[Freelance] Business Marriage Chapter 5

Title : Business Marriage | Author : kawaiine | Genre : Comedy, Marriage Life, Romance | Rating : PG-17 | Main Cast : Bae Soo Ji, Kim Myungsoo | Other Cast : Lee Min Ho, Kim Yoo Jung , Kim Tae Hee , Lee Junho , Park Jiyeon , Kim Do Yeon, Lee Seung Gi,eTc.

“This plot and story is mine, sorry for typos, same characters or cast.happy reading :*”

***

Author POV
Suasana kediaman Kim di London berubah menjadi panas, seseorang datang bersama para mafianya. Suzy, Myungsoo dan Tuan Kang kini tengah duduk di sofa. Tuan Kang masih dengan senyum liciknya, Suzy menatap kesal pada Tuan Kang. Myungsoo menatap dengan tatapan tajamnya. Tuan Kang menatap aneh pada Suzy dan Myungsoo sekarang.

“Jadi, untuk apa anda kesini?” tanya Myungsoo.

“Bukankah seharusnya aku yang bertanya pada kalian? Kalian tidak saling mengenal tetapi berpergian ke London. Apakah kalian sedang berlibur? Tak mungkin menguruskan urusan bisnis bukan?” Suzy dan Myungsoo bertatap gelisah.

“Aku dan Nona Bae sedang menguruskan bisnis kami—Tae Hee Noona sedang syuting iklan dan sedang pemotretan. Yang lain sedang menginap di hotel. Nona Bae juga menginap di hotel, ia hanya singgah sebentar disini.” Tuan Kang menganggukan kepalanya.

“Lalu, Myungsoo dan Nona Bae.. Apakah jawaban dari berkas kerjasama yang ku berikan? Cukup menjanjikan bukan?”

“Kami hanya akan bekerja sama dengan perusahaan yang jelas, jelas bertujuan untuk kemajuan perusahaan. Bukan untuk keserakahan atau penyuapan.” Tuan Kang kini berdiri dari tempat duduknya. Suzy dan Myungsoo otomatis berdiri pula. Mafia sekitar mereka saling bertatapan bingung.

“Kau sedang bergurau kan Nona Bae? Ku dengar kantormu kebakaran. Kau cukup hebat untuk selamat dari kejadian itu. Bukankah para wartawan itu bilang bahwa kau terjebak di dalam?”

“Aku tidak bergurau. Ya, memang kantorku terbakar. Entah, aku juga tak tahu penyebabnya. Mungkin karena kelalaianku saja.”

“Mungkin juga ada yang tengah sengaja melakukan ini pada Nona Bae. Tapi, ini bukan saat untuk membahas ini,kan? Bukankah kau datang ingin mendengar jawaban dari ku dan Nona Bae?”
Tuan Kang tersenyum.

“Aku menolak kerjasama darimu. Aku tidak perlu iming-iming pembukaan kantor cabang. Aku hanya menginginkan kejelasan saja.” ujar Myungsoo.
Tuan Kang hanya menatap sinis pada Myungsoo. Lalu ia menatap Suzy dengan tersenyum.

“Bagaimana denganmu Nona Bae?”

“Bukankah aku telah menjawabnya? Aku tetap akan menolak.” Suzy menjawab dengan ringan, ia menatap Myungsoo. Tuan Kang membalikkan badannya.

“Baiklah, tetapi kalian harus tahu bahwa kalian akan menyesal menolak ini.”

“Jika itu terjadi, itu adalah Hal bodoh yang pernah kami lakukan. Penyesalan tidak menyelesaikan. Merubah sistem dengan baik itu langkah yang tepat untuk memperbaiki semua ini.” Suzy menjawab dengan tetap menatap punggung Tuan Kang, tangan Tuan Kang kini mengepal. Myungsoo melihatnya, ia tertawa pelan.

“Jika kau ada yang dikatakan lagi, silahkan katakan saja. Urat sekitar pergelanganmu akan menonjol jika kau mengepalnya seperti itu.” Myungsoo menjawab santai. Tuan Kang kini keluar dari ruangan itu, di ikuti oleh para mafia di belakangnya. Suzy menatap Myungsoo, Myungsoo menggenggam tangan Suzy.

—-0000—-

“Kau bodoh! Dia menolak kerjasama yang aku berikan! dan kau tau? Dia bersama Myungsoo! Anak dari Kim Min Seo.” Tuan Kang memaki seorang pria di hadapannya.

“Aku akan berusaha kembali. Maafkan aku.” Pria itu membungkukan badannya dan berlalu pergi.

“Aku akan memanggil wanita itu untuk menyelesaikan ini.” Langkah pria itu terhenti, lalu pria itu melanjutkan kembali.

