[Freelance] Business Marriage Chapter 4

Title : Business Marriage | Author : kawaiine | Genre : Comedy, Marriage Life, Romance | Rating : PG-17 | Main Cast : Bae Soo Ji, Kim Myungsoo | Other Cast : Lee Min Ho, Kim Yoo Jung , Kim Tae Hee , Lee Junho , Park Jiyeon , Kim Do Yeon, Lee Seung Gi,eTc.

“This plot and story is mine, sorry for typos, same characters or cast.happy reading :*”

***

^^Readers, buat kali ini author bakalan ngasih sebuah lagu di moment Myungzy. Khusus untuk chapter ini, sebelum baca harap kalian download dulu lagu ini : Park Sihwan – The Way We Loved (OST.Emergency Couple). Author sengaja ngasih lagu biar momen yang dilalui ngena aja gitu, hehe semoga kalian suka lagunya juga yah. Tambahan lagi, chapter 4 ini mungkin genre comedy-nya akan tidak terlalu keluar.Ok, kita mulai chapter 4^^

Author POV
Myungsoo dan Suzy kini tengah duduk di tempat yang telah mereka pesan sebelumnya. Pasalnya, mereka tak hanya berdua, ada Jiyeon dan Seung Gi yang membantu untuk menyelesaikan masalah mereka. Suzy dan Myungsoo menopang dagunya dengan telapak tangannya, begitu pula dengan Jiyeon dan Seung Gi. Bingung, mungkin..

“Lihatlah, berkasnya sama seperti yang dia berikan pada perusahaanku.” ujar Myungsoo sambil meletakkan sebuah map berisi kertas ke atas meja.

Aku harap kita bisa menjalin kerja sama dan bisnis yang baik, hingga membuahkan keuntungan untuk perusahaanmu dan perusahaanku. Penawaran dariku bukanlah penawaran biasa, kau bisa saja membangun cabang perusahaanmu di penjuru dunia. Jika kau berkehendak, balas surat penawaranku ini dengan penerimaan. Bukan dengan penolakan, karena itu sama saja kau membuang perusahaanmu sendiri.” Seung Gi membacakan penggalan kata dari berkas tersebut, lalu ia menatap Jiyeon. Jiyeon menghela nafas panjang.

“Tidakkah terlihat seperti pemaksaan?” ujar Jiyeon.

“Juga seperti ancaman.” timpa Suzy, sementara Myungsoo mengeluarkan laptopnya dari tas yang berada diatas meja, ia lalu mengetikkan sesuatu, tak lama kemudian ia membelalakkan matanya.

“Wae?” ujar Suzy lalu melirik ke laptop Myungsoo.

“Semua perusahaan di Korea sebagian besar beratasnamakan Yi Kang Cho, ini tidak dapat di biarkan. Ia membeli beberapa perusahaan,sepertinya semua pemilik perusahaan itu diancam untuk bungkam, tak ada satupun respons dari mereka, lihatlah.” Suzy segera membalikkan laptopnya ke arah Jiyeon dan Seung Gi, Myungsoo memijat kepalanya dan menggeleng.

“Kita harus bertindak apa?” tanya Jiyeon, Seung Gi menatapnya dengan senyuman.

“Yak! Apa maksud tatapanmu?” ujar Jiyeon, Seung Gi hanya berdeham dan membenarkan dasinya yang sudah rapi sedari tadi.

“Ku rasa kita harus kembali menjebaknya, ini adalah suatu jebakan. Jika kita menerimanya, maka kita akan masuk kedalam perangkapnya, Ayahku pernah bercerita bahwa Tuan Kang ini sangat berambisi dalam mendapatkan uang.” ujar Myungsoo

“Bagaimana caranya?” tanya Seung Gi.

“Kita harus mengirimkan surat balasan penolakan untuk dia, dan kita juga harus menemui pemilik perusahaan yang selama ini bungkam terhadap perbuatan Tuan Kang.” jawab Myungsoo, Suzy hanya bisa menatap Myungsoo , matanya menatap Myungsoo dalam, sementara Jiyeon dan Seung Gi yang menyadari tingkah Suzy terkekeh pelan. Myungsoo menyadari ada suatu hal yang aneh, ia menoleh pada Suzy yang sedaritadi tak berkedip. Myungsoo mengukir senyuman di bibirnya, lalu tangannya mengusap pelan pipi Suzy yang berwarna putih tersebut.

“Setampan apakah aku sehingga kau menatapku seperti itu?”

“Ah, tidak!” Suzy menyadari apa yang ia lakukan, Suzy menepis tangan Myungsoo, Myungsoo hanya tertawa ketika Suzy menepis tangannya.

“Suzy-ah, jangan malu seperti itu, kami memaklumi apa yang terjadi pada kalian. Kalian ini saling mencintai namun tak mampu mengungkapkannya. Kalian sangat lucu.” Jiyeon tersenyum pada keduanya.

“Mungkin perseteruan sengit kalian telah berakhir, lihatlah kalian sangat berubah. Bahkan, sepertinya saling menyukai saat ini.” timpa Seung Gi. Myungsoo dan Suzy menunduk malu.

—-000—-

Keesokan harinya, Suzy dan Myungsoo kompak mengirimkan penolakan kerja sama untuk Tuan Kang. Suzy dan Myungsoo tak menyadari dampak dari hal yang mereka lakukan. Hingga pada akhirnya di sebuah rumah yang megah terjadi perseteruan kecil.

“Apa maksud mereka menolak kerjasamaku!” Tangan tua itu kini melayangkan dua buah map keatas meja.

