Belle in the 21st Century (Chapter 10) – Desire

request-pc13a

Belle in the 21st Century – Desire

kkezzgw storyline

Main Cast: miss A’s Suzy, INFINITE’s Myungsoo

Other Cast: more than 12~

belle-cast-myungzy

Genre: Romance, Marriage Life, Family, Friendship

Rated: 15+

BELLE IN THE 21ST CENTURY: CHAPTER 1 | 2 | 3 | 4 |5 | 6 | 7 | 8 | …

Facebook Twitter: ELF SONE RANDOM Blog: keziagw wonkyoonjung Ask.fm Wattpad

Disclaimer: FF ini terinspirasi dan di adaptasi dari series Disney Princess ‘Beauty and the Beast’ (1991) yang akan diterjemahkan menjadi versi abad 21 dengan berbagai perombakan yang tetap berhubungan dengan cerita aslinya. Series pertama dari Disney Princess di abad 21 versi kkezzgw ini dimulai dari. FF ini sudah dibuat dalam berbagai versi. Mohon maaf untuk kesamaan cerita, alur, karakter, adegan, nama, maupun typo.

———————————————————-

“MWORAGU? A-aku…a-apa?”

Myungsoo memutar bola matanya bosan. “Jadilah asistenku, Bae Suzy.”

Suzy menatap Myungsoo seolah – olah suaminya seorang gay. “Apa kau gila? Bagaimana mungkin aku menjadi asistenmu?!”

Myungsoo meringis kecil mendengarnya. Jika mengingat  bagaimana dengan bodohnya nama gadis ini yang pertama kali muncul dalam benaknya begitu mendengar masalah yang sedang ia hadapi kini, sepertinya ia harus setuju dengan pendapat Suzy.

Apa ia tidak bisa sedikit saja membantuku? Batin Myungsoo menggerutu jengkel.

Begitupun dengan Suzy yang langsung merinding jika mengingat tingkah Myungsoo yang bersikap sangat manis pagi ini, dan bahkan memujinya cantik. Gadis itu pun hanya dapat memasang wajah datar dan meminta Myungsoo langsung to the point. Dan disinilah mereka, berdebat selama nyaris satu jam tanpa henti di dapur penthouse mereka.

“Tidak ada yang tidak mungkin,” bantah Myungsoo cepat lalu menunjukkan kontrak kerja Suzy yang sudah ia siapkan sejak dua hari yang lalu, “Lagipula disini tertulis kontrak kerjamu hanya tujuh bulan, setelah itu kau bisa mencari pekerjaan lain.”

“Ta-tapi aku tidak yakin—“

Tidak ada pilihan lain. Myungsoo pun kini mengeluarkan kartu AS yang sejak tadi ia simpan, dan Suzy pun terbelalak kaget melihatnya.

N-neo eottokhae—“

Myungsoo hanya melempar senyum penuh kemenangan kearahnya sambil membaca scanning semua yang ada disana. “Aku sudah melihat dokumen maupun prestasimu di bidang akademi, dan sepertinya aku bisa mengandalkanmu untuk menjadi asisten dari General Manager Jaekyo Group.”

You must be joking?”

“Try me,” jawab Myungsoo santai, “Kau tahu, kau satu-satunya makhluk yang menolak bekerja di perusahaanku. Disaat orang lain bersusah payah melamar kerja di perusahaanku, kau malah sibuk mengelak dan merendah. Apa kau tahu dengan kemampuan verbal dan akademik sebaik ini, kau mungkin bisa menjadi asisten pria tua itu selama ratusan tahun?”

Suzy baru saja ingin memarahi Myungsoo yang kembali memanggil Tuan Kim dengan sebutan tidak sopan, namun Myungsoo memotongnya cepat. “Tidak ada sesi pengajaran budi pekerti hari ini.”

“T-tapi bukankah saat seseorang melamar kerja biasanya perusahaan akan melihat resume pekerjaan sebelumnya? Aku bahkan belum pernah bekerja full time—“

“Karena itulah kau seharusnya menerima ini,” potong Myungsoo gemas, kenapa wanita ini sulit sekali diajak bekerjasama? “Apa kau sadar jika kau pernah bekerja di Jaekyo Group, maka kesempatanmu untuk mendapat pekerjaan di perusahaan manapun akan terbentang lebar? Bae Suzy, aku hanya butuh kesediaanmu untuk membantuku selama tujuh bulan ke depan dan setelah itu kau bebas, situasi kali ini cukup mendesak.”

Suzy menggerutu pelan namun sebenarnya ia memikirkan keputusan apa yang harus ia ambil. Tentu saja ini merupakan kesempatan emas untuk mendapat jabatan baik di perusahaan lainnya setelah ia resmi keluar dan tentunya menambah pengalaman serta ilmu. Namun, membayangkan ia akan jauh lebih sering bertemu dengan Kim Myungsoo selama tujuh bulan ke depan…ia tidak yakin dengan perasaannya yang semakin berkhianat dengan logikanya.

Myungsoo pun terus memandangi Suzy dengan tatapan penuh harapan. Oh ayolah, siapapun yang melihat nilai akademik dan kemampuannya berbicara tanpa berpikir panjang akan segera merektrutnya menjadi karyawan mereka. Myungsoo tidak tahu jika istrinya ini sangat cerdas dan disiplin—well, untuk disiplin Myungsoo sudah menyadarinya.

Myungsoo berhalangan hadir di acara wisuda Suzy karena saat itu ia harus pergi mengurus cabang perusahaan mereka di Seattle, namun Myungsoo tahu istrinya menjadi salah satu mahasiswi dengan nilai tertinggi pada jurusan Komunikasi dan bergelar cum laude dengan nilai IPK mencapai 3,9 di Kyunghee University, salah satu kampus yang disegani oleh masyarakat Korea Selatan. Ia sungguh bangga mendengarnya.

“Jadi bagaimana?” tanya Myungsoo dengan nada mendesak.

Suzy melirik kertas kontrak itu lalu mendesah pasrah. “Baiklah, aku akan menerimanya. Tapi jangan pernah memberitahu mereka kalau aku istrimu, aku tidak mau mendapat perlakuan spesial dari siapapun.”

Myungsoo kini tersenyum penuh kemenangan dan langsung memberikan kertas – kertas kontrak itu dengan semangat. “Bacalah setiap kata yang ada disana, ya walaupun sebenarnya kau tidak perlu khawatir aku akan menipu istriku sendiri.”

Suzy tampak acuh dan tetap membaca setiap kalimat yang disana dengan cermat. “Apa saja yang akan kukerjakan saat aku menjadi asistenmu?”

“Mengumpulkan data – data, menyusun laporan dari berbagai departement, mempresentasikan keseluruhan laporan di depan Board of Director saat  RUPS, dan masih banyak lagi. Intinya, pekerjaanmu adalah membantuku dan jika aku berhalangan hadir kaulah yang akan menggantikanku.”

Walaupun ragu, namun gadis itu sudah bertekad ia akan melakukan yang terbaik. “Aish, tapi kau benar – benar harus membantuku!”

Myungsoo tertawa kecil mendengarnya. “Tentu saja, bodoh! Terlebih saat kau masuk bekerja nanti kau akan langsung berhadapan dengan para direksi dan para pemegang saham di RUPS, aku tidak akan membiarkan mereka melemparkan saham perusahaanku ke Bursa Efek lagi!”