Suzy tengah melipat baju dan memasukkannya kedalam lemari, ia menghela nafasnya, memejamkan mata. Ia membuka matanya lalu menelpon Jiyeon.

“Jiyeon-ah, apakah Tuan Kang bertanya padamu tentang kepergianku ke London?”

“……………………………”

“Mwo? Junho Oppa?”

“…………………………….”

Suzy menutup handphone nya, Myungsoo datang dari daun pintu kamar lalu duduk di sebelah Suzy.
Ia mengusap sayang pipi lembut istrinya. Suzy hanya menunduk. Myungsoo mendekapnya.

“Apakah sesuatu hal terjadi?” tanya Myungsoo. Suzy memeluk erat Myungsoo, menenggelamkan wajahnya di dada Myungsoo. Ia menggeleng pelan.

“Kau melalui ini bersamaku, kau jangan takut dan merasa sendiri.” Myungsoo melepas pelukannya. Suzy menatap Myungsoo lekat.

“Jiyeon bilang, Junho Oppa bertanya padanya kemana aku. Jiyeon memberitahunya bahwa aku sedang ke London. Dan Oppa tau sendiri bahwa Tuan Kang menyusul kita kesini. Apakah Junho Oppa ada hubungannya dengan Tuan Kang?” tanya Suzy.

“Persis seperti pertanyaan dan kecurigaanku sewaktu kau di rumah sakit. Bukankah dia juga yang memberitahumu tentang berkasmu yang harus segera di pindahkan?”
Suzy memutar ingatannya.

“Oh, benar Oppa. Jangan-jangan Junho Oppa ada hubungannya dengan ini semua. Aku akan bertanya padanya.” Suzy meraih handphone nya, tetapi ditahan oleh tangan Myungsoo.

“Kita harus bermain dengan halus , chagi-a.. Ini baru permulaan. Tunggu saja.”
Suzy menunduk, lalu meletakkan handphone nya. Myungsoo menatapnya dan tersenyum pada Suzy.

“Sepertinya ada yang ingin kau tanyakan padaku, katakanlah Suzy-ah.”
Suzy tersenyum. Tangannya terulur ke pipi Myungsoo, Myungsoo mengusap tangan Suzy.

“Apakah Oppa sangat menyukai anak-anak?” Myungsoo tertawa pelan, ia menggenggam tangan Suzy.

“Ya, aku sangat menyukai mereka. Mereka sangat menyenangkan bukan? Juga tingkah mereka sangat lucu.” papar Myungsoo, Suzy tersenyum. Ia menunduk.

“Apakah Oppa ingin memiliki seorang anak dariku?” tanya Suzy dengan malu. Myungsoo menatap Suzy.

“Tentu saja, tetapi aku tau kau tidak menginginkannya dulu sekarang. Kau masih ingin mengejar mimpimu bukan?”
Suzy semakin menunduk, air matanya mengalir dari kedua sudut mata indahnya.

“Maaf, karena mimpiku mimpi Oppa harus di pendam terlebih dahulu.”

“Suzy-ah..” Myungsoo menangkup wajah Suzy, ia mengusap air mata Suzy.

“Gwenchana, tak perlu menangis seperti ini.”
Myungsoo menenangkan istrinya, setelah cukup tenang ia tertidur dengan Suzy.
—-0000—-
Pagi hari di Kota London.

Burung-burung berkicauan, matahari pagi memancarkan sinarnya. Suzy dan Tae Hee tengah menyiapkan sarapan. Myungsoo dan Yoo Jung bermain Play Station di ruang tengah.

“Jungie lihatlah di pipimu terdapat jerawat!” ujar Myungsoo, Yoo Jung melepaskan stik di genggamannya, ia meraba pipinya. Myungsoo berteriak penuh kemenangan.

“Yak! Oppa curang!” Yoo Jung mendelik pada Myungsoo. Suzy dan Tae Hee tertawa melihat tingkah mereka.

“Myungie, Jungie, ayo kita sarapan bersama. “ Suzy meletakkan beberapa piring berisi makanan di atas meja makan. Myungsoo dan Yoo Jung menarik kursi mereka. Tae Hee sudah duduk sedari tadi. Mereka makan tanpa suara.
Selesai sarapan, Suzy dan Myungsoo berniat untuk berjalan-jalan di kota London. Mereka pun kini tengah berada di pusat perbelanjaan.

“Kau ingin membeli sesuatu?” tanya Suzy. Myungsoo mengangguk. Ia menarik tangan Suzy dan mengajaknya ke sebuah toko perhiasan. Myungsoo memilih sebuah kalung berlian untuk Suzy. Seorang pelayan mengambilkannya.

“Kau suka ini?” tanya Myungsoo, Suzy mengangguk , ia tersenyum.