“Mereka benar-benar menginginkan sesuatu yang sangat besar terjadi. Won, lakukan itu sekarang juga.” Pria tua yang diketahui bernama Tuan Kang ini kini tengah tersenyum jahat menatap kedua berkas di hadapannya, sementara pria jangkung bernama Won tengah membisikkan sesuatu pada rekan-rekannya yang memakai pakaian serba hitam putih. Kisah sebenarnya akan di mulai….

Myungsoo POV

Aku melangkahkan kaki menuju kantor dengan malas, mengingat wajah Do Yeon yang pasti akan menggangguku di kantor. Tapi, tak ku lihat Do Yeon sedari tadi. Aku bersyukur pada Tuhan kali ini. Kini hubunganku dan Suzy semakin dekat. Akhir-akhir ini Suzy sering mengunjungi kantorku, mengantarkan makan siang dan memakannya bersamaku. Masakannya yang begitu sederhana namun mampu melezatkan segalanya termasuk suasana.

“Myung, tak ada kabar lagi tentang Tuan Kang?” tanya Seung Gi hyung padaku.

“Tak ada, mungkin ia menyerah. Tapi itu tak akan mungkin menurutku, ia terlalu berambisi mengejar harta.” jawabku.

“Aku juga berpikir seperti itu. Oh ya, Myung.. apakah ada kabar dari Do Yeon?”

“Aku berharap ia menghilang selamanya, jauh dariku dan Suzy. Aku tak ingin seorangpun mengganggu kami.” Seung Gi hyung hanya menatapku dengan tatapan aneh.

“Apakah kau telah melakukan “itu” dengan Suzy?”

“Yak Hyung! itu rahasiaku dan Suzy, makanya kau cepat menikah agar kau dapat merasakan bagaimana indahnya pernikahan.”

Author POV

Seorang yeoja setengah berlari menghampiri meja resepsionis, yeoja yang hanya memakai rok dan kemeja pendek tersebut akhirnya sampai ke tujuannya. Hendak bertanya pada si resepsionis yang sedang menerima telepon, resepsionis tersebut lalu menutup teleponnya.

“Do Yeon, kau kemana saja? akhir-akhir ini kau jarang terlihat di kantor.” tanya resepsionis pada yeoja yang bernama Do Yeon tersebut.

“Aku hanya berlibur di Jeju, aku merindukan Korea. Oh, seperti biasa aku ingin melihat tamu yang bertemu dengan Myungsoo.” Resepsionis itu kini tengah mengambil sebuah buku besar dan memberikannya pada Do Yeon. Do Yeon membacanya dengan hati-hati.

“Dia tak banyak pertemuan dan sepertinya dia tidak sibuk, tapi mengapa ketika aku menghubunginya ia tak mengangkat teleponku.” dengus Do Yeon.

“Ah, Do Yeon. Seorang wanita sering mengunjunginya akhir-akhir ini, ia tampak membawa makan siang untuk Sajangnim. Aku sempat memintanya untuk menulis di daftar tamu yang akan bertemu dengan Sajangnim, namun Sajangnim membiarkannya masuk tanpa mengisi daftar.”
Do Yeon membelalakan matanya.

“Oh, itu dia wanita yang ku maksud—“ ujar si resepsionis dengan jari telunjuk yang menunjuk pada yeoja cantik yang sedang melangkahkan kaki jenjangnya yang berbalut high heels abu-abu, Dress berwarna pink pastel  menjadi sebuah pandangan yang menyejukkan di siang hari seperti ini. Tas tangan berwarna pink bercampur abu-abu yang di lingkarkan di bahunya juga menjadi hiasan lain yang mempercantik dirinya selain gelang perak yang melingkar di pergelangan tangannya, dan cincin seperti cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya. Rambutnya dibiarkan tergerai, semua karyawan yang hendak keluar melihat ke arahnya dan tersenyum kepadanya. Kecuali yeoja yang menatapnya penuh dengan kekesalan. Yeoja cantik bernama Suzy kini tengah menaiki tangga yang menghubungkan lobby dengan lift, namun ketika ia akan memasuki lift sebuah tangan halus menahannya,mencengkramnya dengan keras, lalu menariknya ke suatu tempat.

“Agasshi bisakah sedikit sopan? Setidaknya kau tak menarik tanganku seperti ini!” Bentak Suzy pada Do Yeon , Suzy melepaskan tangannya di cengkraman tangan Do Yeon.

“Apa hubunganmu dengan Myungsoo? Mengapa kau setiap hari mengunjunginya? Kau jangan menjadi perusak hubungan orang lain!” ujar Do Yeon, Suzy hanya menghela nafas, memejamkan matanya, lalu membukanya perlahan, dan tersenyum penuh arti pada Do Yeon.

—-0000—-

Di sisi lain Myungsoo sedang gelisah menunggu kehadiran Suzy. Suzy bukanlah orang yang bisa jauh dari handphone nya. Pasalnya, sudah beberapa kali Myungsoo mengirim sms dan menelponnya Suzy tak mengangkatnya. Tak lama kemudian Seung Gi berlari ke ruangan Myungsoo, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

“Myung, Do… Yeon kem…bali!” ujar Seung Gi dengan nafas yang tersenggal.