Suzy mendengus geli mendengar perkataan Myungsoo. Tidak ingin menunda lebih lama lagi Suzy segera menorehkan tanda tangannya pada beberapa lembar kontrak di tangannya.  Myungsoo tampak puas melihatnya, senyumnya tampak begitu bahagia.

“Apa kau siap jika aku membawamu ke kantor hari ini?”

Jantung Suzy kembali dikagetkan setelah beberapa menit yang lalu berhasil tenang kembali. “Apa kau bercanda!?”

Myungsoo mengangkat bahunya acuh tak acuh. “Well, kurasa hari ini kau bisa ‘berkenalan’ dengan seluk beluk kantor dan sebagainya jadi besok kau bisa mulai bekerja.”

Entah mengapa Suzy merasa ia terlalu menurut dan lemah hari ini karena itulah kini ia berada di dalam kamarnya dan segera memilih pakaian yang sopan dan pantas. Setelah yakin dengan penampilannya, ia segera keluar dan langsung mendapati Myungsoo menunggunya dengan sabar di club chair yang menghadap private pool penthouse mereka.

“Kau memakai itu?”

Myungsoo mengernyit tidak suka melihat Suzy kini berdiri di hadapannya dengan kemeja putih yang dipadu padankan dengan rok pensil hitam selutut, rambut cokelat panjangnya dibiarkan terurai bebas membingkai wajah cantiknya. Semuanya tampak normal sebelum Myungsoo menyadari rok pensil itu membuat bokong istrinya begitu menonjol. Tidak mungkin ia membiarkan pria lain menikmati pemandangan ini.

“Huh? Bukankah karyawan wanita biasanya berpakaian seperti ini?” tanya Suzy dengan bingung, menurutnya ini tampak normal.

“Get change.”  Tandas Myungsoo tegas.

“Waeyo!?”

Myungsoo mendesis marah. “Aku bilang ganti! Jangan memakai rok!”

“Kenapa aku tidak boleh pakai rok?!”

“Karena…hmm…kejelekanmu semakin terlihat!” Kata Myungsoo asal karena tidak dapat menemukan alasan lain untuk mencegah istrinya memakai rok.

MWORAGU? YA KIM MYUNGSOO! Neo jinjja…aish!”

Suzy mengerucutkan bibirnya dengan kesal sambil menghentakkan kakinya berjalan menuju kamar. Myungsoo sebenarnya sedikit merasa bersalah karena Suzy terlihat tersinggung, namun ia juga tidak mungkin mengatakan kalau ia tidak suka wanita itu menjadi santapan lezat bagi para karyawan di kantornya bukan?

Tak lama ia pun keluar dengan rok yang sudah digantikan oleh celana bahan yang tampak membalut kaki jenjangnya dengan sempurna, hanya saja ekspresi wajah gadis itu masih merengut kesal seraya menatap Myungsoo tajam.

Well, setidaknya paha dan bokongnya tertutup sempurna.

Mwol? Apa lagi?!” tanya Suzy sinis.

Myungsoo hanya mendengus geli tanpa membuka suara, ia pun mengajak Suzy keluar dari penthouse mereka dan pergi ke kantor bersama untuk pertama kalinya.

**

Ini bukan pertama kalinya Suzy menginjakkan kaki di gedung kebesaran Jaekyo Group yang berdiri gagah di pusat kota, namun kekagumannya akan segala kemewahan yang terpantul di setiap sudut gedung tetap membuatnya menganga penuh kekaguman. Mengingat ia akan bekerja disini sebagai seorang asisten dari GM Jaekyo Group baru ia sadari begitu membanggakan.

“Sudah kubilang kau tidak akan menyesal menjadi asistenku,” kata Myungsoo seolah dapat membaca pikiran Suzy.

Gadis itu hanya mendengus jijik sebelum berjalan mengikuti Myungsoo yang meninggalkannya begitu saja di belakang. Terlihat sekali ‘kesenjangan’ sapaan yang diberikan nyaris seluruh karyawan yang melewati keduanya. Mereka cenderung menyapa Myungsoo dengan senyum sehangat mentari namun mengacuhkan Suzy sepenuhnya layaknya pelayan yang mengikuti kemanapun tuannya pergi.

“Eo? Mengapa kita tidak ke ruangan HRD?” tanya Suzy kebingungan karena Myungsoo justru membawanya masuk ke ruangannya yang berada di lantai 29.

Myungsoo tidak menjawab, ia duduk di kursi kebesarannya dengan gaya angkuh yang memuakkan sebelum menekan tiga dijit angka pada telepon di ruangannya dan menyalakan intercom. “Aku tidak terbiasa mendatangi orang,”

Sekali lagi Suzy hanya mendengus jijik mendengarnya.

“Jaekyo Group HRD, ada yang bisa kami bantu?”

“Suruh manager kalian ke ruangan GM sekarang dengan semua berkas untuk karyawan baru.”

“A-algaesumnida, bujangnim.”

KLIK.

“Apa seperti ini sikap semua General Manager pada Manager HRD?” tanya Suzy sinis yang hanya mendapat lirikan tajam. “Lebih baik kau mulai menjaga sikapmu karena sebentar lagi apapun yang kau katakan HARUS kau ikuti.” Balas Myungsoo dengan menekan kata ‘harus’ sedalam-dalamnya dengan seringai penuh kemenangan.

Suzy baru saja ingin membuka mulut tapi pintu ruangan Myungsoo namun seorang pria datang membawa sebuah amplop cokelat besar di tangannya. “Anda memanggil saya, bujangnim?”

Myungsoo hanya mengangguk acuh, menggerakan telunjuknya agar pria yang jauh lebih tua darinya itu mendekat. “Apa kau sudah menemukan asisten untukku?”

“Ah keugo,” pria itu jelas terlihat sangat ragu dan takut harus menjawab apa, “sebenarnya kami masih dalam proses pencarian, bujangnim. Anda tahu sendiri bagaimana kami sangat selektif dalam memilih karya—“

Myungsoo mengangkat tangannya menyuruh pria itu berhenti bicara, “Tidak perlu, aku sudah menemukannya sendiri.”

Mata pria itu pun langsung mengarah pada Suzy, mengamatinya lamat – lamat berusaha mengingat kapan tepatnya ia pernah melihat gadis ini. Suzy bergerak tidak nyaman karena tatapan itu, begitupun Myungsoo yang langsung mengetuk meja berkali – kali untuk menarik pria itu kembali dari alam bawah sadarnya.

Waeyo? Apa ada yang salah dengannya?”

A-animinda, bujangnim. Saya hanya seperti pernah melihatnya, itu saja.” Jawabanya gagap.

Myungsoo tersenyum miring lalu berjalan kearah Suzy yang hanya diam tidak tahu harus berbuat apa. Tubuh Suzy menegang begitu Myungsoo melingkarkan lengannya pada bahu Suzy, begitupun dengan Manager HRD yang berusaha keras untuk mengalihkan pandangannya.

“Tidak perlu berspekulasi apapun, Kang Taejoon-ssi. Apa aku tidak boleh merangkul istriku sendiri?”

