[Freelance] We Are Not King and Queen Chapter 1

sssssss

Title : We Are Not King and Queen | Author : kawaiine | Genre : Historical, Marriage-Life, Romance | Rating : PG-17 Main Cast : Bae Soo Ji as Queen Soo Ji,Kim Myungsoo as Kim Myung Soo | Other Cast : Kim Do Yeon as Hee Bin (Selir Tk.1), Lee Min Ho

“This plot and story is pure from my mind. Sorry for typos, don’t be a siders and plagiator. Happy reading :*”

***

Author POV
Langit Joseon kini cerah berawan, kicau burung saling bersahutan. Bunga teratai mulai tumbuh di kolam kecil kediaman Menteri Pertahanan. Pintu kamar hanok di samping taman kecil bunga krisan kini terbuka,seorang gadis  menyembulkan kepalanya keluar. Melihat dan memastikan tak ada orang di rumahnya. Sepi, hanya kicauan burung yang terdengar. Ia kini menapakkan sepatu unhye bermotif kupu-kupu berwarna biru langit di atas tangga yang menghubungkan hanok dengan permukaan tanah. Chima berwarna kuning yang ia pakai kini terangkat sedikit, membuat sokchima berwarna putih itu terlihat. Ia berlari menuju pintu keluar, membuat kepangan tunggal di rambut hitam yang diikat dengan daejanggi  berwarna merah bergoyang ke kiri dan ke kanan.

“Agasshi, Soo Ji Agasshi.. “ teriak seorang yeoja muda dari arah belakang. Yeoja yang sedang menuju keluar itu kini menghentikan langkahnya. Yeoja muda itu kini menghampiri yeoja yang terdiam di pintu keluar.

“Agasshi,kau akan pergi kemana?.”
Yeoja itu kini berbalik menoleh pada yeoja di belakangnya.

“Aku ingin berjalan-jalan ke pasar.”

Yeoja cantik itu bernama Bae Soo Ji, putri dari Bangsawan Joseon. Ayahnya bernama Bae Nam Gon, ayah Soo Ji adalah seorang Menteri Pertahanan. Soo Ji adalah putri tunggal. Ibunya sangat menyayangi Soo Ji. Soo Ji adalah gadis yang pintar, karena sehari-hari ia membaca banyak buku yang di perintahkan ayahnya. Untungnya, Soo Ji tidak menolak. Ia sangat menyukai membaca. Ibu Soo Ji juga mengajarkan menyulam kepada Soo Ji, namun Soo  Ji tak begitu menyukai kegiatan itu, jarinya seringkali tertancap oleh jarum.

“Tapi kau terlihat seperti akan kabur Agasshi. Jika Nyonya melihat ini, ia akan marah kepadamu.”

“Yeol-ah, Eommoni tak akan memarahi aku. Ayo, ppali..” ujar Soo Ji , tangannya mengisyaratkan pada Yeol untuk mengajak Yeol keluar.  Ia dan Yeol kini tengah berlari keluar dari rumah. Soo  Ji menyukai ini, menyukai ketika ia bergaul dengan dunia luar. Ia bosan membaca di dalam kamar, sesekali bermain ia hanya bersama Yeol. Yeol adalah pembantu Soo Ji. Tetapi Soo Ji sangat menyayangi Yeol.

Soo Ji kini berada di pasar dengan Yeol yang berada di sampingnya. Langkahnya terhenti ketika ia berada di salah satu penjual Norigae. Soo Ji refleks menghampiri Ahjumma penjual itu, bukan.. Bukan tertarik dengan Norigae yang Ahjumma itu jual.

“Ahjumma baik-baik saja? Biar kulihat tanganmu.” Soo Ji kini meraih tangan Ahjumma yang terduduk dengan lemas, namun wanita tua itu menepisnya.

“Agasshi, tanganku yang amat kotor tak boleh menyentuh tangan halusmu. Kau memiliki kulit yang halus. Aku baik-baik saja.”

“Ahjumma, lihat tanganmu seperti terkena api. Kau harus mengobatinya, aku akan mengantarmu beribat ke tabib. Ayo” Soo Ji kini menarik lengan Ahjumma tersebut. Hendak memapahnya.

“Yeol-ah,kau bereskan norigae ini dan susul aku kerumah tabib Geum. Aku akan mengantar Ahjumma ke tabib Geum.” Soo Ji kini memapah Ahjumma itu, menuntunnya dengan hati-hati dan perlahan. Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, Soo Ji tiba di kediaman Tabib Geum. Tabib Geum adalah mantan tabib kerajaan.

“Soo Ji Agasshi. Abeoji, Soo Ji Agasshi datang.” teriak seorang namja kecil berpakaian seperti pendekar. Soo Ji hanya tersenyum, tak lama kemudian Tabib Geum keluar dari rumahnya.

“Soo Ji Agasshi.” Tabib Geum membungkukan badannya, Soo Ji membalasnya.

“Siapa yang kau bawa ini Agasshi?” tanya Tabib Geum, Tabib Geum menghampiri Soo Ji dan mengambil alih Ahjumma tersebut.

“Ahjumma itu penjual Norigae di pasar, tangannya seperti melepuh. Aku khawatir melihatnya.” Soo Ji kini mengikuti Tabib Geum yang memasuki rumahnya. Soo Ji menghentikan langkahnya, tahu bahwa namja kecil bernama Jikyung ini ingin di tuntun olehnya.

Tabib Geum memeriksa Ahjumma tersebut. Dengan mata terpejam, lalu ia membuka matanya.

“Dia terkena Alergi, debu yang ia hirup kedalam mampu membuat tangannya menimbulkan bercak merah melepuh seperti ini. Ia hanya perlu diobati saja.” Soo Ji memandang nanar Ahjumma tersebut,  lalu memegang lengannya.

“Tabib Geum, lakukan yang terbaik untuk Ahjumma ini. Beri dia obat.”

Tabib Geum kini bangkit dari duduknya, ia segera mengambil ramuan obat ke belakang.