“Yak! Hyung kau mengagetkanku, aku tak peduli ia telah kembali atau tak akan pernah—“

“Suzy! Su..Zy Myung!” Myungsoo yang awalnya tak perduli dengan ucapan Seung Gi, kini ketika mendengar nama Suzy ia melonjak kaget dari duduknya. Ia langsung berlari keluar, mencari-cari keberadaan Suzy dan Do Yeon. Hingga ia tahu tempat sepi di kantornya, ia menuju kesana.

Suzy POV

Kini aku tengah bersama yeoja yang menelpon Myungsoo ketika Myungsoo dan aku sedang di perjalanan menuju Charity Event ku. Wajahnya cantik, pantas saja Myungsoo menyukainya. Ia kini menatap benci ke arahku, aku hanya membalasnya dengan senyumanku.

“Apa hubunganmu dengan Myungsoo? Mengapa kau setiap hari mengunjunginya? Kau jangan menjadi perusak hubungan orang lain!” Ia menatap lekat ke arahku, aku tersenyum. Rupanya ia tak bisa kehilangan Myungsoo untuk kali ini.

“Aku hanya temannya, aku dulu kerja sama dengan perusahaan ini. Ini adalah makan siang yang selalu aku buatkan untuknya, karena aku dan dia terkait dengan sebuah bisnis. Ia sangat baik kepadaku, aku ingin membalas kebaikannya.” jelasku, sementara ia masih dengan tatapannya kepadaku.

“Apakah kau menyukainya? Kau tidak boleh menyukainya, ia hanya ditakdirkan untukku! Kau menjauhlah darinya!” bentaknya padaku.

“Jika aku tak mau menjauh darinya? Bagaimana ?” tanyaku menantangnya, sementara ia mengangkat tangannya, refleks akan menamparku dengan telapak tangannya, namun sebuah tangan kekar menahan tangannya yang terbilang lebih kecil dari ukuran tangan penahan tersebut. Badan orang yang menahan tangan yeoja tersebut menghalangi pandanganku.

“Do Yeon, hentikan!” ucapnya, ya Myungsoo. Siapa lagi jika bukan ia. Ia menahan tangan Do Yeon. Do Yeon memekik keras, sementara aku meringis. Pasalnya tanganku yang dicengkram oleh Do Yeon kini efeknya mulai terasa.

“Oppa! Bahkan kau membelanya! Dia menggodamu! Dia mencoba merebutmu dariku!” ujarnya, tangannya masih melayang keatas.

“Jaga bicaramu! Dia yeoja yang baik! Dia bukan seorang penggoda!” ujar Myungsoo, aku tak tahan dengan perkataan yeoja ini. Aku melangkahkan kaki kedepan, sehingga kini aku berdampingan dengan Myungsoo.

“Kau yang menjadi perempuan penggoda, Do Yeon-ssi. Kau tidak sadar jika kau berhubungan dengan—“
Ucapanku terhenti seketika, tangan Do Yeon kini melayang keatas, siap  menampar siapapun yang berada di dekatnya khususnya aku, Myungsoo kembali menahan tangan Do Yeon. Dan…

PLAKK!

Tangan Do Yeon mendarat sempurna di pipi Myungsoo. Bukan, bukan karena Do Yeon menamparnya  tapi karena Myungsoo menahannya tadi. Justru Myungsoo yang menamparkan tangan Do Yeon di pipinya sendiri.

“Oppa! Apa yang kau lakukan?!” ujarku pada Myungsoo. Sementara Do Yeon menurunkan tangannya dan menutup mulut dengan telapak tangannya.

“Oppa! Bahkan dia memanggilmu Oppa! Dia sebenarnya siapa Myungsoo Oppa?!” ujar Do Yeon dengan berteriak, dapat kulihat Myungsoo yang memejamkan matanya kesal.

“DIA ISTRIKU!” Teriaknya pada Do Yeon, dapat kulihat Do Yeon yang hendak meneteskan air mata.

“Oppa,Myungsoo Oppa!” Aku menggoyangkan lengan Myungsoo, ia menatap ke arahku dengan tersenyum.

CUPP~

Ia mendaratkan ciuman singkat di bibirku, aku membelalakkan mata. Di depanku ada Do Yeon yang berurai air mata.

“ Yeon-ah, dengarkan penjelasanku kali ini. Suzy, dia istriku. Dia di jodohkan denganku. Aku sangat mencintainya sekarang, Aku ingin kau jangan mengganggu ku lagi, atau apapun yang berhubungan dengan Suzy.” ujarnya, aku hanya menatap ke arah Myungsoo, mataku kini merasa menahan sesuatu,apalagi jika bukan air mata. Entah kenapa aku terharu mendengarnya. Tak lama kemudian Do Yeon pergi dari hadapanku dan Myungsoo. Myungsoo menatap ke arahku, ia mendekapku kedalam pelukannya.

—-0000—-

“Apakah sangat menyakitkan? Untuk apa Oppa melakukan itu?” tanyaku pada Myungsoo, aku sedang menekan handuk kecil yang dibasahi air es di pipi Myungsoo.

“Aku hanya tidak ingin kau terluka, Suzy-ah. “ ujarnya, aku hanya tersenyum,sebegitu besarnya perlindungan untukku.

“Gomawo.” balasku padanya. Ia hanya tersenyum, lalu tanganku yang sedang mengompres pipinya ia turunkan, lalu aku meletakkan handuk tersebut pada wadah berisi air.

“Apa yang terjadi pada pergelangan tanganmu? Ini bekas luka tancapan kuku, dan tanganmu sedikit merah.” tanyanya padaku. Aku terdiam.

“Aku yakin yeoja itu menarik tanganmu, cih.. kukunya sangat tajam seperti kuku vampire. Apakah ini juga sakit?” tanyanya kembali.

