END (4/?)

end-mybabysuzy-copy

END

BAE SUZY | KIM MYUNGSOO

KANG SORA

HURT | SAD | MARRIAGE LIFE

Story line by Mybabysuzy or RSA
And poster by rosaliaocha@ochadreamstories

**********************************************************************************

Seoul, 2000

“Hiks… Hikss…”

Seorang gadis kecil berkuncir kuda menangis tersedu- sedu disebuah ayunan yang terletak di taman kecil. Hampir satu jam gadis itu menghabiskan waktunya untuk menumpahkan air matanya yang tak berhenti mengalir.

“Hei!”

Seruan dari orang asing itu, dia hiraukan. Gadis bergigi kelinci itu lebih memilih untuk menangis dari pada meladeni orang yang menurutnya asing itu. Lagipula, bisa saja orang yang memanggilnya itu satu kelompok orang yang suka meledekinya, bukan?

“Hei, kuda!”

Akhirnya gadis itu mendongakkan kepalanya, alangkah terkejutnya dia melihat seorang pria bemata sipit tengah berada dihadapannya. Gadis itu kira pria ini berada jauh darinya, karena selama ini tidak ada yang ingin berteman dengannya di daerah komplek rumahnya.

“Nugu?” Tanya gadis itu- Sooji-.

Pria itu terkekeh begitu melihat cairan putih keluar dari hidung Sooji, membuat gadis kecil itu merenggut dibuatnya. Pria itu tanpa jijik mengelap cairan putih kental itu, dan alhasil membuat Sooji terpengarah. Hei, apa pria ini tidak jijik?

“Apa yang kau lakukan?” Tanya Sooji lagi.

Pria itu tersenyum simpul, menunjukkan lesung pipi-nya yang membuatnya terlihat manis sekaligus tampan. Pria itu lantas melangkah dan duduk di sebelah ayunan Sooji. Pria itu kemudian menatap Sooji masih mengulum senyum manisnya.

“Wae urro? Apa ada yang mengganggu-mu, nona kuda?”

Sooji membelalakan kedua matanya. Dia mendengus sembari menatap tajam pria disampingnya. Sooji sedang kesal sekarang. Meski pria disampingnya ini baik kepadanya, tetapi tetap saja pria ini menyebalkan. Sangat.

“Yya! Jangan memanggilku kuda! Aku memiliki nama, babo-ya!”

Bukannya marah karena dipanggil bodoh, pria itu lantas tertawa kecil. Sepintas ide jahil melewati kepalanya membuat pria itu mengulum senyum nakalnya. Sementara, Sooji hanya diam dengan dahi yang mengeryit.

“Nan Kim Myungsoo, dan kau bisa memanggilku dengan sebutan ‘oppa’, Kau tidak perlu memperkenalkan namamu! Karena aku sudah memiliki nama khusus untukmu! Kau ingin mendnegarnya?”

Sooji masih terdiam. Bingung akan perkataan pria disampingnya yang dia ketahui bernama Myungsoo. Nama khusus? Maksudnya pria itu akan memanggilnya berbeda dengan yang lainnya? Apa alasannay kalau begitu?

“Nama khusus? Mwondae, oppa?”

“Kelinci berkuncir kuda, otteae? Nama yang bagus bukan?”

“NE? Yya, oppa! Panggilan macam apa itu? Shiireo! Anjoha!”

Myungsoo hanya mengangkat kedua bahunya acuh seiring tawanya yang meledak. Pria itu kemudian menghentikan tawanya dan kembali menatap kelincin-nya yang merenggut itu. Aigoo, lucunya.

“Jangan salah paham, kelinci. Aku tidak mengejek-mu seperti yang lain katakana. Menurutku itu nama yang bagus dan cocok untukmu. Gigimu seperti kelinci dan itu membuatmu terlihat cantik dan lucu. Berhubung kau sering dikuncir kuda seperti itu, aku menggabungkan namamu. Tidak buruk, bukan?”

Pipi putih Sooji perlahan mulai memanas, terlihat begitu merah seperti tomat. Sooji mengeryit saat dirasanya jantungnya berdetak cepat. Hei, apa yang terjadi dengan jantungnya ini? Omo, apa dia memiliki penyakit jantung?

“Kelinci, wae geurae?”

“Ne? An.. niya. Ah, karena oppa memiliki panggilan khusus untukku. Aku juga akan memanggilmu dengan panggilan khusus, ottae?”

“Jinjja? Joha. Mwondae igeo?”

Sooji mengusap dagunya, otaknya berputar mencari sebuah nama yang bagus untuk oppa-nya ini. Senyum Sooji seketika mengembang begitu mendapat ide bagus untuk nama khusus yang akan diberikan untuk Myungsoo.

“Ah, Myungie oppa? Ottae?”

“Call!”

Keduanya terkekeh bersama. Semenjak itulah sebuah persahabatan erat terjalin diantara sepasang makhluk adam itu. Sebuah persahabatan manis yang berjalan dengan indah. Keduanya saling melindungi satu sama lain dan saling melengkapi satu sama lain. Seperti itulah persahabatan indah mereka.

Hingga suatu hari, takdir memisahkan mereka. Sooji diharuskan pindah ke Amerika mengikuti orang tuanya yang memiliki perkerjaan disana. Meski sebuah hubungan persahabatan itu baru berjalan satu bulan, tetapi bagi Sooji itu adalah sebuah kenangan manis yang tidak akan Sooji lupakan. Sooji berjanji.

*******

“Kau gila!”

“Kau tidak waras, Myung!”

Myungsoo menarik salah satu ujung bibirnya, membentuk sebuah senyuman sinis begitu mendengar ocehan kedua sahabatnya yang ditujukan untuknya. Jauh hari sebelum malam ini, Myungsoo yakin akan menerima segala ocehan begitu kedua sahabatnya mengetahui siapa Sooji sebenarnya.

