[Freelance] Business Marriage Chapter 3

myungzy

Title : Business Marriage | Author : kawaiine | Genre : Comedy, Marriage Life, Romance | Rating : PG-17 | Main Cast : Bae Soo Ji, Kim Myungsoo | Other Cast : Lee Min Ho, Kim Yoo Jung , Kim Tae Hee , Lee Junho , Park Jiyeon , Kim Do Yeon, Lee Seung Gi,eTc.

“This plot and story is mine, sorry for typos, same characters or cast.happy reading :*”

***

Myungsoo POV

“Baiklah, buktikan!”

Aku mendekat ke arahnya, sementara ia menjauh dariku. Aku menghalangi jalannya untuk mundur dengan tanganku. Tangan kananku meraih tengkuknya. Ia menatap heran, menatap kesal, aku mendekatkan wajahku ke arahnya hendak mencium bibirnya. Dan….

Aku terbatuk.

Sial.

Gumamku dalam hati.

Sementara Suzy sudah siap dengan tatapan kesalnya, ia mendorongku ke belakang.

“Apa yang kau lakukan,huh?” Tanya nya padaku.

“Aku ingin membuktikan bahwa aku seorang namja!”

“Kau ingin memberi virus batukmu padaku?”

“Tidak, aku tidak sengaja! Maaf!” aku segera berlari ke ranjangku, menutup tubuhku dengan selimut, sementara Suzy juga melakukan hal yang sama. Jantungku berdegup kencang, dapat kurasakan darah berdesir dari ujung ke ujung ketika aku mendekatkan wajah ke arahnya tadi.

Suzy POV
Aku membalikkan badan melawan arah Myungsoo, aku sebenarnya terkejut ketika ia hendak menciumku tadi. Aku meletakkan telapak tanganku di kedua pipiku, panas sekali. Aku tak bisa memejamkan mata, aku mengingat kejadian tadi. Nafas Myungsoo masih terasa jelas di sekitar wajahku. Nafas yang mampu menghentikan aliran darahku. Nafas yang mampu membuat jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya. Aku menuruni ranjang menuju ke dapur, tenggorokanku kering.
Aku mengambil segelas air minum lalu meneguknya, aku duduk di kursi ruang makan. Dan aku mendengar suara seseorang membuka pintu, siapa lagi di rumah ini jika bukan dia.

“Kau belum tidur?” tanyanya padaku.

“Belum.”

“Mengapa? Bukankah besok konsermu?”

“Aku tidak mengantuk.” jawabku datar,sementara ia duduk di hadapanku. Aku merasakan jantungku kembali berdegup kencang.

“Maaf untuk kejadian tadi.”

“Tidak apa-apa. Apakah kau sedang flu? Lebih baik kau minum obat.”

“Tidak, mungkin itu hanya sebuah kegugupan.” Dia kini menatapku. Tanganku saling mengepal dengan bercampur keresahan. Ia menarik tanganku. Aku menoleh kesal ke arahnya. Aku tak dapat berkata apa-apa. Senyuman itu menghiasi wajahnya, mampu melumpuhkan amarahku.

“Aku tidak akan menyentuhmu kecuali kau yang memintaku.”

“Maksudmu?” tanyaku heran, ia melepaskan tanganku yang berada dalam genggamannya. Aku berpikir keras kali ini. Ia hanya menggeleng pelan, aku pun mengerti akan maksudnya.

—000—
Hari ini konserku akan di mulai pukul 10 pagi. Aku terbangun dari tidurku, akupun melihat ke arah pintu dimana ada ranjang kecil Myungsoo. Dia seperti anak-anak kali ini, meringkuk di ranjang dengan selimut bergambar Toys Story. Aku menggelengkan kepalaku, aku segera mandi. Setelah mandi aku menyiapkan sarapan, untukku. Dan juga untuk Myungsoo. Aku merasa seperti…Seorang istri sekarang.

“Kau sudah bangun Suzy-ssi?” suara berat itu mampu membuatku menoleh ke atas tangga.

