Secret Murderer

Untitled-1

Secret Murderer 

 .

A Fanfiction by Fanficfunny

.

Tittle : Secret Murderer ||Author: Fanficfunny || Main Cast : Bae Suzy Miss A and Kim Myungsoo Infinite||  Genre : Mystery, Family|| Duration : Ficlet|| Rating : PG-13
Disclaimer : Semua tokoh dalam fic ini milik agency mereka masing-masing tapi alurnya sepenuhnya milik saya.

****

.

.

Summary :

Apa salahnya jika membunuh mereka? Apa salahnya jika membunuh sepasang iblis?

.

.

Tangan Suzy terkepal di balik kain satin, wajah piasnya melengkung dengan amat memprihatinkan. Kendati sejauh ini, wajahnya telah berbohong sempurna ada hal tertentu yang mengakibatkan sinar matanya berkabung dalam gelut air yang terus di reproduksi. Acap kali ia mengutuk dirinya yang teramat  tak berguna.

Lagi-lagi lengkungan aneh memenuhi wajahnya, tapi terhenti tatkala  Suzy menyadari adanya kesia-sian. Lingkaran hitam yang sudah menemaninya nyaris sebulan ini, masih terlalu kentara untuk berbohong bahwa ia baik-baik saja. Wajah tirusnya pun enggan berkompromi dengannya. Diantara semuanya, sesuatu yang dalam diri Suzy lah yang paling menderita. Terus bersandiwara, dengan menyematkan senyum palsu. Lantas menangis di sudut ruangan saat malam berlabuh. Dia tahu, semua orang berkata bahwa ia mampu menjalani hidupnya lagi. Mereka berkata Suzy, hanya harus makan dan istirahat yang cukup. Mereka bilang—bahwa bajingan terkutuk—tak perlu repot-repot di risaukan. Mereka—sekumpulan orang-orang bodoh yang mendiami kubu tempatnya tinggal dan berlabel teman sekolahnya amat senang mencabik orang itu dengan mulut kotor mereka.

Nyaris saja, Suzy merobeknya jika logika tak segera mengenyahkannya. Ia tahu, sejahat apapun dua orang terkutuk lainnya, mereka tetaplah tempat dia berlindung—seharusnya. Kendati dua orang terkutuk itu menandai punggung tangannya dengan setrika panas, tapi karena dua orang terkutuklah dia dan orang brengsek lainnya—

“Lama menungguku?”

Hingga sekon ini, Suzy masih ragu untuk berada di zona yang tepat. Ia masih enggan menjauh dari sosok pemuda berwajah lusuh—yang dulunya sangat tampan—di depannya. Dan ikut menghardiknya bersamaan dengan orang bodoh lainnya. Tapi, ketika melihat wajahnya langsung. Ada perasaan amarah yang hebat. Kebencian yang meletup-letap yang tak mampu di tahannya.

“Tidak juga.”

Suzy ragu, apakah jawaban sinis benar untuk digunakannya.

“Kau tidak lelah?”

“Untuk apa?”

Sosok di balik kaca, tersenyum lemah.

“Menemuiku.”

Yeah.” Untuk sesesaat keadaan menjadi hening. Kaca tebal yang membatasi sosok dirinya dengan pemuda berseragam orange seolah berubah menjadi sekat dimensi yang aneh—memisahkan mereka di masa dan waktu yang berbeda.

“Kau sudah makan?” Suzy lagi-lagi berujar aneh. Setengah nadanya menjerit khawatir sisanya masih berada di posisi awal—sinis.

“Aku tidak akan kelaparan. Kau tahu mereka memberiku makan—“

“—Yeah, aku tahu,” potong Suzy tanpa sadar.  Maniknya dalam sekian sekon memilah memutuskan kontak mata dengan—

“Aku masih kakakmu kan Kim Suzy?”

Ada suara gesekan dan jeritan kecil di ujung ruangan, dimana seorang berseragam biru muda memekik, karena secara mengerikan ia menumpahkan kopi panasnya ke kaki bagian paha.