“Mwo? Gila? Aku tidak gila, guys.” Timpalnya.

Sehun dan Kai terlihat menggeram kesal mendengar jawaban dari sahabatnya itu. Tidak, sedari tadi mereka mengoceh sahabatnya itu hanya menjawabnya dengan acuh. Ini gila. Semua ini gila. Dan Myungsoo sudah gila, menurut mereka.

“Dia istrimu, tuan Kim! Dan dia sedang mengandung anakmu, dan kau dengan santainya mengundang kami untuk menyakitinya?! OhGosh! Apa yang ada dalam pikiranmu, hah? Bagaimana jika aku tidak tahu dan kami melakukannya?! Dia akan terluka, bodoh!”

Kai menganggukkan kepalanya, ia sudah terlalu lelah untuk mengeluarkan segala macam ocehannya. Pasalnya hampir satu jam tadi ia mengoceh, dan saat ini giliran Sehun. Di sisi lain, Myungsoo tampak mengeluarkan gelak tawanya. Kedua mata tajamnya menatap datar dua sosok pria yang sedang menghakiminya.

“Anakku? Bahkan kalian pernah melakukannya dan aku masih mempercayai anak yang dikandungnya adalah anakku? Aku bahkan tidak tahu seberapa banyak namja yang pernah tidur dengannya. Ah, apa perlu kuingatkan? Saat itu kalian sangat menikmatinya meski dalam keadaan mabuk, bukan? Come on, guys! Jangan bersikap munafik seperti ini.”

Baik Sehun maupun Jongin menggeram, mengepalkan kedua tangannya. Meski mereka tidak mengenal siapa si istri Myungsoo, namun mereka bisa melihat dengan jelas bagaiamana penderitaan Sooji. Dan Myungsoo masih sempat berbiacara seperti itu? God!

“YYA!” Pekik Sehun.

Kai lantas menahan lengan Sehun yang sudah mengepalkan tangannya, hendak meninju wajah tampan Myungsoo.

“Geurae, kami memang menikmatinya. Kami tidak akan berbicara hal munafik disini. Meski kami tak mengenalnya, tapi kami yakin dia banyak menderita karena dirimu. Hei, Myung! Meski kami bukanlah pria yang baik, tapi kami masih memiliki hati nurani! Seharusnya kau menghargai istrimu! Seberapa buruknya dia, kau harus tetap memperlakukannya dengan baik!”

Sekalig lagi, pria bernama Myungsoo itu mengeluarkan gelak tawanya. Entahlah. Myungsoo merasa semua perkataan Jong in itu sangatlah lucu. Sahabatnya itu tidak mengerti apa alasan dibalik semua perlakuannya terhadap istrinya. Mereka tidak mengerti! Dan tidak akan pernah mengerti!

“Aku memiliki alasan, dan kalian tidak mengetahui itu. Aku yakin kalian akan mengerti mengapa aku berbuat sedemikian rupa.”

Sehun mengerutkan dahinya, begitu pun dengan Kai. Tidak- tidak…. Apapun alasan Myungsoo, tetap saja pria itu tak sepantasnya memperlakukan istrinya seperti itu! Ya! Tidak seharusnya Myungsoo bersikap demikian!

“Alasan? Cih, alasan gila-mu itu, tuan Kim? Kau pikir itu kesalahan Sooji, eoh? Jelas- jelas kau yang memulainya, dan kaulah yang telah salah paham maksud dari gadismu, bukan? Berkacalah sebelum berbicara!”

Ketiga pria itu lantas menoleh begitu mendengar perkataan dari sang sumber. Dahi mereka serempak mengerut melihat sosok wanita dengan pakaian modisnya, sementara disampingnya terlihat sosok wanita tua yang Myungsoo tahu adalah tetangganya itu.

Jangan heran, mengapa bisa dua wanita ini saling mengenal. Saat Sora hendak masuk kedalam rumah Sooji untuk mengembalikan dompet Sooji, Sora melihat sosok wanita tua yang berdiri didepan rumah Sooji dengan wajah gusar. Setelah memperkenalkan diri mereka, keduanya saling mengetahui akan sosok satu sama lain. Pasalnya Sooji sering menceritakan keduanya satu sama lain.

Dan ketika Sora menanyakan mengapa Nenek Han berada didepan rumah Sooji. Nenek Han berkata bahwa sedari tadi perasaannya tidak enak dan Nenek Han melihat beberapa namja asing yang tak dikenalnya memasuki rumah Sooji. Sebagai seorang wanita, Nenek Han takut terjadi sesuatu mengingat keberadaan pria- pria asing itu.

“Nugu?” Tanya Myungsoo.

“Ck, masih bertanya siapa aku? Pria sepertimu tak pantas mengetahui siapa aku. Pria brengsek sepertimu tidak pantas menyakiti Sooji yang sangat baik! Pria brengsek sepertimu SANGAT SANGAT MENJIJIKAN, ARRA?!”

Tampak Sora yang memejamkan matanya, menahan segala amrah yang merasuki tubuhnya. Jika saja nenek Han tidak menahan lengannya, mungkin Sora telah memukul habis Myungsoo dengan tinjunya itu.

Di sisi lain, kedua pria tampan itu tecengang mendengarnya sementara otak mereka yang masih berusaha mencerna siapa sosok wanita ini. Apa mungkin kakak dari istri Myungsoo? Sahabat? Atau guardian angel?

Dan sementara itu, Myungsoo terlihat telah mengepalkan tangannya kuat- kuat. Berusaha susah payah untuk mencegah mencurahkan emosinya itu kepada wanita tak dikenalnya itu. Akan rumit jika Myungsoo sampai memukul atau terbawa emosi atas perkataan wanita ini!