Sontak keduanya terbelalak kaget mendengar ucapan Myungsoo, terlebih Suzy yang kini harus menahan desakkan untuk tidak melayangkan pukulan ke kepala bebal suaminya sendiri. Mata gadis itu melotot kearah Myungsoo, namun pria itu hanya tersenyum miring sebelu menoleh kearah Tuan Kang yang hanya tercengang kaget.

“Urus semuanya dengan cepat, karena istriku akan mulai bekerja besok.”

“Y-ye?”

“Cepat kerjakan, istriku akan menyusul”

“A-ah y-ye..”

Tepat setelah Tuan Kang keluar dari ruangan Myungsoo, Suzy melayangkan beberapa pukulan menyakitkan kearah punggung Myungsoo, teriakkan pria itu pun menggema di seluruh penjuru ruangan.

“YA! NEO MWOYA!”

“Kenapa kau memberitahunya kalau aku istrimu!”

“Kenapa tidak?”

Ya! Ne-neo jinjja…aish!”

Suzy mendengus jengkel dan memutuskan untuk pergi dari ruangan Myungsoo menyusul Tuan Kang yang sejak awal sudah menunjukkan gelagat segan, dan Suzy tidak nyaman karena hal ini. Ia tidak ingin dicap sebagai seseorang yang hanya mengandalkan koneksinya untuk mendapatkan sesuatu.

Sedangkan Myungsoo hanya tersenyum kecil mengamati gelagat Suzy yang entah mengapa kini terlihat lucu di matanya.

“Aku tidak bisa membiarkanmu ‘disiksa’ oleh para karyawan yang sudah bosan hidup karena berani bertindak senior-junior pada istriku, kau tahu?” gumamnya seraya terkekeh kecil.

**

Sesuai apa yang Suzy duga, begitu ia masuk ke dalam ruangan HRD, semua sibuk menyalami dan menyapanya dengan sopan, menebar senyum hangat ataupun palsu lalu menjelaskan semua tentang isi kontrak yang sebelumnya sudah ia tanda tangani. Namun Tuan Kang tidak dapat menjelaskan lebih detail karena Myungsoo sendiri yang akan menjelaskannya, termasuk persiapan untuk RUPS beberapa hari ke depan.

Suzy menganggumi cara Myungsoo menjelaskan semuanya secara jelas dan rinci, pria itu tampak luar biasa hebat jika sedang berurusan dengan pekerjaan. Seperti saat ini, keduanya berada di ruang kerja Myungsoo di apartement mereka mengadakan teleconference dengan salah satu pemegang saham di Los Angeles. Suzy memperhatikan apapun yang mereka katakan dan sesekali membantu Myungsoo jika pria itu mmebutuhkan bantuannya. Ia tidak menyangka suaminya terlihat begitu profesional jika sedang bekerja, sangat berbeda dengan Kim Myungsoo yang biasanya membuat ia kesal.

“Sepertinya kau sudah mengerti apa tugasmu,” kata Myungsoo setelah teleconference itu berakhir.

Suzy merenggangkan otot – ototnya yang terasa kaku setelah duduk beberapa jam, “Ini lebih mudah dari yang kubayangkan sebelumnya.”

“Kau sepertinya sangat menikmati pekerjaan ini. Kalau begitu…selamat berjuang!”

Myungsoo tersenyum miring sebelum masuk ke dalam kamarnya, menyisakan Suzy yang menatap tajam pintu yang tertutup itu dengan berbagai spekulasi di kepalanya. Apa Myungsoo akan kembali menyiksanya saat ia sedang bekerja?

**

“JADI INI HASIL KERJA KALIAN SELAMA INI, HUH!?”

Kondisi kantor Jaekyo Group kini terlihat semakin menegang, semua karyawan sibuk berjengit ketakutan begitu telinga mereka kembali mendengar suara teriakan penuh emosi General Manager mereka disertai dengan suara gebrakan meja begitu kencang. Semua tangan – tangan yang sebelumnya masih sibuk mengetik pun terhenti, kembali memperhatikan ruangan tempat dimana ‘iblis kelaparan’ itu berada.

Seminggu ini ruangan General Manager mereka berubah menjadi ladang pembantaian karyawan, terlebih setelah pertemuannya dengan CEO Jaekyo Group beberapa hari yang lalu, tidak ada hasil kerja karyawan yang ditanggapi dengan positif, Kim Myungsoo bahkan hanya melihat sekilas dan langsung memarahi para karyawan dengan keras.

Pria itu memang keras kepala, perfeksionis, dan tegas, namun kondisi itu semakin diperburuk dengan laporan tentang kejayaan Jaekyo Group sedikit goyah akibat demo yang pernah terjadi beberapa waktu yang lalu, kondisi ini semakin diperparah dengan banyaknya pemegang saham yang memilih melepas kepemilikan saham mereka.

Semuanya menahan nafas begitu pintu ruangan kerja itu terbuka, melihat mata Marketing Manager dan Purchasing Manager mereka tampak memerah dan air mata pun menetes setelah ia berhasil menjauhi ‘lubang neraka’ di belakangnya. Sudah lima pemimpin divisi dipanggil oleh General Manager mereka dan berakhir mengenaskan hari ini.

“BAE SUZY!”

Oh, kini bahkan asisten atau istrinya sendiri menjadi mangsa selanjutnya.

Suzy kembali menghela nafas sengan mata terpejam. Entah sudah berapa kali ia mendengar suara pria menyebalkan itu meneriaki namanya dan menyuruhnya melakukan apapun yang menyulitkannya. Tidak cukupkah selama seminggu ini ia membuat semua orang ketakutan? Beberapa menit lalu pria itu baru saja memanggilnya, lalu ada apa lagi sekarang?  Tidak bisakah ia memberikan tugas sekali jalan? Dan lagi, apa gunanya intercom jika pria sialan itu terus berteriak – teriak?

Suzy pun bangkit berdiri dengan malas lalu berjalan gontai ke ruangan Myungsoo, semua karyawan kembali memasang posisi tegang melihatnya.

“Ne, bujangnim…”

Myungsoo terlihat emosi di kursi kebesarannya dengan oktaf suara meninggi pada siapapun orang malang di seberang sana. Mendengar panggilan Suzy, Myungsoo mengalihkan pandangannya dan menatap Suzy masih kilatan emosi tertahan. “Siapkan laporan penjualan dua bulan terakhir, aku harus memeriksanya segera dalam satu jam.”

“Y-ye? Lalu bagaimana dengan laporan marketing research yang anda—“

“Serahkan semuanya dalam waktu satu jam!”

Suzy langsung tercengan tak percaya. “Mianhamnida bujangnim, tapi saya rasa semuanya terlalu sulit jika harus diselesaikan dalam waktu sesingkat itu.” balas Suzy mulai berargumen, mungkin hanya dia juga yang berani melawan sejak tadi.

Namun Myungsoo hanya melipat tangan di depan dada seraya menatap istrinya tanpa ekspresi. “Lalu? Bukankah itu memang tugas asisten manager?”

Algaesumndia.”

Suzy langsung pergi meninggalkan ruangan itu, ia sudah tidak tahan berlama – lama berada dalam satu ruangan dengan pria menyebalkan itu. Dengan penuh emosi ia segera mengerjakan semuanya dengan kecepatan yang mengagumkan, bahkan Myungsoo sedikit terkejut melihat Suzy sudah kembali tepat di depannya satu jam kemudian.

