GOEZ: Morn

xianara presents

GOEZ-MORN

miss A Bae Suzy as Suez and INFINITE Kim Myungsoo as Elgo  | Alternate-Universe, Fantasy, Fluff, Drama | vignette | Teen and Up | beside the poster I own nothing.

Elgo lelah berasumsi, terlebih sendirian.

Related to GOEZ and GOEZ: The Journey

JUNE, 2015©

Happy Reading😀

Kicauan burung membangunkan Suez dari tidur.

Hembusan pawana sekonyong-konyong menubruk wajahnya karena jendela yang dibiarkan terbuka. Sang fajar pun menguasai ruang dan waktu, menyemburkan sinar putih bersih ke sekujur dinding kamar. Suez terduduk di tepi kasur. Kepalanya terasa pening. Suez pun menyapukan kedua punggung tangannya ke atas mata, menguap sebentar lalu mengerdip.

Suez masih setengah sadar. Akan tetapi, gadis itu segera mengentakkan tangan di atas lehernya. Meraba-raba apakah lehernya masih utuh. Hembusan karbondioksida bernada kelegaan pun keluar. Gadis rumpi itu berlaku seperti itu karena kesadaran Suez yang masih tersangkut di ambang kenyataan dan mimpi; dirinya yang memakai gaun tidur dan duduk manis di atas ranjang kamar; Elgo yang mencekik lehernya.

Ya, gadis rumpi itu barusan bermimpi dicekik oleh Elgo – mengerikan, memang. Pemuda koleris itu memang terlihat tidak menyukainya sejak awal namun Suez tidak peduli.

Omong-omong, yang berhasil membawa gadis itu dengan selamat dan tiba di Hutan Gerfhi serta terlelap jelita di atas ranjang toh, adalah kerjaan si pemuda kutub itu. Kalau Elgo memang tidak suka padanya kenapa ia mau repot-repot mengantar Suez sampai ke rumah Nenek Shino?

“Sebenarnya Elgo itu pemuda yang baik, “ gumam Suez sembari turun dari kasur dan berjalan menuju birai jendela yang mengekspos pemandangan Hutan Gerfhi di pagi hari. “hanya saja kalau dia tidak bersikap ketus kepadaku tempo hari mungkin dia tidak akan kucoret dari daftar orang-orang yang akan kuajak berteman.”

“Ah, tidak-tidak! Kalau mau berteman jangan pilih-pilih!!!” Suez menggeleng sembari menangkupkan kedua pipi. “Menjadikannya sebagai seorang sobat tidak buruk juga, kok. Ayolah, Suez! Dia pasti akan mau berteman denganmu. Pertemanan adalah mata rantai yang sifatnya kekal!!”

Setelah berkata seperti itu, Suez mengepalkan tangan ke udara sembari menunaikan sebuah senyum sehangat mentari pagi. Suez yakin bahwa Elgo pasti akan mau berteman dengannya. Apapun itu, akan Suez lakukan supaya dia mau. Pokoknya, hari yang baru; teman yang baru!

***

“Selamat pagi, Elgo, “

Elgo menoleh ke asal suara. Wanita paruh baya itu masih terlihat rupawan meskipun kerutan nampak menyelimuti tiap inci dari kulitnya. Membalas ucapan selamat pagi itu, Elgo pun menanggapinya dengan senyuman yang manis.

“apa tidurmu nyenyak semalam?” tanya Nenek Shino sembari meletakkan beberapa lembar panekuk di atas meja saji.

Elgo mengangguk. “Lumayan. Oh ya, apakah ini panekuk madu sejuk?”

Tubuhnya didekatkan kepada meja saji yang akan menjadi titik episentrum untuk sarapan pagi kali ini. Elgo dapat menghirup semerbak madu yang menguar kuat di udara, ditambah dengan aroma makanan sepinggan lainnya. Sepertinya, santapan pagi Elgo kali ini tidak terlalu buruk, mengingat ia dapat melahap menu sarapan favoritnya.