“Sudah. Kau mandilah dan segera sarapan.” tawarku padanya. Ia hanya tersenyum lebar ke arahku, menampilkan deretan giginya yang putih lalu berlari dan bersorak.
Tak lama kemudian ia duduk di hadapanku,seperti tadi malam.

“Kau memasak telur mata sapi ini?” tanyanya padaku. Aku yang sedang mengupas apel mengangguk dan menatapnya. Ia segera memasukkan telur itu ke lembaran roti, lalu menutupnya. Akupun meneguk segelas susu putih dan memakan irisan apel yang telah ku kupas. Ia memakan rotinya dan meminum susu yang telah aku sediakan.

“Telurnya enak sekali. Gomawo.” ujarnya tersenyum ke arahku.

“Hanya telur Myungsoo-ssi. Kau berlebihan.” Ia menatap dengan senyuman ke arahku, akupun membalas senyuman hangatnya. Lalu aku memberikan sebuah kertas padanya.

“Untukmu.”

“Tiket itu? Aku akan membayarnya.”

“Tak perlu, ini gratis. Kau tak perlu membayarnya. Kemarin tiket itu sudah habis sekitar 500 buah.”

“Baguslah, kau hebat.”
Aku merasa aneh dengan suasana seperti ini, ya.. dia yang biasanya jahil dan menyebalkan kini berubah semenjak kejadian tadi malam, ciuman itu. Ciuman yang tidak sampai.

“Aku berangkat sendiri saja Myungsoo-ssi.”

“Aku dan kau satu tujuan Suzy-ssi. Ayo.” Ia menarik tanganku untuk masuk kedalam mobil. Lalu tak lama kemudian mobil melaju. Keheningan masih menyelimuti kami. Tiba-tiba handphone Myungsoo berbunyi, ia mematikannya begitu saja.

“Kenapa tidak di angkat saja? Itu mungkin penting.”

“Tidak penting, itu mungkin—“ ucapan Myungsoo terpotong seketika aku mengambil alih handphone nya dan mengangkat nya. Entah kelancangan apa ini, aku berani mengambil handphone milik Myungsoo.

“Yobose—“

“Myungsoo Oppa, kau dimana ? Kenapa kau tidak masuk kantor hari ini? Aku merindukanmu.”
Aku menatap Myungsoo, ia menghentikan mobil. Ia mengambil alih ponselnya dari tanganku. Benda tak berdosa itu kini kembali ke tangan pemiliknya.

“Aku ada urusan penting Yeon-ah. Lagi pula tidak ada pekerjaan hari ini, aku ingin refreshing.” ujarnya dengan terbata-bata, sementara dadaku terasa sesak mendengar yeoja itu merindukan Myungsoo. Bukankah aku tak ada perasaan apapun kepadanya, mengapa hal seperti ini dapat terjadi.

“Kau ada dimana? Biarkan aku menyusulmu Oppa. Aku sangat merindukanmu. Ciumanku yang kemarin untukmu tidak cukup untuk meng—“ . Myungsoo mematikan handphone nya, aku yakin yeoja itu kini tengah menggerutu sendiri. Sekilas perkataan “C-I-U-M-A-N-K-U” terngiang di telingaku. Jika di ibaratkan pertandingan aku dan Myungsoo sama-sama berpoint Seri.

“Dia yang kau bilang sekretarismu itu kan?” tanyaku padanya,sementara dapat ku lihat keringat dingin mengalir di sekitar kepalanya.

“Iya.”
Aku bersandar di kursi mobil, dan menikmati perjalanan yang hening ini.
—000—
Aku melangkahkan kaki ku kedalam ruangan ganti. Aku mengganti bajuku dengan dress pendek dan membiarkan rambutku tergerai bebas. Jiyeon menghampiriku dan segera mendandaniku.

“Aku datang bersama Myungsoo,Jiyeon-ah.” ujarku.

“Jinja? Myungsoo menonton konser-mu? Tapi aku tak yakin setelah ini ia akan baik-baik saja.”
Aku hanya tertawa pelan lalu Jiyeon mengisyaratkan kepadaku bahwa aku telah selesai di make-up. Akupun melihat pantulan diriku di cermin. Hasil karya seorang Jiyeon memang harus di akui terbaik.

