknya.

Soojung sontak menutup kedua telinganya menggunakan kedua tanganya itu. Tubuh ramping miliknya memutar dan menatap kesal gadis bermarga Bae yang kini berada di hadapannya. OhGod! Apa salahnya di masa lalu, hingga Kau mengirmkan sahabat sepertinya untuk dirinya?

“Hentikan ocehanmu. Lihatlah tanggal, besok adalah hari siding kita. Bukan HARI INI, BABO!”

Sooji menutup mulutnya tak percaya. Astaga, betapa bodoh dirinya tak mengingat tanggal. Ah, pasti ini efek mimpinya itu. Bermimpi lulus dengan nilai terbaik. Heh, mengapa mimpi sangat berdampak dalam kehidupannya? Aigoo…

“Ah, mian. Geundae, mengapa kau memasak sebanyak itu?”

Soojung mengulum senyum manisnya. “Kekasihku dan kekasihmu akan sarapan disini. Makanya aku membuat sebanyak ini, dan special untuk my babyku.”

Sooji menatap jijik gadis yang sedang bersemu itu. “aish, hentikan wajah memerahmu itu. Menjijikan sekali!”

“Yya! Aish, dwaesseo! cepatlah mandi. Palli!”

——————————————————–

Dua pasang kekasih terlihat sedang menyantap sarapan yang dibuat khusus oleh salah satu diantara mereka. Ke empat manusia tampak begitu menikmati makanan yang begitu sederhana, namun untuk masalah rasa tak dapat diremehkan. Sangat- sangat lezat.

“Aigoo, uri Soojungie jinjja daebak!”

Seorang namja yang tak lain adalah kekasih dari gadis bernama Soojung membuka suaranya, tak lupa senyum yang begitu lebar menghiasi wajah tampannya. Gadis yang menerima pujian mengulum senyumanya, rona merah menghiasi kedua pipi putihnya. Ck, menjijikan sekali nona jung!

“Aku tak sehebat itu, oppa. Kau terlalu memujiku.”

Sepasang kekasih yang lain memutar bola matanya jengah, decakan kesal sukses terlontar dari kedua bibir milik mereka. Well, mereka memang juga sepasang kekasih namun bukankah mereka bisa menjaga sikap mereka di depan umum? Berbeda sekali dengan pasangan nona Jung dan Tuan Choi itu. Menggelikan.

“Aish, kalian ini tak usah sirik seperti itu. Kalian kan sepasang kekasih, mengapa begitu sungkan untuk mengumbar kemesraan kalian? Lagipula kan hanya kami yang melihat, gwenchanha. Aku tak akan mempermasalahkannya, Sooji.”

Minho –kekasih Soojung- menganggukkan kepalanya, menyetujui perkataan gadisnya. Bukankah gadisnya benar? Bukankah tidak masalah jika sepasang kekasih itu saling mengumbar kemesraannya? Bukankah itu hal yang wajar? Tetapi tidak untuk Myungsoo dan Sooji.

“Urat maluku belum terputus, Soojung-ssi. Jadi, aku tidak mungkin melakukannya terlebih di hadapanmu dan kekasihmu. Ahya, Minho oppa bukankah kau dulu menyukaiku? Bagaimana bisa kau berpaling kepada gadis tak tahu malu seperti dia?”

Soojung membulatkan matanya sempurna. Apa katanya? Bukankah Sooji sedang menggali kuburannya sendiri?

“Oppa, angeuraeyeo?” Sooji menatap Minho dengan wajah anehnya seolah memberi isyarat, Minho yang mengerti mengulum senyum kecilnya. Menjahili pasangan mereka sedikit taka da salahnya, bukan?

“Aigoo, tentu benar. Sasil, sebenarnya aku juga tak tahu mengapa perasaanku bisa berpaling ke Soojung. Solma.. apa otakku diberi sesuatu yang salah? Atau mungkin aku dipelet? AIgoo, bagaimana ini chagi?”

