[The London’s Journal] Feeling

THE LONDON’S JOURNAL
tlj-feeling

Bae Suzy of miss A and A Special Guest #2 | Alternate-Universe, little bit Angst, Life, Sad, slight!Sport | vignette | disclaimer beside the poster and story-line, i own nothing!!

June, 2015©

Bahkan pain killer macam Chlor Etil saja tidak cukup mempan untuk menghilangkan barang sejenak rasa itu.

part of THIS

Akhir pekan bukan waktu yang tepat untuk rehat bagi Suzy karena pada saat itu ia justru harus melakoni profesinya sebagai fisioterapis di lapangan hijau saat Arsenal melakukan laga tanding. Maka dari itu, waktu libur sekedar untuk tidur seharian saja hanya bisa didapatkan hanya dua hari sekali dalam seminggu dan itu pun pada hari kerja.

Setahun bekerja sebagai fisioterapis The Gooners tidak serta merta membuat Suzy melupakan rasa itu. Definisi dari rasa itu sendiri pun Suzy tidak tahu. Terlalu lama berkutat dengan pekerjaan yang dituntut agar selalu sedia selama seminggu penuh nyatanya tidak juga menghilangkan efek samping rasa yang selama ini menyiksa kalbu Suzy.

Bahkan pain killer macam Chlor Etil saja tidak cukup mempan untuk menghilangkan barang sejenak rasa itu. Ya, jelas tidak bisa. Sakit yang dirasakan gadis itu tentu jauh seribu kali lebih sakit daripada otot yang sobek.

Namun kali ini kita tidak akan membahas soal pekerjaan dan rasa itu. Mari tinggalkan sejenak cedera dan Chlor Etil di dalam kotak P3K di kolong bench pemain di Emirates Stadium. Sementara untuk sang rasa, entahlah. Sepertinya, Suzy akan tetap bersama rasa itu yang ikut mewaktu.

***

“Maaf aku telat!! Apa kau sudah lama menunggu?”

Seorang gadis bertubuh semampai dengan paras kebarat-baratan, menyadarkan Suzy yang kala itu sedang duduk termenung di atas bangku taman yang terletak di Hyde Park, salah satu taman kota terbesar di London.

Soojung – gadis kebarat-baratan itu pun segera menempati lahan kosong di samping Suzy.

“Kenapa lama sekali?”

“Aku ditahan oleh Mou, ada rapat mendadak seluruh jajaran manajer dan itu tidak penting sama sekali, sungguh.”

Suzy mengangguk seolah mengerti.

Hari ini, Suzy berada di London Timur, lebih tepatnya di salah satu kota yang terkenal akan kehidupan street-funky kota London yakni Chelsea.

Pada tengah pekan kali ini Arsenal akan bertemu dengan Chelsea dalam lanjutan liga primier sehingga dia pun bisa berjumpa dengan Soojung, kompatriot asal Korea, teman kuliah saat mengenyam pendidikan fisioterapi di Reed College, Portland, Oregon, US.

Soojung pun tahu-tahu menyodorkan satu porsi fish chips kepada Suzy yang terbengong seperti sapi Australia di bangku taman. Rencananya, sebelum pertandingan esok petang, Soojung ingin mengajak Suzy berkeliling Chelsea yang tentu ditolak mentah-mentah oleh Suzy karena kesannya dia adalah orang yang buta London, padahal ‘kan memang iya.

“Ayolah, Sue, kau pasti belum pernah ke London Bridge, ‘kan?”

“Sudah pernah. Waktu kita kehujanan saat pertama kali ke sini, kita ‘kan berteduh di bawah sana, yang dekat Tower of London itu, ‘kan.”

“Suzy, itu Tower Bridge bukan London Bridge!”

Suzy kekeuh bahwa ia sudah pernah ke London Bridge sedangkan Soojung tidak demikian.

Sementara, London Bridge dan Tower Bridge memang terlihat sama dan banyak orang mengira kalau Tower Bridge adalah London Bridge, padahal kedua jembatan itu saling berlainan. London Bridge terletak tidak jauh dari Tower Bridge dan sama-sama berada di atas Sungai Thames. Arsitektur London Bridge sendiri terlihat lebih sederhana dibandingkan dengan Tower Bridge.

Mulut Soojung bahkan sampai berbuih saat menjelaskan perbedaan jembatan yang menjadi ikon kota London tersebut kepada Suzy. Akan tetapi, Suzy tetap bersikeras kalau Tower Bridge adalah London Bridge. Benar-benar gadis Korea saklek.

Keduanya pun menikmati satu porsi besar fish chips yang cukup dimakan untuk dua orang dan masih hangat tersebut dalam diam. Sampai akhirnya, Soojung berinisiatif membuka suara, mengajak Suzy untuk keliling London menggunakan The Original Tour London. Berkeliling kota London memakai sarana transportasi Hop On Hop Off yang melayani berbagai rute tempat wisata maupun bersejarah yang punya nama di London dengan menumpangi bus decker baik single maupun double decker berwarna merah terang di jalanan London yang hanya terdiri dari dua lajur namun tidak macet.