Myungsoo POV
Sesampainya aku di sebuah gedung yang besar ini, aku melihat banyak orang berlalu lalang. Ada yang membawa poster namja yang entah siapa itu namanya. Berbagai macam jenis manusia mungkin terkumpul disini. Akupun memasuki ruangan yang dijadikan akses menonton konser, Aku duduk terdiam di kursi depan panggung megah ini,tepatnya jauh dari panggung. Mengingat kembali apa yang Do Yeon ucapkan tadi. Aku tak dapat membayangkan suasana hati Suzy saat ini. Tapi, bukankah ia juga berciuman dengan namja itu?. Ah, bayangan itu membuatku sakit kepala.
Ia mungkin heran mengapa aku berubah sedari tadi di rumah. Aku memutuskan untuk menjadi suami yang baik mulai hari ini. Aku tak mungkin terus menjahilinya, aku menyadari bahwa pernikahan ini bukanlah main-main. Aku dan Suzy di jodohkan untuk menyelesaikan sebuah misi. Jika kami terus kekanak-kanakan seperti ini mungkin misi itu tak akan pernah selesai.

“Myungsoo Oppa! Kau disini?” tiba-tiba Yoo Jung berada di sampingku, membuyarkan lamunanku.

“Yak! Kau juga disini,dengan siapa?.”

“Aku ingin menonton Junho Oppa. Ia akan berkolaborasi dengan Suzy Eonni. Ah aku tidak sabar untuk menontonnya.Aku bersama Tae Hee Eonni, tapi ia sedang membeli minuman terlebih dahulu.”
Aku menganggukan kepalaku sebagai respon untuk apa yang Yoo Jung katakan.
“Oppa, mari kita berdiri di samping panggung! Agar lebih jelas melihatnya.” Ia menarik tanganku, akupun mengikutinya. Aku mendengar seorang MC memberitahukan bahwa konser akan segera dimulai.

“Penonton semua, sebagai Opening dalam acara ini, mari kita sambut dengan meriah Junho dan Suzy Sajangnim.” ujar seorang MC, sementara penonton di belakangku berteriak-teriak. Aku tak menghiraukannya. Dan Noona berada di sebelahku kali ini.

“Myungie. Lihatlah Suzy sangat cantik bukan?” Ya, keberadaan Noona di sampingku mampu melupakanku terhadap penghuni panggung ini. Aku melihat Suzy dengan dress pendek yang dikenakannya. Hatiku merasa tak enak sekarang. Musik berputar. Kedua manusia di atas panggung itu menari-nari dengan bahagianya. Posisi mereka memang berjauhan, aku berharap mereka tak berdekatan atau tangan namja itu berani memegang Suzy.

Namun harapanku hancur seketika
Namja itu berhasil memegang tubuh Suzy.

“BAE SUZY! Apa yang kau lakukan!” Aku berteriak sekeras mungkin, namun teriakanku kalah oleh pasukan yeoja yang berteriak histeris di belakang sana.

“Jika kau memang tidak mau ia seperti itu, kau harus mengungkapkan pada semuanya bahwa kau adalah suami dari Suzy.” ujar Noona.

“Oppa kau marah? Kau tidak boleh marah, ini hanyalah sebatas permainan panggung saja.” ujar Yoo Jung.
“Benar yang dikatakan Yoo Jung, ini permainan panggung saja. Bahkan kau sudah mampu melakukan lebih jika kau dengannya kan?” timpa Noona, melakukan apa? batinku. Aku tak mengalihkan pandanganku saat ini. Pandanganku tertuju pada kedua manusia disana yang sedang menari-nari itu. Hingga tiba….
You’ll always be mine, sing it to the world.
Always be my boy, you’ll always be my girl.
Nobody’s business,nobody’s business.
Ain’t nobody business,ain’t nobody business.
But mine and my baby.