Baik Soojung maupun Myungsoo melototkan matanya tak percaya. Sementara, gadis bernama Sooji tersenyum puas melihat reaksi kekasih mereka. Rasanya benar- benar menyenangkan mengerjai pasangan mereka yang pencemburu.

“Omo, bisa jadi, oppa. Ah, kau jangan memakan sarapanmu itu, bagaimana jika diberi obat atau sesautu olehnya? Sangat berbahaya! Oppa, lebih baik ayo kita sarapan diluar.”

“Ah, geurae? Itu idebagus, chagi. Kajja!”

“YYA!” Pekik Myungsoo dan Soojun serempak.

Minho dan Sooji yang telah beranjak dari duduknya, menoleh serempak dan menatap dua makhluk adam itu dengan wajah polosnya. Seolah tak terjadi apa- apa sebelumnya, benar- benar mengesalkan.

“Wae, Myungsoo-ssi?” Sahut Sooji.

Myungsoo membulatkan matanya yang sipit sempurna, terlihat nampak membesar kedua matanya yang sangat kecil itu. Di sisi lain, Soojung menahan emosinya yang hampir meledak. Meskipun dirinya mengetahui kenyataan bahwa Sooji telah memiliki kekasih, namun Sooji berakting dengan sangat baik dan membuatnya terpncing.

“Yya, Sooji-ah! Apa maksudmu?! Kau selingkuh terang- terangan,hah?!”

Sooji kembali menoleh ke arah Minho seolah berkata ‘Dia kekasihku, lalu mengapa pria itu mengakuinya sebagai kekasihnya?’.

“Kau sepertinya salah orang, Myungsoo-ssi. Dia adalah namjaku, Choi Minho.” Senyum Sooji.

“YYA!” Soojung dan MYungsoo kembali memekik.

Sooji kembali mengulum senyumanyya, dengan cepat ia menarik Minho yang berada disampingnya dan mengajaknya keluar, berjalan beriringan dengannya. Tak lupa dengan senyum lebar yang menghiasi wajah mereka, rasanya benar- benar menyenangkan meskipun jatah makan mereka belum terpenuhi sepenuhnya.

“YYA! CHOI MINHO! BAE SOOJI!”

———————————————————–

Ketiga manusia yang nyaris sempurna dengan segala yang mereka miliki, terlihat mondar- mandir di depan sebuah ruangan besar. Jemari telunjuk mereka sedari tadi melekat pada gigi- gigi putih milik mereka, mengigit jemari telunjuk seperti orang yang dilanda ketakutan.

“Mengapa dia lama sekali?”

Myungsoo begumam tanpa menghentikan kegiatannya sedari sejam yang lalu. Soojung dan Minho mengangguk setuju.

“Apa mungkin dia gagal?” Kini giliran Soojung yang mengeluarkan suaranya.

Minho dan Myungsoo menggeleng serempak. Tak mungkin jika gadis sepintar Sooji tak berhasil dalam sidangnya. Bahkan, skripsi milik Sooji yang sempat mereka lihat benar- benar sempurna. Jadi, tak mungkin sekali jika Sooji gagal.

“Aniya, aniya. Sooji tak mungkin gagal, ia gadis yang sangat pintar.” Sahut Myungsoo.

Minho mengangguk setuju. “Maja, jungie. Bahkan kau lihat skripsi milik Sooji, sangat sempurna bukan?”

“Maja, lalu mengapa dia lama sekali?”

Kedua pria tampan itu kembali menggeleng serempak. Benar- benar kompak, seperti teman selaras hidup.

“Molla.”

‘Cklek’

Ketiganya sontak menghentikan kegiatan mereka. Secepat kilat kepala mereka menoleh ke arah pintu besar yang sedari tadi menjadi tempat berlangsungnya kegiatan mereka. Kerutan di dahi mereka nampak ketika melihat raut wajah Sooji yang terlihat murung.

“Sooji-ah, bagaimana?” Seru Myungsoo.

