END (3/?)

end-mybabysuzy-copy

END

KIM MYUNGSOO | BAE SUZY

KANG SORA

HURT | SAD | MARRIED LIFE

Story line by mybabysuzy or RSA
Poster by rosaliaocha@ochadreamstories

*****************************************************************************************************************************

Oppa!”

Myungsoo yang sedang duduk disebuah bangku taman sebuah restoran, menoleh ke arah sosok wanita yang sedang berjalan kearahnya. Sebuah decakan halus yang diiringi sebuah tatapan tajam Myungsoo layangkan kepada sosok wanita yang kini telah duduk disampingnya.

“Oppa, apa yang kau lakukan disini? Semua orang menunggu-mu di dalam.”

Seakan tidak menyadari tatapan yang diberikan oleh Myungsoo, wanita itu berbicara dengan santainya membuat pria bernama Myungsoo itu berdecak tak percaya. Hei, wanita ini kurang peka atau bodoh? Geez.

“Kau tak mengerti?”Ujar Myungsoo datar.

Sooji –gadis itu- menggelengkan kepalanya dengan wajah polos. Pasalnya Sooji memang tak menyadari dan tak mengerti apapaun saat itu. Sooji adalah seorang gadis polos yang tidak memiliki banyak teman. Gadis ini sangat sulit bergaul.

“Mwonde? Mengerti apa?”

Kalimat Sooji sontak membuat Myungsoo tertawa hambar. Ah, sepertinya Myungsoo mengetahuinya sekarang. Gadis disampingnya ini sepertinya tak hanya bodoh, namun kelewat polos. Lalu, mengapa orang tuanya bisa menjodohkan dengan seorang bocah sepertinya? Astaga.

“Bagaimana bisa mereka menjodohkanku dengan-mu? Gadis polos yang bodoh sepertimu? Geez.” Gumam Myungsoo sinis, dengan pelan.

“Ne?” Ujar Sooji, karena tak mendengar perkataan Myungsoo dengan jelas. “Apa yang kau bicarakan, oppa?” Tambahnya seraya mengeryit, mengaitkan kedua alisnya menjadi satu.

“Sepertinya kita tak cukup dekat, Sooji-ssi. Mengapa kau sangat mudah memanggilku dengan sebutan ‘oppa’, eoh?”

“Ne? Kau tidak..”

Belum selesai Sooji berbicara dan mengutarakan pemikirannya. Myungsoo dengan santai dan tak berdosanya memotong perkataan Sooji. Toh pria ini tidak peduli, lagipula Myungsoo yakin Sooji lebih muda darinya.

“Kita bahkan tidak saling mengenal satu sama lain. Kau bukanlah temanku atau kekasihku, atau bahkan tetanggaku. Aniya, kita bahkan baru bertemu pertama kali. Bagaimana bisa kau berbicara sesuka hatimu?”

Sooji mengerjapkan kedua matanya berkali- kali. Otaknya sedari tadi memutar untuk mencerna kata demi kata yang Myungsoo ucapkan kepadanya. Tetapi, mengapa otaknya yang encer itu kini tidak bisa ia gunakan sama sekali?

“Hoksi, kau tidak mengingatku, oppa?”

Gelak tawa yang Myungsoo ciptakan menyapa heningnya malam yang semakin membisu itu. Sooji yang tak mengerti hanya mengeryit sembari menunggu perkataan yang akan Myungsoo keluarkan saat itu.

“Listen clearly, okey? Mengingat-mu? Sooji-ssi, kita baru bertemu pertama kali. Bagiamana bisa aku mengingatmu? Aku memiliki ingatan yang tajam, dan kurasa aku tidak pernah BERTEMU dengan-mu. Saya permisi.”

Sooji terdiam sejenak dengan kedua matanya yang mengerjap indah. Kesadarannya baru terkumpul begitu sosok Myungsoo melengos dari hadapannya dan berjalan entah kemana. Seulas senyum manis terulas dibibir Sooji, membuat gadis polos cantik itu terlihat seperti dewi rembulan.

