[Chapter-7] High Society

Untitled-

mainactor

p  r  o  u  d  l  y    p  r  e  s  e  n  t  s

High   Society

a chaptered fanfiction with rating G

starring

| Suzy “Miss A” | L “Infinite’ | Chanyeol “EXO” | Seulgi “Red Velvet”|

| Krystal f(x) | Lay “EXO” | Irene “Red Velvet” | Suga “BTS” |

~~~ day by day, the feeling get stronger ~~~

.

‘I think I have fallen for her. Dia seperti memiliki charm yang membuatku terpesona setiap harinya. Man can you believe it?!’

Myungsoo menghela napas untuk yang kesekian kalinya saat suara bahagia Yoongi terngiang di kepalanya. Ia menjambak rambutnya frustasi lalu menekan asal tombol yang ada di papan keyboard, tak peduli team virtual-nya kembali kalah untuk yang ketiga kalinya malam itu.

Setelah berbincang singkat dengan Yoongi sore tadi, Myungsoo merasa pikirannya mendadak blank dan ia merasa sangat frustasi. ‘Bagaimana mungkin kita suka pada gadis yang sama?’ Teriak suara kecil di dalam kepalanya. Suara itulah yang membuat Myungsoo lebih frustasi karena teringat bahwa tak ada cerita yang mengisahkan akhir bahagia untuk dua sahabat yang menyukai orang yang sama. Hal ini yang menyebabkan sudah empat jam lebih Myungsoo berada di game center yang terletak di luar kompleks perumahannya. Saat pikirannya kacau seperti saat ini, Myungsoo memang lebih menyukai berada di game center daripada berdiam di kamarnya.

Tanpa semangat Myungsoo men-scroll up layar di depannya untuk mencari kaus team yang akan dikenakan team virtual-nya itu. Dan saat itu ia tersadar. ‘Bukan alasan mengapa kami menyukai gadis yang sama yang harus dipertanyakan. Tapi kenapa aku bisa menyukai gadis itu meskipun dia bukan tipeku?

Myungsoo tahu betul selera teman-temannya. Chanyeol selalu menyukai tantangan dan yeoja dengan tinggi yang cukup untuk bisa mengimbangi tingginya, berambut panjang, dan memiliki senyum menawan. Chanyeol tidak pernah memasukkan karakter sebelumnya dalam kriterianya, karena ia sendiri cukup mudah bosan dan hanya senang bermain. Namun dengan Soojung, ia menyadari pentingnya karakter dan bagaimana Soojung jauh lebih baik dibandingkan yeoja lain.

Yoongi yang ceria selalu menyukai yeoja yang bisa membuatnya tertawa dan memahami candaan garingnya. Ia juga menyukai yeoja yang tidak memujanya karena ia semacam bosan untuk dipuja mengingat banyak sekali fans-nya di luar sana. Dan Suzy sangat persis dengan kriteria yang disukai Yoongi. Belum lagi fisik Suzy yang memang jauh di atas rata-rata meskipun jarang mengenakan riasan wajah kecuali lip balm dan olesan bedak tipis.

Sementara dirinya?

Sejujurnya Myungsoo tak merasa punya tipe ideal, beda dengan Chanyeol yang sering bergonta-ganti yeojachingu dan Yoongi yang selalu meladeni fans atau yeoja yang mendekatinya. Saat mereka di nightclub ia hanya mencari yeoja dengan tubuh yang sesuai keinginannya untuk menemaninya minum atau dance dan sedikit make out.

So why is actually he fell in love with Bae Suzy? Dia hanya gadis yang sering ia jaili, afterall’ Tanya suara di kepalanya.

Myungsoo menghela napas panjang. ‘Because like it or not, you love how she make you comfortable,’ Jawab hatinya tanpa sadar.

***

Goodnight Suez, have a nice dream~’

Suzy mengerutkan keningnya melihat chat dari Yoongi. Beberapa jam yang lalu Yoongi juga mengirimkan pesan yang mengingatkannya untuk makan malam. ‘Something is weird,’ gumam Suzy. Ia membalik posisi tubuhnya menjadi berbaring sambil mengetik balasan.

Tak bisa menahan perasaan herannya ia menekan dial dan menghubungi Soojung. Dan beberapa detik kemudian ia memutuskan sambungan itu dan langsung menekan dial untuk Yixing setelah teringat bahwa beberapa menit yang lalu Soojung mengakhiri chatting mereka karena mengantuk. Terdengar nada sambung cukup lama sebelum suara mengantuk Yixing terdengar di sebrang sana.

“Kalau ini bukan hal yang penting lihat besok kugantung kau di ring basket,” Suara mengantuk Yixing terdengar sangat terganggu dengan telpon Suzy.

“Ketika temanmu tiba-tiba perhatian dan mengucapkan selamat malam berarti dia ada rasa kan denganmu?” Kata Suzy cepat.

Hening sesaat.

“Apa yang kau maksud ini Yoongi?” Seperti biasa, Yixing berhasil menebak siapa dan apa yang ingin dibicarakan Suzy. Suzy sendiri tak heran. Bertahun-tahun berteman dengan Yixing membuat keduanya memiliki ikatan yang cukup kuat. Dan dengan kemampuan observasi dan analisis yang dimiliki Yixing, pria itu selalu berhasil menebak pikirannya.

“Bukankah ini terlalu aneh? Maksudku, kita baru dekat selama sebulan ini. Memang sih kuakui Yoongi tak seburuk pemikiranku, hanya saja rasanya tetap aneh.”

“Tidak ini tidak aneh Suez, kuakui kau memang punya pesona untuk membuat orang nyaman denganmu. Dan kau tahu kan Yoongi jarang bertemu orang seperti dirimu. Sehingga kurasa wajar dia menyukaimu.” Jelas Yixing yang sepertinya sudah sepenuhnya sadar.

Suzy menghela napas panjang, “Aku paham, hanya saja—”

“Hanya saja kau malu karena ada sisi lain dalam hatimu yang juga ingin memberi dia kesempatan, hanya saja kau malu karena ternyata penilaianmu salah.” Potong Yixing cepat membuat Suzy terdiam. ‘Seperti biasa dia membaca hatiku,’ batin Suzy.

Hening beberapa saat sampai akhirnya Suzy menghela napas panjang, “Is that okay?”

Of course. Secara objektif, Yoongi benar-benar bisa menjadi pacar yang baik. Dia juga perhatian. No one even cares about your opinion about them last month Suez. Yang terpenting adalah kau tahu dia baik dan sekarang yang harus kau lakukan adalah mengikuti kata hatimu.”

Suzy tersenyum senang, “Baiklah, kau memang the best kkk~”

“Baiklah aku ingin tidur—“

“Sebentar,” Tahan Suzy sambil mengingat hal yang ingin ia sampaikan. “Kalau tidak salah kau tadi mengobrol dengan Seulgi.”

Geunde?”

Ani, aku hanya ingin bilang aku senang kalau ternyata kita bisa membuat para high society itu menjadi pribadi yang lebih baik. Dan kulihat Seulgi sepertinya memiliki respect padamu. Dan kau harus tahu aku dan Soojung tidak akan marah kalau misalnya kalian berpacaran,”

“Kau ini bicara apasih? Aku tak ada perasaan pada yeoja itu. Kami hanya mengobrol tentang musik.” Sahut Yixing dengan nada datarnya seperti biasa.

Someone can enter your heart if they knock on the right door, Yixing.” Kata Suzy sambil tertawa lalu mengucapkan selamat malam dan memutuskan sambungan.

Suzy lalu menyimpan ponselnya dan merubah posisinya kembali menghadap ke jendela di sisi kiri ranjangnya. ‘Baiklah, mari kita lihat apa yang bisa dia lakukan,’ Batin Suzy sambil memejamkan matanya.

***

So now you are officially fell in love with her?” Seru Joohyun sambil menyesap diet coke miliknya. Di depannya Yoongi duduk sambil tersenyum tersipu-sipu. “Oh you really did,” Seru Joohyun sambil tertawa. “Hah! Siapa yang dulu mengatai gadis itu mirip namja?” Ejek Joohyun sambil mengulum es batu dari gelas minumannya.

“Masa lalu hanya masa lalu,” Jawab Yoongi diplomatis disambut lemparan tisu dari Joohyun. Keduanya sedang berada di salah satu nightclub milik salah seorang dari kalangan mereka. Malam itu mereka hanya berdua karena Myungsoo absen tanpa keterangan, Seulgi sedang menghabiskan waktu bersama ayahnya yang sedang di Korea, dan Chanyeol seperti biasa mengikuti Soojung.

“Bagaimana bisa?” Tanya Joohyun yang sebenarnya tidak perlu jawaban. Ia tahu betul Yoongi akan jatuh hati pada Suzy di hari ketika namja itu merasa bersalah dan memohon maaf dari Suzy. Dengan mengesampingkan ego-nya, diam-diam Joohyun mengakui bahwa Suzy memiliki charm yang luar biasa. ‘We are the Bae. We are different, cause we have something that others don’t

Yoongi menegak minumannya sambil kembali tersenyum seperti idiot, “She has those charms, dan aku pun tidak sadar, tahu-tahu saat melihat dia tertawa aku sadar bahwa aku menyukainya.”