“Kau pasti berhasil, bukan?” Soojung menyahut.

“Kau pasti berhasil! Skripisi milikmu bahkan sempurna!” Minho kini menyahut.

Sooji melayangkan tatapan sendunya kepada ketiga manusia yang memandangnya dengan cemas. Kepalanya menggeleng pelan, kedua bola matanya berkaca- kaca menahan tangisnya yang akan segera pecah. Membuat sahabat dan kekasihnya dilanda kecemasan bukan main.

“Ak.. aku.. “ Lirih Sooji.

Myungsoo melangkah mendekati gadisnya, memegang kedua bahu gadisnya dan menatapnya cemas. Sepasang sejoli lainnya ikut mendekati Sooji, dan berdiri disamping sahabatnya itu.

“Sooji, bicara yang jelas!” Seru Myungsoo.

Cairan bening milik Sooji mulai tumpah dengan derasnya, membentuk aliran sungai tanpa hulu dikedua pipi bulat miliknya. Sooji nampak begitu kalut, membuat tiga makhluk adam lainnya menatapnya semakin cemas.

“Yya! Bae Sooji! Bicara yang jelas, bodoh!” Soojung menyahut.

Sooji menggelengkan kepalanya lemah. Tangannya terulur menyentuh pipi prianya dan membelainya lembut dengan jemarinya, masih dengan air matanya yang mengalir deras.

“Op.. oppa.. ak.. aku..” Lirihnya lagi.

“Bicara yang jelas, kumohon!”

“Aku berhasil! SUKSES!” Pekik Sooji dengan senyumannya yang begitu lebar, lalu menghambur kepelukan kekasihnya yang masih melongo tak percaya. Seperti yang dilakukan oleh sepasang sejoli lainnya yang terlihat seperti orang bodoh. Solma… mereka dikerjai oleh gadis jahil ini? Shit.

“Eo, kenapa dengan wajah kalian?” Tanya Sooji setelah melepaskan pelukannya dengan wajah polosnya bukan main.

“BAE SOOJI!”

————————————————–

“Oppa, bagaimana jika kita kencan? Merayakan sidang kita yang berhasil.”

Myungsoo yang tengah menyetir, menoleh sedikit menatap sejenak gadisnya yang menatapnya penuh harap. Sedari tadi memang dirinya, Soojung, dan juga Minho mendiamkan gadis ini bahkan saat mereka sedang merayakan keberhasilan mereka.

“Bukankah kita sudah merayakannya tadi? Lalu, untuk apa dirayakan lagi?” Ujar Myungsoo dengan nada datarnya.

Sooji tertegun. Untuk pertama kalinya semenjak mereka menjalin hubungan pria ini berbicara dengannya dengan nada datar seperti itu. Bahkan pria itu hanya meliriknya sedikit! HANYA SEDIKIT! Apa dirinya kelewat jahil tadi?

“Oppa, kau marah?”

Myungsoo kini menolehkan wajahnya penuh kearah gadisnya. Ia menatap gadisnya dengan datar, lalu menggelengkan kepalanya pelan dan kembali memfokuskan dirinya mengendarai mobil sport miliknya.

“Ani, untuk apa aku marah? Kau melakukan hal yang salah memangnya?”

Sooji menghembuskan nafasnya perlahan. Lalu, mengapa kekasihnya bersikap seperti ini kepadanya jika ia tak marah? Sangat mustahil.

“Lalu, mengapa kau bersikap seperti ini, oppa? Kau pasti marah denganku, matchi? Mianhae, oppa. Aku..” Ujar Sooji terhenti.

“Kita sudah sampai, selamat malam.” Sela Myungsoo ketika sampai di rumah minimalis milik Sooji dan Soojung yang memang tinggal bersama, dikarenakan orang tua mereka yang tinggal di luar negeri.

Sooji menghembuskan nafasnya lagi. Mungkin Myungsoo butuh waktu untuk memaafkan dirinya yang terlalu jahil. Hah, kalau begini jadinya sejak dulu ia tak bersikap jahil seperti ini. Ia bahkan tak pernah berfikir sikapnya itu membawa kesialanya seperti ini.