“Tentu saja, madu sejuk yang kupakai ini asli olahan dari para peri di Bukit Orendel, kesukaanmu. Apa aku terlihat seperti nenek-nenek yang suka lupa?”

“Aku tahu, Shino. Kau memang tidak pernah melupakan makanan favoritku yang satu ini.”

Nenek Shino tersenyum simpul lantaran komplemen yang ditujukan oleh Elgo kepadanya. Tangan yang keriput itu pun dengan cekatan menata letak makanan yang akan menjadi santapan pagi mereka. Pagi pertama di Hutan Gerfhi bersama Nenek Shino dan tak ketinggalan, kelinci energizer yang sudah bersamanya selama kurang lebih 48 jam, Suez, pun sepertinya akan menjadi awal yang baru baginya. Mungkin..

“Pasti cucuku merepotkanmu selama di perjalanan.”

Elgo yang sekilas dapat melihat Suez berlakon di dapur, mengalihkan atensi kepada Nenek Shino. Alisnya yang tebal itu pun ditautkan. Air muka yang menggenang di permukaan wajah pria itu pun nampak gamang. Apakah dia baru saja ketahuan sedang mengamati Suez, diam-diam?

“Apa?”

“Cucuku – Suez – pasti banyak merepotkanmu. Aku benar apa benar?”

Elgo mengambil salah satu kursi, mendudukinya. Dia tidak membalas tatapan lembut Nenek Shino akan jawaban yang siap dilontarkan olehnya.

“Dia tidak merepotkanku, omong-omong.” jawab Elgo. “Hanya saja, dia agak ceriwis. Sepanjang perjalanan ia tidak berhenti berceloteh tentang sahabatnya di Desa Mojo-mocho dan dirimu. Lord, aku bahkan sampai hafal klan rusa ekliptika yang disebutnya lebih dari sepuluh kali dalam kurung waktu lima menit.”

Nenek Shino tidak tercengang sama sekali. Ya, namanya juga Suez. Gadis sanguinis itu suka mencari perhatian karena ingin diperhatikan, sikap positif kelewat girangnya memang sering disalahartikan sebagian orang. Termasuk Elgo saja, misalnya.

“Oh Dear, pasti itu berat untukmu. Atas nama Suez, aku minta maaf.” pinta Nenek Shino seraya membungkuk sopan namun hal itu keburu dicegat oleh Elgo. Lewat tatapannya, Elgo seolah berkata ‘tidak apa-apa’.

“Bukan masalah, kok. Jadi kau tidak perlu berlebihan seperti ini, Shino.” ujar Elgo kalem. “Kau sudah kuanggap seperti nenekku sendiri jadi jangan melakukan hal seperti itu lagi, mengerti?”

Elgo pun menegaskan kembali. Meskipun terdengar otoriter, namun Nenek Shino merasakan hal yang berkebalikan.

“Tapi – “

“Sarapan sudah siap semua!!”

Nenek Shino pun tak kunjung melanjutnya perkataan yang putus di awal tadi. Pun demikian dengan Elgo yang memilih diam sejuta bahasa, menghindari tatapan Suez yang sedari tadi mengetuk manik kelamnya.

Suez yang saat itu mengenakan setelan gaun sebawah lutut berwarna merah marun dengan aksen pita di pinggang berwarna putih itu nampak antusias memindahkan sajian ke atas meja kayu beralaskan kain bermotif kotak-kotak itu. Nenek Shino tidak tinggal diam.  Dia pun menyambut cucu kesayangannya itu dengan sebuah senyuman.

“Nenek, Elgo, ayo makan sekarang!”

Suez memindahkan selembar panekuk madu sejuk ke atas pinggan ceper Elgo. Dituangkannya juga setengah cawan madu sejuk ke atas panekuk dengan telaten. Elgo melihatnya dalam diam, tidak tahu mesti bereaksi apa.

“Nenek bilang kalau kau suka dengan panekuk ini, jadi silakan dinikmati! Jangan sungkan-sungkan, anggaplah ini di rumah sendiri!”