How about your fans and the paparazi. Hampir seluruh yeoja di Myung Won adalah fans-mu kalau kau lupa.”

Well, tentunya kalau Suzy juga menyukai aku kita akan backstreet. Dan kau kan tahu aku di dunia entertainment hanya senang-senang. Saat aku lulus nanti mungkin ayahku akan mengirimku ke Jepang atau ke Boston.” Jawab Yoongi sambil tersenyum getir. Sebagai high society, masa depannya sudah diatur serapi mungkin. Mau tak mau ia harus menyukainya, atau ia akan lebih menderita.

Joohyun teringat sesuatu. Bukan hanya Yoongi yang sepertinya terkena charm Suzy. Dan itu membuatnya sedikit panas. “Bagaimana jika ternyata Suzy menyukai orang lain?”

I’ll fight till the end. Sampai Suzy menyuruhku mundur. It sounds like bullshit. Move on itu susah aku tahu. Hanya meskipun terdengar menyebalkan, kebahagiannya lebih penting kan?” Jawab Yoongi meskipun dalam hati ia tidak yakin bagaimana kalau hal itu sampai kejadian. Belum lagi Suzy sangat antipati kepadanya, meskipun ia merasa Suzy lebih lunak belakangan ini.

Joohyun menghela napas panjang dan tidak memberi komentar apapun. Ia kembali menegak diet coke-nya.

“Kau sendiri bagaimana? Masih menyukai Myungsoo?” Tanya Yoongi sambil mengecek ponselnya yang berkedip-kedip di atas meja.

I don’t know actually. Kau kan tahu dia seperti apa. Lagipula aku tidak mau terlalu dalam menyukai dia. Bisa merusak persahabatan kita dan belum tentu dia menyukaiku. Kau kan tahu sejak dulu dia memperlakukanku dan Seulgi sebagai saudara perempuan yang harus dilindungi.” Jawab Joohyun jujur. Namun firasatnya yang mengatakan sepertinya ia tahu Myungsoo sedang menyukai seorang yeoja membuatnya merasa sedikit cemburu. Dan ego-nya muncul.

***

Chanyeol sedikit gelagapan saat berhadapan dengan Yoongi dan Myungsoo di pintu masuk fitness center Minggu pagi itu. Terlihat senyum di wajah Yoongi yang sebentar lagi berubah menjadi tawa. Sedangkan Myungsoo terlihat biasa saja dengan muka mengantuk yang terlihat jelas. Chanyeol sama sekali tidak tahu akan berpapasan dengan Myungsoo dan Yoongi di tempat biasa Yixing berolahraga kalau Minggu pagi itu.

You look pathetic,” Seru Yoongi dengan nada mengejek persis yang dipakai Chanyeol saat mengatai ia dan Myungsoo. Keduanya berjalan bersisian sementara di belakang Myungsoo berjalan sambil berusaha menghilangkan kantuknya. Ia baru saja tidur dua jam saat Yoongi menerobos masuk kamarnya dan menggeretnya ke tempat ini.

Chanyeol memberikan death glare-nya ke arah Yoongi, “Ini caraku untuk hidup lebih sehat.” Kilah Chanyeol sambil meletakkan tasnya di loker dan mengeluarkan air mineral serta handuk kecil lalu berjalan keluar.

“Bilang saja Soojung sudah bercerita tentang abs milik Yixing,” Sahut Myungsoo sambil menguap lebar dan berjalan di samping Chanyeol. Yoongi terkekeh sambil mengalungkan tangannya di leher Chanyeol.

Chanyeol mendengus sambil melepaskan lengan Yoongi dari pundaknya dan berjalan lebih dulu menuju deretan treadmil. Terlihat punggung sosok Yixing di salah satu alat lari tersebut. Ia langsung mengambil tempat di kiri Yixing, diikuti Myungsoo dan Yoongi yang mengambil tempat di sisi kanan Yixing.

Good morning, tumben sekali bertemu kalian di sini,” Kata Yixing sambil menambah kecepatan berlarinya. Ia sudah berlari sekitar sepuluh menit dan ini sudah saatnya untuk menambah kecepatan.

“Kami sedang mencoba tempat baru saja,” Kata Chanyeol yang sudah mulai berlari. Terlihat Yoongi terkekeh sambil mengatur kecepatan larinya. Sementara Myungsoo sudah mulai berlari meskipun matanya masih terkadang setengah terpejam.

Yixing tersenyum mendengar jawaban Chanyeol dan mengendikan bahunya, “Yoongi, sore ini kau mau ikut? Kami ada sparring dengan anak Hankook,” Tanya Yixing ke arah Yoongi.

Yoongi mengangguk semangat, “Tapi aku tanya manager-ku dulu ya,”

Myungsoo mendengus pelan, kesadarannya mulai kembali. ‘Ck, biasanya Minggu pagi seperti ini kami baru akan terbangun jam 1 siang entah di hotel mana,’ Batinnya sambil meningkatkan kecepatan. Semua ini karena gadis itu.

Mengingat alasan mengapa ketiganya berada di tempat ini sekarang membuat bahu Myungsoo turun. Terlihat ekspresi dingin di wajahnya. ‘Kenapa juga bisa naksir yeoja yang sama,’ Rutuknya dalam hati.

***

Suzy mengelap peluh di dahinya dengan punggung tangan sambil mengatur napasnya yang tak beraturan. Ia baru saja selesai memandikan seekor bulldog berwarna putih kecoklat-coklatan yang nampaknya sangat membenci air. Dan sekarang ia sedang mengeringkan bulldog itu dengan hairdryer khusus yang dimiliki tempat penampungan tempat ia menemani Soojung hari itu. Soojung dengan jiwa sosialnya yang tinggi hari ini memang sengaja minta ditemani oleh Suzy membantu di tempat penampungan hewan milik salah seorang dokter di rumah sakit tempat kakaknya bekerja.

Soojung sendiri sekarang tengah dikelilingi oleh beragam macam anjing di halaman belakang penampungan sambil mengacungkan tinggi-tinggi biskuit anjing yang sengaja ia beli untuk bermain dengan anjing-anjing itu.

Bulldog yang sedang dikerigkan oleh Suzy sekarang juga sudah mulai ribut ingin bergabung dengan teman-temannya memakan biskuit dari Soojung. Suzy terkekeh sambil memangku bulldog itu dan mengeringkan punggungnya yang masih sedikit lembab. “Leo-a, jakaman nde, suruh siapa tadi susah sekali dimandikan, eoh?” Seru Suzy sambil menggaruk punggung Leo—nama bulldog yang sedang diurus Suzy—dengan sayang. Leo terlihat memasang wajah memelas, membuat Suzy tertawa. Ia mengeluarkan bungkusan dari kantong celana jeans-nya dan memasukkan sebuah biskuit ke mulut Leo lalu membiarkannya berlari ke arah Soojung.

“Hhhh,” Suzy berdiri sambil meregangkan otot-otot punggung dan tangannya yang terasa kaku karena sedari tadi berjongkok. Gadis itu berjalan ke arah kursi kayu yang terletak di dekat pohon dan mengistirahatkan dirinya di sana, tempat beberapa pekerja sosial lainnya sedang menyiapkan kudapan dan minuman juga beristirahat.

“Kau pasti lelah sekali setelah memandikan Leo,” Kata Choi Sooyoung, salah satu pekerja sosial yang Suzy tahu adalah seorang mahasiswa kedokteran di Universitas Seoul, sambil menyerahkan sekaleng minuman isotonik.

Suzy terkekeh sambil menerima pemberian Sooyoung. “Ya begitulah, si kaki pendek itu memang bandel,” Sahut Suzy sambil membuka penutup kaleng dan menegak minuman itu.

Setelah beberapa saat dan puas menyebar biskuit-biskuit bawaannya, Soojung akhirnya berlari dan menghempaskan tubuhnya di samping Suzy. Napas gadis itu terdengar tidak beraturan mengingat ia tadi sempat berlari-lari dengan ceria bersama anjing-anjing itu. Suzy tersenyum melihat sahabatnya yang berhati malaikat itu sambil menyerahkan kaleng minuman isotonik seperti yang ia dapat tadi.

“Thanks,” Kata Soojung sambil meminum pemberian Suzy. Tak sampai satu menit ia sudah menghabiskan minuman itu. Melihatnya membuat Suzy tertawa. “Wae?” Tanya Soojung tahu persis apa yang ada di pikiran Suzy.

“Tak akan ada yang mengira kalau cheonsa satu ini jago minum dan memiliki toleransi alkohol yang tinggi—tidak mudah mabuk—“ Jawab Suzy sambil di sela-sela tawanya. Soojung ikut terkekeh sambil menjitak Suzy.

“Semalam kenapa menelpon?” Tanya Soojung. Pagi tadi ia bangun dan sedikit terkejut melihat misscall dari Suzy.

“Yoongi.”