Meski Myungsoo tak mengingatnya, ia bisa memahaminya. Jujur saja, setiap kali Sooji berkaca dan menatap dirinya. Sooji tak menyangka dirinya akan menjadi secantik ini dan memiliki tubuh yang sangat ideal seperti ini. Dahulu, tubuh Sooji begitu bulat dengan pipi yang terlihat begitu gembul. Jadi, wajar saja Myungsoo tak mengenalinya.

“Aku akan membuatmu mengingatku, Myungie oppa.”

*******

“Eo, Myungsoo-ya! Wasseo?”

Seorang wanita setengah baya berjalan mendekati sosok Myungsoo bersama sang ayah, hendak memeluk sosok putra semata wayangnya itu. Namun, dengan mudahnya Myungsoo menghindari sosok ibunya yang hendak memeluknya kemudian mendengus kesal.

“CIh, eomma fikir aku akan menyetujui perjodohan konyol itu?”

“Lalu, kau akan menolak? Begitu?”

“Geurom. Bagiamana bisa kalian berniat menikahkan-ku dengan gadis semcam dia? Eomma, appa sadarlah! Dia masih bertingkah kekanakan dimasa dewasanya itu! Bagaimana bisa dia dicalonkan sebagai calon ibu dari anakku nannti, hah?!”

Ny. Kim dan Tn. Kim mengulum senyum sinis mereka. Mereka jelas mengetahui bagaimana sifat Sooji yang miliki. Meski Sooji adalah seorang model, namun Sooji bertingkah layaknya anak kecil. Tetapi, apa peduli mereka? Yang mereka butuhkan adalah kerjasama bisnis guna memperlancar perusahaan yang mereka bangun.

“Lalu, kau fikir Soojung-mu itu bisa, huh? Ayolah, Myung! Sooji adalah gadis terbaik untukmu. Sebut saja dia berasal dari keluarga mapan yang menjadi keluarga terkaya di Korea. Dan kau tahu? Perusahaan yang kami bangun dan sedang kau jalankan akan berhasil dengan sukses jika kau menikahinya! Pernikahan tidak butuh cinta, arra?!”

Myungsoo menggeram seraya kedua tangannya yang mengepal kuat mendengar penuturan dari ayahnya itu. Kedua orang tuanya ini memang penggila bisnis dan uang, tapi jangan samakan terhadap Myungsoo. Myungsoo jelas bukan tipe penggil seperti kedua orang tuanya.

“Eomma, Soojung tentu bisa menjadi calon ibu dari anak-ku nanti. Aku yakin! Dia memiliki sikap yang dewasa berbeda dengan Sooji yang kekanakan! Dan sekali lagi kuingatkan jangan terlalu gila terhadap uang, jika kau tidak ingin mati karena uang!”

“Cih, kau tidak mempan mengancamku dengan ucapan murahan seperti itu, adeul-ah! Ahya, jaga ucapanmu tentang Sooji. Eomma yakin Sooji akan berubah seiring rumah tangga kalian berjalan. Dan jangan lupakan karir wanita tercinta-mu itu!”

Myungsoo yang hendak membalas lantas menghentikan niatannya. Pria itu lupa akan fakta bahwa Soojung adalah salah satu model dari agensi yang dikelola oleh ibunya. Myungsoo jelas tahu Soojung selalu bercita- cita menjadi model dan dibina oleh agensi terbesar di Korea. Agensi milik ibunya.

“Kau tidak bisa mengeluarkannya begitu saja! Aku berhak menentukan juga!”

“Geurae? Kau bahkan tak memiliki saham diperusahaan itu, sayang.”

“Eomma!”

“Jangan banyak bicara! Tentukan pilihanmu sekarang juga!” Tegas Tuan Kim.

Myungsii kembali terdiam. Memutar otaknya mencari sebuah jalan dari permasalahnya itu. Myungsoo jelas tidak ingin membuat impian Soojung sirna begitu saja setelah Soojung berusaha sekeras mungkin. Tetapi, Myungsoo jelas tidak bisa menyakiti hati Soojung dan memberi luka kepadanya. Lalu, apa yang akan ia pilih?