“Ani, ini tidak sakit. Gwenchana Oppa.” ujarku kembali melanjutkan aktivitasku mengompres pipinya.

“Aku tak membawa makan siang, makan diluar saja. Tak apa-apa kan?” tanyaku, Myungsoo mengangguk.

Tak lama kemudian handphone Myungsoo berbunyi.

“Yoboseyo?”

“……..” Dapat kulihat raut wajah Myungsoo yang terlihat cemas sekaligus marah.

“Sekarang Noona dan Yoo Jung ada dimana?”

“……..”

“Baiklah, tunggu aku. Aku akan segera kesana.” ujarnya , aku menatapnya penuh tanya.

“Wae? Apa yang terjadi Oppa?” tanyaku.

“Yoo Jung, di perjalanan dia dihadang oleh preman-preman yang mengerikan, hingga ia meloncat dan menaiki pagar untuk menghindari preman tersebut. Ayo , kita segera ke rumahku Suzy-ah.”
Tanpa basa-basi, aku segera mengambil tasku lalu pergi bersama Myungsoo Oppa.

~Kim’s House~

“Jungie, gwenchana?” tanyaku pada Yoo Jung yang kini sedang di obati lukanya oleh Tae Hee Eonni. Yoo Jung memelukku, aku membalas pelukannya, mengusap rambut indahnya. Dapat kurasakan badan Yoo Jung bergetar.

“Ceritakan pada Oppa Jungie-ah, apa yang terjadi?” tanya Myungsoo padanya, berlutut di hadapanku dan Yoo Jung. Tae Hee Eonni berhenti mengobati luka Yoo Jung, kini matanya menatap sedih pada adik kandungnya. Membujuknya supaya ingin adik kecilnya itu menceritakan semuanya.

“Aku sedang berjalan dengan Ta Ri tadi, namun ketika Ta Ri tiba di dekat rumahnya, aku merasa ada yang mengikutiku, aku berlari lalu mereka juga mengejarku, aku menaiki pagar dan meloncat. Seorang preman berhasil mengejarku lalu ia mendorongku, aku berteriak keras, sehingga banyak Ahjussi yang menolongku, ketika dia berlari aku menemukan name tag ini.” Ujar Yoo Jung, aku mengambil Name Tag tersebut.

“Bodyguard Shinan Cooporation” aku memberikannya pada Myungsoo, lalu aku menatap
Myungsoo. Aku mengambil ponselku yang berada di tas, aku membrowsing siapa Shinan Cooporation ini, namun hasil yang ditemukan cukup membuatku kaget.
“Yi Kang Cho” tulisan yang tertera di profil perusahaan tersebut. Aku memberikan ponselku pada Myungsoo, Myungsoo membacanya, menatap kearahku. Kami bertatapan menemukan sebuah jawaban.

—-0000—-

Aku bersandar di ranjang bersama Myungsoo. Aku bersandar pada dada bidangnya, ia memelukku dari belakang. Ia mengeratkan pelukannya. Hangat, sumber kehangatan lain yang menenangkan selain AC dan selimut ini.

“Dia bergerak untuk menyakiti keluargamu juga, Oppa. Aku khawatir sesuatu yang lebih mengerikan akan terjadi.”

“Aku juga mengkhawatirkan itu, Suzy-ah… Apakah kita harus mengirim Noona dan Yoo Jung ke London? Eomma dan Appa membeli sebuah rumah disana, mereka setidaknya bisa aman.”

“Lebih baik seperti itu,Oppa.. Baiklah, aku akan mengurusnya besok. Mengurus surat-surat yang diperlukan mereka termasuk tiket pesawat.”

“Gomawo, kau begitu perhatian kepada keluargaku.”

“Keluargamu adalah keluargaku juga,Oppa.” Sementara ia mencium pipiku, aku tersenyum.

“Aku kemungkinan besar besok akan pulang larut malam, kau pulang jam berapa?”

“Aku juga pulang malam, Oppa. Artisku banyak yang melakukan rekaman besok.”

Author POV

Pagi hari tiba, Suzy sudah terbangun melaksanakan tugasnya. Begitupula dengan Myungsoo. Kini mereka tengah terduduk di ruang makan berdua, menikmati sarapan yang sederhana. Setelah sarapan mereka memacu mobilnya masing-masing, karena Suzy dan Myungsoo sama-sama pulang larut malam.
Kantor Suzy cukup ramai hari ini, jelas saja karena kantornya adalah Agensi para artis. Suzy masuk kedalam ruangannya. Tak lama kemudian Junho menghampirinya.

“Suzy Sajangnim.”

“Junho Oppa, berhenti memanggilku seperti itu!” Junho tertawa lebar kali ini.

“Aku khawatir seluruh berkasmu akan hilang Suzy-ah. Lihatlah ruangan berkasmu penuh dan pengap seperti itu. Tetapi siapapun boleh memasukinya karena ruangan itu tak terkunci.”

“Sejak kapan kau peduli dengan ruangan berkasku Oppa? Lagipula aku memiliki soft file nya jika itu hilang.”

“Bukankah hard copy lebih meyakinkan? Ada lebih baiknya kau memindahkan berkasmu ke kantor cabang.”
Suzy berpikir-pikir kembali, ada benarnya kata Junho.

“Baiklah,Oppa. Ternyata kau memiliki otak yang cerdas.”