“Well, setidaknya kau lebih baik dari yang lainnya.” ujar Myungsoo datar tanpa kesan berterima kasih.

Suzy mengeram dan menatap Myungsoo marah, “Bisakah kau bersikap lebih baik pada karyawanmu?!”

“Haruskah aku bersikap baik pada karyawan yang tidak kompeten?”

“Ya, kau harus!” balas Suzy jengkel, gadis itu kini semakin maju mendekati Myungsoo yang masih tampak tenang di kursi kebesarannya, “mereka sudah berusaha melakukan yang terbaik, kau saja yang selalu menanggapi mereka dengan aura setanmu itu!”

“Beginilah prinsip dan cara kerjaku, terutama dalam keadaan seperti ini, aku tidak akan segan memecat siapapun yang melakukan kesalahan agar perusahaan sialan ini selamat!”

“Kalau begitu kau pecat saja aku, cara kerjamu membuatku ingin mengutukmu selamanya!”

Mworagu?!” Myungsoo berdiri dengan mata menatap Suzy tajam, emosinya mulai terpancing kembali setelah beberapa saat yang lalu sempat mereda, “apa kau tidak sadar masalah apa yang sedang kuhadapi saat ini?!”

“Aku tahu perusahaan ini sedang bermasalah, tapi kau tidak bisa melampiaskan semuanya pada karyawan – karyawanmu!”

Keheningan langsung mendominasi ketika mata mereka saling memancarkan kemarahan pada lawannya. Aura mengintimidasi yang dipancarkan Myungsoo kini menyelimuti Suzy ketika pria itu berjalan kearahnya dengan seringai sinis.

“Kau ingin tahu mengapa aku melampiaskan semuanya pada karyawan – karyawan bodoh itu?” tanya Myungsoo sambil dengan mata gelapnya yang berkilat fokus menatap istrinya. “Karena aku tidak bisa melampiaskannya pada hal yang biasanya kulakukan,”

Suzy menelan ludahnya susah payah sambil berjalan mundur menjauhi Myungsoo yang kini berjalan kearahnya, ia pun memekik kecil ketika punggungnya menabrak dinding kaca. Matanya beralih menatap Myungsoo yang tampak puas melihatnya, pria itu semakin maju menghimpit tubuh mungil Suzy yang tenggelam dibaliknya, sorot matanya tajam menusuk setiap keberanian yang sedang Suzy kumpulkan saat ini.

“A-apa itu?”

Suzy kembali memekik kecil ketika tangan kekar Myungsoo memeluk pinggangnya erat, tubuhnya semakin menekan dinding kaca dibelakangnya karena kini Myungsoo semakin mengunci tubuhnya dengan tatapan lapar. Suzy terhipnotis aura casanova Myungsoo hingga ia lupa bagaimana caranya melepaskan diri.

“Sesuatu yang seharusnya kulakukan sejak lama,”

Belum sempat Suzy berpikir atau membalas ucapannya, Myungsoo menarik pergelangan tangan dan rahang Suzy sebelum menempelkan bibirnya pada milik Suzy dengan keras. Myungsoo memeluk pinggang dan punggung Suzy erat dengan mata terpejam disaat Suzy masih terlihat linglung dalam pelukkannya. Gadis itu terbelalak dan meronta dengan keras, berusaha mendorong tubuh kekar Myungsoo darinya, namun pria itu justru mengeram pelan sebelum mendorongnya kembali ke dinding.

Myungsoo melumat dan menghisap bibir atas dan bawah Suzy, kemudian menjilati seluruh permukaan bibirnya sebelum menggigiti bibir merah muda itu hingga membuat Suzy memekik kecil dan membuka mulutnya. Suzy nyaris tersedak akibat lidah Myungsoo yang masuk ke dalam mulutnya dengan kecepatan bak peluru menembus kulit.

Suzy masih terdiam kaku dan meronta, namun perlahan mulai menyerah dan meleburkan dirinya dalam pelukkan Myungsoo. Kepalanya pening akan gairah yang tiba – tiba meledak – ledak dalam dirinya, terlebih merasakan bagaimana bibir dan lidah asli Myungsoo menjamah mulutnya semakin membuat pendingin ruangan dalam ruang kerja Myungsoo seakan tidak bekerja. Erangan pelan yang membuat nafsu Myungsoo meningkat pun semakin terdengar, begitupun dengan deru nafas keduanya yang memberat. Suzy semakin terlena dengan tubuh yang terasa semakin lemas setiap detiknya jika saja Myungsoo tidak memeluk pinggangnya erat, gadis ini sekarang mengerti mengapa suaminya sangat diidamkan banyak wanita di luar sana.

Perlahan Myungsoo memberi jarak antara wajah mereka, namun sempat mengecup pelan bibir Suzy sebelum benar – benar menjauhkannya. Keduanya mulai menarik nafas mengisi persediaan oksigen di paru – paru mereka yang terasa menipis. Suzy menunduk dengan wajah memerah malu namun terluka di waktu yang bersamaan. Entah apa maksud dari ciuman ini, namun saat ini yang hanya ingin ia lakukan adalah…pergi.

Myungsoo dengan sigap langsung meraih pergelangan tangan Suzy ketika gadis itu mendorong tubuhnya dengan sisa kekuatannya. Suzy kembali ke dalam pelukkan hangat itu, kembali merasakan deru nafas menenangkan Myungsoo yang berhembus halus di puncak kepalanya, sungguh ia ingin lepas dan menangis sekarang juga. Ia tidak mau perasaan ini semakin berkembang jauh.

“Lepaskan,” suara Suzy terdengar letih dan terluka.

Myungsoo hanya mengeratkan pelukkannya seolah tidak ada hari lain untuk melakukannya, “Apa kau benar – benar tidak ingin tahu alasanku?” Suzy hanya diam tanpa membuka suara selama beberapa menit.

“Karena sekarang satu – satunya caraku melampiaskan sesuatu hanya bisa kulakukan dengan persetujuanmu.”

Kepala Suzy semakin terasa pening ketika menangkap maksud ucapan Myungsoo, tubuhnya meremang begitu saja terlebih sentuhan tangan Myungsoo dirambutnya terasa damai. Dan ketika hidung dan kening mereka kembali bertemu, Suzy tahu ia tidak akan pernah bisa menolak sentuhan Kim Myungsoo, pria yang ia cintai.

Namun ketika bibir mereka nyaris bersentuhan kembali, suara ketukkan pintu langsung memecahkan suasana yang sulit dibangun keduanya selama ini. Myungsoo mengeram marah seiring dengan jiwa Suzy yang mulai kembali ke alam sadar.

BujangOMO!” Suzy dan Myungsoo menoleh dengan mata terbelalak dan sontak langsung menjauhkan diri mereka. Karyawan itu tampak kebingungan dengan mata mengerjap canggung, ia benar – benar tidak bermaksud merusak waktu suami-istri ini. “Jw-jwesonghamnida, bujangnim, sa-saya tidak bermaksud—“

Gwaenchanayo. Apa kau sudah membawa laporan yang sudah kau perbaharui?”