“Geurae, aku akan menerimanya. Tetapi, dengan satu syarat.”

“Mwo?”

“Rahasiakan pernikahan ini dari public.”

“Baiklah. Aku akan membicarakanya kepada pihak keluarga Bae.”

*******

Myungsoo melangkah keluar dari kamarnya lengkap dengan setelan jas hitam, yang membuatnya terlihat begitu tampan di pagi hari. Pria itu mengeryit heran saat dirasanya ada sesuatu yang janggal. Tetapi, pria itu tidak tahu dengan jelas perasaan janggal yang tengah ia rasakan.

Kaki kekarnya melangkah menuju ruang makan yang bersebelahan dengan dapur mewah miliknya. Sepertinya pria itu kini mengetahui perasaan janggal apa yang sedang menghantuinya itu.

Biasanya setiap Myungsoo telah rapi dengan pakaian kantornya, akan ada sosok Sooji yang sibuk menyiapkan makanan dan kemudian menyapanya dengan hangat. Meski dirinya tak pernah menyentuh makanan yang dibuat oleh Sooji sedikit pun, istrinya itu tak pernah menyerah untuk mencoba menjadi istri yang baik. Tapi, sayangnya Myungsoo tak peduli dan takkan pernah sadar.

“Ck, kemana yeoja itu?”

Jangan salah sangka. Myungsoo bukanlah sedang mengkhawatirkan Sooji atau hal semacamnya. Menurutnya, Sooji berutang kepadanya. Well, semalam akibat dirinya terlalu mabuk, pria itu tak sempat menyiksa Sooji akibat ulahnya. Maka dari itu, pagi ini Myungsoo berniat untuk memberi sedikit penyiksaan batin.

“Kurasa dia menghidariku, astaga. Merepotkan sekali dia.”

Tanpa menunggu lebih lama, Myungsoo segera melangkah pergi keluar dari rumah besarnya itu. Tanpa mempedulikan hidangan sarapan yang dibuat istrinya yang menghilang itu. Toh selama ini pria itu tak pernah menyentuh makanan yang dibuat oleh Sooji.

******

Sooji tersenyum menatap sosok wanita tua yang selalu menemaninya dua tahun belakangan ini. Ketika Sooji memiliki waktu senggang, Sooji selalu berada dirumah Han halmeoni. Hanya sekedar untuk berceloteh ria, atau menanam bibit tanaman, atau membersihkan rumah dan membuat beberapa cemilan.

Sejak pernikahannya dua tahun lalu, Sooji dilarang untuk melanjutkan karirnya sebagai model dengan alasan dirinya harus menjadi ibu rumah tangga yang baik. Sooji jelas menerimanya dengan senang hati. Sejak dulu, Sooji memang selalu ingin menjadi sosok ibu rumah tangga yang baik ketika menikah nanti.

“Aigoo, kau selalu tersenyum belakangan ini.”

Sooji lantas mengeryit mendengar perkataan nenek Han. Memang apa yang salah dengan dirinya? Sooji sedari dahulu memang terkenal dengan murah senyum dan ramah. Mengapa nenek han berkata demikian?

“Waeyeo? Aku memang murah senyum, bukan? Mengapa Han halmenoni berkata seperti itu?”

Nenek Han lantas menaruh sekopnya dan mendekati Sooji yang sedang beristirahat di teras belakang. Sooji dan nenek Han memang sedang menanam beberapa pohon buah kesukaan mereka.

“Aigoo, bukan itu maksud nenek. Akhir- akhir ini kau terlalu pendiam, biasanya kau selalu mengoceh ini itu kepadaku. Kufikir semenjak kau hamil kau jadi jarang mengoceh dan hanya tersenyum.”

“Ne?”

Sooji tak yakin apa yang ingin dibicarakan oleh Nenek Han. Tetapi, Sooji merasa jika Nenek Han bisa merasakan perubahan sikap dirinya tiga bulan ini. Pasalnya memang tiga bulan ini dirinya sering terkena stress akibat permasalahan yang ia miliki.