Mendengar nama itu otak Soojung berputar cepat. “Dia suka padamu ya?” Tebak Soojung, di kepalanya terputar memori setiap kali Yoongi berdua dengan Suzy dan bagaimana namja itu selalu melihat ke arah Suzy.

Suzy mengunyah pelan pancake yang dibagikan kepada setiap pekerja sosial sambil memandang ke arah Leo yang kini sedang asyik berlarian bersama seekor poodle. “Dia belum bilang sih. Tapi sudah terlihat.”

“Aku percaya Yixing sudah memberikan nasihat kepadamu, dan yang ingin kukatakan hanyalah ikuti kata hatimu dan jangan pikirkan apa kata orang. Yang paling penting adalah kebahagiaanmu Suez, dan kau tahu kan aku dan Yixing selalu mendukungmu?” Kata Soojung sambil tersenyum. Suzy mengangguk.

“Kau sendiri bagaimana? Chanyeol suda menyatakannya?”

Heol,orang buta mana yang tidak tahu perasaannya?” Jawab Soojung sambil terkekeh. Ia menunduk memandang kakinya, “I think I will give him a chance, tapi tentu saja setelah dia lolos dari percobaan.”

***

Lagu klasik yang dibuat untuk menenangkan pikiran mengalun lembut memenuhi sebuah ruangan yang terletak di ujung koridor. Ruangan itu terlihat hangat dengan nuansa kayu dan cokelat yang memenuhi ruangan. Terlihat huruf B berwarna keemasan di setiap perabotan dan perlengkapan yang ada di ruangan itu. Aroma lavender juga ikut memenuhi ruangan. Terlihat dua tempat khusus di tengah ruangan dengan Seulgi dan Joohyun di atasnya sedang asyik menikmati pijat refleksi.

Is it okay if we are be friend with them?” Tanya Joohyun sambil menolehkan kepalanya menghadap ke Seulgi.

Seulgi membuka matanya yang terpejam sambil tersenyum tipis, “Tak ada salahnya kan? Toh kita juga bukannya musuh. Lagipula ibuku memaksaku berteman dengan Suzy.”

Joohyun terkekeh, “Bukannya karena kau memang ingin dekat dengan Yixing?”

Seulgi buru-buru memejamkan matanya kembali sambil berdoa panas yang ia rasakan di sekitar wajahnya tidak membuat kulit wajahnya yang putih bersemu merah. Namun mendengar tawa Joohyun, Seulgi tahu pipinya memerah.

***

Keesokan harinya, sepulang sekolah Suzy bersama Yoongi dan Myungsoo sengaja pergi ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas field trip kemarin yang akan dikumpul hari Rabu ini. Dan saat ini Suzy tengah serius mengamati salah satu bunga yang ia tak tahu namanya. Di sebrang mea ada Yoongi yang juga sedang sibuk mengamati sebuah daun. Sedangkan Myungsoo duduk di samping Yoongi dan sedang sibuk mengetik laporan tentang hutan buatan kemarin. Kedua telinganya tersumpal dengan headset berwarna putih yang memutarkan lagu-lagu EDM di playlist-nya.

Myungsoo sengaja memilih tugas membuat laporan agar tak perlu banyak bicara dengan Suzy yang sudah seharian ini ia hindari. Sejujurnya Myungsoo juga tidak yakin apakah Suzy sadar bahwa Myungsoo sedang menghindarinya. Tadinya Myungsoo berniat untuk malah tidak ikut mengerjakan tugas, namun bayangan Yoongi dan Suzy berduan bercanda sambil mengerjakan tugas membuatnya tak bisa tidur. Sehingga di sinilah dia sekarang.

“Yoongi, coba lihat bunga ini, menurutmu dia punya serbuk sari?” Tanya Suzy sambil memajukan duduknya dan menarik tangan Yoongi dengan maksud agar pria itu memajukan duduknya juga dan mengecek bunga yang sedang Suzy pegang.

Yoongi sendiri dengan sigap bangkit dan mencodongkan tubuhnya ke depan serta mulai mengamati bunga di tangan Suzy dengan kaca pembesarnya. Diam-diam ia tersenyum saat sadar wajahnya dan Suzy berada sangat dekat. “Hmm, iya juga tidak kelihatan,” Kata Yoongi sambil lebih memajukan tubuhnya dan menunduk meskipun sebenarnya ia sudah melihat serbuk-serbuk di dalam bunga itu.

Myungsoo yang melihat kejadian itu mendengus, tahu betul Yoongi hanya memanfaatkan situasi. Ia langsung memutar otaknya untuk mencari akal. Dan saat itulah Suzy mendengus sambil mendorong Yoongi di jidat dengan telunjuknya.

Yya, jangan cari-cari kesempatan. Aku tidak buta pabbo-ya aku bisa lihat serbuknya,” Seru Suzy sambil merebut kaca pembesar di tangan Yoongi. Yoongi hanya tertawa sambil kembali menuliskan klasifikasi daun yang sedang ia pegang.

Tak lama kemudian Suzy melepaskan pena yang ia pegang lalu meregangkan tangannya ke atas. “Hhh, akhirnya selesai!!” Seru gadis itu senang sambil mengumpulkan tumbuhan yang sudah ia klasifikasi. Selesai merapikan tumbuhan yang nanti akan dijadikan herbarium, Suzy memajukan tubuhnya sambil membantu Yoongi yang masih memiliki satu tumbuhan lagi untuk diklasifikasi.

“Menurutmu daun ini dikotil atau monokotil? Aku belum selesai menghitung jumlah daunnya tapi dilihat dari bentuknya seperti monokotil kan?” Kata Yoongi sambil mendongak ke arah Suzy dan mengulurkan daun yang ia pegang.

Kening Suzy berkerut, tanda gadis itu sedang berpikir keras. “Sebaiknya kita hitung saja taku—“

Mian,”

Kata-kata Suzy terhenti saat jemari Yoongi terangkat dan menyelipkan rambutnya yang jatuh ke depan karena ia sedang menunduk. Suzy merasakan sesuatu berdesir cepat di bawah permukaan kulitnya.

Myungsoo yang menyaksikan itu mendengus pelan. Ia tidak bisa menguasai perasaan kesalnya dan tanpa sadar ia menutup layar laptopnya setengah membanting, lalu melepas headset di telinganya dan berjalan keluar perpustakaan.

Suzy yang sudah kembali fokus dan sedang asyik menghitung jumlah daun menoleh dan memasang wajah bingung, “Dia kenapa?” Tanyanya sambil memperhatikan bayangan Myungsoo yang sudah menghilang di balik pintu. Yoongi hanya menggeleng pelan sambil kembali menghitung jumlah daun.

***

Chanyeol kembali menguap untuk yang kesekian kalinya dalam dua jam terakhir. Ia menghentikan sejenak gerakan kesepuluh jarinya yang sibuk membuat laporan, untuk meraih gelas minumannya dan menyesapnya perlahan. Tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop namja itu kembali meletakkan gelas minumannya.

‘Dua bab terakhir ini menyebalkan sekali,’ gumam Chanyeol sambil mendongakkan kepalanya ke arah Soojung yang duduk di sebrangnya sambil sibuk mengklasifikasi tumbuhan. Gadis itu terlihat fokus dengan bunga yang ia pegang. Chanyeol menghela napas lalu menoleh ke samping. Terlihat Jungkook sedang asyik menuliskan hasil pengamatannya sambil mendengarkan lagu dari headsetnya.

Chanyeol menggeleng sebentar lalu mengangguk cepat. Ia harus melakukan sesuatu atau ia akan mati kebosanan. Maka setelah menekan tombol save ia men-minimize halaman word yang sedang terbuka dan membuka aplikasi mixer DJ di laptopnya.

“Soojung-a apa lagu yang senang kau dengar?” Tanya Chanyeol ke arah Soojung. Soojung yang sedang melemaskan otot jari jemarinya mengerutkan keningnya sambil berpikir.

Love Me Like You Do,”

Chanyeol terkekeh sambil mulai mengutak-atik laptopnya, “Woah, aku tidak menyangka kau juga suka film itu,”

Soojung mendengus, “Aku menontonnya karena aku sudah membaca bukunya, bukan seperti kau yang mencari adegan rated-nya.”

Chanyeol tertawa sebentar sebelum akhirnya memasang ekspresi serius. Ia mengangkat tangannya seperti layaknya seorang DJ di nightclub dan mulai mengangguk-anggukan kepalanya serta bergoyang mengikuti irama lagu Love Me Like You Do yang sudah ia edit sehingga lagunya menjadi seperti lagu EDM.

Soojung menyilangkan kedua tangannya sambil bersandar ke punggung kursi dan tertawa melihat tingkah laku dan ekspresi Chanyeol. Wajah Chanyeol yang serius dengan gerakan yang seperti seorang pro membuat soojung sedikit terhibur. ‘I dont know he has this side,’ batin Soojung yang jujur sedikit kagum. Menurutnya Chanyeol terlihat lebih berkharisma saat lebih serius seperti ini.