Aku tak tahan melihatnya, hingga adrenalin ku muncul dengan kuat dan secara tiba-tiba. Aku yang berada tepat di samping panggung langsung meloncat sejadi-jadinya, tepi panggung itu sangat kecil lebarnya,sehingga aku mampu meloncatinya. Dapat ku dengar teriakan Noona dan Yoo Jung. Aku berharap mendarat di panggung tersebut, namun naas aku mendarat di antara kaki para yeoja yang sedang berteriak ini. Aku segera bangkit dan berlari kencang untuk keluar. Aku berhasil keluar dari ruangan ini, aku berlari menuju parkiran. Akupun memasuki mobilku. Dan aku terduduk di bangku mobil. Aku menundukkan kepalaku frustasi, aku melajukan mobil dengan kencang. Hingga akhirnya aku sampai di rumah, aku melepaskan jaketku dan melemparnya. Lalu  membaringkan badanku di sofa. Aku tertidur, berusaha melupakan kejadian tadi.

—000—
Aku terbangun , aku melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku. Pukul 3 sore. Aku mengusap mataku. Aku melihat yeoja yang sedang menyiapkan makanan di dapur. Sudah ku duga, itu Suzy. Aku beranjak dari Sofa untuk segera ke kamar. Dapat ku dengar Suzy yang sedang memanggilku, aku berpura-pura tuli untuk kali ini. Aku malas berbicara dengannya. Aku segera mandi dan mengganti pakaianku. Akupun duduk di tepi ranjang. Tidurku tadi tak mampu menghapuskan momen dimana namja itu menyentuh tubuh Suzy.

CKLEK!
Bunyi pintu yang terbuka itu mampu membuatku menoleh ke arahnya. Suzy dengan nampan yang berisi makanan berat. Suzy tepat berdiri di depanku.

“Kau makan siang dulu, tadi pada saat kau tertidur aku memegang dahimu. Kau demam sepertinya.”

“Aku tidak apa-apa. Kau saja yang makan.”

“Aku sudah tadi Myungsoo-ssi.” Dapat ku lihat Suzy meletakkan nampan itu di meja kecil dekat ranjangku.

“Kau tampak aneh hari ini, Myungsoo-ssi.” ujarnya.

“Aku aneh karena aku ingin berubah.” jawabku, sementara ia mendekat ke arahku, duduk di sampingku.

Suzy POV
Aku memutuskan untuk pulang, konsernya masih berlangsung. Namun aku memilih pulang karena aku hanya mengisi bagian opening saja. Namun aku mencari mobil Myungsoo di parkiran,tidak ada. Aku masih ingat jelas ketika ia memarkirkan mobilnya,di tempat ini. Mungkin ia pulang atau menghampiri yeoja yang tadi pagi menelponnya.
Aku telah menyerahkan urusan hari ini pada Jiyeon. Aku memutuskan untuk kembali ke rumah mengambil sebagian bajuku yang tertinggal. Sesampainya di rumah, aku melihat Myungsoo sedang tertidur di sofa, aku melihat wajahnya yang sedikit pucat. Aku menempelkan telapak tanganku di dahinya, dapat ku rasakan suhu yang panas di tubuh Myungsoo. Aku mandi dan berganti pakaian, lalu memasak makanan untuk Myungsoo.
Ku lihat ia terbangun, aku memanggilnya. Namun tak ada respon darinya, ia berjalan lurus ke arah kamar. Aku melihat aura aneh di dirinya. Aku memutuskan untuk menghampirinya.

“Aku aneh karena aku ingin berubah.” ujarnya, aku duduk di sampingnya, melihatnya menundukkan wajah. Wajah yang penuh rahasia, yang akan menjawab keherananku hari ini padanya.

“Kau ingin berubah? Apa maksudmu?” tanyaku padanya.

“Aku tau pernikahan ini hanyalah sebuah pernikahan konyol yang menyatukan watak berbeda. Antara aku dan dirimu.” aku menatapnya penuh keheranan. Dapat kulihat bibirnya bergetar ingin mengucapkan sesuatu, aku memilih diam, memberi kebebasan berbicara untuknya.