“Aku akan memakaikan ini. Kau berbalik lah” Tubuh Suzy membelakangi Myungsoo. Myungsoo menyibakkan rambut Suzy kesamping, Suzy dapat merasakan nafas Myungsoo berhembus di sekitar lehernya. Myungsoo memasang kalung itu di leher Suzy. Jantung Suzy berdegup kencang. Myungsoo selesai memakaikan kalungnya, Suzy berbalik menghadap Myungsoo, Myungsoo tersenyum puas.

“Kau sangat cantik sekali, yeobo.” Suzy menunduk , pipinya memerah, ia tersenyum.

“Ah, Very beautiful.” puji seorang pelayan. Myungsoo hanya tertawa dan ia memberi lembaran uang pada pelayan tersebut. Myungsoo menuntun tangan Suzy. Seorang wanita di balik pilar penyangga tengah memotret mereka dan mengikuti mereka. Suzy merasakan ada hal aneh di sekitarnya. Ia menghentikan langkahnya, membuat Myungsoo bertanya-tanya.

“Oppa, tidakkah kau merasa seseorang mengikuti kita?” tanya Suzy pada Myungsoo.
Myungsoo menengok pada sekitarnya, ia pun tersenyum lalu memeluk Suzy,matanya terpejam. Seorang wanita muncul dari balik pilar hendak memotret mereka, mata Myungsoo terbuka, ia melepas pelukannya lalu berlari mengejar wanita itu. Suzy mengikutinya dari belakang.

“Oppa! Oppa tunggu!” Suzy mengejar Myungsoo. Myungsoo terus berlari kencang, Suzy mendudukkan dirinya diatas bangku yang berada di sampingnya.

Myungsoo terus berlari mengejar wanita itu, namun sial handphone nya terjatuh, membuat Myungsoo menghentikan aktivitasnya.

“Ah! Sial!” Myungsoo hendak berlari kembali, ia dapat melihat wanita itu juga berlari dengan kencang, Myungsoo mengejarnya, pada saat di tikungan , Myungsoo hendak mengejarnya, namun ia telah kehilangan wanita itu. Myungsoo menghembuskan nafasnya kesal. Ia berbalik arah.

Wanita itu kini bersembunyi dekat toko kecil bersama seorang pria yang membekap mulutnya.

“Yak! kau terlalu bodoh melakukannya!”

“Baik , jika kau merasa pintar kau lakukan sendiri!”
Pria itu kini memejamkan matanya. Lalu memegang kedua bahu wanita tersebut.

“Bantulah aku.”

—-0000—-
Suzy berdiri dari bangku tersebut, ia melihat Myungsoo yang tampak kelelahan. Iapun menghampiri Myungsoo, ia mengeluarkan selembar tissue dari dalam tasnya. Lalu membersihkan keringat yang berada di sekitar wajah Myungsoo. Myungsoo tersenyum.

“Apakah wanita itu berhasil kau temukan?” tanya Suzy, Myungsoo menggeleng.

“Baiklah, kita pulang saja Oppa.” ujar Suzy, Myungsoo meraih jemari tangan Suzy lalu menuntunnya. Namun di perjalanan Suzy dan Myungsoo terpaksa menghentikan langkahnya. Seseorang berdiri di hadapan mereka.

“Kau mungkin perlu berbicara dengannya Suzy-ah, aku menunggumu disini.” ujar Myungsoo. Suzy mengangguk lemah.

Suzy kini berjalan mengikuti pria di depannya.

“Katakan sekarang, aku tak punya banyak waktu, Min Ho Oppa.” ujar Suzy.

“Sebenarnya apa hubunganmu dengan pria itu?” tanya Min Ho. Suzy memejamkan matanya sekejap, ia kemudian menatap Min Ho.

“Ia hanya rekan bisnisku.” jawab Suzy.

“Kau sedang tidak berbohong padaku kan?” tanya Min Ho, Suzy menggeleng.

“Aku tau jelas gerak-gerikmu jika berbohong.” ujar Min Ho

“Apakah kau menyukainya?” tanya Min Ho kembali, Suzy merasa tersudut dengan pertanyaan-pertanyaan Min Ho. Ia memilih tidak menjawab.

“Jika ia tidak menyukaimu, bagaimana bisa ia mengorbankan jiwanya untukmu?” tanya Min Ho kembali

Suzy menunduk, Min Ho meraih bahu Suzy. Min Ho mengisyaratkan Suzy untuk menatapnya.

“Suzy-ah.” Suzy menatap manik mata Min Ho yang terlihat lebih serius.

