[The London’s Journal] Flip-Flop

THE LONDON’S JOURNAL

tlj-flipflop

miss A Bae Suzy and Special Guest #4 | Alternate-Universe, Life, Family, Sad, slight!Sport | General | ficlet | beside the poster and story-line i own nothing!

July, 2015©

“ – kecuali dia yang sedang jatuh sakit.”

part of THIS

31st of May, 2015, Wembley, London

Riuh rendah para pendukung Tim Senjata memenuhi Stadion Wembley kala Alex Oxlade-Chamberlain memasuki lapangan untuk menggantikan Alexis Sanchez pada menit ke-89. Di pinggir lapangan, Suzy pun memberi semangat kepada Alex dengan membuat gestur salut melalui dua jarinya.

Sementara itu, gadis itu pun melihat papan skor yang menunjukkan keunggulan Arsenal atas Aston Villa dalam laga final Piala FA. Senyuman tipis nampak merajai bibir gadis itu. Bersama dengan Gary – seorang dokter utama di Arsenal – dia pun melangkah mendekati lapangan, melihat lebih dekat bagaimana anak-anak asuh Wenger yang menguasai bola dari Benteke dan kawan-kawan.

Mukjizat Tuhan sepertinya hadir untuk Tim London Utara ini. Setelah berhasil unggul dari Aston Villa, tidak ada tackle ataupun cedera berarti yang merundung para pemain dalam pertandingan krusial kali ini. Semua pemain berada di dalam performa terbaik mereka. Dan hal itulah yang sekiranya dapat membuat Suzy bernapas sedikit lega, tidak hanya Wenger saja tentunya.

Asisten wasit di pinggir lapangan mengangkat timer yang menunjukkan additional time sebanyak 3 menit untuk laga final kali ini. 180 sekon yang serasa 180 tahun bagi kedua tim.

Suzy pun mengantungkan kedua tangannya, berupaya nampak kelihatan biasa saja, meski hatinya terus memanjatkan doa supaya tidak ada halang rintang bagi timnya.

Pandangannya pun tertuju pada pergerakan Alex yang menggocek si kulit bundar kepada rekan sejawatnya. Senyuman itu kembali terkembang. Gadis itu merasa bangga dan senang karena berhasil membantu Alex sehingga lekas terbebas dari cedera ankle yang dideritanya sehingga ia pun bisa diturunkan dalam laga pamungkas kali ini.

Belum cukup rasanya bagi para penggemar Aston Villa yang memadati tribun Stadion Wembley untuk menelan mentah-mentah tiga gol yang dijebloskan Arsenal kepada tim kesayangan mereka, kini mereka harus bersiap menerima kekalahan yang sesungguhnya. Begitu juga dengan fan fanatik Aston Villa dari Kerajaan Inggris, Pangeran William, yang sedari tadi tersenyum kecut ke arah lapangan.

Pasalnya, pada menit ke-93, Alex menemukan celah kosong di tiang gawang sebelah kanan. Dia pun memberikan kode kepada sang penyerang asal Prancis, Oliver Giroud. Alex melesatkan operan menuju tiang terdekat dan Giroud pun segera menjentikkan si kulit bundar menuju gol lawan di sebelah kanannya. Dan, GOAL!!! Sedikit berbau off-side, but what does it matter?

Suzy melayangkan acungan jempol kepada Alex dan Giroud beserta pemain lainnya yang langsung berhamburan menuju keduanya, melakukan selebrasi. Sorak-sorai gembira para penggemar The Gooners membahana di Stadion Wembley. Mereka saling berpelukkan, bertukar tangis dan tawa bahagia.

Tiba-tiba, ponsel di saku celana training-nya bergetar. Dia pun segera mengambilnya dan menggeser pengunci layar. Begitu mendapati sebuah pesan yang berasal dari adiknya, alisnya pun berdempetan. Keningnya dibuat mengerut. Tumben sekali Sungjae gemar mengiriminya pesan. Dia tidak biasanya seperti ini.

Pesan itu pun segera dibuka dan dibaca isinya oleh Suzy. Yang mana setelah membacanya, membuat gadis itu memajukan wajahnya ke layar ponsel. Memastikan kebenaran di dalam pesan itu. Takutnya ia salah mengartikan simbol. Setelah diamati dengan jelas, dia pun menghela napas dengan lambat. Tidak, pesannya tidak berubah. Isinya tetap sama.

Perlahan, wajah gadis itu nampak layu seiring dengan hal kontradiktif lainnya yang mewarnai wajahnya. Di tengah ekspresi mendungmya, gadis itu malah memamerkan senyum hampa namun terasa pahit. Ponselnya pun buru-buru kembali dilesakkan ke dalam saku celana training-nya.

Sekarang bukan momen yang tepat, pikirnya. Suasana hati di tim sedang gembira dan ia tidak boleh menjadi perusak suasana. Meski hal ini berkaitan dengan kehidupannya, Suzy tetap tidak menaruh skala prioritas utama kepada hal tersebut.

“Ada apa denganmu, Dear?”

Gary menepuk bahu Suzy lantas mengangkat kedua ujung bibirnya. Suzy pun menggeleng seraya menunjukkan bahwa tidak ada yang terjadi padanya.

“Tidak ada apa-apa.” dustanya. “Well, sepertinya waktu tambahan sudah habis. Ayo kita rayakan kemenangan kita yang ke-12 ini, Gary!”