“Atas dasar apa kau bertanya seperti itu?” tanya Suzy tak suka, kali ini memilih bersitatap dengan sosok di depannya.

“Well, karena marga kita masih sama. Kupikir, aku dan kau masih berada di fase kakak-adik. Entah bagaimanapun aku tak bisa membuang marga Kim dari Kim Myungsoo bukan? Begitupun denganmu.”

“Setelah apa yang kau perbuat?” tanya Suzy sanksi.

Alis Myungsoo mengernyit, alih-alih bingung, ia tersenyum timpang. Maniknya mengintimidasi Suzy secara paksa. Hanya beberapa detik saja, setelahnya Myungsoo tersenyum amat lebar, hingga membuat bulu-bulu leher Suzy meremang.

“Apa salahnya mengenyahkan mereka?”

“Mengenyahkan? Kau membunuhnya! Kau menusuk perut mereka dengan pisau dapur! Kau memukuli mereka dengan tongkat bisbol milikmu!! Kau pembunuh keji Kim Myungsoo!!!”

Titik bening, yang menjadi benda keramat di saat mengunjungi kakaknya di sebuah bangunan bernuansa suram yang menjadi momok menakutkan di kotanya, bergulir. Amat cepat, membuat Suzy harus cepat-cepat menghapusnya. Dadanya sesak dalam sekejab, memikirkan kakak yang dulunya lembut berubah sinting dalam waktu semalam.

“Apa salahnya jika membunuh mereka?! Apa salahnya jika membunuh sepasang iblis,?!” teriak Myungsoo jengkel.

Suzy terdiam, dadanya bergetar ketakutan. Dalam sembilas tahun hidupnya, tak sekalipun ia mendengar Myungsoo begitu sengit padanya. Tak sekalipun sosok monster bersarang tatkala mereka terlibat konversesi.

“Mereka orang tua kita.” Ada nada ketakutan yang tanpa sengaja terselip.

“Idiot! Seharusnya kau senang aku sudah—“ Myungsoo menarik napasnya, “membunuh mereka,” ujarnya lirih. Ada pancaran kesedihan yang di rasakan Suzy begitu Myungsoo melontarkan kata-katanya. Tapi jika begitu, kenapa acap kali, Suzy mendaftarkan diri menjadi satu-satunya wali yang membesuknya. Tak pernah sekalipun Myungsoo berujar penuh penyesalan bahkan setelah kematian orang taunya lewat dari seminggu.

“Mereka pantas mati. Ingat itu!”

“Tapi kenapa?! Kita bisa kabur, jika mereka terus menyiksa kita. Kita bisa mencari uang dengan menjadi pengemis di jalan, kita bisa—“

“—hentikan omong kosongmu. Kau pikir, saat kita bersama mereka. Kita tak seperti pengemis? Kaupikir hidup kita seperti para politikus? Memberi makan kita saja, setidaknya mereka harus memikirkan ulang berkali-kali. Memastikan jika perut mereka menolak untuk makan.”  Myungsoo menatap tajam ke arah Suzy, memberikan tekanan yang kentara di wajah kelabu Suzy. Sejauh ini, untuk kali pertamanya Myungsoo menatapnya amat tajam, seolah ingin merobek manik Suzy.

“Kau bilang kabur? Aku sudah mengatakan berapa kali? Tapi apa yang kau bilang? ‘Tidak kak, aku tidak ingin meninggalkan mereka berdua. Ayah sering mabuk dan ibu sering di pukuli ayah. Aku tak tega melihat ibu menangggung penderitaan sendirian.’ Menanggung penderitaan sendirian?” tanya Myungsoo balik nyaris terdengar menggertak.

“Apa kau pikir kita ini benda mati? Bukankah kita sering di pukuli ayah? Dan ibu? Kau bilang ibu kita menanggung penderitaan? Apa otakmu perlu di pukul, hah?!! Dia memukuli kita untuk melampiaskan kemarahannya—Ya Tuhan!! Suzy kau kenapa?”