Beberapa kemudian chanyeol selesai dengan penampilannya, ia tersenyum sombong sambil bertepuk tangan senang ke arah Soojung, “Eottae?”

Soojung memutar kedua bola matanya lalu mengganti ekspresi di wajahnya dengan ekspresi serius, “Go back to your work,” serunya sambil kembali mengambil kaca pembesar untuk meneliti.

Chanyeol menghela napas sambil menutup aplikasi DJ-nya lalu kembali ke halaman word dan mulai mengetik lagi dengan patuh.

***

Bye Soojung, gomawo Ahjussi!!” Seru Suzy sambil melambai ke arah mobil Soojung yang kini sudah berbelok di tikungan dan hilang dari pandangan.

Malam itu, setelah selesai kelas tambahan, Suzy sengaja minta diantarkan Soojung sampai di toko swalayan di dekat perumahannya karena hari ini putri pertama Kwon Ahjussi melahirkan dan Suzy tidak tega membiarkan pria paruh baya itu menungguinya sampai tengah malam sambil cemas memikirkan cucu pertamanya.

Maka dari itu, sepulang sekolah tadi Suzy sengaja membiarkan Kwon Ahjussi pergi ke rumah sakit. Dan agar tak mempersulit sopir pribadinya itu, ia telah meminta Kwon Ahjussi untuk menjemputnya di toko swalayan ini sekitar jam dua belas malam nanti.

Udara malam yang bertiup kencang membuat Suzy merapatkan jaket yang ia kenakan dan buru-buru masuk ke dalam toko swalayan. Ia mendesah lega karena suhu di dalam cukup hangat sambil berjalan ke arah penghangat ruangan yang juga memiliki fungsi sebagai pendingin ruangan. Setelah merasa cukup hangat ia memutuskan untuk berjalan ke arah rak tempat beragam ramyun berderet.

“Dengan uang saku-ku yang sekarang aku bisa membeli seluruh ramyun di sini,” Gumam Suzy sambil meraih mangkuk ramyun dan sebungkus kimchi dan membawanya ke arah kasir lalu membayarnya. Masih ada setengah jam sebelum Kwon ahjussi sampai tempat ini.

Setelah membayar dan menyeduhnya dengan air panas yang disediakan, Suzy berjalan menuju tempat duduk yang ada dan memilih untuk istirahat di sana. Kakinya lumayan pegal sebagai bentuk efek samping dari hukuman Mr.Han yaitu berdiri seharian di depan tiang bendera karena ia kedapatan tertidur di ruang kelas.

Harusnya Mr.Han instropeksi diri kenapa aku bisa sampai tidur,’ pikir Suzy sambil membuka plastik pembungkus kimchi dan mulai makan setelah sebelumnya memisahkan sumpit kayunya yang tersambung.

“… apakah tidak kelewatan kita mengeroyok-nya seperti itu?”

“Sudahlah, ikuti saja perkataan Bos. Kau mau menggantikannya dan jadi babak belur?”

“Tapi—“

“Tenang saja. Si Myungsoo itu orang kaya. Ini juga dekat perumahan dia, pasti ada yang membantunya!”

Sumpit yang digunakan Suzy untuk menepit kimchi-nya berhenti di tengah udara saat Suzy tak sengaja mendengar percakapan dua orang remaja yang baru saja lewat di depan toko swalayan. Suzy merasa firasatnya memburuk saat ia sadar bahwa sepanjang sisa pelajaran tadi Myungsoo kembali membolos. Ia juga ingat bagaimana Myungsoo sering berantem dengan preman dari sekolah lain.

Dengan sekali gerakan, gadis itu meletakkan sumpitnya kembali. Ia tidak jadi makan karena mendadak panik memikirkan nasib Myungsoo. Dari percakapan yang baru saja ia dengar, ia bisa menarik kesimpulan bahwa Myungsoo baru saja dikeroyok. Tak ingin membuang waktu, ia buru-buru bergegas dan mulai berjalan ke arah kedua remaja tadi datang.

Tak butuh lama bagi Suzy untuk sampai di sebuah jalan buntu yang sempit dan gelap. Tempat itu terletak sekitar lima ratus meter dari jalan utama yang biasa dilewati mobil dan tidak terkena sinar lampu jalan. Sambil berdoa dalam hati Suzy menyalakan flash di ponsel dan mengarahkannya ke jalanan gelap di depannya. Myungsoo mungkin memang bukan Yixing atau Soojung, namun tetap saja Suzy merasa namja itu juga temannya. Belum lagi ada kemungkinan dia sedang babak—

“Astaga, Kim Myungsoo!!!!” Pekik Suzy saat flash dari ponselnya menyinari sesosok namja yang tergeletak di dekat tempat sampah dengan wajah penuh lebam. Name tag bertuliskan ‘Kim Myungsoo’ yang tersemat di dada kanan namja itu membuat Suzy sadar bahwa sosok itu benar-benar Myungsoo. “Yya! Ireona!! Neo gwencanha?!” Seru Suzy sambil mendekati Myungsoo dan menepuk-nepuk kedua pipi namja itu.

Appo!!” Sahut Myungsoo sambil memegang kedua tangan Suzy agar berhenti memukuli pipinya yang super lebam. “Jakaman, biarkan aku tidur dulu, sebentar saja.” Ucapnya dengan nada yang lebih lembut sambil kembali memejamkan matanya.

Ani! Ireona! Lukamu bisa infeksi tahu?! Lagian kau ini bisa-bisanya tidur di dekat tempat sampah begini!” Seru Suzy sambil merangkul Myungsoo dan setengah menarik namja itu berdiri. Suzy yang memang lebih kuat tenaganya dibandingkan kebanyakan yeoja dengan mudah menarik Myungsoo bangun.

Myungsoo hanya diam dan membiarkan Suzy membantunya berjalan menuju toko swalayan. Ia tidak mau bertanya bagaimana Suzy bisa menemukannya. Dan tidak mau memberitahu bahwa sebenarnya ia baik-baik saja dan tidak perlu dibantu berjalan. Alasan kenapa ia tergeletak di jalan tadi adalah murni karena kelelahan harus menahan setiap pukulan dari preman sekolah lain yang dengan pengecutnya mengeroyok dirinya. Ia juga sebenarnya hanya pura-pura pingsan di depan mereka supaya mereka puas dan tidak sampai menggunakan benda tajam. Namun, sepertinya usahanya untuk menipu para preman itu juga berhasil menipu Suzy. Dan entah mengapa Myungsoo tak ingin menjelaskannya pada Suzy. Ia tak ingin gadis itu menyudahi perhatiannya kepadanya.

Suzy menghela napas lega begitu mereka sampai di toko swalayan. Buru-buru ia meletakkan Myungsoo di tempat duduk dan bergegas ke dalam membeli beberapa botol air mineral dan kotak P3K mini. Dalam beberapa menit ia sudah kembali ke hadapan Myungsoo dan kini sedang berdiri di depan pria itu.

“Jangan bicara,” Suzy mulai membasahi kain kasa yang terdapat di dalam kotak P3K itu degan air dan membersihkan luka Myungsoo yang bercampur dengan keringat dan debu. Sesekali Myungsoo mengerang karena perih. “Kau kan jago karate, kenapa tidak menyerang eoh?” Suzy memulai omelannya.

Myungsoo diam-diam tersenyum tipis, “Mereka bersepuluh Suzy-a, aku tidak bisa melawan karena mereka memegangi kedua tanganku.”

Suzy mendengus, “Dasar pengecut tidak punya otak!” Rutuk Suzy sambil mengambil kapas dan membasahinya dengan alkohol lalu menekannya tanpa ampun di setiap luka Myungsoo. “Diam atau urus dirimu sendiri,” Serunya galak saat Myungsoo mengerang kesakitan. Dengan cemberut Myungsoo menggertakkan giginya dan menahan erangannya.

Tak lama kemudian Suzy selesai setelah mengoleskan salep khusus di bagian yang lebam dan menempelkan plester. Ia meniup sebentar bagian bawah mata Myungsoo yang sudah ditempeli plester lalu mulai merapikan bekas kapas dan kain kasa.

Gomawo. Lagi.” Kata Myungsoo sambil memperhatikan Suzy. Kalau ia bisa diperhatikan oleh Suzy setiap kali babak belur, maka ia rela untuk babak belur setiap harinya. Dalam hati Myungsoo bahkan bersyukur bahwa hari ini ia dikeroyok dan kompleks perumahannya dan Suzy sama sehingga keduanya bisa bertemu.

“Kenapa kau bisa dikeroyok begini?” Tanya Suzy sambil melemparkan sekaleng soda ke arah Myungsoo. Gadis itu lalu menarik kursi dan duduk di sebrang Myungsoo sambil menyesap minumannya.

Myungsoo terdiam lalu mendnegus pelan, “Karena aku trouble maker.” Jawabnya tanpa ia sadar. Berada di dekat Suzy membuat otaknya selalu bekerja di luar kehendak dan mengatakan hal-hal jujur yang bahkan baru ia katakan pada Yoongi dua tahun setelah mereka berteman.

“Kenapa kau harus jadi trouble maker?”