Pria itu terlihat cukup kaget dengan perubahan Myungsoo. Beberapa jam yang lalu ia bersumpah Myungsoo terlihat seperti vampir haus darah, namun kini wajahnya tampak berseri – seri. Apa setiap wanita memang memiliki kekuatan tak terdeteksi yang mampu membuat kaum adam tampak normal?

Ne, bujangnim,” pria itu dengan polosnya menghampiri Myungsoo dan Suzy yang masih terlihat malu karena aksi mereka ketahuan orang lain.

Tak lama Suzy pun pamit dan meninggalkan ruangan Myungsoo dengan ekspresi yang tak terbaca. Gadis itu memegang kedua pipinya yang merona malu jika mengingat kejadian tak terduga yang terjadi beberapa menit yang lalu. Namun ia segera menggelengkan kepalanya agar ia kembali fokus pada pekerjaannya yang masih menumpuk di mejanya.

“Jeogiyo,”

Suzy mendongak dan mendapati asisten Tuan Kim kini berdiri di hadapannya. Suzy mengernyit heran, untuk apa ia disini? “Ne, apa ada yang bisa saya bantu?”

Jwesonghaeyo agassi. Saya hanya ingin menginformasikan kalau sajangnim ingin bertemu dengan anda.”

“Sa-sajangnim?”

.

Follow my wattpad: @kkezzgw :*❤

.

Suzy menghembuskan nafasnya dengan susah payah tepat ketika lift membawanya naik menuju lantai 30, lantai teratas dari gedung pencakar langit Jaekyo Group yang berdiri di pusat kota Seoul. Lantai itu masih terasa cukup mencekam baginya, mengingat kejadian saat Tuan Kim memintanya untuk menikahi putranya masih teringat jelas dalam benaknya. Semuanya masih tampak sama—kaku, tegas, dan gloomy—seolah lantai ini sudah dikutuk.

Mengikuti langkah asisten dari CEO Jaekyo Group dengan langkah pelan, kini Suzy kembali menghela nafas lalu membuka pintu ruangan itu. Matanya langsung menangkap sosok pria yang sedang menikmati teh di tangannya sambil mengamati pemandangan dibalik dinding kaca yang melapisi keseluruhan ruangan.

“Tuan Kim?”

Kim Jongwoon menoleh lalu tersenyum kearah Suzy. “Nona Bae, sudah lama kita tidak bertemu. Aku tidak tahu kalau menantu dari Jaekyo Group kini bekerja di bawah naunganku,”

Suzy hanya tersenyum miring lalu membungkuk asal sebelum duduk di tempat yang ditunjuk, gadis itu kini menatap Tuan Kim datar. “Ada apa anda memanggil saya, abeonim?”

“Ini masalah perusahaan. Tentunya kau tahu Jaekyo Group sedang mengalami goncangan akibat demo karyawan yang dipelopori oleh seseorang,” sindir Tuan Kim yang langsung membuat Suzy menahan nafas dan meremas rok pensilnya menahan emosi, “Keuraeseo? Apa anda memanggil saya hanya untuk menyindir ayah saya?”

Tuan Kim tertawa renyah walaupun bagi Suzy itu adalah tawa penuh ejekkan. “Oh, tidak, tentu saja tidak, Suzy-ah. Aku memanggilmu kesini karena sepertinya ini masih tugasmu.”

Tugas? Apa ini berhubungan dengan Myungsoo? Lalu apa hubungannya perusahaan dengan tugasnya pada Myungsoo?

**

Myungsoo berlari mengelilingi taman di apartement dengan bermandikan keringat, namun wajahnya terlihat segar dan berseri – seri karena sepanjang hari mood-nya meningkat drastis karena apa yang selama ini ia idamkan benar – benar ia dapatkan. Gadis itu sangat tahu bagaimana membuat dirinya bahagia, hal yang sudah lama tidak ia rasakan.

Setelah menerima pesan dari Suzy untuk datang ke lapangan basket ini, Myungsoo tak pernah berhenti tersenyum, dan ia merasa terlihat sangat bodoh jika mengingatnya.

Kemudian langkahnya terhenti begitu ekor matanya menangkap sosok gadis yang selalu bersarang di kepalanya entah sejak kapan, sedang berlarian di lapangan basket dengan bola basket di tangannya.

Myungsoo tersenyum selebar langkah kakinya yang bergerak lebih cepat, ia tidak sabar bertatapan dengan mata cokelat Suzy yang kini selalu membuatnya jatuh hati. Ia semakin berdecak kagum melihat kemampuan Suzy melakukan jump shoot dalam jarak dua meter, wanita ini memang lain dari yang lain.

Mendengar derap langkah kaki seseorang, Suzy pun menoleh dan langsung tersenyum menyambut kedatangan Myungsoo yang sudah ia nantikan sejak tadi. Tank top putih dan celana training berwarna abu – abu selutut yang membungkus kaki rampingnya dengan begitu sempurna, rambutnya yang dikuncir satu bergerak kesana kemari mengikuti pergerakan lincah Bae Suzy, gadis yang tampak manis namun memiliki sisi jantan dalam dirinya.

“Akhirnya kau datang,” sambut Suzy sambil mendribble bola menatap suaminya yang masih mengenakan kemeja kerjanya.

Myungsoo tersenyum miring mendengarnya, tangannya ia masukkan ke dalam kantung celana saat mendekati Suzy. Suasana kaku yang biasa mereka alami menguap setelah ciuman mereka beberapa jam yang lalu. “Aku tidak tahu kau bisa bermain basket,”

Suzy hanya tertawa pelan mendengarnya, “Well, kau tahu sekarang.” Jawabnya santai sebelum mempassing bola pada Myungsoo yang langsung sigap menangkapnya, “Aku ingin menantangmu bermain basket!” tantang Suzy.

Myungsoo memandang Suzy sambil menunjuk dirinya mengejek. “Mwo? Kau menantangku…bermain basket?”

Yeah, kenapa tidak?”

“Aku mantan kapten team basket di sekolahku, kau yakin ingin menantang pemain basket dengan hobi mengoleksi piala dan medali emas, Nona Bae?”

Suzy berdecak tak kalah mengejek, “Itu artinya kau akan melawan mantan kapten team basket putri di sekolahku, Kim Myungsoo-ssi.”

Suzy kembali memberi kejutan tak terduga untuk Myungsoo. Siapa yang mengira selain ahli bela diri, ternyata istrinya ini adalah kapten team basket putri? Kali ini, Myungsoo tidak dapat mengelak dari rasa bangga dan bersyukur ayahnya memaksa dirinya menikahi wanita semenakjubkan ini.

“Wow, you’re really something, Bae Suzy.”

Wae? Kau takut mendengarnya?” tandas Suzy sinis.

Myungsoo berdecak tersinggung. Walaupun tubuhnya terasa begitu lelah, tapi demi harga diri yang ia junjung tinggi, ia akan menyanggupi tantangan Suzy. “Jika itu yang kau inginkan, baiklah. Aku menerima tantanganmu!”

Suzy bertepuk tangan kegirangan mendengarnya lalu mengulurkan tangannya kearah Myungsoo. “Tapi ada perjanjiannya,”

“Apa itu?”

“Hanya ada satu pemenang dari dua ronde dan pemenangnya boleh mengajukan satu permintaan tanpa ada penolakkan, bagaimana?”

