The Memories Chapter 3

© High School Graphics by: jalilfunny

Title : The Memories  | Author : dindareginaa | Genre : Angst, Married Life, Romance | Rating : PG-15| Main Cast : Bae Suzy, Kim Myungsoo | Other Cast : Find by yourself!

“Jadi, bagaimana keadaan Sooji? Apa sudah ada perkembangan?”

Myungsoo menyeduh hot americano yang baru saja dibawa oleh waitress. Didepannya, Oh Sehun dan juga Kang Minhyuk masih setia menunggu jawabannya.

“Begitulah. Tidak ada perkembangan yang berarti. Dan kalian tahu? Dia bahkan menyuruhku mengetuk pintu sebelum masuk kamar. Yang benar saja!”

“Kau harus memakluminya. Aku yakin seiring berjalannya waktu, cepat atau lambat, dia pasti akan segera mengingatmu.”

Myungsoo menarik nafasnya panjang. “Entahlah. Entah kenapa aku tidak yakin dengan diriku sendiri. Kau tidak tahu bagaimana perjuanganku untuk mendapatkannya dulu?”

“Ya, aku tahu,” jawab Sehun. “Jika dia memang ditakdirkan untukmu, dia pasti akan kembali padamu.”

Sooji mematut bayangannya yang terpantul di cermin. Ia tampak cantik dengan balutan mini dress berwarna gold diatas lutut. Rambutnya yang panjang bergelombang ia biarkan terurai, membuat penampilan gadis itu semakin sempurna.

Hari ini, keluarga Bae akan kedatangan tamu. Maka dari itu, Sooji harus berdandan secantik mungkin. Sooji sendiri tidak tahu sespesial apa tamu mereka itu sampai ia harus tampil rapi. Apa Obama? Ayolah, Bae Sooji! Jangan bercanda!

“Sooji-ah.”

Mendengar namanya dipanggil, ia sontak menoleh. Gadis itu tersenyum begitu mendapati ibunya sudah berada di ujung pintu kamarnya.

“Ya, bu?”

“Turunlah. Tamu kita sudah tiba.”

Sooji tersenyum lalu mengangguk. “Baik, bu.”

Sooji masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya kini. Dihadapannya, lelaki yang sempat mengaku bernama Kim Myungsoo sedang tersenyum manis kearahnya. Oh, mimpi apa ia bisa bertemu dengan lelaki menyebalkan seperti Kim Myungsoo?

“Jadi kalian sudah saling mengenal?” tanya Nyonya Bae ragu.

“Tidak!”

“Ya.”

Sooji mendengus kesal begitu ia dan Myungsoo berbicara serempak. Apa maksud lelaki itu “ya”? Sooji bahkan hanya berbicara dengan lelaki itu selama kurang dari lima menit? Apakah hal itu bisa disebut dengan saling mengenal?

Kedua orangtua Sooji kini sibuk menatap keduanya, seakan meminta penjelasan terhadap jawaban mereka yang sangat tidak kompak.

“Ah, kami sempat berbicara di pesta kemarin. Hanya itu,” tegas Sooji.

Ayah Sooji mengangguk mengerti. “Kalau begitu, tak masalah bukan kalau kalian bertunangan? Bukankah kalian sudah saling berbicara sebelumnya?”

APA? TUNANGAN?!

Sooji kini sedang sibuk mengutak-atik laptopnya. Sepertinya banyak yang berubah semenjak ia kehilangan ingatannya. Wallpaper laptopnya bahkan fotonya dan Myungsoo! Sooji lalu mulai mengecek e-mail masuknya satu persatu. Namun, ada satu e-mail yang menarik perhatiannya. E-mail dari salah seorang teman SMA-nya. Tanpa ragu, Sooji segera membuka surat elektronik tersebut. Matanya membesar.

Sooji kemudian meraih ponselnya yang ia letakkan tak jauh darinya kemudian menekan nomor seseorang – Jung Soojung. Setelah menunggu beberapa detik, Sooji dapat mendengar suara lembut Soojung di ujung telepon.

Eoh, Soojung-ah, kau sudah mendengar bahwa Jaeil High School akan mengadakan reuni?”

Sooji terdiam beberapa saat mendengar ocehan Soojung. Ya, sekolah mereka memang akan mengadakan reuni minggu depan. Sooji dan Soojung berniat hadir disana bahkan sebelum Sooji mengalami kecelakaan. Dan tebak! Itu artinya ia bisa bertemu dengan Choi Minho!

“Aku pulang.”

Sooji tersentak kaget begitu Myungsoo masuk ke kamar mereka secara tiba-tiba.

“Kenapa terkejut begitu?” tanya Myungsoo heran melihat ekspresi Sooji.

Sooji memaksakan senyumnya lau menggeleng. Ia kemudian kembali berbicara pada Soojung yang masih setia menunggunya di seberang sana. “Soojung-ah, ada yang ingin kutanyakan padamu. Bisakah kita bertemu?”