“Apa yang kau ketahui tentang diriku, nona?”

“Naega? Seperti segala macam kebusukan-mu itu? Atau seberapa brengseknya dirimu itu, tuan Kim? Aku tidak menyangka seorang pengusaha muda yang terkenal seperti-mu ini adalah pria brengsek. Terdengar sangat mengerikan dan menjijikan, bukan?”

Begitu Sora menyelesaikan perkataannya, Myungsoo sontak bangkit dari duduknya, mengepalkan tangannya kuat. Untung saja, kedua pria tampan itu dnegan cekatan menahan tubuh Myungsoo yang hampir meledak itu.

“Sudahlah, Sora-ya. Lebih baik kita segera menmukan Sooji, kau lihat pesan dari ponselnya yang terjatuh didepan pintu tadi,kan? Sooji pasti sedang bersedih dan mungkin mentalnya sedang terguncang. Kau sendiri seorang dokter, nenek yakin kau lebih mengerti. Kajja, kita ke kamar Sooji.”

Sora mengangguk lemas, kemudian wanita itu melangkah menuju kamar Sooji beriringan dengan nenek Han. Sementara itu, Myungsoo terlihat bingung mendnegar pernyataan nenek Han. Pesan? Ponsel Sooji? Ada apa sebenarnya? Tidak- tidak! Mengapa dia harus peduli dengan wanita itu? Yatuhan!

“Apa alasanmu, Myung? Ceritakanlah! Jigeum danjang!”

Myungsoo yang hendak mengeluarkan suaranya lantas mengurungkan niatannya itu, begitu dering ponselnya tertangkap oleh telinganya. Tanpa berlama- lama Myungsoo segera menggeser tombol hijau meskipun ada perasaan heran melihat si id penelpon. Bukankah itu nomor sebuah rumah sakit?

“Yeobseyeo.”

“Selamat malam, tuan. Apa benar ini tuan Kim Myungsoo?”

“Ye, ada apa?”

“Kami dari pihak rumah sakit ingin mengabari bahwa kedua orang tua anda sedang menjalani masa kritisnya akibat kecelakaan pesawat yang dialaminya. Kami berharap anda akan segera datang ke rumah sakit untuk menengok keadaa beliau.”

“MWO?”

Sejurus pekikan Myungsoo menggema, disalah satu sebuah kamar luas yang dipenuhi fasilitas mewah. Wanita cantik yang berkerja sebagai dokter dirumah sakit terkenal itu ikut mengeluarkan suaranya, beradu pekik dengan suara MYungsoo.

“SOOJI!”

**********************

Perlahan kedua kelopak mata Sooji terbuka, menampilkan sepasang bola mata berwarna almond yang nampak begitu indah. Sooji yang masih berusaha mengumpulkan seluruh kesadarannya mengerang kecil saat dirasanya rasa nyeri menyelimuti bagian perutnya.

“Eo.. eonni..” Lirihnya.

Sora yang sedang terlelap lantas terbangun dan segera bangkit mendekati ranjang Sooji dan menggengam tangan Sooji lembut setelah mengambil segelas air putih yang berada disebelah ranjang Sooji.

“Kau pasti haus, minumlah.”

Sooji mengangguk, kemudian bangkit dari tidurnya perlahan dengan bantuan Sora. Dengan hati- hati Sooji menegak air putihnya agar tenggorokan tidak terasa kering dan memudahkannya untuk berbicara.

“Gomawo.” Ujarnya pelan.

Sora mengangguk sembari mengulum senyumnya. Seperkian detik kemudian, kedua bola matanya menatap Sooji dengan sendu. Sooji yang menyadarinya lantas mengeryit heran. Dia tidak mengerti mengapa Sora menatapnya begitu sendu? Ada apa sebenarnya?

“Gwenchanha? Kau membuatku khawatir, Sooji. Maaf… maafkan aku yang tidak bisa melindungi-mu dari pria itu. Sungguh, maafkan aku.” Ujarnya. “Aku merasa begitu bersalah membiarkanmu terluka seperti ini. Tak seharusnya aku.. aku meninggalkanmu dan membirakanmu bersama pria sialan itu, maaf.. “

Sooji menggeleng pelan, kemudian menggengam balik tangan Sora dengan lembut. Tangan kanan Sooji terulur membelai pipi putih Sora agar wanita itu tidak lagi menundukkan kepalanya. Jika begini, Soojilah yang merasa bersalah karena membuat wanita ini bersedih.

“Aniya, eonnie. Kau tidak bersalah dan aku bersyukur karena kau ada disisi-ku. Kau seperti kakak kandungku sendiri, eonnie. Jangan bersedih jika kau tidak ingin aku bersedih lagi. Kau mengerti?”

Seketika senyum Sora mengembang mendengar penuturan Sooji. Wanita itu lantas memeluk tubuh lemah Sooji dengan lembut. Ia tidak ingin menyakiti Sooji karena pelukannya yang terlalu erat dan membuat Sooji sesak napas. Oh, jangan sampai.

Namun, seperti baru menyadari sesautu. Sooji mengeryitkan dahinya, mencari sesatu hal yang terasanya ia lupakan. Sooji yakin ada yang ia lupakan. Tapi, apa itu? Sepertkian detik kemudian, kedua bola mata Sooji membulat begitu mengingat akan sesuatu yang ia lupakan.

“ANDWAE!”

Sora segera melepaskan Sooji. Ditahanya tubuh Sooji yang sedang memberontak ingin turun, ia harus mendengar penjelasan Sooji terlebih dahulu. Lagipula ia harus menenangkan Sooji agar wanita ini bisa menemui kedua orang tuanya itu.