“Apakah kau mencintaiku?” tanya Min Ho kembali. Suzy kini merasa bersalah kepada Min Ho, ia bukan memberikan harapan palsu pada Min Ho, sebenarnya ketika Min Ho berada di dekatnya ia hanya merasakan seorang kakak tengah melindunginya. Tidak ada perasaan suka, terlebih cinta. Suzy belum menemukan cinta sejatinya waktu itu. Mungkin Min Ho merasakan Suzy juga menyukainya, namun itu salah. Suzy sama sekali tak menyukainya, hatinya hambar untuk merasakan perasaan Min Ho. Ia tak bermaksud membuat Min Ho berharap terlalu jauh. Suzy sudah beberapa kali menolak cinta Min Ho, logika Suzy bermain, sebenarnya terbuat dari apa hati Min Ho ini.

“Perasaanku masih sama Oppa, aku tidak merasakan cintamu yang sebenarnya.” ujar Suzy. Pernyataan Suzy membuat kedua tangan Min Ho terlepas dari bahu Suzy.

[Play- Hyorin Sistar-Crazy Of You, The Master’s Sun OST]

“Kau terkesan menuntut perasaanku, tapi kau gagal. Maafkan aku Min Ho Oppa, aku tidak mencintaimu, aku hanya merasa nyaman sebagai seorang adikmu.” ujar Suzy, Min Ho mengerjapkan matanya, air mata Min Ho terlihat jelas di sekitar bulatan matanya. Namun ia menahannya.

“Mengapa kau tidak menolak apa yang tidak seharusnya ku lakukan padamu jika kau tidak menyukaiku atau mencintaiku?” tanya Min Ho kembali, ia menatap mata Suzy dengan tajam.

“Entah, aku sendiri tak tahu mengapa aku tak berani menolak perlakuanmu. Maafkan aku jika aku menyakitimu.” ujar Suzy. Harapan Min Ho memiliki Suzy kini pupus, bunga-bunga harapan yang tumbuh subur kini layu. Suzy menatap dalam mata Min Ho. Ia dapat melihat jelas bagaimana kesedihan Min Ho saat ini.

“Apakah seseorang telah berada di hatimu?” Suzy menganggukkan kepalanya pelan, bagaimanapun ia harus jujur pada Min Ho status sebenarnya yang ia bawa.

“Jelas ada, Oppa. Karena ia—Telah menjadi Suamiku.” jawab Suzy, Min Ho hanya terbelalak mendengar jawaban Suzy, ia merasa hatinya tengah dihujam oleh benda-benda tajam. Min Ho berusaha menegarkan hatinya.

“Kau sudah menikah?” tanya nya kembali, Suzy menganggukan kepalanya untuk ke sekian kali.

“Aku menikah dengan Myungsoo, pria yang bersamaku tadi. Maafkan aku Oppa. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku juga tak tahu harus berbuat apa, awalnya aku membencinya. Membenci pernikahan ini, tapi seiring waktu aku belajar, belajar mencintai dan menyayanginya. “ terang Suzy, Min Ho membalikkan badannya hendak meninggalkan Suzy.

“Kau tetaplah kakak terbaik untukku Oppa, maafkan aku jika aku menyakitimu. Kau baik sekali kepadaku, tetapi aku wanita yang tak tahu diri membalas kebaikanmu dengan seperti ini. Tetapi, perasaanku tidak bisa dipaksakan lebih dalam Oppa. Aku mencintainya.” Min Ho melangkah semakin menjauh, air mata Suzy kini menetes. Myungsoo menghampirinya.

“Suzy-ah..”

“Oppa, apakah aku sejahat ini?”

“Kau telah melakukan hal yang benar. Kau tidak mungkin hidup dalam sebuah selimut kebohongan kan?” tanya Myungsoo, Suzy memeluk Myungsoo, setidaknya ini membuat hatinya sangat tenang.

“ Apakah kau merasa bersalah pada Do Yeon ,Oppa?” tanya Suzy.

“Sedikit, tetapi hati memang tidak dapat dipaksakan, sebaik apapun yang ia lakukan kepada kita, jika hati berbicara lain kita tak dapat menentangnya. Hati adalah sumber kejujuran, Suzy-ah.”

Myungsoo memeluk erat Suzy kali ini, ia merasakan bahwa yeoja ini tengah diselimuti rasa bersalah.

—-0000—-

“Sudah ku bilang mereka sudah menikah! Kau tak percaya padaku?” ujar seorang wanita berjalan mengelilingi pria yang tengah berjongkok dan menunduk sekarang.

“Aku hanya ingin membuktikannya sendiri.”

“Lalu apakah yang kau rasakan ketika melihatnya? Hatimu pasti sakit kan?”
Min Ho mengulurkan tangannya.

“Kita bekerja sama.” ujarnya, sementara wanita itu kini menggenggam tangan Min Ho dan tersenyum sinis.