“Kenapa tidak?”

“Jawab pertanyaanku baru kukasih jawaban,” Seru Suzy galak sambil mendelik.

Myungsoo tertawa pelan, “Karena setiap keluarga pasti punya si biang onar kan? Ayah dan ibuku tidak membutuhkan aku. Kedua kakakku sudah cukup bagi mereka. Jadi daripada susah-susah membuat mereka senang, lebih baik aku membuat masalah kan? Setidaknya aku memberi warna baru di kehidupan sempurna mereka dan setidaknya aku dapat merasakan perhatian yang harusnya diberikan orangtuaku dari guru-guru.”

Suzy terdiam sebentar. Mendengar alasan mengapa Myungsoo nakal membuatnya sedih. Hanya untuk diperhatikan Myungsoo harus sampai berbuat hal-hal yang sebenarnya ia juga tidak suka. Suzy menghembuskan napasnya perlahan,

“Kau tahu? Kenapa kau tidak harus menjadi trouble maker? Karena kau hidup untuk dirimu. Tidak peduli apakah itu menyenangkan orang tuamu atau membuat mereka susah, kau harus hidup seperti yang kau mau. Syukur-syukur keinginanmu bisa membantu orang lain. Tidak perlu melakukan ini semua hanya untuk mencari perhatian Myungsoo. Kalau kau menganggap Yixing, Chanyeol, Seulgi, dan Joohyun temanmu, mereka bisa memberikanmu perhatian. Even if you think five of you are the same. Don’t understand how to show care, express love, and create happines, aku, Yixing, dan Soojung bersedia membantu. We are friends, aren’t we?”

***

‘We are friends aren’t we?’

Myungsoo menatap langit-langit kamarnya sambil memikirkan perkataan Suzy. Sudah berjam-jam berlalu sejak ia menutup pintu mobil Suzy tadi. Kwon ahjussi datang tepat saat Myungsoo benar-benar tidak tahu harus menanggapi perkataan Suzy dengan kalimat apa. Suzy yang memaksa Myungsoo untuk diantar dengan pandangan galak membuat Myungsoo tak bisa berkata apa-apa. Dan di sinilah ia sekarang, memikirkan perkataan gadis itu baik-baik.

Suara berisik yang berasal dari notifikasi SNS di ponselnya membuat Myungsoo tak bisa berkonsentrasi. Dengan kesal ia meraih layar smartphone-nya dan bersiap me-log out akun SNS-nya. Percakapan di timeline miliknya membuat jemarinya terasa kaku dan tidak bisa bergerak.

[@PrincessBae] : “@jsj1004 , Oh my god Soojung you need to watch this video! B.I looks super h.o.t!!!”

[@jsj1004] : “@PrincessBae, Udah lihat!!! Damn, don’t you see his chocolate abs! Imagining have a chance to touch kkkk~”

[@pcy2311] : “@jsj1004, Kalau kau mau kau bisa menyentuh milikku <3”

Ternyata khayalan Soojung cukup manusiawi, kukira dia benar-benar cheonsa,’ batin Myungsoo sambil kembali men-scroll layar timeline-nya.

[@wonderfinger] : “James Blunt is coming to Seoul yeay~ Must get VIP seat!!!”

[@bszxo] : “@wonderfinger, you need to tell Yixing, he is a HUGE fan kkkk~~!!!”

[@wonderfinger] : “@bszxo, really?!!”

[@bszxo] : “@stringman Yixing-a! @wonderfinger mau mengajakmu menonton konser James Blunt!!”

[@stringman] : “@wonderfinger, Woah terimakasih Seulgi, tapi aku sudah dapat tiket duluan hahaha, kalau mau bareng kita bertemu di sana.”

Melihat layar timeline-nya Myungsoo tersenyum. Ia menyimpan kembali ponselnya ke atas nakas dan menarik selimutnya. “Baiklah, mari kita coba berteman. Mungkin saja aku sedang bingung dengan perasaanku. Mungkin saja sesungguhnya aku hanya butuh teman dan aku tidak benar-benar suka dengan Suzy.”

***

Keesokan harinya, di kedai es krim favorit Yoongi, Suzy mengawasi setiap gerakan Myungsoo dan Yoongi dengan awas. Kedua namja itu berkeras agar Suzy istirahat dan membiarkan mereka yang membuat herbarium-nya. Dan dnegan sederet peraturan dan tak sedikitpun mengalihkan fokusnya dari pekerjaan kedua namja itu Suzy mengiyakan permintaan mereka.

“Suzy-a, tidakkah sebaiknya kau memesankan kami es krim juga?” Seru Yoongi dengan nada memelas sambil mendongak ke arah Suzy yang asyik dengan semangkuk es krim stroberi. Gadis itu memang mengawasi mereka, namun gadis itu tak mau melewatkan kesempatan untuk memakan es krim di kedai es krim yang sekarang menjadi tempat mereka kerja kelompok. Sudah sejak pelayan mengantarkan pesanan Suzy, Yoongi tak bisa berhenti mencuri pandang ke arah Suzy dan es krimnya. Karena keduanya sama-sama manis dan menarik perhatiannya.

“Selesaikan dulu,” Seru Suzy galak tanpa terbujuk sedikitpun dengan nada memelas Yoongi. Saat namja itu menunjukkan aegyo-nya ia hanya melengos lalu tertawa sambil menjulurkan lidah.

Yoongi menghela napas panjang dan dengan wajah sedih kembali mengerjakan herbarium ke-limanya. Sementara Myungsoo di sampingnya yang sedari fokus sudah hampir selesai.

“Suez, aku hampir selesai. Pesankan aku yang oreo dong,” Seru Myungsoo tanpa melihat mata Suzy. Ia takut melihat kedua bola mata yang selalu berbinar itu, ia takut kalau dirinya benar-benar jatuh cinta pada Suzy.

Suzy menunduk sebentar mengecek pekerjaan Myungsoo lalu mengangguk setuju. “Oke, tunggu sebentar,” Kata Suzy sambil berjalan menuju ke arah konter pemesanan.

“Suez aku mau banana split!!” Seru Yoongi tak mau menyerah.

Suzy tertawa dan segera memesankan es krim untuk Myungsoo dan Yoongi. Tak lama kemudian si penjaga kasir menyerahkan kembali credit card berwarna silver miliknya dan langsung membuatkan pesanan Suzy. Suzy menyelipkan kembali kartu itu ke dalam dompetnya sambil tersenyum kecil. Ia teringat janjinya dulu pada ibunya untuk memberi beliau kartu serupa agar beliau tidak perlu cemas akan menghabiskan uang untuk makan selama sebulan dan bisa berbelanja sepuasnya.

“Silahkan pesanan anda,” Seru penjaga kasir itu dengan ramah sambil menyerahkan nampan cokelat bundar berisi dua porsi es krim di atasnya. Suzy tersenyum sambil membawa nampan itu kembali ke tempatnya.

Myungsoo yang sudah selesai dengan herbarium-nya buru-buru bangkit dan mengambil alih nampan di tangan Suzy. Suzy terkekeh sambil kembali duduk di tempatnya. Ia mengeluarkan dua botol kecil berwarna putih dari sakunya dan memberikannya ke Myungsoo yang sudah sibuk dengan es krim dan juga ke Yoongi yang baru selesai.

“Ini vitamin C, makan dua kali sehari. Kalian berdua terlihat sangat kurus dan pucat.” Kata Suzy santai sambil mengumpulkan ­herbarium buatan Yoongi dan Myungsoo.

Suzy tidak tahu bahwa tindakan kecilnya baru saja membuat kedua namja itu membeku di tempat masing-masing karena perasaan tersentuh yang mereka rasakan.

***

“Baik, para namja kalian sudah mendapat jam bebas. Jangan sampai ada yan terluka! Yeoja, baris di hadapanku sekarang.” Suara lantang Mr.Cho terdengar cukup keras meskipun kini mereka sedang berada di lapangan terbuka. Kelas Suzy hari ini sedang pelajaran olahraga. Dan karena cuaca cerah dan suhu cukup hangat, Mr.Cho membawa para muridnya untuk berolahraga di lapangan.

“Suara Mr.Cho ini memang top,” Bisik Suzy yang dengan patuh berbaris di belakang Soojung. Soojung terkekeh sambil mengangguk setuju.

Ladies, yang harus kalian lakukan saat ini adalah lompat tali sebanyak yang kalian bisa dalam satu menit. Berdasarkan tempat kalian berdiri, pertiga orang berdiri di sana dan mulai melompat.” Seru Mr.Cho sambil meniup peluitnya beberapa kali.

Para yeoja mulai melakukan lompat tali. Beberapa terlihat jago dan bisa mencapai angka seratus dua puluh, beberapa terlihat ogah merusak tatanan rambut dan berkeringat sehingga hanya melompat asal, dan beberapa bahkan hanya diam tanpa melakukan apa-apa.

“Giliranku!” Seru Suzy semangat sambil berlari mengambil posisi dan mulai melompat dengan semangat. Rambutnya yang dikuncir satu bergoyang ke sana ke mari seiring dengan lompatannya.