“Yak! Maksudmu aku bodoh? Oh ya, Suzy-ah.. kau sudah lihat? di video ketika kau menari denganku waktu itu, bayangan hitam muncul.”
Suzy tersentak ingin tertawa, ingin menceritakan bahwa itu suaminya yang cemburu.

“Dia terlihat seperti aura kegelapan, ah.. Malaikat maut sepertinya. Tapi aku tak melihat itu.”  tambah Junho, Suzy semakin ingin tertawa.

“Karena dia melompat dengan cepat Oppa.” jawab Suzy. Junho hanya menganggukan kepalanya setuju dengan Suzy.

“Suzy-ah, bacalah respon dari netizens.. mereka mengatakan bahwa aku denganmu cocok sebagai sepasang—“ Junho merapatkan jari tengah dan jari telunjuknya. Suzy hanya terbelalak.

“Kau banyak di beritakan kali ini, apakah kau tidak membaca? Beberapa media gencar ingin mewawancaramu. Ingin mengupas sekitar kehidupanmu.”

“Aku tak peduli Oppa, cita-citaku bukan menjadi artis. Aku akan pergi terlebih dulu. Sampaikan pada Jiyeon setiap media yang masuk kesini hanya boleh meliput artisku.” Suzy meninggalkan Junho yang sedang berdiri mematung.

“Suzy-ah, bagaimana dengan berkasmu?” tanya Junho, Suzy merasakan hal yang aneh dengan Junho. Sejak kapan Junho peduli dengan berkas.

“Aku akan menyuruh Jung Ahjussi. Junho Oppa kau aneh sekali.” Suzy berlalu pergi kali ini. Junho tersenyum menghela nafasnya.

—-0000—-
Suzy kembali ke kantornya pada sore hari setelah mengurus dokumen penting untuk keberangkatan Tae Hee dan Yoo Jung, seharusnya sore hari Agensinya sudah tutup. Dikarenakan banyak artis yang akan rekaman, Suzy memutuskan untuk menghabiskan malam di kantornya. Suzy kini tengah mendengarkan alunan suara indah dari artis-artisnya. Ia lalu menyalin file suara artis-artisnya itu. Entah kenapa , soal berkas dan file ia menjadi hati-hati sejak Junho memberitahunya pagi hari tadi. Belum lagi pekerjaan membuat laporan dan membalas surat kerja sama, ataupun surat undangan yang mengundang para artisnya.

Hingga malam menunjukkan pukul 11, Suzy memutuskan untuk pulang, selama melewati lorong ia merasakan sesuatu yang aneh. Satpam Suzy tak ada, padahal ia sudah bilang pada satpamnya bahwa ia akan pulang malam, apakah satpamnya lupa? Atau bagaimana?
Suzy kembali berjalan melewati koridor kantornya.
Tak disangka, lampu dan seluruh penerangan lainnya mati. Suzy terduduk di dekat pintu menuju lobby. Ia mengambil ponselnya, ingin menelpon Myungsoo. Namun di pikirannya Myungsoo pasti sedang sibuk.Ia tak ingin mengganggunya, Suzy merasakan sebuah kilatan dari gardu listrik kecil menyambar. Hingga memunculkan percikan api, kini ia berani menelpon Myungsoo. Ia berlari ke Lobby, membuka pintu akses keluar, namun sial ia terkunci. Pintu darurat ada di samping koridor tadi, namun itu terlalu jauh.

“Yoboseyo, chagi-a wae?—“

“Myungsoo Oppa, aku terkunci di kantorku. Api, ada api. Aku takut!” ujar Suzy berbicara dengan Myungsoo di telepon. Suzy memasukkan kembali handphonenya kedalam tas. Ia mendorong keras pintu akses keluar, rantai yang melingkar di pintu mempersulit usahanya untuk keluar, sementara Api kini telah menjalar membakar kantornya.

—-0000—-
Di arah lain, Myungsoo memacu mobilnya dengan cepat. Ia berterimakasih pada jarak kali ini, jarak kantor Myungsoo dan Suzy tak terlalu jauh, waktu normal adalah 5 menit. Tapi sekarang 2 menit pun jadi, karena Myungsoo melajukan mobil dengan sangat cepat. Sesampainya disana, Myungsoo melihat pemandangan yang mengejutkan , kantor Agensi istrinya terbakar, parahnya istrinya berada di dalam. Ia segera mengambil kapak di bagasi mobilnya. Ia melihat banyak media dan petugas pemadam kebakaran, dan masyarakat yang sedang menonton gedung terbakar. Tak peduli petugas pemadam kebakaran meneriakinya untuk tak melakukan itu. Myungsoo mendekat kepada pintu yang dirantai.

“Suzy-ah, kau dapat mendengarku? Suzy-ah ini aku!” ucap Myungsoo bergetar.

“Myungsoo Oppa! Selamatkan aku Oppa, aku mohon!” ujar Suzy.

“Chagi-a, kau menjauhlah dari pintu ini, rantainya akan ku potong, pintunya akan ku pecahkan.”