Suzy tak lagi mampu mendengar secara jelas. Kepalanya berdengung aneh, suatu hal yang lumrah ketika dirinya di hadapkan oleh ketakutan dan keputusasaan. Ia mencengkram, kursi tempatnya duduk.

“Suzy, tidak maafkan aku. Aku kehilangan kontrol, kumohon.”

Kepalanya berdenyut sangat hebat, hingga mungkin tanpa sadar Suzy akan menabrakannya pada kaca tebal di depannya atau pada lantai di bawahnya. Ia menjerit, saat rasa sakit itu menggarang di kepalanya.

“Suzy, aku mohon. Maafkan aku,” jerit Myungsoo bercampur tangisan.

Myungsoo menoleh cepat, sialnya. Petugas lelaki yang tadi berjaga telah raib entah kemana. Ia kembali melihat panik ke arah Suzy.

“Maafkan kakak. Kumohon Suzy, Demi Tuhan!! Aku tidak akan membentakmu lagi! Demi Tuhan Suzy!!”

Napas yang nyaris putus di pernapasan Suzy secara pelan berangsur-angsur normal. Ia menatap linglung ke arah kakaknya, lantas berlari kalut di tengah teriakan putrus asa Myungsoo.

“Suzy! kumohon kembali!!”

||.||

Rasa pening masih bersarang di kepala Suzy. Wajah tirusnya mengernyit aneh, tatkala melihat dirinya berada di kamarnya. Tengah berbaring, dengan pakaian yang masih sama. Tanpa perlu melirik jam yang tergantung di kamarnya, ia setengah berlari ke kamar mandi. Sudah beberapa tahun ini, ia menderita sebuah penyakit langka. Myungsoo mengatakan ia terkena amnesia singkat. Dimana untuk saat-saat tertentu ia lupa dengan segala hal yang di lakukan sebelumnya.

Brak!

Suzy melompat, maniknya bertambah lebar tatakala beberapa orang berseragam polisi menatapnya penuh waspada. “Ada apa?” tanya parau.

“Tangkap dia.” Otak Suzy berjalan lambat, mencoba mengingat kejadian yang menjadikannya tersangka utama perbuatan mengerikan sampai-sampai beberapa polisi bersiaga penuh padanya dan mendobrak pintu rumahnya tanpa permisi.

Ia melihat sekitar lima—kalau retinanya tak salah—dua diantaranya memandangnya ngeri, dan tiga lainnya berlari ke arahnya. Meringkusnya dalam sekali gerakan.

“K-kalian pasti salah tangkap!,” raung Suzy.

“Nona Kim Suzy?”

Suzy mengangguk, masih berharap sang polisi mendesah lesu lantas meninggalkan rumah bobroknya dengan wajah merah menahan malu. Lantas menyalaminya, sebagai ungkapan maaf.

“Tangkap dia!!”

“Tidak! Tunggu!! Kenapa?!!”

||.||

Otaknya masih belum menangkap ujung benang kasus yang melibatkannya. Semuanya terjadi secara mendadak, dan fakta yang di ketahuinya di muka hakim membuat seluruh sarafnya membeku. Membuat, jantungnya ingin keluar memberontak.

Lantas apakah kejadian lalu, jelas berhubungan dengan penyakit aneh yang dikemukakan seorang psikiater—yang sebelumnya memeriksanya. Ia bersumpah wawancara menguras tenaganya bersama psikiater wanita berkacamata tebal dengan senyuman menangkan bukanlah pengakuan dosa. Ia ingat sang psikiater menanyakan alasan kenapa ia melakukan keji yang di tuduhkan padanya. Ia di tuduh,membunuh seorang laki-laki—yang bahkan Suzy tak pernah mengenalnya secara pribadi, hanya dengan bukti rekaman amatir, menampilkan seorang gadis dengan rambut, pakaian, serta tubuh yang mirip dengannya. Ia telah bersumpah di hadapan para polisi, psikiater, dan tetek bengeknya—yang di dapatnya tak lebih dari helaan napas frustasi.