“Dwaeseo! Dwaeseo! Ayo tanam lagi, pemalas!”

“Halmeoni!”

******

“Eo, eonnie!”

Sooji mengangkat sebelah tangannya, memberi pertunjuk kepada Sora yang asik mencari keberadaannya. Sooji tersenyum lebar begitu Dora melambaikan tangannya sembari tersenyum kepadanya.

“Maaf aku terlambat, aku memiliki banyak pasien hari ini.”

Sooji menggerakan telapak tangannya kekanan dan ke kiri. “Aniya, aniya. Justru seharusnya aku berterimah kasih karena eonnie telah bersenang hati menerima tawaran makan siang bersamaku.”

“Aigoo, tumben sekali kau ingin makan siang bersamaku. Ada apa, eoh?”

Sooji tersenyum tipis, kedua bola matanya menerawang jauh entah kemana. Sora tentu menyadarinya, wanita itu lantas menggenggam tangan Sooji yang mulai terkepal tanpa ia tahu penyebabnya.

“Aku tak yakin. Tapi, sepertinya nae aegy ingin makan bersama dengan ayahnya. Berhubung ayahnya sedang sibuk, aku hanya bisa mengajakmu untuk menggantikan posisinya. Gwenchanha, eonnie?”

Sora menganggukkan kepalanya cepat, sembari tesenyum. Mencoba menyalurkan kekuatannya untuk menguatkan Sooji yang sedang rapuh itu.

“Gwenchanha, kau bisa memanggilku kapan saja ketika kau membutuhkanku. Hajiman, bukankah kau melewatkan satu hal kemarin?”

Seulas senyum tipis Sooji ulaskan. Sooji jelas tahu apa yang dimaksud oleh Sora. Sooji memang sengaja tak mengatakan hal itu kepada Sora, karena dirinya pun masih penasaran mengapa Sora dengan suka rela ingin berbagi luka kepadanya?

“Aku yakin kau akan menyadarinya, eonnie. Tetapi, bukankah seharusnya kau terlebih dahulu menceritakan alasanku dibalik sikapmu yang sangat baik? Kau bahkan rela berbagi luka denganku.”

Sontak Sora tertawa renyah mendengar. Sora bahkan tak menyangka Sooji akan menyadari dan menanyakan alasannya itu secepat ini. Selama ini, Sora tak tahu jika Sooji memiliki pemikiran yang cerdas.

“Aku akan menceritakanya. Dengarkan baik- baik, oke?”

“Oke.”

Sora menghembuskan nafasnya sebelum mengeluarkan suaranya. Kedua bola matanya mulai bergerak kesana- kesini mencari sebuah celah yang akan membawanya kedalam ruang nostalagianya. Ruang masa lalunya itu.

“Aku memiliki adik seorang wanita, jika dia masih hidup dia akan seumuran dengamu, Sooji. Jiyoung, Kang Jiyoung namanya. Saat itu aku dijodohkan dengan segala macam alasan klise, namun aku menolaknya. Karena menurut pendapatku, sebuah pernikahan harus didasari oleh cinta dari kedua belah pihak.” Ujarnya pelan.

“Maka dari itu, aku memutuskan untuk kabur dari rumah dan melanjutkan perkerjaanku sebagai dokter. Dan bodohnya, setelah itu aku benar- benar memutuskan hubunganku dan tak mengetahui kabar apapun tentang keluargaku. Hingga akhirnya, aku mendapatkan kabar bahwa.. ad.. adikku…”

Sooji yang sedari tadi terdiam lantas menggenggam tangan Sora lembut sembari menepuknya perlahan. Sooji tersenyum hangat, melayangkan senyuman itu kepada sosok Sora yang mulai meitikkan air matanya.

“Jiyoung, adikku yang malang telah meninggal. Pria brengsek itu melakukan kekerasan dalam rumah tangga terhadap adikku. Sooji-ya, aku kakak yang buruk, geutchi? Akulah yang membawa adikku kedalam dan terpuruk dilubang luka, Sooji-ya. Ak.. aku kakak yang buruk sooji-ya.”