“Aku sudah menjauh Oppa, apinya belum menjalar ke sekitar sini, tapi sangat pengap.” Dapat terdengar suara batuk Suzy dari dalam sana. Myungsoo membuka rantai dengan kapak, lalu memecahkan pintu kaca itu dengan kapak juga. Pintu yang kacanya jika dihancurkan akan hancur semua, Myungsoo berterimakasih kali ini. Pasalnya, jika pintu ini menyisakan kaca-kaca di sisinya ia dan Suzy akan terluka. Asap keluar dengan membabi buta. Myungsoo dapat melihat Suzy sedang terkulai lemas dekat meja resepsionis, api semakin menjalar. Dengan usaha dan cintanya, ia menggendong Suzy di pangkuannya. Tak lupa dengan tas Suzy yang ia bawa. Mereka Keluar dengan selamat. Myungsoo bernafas lega kali ini mengetahui istrinya selamat, meskipun dalam keadaan pingsan. Myungsoo memutuskan untuk memberi nafas buatan.
Uhuk, Uhuk!
Suara batuk kini keluar dari mulut Suzy. Myungsoo memeluk Suzy. Seorang wanita tua mengahampiri mereka, membawakan air minum untuk Suzy.

“Halmeoni, terimakasih.” ucap Myungsoo, Myungsoo memberikan air minum pada Suzy. Suzy meminumnya, nafasnya masih tersenggal, mungkin ia juga masih shock.

“Agasshi mengapa anda bisa ada di dalam? Bukankah seperti biasanya anda jam 5 sore sudah pulang?” Suzy kini menatap lekat wanita tua itu, ya.. dia adalah pemilik kedai ramen di sebrang kantor Suzy.

“Aku ada pekerjaan tambahan Halmeoni. Rupanya halmeoni melihat kejadian tadi, apakah satpamku pulang terlebih dahulu?” Suzy bertanya lemas pada wanita tua itu. Myungsoo hanya bisa menyaksikan.

“Aku melihat satpammu pulang, sebelum pulang mereka menghampiri kedaiku, berbicara dengan orang-orang rapi seperti mafia. “

Suzy terdiam, Myungsoo juga terdiam berpikir. Api yang menjalar telah berhenti, Suzy berusaha bangkit berdiri, banyak media yang meliput kejadian itu, yang pasti telah meliput kejadian dimana Myungsoo menyelamatkannya.

“Oppa, kita harus segera pergi. Banyak media disini.” ujar Suzy, Myungsoo bangkit dan membantu Suzy berdiri, namun ketika mereka akan memasuki mobil Myungsoo datanglah namja jangkung menghampiri mereka.

“Suzy-ah , gwenchana? Apa yang terluka? Apa yang sakit?” tanya namja itu, ya siapa lagi jika bukan Min Ho, sunbae-nya Suzy. Min Ho memegang wajah Suzy . Wajah Myungsoo menatapnya dengan tajam.
Suzy menepiskan lengan Min Ho.

“Gwenchana, aku akan pulang.” ucap Suzy lemah.

“Kau pulang bersamaku saja. Aku akan mengantarmu.” rupanya Min Ho tak menyadari keberadaan Myungsoo. Myungsoo memegang lengan Suzy.

“Dia akan pulang bersamaku, kau pulanglah, hari sudah malam.” ujar Myungsoo, Myungsoo kini membantu Suzy untuk masuk keadalam mobilnya. Suzy kini terduduk di kursi mobil Myungsoo.
Min Ho menahan Myungsoo yang akan memasuki mobil.

“Wae? Apakah ada masalah?” tanya Myungsoo, Myungsoo melepaskan tangan Min Ho yang melingkar di lengannya.

“Maaf, aku hanya ingin bertanya kau siapa ? Mengapa kau begitu perhatian dengan Suzy?” tanyanya. Myungsoo tersenyum sinis.

“Aku orang yang selalu ada jika dia membutuhkanku, membutuhkan perlindungan dan pertolonganku.” jawab Myungsoo santai. Min Ho mengepal tangannya keras.

“Aku bertanya serius Tuan!”

“Tak peduli aku siapa, kau tidak melihat Suzy sedang membutuhkan dokter sekarang?” tanya Myungsoo. Min Ho memandang nanar Suzy yang berada di mobil. Myungsoo masuk kedalam mobil dan melajukannya. Sementara Min Ho memandang kepergian mobil tersebut.

Myungsoo POV

Aku memandang yeoja yang kini berada di sampingku, aku sudah menyadari ini perbuatan siapa. Aku segera mengabari Seung Gi hyung. Meminta bantuan hyung untuk menyelidiki kasus ini. Setibanya di rumah sakit, dokter sigap menangani Suzy yang sedang terkulai lemas. Aku duduk di kursi tunggu. Tak lama kemudian dokter yang menangani Suzy keluar.
“Permisi, apakah kau kerabat dari pasien?”

“Oh, ne. Apa yang terjadi padanya? Apakah ia baik-baik saja?” tanyaku, sementara dokter itu menyuruhku untuk masuk ke ruangannya, akupun kini duduk berhadapan dengannya.

“Dia baik-baik saja, Tuan. Hanya shock. Ia terlalu banyak menghirup asap. Tapi kami telah menanganinya. Ia harus beristirahat.”

“Terimakasih dokter.”
Aku membungkukan badanku padanya, dokter itu lebih tua dariku. Aku memasuki kamar dimana Suzy dirawat. Aku menatapnya, mengusap pipinya. Menggenggam tangannya.

“Suzy-ah, bangunlah.. Aku disini, aku merindukanmu.” ucapku, tak lama kemudian Suzy membuka matanya.

“Oppa…” ia berkata dengan lemah, kondisinya masih belum stabil.

“Aku baik-baik saja, aku ingin pulang..”

“Kau harus menjalani perawatan dulu disini. Aku akan disampingmu.”

“Gomawo, kau menyelamatkanku Oppa.”

“Aku suamimu, aku harus melindungimu..”