“Ck, hanya anak itu yang semangat disuruh melompat,” Seru Joohyun yang baru saja menyelesaikan lompatannya dan sedang sibuk mengipasi dirinya.

Soojung yang duduk di samping Joohyun terkekeh, “Kau juga sepertinya semangat, kau sampai 180 bahkan!”

“Joohyun hanya kompetitif. Itu saja,” Sahut Seulgi yang bahkan tidak mencapai angka enam puluh. Soojung tergelak mendengarnya sambil kembali menyemangati Suzy. Mereka tidak sadar bahwa dari tribun seseorang juga tak melepas pandangannya dari gadis yang sedang melompat dengan ceria sekarang.

Myungsoo yang sedari tadi memperhatikan Suzy, tersenyum saat gadis itu mengecek counter yang terpasang di pegangan tali dan menjerit, “198!!!!!” Lalu menari sambil menyanyikan reff lagu Up and Down milik EXID di depan Soojung, Seulgi, dan Joohyun sebagai bentuk selebrasi.

“Ternyata benar,”

Myungsoo menoleh dan mendapati Chanyeol di sampingnya, duduk dengan wajah serius sambil menyesap minuman berisotonik miliknya. Myungsoo mengerutkan keningnya bingung, “Apa?”

“Kau menyukai Bae Suzy kan?”

“Kukira juga begitu. Hanya saja sepertinya perasaanku sedang kacau saja. Aku sedang mencoba berteman dengannya. Aku hanya teman dengan dia.”

Chanyeol tak menanggapi perkataan Myungsoo dan kembali menegak minumannya karena ia sadar. Suara Myungsoo tak terdengar seyakin kalimat yang baru saja dilontarkan.

***

Hari demi hari berlalu dengan cepat. Tak ada yang menyadari bahwa sekarang musim semi telah berubah menjadi musim panas. Tahu-tahu suhu sudah meningkat saja, tahu-tahu tumbuh-tumbuhan sudah berubah warna, tahu-tahu saja liburan musim panas sudah semakin dekat. Begitu juga dengan Yoongi. Namja itu tidak sadar bahwa menjelang musim panas jadwalnya semakin padat. Belum lagi pihaknya baru saja menerima tawaran sebuah variety show untuk grupnya dan harus melakukan persiapan comeback.

Yoongi kembali sibuk dan harus membagi perhatian antara sekolah dan karirnya. Absensinya yang mulai terisi, kembali penuh dengan pena biru bertuliskan ‘Izin’. Biasanya Yoongi akan merasa cuek dan masuk saat jadwalnya benar-benar kosong hari itu, namun tidak sekarang. Karena ada Suzy, meskipun sorenya ia ada jadwal, dengan semangat paginya ia tetap datang ke sekolah.

Yoongi sendiri sadar bahwa kesibukannya membuatnya jauh dari Suzy dan hanya bisa mengobrol dengan gadis itu lewat aplikasi chatting. Dan inilah yang membuatnya khawatir. Suzy yang menurutnya sudah mulai luluh dan mau diajak ber-skype, selca, kembali seperti biasa. Kembali bersikap bahwa keduanya hanyalah teman. Padahal sebelumnya Yoongi sudah yakin dan mantap tinggal menentukan hari untuk menyatakan perasaannya. Namun sepertinya, ia harus kembali bersabar.

Ibarat bunga, di saat ia sudah berhasil membuat Suzy ‘mekar’, ia tidak punya waktu untuk ‘menyirami’ gadis itu, sehingga ia kembali menguncup.

***

Suzy sampai di kelasnya pukul tujuh tepat. Suasana di kelas sangat ramai saat itu, mengingat bel masih akan berdering setengah jam lagi. Ia berjalan ke arah bangkunya dan mendengus melihat Chanyeol dan Soojung sedang mengobrol di sana.

Sambil berkata, “Tidak usah panik, aku tidak akan mengganggu” Suzy melempar tasnya ke atas meja lalu duduk di kursi Chanyeol. Ia tadinya hendak menghampiri Yixing, namun namja itu sedang sibuk membahas konser James Blunt semalam dengan Seulgi, dan ia tidak mau mengganggu mereka. Ia menoleh ke Joohyun dan mendapati gadis itu sedang sibuk mengecat kuku. Terbit sifat jailnya untuk mengganggu Joohyun, namun ia teringat beberapa hari yang lalu ketika Joohyun meledak karena ia dan Jackson mengganggunya mengecat kuku, rasa itu sirna. Ia sedang tidak ingin membuat gadis itu meledak.

“Enyahkan pikiranmu itu Bae Suzy!” Seru Myungsoo tajam membuat Suzy tersentak. Gadis itu mengerutkan keningnya bingung. “Aku tahu aku terlihat seksi saat sedang tidur, tapi jangan sampai kau membayangkan untuk menyerangku saat tidur,”

Suzy melongo mendnegar penuturan Myungsoo. “Ige jinjja..” Gumamnya sambil melempar kotak pensil Chanyeol ke arah Myungsoo, membuat namja itu meledak tertawa sambil melepas headset-nya.

“Kau bosan?” Tanya Myungsoo ke arah Suzy yang sudah siap dengan posisi andalannya untuk tidur, kedua tangan terlipat di atas meja dan kepala terbenam di antara tangan. Suzy mengangguk. “Coba mainkan ini,” Kata Myungsoo sambil menyerahkan ponselnya yang sedang menampilkan aplikasi 2048.

“Ah, aku pernah lihat Jackson main ini,” Seru Suzy semangat sambil menegakkan tubuhnya dan meraih ponsel Myungsoo. Ia memanjangkan kakinya ke depan dan bersandar dengan rileks sambil memainkan game itu. Myungsoo tersenyum melihat Suzy menyukai game pilihannya dan tanpa sadar ikut menyandar sambil memperhatikan Suzy memainkan game itu.

“Sedikit lagi,” Myungsoo mendengar Suzy menggumam dengan wajah bersinar terang sambil berpikir keras menataplayar di ponsel Myungsoo. Saat itu Myungsoo mengeluarkan smirk andalannya saat berniat iseng. Tanpa merasa berdosa ia men-slide layar ponselnya, merusak kotak-kotak angka yang sudah disusun Suzy.

YYA!!” Pekik Suzy kesal sambil menahan tangan Myungsoo dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya meletakkan smartphone Myungsoo di atas meja dan kembali berkonsentrasi.

Myungsoo tertawa sambil berusaha melepas tangan kanannya dari cengkraman tangan Suzy. Namun gadis itu cukup kuat, dan suara kecil dalam hatinya memohon agar ia tidak melepaskan cengkramana Suzy. Maka sambil kembali tertawa Myungsoo kembali mengganggu dengan tangan kanannya yang bebas.

Melihat tangan kanan Myungsoo mulai bergerak Suzy buru-buru mengangkat ponsel Myungsoo dan merubah posisi duduknya jadi membelakangi Myungsoo dan kembali bemain dengan satu tangan. Score-nya sudah hampir mendekati high score Myungsoo.

Myungsoo tak mau menyerah dan kembali menganggu. Kali ini ia sampai berdiri dan mengintip dari balik bahu Suzy. Saat itu Myungsoo sadar posisi keduanya terlalu dekat. Ia bisa merasakan punggung Suzy di dadanya, juga aroma shampoo Suzy mulai memenuhi indra penciumannya. Terlena dengan aroma itu, Myungsoo menarik napas dalam-dalam sambil memejamkan matanya, lupa dengan tujuannya mengganggu Suzy.

“Yeaay!! High scoree!!!”

Seruan Suzy membuat Myungsoo tersadar. Namja itu mundur selangkah dan kembali duduk di tempatnya. Ia sibuk mengendalikan jantungnya yang berdegup cepat.

***

Myungsoo mengunyah makanannya sambil memperhatikan Joohyun yang sedang memberikan riddle di sebrangnya. Di sampingnya, Suzy bahkan sampai menghentikan makannya untuk mendengarkan penjelasan Joohyun. Hanya dua orang di meja makan itu yang memperhatikan cerita Joohyun. Sedangkan Chanyeol seperti biasa sibuk bersama Soojung dan Yixing sudah tenggelam bersama Seulgi dalam dunia musik mereka. Dan Yoongi setelah kemarin sempat masuk harus kembali izin karena tuntutan jadwal.

“Jadi di mana bagian anehnya?” Seru Joohyun sambil tersenyum senang setelah menyelesaikan ceritanya. Dengan santai ia mengunyah mashed potato sambil menikmati wajah Myungsoo dan Suzy yang terlihat berpikir keras dan ingin menyerah namun gengsi.

“Aku tau! Itu artinya ada orang lain yang bersama mereka karena tidak mungkin anak ke-tiga berlari.” Seru Suzy semangat, menjawab keanehan yang terdapat pada riddle Joohyun.

“Ding dong deng!!” Seru Joohyun sambil terkekeh membuat Suzy bertepuk tangan senang karena berhasil menjawab.