“Nee, aku pergi. Joshimae, oppa.”

—————————————————————-

“Soojung-ah.”

Sooji menuruni anak tangga rumahnya dengan langkah riang, senyum cerah terukir diwajah cantik miliknya membuat pesona miliknya semakin terpancar.

“Soojung-ah, kau masak apa?”

Sooji berjalan riang mendekati sahabatnya yang sedang berkutat dengan wajan dan kawan- kawanya itu. Soojung yang memang sedang focus memasak tak menghiraukan Sooji yang berada disebelahnya, dan memerhatikannya.

“Eo, kau masak nasi goreng kimchi? Uwahh, sarapan yang menyenangkan. Geundae, mengapa sedikit sekali? Apa nasi yang kita miliki tinggal segini?” Oceh Sooji.

Soojung meletakkan spatulanya kasar, membuat Sooji terkesiap. Kemudian, Soojung menolehkan kepalanya kea rah sahabatnya itu dengan tatapan jengahnya.

“W. wae geurae?” Tanya Sooji bingung.

Soojung menghela nafasnya kasar. Tanpa mempedulikan keberadaan Sooji, ia menaruh nasi buatannya dan mendudukkan dirinya dimeja makan dan mulai menyantap sarapan paginya. Sooji yang melihatnya menghembuskan nafasnya kasar. Semenjak hari dimana dirinya disidang dan menjalankan aksi jahilnya, sahabat dan kekasihnya mengacuhkannya hingga sekarang. Hampir seminggu dirinya menjadi patung yang selalu diacuhkan.

“Soojung-ah, kau masih marah?”

Sooji mendudukkan dirinya disamping Soojung, menatap sahabatnya penuh harap. Bahkan, Sooji mengeluarkan aegyeonya yang terlihat menjijikan itu, bagi Soojung tentunya. Lain halnya dengan pria lain yang mungkin akan terkesima dengan kecantikan sempurna milik Sooji.

“Hentikan hal menjijikan itu! Kau membuatku tak nafsu makan!”

Soojung menghentakkany sendoknya lalu berlalu pergi begitu saja dari hadapan Sooji yang kini menunduk sedih. Hatinya terasa sakit menerima perlakuan yang diberikan Soojung dan kekasihnya akhir- akhir ini. Selalu mengiraukan dan mengacuhkan dirinya.

“Mianhae.” Lirihnya.

—————————————————-

“Ahjussi, ghamshamnida!”

Setelah membayar ongkos tarif taksi yang dinaikinya, Sooji melangkah dengan riang memasuki halaman sebuah café yang terlihat sangat sepi. Beberapa saat Sooji menghentikan langkahnya, merasa aneh dengan café yang didatanginya itu.

“Apa aku salah tempat? Tak mungkin, café ini yang selalu kami kunjungi seperti oppa bilang.” Gumamnya sebelum kembali melangkah.

Yap. Setelah tepat seminggu Myungsoo tak memberinya kabar dan mengacuhkannya, pria tampan itu akhirnya mengirimnya sebuah pesan dan menyuruhnya ke café ini. Tempat yang menjadi saksi buta keeratan hubungan mereka yang sudah terjalin lama.

Perlahan, Sooji mendorong pintu kaca berukuran besar yang akan menghubungkan dirinya ke dalam café besar itu. Susah payah Sooji mengumpulkan keberaniannya untuk sekedar membuka pintu café itu, karena café berukuran besar itu terlihat sangat sepi dan gelap. Seperi taka da kehidupan yang berlangsung disana.

“Eo, mengapa begitu gelap?” Gumamnya saat memasuki café.

Sooji kembali melangkah, namun langkahnya kembali terhenti ketika café gelap dan sunyi itu seketika mejadi terang yang diiringi dengan alunan music piano. Sooji mengedarkan pandangannya, ia menatap tak percaya pemandangan yang berada dihadapannya.