—-0000—-
Malamnya, Suzy tak ingin keluar kamar untuk sekedar makan malam atau menonton televisi. Suzy terdiam di kamar, ia melipat kedua kakinya lalu memeluknya dengan erat. Rasa bersalah menyelimutinya, ia menangis, merasa jahat kepada Min Ho. Ia melempar ponselnya, beberapa menit yang lalu sebuah sms dan telepon masuk dari Min Ho. Ia meminta kejelasan Suzy. Myungsoo menghela nafas kasar melihat tingkah istrinya ini di hadapannya. Ia membawa nampan berisi makanan dan  segelas susu.

“Suzy-ah, kau belum makan malam. Makanlah, setidaknya kandungan karbohidrat harus masuk kedalam lambungmu.” Myungsoo duduk disamping Suzy. Ia merapikan rambut Suzy yang sedikit berantakan, lalu mengikatnya. Suzy menoleh pada Myungsoo. Tatapan teduhnya kini menjadi tatapan sayu. Air mata masih tersisa di kedua sudut mata dan pipinya, Myungsoo menatap Suzy, ia mengusap air mata Suzy. Suzy terdiam, lalu memeluk Myungsoo. Myungsoo terkejut dibuatnya, ia mengusap rambut Suzy.  Terdengar isakan kecil yang keluar dari mulut Suzy.

“Menangislah, manusia terkadang terlalu sombong untuk menangis.”
Suzy menangis semakin menjadi, Myungsoo hanya mendekap erat istrinya. Sebenarnya di dalam benak Myungsoo, mengapa ia harus menangis karena namja yang katanya tak ia cintai.

“Suzy-ah..”

“Apakah kau mencintainya?” tanya Myungsoo, Suzy melepaskan pelukannya.

“Aku tidak mencintainya Oppa..”

“Mengapa kau menangisinya sedalam ini?” tanya Myungsoo.
Suzy memejamkan matanya, ia menggeleng kuat.

“Aku juga tak tahu, aku hanya merasa menjadi orang yang tak tahu diri. Ia membantuku , orang tuanya sangat baik padaku. Tetapi aku tak bisa membalas kebaikannya.”

“Ia hanya meminta hatimu sebagai balasannya. Tetapi, jika kau tak mampu memberikannya jangan dipaksakan. Kau hanya perlu menjelaskan saja.”

“Aku jahat , Oppa. Min Ho Oppa bilang bahwa aku yeoja tak tahu malu dan tak lebih dari seseorang yang tak mempunyai hati.”
Myungsoo dapat merasakan kesedihan istrinya, ia lalu mengambil ponsel Suzy, ia membaca beberapa sms Min Ho. Myungsoo menghela nafas.

“Kau tak salah, Suzy-ah, kau tak memberikan harapan padanya. Kau bersikap biasa saja padanya bukan? Ia saja yang terlalu mencintaimu, ia yang terlalu berharap padamu, ia terlalu berimajinasi tentangmu.”
Suzy menatap Myungsoo lekat, Myungsoo menghapus air mata Suzy entah untuk keberapa kalinya.

“Uljima..” Myungsoo mengecup kedua mata Suzy.

“Kau tahu? Senyummu adalah kebahagiaanku. Tawamu adalah dambaku. Dukamu adalah laraku. Aku mohon, tersenyumlah.”

Suzy tersenyum, ia menunduk malu.

“Pipimu merona. Kau tak pandai menyembunyikan ini Suzy-ah.” ujar Myungsoo, Suzy memukul pelan dada Myungsoo. Myungsoo refleks menangkap kedua tangan Suzy. Lalu dengan cepat ia mencium bibir Suzy, melumatnya dengan lembut, Suzy terlena dibuatnya, ciuman yang lembut berubah menjadi ciuman yang panas. Myungsoo turun mencium leher Suzy. Tapi suara dari dalam perut Suzy mampu membuat Myungsoo terhenti.

“Cacing di dalam perutmu meminta makan.” ujar Myungsoo, ia tertawa. Suzy menunduk malu lalu tertawa.

“Aku ingin makan disuapi oleh Oppa.” Suzy masih menunduk. Myungsoo mengernyit heran, istrinya menjadi manja. Bukankah ini sebuah keberuntungan baginya? Mungkin saja Suzy bisa melupakan namja itu.

“Baiklah, tapi kau harus makan yang banyak.” Suzy kini mengangguk semangat. Myungsoo mengambil piring di atas nampan lalu menyuapi Suzy.