Myungsoo tampak menimbang – nimbang konsekuensi itu, alisnya bergerak naik turun penuh pertimbangan. “Bagaimana kalau pemenang dilihat berdasarkan babak masing – masing? Jika kita menang di dua babak, maka kita boleh mengajukan dua permintaan, begitu pun jika menang sekali atau tidak sama sekali. Bukankah itu lebih adil?”

Kali ini Suzy yang terlihat panik. Jika peraturannya seperti itu memang terdengar lebih adil, namun artinya ia benar – benar harus memenangkan dua babak agar Myungsoo tidak menuntut apapun setelah ia menuntutnya sesuai dengan tugas yang diberikan Tuan Kim. Ia harus menang, harus.

Keurae, siapa takut? Aku yakin aku akan memenangkan kedua babak itu!”

Suzy melompat penuh semangat, ia berlari ke tengah lapangan setelah merebut bola dari tangan Myungsoo. “Jangan menahan diri hanya karena aku wanita, keluarkan seluruh kemampuanmu!” teriak Suzy dan kembali melakukan shoot pada ring.

Myungsoo pun memiliki pemikiran yang sama. Ia harus menang, karena ada satu permintaan yang sangat ia inginkan dari Suzy, dan ia akan bekerja keras untuk mendapatkan permintaan itu—tentunya ia tetap akan membiarkan Suzy menang satu babak.

“Tentu saja, kau akan melihat pemain dengan julukan ‘Golden Boy’ tampil kembali di lapangan.”

Keduanya memutuskan untuk bermain dengan full court, untuk menguji kemampuan antara dua kapten team basket berbeda gender ini. Bola pertama berhasil direbut Suzy, gadis itu memanfaatkan kesempatannya sebaik mungkin untuk memenangkan babak pertama. Suzy dan Myungsoo terlihat serius dengan keinginan masing – masing, adrenalin mereka terpacu dan sesaat keduanya terlempar ke masa dimana mereka bermain basket bersama team mereka masing – masing.

 

Permainan basket mereka bisa dikatakan sebagai streetball namun unsur basket reguler tetap mendominasi, karena ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan pada reguler dilakukan mereka, karena itulah mereka mengisi permainan ini dengan canda dan tawa.

Setelah beberapa menit bermain, ronde pertama dimenangkan oleh Suzy. Myungsoo sendiri tidak menyangka kemampuan gadis itu sebaik ini, tidak banyak pemain basket wanita yang bisa mengimbangi pemain pria sebaik gadis itu—bahkan ia tidak menahan diri sama sekali.

“Kau cukup hebat,” pujian sekaligus sindiran terselip dalam perkataannya pada Suzy.

Suzy menjulurkan lidahnya kearah Myungsoo penuh ejekan. “Sudah kubilang kau tidak akan bisa mengalahkanku, bersiaplah mendapat dua jackpot dariku, Kim Myungsoo-ssi.”

Tidak akan kubiarkan kau menang kali ini! batin Myungsoo bersumpah akan mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk memenangkan babak ini.

Kali ini permainan terlihat jauh lebih serius dari sebelumnya. Suzy kembali tersenyum mengejek kearah Myungsoo dan Myungsoo membalasnya, ia pun melambungkan bola basket itu ke udara. Keduanya melompat dan kali ini Myungsoo yang mendapatkannya. Myungsoo beberapa kali berhasil mengecoh Suzy dan membuat gadis itu tampak kualahan. Babak kali ini Myungsoo benar – benar mendorong semua yang ia miliki hingga membuat Suzy bahkan tidak dapat merebut bola darinya.

Babak kedua pun dimenangkan oleh Myungsoo yang tampak tersenyum penuh kemenangan kearah Suzy, sedangkan gadis itu sibuk meremas ujung bajunya tampak cemas. Mengapa ia bisa kalah? Ia seharusnya tidak boleh kalah satu babak pun! Bagaimana kalau pria itu memberikan permintaan yang memberatkannya setelah ia mengatakan permintaannya sendiri?

Mereka beristirahat sejenak di tengah lapangan sambil berusaha menstablikan kembali organ pernafasan mereka yang sempat bekerja lebih keras dibanding biasanya. Myungsoo membawakan tas Suzy yang sudah dilengkapi dengan beberapa botol air mineral dan handuk kecil. Memandangi gemerlapnya langit malam yang ditaburi bintang serta hembusan angin yang membuat mereka terlena sejenak, keheningan masih menyapu keduanya selama beberapa menit.

“Sepertinya sudah waktunya kita naik,” kata Suzy lantas bangkit berdiri dan membereskan barang – barangnya. Myungsoo hanya mengamati sambil sesekali membantu gadis itu sebelum keduanya berjalan berdampingan. Batin mereka seakan sepakat untuk mengatakan permintaan mereka di tempat lain.

**

Suzy sibuk menatap meja makan ketika Myungsoo tiba di meja makan. Rutinitas yang setiap hari mereka lakukan di Mokpo berdampak baik pada kebiasaan keduanya, terutama dalam hal sarapan dan makan malam. Myungsoo kembali berdecak kagum melihat kemampuan memasak Suzy. Bagaimana gadis itu bisa memasak tiga jenis makanan dalam satu jam?

“Apa kau memiliki dua kepribadian?”

Suzy menatap Myungsoo bingung, “Apa maksudmu?”

“Kau ahli dalam bela diri, menguasai permainan basket dan sepak bola…”

“Juga baseball, tennis, dan voli,” tambah Suzy.

“…tapi di satu sisi kau ahli memasak dan terlihat sangat lembut diluar, bukankah itu sangat bertentangan?”

Well, mungkin itu salah satu kelebihan yang kumiliki.”

Suzy meletakkan dua mangkuk nasi di meja makan. Myungsoo bergumam terima kasih lalu keduanya pun menikmati makan malam mereka dalam keheningan. Mereka terlalu sibuk memikirkan permintaan mereka yang tentunya akan disampaikan setelah acara makan malam ini selesai. Setiap mereka mengalami eye contact, keduanya segera memalingkan wajah merona mereka. Layaknya remaja ingusan yang baru mengenal cinta.

“Mengenai perjanjian yang kita sepakati di lapangan,” Myungsoo menoleh saat mendengar suara Suzy dari kamarnya. Gadis itu menyuruhnya duduk di ruang tamu menunggunya mengambil sesuatu, dan tanpa disangka Myungsoo mengernyit curiga saat Suzy menghampirinya dengan sebuah map di tangan.

“….karena aku menang di ronde pertama, maka aku duluan yang mengatakan permintaannya.”

Myungsoo masih diam mengamati setiap pergerakan Suzy. Gerak – gerik gadis itu terlihat gusar dan takut, entah mengapa Myungsoo menangkap sinyal buruk dari permintaan Suzy. Apa gadis ini ingin berpisah darinya?

Mata Myungsoo terbelalak begitu melihat logo Jaekyo Group pada map yang dibawa Suzy, ia menatap Suzy seolah meminta penjelasan lebih, dan gadis itu pun paham. “Bukalah. Itulah permintaanku…”

Tanpa berpikir panjang, Myungsoo segera meraih map itu dan membukanya. Kembali ia terkejut karena proposal yang seminggu ini ia hindari kini kembali berada di depan matanya. “Kenapa proposal ini bisa ada di tanganmu?!”