“Agasshi, maafkan aku mengotori baju indah mu…Terimakasih telah membantuku,.” Ahjumma itu kini memandang Soo Ji.

“Ahjumma, tak perlu meminta maaf, aku tulus membantumu. Tak perlu berterimakasih, kita sesama manusia harus tolong menolong..” Soo Ji kini tersenyum diikuti senyum dari Ahjumma tersebut, tak lupa Jikyung juga tersenyum melihat kejadian ini.

—-0000—-

Soo Ji kini tengah menunggu Yeol di taman kecil kediaman Tabib Geum. Jikyung menghampirinya.

“Agasshi, mengapa anda sangat cantik? Anda tumbuh menjadi gadis yang cantik sekali.”  Soo Ji tersenyum. Mengusap rambut Jikyung.
Namja kecil itu kini tengah duduk bersama Soo Ji, dan memberikan bibit tanaman.

“Ini krisan hijau Agasshi, aku baru saja menanamnya dengan Abeoji.”

“Ah, Gomawo Kyungie, kau sangat baik sekali.” Soo Ji kini memandang tanaman tersebut,senyuman tak lepas dari bibir indahnya.

Tak lama kemudian Yeol datang,bersama namja tinggi. Ia berpakaian seperti seorang pendekar. Namja itu menghampiri Soo Ji dan membungkukan badannya. Soo Ji berdiri membalas hormat dari namja tersebut.

“Agasshi, ini adalah Min Ho Orabeoni, ia putra dari Ahjumma penjual Norigae tersebut.”

“Oh, ibumu ada di dalam sedang beristirahat. Ia terkena alergi debu. Namun Tabib Geum sudah mengobatinya.” Ujar Soo Ji, namja bernama Min Ho itu menatap mata Soo Ji lekat. Soo Ji menatap kembali ke arah mata Min Ho, namun ia dengan cepat mengalihkan pandangannya.

“Yeol-ah, ayo pulang.” Soo Ji melangkah keluar, di iringi dengan Yeol. Tetapi sebuah panggilan untuknya membuat langkah indahnya terhenti.

“Agasshi, terimakasih banyak telah membawa ibuku ke Tabib.” Soo Ji menoleh pada namja tersebut, lalu menundukkan wajahnya dan terseyum. Ia segera pergi dari kediaman Tabib Geum. Di jalan ia tak banyak bercakap dengan Yeol.

“Agasshi apakah kita akan melanjutkan berjalan-jalan di pasar dan membeli sesuatu?” Tanya Yeol, sementara Soo Ji menghentikan langkahnya.

“Kau belikan aku Norigae kupu-kupu yang berwarna merah. Aku ingin memakai itu. Aku akan pergi sebentar, ku dengar banyak rakyat kelaparan di ujung sana. Aku akan kesana.” jawab Soo Ji

“Tapi, Agasshi sendirian. Aku ikut Agasshi saja.”

“Gwenchana Yeol-ah, aku sendiri saja.”

“Baiklah, Agasshi jaga diri baik-baik ya.” ujar Yeol dan memberi hormat pada Soo Ji. Soo Ji membalasnya lalu berlalu pergi.

Sesampainya disana Soo Ji berusaha menahan air mata untuk tidak keluar dari kedua mata indahnya. Ia memandang sedih pada dua orang anak kecil yang lusuh, dengan rambut tidak tertata rapi, wajah yang kotor, juga tidak memakai Jipshin. Soo Ji menghampiri kedua anak itu, ia berjongkok. Dengan tanpa ragu, tangannya terulur mengusap rambut namja yang sudah terbilang sedikit dewasa di hadapannya. Namja itu mengusap perutnya, ia tampaknya lapar. Begitu pula dengan yeoja kecil di pangkuan namja itu.

“Kalian lapar? Tunggu disini, aku akan membelikan kue dan makanan untuk kalian. Tunggu aku.” Soo Ji kini bangkit berdiri lalu segera pergi. Soo Ji membeli banyak makanan untuk kedua kakak beradik itu. Tapi, ketika Soo Ji kembali, kakak beradik itu sudah tidak ada di tempatnya. Soo Ji panik, ia berlari mencari-cari namja dan yeoja kecil tersebut. Hingga di sebuah kebun, ia menemukan mereka yang sedang di pukul oleh 2 orang Ahjussi, Soo Ji hendak menghampirinya, namun ketika ia akan masuk ke dalam kebun, tangan dan badan nya di tarik oleh seseorang dibalik benteng yang tersembunyi di dekat kebun tersebut. Mata Soo Ji terbelalak, mulutnya dibekap oleh telapak tangan kanan, sementara telapak tangan kiri orang itu menahan badan Soo Ji. Soo Ji meronta, hingga akhirnya sepasang tangan itu terlepas dari mulut dan tubuh Soo Ji, Soo Ji membalikkan badannya.

“Apa yang kau lakukan Ahjussi?! Perbuatanmu sangat tidak sopan!” Soo Ji kini membentak namja yang berani memegang badannya tadi. Namja itu hanya mengisyaratkan Soo Ji untuk tidak bersuara. Soo Ji menatap namja itu dengan penuh keseriusan. Tampan, gumamnya dalam hati.

Di pemandangan lain, kedua anak kecil itu kini tengah di tinggalkan oleh 2 orang Ahjussi tadi. Namja yang membekap mulut Soo Ji kini keluar dari benteng persembunyiannya. Di ikuti oleh Soo Ji.

Gwenchana? Eodi Appo?” tanya Namja tersebut, Soo Ji memberikan sekantong makanan pada kedua anak kecil tersebut.

“Makanlah, kue ini untukmu dan adikmu. Kau sangat lapar bukan?” ujar Soo Ji.
Tangan kecil itu kini membuka sekantong makanan yang diberian Soo Ji, ia memberikannya pada sang adik terlebih dahulu. Mereka memakannya dengan lahap, Soo Ji tersenyum, namja di samping Soo Ji menoleh pada wajah Soo Ji, tak disadari namja itu pun tersenyum. Soo Ji kini berdiri, menarik namja yang membekap mulutnya tadi.