“Aku tak ingin menjahilimu lagi, aku ingin menjadi suami yang baik untukmu! Aku tau kita di nikahkan dengan sebuah misi yang harus di selesaikan, jika kita bersikap kekanak-kanakan misi itu tidak dapat selesai. Kau tau? Ini untuk menyelamatkan masa depan keluargamu dan keluargaku!”
Aku tersentak seketika mendengar perkataan Myungsoo. Aku mengingatnya kembali, tak peduli dengan yang ia ucapkan di akhir. Otakku kini sibuk menganalisis data dari mulut seorang Myungsoo. Ingin menjadi suami yang baik.
“Aku tak suka melihatmu dengan namja yang kau katakan dia sunbae-mu, aku tak suka ketika ia menciummu, ia mengambil hak-ku!”
Aku menunduk, tak terasa bulir-bulir air mata ini jatuh, entah karena apa. Ia membicarakan Hak.

“Bukankah aku suamimu? Bukankah aku yang berhak memiliki apapun yang kau punya? Bukankah aku yang seharusnya berhasil memegang tubuhmu? Bukan dia yang tadi bersamamu di panggung? Aku marah melihatnya, Bae Suzy!” ujarnya, aku kini menangkap maksudnya, ia cemburu padaku, cemburu pada kakak beradik yang berada di hidupku. Aku masih menunduk, ia menatap ke arahku. Mungkin membiarkanku berbicara.
“Kau tau Myungsoo-ssi, aku lebih suka melihatmu berciuman dengan yeoja itu di hadapanku. Daripada aku harus mendengar dari yeoja tersebut. Kau masih ingat tentunya kan? Ketika aku berciuman, ani.. lebih tepatnya aku dicium oleh Min Ho Oppa? Kau begitu sinis malam itu kepadaku, tapi tanpa aku tahu kau juga melakukan hal yang sama dengan sekretarismu.”
“Aku juga memikirkan hal yang sama denganmu Myungsoo-ssi, aku juga tak ingin seperti kanak-kanak kali ini, aku ingin menyelamatkan apa yang telah Eomma dan Appa amanatkan kepada kita. Aku menjadi mengerti mengapa kau berubah tadi pagi. Mianhae, atas sikapku yang seperti anak-anak.”
Myungsoo hanya terdiam, kini tangannya meraih tanganku yang bergetar di atas ranjangnya.
“Min Ho Oppa mungkin berhasil meraih keperawanan bibirku, Junho Oppa juga mungkin berhasil memegang tubuhku tadi. Tapi, mereka tak mampu menggapai hatiku.” ujarku menahan air mata untuk keluar dari persembunyiannya.
“Bagimu, apa yang lebih penting antara tubuh dan hati?” tanyaku pada Myungsoo, Myungsoo tertunduk kembali setelah ia menatapku.
“Maafkan aku. Mianhae, Jeongmal.” jawabnya, aku terdiam beberapa saat.
“Kau melihatnya kan? Bahkan yang aku lakukan tidak lebih dari sekedar berpegangan tangan dengan Min Ho Oppa, tidak lebih dari ciuman yang sama sekali tak aku harapkan, bagaimana denganmu? Yang semuanya tak tampak jelas di mataku?” Ia menunduk lebih dalam, kini matanya terpejam dengan dipaksa,aku dapat melihat jelas bulir air mata yang ia keluarkan dari sudut matanya.
Tak lama kemudian ia menuruni ranjang, masih dengan tubuh yang terlihat sangat lemas, ia berlutut di depanku, meraih kedua tanganku, kini kepalanya tertunduk di kedua pahaku, aku mengusap punggungnya dengan perlahan, tangisnya semakin dalam, diiringi dengan tangisku.
“Maafkan aku Bae Suzy.” ucapnya dengan terbatuk-batuk, aku hanya menganggukan kepalaku. Membimbingnya untuk berdiri. Ia kini berada tepat di hadapanku, mengusap mataku yang basah, sentuhan yang sangat hangat yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, mataku terpejam ketika ia mengusapnya.