“Oppa, apakah wartawan yang meliput tadi mengejar kita? Aku yakin besok kau dan aku akan masuk kedalam berita pagi hari.” Aku terkekeh pelan mendengarnya.

“Tak ada yang mengejar kita, mungkin saja itu terjadi.”  Suzy terdiam untuk beberapa saat.

“Suzy-ah, kau tidak sedih melihat kantormu terbakar?”

“Apa yang harus aku sedihkan Oppa, ini sudah terjadi.”

“Kau rugi banyak, semua peralatan yang ada di agensimu bukan peralatan yang murah. Dan berkas-berkasmu?”

“Itu, berkas itu sudah aku pindahkan ke kantor cabang, berkat seseorang yang memberitahuku lebih dulu. Aku juga tak mengerti Oppa.”

“Siapa yang memberitahumu?”

“Junho Oppa, yang berkolaborasi denganku di panggung waktu kau cemburu.”

“Junho mengetahui kejadian kebakaran ini lebih awal jika seperti itu. Suzy-ah, apa mungkin Tuan Kang kini sedang memanfaatkan artismu?” tanyaku padanya.

“Mollayo Oppa, kita bisa menyelesaikannya nanti setelah keadaanku stabil, bukan?”

Aku menganggukan kepala, tersenyum padanya.

“Apakah kau ingin liburan? Untuk sejenak melupakan masalah yang dibuat Tuan Kang?”

Suzy mengangguk.

Author POV

Esoknya Myungsoo mengurus surat-surat dan tiket pesawat yang diperlukan. Myungsoo kembali ke rumah dengan Suzy. Suzy sudah boleh pulang, keadaannya sudah stabil. Kini Myungsoo dan Suzy tengah mempacking barang-barang mereka. Tak lama kemudian datanglah Tae Hee dan Yoo Jung.

“Suzy-ah, kau sudah baikan sekarang? Aku melihatmu di berita. Kau harus menontonnya, Myungie kau juga di sebut sebagai pahlawan. Tapi mereka tak mampu mengidentifikasi identitasmu.” ujar Tae Hee

“Aku sudah baikan Eonni, aku juga sudah menyangka itu pasti akan terjadi. Wartawan banyak menghubungiku semenjak kejadian itu. Tapi aku tak menggubrisnya, mereka hanya mengetahui alamatku yang dulu. Mereka juga tak akan kesini. Eonni, dia adalah Iron Man di acara konserku. Netizens juga tak dapat mengidentifikasi dia.”

“Oppa , kau sangat misterius jika seperti itu.” ujar Yoo Jung, Myungsoo hanya tertawa. Esok hari mereka semua akan pergi ke London. Mereka lelah dengan terror yang menghampiri mereka.

—-0000—-

Di bandara Incheon, semua berlalu lalang. Myungsoo beserta rombongan kecilnya kini tengah menunggu penerbangan. Setelah mereka menaiki pesawat, di pesawat Suzy tertidur. Myungsoo hanya tersenyum melihat Suzy tertidur. Suzy sangat cantik jika sedang tertidur seperti ini.
Pesawat yang mereka tumpangi kini mendarat dengan lancar di Bandara Heathrow,London.

Musim panas kali ini mengundang banyak turis yang mengunjungi London. Sehingga kota ini terlihat begitu padat. Namun tak mengurangi keindahan beberapa Royal Park yang ada disana. Setibanya mereka di rumah orang tua Myungsoo, Suzy menghempaskan dirinya di Sofa, begitu juga Yoo Jung dan Tae Hee.

“Oppa, aku ingin berjalan-jalan ke Greenwich Park. Ppali..” rengek Yoo Jung pada Myungsoo. Rumah mereka ini tidak jauh dari taman-taman indah di kota London.

“2 jam yang akan datang. Kita beristirahat dulu Jungie.” jawab Myungsoo.

2 Jam kemudian Myungsoo siap dengan kaos dan celana selututnya, tak lupa dengan kacamata yang ia kaitkan di bajunya. Suzy siap dengan dress selutut berwarna biru langit, tak lupa dengan topi dan kacamata yang ia pakai. Yoo Jung dan Tae Hee memakai kaos dan rok pendek, dengan topi dan kacamatanya juga.

Mereka berjalan untuk sampai ke Greenwich Park, disana banyak sekali orang yang sedang piknik ataupun berjalan-jalan. Yoo Jung dan Myungsoo segera menghampiri anak-anak yang sedang bermain. Sementara Suzy dan Tae Hee terduduk di kursi taman.

“Suzy-ah, Myungsoo sangat menyukai anak-anak. Lihatlah, ia sangat dekat dengan anak-anak yang baru saja ia kenal.”
Suzy mengangguk, tersenyum.

“Dulu dia menginginkan keponakan dariku, aku sampai pusing mendengarnya. Ia dan Yoo Jung sangat menginginkan seorang anak kecil yang terlahir dari rahimku, tapi aku tak mampu memberikannya.”

“Wae? Apakah karena Suami Eonni jarang pulang ke Korea?”
Tae Hee menggeleng dengan senyuman yang terpancar di bibirnya. Pandangan matanya berubah menjadi sayu.

“Rahimku di angkat, aku mengalami keguguran beberapa tahun silam. Ternyata kanker rahim itu mampu membuat rahimku hilang, aku sedih.. Suzy-ah.” Suzy kini tengah menatap dalam Tae Hee, Tae Hee adalah artisnya, ia ceria, ia cantik, baik hati. Tetapi mengapa hal seperti ini bisa terjadi.

“Lalu, apakah ini alasan suamimu jarang kembali?”