“Sekarang, urusanku denganmu! Kau ini siapa Ahjussi? Kau beraninya membekap dan menarikku tadi!”

“Aku tahu kau ingin membantu anak itu,tetapi kau datang disaat tidak tepat. Ahjussi itu menyiksa mereka dan jika kau ketahuan oleh mereka, kau bisa di bunuh oleh mereka. Kau harusnya berterimakasih padaku!”
Soo Ji kini terdiam.

“Terimakasih kau telah menyelamatkanku.”
Namja itu kini tersenyum. Soo Ji hendak menghampiri kedua anak tersebut. Namja itu mengikutinya dari belakang. Soo Ji kini berjongkok, lalu meraih kedua kaki kecil milik yeoja kecil yang ada di hadapannya.

“Kau harus di obati. Sebelum di obati kau harus dimandikan terlebih dahulu. Jika kotoran itu masuk kedalam lukamu, ini akan menjadi infeksi.”

“Tapi, Agasshi.. kami tak punya rumah.”

“Siapa namamu?” tanya Soo Ji

“Aku Shiyoung, ini adikku Da Ra. Kami tidak punya rumah, ayah dan ibu kami sudah meninggal dunia.” jelas Shiyoung dengan mata yang berbinar-binar.

“Baiklah, kalian ikut aku saja. Aku akan membuat kejutan untuk kalian. Bagaimana?” tawar Soo Ji.

“Kami akan ikut denganmu Noona.” Shiyoung kini mengulurkan tangannya pada Soo Ji.

“Bagaimana dengan adikku Noona?” Shiyoung bertanya pada Soo Ji.

“Hmm, oh.. Ahjussi kau bisakah membantu kami? Kau gendong Da Ra. Aku akan membawa mereka ke suatu tempat.” namja itu kini menghampiri Da Ra, berjongkok menyuruh Da Ra menaiki punggungnya. Da Ra dengan sigap naik ke punggungnya. Soo Ji dan Shiyoung kini berjalan di ikuti namja tersebut di belakangnya.

—-0000—-

Soo Ji dan Shiyoung kini tiba di halaman rumah yang terbilang cukup besar. Da Ra tertidur di gendongan namja tersebut. Soo Ji mengambil alih Da Ra di gendongannya. Tiba-tiba sesosok Ahjumma keluar dari rumah tersebut.

“Agasshi..” Ahjumma itu memberi hormat pada Soo Ji. Soo Ji membalasnya. Namja itu kini menatap punggung Soo Ji, ia semakin yakin bahwa Soo Ji bukan wanita biasa.

“Aku ingin meminta bantuanmu Ahjumma.”

“Katakan saja Agasshi, akan ku lakukan untukmu.”

“Mandikan anak-anak ini dan gantilah bajunya. Aku akan mengobati luka Da Ra setelah ia dimandikan Ahjumma.”

“Baiklah Agasshi, anda tunggu di dalam saja. Aku akan memandikan anak-anak ini.”
Wanita bernama Heo ini kini menggiring kedua anak tersebut kedalam. Heo Ahjumma adalah mantan pelayan dari Ibu Soo  Ji. Soo Ji kini duduk di teras rumah Heo Ahjumma, namja itu menghampiri Soo Ji.

“Dari pakaian dan cara orang lain memperlakukanmu, kau sepertinya bukan wanita biasa.”

“Semua orang menganggapku seperti itu, tapi aku sama seperti mereka.”

“Bukankah Ahjumma tadi menyuruhmu kedalam?”

“Aku tidak mau di dalam, aku lebih suka memandang bunga disini. Ahjussi, kau pulang saja. Istrimu pasti mencarimu. Terimakasih telah membantuku, Shiyoung dan Da Ra.”

“Hei! Aku bukan Ahjussi. Aku mungkin lebih tua 2 tahun darimu.”

“Tapi penampilanmu—, ya sudah. Tuan anda bisa pulang, terimakasih atas bantuan Anda“.

“Aku Myung Soo, kau?” Bukan pergi, namja itu kini malah memperkenalkan dirinya pada Soo Ji.

“Soo Ji. “ jawab Soo Ji datar.

“Aku ingin melihat Shiyoung dan Da Ra dengan penampilan barunya. Bolehkah aku ikut  duduk bersamamu?”

“Boleh saja.” Soo Ji menggeser sedikit, Myung Soo kini terduduk di samping Soo Ji. Kupu-kupu terbang menghampiri Soo Ji, hinggap di Jeogori  yang dikenakan Soo Ji. Jeogori  yang bermotif bunga di bahu Soo Ji mampu menarik perhatian kupu-kupu yang sedang terbang.

“Ah, cantiknya.” Soo Ji kini menatap pada bahunya sendiri dimana kupu-kupu itu hinggap. Myung Soo terkekeh pelan.

“Lucu sekali. Kupu-kupu saja tertarik padamu.”

Soo Ji masih tersenyum, Myungsoo masih dengan menatap bahu Soo Ji dengan senyuman pula. Kini pandangannya beralih dari bahu Soo Ji, ia memandang wajah Soo Ji yang cantik, matanya teduh penuh ketenangan,menyimpan banyak kelembutan. Kulitnya putih seputih salju, bibirnya indah seperti keindahan bunga mawar. Namun tiba-tiba suara seseorang membuka pintu membuyarkan pandangan mereka. Mereka menoleh ke arah pintu.

“Wah, Da Ra sangat cantik. Shiyoung , kau juga tampan sekali.”

Kini Soo Ji tengah memandang Da Ra dan Shiyoung yang telah rapi dan bersih. Shiyoung dan Da Ra mengenakan pakaian yang bagus. Soo Ji menarik Da Ra agar duduk di pangkuannya.

“Da Ra Agasshi kakimu akan ku obati. Bagaimana? Kau mau sembuh,kan?” tanya Soo Ji, ia membujuk yeoja kecil itu. Da Ra mengangguk dengan semangat.