Setelah membicarakan waktu dan tempat, Sooji segera mematikan sambungan teleponnya. Ia kemudian menoleh pada Myungsoo yang kini sedang menatapnya lekat.

“Aku harus pergi. Tapi, tenang saja. Aku sudah memasakkan makan malam untukmu. Sampai jumpa.”

Myungsoo menarik nafasnya panjang. Padahal ia sengaja pulang lebih cepat agar bisa menikmati makan malam berdua dengan Sooji. Tapi kenyataannya malah sebaliknya.

“Ada apa dengan pertanyaanmu itu?” Soojung menatap Sooji curiga, sedangkan gadis yang ditatapnya hanya terkekeh pelan.

“Aku hanya penasaran. Jadi, siapa saja yang akan datang?”

Soojung terdiam sejenak. Ia memutar manik matanya, mencoba berpikir. “Sepertinya semuanya hadir. Ada Sulli, Jiyoung, Sohyun…”

“Bagaimana dengan Choi Minho?”

Mendengar pertanyaan Sooji, Soojung terbelalak. Ada apa dengan gadis ini? “Ya! Apa maksud pertanyaanmu itu? Sadarlah, Bae Sooji! Kau dan lelaki itu sudah tak ada hubungan apa-apa lagi!” teriak Soojung. Beberapa pengunjung sempat menoleh pada keduanya karena keributan yang dibuat oleh Soojung seolah berkata,”Diamlah, kalian berdua!”

“Bukan begitu. Aku hanya…” Sooji menggantung perkataannya. Mencoba mencari alasan yang tepat. Ia juga tak tahu mengapa ia sepenasaran ini terhadap sosok Choi Minho. “…aku pikir dengan mulai mendekati masa laluku, ingatanku akan kembali.”

“Tapi, tidak dengan Choi Minho, Bae Sooji.”

Sooji terdiam sejenak. Ia hanya mengikuti nalurinya saja. Ia tahu ia salah karena sekarang statusnya sudah berubah menjadi Nyonya Kim. Tapi…

“Bagaimana dengan Myungsoo? Kau akan mengajaknya bukan?”

Lamunan Sooji buyar seketika. Oh, benar. Ia melupakan tentang Myungsoo. Ia tak mungkin tak mengajak lelaki itu.

“Kau akan mengajaknya bukan?”

Sooji hanya terdiam seraya memberikan senyum terpaksanya.

Sooji menatap tajam email teman SMA-nya itu. Otaknya sibuk berpikir apakah sebaiknya ia mengajak Myungsoo atau tidak. Tapi, dilain sisi Sooji ingin bertemu dengan Minho.

“Apa yang sedang kau lakukan?”

Sooji tersentak kaget, lalu sontak membalikkan tubuhnya. Hal pertama yang menangkap pandangannya adalah Myungsoo berdiri dihadapannya dengan berbalut handuk berwarna hitam dari pingga hingga bawah lututnya. Oh, rambutnya kini basah. Sepertinya lelaki itu habis mencuci rambutnya. Sooji bisa melihat tetesan air mengalir dari rambut mengenai pipi putihnya. Sooji harus mengakui bahwa suaminya ini tampan. Mungkin hal itu yang membuat Sooji tertarik pada Myungsoo hingga akhirnya memutuskan untuk menikah dengan lelaki ini.

“Apa yang sedang kau lakukan?” Myungsoo mengulangi pertanyaannya kembali.

“Tidak ada,” Sooji segera menutup laptopnya. Ia lalu beranjak berdiri, mengambil selimut dan membaringkan tubuhnya diatas ranjang, membelakangi Myungsoo.

Myungsoo mengidikkan bahunya, berusaha untuk tidak terlalu ambil pusing terhadap sikap Sooji yang belakangan ini sangatlah aneh. Ia kemudian ikut berbaring disamping Sooji. Namun, sebelum Myungsoo sempat memejamkan matanya, ia masih bisa mendengar Sooji bersuara.

“Mau ikut ke acara reuniku?”

Sebenarnya tujuan Sooji antusias pada reuni ini adalah karena ia ingin memastikan perasaannya untuk siapa. Maksudnya, ia memang sudah sah menjadi istri Myungsoo, tapi hatinya bahkan tak bergetar saat bersama lelaki itu. Ia ingin membandingkan getaran hatinya saat bersama dengan Minho. Karena jujur saja, semenjak Sooji terbangun dari tidur panjangnya, ia tak bisa mengenyahkan Minho dari pikirannya.

Sedangkan Myungsoo yang tak tahu apa-apa, lantas senang begitu Sooji mengajaknya. Walaupun sebenarnya, gadis itu melakukan hal tersebut semata-mata tak ingin dicap sebagai gadis penyeleweng.