“Aku mencintaimu, Bae Suzy.” ujarnya lalu mendekapku ke dalam pelukannya, pelukan dan sentuhan yang begitu hangat, jantungku kembali memacu detaknya dengan cepat, ia memelukku dengan erat,begitupun aku. Tak lama kemudian ia melepasnya,memberi ruang untukku bernafas.
“Apakah kau tidak mencintaiku?” tanyanya padaku, matanya masih setia menatap kedalam mataku. Aku semakin percaya bahwa perkataannya bukan bualan belaka, ia tulus mengatakannya.
“Aku juga mencintaimu, Myungsoo.” ucapku dengan senyuman di akhir kata, ia meraih leherku dengan perlahan, dan ia mengecup keningku sebagai permainan awal, aku hanya bisa meremas ujung dari baju yang ia kenakan dan pada akhirnya ia melanjutkan kegiatannya tadi malam yang sempat ia kacaukan, bibir miliknya berhasil menyentuh bibirku, menyapunya dengan lembut, darahku berdesir,ketenangan mengalir di sekujur jiwaku, di setiap euforia yang ia berikan padaku melalui tautannya denganku. Mata kami terpejam, seolah terlena dengan permainan ini. 5 menit kemudian ia melepaskannya, aku menatapnya. Jarinya menyentuh sudut bibirku, mengusapnya. Aku yakin pipiku kini telah berubah warna.
“Ini, masih terbilang siang, Myungsoo-ssi.” ujarku dengan tawa
“Kau rupanya menginginkan permainan yang lebih daripada ini,bukan?” tanyanya padaku. Aku menggeleng pelan.
“Baiklah, kita lanjutkan saja nanti malam.” ujarnya. Aku hanya tersenyum, menggeleng kembali dengan kepalaku. Ia mengusap puncak kepalaku.
“Aku belum siap untuk hamil, Myungsoo-ssi.”
“Aku mengerti. Aku tak akan melakukannya padamu Suzy-ah.” terangnya.

Author POV
Pagi menjelang Suzy dan Myungsoo masih terlena dalam ketenangan jiwa yang telah berhasil di ungkapkan, Suzy dan Myungsoo saling berpelukan satu sama lain. Dengan senyuman yang mengulas di masing-masing bibir mereka. Suzy membuka matanya,tangannya membuka kuncian lengan Myungsoo yang melingkar erat di pinggangnya. Suzy terbangun dengan status masih seorang gadis, ia belum menyerahkan semuanya pada sang suami. Suzy segera mempersiapkan baju untuk ia berangkat ke kantor, dan untuk Myungsoo juga. Ia pun menyiapkan sarapan lalu segera mandi. Myungsoo masih dengan posisi tidurnya.

“Myungsoo Oppa, ireona..”
“Wae? Apakah sudah siang? Aku masih ingin tidur.”
“Kau harus ke kantor,Oppa.”
Myungsoo membuka matanya,mengusapnya dengan perlahan. Ia melihat Suzy yang sudah rapi dan cantik tanpa olesan make-up.
“Kau sangat cantik sekali seperti ini.” Suzy memukul pelan tangan Myungsoo lalu tersenyum.
“Mandilah Oppa.” ujar Suzy pada suaminya tersebut, Myungsoo segera beranjak dari tempat tidurnya.
Handphone Suzy berbunyi ketika Suzy menuruni tangga.
From: Jiyeon
To: Suzy
“Suzy-ah, lihatlah video konsermu bersama Junho kemarin di Youtube.”
Aku segera mengambil laptopku, membuka internet dan membuka situs yang dimaksud Jiyeon. Aku begitu terkejut ketika pemandangan aneh ada di dalam video ini.

“Solma..”