“Tuan, karena kau memutuskan untuk diam disini, bolehkah aku meminta bantuanmu? Kau ambillah dedaunan di belakang sana. Petik  beberapa lembar.”
Myungsoo terperanjat,menundukkan dirinya pada Soo Ji.

“Aku akan mengambilkannya, aku akan segera kembali.”

Myungsoo POV

Aku bosan berada di istana. Aku memutuskan berjalan-jalan keluar, aku dengar banyak rakyat kecil yang kelaparan di ujung pasar. Aku berjalan ke sana, sendiri, tanpa pengawalan. Aku bosan di iringi oleh pengawal-pengawal itu. Aku adalah Putra Mahkota Kerajaan Joseon. Namun aku tak mau di perlakukan seperti Putra Mahkota ketika berada di luar seperti ini.
Aku menarik seseorang yang tengah berjalan untuk menghampiri kedua Ahjussi yang menyiksa anak-anak. Ia cantik, wajahnya sangat menawan. Aku mengikutinya, aku adalah rakyat juga ketika berada di luar seperti ini. Dari pakaian dan gerak-geriknya ia bukan seorang wanita biasa. Ia mungkin Putri dari seorang bangsawan. Matanya teduh, memandangnya menemukan kedamaian. Kulitnya putih dan mungkin halus. Rambutnya tergerai indah dan panjang. Aku mungkin menyukainya sekarang. Entahlah aku tak tahu. Aku memetik beberapa daun yang di suruh oleh gadis cantik itu. Aku bukan seorang Putra Mahkota, aku adalah Rakyat.

“Ini, sesuai yang kau minta Agasshi.”

“Oh, terimakasih Tuan. Da Ra, kau duduk dulu ya. Eonni akan menumbuknya terlebih dahulu. “ Ujarnya, aku hanya menatap kepergiannya.
“Ahjussi, kau menyukai Eonni cantik itu?” tanya Da Ra, aku tersentak, bagaimana bisa dia melontarkan pertanyaan seperti ini.

“Tidak, aku tidak menyukainya. Tapi dia sangat cantik. Betulkan Shiyoung?” tanyaku pada Shiyoung.

“Ne, jika aku telah dewasa sekarang aku akan menikah dengan Noona.”

“Hei, sayangnya kau masih kecil. Mungkin aku terlebih dahulu akan menikahinya.”
Aku terkekeh, Shiyoung mendengus sebal, Da Ra tertawa pelan.
Aku mengeluarkan kain putih yang berada di dalam bajuku, rumah ini cukup baik untuk menuliskan surat. Aku menemukan tinta dimana-mana. Mungkin Ahjumma ini suka melukis. Aku menulis surat, untuk gadis yang baru saja bertemu denganku.

Author POV

Soo Ji kini keluar dari dalam hanok, Ia hanya menemukan Da Ra dan Shiyoung. Sebenarnya Soo Ji heran kemana namja itu pergi, tapi ia memilih untuk mengobati luka Da Ra terlebih dahulu.

“Da Ra Agasshi, biar ku obati kakimu.” ujar Soo Ji menarik pelan kaki Da Ra lalu menempelkan dedaunan yang sudah di tumbuk di telapak kaki Da Ra, Da Ra meringis pelan.

“Tahan, sedikit lagi ini selesai, aku akan membalutkan kain untuk menahannya agar kau masih tetap bisa berjalan.” tangan Soo Ji mengobati kaki Da Ra,pergerakan yang sangat halus dan indah. Shiyoung menatapnya dengan berbinar.

“Noona, Ahjussi tadi menitipkan ini. Surat untukmu.” Soo Ji menoleh pada Shiyoung, perlahan ia mengambil surat itu. Soo Ji mengernyitkan dahinya, surat itu tampak padat.

“Oh, apa di dalam sini—“ Soo Ji hendak membukanya, namun tangan mungil Da Ra menahannya.

“Kau buka di rumah saja Eonni. Ini akan menjadi kejutan untukmu.” Soo Ji tersenyum pada Da Ra dan Shiyoung.
“Ah, kalian bersekongkol rupanya.” Soo Ji tertawa diikuti Shiyoung dan Da Ra.

“Shiyoung-ah, Da Ra, kalian sementara tinggal bersama Heo Ahjumma disini, Heo Ahjumma merasa kesepian. Kalian harus menemaninya, jangan nakal. Aku akan mengunjungi kalian jika aku ada waktu.”
Tangan halus Soo Ji mengusap pipi Shiyoung dan Da Ra, Shiyoung dan Da Ra tersenyum bahagia.
Heo Ahjumma keluar dari dalam rumahnya.

“Shiyoung-ah, Da Ra-ah, kalian temani Ahjumma disini, Ne?”
Keduanya mengangguk semangat. Soo Ji memutuskan untuk pulang, ia berpamitan pada Heo Ahjumma, mengucapkan terimakasih kepada Heo Ahjumma. Shiyoung dan Da Ra melambaikan tangannya pada Soo Ji, Soo Ji membalasnya. Tak lama kemudian Yeol keluar dari pintu keluar.

“Agasshi aku mencari-cari dirimu. Kau kemana saja? Aku hampir mati mencarimu.” Yeol kini berbicara dengan cepat, Soo Ji hanya tertawa dan menggiring Yeol untuk keluar lagi. Yeol membungkukan badan pada Heo Ahjumma. Lalu pulang bersama Soo Ji.

—-0000—-

Suasana di kediaman Menteri Bae kini ramai, karena putri satu-satunya sudah hampir malam seperti ini tidak kunjung pulang. Isakan kecil dari Ny. Bae dan kata-kata penuh ketenangan dari Tuan Bae terdengar dari kediaman tersebut. Soo Ji dan Yeol yang akan sampai ke rumah otomatis mendengarnya.

“Eoh, Eommoni..” Soo Ji menghentikan langkahnya.

“Sudah ku bilang Agasshi, Nyonya akan memarahimu kembali. Atau Tuan akan memarahimu.”
Hingga tiba seseorang keluar dari dalam pintu keluar. Soo Ji dan Yeol terkejut.