“Aniya, kau tidak salah, eonnie. Takdir telah menentukannya, langit telah berkehendak. Tidak ada salah satupun yang patut disalahkan.” Ujarnya lembut. “Kini, aku menyadarinya mengapa kau begitu baik kepadaku. Kau ingin menebus suatu hal yang membuatmu menyalahkan diri dengan manjagaku, matchi? Gomawoyeo, eonnie.”

Sora mengangguk seraya menyeka air matanya. Hei, bukan saatnya mereka bersedih- sedih seperti ini. Sudah seharusnya Sora menghibur Sooji yang tengah terluka ini.

“Matta, kau harus menceritakannya kepadaku juga!”

“Pasti, sebelum itu kita pesan makanan dahulu. Bayiku sudah kelaparan sejak tadi, haha.”

*******

Myungsoo berjalan keluar dari mobil miliknya, pria itu segera melangkah masuk kedalam istana miliknya itu. Sebuah kerutan halus terlihat di dahi Myungsoo begitu melangkah masuk kedalam rumahnya, hanya kegelapan yang bisa ia lihat.

“Mwoya? Geu yeoja belum kembali?”

Sudah pernah dikatakan sebelumnya, bukan? Sepasang makhluk adam itu tidak menyukai kegelapan. Maka dari itu setiap siapa yang berada didalam rumah, maka wajib untuk menyalahkan lampu terlebih pada malam hari.

“Ckckck, seppertinya ia sudah mulai berani bertingkah.”

Myungsoo segera melangkah memasuki rumahnya dan berjalan ke kamarnya. Pria itu tertawa begitu dirinya benar- benar melihat keadaan kamarnya yang kosong. Bahkan rumahnya terasa begitu sunyi seperti tak ada kehidupan.

Dengan kesal pria itu berbalik dan melangkah keluar dari kamarnya dan melangkah menuju dapur rumahnya. Niatan untuk menghilangkan dahaganya kandas begitu saja, ketika Myungsoo menemukan sebuah note yang tertempel di kulkas berwarna silver itu. Dengan cepat, Myungsoo merampasnya.

‘Myungsoo-ssi, mungkin hari ini aku akan pulang lebih malam. Mungkin terdengar konyol, tetapi aku takut kau akan menungguiku. Ada beberapa hal yang harus kuurus dan bersifat mendesak. Mohon pengertiannya.’

“Mwo? Menungguinya? Geu yeoja? Aish, yang benar saja. Sepertinya wanita gila itu memerlukan beberapa pelajaran agar menghilangkan tingkat kenarsisannya itu. Dan apa katanya? Ada beberapa hal yang harus kuurus? Aish, apa yang ingin dia urus? Dia bahkan tak memiliki perkerjaan atau teman. Aku yakin dia hanya alasan untuk menghindariku, aish.”

*******

“Myung!”

Myungsoo yang sedang berfikir lantas mendengus mendengar seruan dari bawahannya itu. Bawahan sekaligus sahabat karibnya, lebih tepatnya. Myungsoo menoleh sembari menaikkan sebelah alisnya seakan berkata ‘apa’.

“Kau terlihat kesal. Wae geurae?”

Myungsoo tersenyum kecil kemudian menggeleng. Pria itu memang dilanda kekesalan saat ini. Sudah lebih dari seminggu wanita itu tak menampakkan batang hidungnya. Tapi, anehnya setiap pagi ia selalu mendapatkan hidangan sarapan pagi dan malam meski ia tak pernah memakannya.

“Aniya, dwaesseo.”

“Geotjimal. Aku ini sahabat terbaik-mu, kau tidak dapat membohongiku, baboya. Malhaebwa, aku akan mencarikan solusi untukmu.”

Myungsoo menggaruk dagunya sembari tertawa kecil. Memang benar adanya, dirinya takkan pernah bisa berbohong kepada pria hitam ini. Pria yang menjadi sahabatnya sejak mereka duduk dibangu SMP.