Sepertinya kali ini Suzy memang harus menjelaskan semuanya, “Tadi siang Tuan—maksudku   abeonim memintaku datang ke ruang kerjanya dan kami membahas tentang proposal kerjasama pembuatan kasino di Jepang antara Jaekyo Group dan Jung Corp yang kau batalkan beberapa hari yang lalu.”

Myungsoo melipat tangannya di depan dada, menatap Suzy dingin. “Lalu apa hubungannya proposal ini dengan permintaanmu?”

“Inilah permintaanku. Aku ingin kau tetap menjalankan proyek ini dengan Jung Corp.”

“MWO?!” Myungsoo mendengus sinis, “Jangan bercanda. Sekali aku membatalkan sesuatu, aku tidak mungkin menariknya kembali!”

“Tapi ini permintaanku, dan kita sepakat untuk menyanggupi apapun permintaan itu!”

“Persetan dengan kesepakatan itu!” balas Myungsoo marah, “Kau tidak tahu alasanku tiba – tiba membatalkan proyek ini, dan aku tidak mengerti mengapa kau dan pria sialan itu membahas sesuatu yang sudah menjadi sampah.”

“Karena proyek ini penting untuk keselamatan perusahaanmu!” kali ini Suzy tidak kalah kesal, mengapa pria ini keras kepala sekali? “Aku tidak tahu apa alasanmu membatalkan proyek cemerlang ini. Setidaknya jika kau tidak suka, kau harus memikirkan kesehatan perusahaanmu yang kritis!”

“Sejak dulu aku tidak pernah perduli dengan perusahaan itu. Mungkin memang seharusnya pria tua itu kehilangan seluruh asetnya agar ia ingat dengan keluarga yang disakitinya.”

Kembali, ekspresi penuh luka dan kebencian terpancar jelas di wajah Myungsoo setiap ia membahas tentang Tuan Kim dan keluarganya sendiri. Suzy pun tidak tahu harus berekspresi apa selain mengarah pada satu hal. “Kau…tidak sengaja membuat perusahaan keluargamu hancur bukan?”

“Tentu saja tidak. Aku hanya…entahlah, feelingku selalu berkata tidak setiap kami membahas proyek ini lebih jauh, bahkan sebelum kau bekerja disini. Karena itulah aku memutuskan untuk membatalkan proyek itu, dan memang banyak masalah yang kami hadapi setelah pembatalan itu.”

“Tapi Jung Corp bersedia membantu perusahaanmu dan tidak ada perusahaan lain yang bersedia dan berani melakukannya sejauh mereka, apa kau tidak bisa mempertimbangkanya?”

Myungsoo menyipitkan matanya curiga. “Apa pria tua itu memaksamu meminta ini padaku?”

Suzy mengerjap gugup. “A-ah ti-tidak, kami benar – benar hanya membahasnya dan aku rasa proyek ini dapat membantu perusahaanmu, jadi kupikir aku harus sedikit memohon padamu.”

“Bae Suzy—“

“Ini permintaanku. Pria sejati memegang kata – katanya, dua jam yang lalu kita sudah menyepakatinya.”

Myungsoo memejamkan matanya dengan berat, pria itu menghela nafas dengan keras seolah tiada hari lagi untuk melakukannya. Sepertinya tidak ada jalan lain, proyek yang sudah berusaha ia lupakan selama ini harus muncul kembali, mungkin kondisi Jaekyo Group bisa stabil kembali seperti semula dengan uluran tangan Jung Corp.

Myungsoo mengerjap. Astaga, kenapa ia bisa lupa? Bukankah ia juga memiliki satu permintaan yang harus dilakukan Suzy?

“Aku akan menyetujuinya, tapi…aku akan memakai kesempatanku untuk mengatakan permintaanku padamu.”

Kini tubuh Suzy yang menegang, matanya terus mengerjap gugup ketika Myungsoo sudah menunduk tepat di depan telinga kanannya. Ia meremas ujung kausnya sebelum mengangguk menyatakan kesepakatannya dengan Myungsoo. Apapun yang Myungsoo minta harus ia lakukan atau berikan, sama seperti ia menuntut Myungsoo.

“Aku ingin…memilikimu.”

Sontak Suzy tercengang dengan mata melotot. Tentu saja ia mengerti apa defisini dari ‘memiliki’ yang dimaksud suaminya. Ia sungguh tidak menyangka permintaan Myungsoo akan sangat memberatkannya seperti ini.

“Mw-mwor-ragu?”

Myungsoo tersenyum miring dan langsung menggigit pelan daun telinga Suzy hingga tubuh gadis itu meremang tak berdaya. “Aku yakin kau mendengarnya dengan sangat baik, Nona Bae.”

Suzy tidak sempat membalas apapun karena Myungsoo langsung membungkamnya dengan kecupan hangat. Pria itu memagutnya dalam sebelum kembali menatap mata Suzy yang sayu tertutup awan gairah.

“Aku akan memenuhi permintaanmu jika kau juga memenuhi permintaanku,”

Keduanya bungkam dalam jarak intim mereka selama beberapa menit. Myungsoo sibuk mengamati Suzy, sedangkan gadis itu hanya menunduk tidak berani bertatapan dengan suaminya.

“A-apa kau tidak bisa meminta yang lain?”

Myungsoo terkejut namun ia dapat mengendalikan ekspresinya dengan cepat. Ia tidak menyangka jawaban ini yang ia terima, “Tidak, hanya ini permintaanku.”

“A-aku…”

Myungsoo dapat melihat kilatan keraguan dan ketakutan dalam pancaran mata Suzy. Entah apapun alasannya, namun Myungsoo tersinggung karenanya. Gadis itu tidak menginginkannya, dalam kata lain…menolaknya. Myungsoo tidak pernah merasa serendah ini, ia tidak pernah merasakan penolakkan karena semua wanita menginginkannya, bahkan keluarganya membutuhkannya hingga mereka harus menutup mata dengan sikapnya. Namun gadis ini kembali menjadi hal baru bagi Myungsoo, namun kali ini sesuatu yang tidak diinginkannya.

“Kau tidak mau?!”

Suzy terlonjak mendengar suara Myungsoo yang terkesan dingin dan menusuk, dan melalui sorot mata ia tahu suaminya tersinggung dan terluka. Bukan, bukan itu maksudnya menolak permintaan Myungsoo. Ia hanya tidak bisa memberikannya, bukan tidak mau. Ia merasa keterikatan dalam pernikahan mereka ini tidak harus samapi sejauh ini mengingat kebersamaan mereka yang tak dapat ia prediksi. Namun jika situasinya seperti ini, ia merasa tidak enak pada Myungsoo.

“Bu-bukan itu maksudku—“

“Kalau kau tidak bisa memenuhi permintaanku, untuk apa aku menyetujui permintaanmu!?”

Myungsoo bergerak menjauhi Suzy menuju kamarnya, ia harus menenangkan diri. Ia tidak mungkin menunjukkan perasaan kecewa yang ia rasakan begitu Suzy menolaknya.