Karpet merah yang diiringi oleh lilin- lilin disampingnya hingga akhir karpet, bau harum yang berasal dari bunga- bunga mawar yang bertebaran indah disepanjang karpet berwarna merah. Di ujung karpet terdapat meja dan kursi lengkap dengan hidangan makanan dan juga segelas wine, membuat suasan romance semakin menyeruak disana.

Sooji embali mengedarkan pandangannya, kedua matanya menyipit melihat sosok bayangan yang sedang memainkan piano tak jauh dari meja dan kursi lengkap dengan hidangannya.

“Apa itu oppa?”

Sooji melangkah perlahan, kepalanya celingak- celinguk agar dapat melihat dengan jelas siapa yang menciptakan alunan indah yang berasal dari piano itu. Ia menghentikan langkahnya, ketika alunan indah itu berhenti.

Seorang pria tampan lengkap dengan jas hitam miliknya serta dasi kupu- kupu yang melekat dengan apik, perlahan mulai menampakan tubuhnya itu. Pria itu mengulum senyum manisnya, membuat Sooji semakin menganga tak percaya akan ketampanan yang dimiliki oleh pria itu. Kaki gagah milik Myungsoo perlahan mendekati gadisnya yang masih berdiri seperti patung.

“Op.. oppa.. “ Senyum Sooji tak percaya.

Myungsoo mengulum senyum manisnya, menatap gemas raut wajah gadisnya yang nampak begitu polos. Ia kembali melangkah, mendekati tubuhnya dan tubuh gadisnya, mengikis jarak diantara mereka. Myungsoo tersenyum melihat gadisnya yang masih mematung.

“Saengil chukkae, chagi.” Ujar Myungsoo lembut.

Sooji mengerjap. Hari ini memang ulang tahunnya? Ia bahkan tak sadar karena terlalu sibuk memikirkan perubahan orang- orang disekitarnya. Jadi, apa mungkin Myungsoo mengerjai dirinya untuk menyiapkan semuanya ini untuknya?

“Kau mengerjaiku, hmm?” Delik Sooji.

Myungsoo terkekeh. “Jangan merusak suasana, sayang. Cha, bukankah lebih baik kita menyantap hidangan yang akan dingin itu? Kajja.” Myungsoo hendak berjalan menuntun Sooji, namun niatannya terhenti karena Sooji menahan lengannya terlebih dahulu.

“Kau tak memberiku hadiah?” Tanyanya dengan bibir yang mengerucut.

Myungsoo mengulum senyumnya geli. “Kau ini terlalu terburu- buru. Dan sudah kubilang, jangan merusak suasana yang susah payah kubuat sedemikian rupa, chagi.” Ujarnya, lalu mengiring Sooji berjalan menuju meja makan dan mendudukkan dirinya.

“Wine? Kau tau aku tak bisa meminumnya, oppa.”

Sooji bergumam sedih. Myungsoo merutuk dalam hati karena kecerobohannya itu, namun sedetik kemudian ia tersenyum lebar. Recananya tak boleh gagal hanya karena segelas wine, bukan? Ia harus tetap tersenyum, agar Sooji tak murung.

“Kau ingin merasakannya?” Tanya Myungsoo.

“Ne, oppa. Tapi aku tak bisa karena wine dapat memacu tumbuhnya penyakitku.”

“Kata siapa, eoh? Kau bisa merasakanya, tapi nanti. Cha, lebih baik kita makan dulu sebelum dingin. Arrasseo?”

Sooji menganggukkan kepalanya patuh. Kemudian, dengan perlahan ia mulai menyantap steak lezat yang sudah menunggu dirinya untuk melahapnya habis. Tak ada yang mengerluarkan suaranya, keduanya saling mengatupkan bibirnya. Sibuk dengan hidangan lezat, dan wine yang beberapa kali Myungsoo teguk.

“Sooji-ah.”