Itu awalnya. Kejadian selanjutnya membuatnya benar-benar kebingungan. Petugas wanita yang biasa menggertaknya, menjadi pendiam sepanjang hari. Keesokannya, ia menemukan dirinya terbaring di penjara tertutup yang hanya ada jendela kecil berlapis jeruji. Tak ada seorang pun di sana, bahkan teman selnya—seorang gadis yang menjadikan membunuh sebagai hobinya— kini tak ada. Badannya remuk, dan ada beberapa luka aneh yang di dapatnya.

Ia sering ketakutan di sana. Tak ada satupun petugas yang tinggal ketika petang datang. Hanya ada dia dan sialnya ia sering pingsan dan melupakan kejadian sebelumnya. Kadang kala, ia bertanya-tanya pada dirinya, tentang baju orange yang tercabik-cabik, atau kedua badannya yang lebam. Ia merasa amnesianya makin parah tatkala berada di ruang jeruji.

Hai.”

Suzy terdiam, wajahnya menuntut penjelasan pada sosok yang berada di ambang pintu. Senyumnya tak di kenali lagi, wajahnya pucat pasi. Dan ia tersenyum dengan cara yang sama saat Suzy tersenyum padanya, kendati tak ada kebencian yang melekat.

Sosok itu—Myungsoo—menarik kursi di depannya. Tak ada lagi seragam orange yang melekat. Ia memakai kaus kebesaran, dan celana longgar.

“Ketua sipir, membiarkanku berada di sini. Tapi nanti, aku harus kembali lagi.”

Ekspresi kosong menjadi momok yang di temui Myungsoo.

“Kau tak pernah mengatakannya padaku,” ujar Suzy lirih.

“A-apa?” tanya Myungsoo berpura-pura tak mengerti.

“Kejadian  sebenarnya.”

Suzy memainkan kedua tungkainya, menatap Myungsoo tak mengerti. Myungsoo tersenyum ala kadarnya. Ia meraih tangan Suzy, menatapnya teduh. “Aku tidak mungkin mengatakan bahwa kau yang membunuh kedua orang tua kita.”

“Tapi kenapa kau berbohong padaku?”

“Ingat. Kau bukan monster, kau tetaplah adiku. Kau akan tetap menjadi Kim Suzy.

“Aku sudah membunuh empat orang. Dua orang adalah orang tua yang paling kita benci, satu orang laki-laki yang tak pernah kutemui, satu lainnya. Teman selku. Aku membunuhnya dengan membenturkannya pada tembok. Kau yakin aku masih Kim Suzy?”

“Kau tahu, sampai kapanpun kau masih tetap adikku. Kau masih tetap adik kecilku yang selalu bersembunyi di balik punggungku saat ketakutan. Kau masih menjadi adik kecilku yang selalu memohon dengan manja saat kau di beri tugas sekolah banyak. Kau—“

“—Aku seorang berkepribadian ganda.”

“Kau masih tetap Kim Suzy—adik kecilku.”

END

OKEY, INI GAK JELAS IYA KAN HAHAHAHAAA 😀

Buat yang masih belum ngeh (?) nih aku kasih penjelasan singkat. Intinya si Myungsoo tahu kalo Suzy punya kepribadian ganda. Makanya dia yang ngaku kaloyang bunuh orang tuanya itu dia, dan dia ga pernah menyesal karena emang dia engga bunuh dan kedua kalo Suzy tahu,dia yang ngebunuh setidaknya. Suzy engga perlu merasa bersalah. Tapi pada akhirnya setelah, Suzy pulang dari penjara, kepribadiannya ganti. Dan secara engga sadar di bunuh, orang lain, kejadiannya berulang saat di sel. Yaaaa intinya begitulah😀

SORRY BUAT KESALAHAN JUDUL YAAA~~❤

24 responses to “Secret Murderer

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s