—-0000—-
Myungsoo kini tengah membereskan barang-barang untuk kepulangan mereka ke Korea. Niat mereka untuk menenangkan diri semakin rumit. Bukan ketenangan yang mereka dapat, tidak nyaman. Itu yang bisa mereka simpulkan saat ini. Setibanya mereka di Korea, Myungsoo dan Suzy istirahat di kamar utama.Namun, keributan di luar membuat Suzy terbangun. Ia segera keluar dari kamar dan mengintip dari celah jendela. Suzy membelalakkan mata, bagaimana bisa semua ini terjadi, semua wartawan tengah berkumpul di pekarangan rumahnya. Ia segera membangunkan Myungsoo.

“Oppa, ireona.. Oppa!”
Myungsoo kini mengusap matanya, lalu memeluk Suzy. Suzy melepaskannya dengan kasar.

“Oppa di luar banyak wartawan!” Myungsoo langsung terbangun.

“Bagaimana bisa?” tanya Myungsoo pada Suzy. Suzy menggeleng. Myungsoo mengecek ponselnya, ia membuka situs berita online. Beberapa berita yang membuat Myungsoo terkejut bukan main , adalah berita yang mengabarkan bahwa :
Menikah diam-diam, Kim Myungsoo pemilik KMS Advertising dan Bae Suzy pemilik BS Agency pergi ke London.”
“Hamil di luar nikah, Kim Myungsoo pemilik KMS Advertising dan Bae Suzy pemilik BS Agency menikah cepat secara diam-diam.”
“Tak ingin pernikahannya diketahui masyarakat, Kim Myungsoo dan Bae Suzy melarikan diri ke London.”
“Foto mesra Bae Suzy wanita rekan panggung charity event Lee Junho dengan pemilik KMS Advertising.”

Myungsoo menahan amarahnya, ia menggerutu, ponselnya jatuh dan mati total saat ia mengejar seorang wanita misterius. Ia gerah akan berita yang terlalu membesar-besarkan itu. Ia segera berganti pakaian, membuat Suzy heran.

“Apakah Oppa akan meninggalkanku?” tanya Suzy pada Myungsoo yang kini tengah merapikan diri di depan cermin. Ia menoleh ke arah istrinya.

“Ini adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan semuanya, Suzy-ah. Kau baca saja ini.” Myungsoo memberikan ponselnya pada Suzy. Suzy membaca dan membelalakkan mata, ia kini mengganti bajunya. Wajahnya menahan amarah, jelas saja… yeoja mana tak kesal dikabarkan hamil di luar nikah, bahkan melakukannya saja belum.

Suzy dan Myungsoo menuruni tangga, Myungsoo menggenggam jemari tangan Suzy, ia menatap pada istrinya, membelai pipi istrinya.

“Aku bersamamu Suzy-ah, selalu bersamamu. Ayo, kita temui makhluk-makhluk itu.”
Suzy mengangguk mantap, ia mengekor dibelakang Myungsoo. Sebelum membuka gagang pintu, Myungsoo menarik nafasnya. Keributan diluar terhenti sejenak, semua wartawan menoleh ke arah Suzy dan Myungsoo. Mereka menyodorkan benda-benda bulat pada Suzy dan Myungsoo, kamera dimana-mana. Membuat Suzy ingin sekali selesai dengan hari ini.

“Apakah kalian betul-betul telah menikah?”  tanya seorang wartawan wanita, Myungsoo membukakan pintu rumahnya dengan lebar. Tangannya bergerak seolah berkata “ Silahkan Masuk!” .
“Hanya 4 orang yang ku bolehkan masuk.” ujar Myungsoo, Suzy melepaskan genggaman tangan Myungsoo, ia kini duduk di sofa.
Wartawan itu tampak berunding, tak lama kemudian 4 orang itu masuk kedalam rumah Myungsoo dan Suzy, menghampiri Suzy yang tengah duduk anggun di Sofa. Myungsoo menutup pintu lalu duduk bersama Suzy.

“Informasi apa yang kalian inginkan?” tanya Myungsoo.

“Kami hanya ingin mendengar mengapa kalian memutuskan untuk menikah diam-diam?”

“Karena aku dan Myungsoo di jodohkan.” kini Suzy membuka mulutnya untuk berbicara.

“Bukan karena anda hamil di luar nikah Nona Bae, ehm maksudku Nyonya Kim.?” Wajah Suzy memerah, kali ini bukan rona malu, namun aura marah. Tiba-tiba suara seseorang membuka pintu mampu membuat semua yang ada di dalam menoleh ke  arah mereka.

“Pendeta Heo!” ujar Suzy.

“Dokter Shi!” timpa Myungsoo, ya.. kedua orang itu ialah saksi penting dalam penikahan mereka.

“Mereka menikah resmi di tanganku, di hadapan Tuhan. Mereka tidak menikah diam-diam. Apakah keramaian harus selalu dengan kamera? Hei, berhenti memotretku!” Pendeta Heo kini tengah menjelaskan seputar pernikahan Suzy dan Myungsoo, Suzy dan Myungsoo menghembuskan nafas lega, kali ini giliran dokter Shi yang menjelaskan.