Sedangkan Suzy masih diam di tempatnya dengan linglung, ia tidak tahu harus berbuat apa. Di satu sisi ia takut perasaannya akan semakin berkembang lebih jauh jika ia melakukannya, namun sisi lainnya berteriak penuh keyakinan kalau ia mengingkannya. Bagaimanapun mereka sudah menikah, melakukan hubungan suami-istri bukanlah hal yang tabu dan wajar, hanya jangka hubungan mereka sajalah yang membuat semuanya terlihat mustahil dan terlarang. Dan yang terpenting dari semuanya….Suzy mencintai Myungsoo. Bagaimana mungkin ia sanggup menolak pria yang ia cintai? Sekalipun bagi Myungsoo mungkin hubungan mereka nanti hanyalah pemuas kebutuhan biologis belaka, namun bagi Suzy ini adalah hal terpenting dalam hidupnya, dan ia ingin ‘memberikannya’ pada pria yang ia cintai.

Darahanya mendesir halus begitu ia yakin dengan jawaban yang harus ia berikan. Ia harus mengatakannya sekarang atau tidak sama sekali.

“Baiklah, aku akan memenuhi permintaanmu.”

Lima kata yang meluncur pelan dari mulut Suzy sontak menghentikkan pergerakan kaki Myungsoo. Jantungnya berdebar cepat hingga Myungsoo harus meremas telapak tangannya menahan diri tidak berlari dan memeluk Suzy erat. Hanya mendengarnya saja Myungsoo seakan sudah memenangkan olimpiade tingkat International.

Myungsoo menoleh dengan wajah datar—berusaha keras menahan senyuman yang siap muncul kapan pun juga. “Jadi kau memutuskan untuk menerima permintaanku.”

Suzy mengangguk walaupun sorot matanya masih menunjukkan banyak emosi tak terbaca. “Ya, tapi hanya kalau permintaanku berhasil dipenuhi.”

Rahang Myungsoo kembali mengeras mendengarnya. Dengan langkah tegas, ia kembali berjalan mendekati Suzy yang menguatkan mental untuk tetap menatap mata tajam itu. Myungsoo tersenyum sinis sebelum membuka suara, “Kau akan mengakui kemampuan berlobiku. Lebih baik kau bersiap saja.”

Suzy kembali terbelalak merasakan ciuman panjang memabukkan yang didaratkan Myungsoo dengan cepat namun panas. Wajahnya sudah merona tak tertolong sedangkan Myungsoo menyeringai sekali lalu memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Tepat setelah suara pintu tertutup terdengar, Suzy langsung menangkup wajahnya sendiri seraya menghela nafas panjang.

“Apa yang sudah kulakukan?!” gumamnya lirih. Kini Suzy hanya berharap Myungsoo gagal meraih hati CEO Jung Corp.

.

Follow my wattpad: @kkezzgw :*❤

.

Lembayung senja sudah melukiskan kecantikannya ketika Myungsoo, Suzy, dan Tuan Kim tiba di Incheon Airport. CEO dan General Manager atau pewaris tahta kerajaan Jaekyo Group itu memutuskan untuk dengan hormat dan secara pribadi menghampiri CEO Jung Corp yang saat ini berada di Hawaii. Mereka—lebih tepatnya Myungsoo—terpaksa harus meyakinkan Jung Yunho kembali agar mau melanjutkan proyek kasino yang mereka batalkan.

Myungsoo melakukannya bukan semata-mata untuk Jaekyo Group, namun demi permintaan yang sudah ia impikan sejak hatinya kembali merasakan perasaan itu.

“Sayang sekali kau tidak bisa ikut,” kata Myungsoo pada Suzy yang langsung menarik perhatian Tuan Kim.

“Aku tidak diperlukan, untuk apa aku ikut?” balas Suzy tertawa canggung ketika menyadari tatapan tajam Tuan Kim padanya.

“Kau sendiri yang memutuskan untuk tidak ikut. Sebenarnya kenapa? Bukankah asisten seharusnya membantu atasan mereka?” debat Myungsoo merasa aneh.

“Tidak apa – apa, aku hanya tidak ingin.” Suzy memalingkan wajah dan hal itu kembali membuat Myungsoo mengernyit heran.

Myungsoo langsung merapatkan tubuh Suzy kearahnya ketika asisten ayahnya menghampiri mereka untuk menyampaikan sudah waktunya naik ke dalam pesawat. Pria itu menatap lekat Suzy dari samping hingga objek yang diamatinya itu menoleh dan membalas tatapannya dengan alis terangkat sebelah. “Waeyo?

Myungsoo menggeleng namun senyum jahilnya tetap membuat Suzy curiga. Ia menangkup wajah Suzy sambil menatap istrinya dengan lembut. “Jaga  dirimu dan hentikan kebiasaan mandi malammu,”

Suzy baru saja akan mendebat Myungsoo namun ia kembali terpaku melihat senyuman lembut Myungsoo kearahnya, pria itu membawa Suzy ke dalam pelukkannya. Detik berikutnya, kupu – kupu di perutnya berterbangan dengan riang ketika Myungsoo mendaratkan kecupan lembut di pipi kanannya beberapa kali dan keningnya dengan lambut. Suzy tidak dapat menyangkal ia sangat menyukainya.

“I’ll back in four days…” kata Myungsoo mengakhiri perpisahan manis mereka dan bergegas masuk tanpa harus mengantri.

Namun kebahagiaan Suzy kembali ternodai ketika mendapati Tuan Kim menatapnya tajam penuh intimidasi. Pria itu menghampiri Suzy dengan wajah tidak bersahabat, “Jangan terlena pada sesuatu yang bersifat fana, Bae Suzy-ssi. Camkan itu!”

Setelah mengatakan kalimat menyakitkan itu, Tuan Kim ikut masuk ke jalur khusus dengan langkah berat, meninggalkan Suzy yang kembali menghela nafas ketika fakta itu kembali terpampang lebar di depannya. Ia tidak menyangka kisah cintanya akan serumit ini.

– To Be Continue – 

Woah! Akhirnya part ini muncul juga hehe okay akhirnya kedua couple absurd ini mulai menunjukkan cinta mereka. Buat next chapter aku sih rencananya mau bikin NC, tapi karena di blog ini tidak boleh, nanti akan kualihkan bagian NCnya ke blog pribadiku^^

Seperti yang udah kubilang sebelumnya, FF ini akan aku jadiin versi lain di wattpad dengan latar belakang NYC dan BANYAK PERBEDAAN^^ Karakter Myungsoo aku namain ‘Lucas Halstein’ sedangkan karakter Suzy namanya ‘Kiara Roxanne’ hehe bagus gak? Sebenernya aku agak ragu buat kasih nama yg cewe atopun cowo, kalo ada saran boleh kasih ya^^

Dan ini dia posternya /yay/ :*

Yang punya wattpad bisa add aku @kkezzgw. Dan bagi yang mau bertanya soal FF ini bisa hubungi author via ask.fm ya^^

*click the picture*

 

Okay mungkin itu aja yg mau author sampaikan, dimohon dukungannya ya! Hehe>< see you!!!

133 responses to “Belle in the 21st Century (Chapter 10) – Desire

  1. Disaat myung udah mau nrima suzy,disaat myung udah mulai bahagia dgn suzy,apa segitu teganya appanya suzy mo memisahkan mereka,klo appanya myung sikap nya kayak gt aku jamin myung akan semakin membencinya,aku berharap myungy langgeng selamanya

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s