“Agasshi, Nyonya sangat khawatir . Tuan juga, Agasshi jangan melakukan hal seperti ini lagi, aku dan yang lain khawatir padamu.” Soo Ji kini berlari memasuki rumah, Nyonya Bae bangkit dari duduknya, ia berdiri lalu memeluk Soo Ji.

“Soo Ji-ah, aku khawatir, aku mencemaskanmu Soo Ji-ah.Kau baik-baik saja?”
Nyonya Bae mengusap pipi putri yang sangat ia cintai. Tuan Bae hanya tersenyum singkat.

“Aku baik-baik saja Eommoni, Abeoji..” Soo Ji tersenyum.

“Selalu seperti ini, Soo Ji-ah kau mandilah lalu kita makan bersama. Ibumu tak bisa makan jika kau belum pulang, begitupun aku. Tak bisa berpikir jika kau tak ada.” Soo Ji masuk kedalam kamarnya, tuan Bae memang sangat menyayangi Soo Ji, terlebih Soo Ji adalah anak tunggal.

—-0000—-
~Kerajaan Joseon~

Myungsoo kini mengenakan pakaian yang berbeda dari tadi siang. Ia memakai pakaian khusus Putra Mahkota, ia tengah membaca laporan dari para menteri. Namun pikirannya tak bisa berjalan, sedaritadi ia membaca namun tak ada yang dibaca meskipun beberapa kertas gulung di hadapannya, berpikir ia tak bisa berpikir, ia hanya memikirkan gadis cantik bernama Soo Ji itu. Ia membayangkan kejadian tadi siang. Kini ia bangkit berdiri, mondar-mandir di sekeliling ruangannya. Mata Kasim Chun yang menjaga Myungsoo sedari Myungsoo kecil mengikuti gerak gerik Myungsoo.

Cheona, Apa yang anda pikirkan sehingga Anda tak dapat duduk dengan tenang? Apakah di perjalanan tadi ada yang mengganggu?”  Kasim Chun bertanya dengan menundukkan kepalanya.

“Kasim Chun, seseorang mengganggu pikiranku, aku memikirkannya. Ah, apa dia sudah membaca surat dariku?” Myungsoo kini terlihat gelisah. Kasim Chun hanya tersenyum.

“Apakah Cheona bertemu dengan seorang gadis?” Myungsoo terdiam, menghentikan gerak geriknya, ia mendekati Kasim Chun.

“Bagaimana kau bisa tahu Kasim Chun? Ahh, jika kau melihatnya kau juga akan jatuh cinta, ia sangat cantik dan bersih.”
Kasim Chun tersenyum lebar.

“Aku senang, akhirnya kau menyukai seorang gadis.”

Myungsoo mencibir pada Kasim Chun.

—-0000—-

Di kediaman Tuan Bae, semuanya tengah melaksanakan kegiatan makan malam. Soo Ji makan dengan lahap, Nyonya dan Tuan Bae menatapnya dengan senyuman. Mata Tuan dan Nyonya bae hampir sama, teduh. Sehingga mata Soo Ji juga teduh dan damai. Soo Ji kini menatap kedua orang tuanya yang sedang memegang sumpit. Soo Ji menghentikan aktivitasnya.

“Eommoni, Abeoji, makanan ini sangat enak, mengapa kalian tidak mencicipinya?”

“Melihatmu makan dengan lahap, perutku sudah terisi oleh kesenangan Soo Ji-ah.”

“Jawaban Eommoni selalu seperti itu, apakah aku terlihat seperti nasi?”
Tuan Bae tertawa diikuti oleh Soo Ji dan Nyonya Bae.

Makan malam selesai, Soo Ji kembali ke kamarnya, ia telah mengganti bajunya dengan Hanbok putih yang sangat bersih. Soo Ji menyalakan lilin untuk sumber penerangan, ia kini membuka sebuah kain putih padat. Iapun mengambil kotak yang dibalut oleh kain putih tersebut lalu membukanya. Ia tersenyum, begitu juga dengan kain putih yang membalutnya, ia mulai membacanya.

Senang bertemu denganmu, Soo Ji. Aku pulang terlebih dahulu karena ada sesuatu yang mendadak dan penting. Aku menulis surat ini ketika kau berada di dalam membuatkan obat untuk Da Ra. Maaf atas kelancanganku menarikmu tadi siang. Kau mungkin terkejut, tapi aku ingin melindungimu.Kau sangat baik hati dan pintar, kau sangat menyayangi anak-anak. Orang tuamu pasti orang hebat telah mendidikmu dengan baik. Dan kau juga tumbuh dengan baik sekali. Lusa ada festival lampion di jalanan dekat pasar. Aku akan datang kesana, maukah kau juga datang kesana? Aku sangat berharap kau akan datang. Kau pakailah Dwikkoji ini dariku, agar aku mudah menemukanmu. Aku memilih kupu-kupu dan bunga ini karena sesuai dengan kepribadianmu. Indah. Aku menunggumu lusa ketika festival dimulai.

Soo Ji menatap pada Dwikkoji yang ia genggam, bunga dan kupu-kupu berwarna merah. Soo Ji tersenyum lalu menutup surat itu. Ia masih terpikir, bagaimana mungkin sehari bertemu langsung jatuh hati. Soo Ji tersenyum sendiri, pipinya mungkin berubah warna sekarang.
Ia mengingat kembali pertemuannya dengan namja tadi. Ia menyimpan surat dan memasukkan Dwikkoji kedalam kotak. Lalu menyimpan di laci lemarinya. Soo Ji meniup lilin yang berada di sampingnya lalu tertidur.

—-0000—-
Pagi yang cerah di istana, Myungsoo kini sedang bercakap bersama ayahnya, Raja Kim. Raut wajah Myungsoo mendadak menjadi kelam. Berbeda dengan keadaan di kediaman Soo Ji. Soo Ji kini lebih semangat dari biasanya. Wajahnya terlihat lebih ceria.

“Myungsoo-ah, Aku berharap kau cepat menikah. Aku akan segera turun dari tahta yang ku duduki sekarang ini, kau harus menggantikanku.”