Seperti biasa, kepribadian positif Suez yang tiap detik makin menukik ke atas itu membuat Elgo merasa jengah. Pria itu pun mengunggah sebuah tatapan memohon dan meminta tolong kepada Nenek Shino yang sibuk menata salad bunga krisan di atas mangkuk beningnya. Saat mereka bersobok pandang pun, Nenek Shino hanya membalasnya dengan anggukan. Ayolah, apa itu maskudnya?

“Makan yang banyak, ya.”

Elgo mengangguk impulsif. Dia pun menggerakkan garpu ke atas panekuk itu dengan kaku. Menyuapi mulutnya dengan kue yang dibuat dari adonan tepung tergu, butter, serta telur dan madu sejuk Bukit Orendel.

“Anggaplah ini sebagai ucapan terima kasihku karena kau sudah mengantarku dengan selamat sampai ke sini. Dan, satu lagi, “ Suez pun menambahkan guyuran kokoa cair di atas panekuk yang lain lalu menyodorkannya kepada Elgo. “karena kamu adalah teman nenekku, kamu berhak mendapatkan bonus sarapan di pagi ini.”

Suez juga mengimbuhkan cengiran sedepa lalu mulai fokus kepada santapannya sendiri; ham dan telur yang direbus dengan siraman kuah saus tomat.

“Elgo, kenapa diam saja dari tadi?

Suez menatap pria itu yang sibuk menandaskan sarapan, lantas menyurukkan garpunya ke atas telur dan ham panggan. Elgo yang sedari tadi menatap genangan madu dan kokoa di atas panekuknya pun balas melihat Suez, lantas menggeleng.

Suez tidak puas dengan reaksi Elgo. Dia pun meminta jawaban yang lain kepada neneknya.

“Dia kenapa sih, Nek? Apa dia sedang seriawan?”

“Ssst, “ Nenek Shino meletakkan telunjuk di atas bibir sendiri. “kalau sedang makan dilarang berbicara, nanti bisa tersedak.”

“Tapi aku ‘kan penasaran.”

Suez memberengut. Nenek Shino tersenyum lalu kembali fokus pada salad rempah di wadahnya. Suez memandang ham dan telur yang tinggal setengah itu tidak berselera. Sontak, dia pun mendorong pinggan sarapannya. Secangkir susu pun segera diminum sampai habis olehnya. Sisa-sisa susu yang menempel di sekitar bibir pun disapu oleh punggung tangannya. Suez menatap kedua orang yang asyik dengan sarapannya itu dengan tatapan yang nanar.

Ayolah, Suez tidak suka keheningan. Dia lebih suka mendengar celoteh dan kekehan yang nyaring, terlebih di tengah acara sarapan seperti ini. Dahulu, waktu dia masih tinggal di Desa Mojo-mocho, setiap sarapan dia dan teman-temannya selalu memulai hari dengan sarapan yang berlimpah makanan lezat serta saling bertukar canda, tawa, serta obrolan yang menyenangkan.

Akan tetapi, Suez tidak biasa dengan sarapan yang hening dan khidmat seperti ini. Di mana hanya terdengar dentingan garpu atau pisau yang menyinggung permukaan piring dan decapan lezat. Suez memang tidak bisa menyalahkan siapa-siapa di sini.

Elgo? Ah, gadis hiperaktif itu tidak tahu harus berkomentar apa kepada pemuda kutub itu. Nenek Shino? Nenek kesayangannya itu memang seseorang yang berkepribadian hangat dan lembut gtetapi beliau berbeda dengan Suez yang ceria, aktif, dan berani. Suez merupakan klona dari Kakek Shino. Kakeknya itu ialah kapten kapal laut yang gemar berpergian ke berbagai tempat. Kakek Shino memiliki kepribadian yang tidak jauh berbeda dengan Suez, sama-sama supel, berani, aktif, dan selalu berpikir positif.

Elgo menyadari perubahan air muka pada gadis itu.

Timbul perasaan menohok dalam hatinya ketika dirinya tidak menemukan singgungan linear di atas bibir gadis itu. Perasaan tidak nyaman itu terus menggunduli tiap jengkal permukaan hatinya.