Tetapi mendengarnya saja sudah membuat Suzy merasa ogah. Toh, dengar-dengar biaya untuk memakai fasilitas itu terhitung cukup mahal. Lagipula, dia ke sini bukan untuk berekreasi tetapi untuk bekerja.

Dengan senyum tipis di bibir, Suzy pun berkata kepada Soojung.

“Terimakasih atas usahamu tetapi aku baik-baik saja. Kau tak usah cemas.”

“Baik-baik saja bagaimana, eo?” pekik Soojung dengan eskpresi lucu.

Suzy masih tersenyum dan mulai menepuk pelan pundak sahabatnya itu.

“Buktinya aku masih semangat menjalani tugasku sebagai seorang fisioterapis di sini.”

Senyuman itu palsu. Penguatan itu juga palsu. Sebenarnya, topeng apa sih yang berusaha dia pakai? Topeng itu sudah tidak dapat menyembunyikan kepedihan yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh Suzy, sendirian.

Soojung menghela napas. Seolah letih dengan penyangkalan yang selama ini dilakukan oleh sahabatnya itu selama ini.

“Suzy-a, “

“Soojung-a, dengar, daripada kita buang-buang 30 pounds untuk berkeliling London, yang menurutku sangat membosankan itu, kenapa kita tidak jalan dan berkeliling Hyde park saja?”

Ekspresi sang fisioterapis The Blues perlahan mengendur. Tentu saja, Soojung hapal benar kelakuan Suzy yang satu ini. Pengalihan gadis itu dari satu topik utama ke topik lain adalah yang terbaik. Tidak ada yang bisa membantahnya.

Suzy mengunyah potongan kentang terakhirnya lantas segera berdiri.

“Bagaimana?”

Suzy menilik jam digital di lengan kirinya sebelum mengamati Soojung yang sudah ikut berdiri. Dia pun menepuk-nepuk bagian pungungg mantel Soojung yang tidak kotor sama sekali lantas kembali memasang senyum hampa itu, berusaha menguraikan ekspresi cemberut di wajah cantik Soojung, sahabatnya semenjak bangku kuliah.

“Baiklah, aku setuju. Lagipula, kita juga tidak memiliki waktu yang cukup luang.”

Tanda setuju pun terlihat dari langkah Soojung yang cukup lebar dan tergesa, meninggalkan Suzy di belakang sambil terkikik pelan.

Jung Soojung sungguh tidak berubah sama sekali. Dalam sekali waktu ia bisa berubah dari seorang wanita dewasa menjadi anak taman kanak-kanak yang susah dibujuk. Meskipun begitu, Soojung adalah sahabat terbaik yang pernah dimiliki Suzy hingga kini.

Selama lima belas menit pertama, keduanya memilih bersepeda dengan menyewa sepeda Barclays yang bebas sewa selama tiga puluh menit pertama. Atmosfer di Hyde Park cukup hangat meskipun musim semi belum memasuki fase-nya di kota London. Mentari yang mengobral sinar adalah indikasinya. Banyak pengunjung yang sekedar datang untuk merelaksasikan diri dari hiruk pikuk kota dengan berpiknik ataupun berjalan-jalan di salah satu taman kota terbaik London ini.

Selanjutnya, keduanya pun menepi di pinggir danau buatan bernama Serpentine Lake. Setelah memarkirkan sepeda dengan baik, Soojung dan Suzy memilih duduk di atas rumput.

“Kita sudah berteman lama, ‘kan.”

Pernyataan Soojung membuka percakapan. Suzy menoleh kepada Soojung lalu mengangguk. Tangannya pun terjulur, melempar batu ke danau di depannya sehingga menciptakan sebuah riak yang tidak abadi, sementara.

“Iya, sudah lama.”

“Aku tahu kau masih belum move on.”

Suzy tersenyum, “aku sedang tidak mau diceramahi olehmu lagi, Madame Soojung.”

“Aku tidak ingin berceramah!”

“Tapi prolog ‘kita sudah berteman lama, ‘kan’ darimu itu adalah pertanda dirimu yang mau memberikanku khotbah.”

Gadis bersurai panjang itu mendengus. Ternyata sikap superior yang dimilki Soojung tidak mampu menggedor pendirian Suzy yang sekeras baja. Jangankan menggedor, untuk menorehkan setitik dawat saja, susahnya minta ampun. Oh, sungguh Suzy adalah gadis berpendirian yang sangat kokoh dan sekali lagi, saklek.

Suzy tentu tahu apa yang mau coba dikatakan oleh Soojung kepadanya. Dan kali ini ia tidak mau mendengarkan hal itu lagi keluar dari Soojung. Ia sudah bosan mendengarnya.