Dan disinilah mereka sekarang. Di hotel berbintang lima yang cukup terkenal di Seoul. Kabarnya, banyak artis luar negri yang menginap disini. Wajar saja, mengingat hotel ini benar-benar mewah. Sooji tersenyum begitu pandangannya jatuh pada beberapa temannya. Choi Sulli, Son Naeun dan juga Jung Soojung yang sudah terlebih dahulu datang bersama dengan calon suaminya, Kang Minhyuk.

“Sooji-ah!” ketiga gadis itu sontak melambaikan tangannya pada Sooji. Mereka tersenyum kecil melihat Sooji berjalan kearah mereka. Disampingnya, Myungsoo berjalan mengikuti.

“Lama tak berjumpa,” sapa Sooji ramah.

Naeun mengangguk setuju. Ia kemudian memicingkan matanya, enyelidik ke arah Myungsoo. “Ya! Siapa lelaki ini? Kau sudah tak bersama dengan Choi Minho lagi?”

Myungsoo tertegun. Minho? Siapa? Myungsoo tak pernah tahu bahwa Sooji mempunyai seorang teman bernama Minho. “Siapa Minho?” bisik Myungsoo tepat ditelinga Sooji.

“Bukan siapa-siapa,” jawab Sooji cepat. “Sepertinya acaranya segera dimulai. Ayo.”

Dari awal acara dimulai hingga pertengahan, Sooji tak bisa fokus. Kepalanya sibuk celingak-celinguk mencari sosok Minho. Berkali-kali Myungsoo bertanya ada apa dengannya, jawabannya tetap sama: ia baik-baik saja. Sooji menarik nafasnya panjang. Sepertinya lelaki itu tidak datang.

“Aku mau mengambil minuman dulu. Kau mau?”

Myungsoo menggeleng mendengar pertanyaan Sooji. Gadis itu kemudian beranjak berdiri lalu berjalan kearah meja yang diatasnya dipenuhi dengan gelas yang berisi minuman berwarna-warni.

Saat sedang sibuk menikmati minumannya, matanya tertuju pada seorang lelaki tampan dengan setelan jas yang rapi. Lelaki itu kini asik berbicara dengan salah satu teman sekelas Sooji dulu. Kalau tidak salah namanya Byun Baekhyun. Sooji masih setengah tak percaya sebenarnya dengan apa yang dilihatnya kini. Entah sadar atau tidak, gadis cantik itu kini berjalan kearah keduanya.

“Choi Minho?”

Lelaki itu – Minho – sontak menoleh. Matanya membesar seakan ingin keluar daritempatnya melihat siapa yang ada dihadapannya kini. Sedangkan Byun Baekhyun, lelaki yang sedari menjadi teman mengobrol Minho sadar bahwa mungkin keduanya ingin bernostalgia, mengingat Sooji dan Minho sempat menjalin kasih.

“Kalau begitu, sampai nanti, Choi Minho.” Baekhyun menepuk pundak lelaki itu sebelum akhirnya meninggalkan Minho berdua dengan Sooji.

Sooji tersenyum menatap Minho sedangkan lelaki itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Jujur saja, ia tak tahu apa yang harus dilakukannya mengingat bahwa mereka sudah bertemu lebih dari dua tahun. Apalagi mereka berpisah secara tidak baik-baik.

Ya! Kenapa kau tidak pernah menghubungiku?”

Hah? Apa ia salah dengar? Bukankah gadis itu sendiri yang menyuruh Minho untuk tidak menemuinya lagi? Apa yang terjadi sebenarnya?

“Kenapa diam saja?” tanya Sooji bingung melihat ekspresi Minho. Tersadar akan sesuatu, Sooji langsung berkata,”Kau pasti merasa aneh bukan? Ah, sebenarnya aku baru saja mengalami kecelakaan dan aku kehilangan ingatanku. Tidak semua. Hanya beberapa ingatan di masa depan. Maka dari itu aku tidak melupakanmu.”

Disaat Sooji asik bercerita, Minho malah menatapnya lekat. Hilang ingatan? Sedetik kemudian, ia tersenyum. Senyum yang penuh arti.

TO BE CONTINUED

74 responses to “The Memories Chapter 3

  1. Si kodok pasti udah mikirin rencana-rencana licik buat Suzy. Akhhhh., ngenalin banget sih.. suzy nggak inget sama kejadian minho selingkuh?
    Myungsoo nggak tau tntang minho? Kabar buruk ini…

  2. hooo, apakah minho maih mau manfaatin suzy lagi, heool kena bogem ntar kamu,,,, ih suzy juga g berusaha buat ngingat myungsoo, jadi baper dan greget sendiri nih, ffnya bgus, author mampu menyampaikan feelnya pada para reader

  3. Duhhh.. Sooji harusnya nanya dengan detail ke Soojung kenapa dia ma Minho batal married. Minho pasti mau manfaatin Sooji lagi..
    Myungmyung kasian.. Myung2 harus gerak cepet nih sbelum Minho mulai berulah..

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s