Suzy kembali mengambil sumpitnya dan hendak melanjutkan makan saat ia lihat telur gulungnya baru saja diambil Yixing dan menghilang dalam hitungan detik ke dalam mulut namja itu. “Zhang Yixing!!!” Pekik Suzy kesal sambil memukul kepala namja itu dengan sumpitnya.

“Hehehe, mian Suzy kukira kau sudah selesai.” Kata Yixing sambil memberikan sosisnya sebagai ganti ke piring Suzy. Suzy hanya mendengus sambil mulai makan.

“Tak mungkin uri Suzy berhenti makan kalau nasinya belum habis, keutchi?” Seru Myungsoo dengan nada ramah, membuat semua orang di meja itu tergelak. Suzy hanya melanjutkan makannya sambil memutar kedua bola matanya. Seperti biasa, mereka lebih semangat jika yang dijadikan obyek lelucon adalah Suzy.

***

Yya, Kim Myungsoo, neo, sampai kau menghilang kukutuk kau!” Seru Suzy sambil mengipasi dirinya dengan brosur yang ia temukan entah di mana.

Myungsoo hanya mengangguk sambil tertawa. Malam itu adalah pesta ulang tahun Bang Minah, salah satu teman sekelas mereka. Yixing yang malam itu lebih memilih bekerja paruh waktu dan Soojung yang sudah dimonopoli oleh Chanyeol karena malam itu adalah d-day bagi pria itu, membuat Suzy tak punya pilihan selain berdiri bersama Myungsoo. Ia tidak mau membuat kakinya sakit karena mengikuti Seulgi dan Joohyun yang sibuk mengobrol ke sana ke mari bersama murid populer lainnya. Dan juga Suzy bukan tipe yang speerti itu. Sejujurnya Suzy sedikit merindukan kehadiran Yoongi si happy virus yang sekarang sedang sibuk melakukan fanmeeting di Busan. Beberapa minggu ini Suzy memang jarang melihat Yoongi.

Lagipula, sekalipun Suzy tak memintanya, Myungsoo akan tetap berdiri di sisi Suzy malam itu. Suzy yang malam itu mengenakan gaun selutut berwarna putih dengan model rok A-line dan bahu sabrina terlihat sangat cantik dengan rambut panjangnya yang dibuat bergelombang di bagian bawah dan make up yang terlihat tidak berlebihan. Myungsoo yakin kalau ia bergeser semeter saja dari sisi Suzy, banyak namja pasti sudah mengajak Suzy mengobrol sedari tadi. Myungsoo tahu betul arti pandnagan para namja yang sedari tadi memperhatikan Suzy.

Lagu milik EXID, Up and Down memenuhi ruangan, membuat remaja-remaja di dalam situ tertawa riuh dan memenuhi dancefloor. Myungsoo langsung teringat selebrasi Suzy waktu itu di lapangan sontak tertawa.

“Kenapa kau tertawa?” Tanya Suzy heran.

“Aku bisa menarikan lagu ini.” Kata Myungsoo percaya diri. Malam itu entah bagaimana caranya ia ingin sekali menghibur Suzy. Menurut buku yang dibacanya, tawa adalah jalan tercepat menuju hati.

Seperti dugaannya, Suzy melongo tak percaya, “Jangan bercanda!”

Myungsoo tertawa sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang dan melebarkan kakinya dan mengikuti irama lagu itu sambil bernyanyi, “Wi arae wi wi arae,” Lalu saat masuk ke bait ke dua dengan santai Myungsoo meliukan tubuhnya sambil memainkan kedua tangannya.

Suzy sontak tertawa melihat bagaimana pria itu menari dang mengikuti gerakan salah satu girlband terkenal. Suzy tertawa lepas sekali sampai harus membungkuk dan menyeka air di pelupuk matanya. Ia memegang lengan Myungsoo dan memberi kode agar Myungsoo berhenti. Myungsoo menghentikan tariannya dan ikut tertawa.

Tak lama kemudian lagu berganti menjadi lagu yang lebih slow. Intro lagu A Whole New World, mengalun lembut memenuhi ruangan. Dancefloor kembali penuh, kali ini dengan para pasangan. Myungsoo melirik ke arah Suzy yang sedang memperhatikan dancefloor, sambil menelan ludah ia memberanikan dirinya. “Suez, wanna dance with me?”

Suzy menoleh ke arah Myungsoo, dan mengangguk santai. Ia menggandeng tangan Myungsoo dan keduanya berdiri di atas dancefloor. Suzy lalu membiarkan Myungsoo menggenggam tangannya dan merangkul pinggangnya dengan ringan. Tangannya sendiri diletakkan di lengan atas Myungsoo. Myungsoo mulai melangkahkan kkainya, dan Suzy mengikuti gerakannya dengan mulus. Mereka melangkah dengan seirama, sesekali Myungsoo memutar Suzy dan kadang-kadang melepaskan pinggang Suzy, memutarnya, lalu kembali menarik Suzy ke arahnya.

“Astaga, jangan sampai kau iseng dan melepaskan peganganmu!” Seru Suzy sambil tertawa, “Kalau sampai aku jatuh dan mempermalukan diriku, kukutuk kau.”

Myungsoo tersenyum, sambil memandang Suzy ia berkata, “Aku tidak akan pernah melepaskanmu,” Dan ia sendiri tidak tahu apa arti sesungguhnya dari kalimat itu.

“Kita duduk yuk, kakiku sudah sakit,” Pinta Suzy begitu lagu selesai. Myungsoo mengangguk dan dengan santai menggandeng Suzy ke arah meja bundar tempat para tamu duduk. Tanpa protes Suzy mengikuti Myungsoo.

“Chanyeol sepertinya sudah menjalankan rencananya,” gumam Myungsoo saat ia tak menemukan sosok jangkung sahabatnya juga Soojung yang malam itu mengenakan gaun berwarna merah.

Jinjja? Baguslah,” Seru Suzy tak terlalu bersemangat meskipun suaranya terdengar cukup antusias.

“Kau mau pulang?” Tanya Myungsoo tidak tega melihat Suzy yang sudah mengantuk dan tampak lelah sekali.

“Apa boleh?”

“Tentu saja. Dia sudah memotong kue tadi. Kajja,” Ajak Myungsoo. Suzy mengangguk semangat sambil berdiri cepat dan meringis pelan. Myungsoo melihat kaki Suzy yang sudah merah. “Cham,” Dengan sekali gerakan Myungsoo kembali membiarkan Suzy duduk dan ia sendiri berjongkok di depan Suzy.

Dengan gesit ia melepaskan sepatu yang ia pakai juga sepatu yang Suzy pakai lalu memakaikan miliknya ke kaki Suzy. Tanpa berkata apa-apa ia menenteng heels milik Suzy dan menarik gadis itu berdiri lalu menggandengnya menuju keluar ballroom tempat pesta.

“Myungsoo, tapi ini—“

“Pakai itu atau kugendong?”

Suzy mengatupkan kembali mulutnya yang sudah hendak protes sambil berjalan mengikuti Myungsoo. Melihat Myungsoo dengan sisi manisnya membuat Suzy bingung harus berbuat apa dan membuat sesuatu di balik permukaan kulitnya berdesir cepat.

***

Yya, Park Chanyeol di mana ini?!” Seru Soojung tidak sabar sambil berusaha meraba udara kosong di hadapannya. Sudah sepuluh menit ia berjalan sambil dibimbing Chanyeol dengan scarf yang melilit di kepalanya sehingga pandangannya menjadi gelap.

“Sabar, kita baru saja keluar mobil,” Sahut Chanyeol sambil tersenyum dan terus membantu Soojung berjalan menuju ruangan yang telah ia persiapkan.

Setengah jam yang lalu, ia berhasil meloloskan dirinya dan Soojung dari pesta Minah. Dengan segala upaya akhirnya ia berhasil membujuk Soojung untuk mengantarkan gadis itu pulang dan akhirnya bisa menjalankan rencananya dengan mulus.

Beberapa hari yang lalu, setelah mendengar Suzy memberitahu Myungsoo bahwa sepertinya Soojung sudah memberi lampu hijau kepadanya, ia langsung mempersiapkan segala sesuatu untuk mengungkapkan perasaannya pada Soojung malam ini juga. Meskipun sudah terlihat jelas, ia ingin princess-nya mendengar pernyataan cinta terbaik dalam hidupnya. Ia tidak ingin mereka berkencan tanpa ada official confession.

“Saat kubilang tiga, kau boleh melihat.” Kata Chanyeol sambil melepaskan pegangannya pada bahu Soojung dan berdiri tiga meter di depan Soojung. Ia memberi kode dengan tangannya dan sontak lampu di ruangan itu padam. “Satu…”

Soojung merasakan jantungnya berdebar cukup keras. Ia masih tidak menyangka bahwa akhirnya ia bercerita ke Suzy kalau hatinya sudah bisa menerima Chanyeol setelah ia mengenal lebih dalam tentang Kingka itu. Masih terekam jelas di kepalanya saat ia curhat ke Suzy dan Yixing tentang segala tingkah laku 4D milik Chanyeol yang belum pernah ia lihat sebelumnya dan akhirnya membuatnya jatuh pada namja itu.