“Aniya, aniya.. Eonni, aku salah, kan? Aku pasti salah mendapat pesan! Orang itu pasti salah mengirimkan pesan untukku, geutchi? Eonnie, jawablah aku! Jebal! Jawablah!”

Tanpa menjawab Sora lantas kembali mendekap tubuh Sooji. Sooji terisak, mengeluarkan persedian air matanya tanpa ragu. Dunianya seakan hancur mendengar berita yang membuatnya seakan di dalam ambang kematian. Sooji tidak mengerti, sangat. Mengapa takdirnya begitu kejam?

“Tenanglah, orang tuamu masih ditangani didalam. Kau tak perlu khawatir, tenanglah.”

Sooji hanya mengangguk, meski isak tangsinya masih menggema diseluruh ruangan bernuansa putih itu. Sooji berusaha untuk mempercayai Sora. Percaya bahwa takdir baiklah yang akan menimpanya setelah ini. Percaya bahwa kedua orang tuanya akan baik- baik saja didalam ruang operasi.

Tapi, sebuah kepercayaan akan takdir baik yang menimpanya sirna begitu saja. Sooji baru menyadarinya. Perutnya tidak membuncit lagi. Tubuhnya terasa ringan. Perutnya… bayinya… anaknya… apa yang terjadi?

Sebuah gelengan kuat Sooji gerakan, tangannya terulur menyentuh perutnya. Sekuat tenaga Sooji berusaha untuk mengelak takdir kejam itu. Tidak! Sooji percaya Tuhan menyanyanginya. Sooji percaya akan hal itu. Lalu, mengapa takdirnya begitu kejam seperti ini? Mengapa langit tak berpihak kepadanya? Apa salahnya, Tuhan?

“An.. aniya, maldo.. adwae… semua ini pasti mimpi, matchi? Geutchi, eonnie? Aigoo.. mengapa mimpiku sangat buruk seperti ini? Aku pasti belum membersihkan tubuhku sebelum tidur, geucthi eonnie?”

Sora mengerti. Sora mengerti akan pembicaraan Sooji. Wanita itu pasti telah menyadarinya. Menyadari takdir kejam yang menimpanya. Bayinya telah tiada. Calon bayi yang menjadi penyemangat hidupnya telah tiada dan telah berada disisi-Nya. Bayinya terenggut akibat guncangan mental Sooji setelah mendapat perlakuan seperti itu dan berita buruk tentang orang tuanya. Tidak. Sooji tidak bersalah. Hanya saja langit sedang tidak berpihak kepada Sooji saat ini. Ya, takdir tak mengizinkannya.

“Eo.. eonnie, jawablah.” Lirih Sooji.

Mata indah berwarna kecoklatan yang terlihat begitu menawan kembali terhiasi kaca. Kaca bening yang selalu menghiasi kehidupannya dua tahun belakangan ini. Cairan bening bak Kristal berkumpul dipelupuk matanya, siap terjun bebas membanjiri pipinya kapan saja.

“Mianhae, Sooji-ya.” Gumam Sora.

Lagi. Sooji menggeleng kuat, semuanya pasti salah. Tidak. Ini tidak mungkin terjadi. Gosh! Mengapa air matanya kembali mengalir? Hei, semua ini pasti hanya mimpi. Mengapa dirinya terlalu terbawa suasana di alam mimpinya?

“Maaf.. maafkan aku, Sooji.”

“ANIYA! KAU SALAH, EONNI! SEMUA INI HANYA MIMPI, GEUTCHI? GEUNYANG KKEUM! ANIYA! ANDWAE!”

Sooji memberontak. Melepaskan kuat dekapan Sora yang semakin menguat. Tidak peduli jika Sora akan terluka karena pembrontakkannya. Bukan itu yang terpenting saat ini. Sora tak menyerah, tenaganya lebih kuat dari Sooji sehingga membuatnya masih mendekap tubuh Sooji.

“Suster! Bawakan obat penenang!”

Sooji menyerah. Tenaganya habis. Wanita itu hanya terisak sembari memukul kecil tubuh Sora. Tuhan, mengapa sosok yang menjadi penyemangat hidupnya hilang? Mengapa Kau merenggutnya? Kesalahan apa yang telah Sooji perbuat hingga takdir dan langit tak memihak kepadanya?

“Eo.. eonnie..”

Sooji berlirih pelan sebelum kesadarannya hilang karena obat penenang yang disuntikan oleh seorang suster. Perlahan Sora merebahkan tubuh Sooji, membetulkan selimut rumah sakit hingga menutupi tubuh Sooji. Sora tersenyum tipis sembari menatap wajah damai Sooji yang terlelap, sembari tangannya yang membelai pipi Sooji yang semakin tirus setiap harinya.

***************

Tiga wanita dan tiga pria itu terlihat begitu khawatir, menunggu di luar ruang operasi rumah sakit itu. Sang pria bernama Myungsoo sedari tadi berjalan kesana dan kemari yang membuatnya terlihat begitu mengkhawatirkan keadaan orang tuanya. Kedua sahabatnya hanya duduk dengan wajah gusarnya. Meski tak terlalu dekat, tapi setidaknya mereka mengenal orang tua Myungsoo dan orang tua Myungsoo-lah yang mempekerjakan mereka diperusahaan Myungsoo.

Sementara itu, Sooji hanya menatap datar dengan pandangan kosongnya. Tiang infus masih menamninya dengan setia dua jam terakhir ini, sebagai asupan energinya. Kedua wanita lainnya sedari tadi hanya menatap sendu sosok Sooji meski rasa khawatir menyelimuti keduanya.

“Myungsoo-ya! Tenanglah, kami yakin orang tua-mu akan baik- baik saja.”