“Eum.. well, yahh.. sepertinya aku kesepian.” Tawanya.

“Omo, jinjja? Ah, bagaimana jika mala mini kita bermain dengan wanita cantik yang saat kita mabuk itu. Eottae?”

Senyum Myungsoo seketika merekah begitu mendengar usulan dari sahabtanya bernama Jongin itu. Sepertinya ini akan cocok dijadikan sebagai hukuman akibat ulahnya itu. Myungsoo tak peduli jika wanita itu hamil, toh memang sudah seharusnya Sooji mendapatkan semua ini.

“Call, ajak Sehun juga, arrasseo?”

“Sure, sir.”

*******

“Eonnie! Aku akan pulang lebih awal hari ini.”

Sora yang sibuk mengamati hasil ronsen pasiennya menoleh sejeanak kepada Sooji. Seminggu ini memang Sooji membantunya, meski hanya bantuan kecil seperti menenangkan para pasien yang ketakutan atau mengajak anak dari pasien mereka bermain. Tetapi, untuk Sora itu sangat menguntungkan guna mempercepat perkerjaannya.

“Waeyeo? Apa suami-mu menyuruhmu? Kau sudah merelakan kejadian tempo hari?”

Sooji mengulum senyum simpulnya. Alasan Sooji menghindari Myungsoo hanyalah satu. Meski selama ini Sooji selalu disakiti dalam hal fisik maupun batin. Namun, kejadian kemarinlah yang membuatnya sangat tersakiti. Sooji enggan untuk mengalaminya kembali dan memilih untuk menghindar.

“Aniya, kufikir tak sepantasnya aku bersikap seperti ini.”

Sora menganggukkan kepalanya mengerti. Mungkin memang ada benarnya, tak seharusnya Sooji berlari dalam masalah. Bagaimana pun juga Sooji memilih untuk bertahan di sisi suaminya, jadi sudah seharusnya Sooji harus kuat untuk menerima segala luka yang Myungsoo berikan kepadnaya.

“Maja, kau harus kuat, arra?”

“Of course, doc.”

“Ahya, bagaimana kabar orangtuamu?”

“Kudengar mereka akan kembali satu atau bulan lagi. Ada beberapa masalah proyek yang mereka bangun di Jepang bersama kedua orang tua Myungsoo. Aku juga tidak begitu mengeti mengernai proyek itu. Ahya, Let’s dinner, I’m so hungry.”

“Ne, ne, ne. Setelah itu aku akan mengantarkanmu dengan selamat ke istanamu itu.”

“Sudah menjad tugasmu, ibu dokter.”

“Mwo? Yya!”

*******

“Yya! Myung! Kapan dia datang, huh?”

Myungsoo mendelik tajam begitu Sehun memekik kearahnya. Hei, jelas saja dia marah pria itu lebih muda darinya! Tak sepantasnya Sehun berbicara tak sopan kepadanya dan memekik.

“Aish, mana kutahu. Dia hanya bilang akan kemari jam 8.”

“Coba telpon saja! Kau ini lamban sekali!”

“Yya, Oh Sehun! Beraninya kau berbicara seperti itu, eoh?”

“Apa aku salah?”

“Yya!”

“Hei, hei! Sudahlah! Malam ini kita akan melepaskan penat kita, bukannya bertengkar seperti ini. Lagipula, bukankah lebih baik jika kita melakukannya lebih larut?”

Myungsoo dan Sehun menganggukkan kepalanya setuju. Keduanya lantas membungkam mulut mereka rapat- rapat dan lebih memilih menegak sekaleng bir yang berada dimeja itu.

“Tapi, kalian tak lupa rencana yang kubuat, bukan? Jika kalian muncul sekarang, pasti ia akan sangat kaget.” Sahut Myungsoo.

“Aish, tentu aku akan mengingatnya.”

*********

Sora yang asik menyetir setelah mengantar Sooji kembali dengan selamat melirik sejenak bangku kemudinya. Wanita itu menepuk dahinya begitu menyadari dompet Sooji yang tertinggal. Apa ia harus mengantarkannya?