“Ia sangat menginginkan seorang anak, namun aku tak mampu memberikannya. Akhirnya ia memutuskan mengadakan perjalanan bisnis besar-besaran. Aku tak ingin ikut dengannya walau Eomma memaksaku, hanya akan menyakiti hatiku ketika melihat ia bermesraan dengan wanita lain.” Kini Tae Hee mengeluarkan air matanya, Suzy memeluknya. Tak ia sangka Eonni nya ini memiliki kisah hidup yang menyedihkan.

“Dapatkah kau memberi nafas baru di keluarga kami , Suzy-ah? Kau pasti mampu memberikan seorang anak untuk Myungsoo. Bukan satu, tetapi banyak..” ujar Tae Hee, Suzy menatap Myungsoo yang sedang ceria bermain dengan anak-anak.

—-0000—-

Suzy dan Myungsoo kini tengah berjalan berdua menyusuri taman Greenwich, sesekali Suzy memetik bunga yang ada disana. Bunganya indah, seperti wajahnya. Itu yang dikatakan Myungsoo. Myungsoo dan Suzy tiba di ujung taman, Myungsoo menggenggam tangan Suzy.

“Aku senang bisa hidup bersamamu. Bersama denganmu membuatku menyadari keindahan hidup.”
Suzy dan Myungsoo kini berhadapan, Suzy tertunduk malu.

“Aku juga bahagia hidup bersamamu, Oppa.”

“Aku mencintaimu Suzy, Kim Suzy.” ujar Myungsoo, kini Myungsoo mendekatkan wajahnya ke wajah Suzy, Suzy menyadari apa yang akan Myungsoo lakukan, ia memejamkan mata. Tangan Myungsoo refleks memeluk Suzy. Masih dengan tautan bibir mereka. 10 Menit kemudian Myungsoo melepaskannya, Suzy tertawa. Mereka saling menatap hangat. Tak disadari ada orang lain yang menyaksikan mereka, suaranya mampu menyadarkan Suzy dan Myungsoo bahwa ini bukan manusia. Seekor anjing yang terlihat seperti serigala menggonggong ke arah mereka. Myungsoo menatap Suzy, menarik lengan Suzy. Lalu berlari…

[Play, Park Sihwan-The Way We Loved]

Mereka berlari dengan tertawa, dengan kencang.

Angin menembus meniupkan dirinya, seolah berbicara pada pohon rindang yang indah.

Pohon itu bergoyang, angin itu menyejukkan sepasang manusia yang sedang berlari.

Bunga-bunga yang tertancap di tanah seolah membicarakan ingin terbang terbawa angin dan menaburkan dirinya diatas sepasang suami istri tersebut..

Suzy dan Myungsoo tertawa riang. Ini kali pertama mereka berlari dan tertawa lepas…

—-0000—-
Suasana di kediaman keluarga Kim ini kini menjadi hangat. Tawa bahagia mewarnai mereka malam hari ini, hingga mereka di kejutkan dengan suara bel yang berbunyi dari luar.
Yoo Jung membukakan pintu, ia melihat seorang lelaki tua berpakaian rapi dengan di kawal oleh pria-pria seperti mafia mengunjungi mereka. Lelaki tua itu kini mengulas senyum pada Yoo Jung.

“Aku, Yi Kang Cho.. Ingin bertemu dengan kakak laki-lakimu. Senang bertemu denganmu Kim Yoo Jung.”

_TBC_

Annyeong readers~ UAS beres, terbitlah remedial huhuuuu. Do’ain yah author ga kena remedial. Hiks.
Gimana nih chapter 4? Maaf kalo ga seru yah,hehe. Oh iya, di chapter sebelumnya author bilang kan ya kalo mereka mau ke London buat nyelesain misi mereka? Ini masih di moment merekanya kan? Nanti di chapter 5 di bahas lah ya. Maaf ga bisa balesin komentar kalian satu-satu. Hihi, makasih sebelumnya yang udah comment,like, read. Author suka ketawa-ketawa sendiri baca komentar kalian, ketambah kalo ada Do Yeon masuk ke pembahasan pasti kalian sebeeeel, wkwk. Myungsoo udah berani ngomong ke Do Yeon tuh, tapi yakin gat uh Do Yeon bakalan diem aja? wkwk sedangkan Suzy belum bisa ke Min Ho. Nanti deh lebih lanjutnya akan dibahas di chapter 5. Ok, See U in Chapter 5 yah, Don’t forget to RCL :*

76 responses to “[Freelance] Business Marriage Chapter 4

  1. Heol, bener kan doyeon dan minho pasti akan menjadi pengganggu ! Padahal sudah kuberitahu jangan mengganggu myungzy !
    Nyebelin itu waktu doyeon mau nampar suzy. Iyuhh😀

    btw myungzy moment nya romantis sekali🙂 myung slalu menjadi superman nya suzy wkk.
    Suzy, boleh dong dipikir lagi permintaan taehee mengenai anak😀

    semoga misi mereka bisa berjalan lancar !

  2. Heol, bener kan doyeon dan minho pasti akan menjadi pengganggu ! Padahal sudah kuberitahu jangan mengganggu myungzy !
    Nyebelin itu waktu doyeon mau nampar suzy. Iyuhh😀

    btw myungzy moment nya romantis sekali🙂 myung slalu menjadi superman nya suzy wkk.
    Suzy, boleh dong dipikir lagi permintaan taehee mengenai anak😀

    semoga misi mereka bisa berjalan lancar ! Huwaiting.

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s