Sooji mengalihkan pandangannya, kedua bola matanya membulat melihat kekasihnya kini sedang berlutut dihadapannya. Ia bahkan tak menyadari prianya telah beranjak dari kursinay dan berada dihadapannya.

“Ne, wayeo oppa?”

Myungsoo mengulum senyum manisnya, tangannya terulur merogoh saku celananya. Lalu, mengeluarkan kotak kecil berwarna merah dan membukanya yang berisi sepasang cincin putih. Myungsoo kembali tersenyum manis.

“Sooji, maukah kau menjadi pendamping hidupku kelak? Seseorang yang selalu berada disisiku dalam keadaan apapun, meski duka maupun suka. Menjadi seseorang yang melahirkan dan membesarkan anak- anakku kelak. Will you marry me, bae Sooji?”

Sooji nampak begitu haru. Hatinya bergemuruh hebat mendengar setiap penuturan yang begitu menggetarkan hatinya. Air mata bahagia lolos dengan mudah dari kedua pelupuk mata Sooji. Myungsoo yang melihatnya lantas bediri dan menyeka air mata gadisnya.

“Uljimma.” Senyum Myungsoo.

“Op.. oppa, kau yakin dengan pilihanmu?”

Myungsoo tersenyum lagi, lalu mengangguk. “Geurom. Tak perlu untuk kufikirkan lagi, Sooji-ah. Keputusanku sudah bulat untuk menjadikanmu seseorang yang menamiku di masa depan. Aku yakin sepenuhnya.”

Air mata Suzy semakin deras. “Op.. oppa, aku tak pandai memasak seperti Soojung. Aku bahkan harus selalu meminum obat- obatanku untuk mencegah kambuhnya penyakitku, oppa. Ak. Aku.. tak pantas untukmu, oppa.”

Myungso meletekkan jemari telunjuknya diatas bibir gadisnya. Ia mengulum senyum hangatnya, membuat hari Sooji kembali berdesir hebat.

“Siapa yang bilang, hm? Aku menerimamu apa adanya, sayang. Aku tak peduli bagaimana rupamu dan segala kekuranganmu. Aku akan menerimanya, Sooji-ah. Jadi jangan difkirkan hal yang tidak –tidak, kau mengerti? Jadi, apa jawabanmu?”

“I will, Myungie oppa.”

Myungsoo mengulum senyum lebarnya, lantas ia mendekap tubuh calon istrinya dengan erat. Senyum lebar tak luput dari wajah sempurna keduanya, seolah menunjukkan betapa bahaginaya mereka ini. Myungsoo melepaskan pelukannya, lalu ia tersenyum aneh membuat Sooji mengeryit tak mengerti.

“Kau ingin merasakan wine, sayang?”

Sooji sontak menatap berbinar kekasihnya, ia menganggukkan kepalanya riang. Tapi, bagaimana caranya?

“Oppa, bagaimana caranya?”

Myungsoo hanya mengulum senyum simpulnya. Perlahan, ia mendekatkan wajhanya ke wajah gadisnya, mengikis jarak diantara keduanya. Myungsoo tersenyum geli ketika dilihatnya Sooji memejamkan matanya, sepertinya gadisnya terlalu gugup.

Tanpa ragu, bibir miliknya ia daratkan dibibir milik Sooji lalu melumatnya dengan lembut seolah mencurahkan seberapa besar cintanya kepada gadisnya. Tangan milik Myungsoo terulur menarik tengkuk gadisnya saat dirasanya sang gadis mulai mengikuti permainanya. Keduanya saling tersenyum dalam tautan yang mereka cipatakan.

Setelah beberapa menit, keduanya melepaskan tautan mereka.

“Kau bisa merasakannya, matchi?”

Sooji mengulum senyum malunya, kedua tangannya terulur menutupi pipinya yang bersemu merah. Ia menunduk malu, ia tak mungkin membiarkan Myungsoo melihat wajahnya yang seperti tomat itu. Memalukan pastinya.