Myungsoo menghentikan kegiatannya begitu mendengar teguran Sehun. Tanpa sengaja matanya teralih kepada sosok Sooji yang terlihat pucat pasi dengan tubuhnya yang kurus itu. Bahkan wanita yang selalu menunjukkan senyum cerahnya kini terlihat tak benyawa. Menyedihkan.

‘Cklek’

Semuanya menoleh begitu pintu ruang operasi terbuka sempurna, menampilkan beberapa dokter dan juga perawat yang baru saja berusaha menyelawatkan nyawa kedua orang tua Sooji dan Myungsoo. Terlihat dengan jelas pancaran kecemasan dan harapan yang begitu besar.

“Uisanim, bagaimana keadaan orang tuaku?” Ujar Sooji dengan cepat. “Mereka baik- baik saja, bukan? Tidak ada hal buruk yang terjadi, bukan? Uisanim, anda pasti menyelamatkan mereka bukan? Uisanim, jawablah aku.”

Semuanya sontak menatap Sooji dengan sedih, termasuk para dokter. Kecuali, pria bernama Myungsoo yang menatap Sooji dengan pandangan yang sulit diartikan. Terbesit perasaan iba melihat sosok ceria Sooji yang terlihat begitu rapuh. Namun, bukan seorang Kim namanya jika tidak membuang perasaan itu dengan cepat.

“Anda anak dari Tuan Bae atau Tuan Kim, nona?”

“Bae Jongsuk. Mereka baik- baik saja, bukan uisanim?”

Sooji berjalan mendekati kumpulan para dokter tersebut, menyeret kakinya dengan lemah. Sooji menggeleng begitu melihat sang dokter menatapnya sedih sembari menghela nafasnya. Tidak. Itu tidak mungkin terjadi.

“Maafkan kami, kami sudah berusaha sekuat tenaga dan semampu kami. Tetapi, karena cedera yang dialami Tuan Bae dan Nyonya Bae sangatlah parah. Kami tidak mampu menyelamatkannya. Sementara itu, Tuan Kim dan Nyonya Kim behasil kami selamatkan.”

Myungsoo, Sehun dan Kai bernafas lega. Kekhawatiran mereka seketika terlepas dan tak menghantui mereka lagi. Tubuh mereka terasa begitu ringan seketika. Orang tua Myungsoo baik- baik saja. Sebuah berita yang membuat mereka bisa bernafas lagi.

Lain halnya dengan Sooji, wanita itu menggeleng kuat seraya cairan bening yang berjatuhan membanjiri pipinya. Tangan lemahnya mencengkram lengan seorang dokter pria yang seumuran dengan ayahnya.

“Aniya, kau pasti salah, uisaim. Sora eonnie, kau juga seorang dokter, bukan? Mengapa kau hanya diam, hm? Selamatkan orang tuaku, eonie! Mengapa kau hanya ter…”

Belum sempat Sooji menyelesaikan perkatannya. Kepala Sooji terasa bedenyut beradu dengan detak jantungnya yang semakin terpompa dengan cepat. Sooji mencengkram kepalanya yang terasa sakit. Pandangannya semakin buram sebelum akhirnya kesadarannya menghilang. Beruntunglah Myungsoo yang segera menangkap tubuh Sooji sebelum tubuh wanita itu terjatuh.

****************

Pemakaman untuk orang tua Suzy telah dilaksanakan, kini baik Myungsoo maupun Sooji berada dirumah duka untuk mempersilahkan rekan kerja, kerabat dan para sahabat orang tua Sooji untuk menyampaikan pesan terakhir dan mengirim doa. Sehun, Kai, Sora dan Nenek Han berada disana juga.

Jika Myungsoo selalu membalas bungkukan sopan dari para tamu, sementara itu Sooji hanya diam dengan tatapan kosongnya. Myungsoo jelas menyadarinya, namun ia tidak ambil pusing. Toh selama ini memang dirinya tidak peduli pada wanita itu. Ia tak perlu repot- repot bebelas kasihan hanya karena orang tua Sooji meninggal dunia.

‘Drt.. Drt… Drt…’

Myungsoo segera merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel canggih miliknya. Pria itu dengan lincah menarikan jemarinya, membuka aplikasi pesan yang bertanda ‘4’. Siapa yang mengirimi pesan sebanyak ini?

‘Aku Sora, aku mendapat nomermu dari Sehun. Tak bisakah kau menenagnkan Myungsoo-ssi? Meski dia terlihat cukup tenang karena terdiam, tapi aku bisa melihat jelas Sooji seperti tak bernyawa saat ini. Aku dan Nenek Han sudah mencoba untuk mengembalikan semangantnya, namun gagal. Tak bisakah kau mencobanya? Meski hanya sekali?’

‘Myung, seburuk apapun dia. Saat ini dia membutuhkan seseorang untuk bersandar, dan orang itu adalah kau. Lupakan permasalahan kalian dan jauhkan ego-mu itu. Dan tolonglah dia untuk kali ini. –Oh Sehun’

‘Aku tidak tahu apa permasalahan kalian, geundae kau tetaplah yang bersalah disini. Kau telah menyakitinya begitu banyak, saat inilah kau tebus kesalahanmu meski hanya satu kali. Tolong dia, Myung!-Kai’

‘Sebagai tetangga kalian, aku rasa rumah tangga kalian baik- baik saja. Namun, ketika aku dan Sooji mulai dekat dan sering menghabiskan waktu bersama. Aku dapat melihatnya,Myungsoo. Wanita cantik ini selalu tersenyum, menutupi segala luka yang ia miliki. Sooji adalah gadis yang baik, bantulah dia kali ini. Setidaknya bujuklah ia untuk makan.’