“Aish, apa harus?”

Satu sisi, sebenarnya Sora sudah terlalu lelah untuk memutar balik dan kembali ke rumah Sooji mengingat dirinya sudah hampir sampai ke rumahnya. Namun, disisi lain sepintas pemikiran terlewat diotak Sora. Bagaimana jika Sooji memerlukan uang didompet ini? Meskipun Sooji adalah orang kaya raya, tetapi bukankah Sooji tetap membutuhkan apa isi dari dompet ini?

“Aish, merepotkan saja!”

Dengan cepat Sora memutar balik mobilnya. Melaju menuju rumah Sooji melewati keheningan malam yang menyelimuti jalan raya kota Seoul.

********

Sooji hampir saja memekik karena melihat rumah besarnya itu dalam kondisi gelap. Sesegera mungkin Sooji mengeluarkan ponselnya dari saku roknya dan menyalakan senter untuk menerangi jalannya.

Perlahan, kaki Sooji melangkah mencari saklar lampu yang akan menerangi rumahnya. Namun, langkahnya terhenti begitu mendengar dering ponselnya. Dengan cepat jemari Sooji menari membuka sebuah pesan yang baru saja ia terima.

“ANDWAE!”

Tidak. Sooji bukan hanya memekik akibat membaca pesan yang baru saja ia terima, melainkan ada satu penyebab lagi. Kim Myungsoo, suaminya itu tiba- tiba menarik tangannya dan menggiringnya memasuki kamarnya yang gelap. Tapi, ada hal lain yang Sooji sadari.

Dirinya bukan hanya bersama suaminya itu, tetapi dirinya sedang bersama dua namja asing yang kini sedang berjalan kearahnya. Sooji menggeleng kuat, dirinya berusaha mencari sebuah titik terang untuk kabur dari sekumpulan pria itu.

“Let’s play the game, honey.”

Setapak demi setapak Sooji melangkah mundur guna menjauhi pria- pria itu, namun langkahnya terhenti begitu dirinya menabrak dinding rumahnya. Sooji yang tengah lengah dengan sigap Myungsoo menarik tangannya dan menjatuhkan tubuh Sooji ke atas ranjang.

Susah payah Sooji bangkit, tapi usahanya gagal akibat tenaga Myungsoo yang lebih kuat darinya. Sebuah ringisan tercipta dari bibir ranum milik Sooji begitu Myungsoo mulai mencumbunya dengan kasar. Tangan Myungsoo bahkan kini mulai bermain hendak melepasi pakaiannya.

Sooji menggeleng kuat, seiring cairan bening yang ia miliki tumpah membanjiri kedua pipinya dan membentuk aliran sungai disana. Mungkin Sooji akan rela jika hanya Myungsoo yang melakukannya, tetapi kali ini pria itu membawa kedua temannya untuk ikut dalam permaianan yang Myungsoo buat.

“Hei,Sehun! Giliranmu!”

Sehun dengan sigap berganti posisi dengan Myungsoo dan mulai mencium bibir ranum Sooji. Namun, aksinya terhenti begitu dirasanya wajahnya yang basah akibat menempel diwajah Sooji dan saat dirasanya perut wanita itu sedikit membuncit.

Sehun menatap Sooji dalam kegelapan, dapat Sehun lihat kedua manik mata coklat itu berlapis oleh kaca. Tidak. Tidak mungkin. Spekulasinya pasti salah. Dugaannya pasti salah. Aniya. Itu tidak mungkin.

“Aku istirnya, bisakah kau menghentikan ini?”

*****************

Omo, omo! I’m back, hihi. Gimana? Ancur ya? Aigoo, semoga dapet feelnya yaaaa. Malam ini aku dalam mood baik, jadi ide lagi banyak muncul. Ahya, maaf segala kekuarangan yang terdapat didalam ff ini.
Give me comment dan like

Gomawo:)

46 responses to “END (3/?)

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s