“Sebelum menikah mereka mengunjungiku, tentunya belum seakrab ini. Nyonya Kim memeriksakan kesehatannya, ia tidak hamil dan ia sehat. Lagipula, kedua orang tua Tuan Kim ini menyuruhku untuk memeriksa hymen dari Nyonya Kim, ehm, kalau ini tidak bisa aku jelaskan. Kalian bisa membacanya di surat ini.” Dokter Shi memberikan dua lembar surat kepada para wartawan itu, Suzy dan Myungsoo tersenyum penuh kemenangan.

“Jadi, mengapa kalian pergi ke London?” tanya seorang wartawan yang tampaknya masih tidak puas dengan jawaban-jawaban dari saksi-saksi ini.
“Kami hanya sejenak menenangkan diri kami , istriku butuh refreshing setelah kejadian kebakaran tersebut.” terang Myungsoo.

“Lalu apa kalian tahu tentang foto-foto yang beredar di internet?”

“Aku tahu, aku baru saja melihatnya. Sewaktu kami di London, kami pergi ke suatu toko perhiasan, tiba-tiba aku merasa seseorang mengikuti kami berdua. Suamiku sengaja memancingnya dengan cara memelukku, lalu orang itu kembali memotret dan berlari. Suamiku mengejarnya lalu ia hilang begitu saja.” ujar Suzy, membuat seisi ruangan mengangguk paham.

“Apakah itu salah satu dari kalian?” tanya Dokter Shi.

“Kami tidak tahu apapun, kami juga baru melihat berita itu dan kami tak tahu bahwa mereka pergi ke London.” jawab seorang wartawan namja.

“Apakah kalian tidak merasa sesuatu yang aneh? Kalian bilang bahwa kalian tidak tahu, tapi tiba-tiba berita ini meledak. Apakah kalian tidak mencari tahu dulu?” tanya Suzy.

“Ah, seseorang memposting berita itu bersamaan dengan kenaikan pendapatan Shinan Financial Group, dengan id yang sama pula.” ujar seorang wartawan, Suzy memutar ingatannya, bukankah Shinan Financial Group adalah perusahaan Tuan Kang.

“Baiklah, bukankah kalian seharusnya mengecek ini pada mereka?” ujar Myungsoo. Sementara para wartawan itu kini meninggalkan kediaman Suzy dan Myungsoo. Suzy dan Myungsoo tak lupa mengucapkan terimakasih kepada kedua orang yang membantu mereka.

“ Pendeta Heo, Dokter Shi, kami tidak tahu jika tidak ada kalian.” ujar Suzy.

“Dan kami juga tak akan tahu jika mereka tak memberi tahu kami.” tiba-tiba Jiyeon dan Seung Gi keluar dari persembunyiannya. Mereka berhamburan memeluk Suzy dan Myungsoo. Sementara pendeta Heo dan dokter Shi kembali ke tempat bekerjanya masing-masing.

“Ah, akhirnya kalian kembali. Aku yakin 2 minggu setelah ini kalian akan mendapat kabar bahagia.” ujar Jiyeon.

“Yak! kabar bahagia apa maksudmu?” tanya Suzy.

“Little Kim!” teriak Jiyeon, sementara Suzy dan Myungsoo tertawa.

“Wae? Apakah tidak boleh jika kami meminta keponakan dari kalian?” tanya Seung Gi.

“Hubungan kalian sudah diketahui seluruh Korea, sebagai ucapan terimakasih pada kami kalian harus memberi kami Little Kim.” Suzy dan Myungsoo saling bertatap , lalu Myungsoo tersenyum.

“Yak! Yak! Sebelum kalian melanjutkan kegiatan seperti itu, ada baiknya mendengar kabar dariku.” Kini Seung Gi memimpin barisan, ia duduk di sofa lalu memberikan sebuah benda kecil seperti benda digital.

“Ini benda apa?” tanya Suzy.

“Itu adalah timer, kau lihat, di dalam sini permukaan yang gosong, ini adalah tempat dimana api dipercikkan. dan timer ini mengatur waktu yang tepat untuk memercikkan api.” jelas Seung Gi. Suzy dan Myungsoo hanya mengangguk paham.

“Kami menemukan ini di kantormu, Suzy-ah, tepatnya di dalam gardu listrik kecil dekat koridor, benda ini begitu kecil sehingga tak mudah menemukannya. Untungnya aku dan dia berhasil menemukan ini. Aku rasa penjahat itu sengaja menaruh ini dalam gardu listrikmu.” timpa Jiyeon.

“Lalu, bagaimana dengan kotak hitam cctv?” tanya Myungsoo.