Myungsoo kembali menaruh ponselnya di saku celana, pria itu mengalihkan pandangannya kearah empat makhluk adam yang sedang menatapnya penuh harap dari kejauhan. Myungsoo mendesah pelan. Jika sudah begini, sangat sulit untuk menolak permintaan mereka terlebih tatapan penuh harap yang membuat Myungsoo kesal setengah mati.

Myungsoo melirik sedikit Sooji yang masih diam tak bergeming. Sooji terlihat seperti patung tak benyawa sedari tadi. Helaan nafas Myungsoo hembuskan sebelum akhirnya ia membuka suaranya.

“Istirahatlah, aku yang akan menyambut para tamu.”

Sooji tak bergeming. Wanita cantik itu masih saja mengukuhkan pendiriannya untuk tetap diam. Tidak. Sebenarnya ia tidak ingin terdiam seperti ini, namun keadaanlah yang membuatnya terlihat seperti orang bodoh.

“Setidaknya makanlah sesuatu, setelah itu kau bisa menyambut tamu lagi, Sooji.”

Perlahan, Sooji menolehkan kepalanya kepada Myungsoo. Menatap pria itu dingin hingga membuat Myungsoo terkesiap. Ini pertama kalinya istrinya itu menatapnya dingin dengan penuh amarah seperti ini.

“Jangan berlagak kau adalah suami yang baik, Myungsoo-ssi. Perlakukan istrimu seperti biasa. Gerigo, aku tidak butuh belas kasihanmu itu.” Ujar Sooji sembari tertawa kecil.”Ah, apa karena banyak rekan bisnis appa kau bersikap seperti ini? Ck, kau menggelikan.”

Myungsoo tertegun. Rangkaian kalimat tajam yang untuk pertama kalinya Sooji layangkan untuknya. Tidak. Myungsoo tak merasa marah akibat perkataan Sooji, ia juga tidak mengerti.

“Kau tahu? Hal paling bodoh yang pernah kulakukan? Berharap kau akan mengingatku dan kau akan merubah sikap-mu kepadaku. Tapi….”

Sooji tidak melanjutkan kalimatnya. Matanya tertuju kepada segerombolan wartawan yang sedang berjalan kearahnya. Myungsoo yang melihat Sooji terdiam lantas mengikuti arah pandang Sooji. Myungsoo mengeryit, ada apa wartawan ini kemari?

“Selamat siang, Nona Bae dan Tuan Kim. Kami hanya ingin meminta beberapa penjelasan akan kematian kedua orang tua anda Sooji-ssi. Kami dengar orang tua anda mengalami kecelakaan pesawat. Kemudian, ada hal aneh disana. Kami dengar orang tua anda dan Tuan Kim Myungsoo bersama didalam satu deret bangku. Dan beberapa kali saya melihat kedua orang tua anda menghabiskan waktu bersama disela mengurusi bisnisnya. Dan yang membuat kami semakin heran, mengapa anda bisa disini Myungsoo-ssi? Bahkan anda menyambut tamu, apa mungkin kalian berdua memiliki sebuah hubungan?”

Sooji tediam, begitu pun dengan Myungsoo. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka katakana. Meski pernikahan mereka telah berusia dua tahun, pernikahan mereka masih bersifat rahasia. Dan hanya diketahui oleh kerabat dekat, bahkan sahabat mereka tidak ada yang mengetahuinya. Seperti Sehun dan Jongin.

“Saya mendapatkan sebuah foto setelah mengamati beberapa hari rumah anda, Myungsoo-ssi. Beberapa kali saya melihat Sooji-ssi keluar dari sana. Apa mungkin kalian tinggal bersama? Atau mungkin kalian telah menikah?”

Sooji ragu. Percuma saja jika dia mengumukan pernikahan ini, bukankah pernikahan ini juga akan berakhir. Namun, disisi lain Sooji ingin dunia mengetahui bahwa dia adalah istri sah Myungsoo. Meski hanya sebentar, Sooji ingin dunia mengetahuinya.

“Maaf, apa anda tidak tahu suasana? Sooji tengah berkabung, bagaimana bisa anda bersikap seperti ini? Sebagai dokter, saya bisa menilai jika kalian terus memperlakukannya seperti ini, mental Sooji bisa terguncang. Apa kalian ingin saya tuntut selaku dokter pribadi Nona Bae?”

Para wartawan itu lantas menoleh. Nampak jelas kerutan didahi mereka melihat sosok wanita yang bersebelahan dengan nenek tua dan dua pria muda. Siapa mereka? Apa hubungan mereka dengan Sooji dan Myungsoo?

“Nuguseyeo? Apa mungkin kalian keluarga Sooji atau Myungsoo? Atau sahabatnya? Apa anda mengetahui fakta mereka tinggal bersama?”

“Atau mungkin kalian tahu hubungan Antara Sooji dan Myungsoo?”

Myungsoo mendesah. Ia benci disituasi seperti ini, terpojok dan tidak tahu harus melakukan apa. Citranya bisa terccoreng sebagai pengusaha termuda dengan image baiknya jika dia tak mengungkapkan hubungannya dengan Sooji.

“Kami telah menikah.” Ujar Myungsoo cepat.

Semua orang yang berada disana, termasuk Sooji melongo tak percaya. Mengapa suaminya berkata jujur seperti ini? Apa keuntungannya? Ah, pasti citranya karena wartawan telah menemukan bukti mereka tinggal bersama. Sooji hampir lupa bahwa suaminya ini adalah sosok pengusaha termuda yang memiliki citra bersih.

Sementara itu, para wartawan kini kembali memutar tubuh mereka. Merekam baik- baik setiap kejadian yang tengah mereka saksikan. Tanpa berlama- lama para wartawan itu kini mulai membabi buta sepasang suami istri itu dengan segala pertanyaan.

“Myungsoo-ssi, apa itu benar?”