Abamama, apakah gadis yang aku pilih harus gadis keturunan Bangsawan? Tidak bisakah aku memilih sendiri gadis itu?”

“Myungsoo-ah, kau harus taat pada adat istiadat leluhur kita. Jelas harus gadis keturunan bangsawan. Agar ia menjadi ibu yang baik,sopan,cerdas  untuk  Negara ini.  Aku akan menyuruh titah kerajaan untuk mengumumkan pemilihan calon Putri Mahkota.”

Myungsoo menunduk, menghembuskan nafasnya berat. Ia tidak bisa berkata apapun jika itu masalah adat istiadat ataupun leluhur. Ia menyukai seorang gadis, mana mungkin ia dengan hati menikah dengan pilihan kerajaan.

Malamnya, Soo Ji tak bisa tidur. Bukan karena besok hari pertemuannya dengan Myungsoo. Karena ia akan menjadi calon Putri Mahkota kerajaan. Ia hanya terduduk di kamarnya semenjak ayahnya memberitahu  bahwa ia akan dikirimkan menjadi calon Putri Mahkota kerajaan. Terlebih dengan Nyonya Bae, ia tak mau jika Soo Ji menjadi bagian dari keluarga kerajaan. Soo Ji hanya akan kesepian, atau Soo Ji akan mudah bosan jika terus tinggal di dalam kerajaan.Ia ingin Soo Ji menikah dengan lelaki biasa sekalipun. Meskipun hidupnya tak mewah seperti di kerajaan, namun Soo Ji tetap bebas.  Soo Ji mau tak mau harus menuruti apa kata Tuan Bae, yaitu ikut seleksi pemilihan Putri Mahkota.
Esok sore harinya, Soo Ji duduk di kamarnya,ia tengah bersiap untuk mengunjungi festival. Ini akan menjadi pertemuan terakhirnya dengan Myungsoo. Soo Ji memandang nanar Dwikkoji  yang ada di dalam nampan yang dibawa oleh Yeol. Yeol menyisir rambut Soo Ji dengan halus. Soo Ji melamun, matanya memandang kosong. Yeol menatapnya dengan sedih, Soo Ji telah menceritakan semuanya pada Yeol.

“Agasshi, lihatlah Chima dan Jeogori  ini sangat indah bukan? Aku telah memilihkan warna yang cocok sesuai dengan Dwikkoji  yang diberikan Tuan Muda itu.” Soo Ji berdiri, kini ia mengganti bajunya dibantu oleh Yeol.

“Agasshi, di hadapan Tuan Muda nanti kau jangan terlihat sedang bersedih. Itu akan mengurangi kadar kecantikanmu.”  Soo Ji tersenyum pada Yeol yang sedang memasang Otgeoreum pada Jeogorinya.
Yeol mengepang rambut Soo Ji, memasang Daenggi merah di ujung kepangan rambut Soo Ji. Soo Ji memandang wajahnya di cermin, ia memakai Dwikkoji di sisi kiri dan kanan rambutnya. Soo Ji melangkah keluar, didampingi dengan Yeol. Yeol membawakan Jangot merah muda untuk Soo Ji. Soo Ji berpamitan pada Tuan dan Nyonya Bae. Mereka tak khawatir karena Soo Ji ditemani oleh Yeol.

~Sesampainya Soo Ji di jalanan pasar..~
Soo Ji melepaskan Jangot yang ia pakai, ia menoleh ke kanan dan kekiri , mencari namja bernama Myungsoo. Di arah lain, Myungsoo tengah menunggangi kudanya untuk sampai ke jalanan pasar. Myungsoo sampai di jalanan pasar, ia melakukan hal yang sama seperti Soo Ji. Mencari Soo Ji.
Sementara Yeol, meninggalkan Soo Ji ketika Soo Ji sampai disana. Ia pun bertemu dengan namja yang ibunya di tolong oleh Soo Ji.

“Yeol-ssi.” Yeol menoleh pada namja yang memanggilnya.
“Orabeoni.” Yeol memberi hormat pada Min Ho.

“Kau dengan Agasshi-mu?” tanya Min Ho.

“Agasshi ada janji dengan seseorang menonton festival lampion. Jadi aku berjalan sendiri disini. Agasshi menyuruhku untuk berjalan-jalan sendiri.” Min Ho terdiam. Lalu ia berjalan dengan Yeol.
—-0000—-
Myungsoo memakai baju berwarna merah tua, memakai Gat berwarna hitam. Ia mencari sosok gadis yang ia sukai. Ia melihat seorang gadis sedang berdiri di kerumunan para warga di pasar dengan Jangot merah muda yang terlipat di tangannya. Ia menghampiri gadis tersebut.

“Soo Ji.” Suara berat itu mampu membuat Soo Ji menoleh pada Myungsoo.

“Tuan Muda Myungsoo.” Soo Ji menatap Myungsoo dengan mata penuh harap, penuh permintaan agar Myungsoo membawanya lari jauh dari Korea. Mata Myungsoo lekat menatap mata Soo Ji, mata Myungsoo menyimpan banyak beban dan pikiran .

“Panggil aku Myungsoo saja. Aku hanya berbeda 2 tahun darimu.”

“Hm, Ne.. Myungso-ssi.”

Soo Ji dan Myungsoo kini berada diantara kerumunan para warga, Myungsoo mengajak Soo Ji untuk mengambil lampion. Pasalnya, acara puncak akan segera dimulai. Myungsoo memilih lampion berwarna merah untuk Soo Ji.

“Mengapa harus berwarna merah?”

“Karena merah melambangkan cinta.”  Myungsoo menatap mata Soo Ji. Mata mereka kini saling bertemu. Hingga seorang anak kecil berlari menabrak Soo Ji, Soo Ji yang akan terjatuh kini ditahan oleh tangan kekar Myungsoo.

“Gwenchana?”
“Aku baik-baik saja Myungsoo-ssi.”