***

From: Sungjae B

Nuna, kau tahu, sekarang penyakit diabetes eomma semakin parah. 
Kata eomma, dia ingin bertemu denganmu.. jadi, bisakah kau mengunjungi kami?

***

Pada hari pertama di bulan Juni, Suzy mengisinya dengan berjalan di sekitar Picadilly Circus seorang diri. Liga sedang memasuki fase libur. Jendela transfer pemain pun masih lama dibuka. Sementara untuk mengisi jadwalnya yang kosong ia memilih untuk menyusuri tepi kota London seorang diri. Soojung, sahabatnya yang biasa menemaninya tidak bisa datang karena dia sedang pulang kampung ke Korea.

Di dalam ruang hatinya, pun muncul sebersit keinginan untuk mengunjungi Korea. Meski persentasenya tidak menyentuh 0,001 %, hal atomik itu berpengaruh terhadap Suzy. Terlebih setelah mendapat pesan yang mengejutkan dari Sungjae kemarin.

Kondisi eomma yang drop dan berkata ingin bertemu dengan Suzy.

Tidak mungkin. Bukankah eomma yang telah memintanya untuk tidak pernah kembali dan sekarang malah ingin bertemu dengannya? Apa maskudnya? Apakah eomma ingin mengolok-olok profesi Suzy yang sekarang? Apakah eomma ingin menyalahkan Suzy lagi?

Kenapa Suzy berpikir seperti itu? Lagipula seorang ibu yang ingin bertemu dengan putrinya setelah lama tidak bertemu itu hal yang lumrah, bukan?

Eomma tidak mungkin jadi selembek itu – “

Suzy menyetopkan langkah di depan zebra cross yang dilalui oleh kendaraan di jalanan kota. Lantas matanya berkeliling, memburu hiruk pikuk warga yang menyesaki kawasan turis tersebut.

“ – kecuali dia yang sedang jatuh sakit.”

Lampu berwarna hijau milik pejalan kaki pun menyala, membuat gadis bersurai gelap itu segara menunaikan langkah untuk menyebrangi jalan bersama pengguna jalan yang lain.

“Ya Tuhan, kenapa hal konyol seperti ini harus menimpaku lagi, sih?”

Suzy mendengar rentetan kalimat dalam Bahasa Korea bernada jengkel dari seorang pria berpakaian parlente di depannya. Pria itu buru-buru membalikkan badan sehingga langsung menubruk Suzy yang berjalan di belakangnya karena tidak sempat melihat. Pria itu pun membuat gestur meminta maaf dengan mengangkat kedua tangannya.

“Oh, pardon me.”

“Tidak apa-apa, Tuan.” jawab Suzy dengan Bahasa Korea.

Si pria merasa terkejut lantas tersenyum penuh maaf.

“Maaf, aku tidak melihat dan sedang buru-buru. Jadi, permisi, Nona.” ujar si pria yang langsung melesat dan meninggalkan gadis itu.

Suzy mengangguk simpati lalu segera meneruskan langkahnya. Namun belum sempat ia mengangkat kakinya, dia menemukan sepotong dompet yang tercecer di tengah jalan yang dia yakini milik pria tadi. Dompet itu pun segera diambil olehnya.

“Tuan!”

Dikejarnya pria itu olehnya yang belum terlalu jauh darinya sambil berteriak. Beruntung, pria itu pun segera berbalik badan dan menatap Suzy dengan heran.

Dompet berwarna cokelat itu pun diserahkan kepada pria itu.

“Kukira dompetmu tertinggal, Tuan.”

Si pria menautkan kedua alisnya lantas merogoh saku jasnya baik di sebelah kanan maupun sebelah kiri. Bergantian dengan saku celananya. Ekspresi kaku itu lantas terganti oleh kelegaaan yang menjerang setelah mendapati dompet yang dikembalikan oleh Suzy.

“Terimakasih, Nona. Selain konyol ternyata aku juga ceroboh, ya. Sekali lagi, terimakasih banyak.”

Pria itu pun menyodorkan kartu nama yang berasal dari dompetnya kepada Suzy. Gadis itu pun menerimanya dengan canggung. Pria yang nampak buru-buru itu pun tersenyum.

“Kau bisa menyimpan kartu namaku bila sewaktu kau ada perlu denganku.”

“Ya?”

“Maaf sekali tapi aku sedang terburu-buru. Sekali lagi terimakasih banyak dan semoga harimu menyenangkan!”

Si pria tadi pun membungkuk singkat lalu segera meninggalkan Suzy yang mematung membaca tulisan yang tertera di atas kartu berwarna hitam dengan tinta emas tersebut.

Finance Consultant, The Light Finance, Suho Kim.”[]


bonus-pict, bagi yang ngga tau siapa Oliver Giroud dan Alex, ini dia~~

giroud yang pakai jaket biru dan alex yang pakai crutches~hehe

giroud yang pakai jaket biru dan alex yang pakai crutches~hehe. foto ini diambil dr tahun 2012, awal2 Giroud hijrah ke Arsenal…di mana nike masih jd sponsornya.hehe.

3 responses to “[The London’s Journal] Flip-Flop

  1. Wahh kira kira suzy bakal kembali ke korea ga yah, sepertinya kalau kembali ke korea seru dan disana suzy bertemu dengan orang2 yang pernah di temuinya termasuk suho kkk
    Kelanjutannya ditunggu, fighting^^

  2. Tapi sedih juga sih sama keadaan eomma suzy..
    Wuaaa.. keren kak!! ada suho juga^^
    Ditunggu next series ya kak, fighting!!

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s