Myungsoo POV

Setelah mandi  Aku mengenakan baju yang telah Suzy siapkan. Aku menuruni tangga. Melihat Suzy sedang di hadapan laptopnya, dan terduduk di ruang makan. Dia menatap tajam ke arahku, aku menatapnya heran, lalu menghampirinya.
“Ini kau?” tanyanya padaku.
Aku segera menghampiri Suzy, aku menatap layar laptopnya.Aku melihat bayangan manusia hitam sedang meloncat diatas panggung yang sedang di pause oleh Suzy. Aku terkejut, berpura-pura tak melakukan kesalahan.
“Kau memakai jaket hitam, celana jeans pada saat menonton konserku. Itu kau?” tanyanya padaku. Aku menatap langit-langit ruang makan dengan mata berkedip-kedip. Dan mengangguk.
“Kau tampak seperti iron man, lihatlah tanganmu yang seperti itu.” ujar Suzy sembari menunjuk-nunjuk layar datar laptopnya. Aku menirukan pose iron man dengan tanganku.
“Seperti ini kah?” tanya ku padanya, ia menoleh ke arahku dan tertawa.

Aku dan Suzy segera sarapan, kami berangkat ke kantor dengan mobilku. Aku mengantar Suzy terlebih dahulu.
“Sepulang bekerja akan ku jemput disini. Kau tunggu aku saja ya.” ujarku pada Suzy. Sementara Suzy mengangguk penuh semangat, aku segera memutar balik mobilku lalu menuju kantor. Sesampainya di kantor aku tak melihat Do Yeon, biarlah saja. Itu sebuah keberuntungan pagiku di kantor. Aku masuk kedalam ruanganku, lalu duduk di kursi kerjaku. Tiba-tiba Seung Gi hyung membuka pintu.
“Myung, ini ada berkas dari Kang Cooporation.” ujarnya, aku segera mengambilnya dari tangan Seung Gi hyung. Lalu men-scanning berkas tersebut.
“Hyung, kau tau kan siapa Tuan Kang? Dan apa hubungannya dengan pernikahanku?”
“Aku tahu. Itu sebabnya kau di nikahkan dengannya kan?”
Aku memutar isi kepalaku, tak mau berpikir lama aku langsung menelpon  Suzy.
“Suzy-ah.”
“Ne , Oppa?”
“Apakah ada berkas semacam penawaran dari Kang Cooporation yang sampai di kantormu?” tanyaku pada Suzy.
“Ada, Oppa. Baru saja aku akan menelponmu. Aku sedang memeriksanya dengan Jiyeon.”
“Kita bertemu jam makan siang nanti.”

_TBC_

Hai readers, gimana nih chapter 3? Moment Myungzy nya udah kerasa belum? Mereka udah saling ngungkapin tuh, oh iya, chapter 4 bakalan serius ke permasalahan yang harus mereka selesain, yang baca dari chapter 1 pasti tau. Hehe, tapi moment mereka bakalan lebih banyak, lebih banyak berdua tentunya. Mereka juga harus pergi ke London buat nyelesain misi ini,  ya sambil honeymoon mungkin biar dapet Suzy atau Myungsoo kecil 😀 . Hehe, oh iya menanggapi tanggapan kalian tentang alur yang kecepetan aku emang sengaja ngasih alur cepet biar di setiap chapter marriage lifenya ngena gitu, hehe. Chapter 3 ini aku buat seharian ini loh, aku semangat aja nerusin karena baca komentar kalian, duh kalian tuh emang baik banget yaa, makasih udah buat aku semangat terutama yang do’ain aku semoga uasnya lancar. Makasih ya udah Comment,Like,Read dan Don’t forget to RCL juga 😀 See U in Chapter 4 :*

Advertisements

104 responses to “[Freelance] Business Marriage Chapter 3

  1. Gila! Hampir d kirain orang gila karna senyam senyum sendiri… gila thor… tpi aku blm puas sama kecemburuan myung… kyk kecepatan gitu.. tpi gpplah.. yg penting myungzy bersatu

  2. Yaya aku senang dengan moment myungzy nya 🙂 mereka sangat so sweet tidak seperti biasanya slalu berantem. Kkk.

    Nasib doyeon dan minho? Semoga mereka tidak akan ada niatan untuk menghancurkan hubungan myungzy, jika nanti mereka telah tau status myungzy.

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s