“Mengapa kalian bisa menikah? Apa kalian sebelumnya telah menjalani suatu hubungan?”

“Atau mungkin pernikahan kalian layaknya para bansawan di negeri ini? Perjodohan tepatnya. Apa itu benar?”

“Sooji-ssi, beri kami tanggapan dan penjelasan. Juseyeo.”

“Lalu, berapa lama usia perniakahan kalian?”

“Apa Sooji-ssi telah mengandung?”

Sooji hanya terdiam. Matanya menatap kosong sekumpulan wartawan yang terus membabi butanya itu. Entahlah, Sooji bingung saat ini. Keinginannya adalah dunia mengatahui bahwa dirinya adalah istri sah Kim Myungsoo. Tetapi, rasanya sangat menyakitkan jika dirinya harus membohongi dunia. Bukankah pernikahan ini tidak lebih dari sebuah ikatan yang digunakan untuk memuaskan hasrat suaminya? Mengerikan sekali.

“A.. animida, geu..”

Sooji tidak melanjutkannya. Tubuhnya terasa sangat lemas seketika mengingat dirinya belum memakan apapun sejak semalam hinggga sore ini. Mentalnya jelas terguncang dengan semua ini yang membuat Sooji tak berdaya dan lemah seperti ini. Terlebih, rasa sakit yang masih menggelayuti perutnya akibat bayinya yang telah menghilang.

Seperkian detik kemudian, tubuh Sooji terjatuh. Beruntung suaminya itu dengan sigap menahan tubuh Sooji. Semuanya tercengang, dengan cepat Sora menghampiri tubuh Soooji dan mereka segera membawa Sooji ke rumah mereka.

********************

“Sora-ssi?”

Sora yang sehabis memeriksa Sooji dan mengganti kompresan Sooji menoleh ke arah Myungsoo yang kini berada dihadapannya. Tapi, Sora tak menjawab dia hanya terdiam sembari menatap Myungsoo yang seakan berkata ‘Mwo?’.

“Apa tidak perlu dibawa ke rumah sakit? Keadaannya tidak baik, Sora-ssi.”

Sora menghela nafasnya kasar. Sejujurnya, saat ini dia ingin memaki Myungsoo akan semua yang telah dilakukan terhadap Sooji. Tetapi, mengingat Sooji yang sudah terlelap nyenyak. Sora urungkan kembali niatanya itu.

“Sooji tidak nyaman berada didalam rumah sakit. Saya juga seorang dokter dan jelas tahu bagaimana keadaan Sooji. Anda tidak seharusnya secemas ini, Myungsoo-ssi.”

“Ne?”

Mendengar kata ‘harus’ Myungsoo seakan tersadar. Tidak. Dia tidak mencemaskan keadaan gadis itu. Hanya saja didalam hatinya terbesit perasaan iba terhadap gadis lemah seperti Sooji. Lagipula, jika saja Sehun dan kai yang tidak menceramahinya tadi Myungsoo tidak mungkin berdiri disini dan mengucapkan hal itu.

“Ah, anda tidak mungkin mencemaska keadaan Sooji. Mengingat seberapa buruknya dirimu itu, Myungsoo-ssi.”

Myungsoo terlihat geram. Niat baiknya kini terbuang begitu saja dan digantikan perasaan kesal yang mengebu- gebu. Rasa kesal dan emosinya yang hampir saja ia ledakan kembali terurung begitu Sora kembali mengeluarkan suaranya.

“Bisakah kita berbicara sebentar? Dan jangan disini. Sooji akan terganggu nantinya, bagaimana jika di ruang tamu besar-mu itu, tuan?”

Myungsoo hanya mengangguk. Tak ada salahnya bukan berbicara dengan dokter cantik ini? Mungkin ada hal serius yang ingin dikatan dokter ini, atau bisa saja mengenai keadaan Sooji. Setidaknya beberapa hari kedepan dirinya pasti menjadi sorotan media, bagaimana jika media itu menangkap perilaku buruknya itu? Tamatlah riwayatnya itu.

Keduanya berjalan dalam hening hingga keduanya berada diruang tamu dan mendudukan dirinya masing- masing dengan berhadapan.

“Apa yang ingin kau bicarakan, Sora-ssi?”

Sora menarik nafasnya dalam sebelum menghembuskannya perlahan. Tatapan Sora kini mendingin, sedingin salju dikutub utara. Pria bernama Myungsoo itu terkesiap mendapat tatapan dingin yang terselip kebencian dan kemarahan yang begitu besar. Myungsoo bisa merasakannya.

“Apa kau puas setelah membuat Sooji terluka, tuan?”

Entah mengapa, tawa Myungsoo terdengar begitu Sora menyelesaikan perkatannya. Apa katanya? Membuat Sooji terluka? Apa Sora tahu perbuatan wanita itulah yang membuatnya berbuat sedemikian rupa.

“Terluka? Geu yeoja? Wanita itulah yang membuatku terpaksa harus menyakitinya, nona. Kau salah besar jika kau membela wanita yang telah menghancurkan hidupku, Nona Kang.”

Kini giliran Sora yang tertawa dengan nada sinis. Wanita itu melipat kedua tangannya didepan dada dan menatap pria dihadapannya tajam.

“Menghancurkan hidupmu? Aku jelas mengatahui dengan detail kejadian itu, tuan. Yang seharusnya patut disalahkan adalah dirimu, tuan Kim. Kau-lah yang membuat dua wanita tersakiti sekaligus. Seharusnya sejak awal kau bisa menerima pernikahan ini dengan sukarela meski hatimu terpaksa, tapi cobalah untuk menerima Sooji. Seharusnya kau bersikap seperti itu, bukannya seperti seorang pengecut seperti ini.”