Myungsoo tersenyum, ia segera menyalakan api untuk menerbangkan lampion itu. Soo Ji membantunya, Myungsoo menatap Soo Ji. Lampion para warga di depan dan belakang Soo Ji juga Myungsoo kini telah berterbangan. Soo Ji dan Myungsoo saling menatap lalu menerbangkan lampion tersebut.

“Ah, indahnya.” Soo Ji tersenyum, Myungsoo juga tersenyum. Tangan Myungsoo kini mendekat pada tangan Soo Ji yang menggantung, Myungsoo menggenggamnya. Begitu pula dengan Soo Ji. Tak ada penolakan dari Soo Ji.

Setelah menerbangkan lampion, Soo Ji dan Myungsoo tiba di sebuah pondok kecil. Mereka duduk berdampingan,memandang lampion yang mereka terbangkan semakin jauh. Tanpa mereka sadari sepasang mata tengah mengawasi mereka.

“Soo Ji-ah, terimakasih telah datang kesini untukku.” Soo Ji tersenyum.

“Myungsoo-ssi.. Jika aku tak bertemu lagi denganmu, apa yang akan kau lakukan?”

“Aku akan mencarimu. Kemanapun kau pergi, dan aku harus menemukanmu.”
Soo Ji menatap Myungsoo, Myungsoo menatap dalam mata Soo Ji.

“Mengapa kau melakukan itu?”

“Karena— Karena—Aku Menyukaimu. Aku menemukan separuh dari jiwaku di dalam dirimu.”
Soo Ji menunduk, ia juga merasakan hal yang sama. Myungsoo juga menunduk, ia tak mengharapkan jawaban apapun dari Soo Ji. Karena jika rasa ini di lanjutkan, ia hanya akan menjadi beban pikiran untuk Soo Ji. Ia takut Soo Ji akan terus menunggunya ketika Myungsoo sudah mendapat Putri Mahkota.

“Myungsoo-ssi, aku ingin pulang. Yeol mungkin menungguku di ujung sana. Kau hati-hati di jalan.”
Soo Ji berdiri, ia berjalan dengan menahan air matanya, kesanggupannya untuk mengikuti pemilihan Putri Mahkota semakin kosong, ia mencintai Myungsoo.

Tiba-tiba, sebuah pelukan di bahu Soo Ji mampu menghentikan langkah Soo Ji, Air mata Soo Ji kini menetes sedikit.Sepasang mata itu pergi, berhenti mengawasi. Myungsoo memeluk Soo Ji

“Aku harap kita akan dipertemukan kembali.”

—-0000—-
1 Bulan kemudian…………
Hari ini adalah hari terakhir  dimana Soo Ji mengikuti seleksi calon Putri Mahkota .Meskipun ia tidak siap dan tidak sepenuh hati mengikuti, namun ia tak boleh mempermalukan derajat ayahnya di depan pejabat-pejabat kerajaan. Soo Ji ditemani Yeol setiap harinya. Di ruangan lain, Putra Mahkota kini tengah mendengarkan jawaban dari para calon Putri Mahkota nya nanti.Pada akhirnya yang di pilih raja dan ratu adalah sebuah takdir baginya.

“Kalian adalah calon ibu untuk Negara ini. Anak-anak kalian adalah rakyat. Kalian tahu bahwa rakyat sangat banyak dan tak mudah mengurus mereka satu persatu. Bagaimana cara kalian merengkuh mereka?” tanya Raja pada ketiga calon Permaisuri.
Jawaban satu, jawaban kedua, Raja memejamkan matanya, ia telah mengira bahwa tak ada yang pantas menjadi calon Putri Mahkota. Tapi mata raja kembali terbuka setelah mendengar jawaban dari Soo Ji. Raja tersenyum penuh kemenangan.

Jika aku seorang ibu Negara, aku akan memperlakukan mereka seperti bayi yang baru lahir. Aku akan menjaga mereka, menjaga kebahagiaan mereka. Menyayangi mereka. Meskipun mereka akan membantah padaku, bagaimanapun aku seorang ibu. Aku tak boleh membentak mereka.Tapi, aku juga memiliki hak sebagai seorang ibu, dimana jika anak yang tak dapat di atur, seorang ibu berhak untuk memukulnya. Dalam arti, aku memukul rakyatku dengan sebuah hukuman sesuai dengan kesalahan yang mereka perbuat.”
Raja dan Ratu kini tersenyum dengan jawaban Soo Ji, esok hari tahta raja akan turun pada Putra Mahkota.  Semua peserta yang tak lolos mengikuti tahap akhir keluar dari ruangan, Soo Ji memberi hormat kedua kalinya untuk Raja dan Ratu.  Raja dan Ratu,tersenyum puas dan bangga pada Soo Ji.
Raja memerintahkan seseorang untuk masuk. Soo Ji masih menunduk dan duduk dengan rapi. Ia masih memikirkan Myungsoo.

“Putra Mahkota, anda bisa masuk sekarang.” ujar Raja, Soo Ji menunduk lebih dalam.
Seseorang masuk dari luar sana, membuat jantung Soo Ji berdetak dengan cepat.

“Putri Mahkota, Anda bisa berdiri dan memberi hormat pada Putra Mahkota.” Ratu menyuruh Soo Ji untuk bangkit. Soo Ji bangkit dari duduknya, ia memberi hormat pada Putra Mahkota. Wajah Putra Mahkota kini kelam, ia memandang kosong pada satu titik, ia teringat Soo Ji. Namun, perhatian Putra Mahkota tersita ketika memandang aksesoris rambut yang dikenakan Putri Mahkotanya ini, ia terkejut. Dwikkoji itu hanya satu-satunya di Joseon, dan ia hanya memberikan pada seseorang yang sangat ia cintai, Soo Ji.

Soo Ji memberanikan diri menatap wajah Putra Mahkota, Putra Mahkota kini tersenyum lebar, memandang Soo Ji dengan penuh kerinduan. Begitu juga Soo Ji, ia memandang Putra Mahkota di hadapannya, lebih tepatnya Myungsoo. Soo Ji tersenyum, matanya kini tak mampu menahan air mata. Raja dan Ratu tersenyum lega, mengingat putranya yang mentah-mentah menolak adanya seleksi Putri Mahkota. Kini tampaknya Putra Mahkota mampu menerimanya.