“…dua…tiga.”

Mendengar hitungan Chanyeol, Soojung melepas scarf yang melilit kepalanya. Ia mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan penglihatannya di ruangan yang ternyata sangat gelap itu. “Chan—“

Saat itu ruangan kembali menyala. Soojung melihat ke sekeliling dan sedikit bingung mendapati dirinya di ruangan berukuran empat kali empat meter yang lantai dan dindingnya berwarna putih. Soojung lalu melihat ke depannya dan tersenyum melihat Chanyeol berdiri di depannya sambil memegang sebuket bunga yang tersusun dari selusin bunga lili putih dan selusin bunga aster berwarna biru muda yang ditata dan dibungkus apik. Di belakang Chanyeol terlihat sebuah grand piano hitam.

Chanyeol berjalan ke arah Soojung dan menyerahkan bunga yang ia pegang lalu kembali berjalan mundur, kali ini ia duduk di kursi piano. Sebelum mulai memainkan lagu ia mengangkat tangannya dan menjetikkan jemarinya dua kali.

Dan saat itu Soojung memekik kaget saat tiba-tiba dinding putih di sekitar mereka hilang dan memperlihatkan akuarium raksasa dengan beragam macam biota laut di dalamnya. Ia menunduk ke bawah dan mundur beberapa langkah saat melihat lantai yang ia injak ternyata bukan lantai biasa, melainkan kaca yang memperlihatkan akuarium di bawahnya. Soojung tersenyum haru melihat sekelilingnya. Kawanan nemo lewat di bawah kakinya, membuatnya mundur beberapa langkah sambil tertawa. Di sisi kirinya terlihat beragam macam ikan laut dengan warna-warna khasnya yang semarak, sedangkan di dinding belakang Chanyeol terlihat ikan hiu besar yang berenang santai diikuti ratusan remora di kanan-kirinya.

Perhatian gadis itu kembali teralih ke Chanyeol saat jemari pria itu mulai menari di atas tuts dan menghasilkan denting lembut. Soojung menutup mulutnya cepat begitu sadar lagu yang sedang dimainkan Chanyeol. Ia merasa pandangannya mengabur karena air mata haru.

Thinking Out Loud

Soojung tidak bisa berkata sepatah kata pun selama pria di hadapannya bernyanyi. Selain sibuk mengendalikan detak jantungnya, ia terlalu bahagia dan bingung harus mengatakan apa.

Tak lama kemudian Chanyeol berdiri dan berjalan ke arahnya. Pria itu meraih tangan kanan Soojung dang menggenggamnya erat. “Jung Soojung, I never know that I would fall for you. I never thought that everynight I will stay awake, thinking about your smile, also smiling like idiot because you make my day a lot better. I know we just spending time for a couple of months, but for me it feels like I have knew you since a long time ago. I know I am not perfect, but I will try to be just for you. I want to spend more days with you, I want to acompany you to hospital, orphanhage, and also the dog house. I want you to see my 8D personality since you just seen 4. So, now I ask you, would you be mine?

Soojung tak perlu mengatakan sepatah katapun. Yang ia ingat adalah ia mengangguk dan senyum senang terlihat jelas di wajah Chanyeol sebelu akhirnya pria itu memeluknya erat.

***

Suzy bangun dengan senyuman di wajahnya. Entah karena apa. Ia sudah merasakannya sejak semalam. Sejak Myungsoo melambai ke arahnya dan memastikannya masuk ke dalam rumah, Suzy tak bisa berhenti tersenyum. Jantungnya juga terasa berdegup cepat. Beberapa minggu belakangan ini, tapa ia sadari dihabiskannya bersama Myungsoo, dan ditambah kejadian semalam, membuatnya tidur dengan senyum dan membuat jantungnya berdegup lebih cepat.

Dan mungkin itu juga alasan mengapa pukul sepuluh tepat ia sudah selesai mandi dan sedang asyik memilih pakaian di hari Minggu, hari di mana biasanya ia akan bangun siang sekali. Sambil menyenandungkan sebuah lagu, Suzy menarik baby tee putih bertuliskan ‘H A P P Y’ dan skinny jeans biru tua, lalu mengenakannya.

“Kau benar-benar terlihat happy.” Komentar Jackson yang sedang asyik menonton kartun di televisi dengan semangkuk sereal di pangkuannya begitu melihat Suzy turun tangga.

Suzy hanya tertawa sambil membuatkan dirinya juga semangkuk sereal dan bergabung dengan Jackson di sofa depan TV. “Memangnya salah, eoh?”

Jackson menggeleng sambil menoleh ke arah kakak sepupunya, “Tidak nuna, tidak salah. Hanya menunjukkan bahwa kau benar-benar sedang jatuh cinta.”

Naega?”

Jackson menggangguk semangat sambil membuka layar iPad-nya dan menunjukkannya ke arah Suzy. Terlihat artikel ’10 Tanda Kau Jatuh Cinta’ memenuhi layarnya. “Yya, sejak kapan kau mencari hal begini?” Seru Suzy.

“Sejak aku melihat kau menutup pintu semalam dengan pakaian pesta dan sepatu pantofel namja. Dan sepertinya intuisiku benar,” Jackson menyeringai senang sambil menyenggol bahu Suzy.

Good morning my lovely cousins!!!!” Seruan semangat Joohyun membuat penyangkalan Suzy tertahan di ujung lidah. Detik selanjutnya Suzy bisa merasakan lengan kecil merangkulnya dan Jackson dari belakang sofa. Aroma J.Lo number 11 memenuhi indra pembauan Suzy.

“Pagi nuna, tumben sekali kau ke sini, apakah kau harus membuat karangan ‘berkunjung ke rumah nenek’?” Goda Jackson karena Joohyun memang jarang main ke rumah nenek mereka.

Joohyun tertawa paksa sambil menghempaskan tubuhnya ke samping Suzy. “Kalian temani aku ya ya ya!!” Seru Joohyun sambil melakukan aegyo.

“Ke mana?”

“Mencari kado untuk Myungsoo.”

“Oh, first love-mu itu?”

WHAT?! FIRST LOVE?!’ Pekik Suzy dalam hati. Ia melihat ke arah Joohyun yang mengangguk sambil tersenyum malu-malu. Dan entah kenapa Suzy tidak menyukai itu. Ia tidak menyukai fakta bahwa first love Joohyun adalah Myungsoo. Ditambah ia tahu betul keduanya sangat dekat dan tumbuh besar bersama-sama. Ia tidak suka melihat Joohyun tersenyum malu-malu begitu. Untuk beberapa alasan, hatinya terasa ‘gatal’.

Solma…?’

***

“Kulihat kemarin kau berdansa dan mengantarkan Suzy pulang,” Kata Chanyeol ke arah Myungsoo yang sedang sibuk mengangkat dumbell.

Myungsoo mengerutkan keningnya, “Lalu kenapa?” Tanyanya tak mengerti maksud Chanyeol.

“Kau bilang kau tak menyukainya,” Kata Chanyeol gemas. Ingin ia melempar Myungsoo dengan botol minum yang ia pegang sekarang. Semalaman ia khawatir memikirkan ini segera setelah Soojung menyudahi pembicaraan mereka di telepon. Kalau benar Myungsoo suka pada Suzy semuanya akan kacau.

“Aku juga tidak tahu. Semakin hari perasaan itu bertambah kuat,” Jawab Myungsoo lirih. Chanyeol merasa kasihan sekali mendengar nada suara Myungsoo yang sangat pelan dan lelah itu. Ia juga tak bisa menolong kalau sudah menyangkut tentang perasaan. Karena bahkan si pemilik juga tak bisa mengontrolnya.

“Yoongi tidak boleh tahu.” Kata Chanyeol dengan berat hati. Ia tidak mungkin bisa melihat kedua sahabatnya bertengkar seperti ini.

“Kenapa aku tidak boleh tahu?” Tanya Yoongi dengan nada datar. Myungsoo dan Chanyeol serempak berbalik dan terkejut mendapati Yoongi berdiri sekitar dua meter dari Chanyeol. Wajahnya terlihat pucat dan lelah karena kesibukan syuting. Dan yang paling penting sorot matanya terlihat seperti, marah, rindu, sedih, bercampur menjadi satu.

To be continued


Hai!! Maaf banget telat update😦 Kuota aku abis dan sinyal nya sumpah minta ditinju😦

 

Anyway aku makasih banget buat yang udah komen, juga buat siders yang akhirnya berani muncul hehehe🙂

Dan aku juga mau bilang bahwa dalam dua sampai tiga chapter ini, High Society bakal sampai final. Aku juga mau bilang bahwa di chap terakhir aku bakal lebih fokus ke Myungsoo-Suzy-Yoongi. Dan aku juga minta maaf kalo chap ini berantakan hehehe *bow*

Afterall, thanks buat semua yang udah ngedukung aku selama ini, I Love You!!

tumblr_inline_nqocbklyy31szuc9h_500

102 responses to “[Chapter-7] High Society

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s