“SAENGIL CHUKKA, URI SOOJI! AND CONGRASTULATION!”

Sooji sontak menoleh, begitupun dengan Myungsoo. Keduanya mengulum senyumnya melihat sepasang sejoli yang sibuk benyanyi dengan sebuah kue tart yang mereka bawa untuknya. Soojung memeluk sahabat tersayangnya itu.

“Chukkae, Sooji-ah.” Senyumnya tulus.

“Gomawo, Jungie.”

“Chukkae uri dongsaeng.” Sahut Minho.

Sooji kembali mengulum senyum manisnya, lalu mengangguk. “Gomawo, oppa.”

“Aigoo, uri Sooji sudah dewas ternyata bahkan tak malu berciuman panas dihadapanku dan juga kekasihku. Aigoo.. bagaimana jika Paman bae tau, ya? Aigoo.. “

Sooji mendelikkan matanya kearah Soojung. Tanpa ragu, ia menyambar kue tart besar yang berada ditangan Minho dan melemparnya tepat dimuka cantik milik Soojung. Ketiganya sontak tertawa terpingkal- pingkal melihat wajah Soojung yang dipenuhi oleh cream.

“BAE SOOJI!”

“WAE?! WAE?! WAE?! SALAHKAN MULUTMU YANG BESAR ITU, HAHA!”

“BAE SOOJI! YYAK!”

——————————————————-

Begitulah kisah mereka. Kisah cinta yang mengantarkan mereka untuk mengenal kehidupan lebih dalam. Kisah cinta yang menorehkan luka dan membuat mereka bisa menjadi lebih dwasa dan saling mengerti. Namun, kini luka yang selama ini mereka pendam telah kandas oleh sebuah kebahagian yang tercipta oleh kebersamaan mereka. Kebersamaan yang begitu menyenangkan dan membahagiakan hati mereka.

********

Mungkin special part ini tak terlalu diharapkan. Tetapi untuk melengkapi cerita yang sudah kubuat, aku mengepost parti ini. Semoga kalian suka dan puas sama cerita yang aku buat. Maaaf atas segala kekurangan yang terdapat didalam ff ini, author mohon maaf.

Give me comment and like:)

Gomawo

10 responses to “Mianhae (Special Part)

  1. Spesial part yang manis, bikin senyum2 pas baca, Myungzy saling mencintai begitu besar, dan Soojung juga menemukan tambatan hatinya. Chukea Myungzy untuk pertunangannya.🙂 gomawo. Author faithing……

    *BOW*🙂

    • omo, jinjja?
      Kamu gak dikira orang gila sama orang rumah, kan?
      Ne, soojung akhirnya bisa move on dan merelakan myungzy
      Neeeee, gomawo supportnya yaaa
      Gomawo commentnya jugaa

  2. Hahaha, Zyeonn jahil bgt sihh udh bikin orang khawatir tntng sidang nya wkwkwk, tuhkan bener mrk itu mau ngerjain Zyeonn😀 oh iya thor kyk nya bukan cuma Zyeonn yg dikasih ucapan chukkae, author juga perlu dikasih ucapan chukkae🙂 ,chukkae ne thor udh bikin ff yg menurutku sangat bagus ini😀 Ditunggu next ff mu thor *Fighting #BOW 90 degree.

  3. Ini perasaan ku atw apaya . . . Kayaknya q dah prnah baca nie ff. . . Lw gak zlah zie gitu . . .

    Tpi gak apalah . . .
    Sepecial part keren kok . .
    Happy ending . .

  4. Waaah kak ff y bikin aku senyum sendiri GJ y ~kkkk
    Aduh jdi bingung mau katakan apalagi, tpi ff ny nice

    ditunggu karya selanjut ny
    good luck

  5. Keren bgt…. untung aja happy ending. Pertamanya kukira author akan buat Suzy meninggal…. dan aq plg ga suka kl tokoh utamanya nya meninggal hehehe…. thanks karyanya thor-nim….

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s