Simpati. Tiba-tiba dan entah mengapa seorang Elgo merasa simpati atas Suez yang melipat senyum itu di dalam bibir. Elgo hampir saja ingin memukul kepalanya dengan garpu ketika menyadari suara di dalam hatinya berkata kalau ia mulai simpati kepada kelinci energizer itu. Elgo menggeleng, berusaha mengusir kegalauan yang tidak keren itu dari dalam dirinya.

Yeah, meski Elgo enggan untuk mengakui bahwa selama ia bersama dengan Suez, dirinya mulai terbiasa dengan celotehan riang non-stop gadis itu yang mampir di telinganya. Gelak tawa gadis itu sudah seperti gemericik air yang menuruni dedaunan di setiap pagi bagi Elgo. Hembusan napas ketika dirinya terlalu bersemangat dalam bercerita macam desau angin yang membawa salju. Tutur katanya pun seperti nyanyian para peri yang menina-bobokan pemuda kutub itu.

Lalu apakah hal-hal di atas akan menjurus kepada sebuah tujuan? Tidak pasti. Elgo lelah berasumsi, terlebih sendirian. Dia juga tidak mau membiarkan asumsi bodoh menguasai kepalanya atas hal-hal ritmis yang kerap terjadi pada dirinya ketika Suez berada di dekatnya. Bagi Elgo, sekelumit intuisi itu hanyalah nonsense belaka, tak ada artinya sama sekali.

Meskipun begitu, hampa yang diam-diam menelusup itu lama-lama makin tebal dan menyesakkan. Tentu, hanya Elgo yang merasakan itu karena hanya dia yang tahu satu hal di sini.

“Aku selesai. Terima kasih atas sarapan yang lezat ini.”[]


a/n:

haiiiiii, apakah ada yang inget kisah tentang Elgo dan Suez ini? ngga ada, ya…haha😀

yah, setelah saya pikir dan baca ulang dua kisah GOEZ sebelumnya, saya pribadi juga ngerasa ada yang kurang pada cerita itu, yah, apa itu yang kurang? Yah, pokoknya itu.haha. masih banyak banget hal misterius yang masih belum terurai kan? Semisal, kok bisa-bisanya si Elgo tahu umurnya Suez dan kenal sama Nenek Shino.huhuhu….yah, terus juga karena ada desakan publik(?) untuk terus membuat sequel hingga pada akhirnya saya luluh juga :’) dan muncullah si GOEZ: The Journey haha… dan yang lebih ngga nyangka lagi, kisah ini udah sampai ke tahap trilogy yang ditandai dengan munculnya; GOEZ: Morn!!!! Haaaaaaaa!

Sebetulnya saya ingin menamatkan series GOEZ ini sebagai kisah trilogy aja. Tapi karena length-nya yang melebihi kuota, akhirnya saya putuskan untuk membagi GOEZ: Morn ini jadi dua bagian. Satu bagian terpisah dari GOEZ: Morn ini pun akan jadi the last final gitu deh.

Ngga lupa, thanks berat buat teman-teman kesayangan yang udah nyempetin ngikutin kisah GOEZ sampai ke tahap ini😉 dukungan kalian – apalagi desakan sequel, hehe – berarti banyak bgt buat saya. teruntuk, Ardani-ku atas support-nya mengenai rekomendasi dongeng-dongeng fantasy Disney yang sering muncul di kolom komentar saat ngerusuh bareng, H4H4H4, xie xie ni😀

Oh, ya, terakhir, yuk main tebak-tebakan, kira-kira sub-title untuk series terakhir nanti apa. Nih, saya kasih clue-nya deh,

GOEZ: _ _ E _ _ _ _ _

Selamat menebak, kawan-kawan!!!😀

42 responses to “GOEZ: Morn

  1. Ahh senenya elgo simpati ke suez yee, kek ada yg beda ya knapa kok suez diam dan itu yg bikin elgo simpati…ahhh seneng

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s