—-0000—-

Hari ini adalah hari dimana Soo Ji dan Myungsoo menjalani upacara pernikahan, Soo Ji tampak cantik. Myungsoo menatapnya dengan lekat-lekat. Tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. Soo Ji tersenyum ke arah Myungsoo.  Hari ini, mereka resmi menjadi sepasang suami-istri, dan sekaligus menyandang gelar Raja dan Ratu karena Raja dan Ratu telah turun dari tahtanya. Soo Ji dan Myungsoo tak hentinya saling bertatapan. Di sisi kanan dan kiri tampak Tuan dan Nyonya bae, juga Raja Kim dan Ratu. Soo Ji tampak cantik dalam balutan Jeokui . Myungsoo sangat tampan dan gagah mengenakan Myeonbok . Nyonya Bae kini mampu menerima bahwa Soo Ji menjadi keluarga kerajaan, sebelum upacara pernikahan, Soo Ji bercerita semuanya pada Nyonya Bae. Tentang pria yang di cintainya. Hiburan demi hiburan kerajaan kini telah di suguhkan di hadapan para tamu undangan kerajaan. Soo Ji tak lepas dari senyum dan raut wajah kebahagiaan.

Malam hari tiba, Soo Ji dan Myungsoo duduk berhadapan di atas tempat tidur, Soo Ji melepaskan Myeonryu-Gwan diatas kepala Myungsoo. Myungsoo melepaskan Naesu di kepala Soo Ji, ia menatap Soo Ji, mata mereka memancarkan kerinduan yang dalam. Kini Myungsoo menarik Soo Ji kedalam pelukannya.

“Soo Ji-ah..”

“Ne, Cheona..”

“Apakah ini alasan dari pertanyaan yang kau tanyakan di festival lampion itu?”
Myungsoo melepaskan pelukannya.

“Ya, aku pikir aku akan meninggalkanmu. Tak akan bertemu lagi denganmu. Tapi, aku juga tak menyangka akan seperti ini, Cheona.

“Aku juga berpikir bahwa aku akan meninggalkanmu pada saat itu. Dan kita tak akan dipertemukan kembali. Aku sangat membenci pemilihan Putri Mahkota ini. Karena aku menginginkanmu. Dan aku kira kau bukan seorang anak dari Menteri Kerajaan.”

“Aku juga sangat benci ketika aku terpilih menjadi Putri Mahkota, artinya aku tak akan bertemu lagi denganmu. Tetapi, takdir sangat berpihak padaku, ia tetap memilihkanmu untukku, Cheona.”

Myungsoo menatap Soo Ji, perlahan ia mengulurkan tangannya untuk membuka Jeokui yang membalut tubuh Soo Ji, Soo Ji hanya terdiam pasrah. Soo Ji kini hanya memakai Jeogori dan Chima berwarna putih. Myungsoo membuka Myeonbok miliknya. Myungsoo menarik Otgeoreum milik Soo Ji, sehingga Jeogori  yang dikenakan Soo Ji terbuka. Myungsoo menindih Soo Ji kedalam dekapan hangatnya. Soo Ji dan Myungsoo mencurahkan kerinduannya,melalui apa yang mereka lakukan malam ini.

—-0000—-
Kecerahan pagi hari Langit Joseon…

Soo Ji kini tengah memasang baju dinas Myungsoo, Myungsoo terpaku dengan wajah Soo Ji yang begitu cantik. Rambut Soo Ji di gulung dan di tahan oleh Binyeo emas bermotif naga dengan bulat merah dan putih pada mulut naga tersebut. Dwikkoji pemberian Myungsoo masih setia ia pakai, Baettsi daenggi menghiasi atas kepala Soo Ji. Soo Ji memakai Hanbok dengan Dangui berwarna merah, dan Chima yang berwarna biru gelap. Myungsoo masih setia menatapnya.
Cheona, sudah selesai.”
Myungsoo kini mencondongkan kepalanya, mata Soo Ji dan Myungsoo terpejam, Myungsoo mencium dan melumat bibir Soo Ji dengan lembut. Soo Ji memeluk Myungsoo, begitupula Myungsoo yang tengah mendekap Soo Ji. Setelah cukup untuk energinya, Myungsoo melepaskan bibirnya dari bibir Soo Ji.
“Cheona..” Soo Ji menunduk malu.
“Aku ingin berjalan-jalan denganmu hari ini, Ayo.” Myungsoo menggenggam tangan Soo Ji, mereka berjalan keluar diikuti para kasim,sanggung,dan dayang. Myungsoo dan Soo Ji tertawa kecil saat sedang berjalan bersama melewati bagian dapur, semua dayang yang sedang beraktivitas maupun sedang berjalan membungkukkan badan. Tetapi ada salah satu pelayan yang menatap Myungsoo dengan tatapan yang aneh,pelayan itu juga tersenyum sinis ke arah Soo Ji.

_TBC_
Hai, kembali sama FF Myungzy nih.. hehe mengisi waktu libur.  Gimana nih FF ini?  Awalnya bingung mau dibuat Twoshoot atau Chaptered.  Akhirnya milih chaptered biar ceritanya nyambung dan ga ngecewain kalian endingnya. Hihi. Don’t forget to RCL yaa :* maaf nih kalo ada salah-salah kata, baru pertama bikin ff genrenya historical~Misal ga ada yang ngerti tentang Kata-kata seperti hanok,unhye,chima,dkk nanti dibahas di chapter selanjutnya aja yaaa~ See u in next chapter readers :*!

Advertisements

83 responses to “[Freelance] We Are Not King and Queen Chapter 1

  1. Dan intrik2 rumit kayalnya akan segera bermunculan nih.. Pening palaku tp gpp slma myungzy mommentny bnyk aku jabanin..
    Walau aku psti bnting meja ngeliat rubah2 licik mau misahin ato celakain myungzy..

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s