“M.. mwo? Pengecut?!”

“Geurae, apa lagi memangnya? Membuat istri sah-mu terluka dan membuatnya menanggung seluruh kepedihanya sendiri. Dan membuat bayi yang dikandung Sooji, yang juga calon anakmu meninggalkan dunia. Memangnya apa lagi kata yang pantas untukmu selain pengcut, hm? Ah, brengsek?”

Myungsoo tercengang. Sebuah fakta yang mengejutkan sekujur saraf tubuhnya. Apa katanya? Sooji.. keguguran? Wanita itu keguguran karenanya?

“M.. mwo? Solma,,”

“Ingin menyangkalnya bahwa semua ini ulahmu, huh? Pada dasarnya Sooji bertahan hanya karena cinta yang bahkan orang itu tidak mempedulikannya. Namun, ketika kehadiran janin itu datang. Sebuah alasan untuknya tetap bertahan disisimu dan bertahan atas segala lukanya hanya karena bayi itu. Entah itu kapan, Sooji berharap dia dan anaknya, dan juga suaminya hidup bersama dalam kebahagian.”

Sora menyeka cairan bening yang mengalir dipipinya kasar sebelum melanjutkan perkatannya ini. Sora hanya berharap jika apa yang dilakukannya saat ini akan merubah Myungsoo. Myungsoo, teman kecil Sooji yang mampu membuat hati Sooji berdegup.

“Neo arra? Terkadang aku membencinya dan muak akan seluruh perbuatannya. Dengan sukarela ia menetap didalam sebuah neraka seperti ini. Dan beraninya wanita bodoh itu menunjukkan senyum manisnya kepadaku.. bukankah dia gadis bodoh? Bisakah aku berharap Sooji akan bahagia bersama-mu, Myungsoo-ssi? Jika tidak bisa kau lakukan, lepaskan-lah dia. Sooji berhak bahagia meski tanpa bersamamu, kumohon.”

Myungsoo tak menjawab. Lidahnya terasa keluh untuk sekedar membalas perkataan Sora, terlebih ketika wanita itu kini tengah memohon kepadanya. Perasaannya sulit untuk dikendalikannya saat ini. Semuanya terasa berkecamuk. Rasa iba, marah, tak percaya semuanya bercampur aduk.

Iba karena mendengar dan melihat keadaan Sooji. Marah karena mendengar perkataan Sora yang menyuruhnya untuk melepaskan sosok penghancur hidupnya. Tidak percaya akan perilaku Sora yang tengah berlutut kepadanya. Semuanya terasa berkecamuk dihati Myungsoo. Dan kebimbangan menggelayutinya saat ini.

****************

Sooji masih setia memandangi perutnya yang datar itu. Hari ini satu minggu tepat pasca kepergian kedua orang tuanya. Dan semenjak itulah Sooji terlihat seperti manusia tak bernyawa. Bahkan Sooji tak pernah mengisi perutnya sejak tiga hari yang lalu.

Sora yang biasanya rutin menengoknya dan merawatnya diharuskan pergi menghadiri seminar di luar negeri untuk dua minggu kedepan. Sementara itu, Nenek Han diharuskan pergi ke kampong halamannya begitu mendengar cucu pertamanya telah lahir ke dunia. Sooji tidak berhak untuk melarang kepergian nenek Han.

Jangan tanyakan mengenai suaminya itu. Pria itu bahkan selalu pulang larut malam dan pergi di pagi buta. Entah apa yang sedang direncakan suaminya itu, mungkin pria itu ingin menghindarinya atau apapun itu Sooji tidak mempedulikannya. Rasa kecewa dan amarahnya lebih besar saat ini dibandingkan dengan cintanya kepada sang suami.

Sooji sudah lelah. Lelah akan semua takdir yang menimpanya. Takdir buruk yang entah kapan berhenti menghantui kehidupannya. Sejenak Sooji berpikir untuk mengakhiri hidupnya, tapi akal sehatnya menentang hal itu dan membuatnya mengurungkan niat jelek tersebut.

Sebelum Sora meninggalkannya pergi, wanita itu berkata kepadanya dan menyuruh Sooji untuk memilih dari salah satu dua jalan didepan matanya.

Pertama, bertahan dan meneguhkan pendiriannya untuk berada disamping Myungsoo meski sang suami tidak pernah mencintainya. Dan bahkan menyiksanya dan terus- menerus memberinya luka yang tak terhitung. Sang suami yang membuatnya kehilangan sosok buah hati yang membuatnya terus kuat menghadapi segala takdir yang menimpanya.

Kedua, sebuah jalan yang akan membawanya kedalam sebuh titk terang dimana di sana terdapat banyak kesempatan untuknya meraih kebahagian yang selalu didambakannya. Sebuah jalan yang akan mengembalikan senyum manisnya meski harus bersama pria lain dan kehidupan barunya itu.

Tapi, satu hal yang sooji ragukan jika dia memilih jalan kedua. Bisakah ia memulai hidup barunya bersama pria lain? Bisakah perasaannya berubah dan akan mencintai pria itu? Bisakah hatinya melupakan sosok Myungsoo yang menghantuinya 18 tahun terakhir? Cinta pertamanya? Bisakah dia?

*****************************

Annyeong! Yeorobun! Aigoo, maafya kalau lama update dan hasilnya tidak memuaskan. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin dan semoga kalian suka ya! Gomawo yang selama ini selalu ninggalin jejak kalian dan membuatku selalu semangat karena support kalian! Dan untuk yang masih jadi siders, semoga sadar ya. Comment itu sangat penting buat aku, karena menurutku comment kalianlah yang membuatku semangat untuk menulis lebih banyak lagi.

Give me comment dan like🙂

Gomawo *BOW*

51 responses to “END (4/?)

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s