“Penjahat itu mematikan seluruh sistem kamera sebelum ini terjadi, ah kurasa ia cukup cerdik dalam menjalani pekerjaan haram ini.”

“Jiyeon-ah, apakah kau curiga pada seseorang? Jika kejadiannya seperti ini, ia adalah orang yang dengan mudah mengakses kantorku.” ujar Suzy.

“Hm, Junho menanyakan kepergianmu ke London.”

“Lalu tuan Kang menyusul kami.” timpa Myungsoo

“Min Ho Oppa juga menyusul kami.”
Dahi jiyeon mengernyit heran.

“Sebenarnya apa hubungan mereka?”

—-0000—-

“Tuan, wartawan menunggu kami di luar, mereka menanyakan masalah kasus pemilik KMS Advertising dan BS Agency. Ini kelalaian kami tuan, mengunggah dengan id yang sama.” ujar seorang pria menunduk di hadapan pria tua yang kini duduk dengan santai di kursi besarnya.

“Kalian terlampau bodoh. BODOH!!!” teriak pria tua itu, lalu ia melempar seluruh map di hadapannya.
Di arah berbeda, kini Junho tengah mengacak beberapa lembar berkas di tumpukan kertas. Ia meremas kertas itu lalu memasukkannya kedalam kantong plastik. Tangannya bergetar, ia tahu bahwa perbuatannya ini akan menimbulkan kejadian yang amat mengerikan. Kakinya melangkah keluar, ia sedikit berlari. Namun, kedatangan sang kakak mampu menghentikan langkahnya.

“Hyung.”

“Kau berhentilah membantu yeoja itu, dia sudah bersuami!”

“Aku tak peduli, karena aku tak mencintainya. Aku hanya bersyukur mengenalnya, ia baik hati dan berbeda dari yeoja lain. Ini bentuk terimakasihku padanya.”
“Dia menyakiti hati kakakmu, kau tau? Aku ingin membunuhnya sekarang juga.”

“Apakah kau benar mencintainya? Kini aku ragu atas perkataanmu yang setiap malam kau kirimkan padanya, Jika benar kau mencintainya kau tidak akan menuruti perintah dari pria bajingan itu. Kau akan berusaha melindunginya. Kau yang terlalu berharap padanya, ia sudah memberitahumu beberapa kali tapi kau seolah tuli.” tangan Min Ho mengepal keras, dengan satu hantaman ia mampu membuat Junho terjatuh.

“Kau sama seperti pria bajingan itu.”
—-0000—-

Malam hari, di rumah Suzy dan Myungsoo tampak tenang. Mereka sedang bermanja ria di atas ranjang. Myungsoo meletakkan kepalanya di atas paha Suzy. Suzy mengusap rambut Myungsoo.

“Oppa, apakah seorang anak masih membayang-bayang pikiranmu?” tanya Suzy , ia melihat Myungsoo yang seolah terbuai dengan usapan dari tangan lembut Suzy.

“Ya, seorang anak darimu…” jawab Myungsoo. Myungsoo terbangun dari tempat permanjaannya, membuat Suzy heran.

“Kau siap melakukannya?” tanya Myungsoo, Suzy menunduk malu lalu mengangguk. Myungsoo menyeringai puas, perlahan tangannya membuka kain yang membalut tubuh istrinya, di iringi dengan ciuman yang hangat dan canda tawa untuk memecah kecanggungan, malam itu, menjadi malam yang panjang untuk Suzy dan Myungsoo. Persenyawaan mereka yang membuat bayang-bayang di kaca terlihat dengan jelas. Tangan Myungsoo terulur mematikan sistem penerangan, deru nafasnya dan nafas Suzy tak dapat terkendali. Sebuah permainan penuh gairah membuncah dan pecah pada malam itu. Bunga mawar yang dijaga dengan baik selama ini kelopaknya berguguran dan jatuh kedalam genggaman Kim Myungsoo.

_TBC_

Haaaai, gimana chapter 5 nih? jangan lupa jug abaca We Are Not King and Queen ya, hehe. Don’t forget to RCL  yaa readers :*

78 responses to “[Freelance] Business Marriage Chapter 5

  1. daebak thor…
    Konflik.a bner2 seruu
    terutama? Apa jngan2 yg minho dr balik smua itu #pasti.a soalnya junho mau bntuin suzy, kn aneh kalau junho ngelakuin itu tp dia yg ngebntuin
    next

  2. Apa mungkin junho itu saudara minho? Jadi mereka memiliki rencana jahat pada myungzy? Daebak ternyata minho hebat sekali dalam berbuat kotor, sepertinya ia melakukan kerja sama dengan pria yang hendak mencelakai myungzy !

    Semoga hubungan myungzy akan baik-baik saja dan ditunggu kehadiran little kimbae😀

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s