Kenapa sulit sekali sih memaafkan? Tuhan saja mau memaafkan hamba-Nya yang berbuat salah. Berhenti bersikap seolah tidak peduli seperti ini, Sue.

Memaafkan tidaklah begitu sulit. Masalahnya adalah melupakan kesalahan orang tersebut. Hal itu sulit dan mustahil untuk dilakukan. Manusia tidak akan pernah bisa lupa. Terlebih kepada hal-hal yang buruk. Dan, hal-hal teramat buruk itu, sialnya, juga menimpa Suzy di masa lalu sehingga menyebabkan dirinya hijrah ke US untuk kuliah hingga membuka lembaran baru dalam hidupnya di London. Hal itu semata-mata dilakukannya demi meninggalkan Korea dan segala hal yang ada di dalamnya.

“Soojung-a, apa kau tahu? Tadi saat sedang di tube (sejenis kereta bawah tanah ala London) aku tertidur dan bermimpi tentang seseorang.”

Kegiatan Soojung menggunting rumput dengan tangan pun terhenti. Dengan secepat kilat, dia pun menipiskan jarak kepada Suzy, lalu mencecar gadis itu dengan pertanyaan.

“Benarkah?! Astaga, kau mimpi apa? Apakah mimpi indah atau buruk? Berapa lama kau tertidur tadi? Apa sebelum tidur kau sudah membaca doa?!! Bae Suzy, cepat ceritakan!!”

Dahi lebar milik Soojung didorong oleh Suzy pelan hingga menipiskan jarak yang tadinya terlalu dekat itu dan mengganggu itu. Suzy tersenyum jahil.

“Satu-satu, Nona Jung. Kau ini fisioterapis atau jurnalis, sih? Cerewet.”

“Oke, baik-baik. Jadi, kau mimpi tentang apa dan siapa?”

Suzy mendesah, “Aku bermimpi tentang masa-masa paling bahagia di dalam hidupku.”

“Lalu, siapa orang yang ada di dalam mimpimu? Aku?”

“Eii, kau terlalu percaya diri. Bukan kau.”

Masa adalah hal yang sangat pelik bagi Suzy. Ada kalanya, ia ingin memberikan seluruh masa yang ia punya di dalam hidupnya agar ditukar dengan sesuatu yang dapat membuatnya meninggalkan dunia ini. Hal tersebut adalah sesuatu yang beralasan. Karena hal itulah, dia bisa sampai bercokol di atas tanah Ratu Elizabeth ini.

“Orang yang sangat tidak mungkin aku pikirkan.”

Soojung melotot.

“Jangan bilang kalau kau bermimpi mengenai – “

Anggukan samar itu adalah jawabannya. Senyum kecut tahu-tahu terpampang di atas bibir Suzy. Seketika, rasa yang sengaja ditidurkan oleh dirinya di dalam lubang terdalam di hatinya terjaga. Macan yang tertidur di dalam goa itu terbangun. Seketika perih menjalar di sekitar ulu hatinya. Hablur matanya melihat permukaan Serpentine Lake yang bersinar, terbias sinar mentari di masa senja.

***

***

 – ibumu.”[]

6/23/2015 12:08 AM


a/n:

pertama-tama, terimakasih atas positive responses dan beribu(ih.lebay.kau.Na.haha) supports yang sudah diberikan kepada project ini, saya pribadi ga menyangka akan seperti ini🙂 terimakasih banyak..

and, tadaaa, the 2nd special guest is Jung Soojung!😀 saya sebenernya kurang setuju kalau soojung dijadiin peran antagonis di setiap ff suzy yang lain, secara mereka kan anggota 94 liners gitu..heee😀

kemudian, pada chapter kali ini, percikan konflik akhirnya muncul… yeah, bagi yang tidak mudeng mengenai konflik yang tiba-tiba ini, kalian bisa  baca TLJ: The Lone Physiotherapist, dari situ kalian bisa menemukan mengenai ‘rasa’ yang sempat disinggung sedikit…

8 responses to “[The London’s Journal] Feeling

  1. Owh..
    Aku kira siapa yg brkonflik sma suzy, mlah tak kirain itu mntannya suzy ato gmna.. Trnyta mlah ibunya sndri..
    Mian author nim aku blom bca smua series jurnalnya..
    Abs ini d ushakan bca+ drop comment😀

  2. Suzy kangen korea dan ibunya ya..tapi kira2 apa yang bikin suzy menghindar dan pergi jauh dari korea?
    Hemm..series selanjutnya d tunggu..

    • hee, tadinya mau dibuat seperti itu, tapi kan di awal, suzy-nya udah saya buat clueless soal pacar.hehe, sekali2 buat konflik ttg keluarga, gapapa lah. ya.
      aniwei, terimakasih sudah mampir, baca, dan ninggalin komen, thanksooo❤

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s