Mistakes and Regrets #8

poster

Title: Mistakes and Regrets | Author: Macchiato

Genre: Friendship, Sad, Romance | Rating: PG – 17 | Length: Chaptered

Main Cast: Bae Sooji, Kim Myungsoo, Kim Sunggyu

Poster by animeputri @HSG

I don’t own anything besides the storyline

Move On

Previous chapter: #1 | #2 | #3 | #4 | #5 | #6 | #7

“Yak! Neo uro?”

Sooji membelalakkan matanya. Pekikan Sunggyu berhasil mengagetkannya dan detik itu juga berhasil menghentikan air matanya. Sooji mengambi tisu, mengelap matanya yang sudah sedikit basah kemudian mendengus sebal. Apa sih maunya namja sipit ini? Menit sebelumnya membangun suasana yang membuat Sooji ingin menangis mangingat Sungyeol tapi di menit berikutnya membuat Sooji ingin mengambil kapak dan mencincangnya.

“Yak! Neo uro? Mianhae. Aku tidak bermaksud membuatmu menangis, sajangnim. Hanya saja…”

Sooji menunggu namja di depannya itu melanjutkan ucapannya. Diperhatikannya baik-baik namja yang lebih tua hampir 5 tahun darinya itu. Sooji mengernyitkan dahinya begitu melihat Sunggyu berdecak dan kembali mengambil sumpitnya yang sempat diletakkannya sejenak.

Dwesseo. Ucapanku benar. Kau harus dewasa, menerima kenyataan, dan memaafkan dirimu sendiri.”

Sooji tersenyum kecil. Oke, dia tahu busajangnimnya itu aneh. Dia tahu busajangnimnya itu bawel dan suka ikut campur meski kadang menahan diri. Tapi Sooji menyadar kalau sebenarnya Sunggyu adalah orang yang super perhatian dan peduli dengan orang-orang di sekelilingnya. Aigoo, kyeowo. Sooji menggelengkan kepalanya. Astaga Bae Sooji, apa yang kau pikirkan?! Dia? Namja sipit? Kyeowo? Maldo andwe. Jeongshin charyeo, Sooji-ah!

Sunggyu memperhatikan yeoja di hadapannya yang tiba-tiba menggelengkan kepalanya. Diletakkannya lagi sumpitnya dengan sedikit hentakan ke atas meja, membuat Sooji sedikit terlonjak. Yeoja ini kenapa sih sulit sekali diberi nasihat. Diberi tahu yang benar malah menggelengkan kepala.

Waeyo? Andweyo? Yak! Kau itu yeoja keras kepala, sajangnim. Demi kebaikanmu sendiri, Bae Sooji agashi, anda harus bisa move on. Bukan cuma menangis meratapi kepergian teman anda. Anda harus bisa ikhlas dan memaafkan diri anda sendiri. Anda harus bisa fokus terhadap hidup anda ke depannya. Ingat jabatan anda sekarang, anda seorang sajangnim. Anda harus bisa bersikap professional.  Anda harus bisa membedakan mana urusan pribadi dan mana urusan kantor. Anda pikir pegawai anda menyukai jika atasannya selalu gloomy dan dikelilingi awan mendung. Anda pikir peg…”

Sooji tertawa mendengar omelan Sunggyu. Di satu sisi Sooji kesal karena Sunggyu terus-terusan mengangapnya yeoja cengeng yang hobi menangis tapi di sisi lain Sooji ingin tertawa karena Sunggyu terus-terusan mengaitkan sikapnya dengan kinerjanya di kantor. Benar-benar Sunggyu, si workaholic super yang super loyal pada perusahaan.

“Yak! Kau mendengarku atau tidak? Kau sungguh-sungguh harus merubah aura mencekammu itu sajangnim. Berkarisma bukan berarti memiliki aura hitam kan? Tersenyum lah lebih sering sedikit.”

Sooji tersenyum kecil. “Waeyo? Kenapa aku harus lebih sering tersenyum? Aku kan atasan? Wajar bukan kalau memasang muka besi? Kurasa senyum tidak terlalu membuat banyak perbedaan sehubungan dengan kinerja pegawai”

Sunggyu menghela nafas, “Tentu saja senyum membuat banyak perbedaan.”

Sooji menatap Sunggyu, “Mwohae?”

“Kau terlihat jauh lebih cantik jika tersenyum sajangnim.”

Rona merah menjalari pipi Sooji. Sial. Sial. Sial.

“Bagaimana pekerjaanmu, Sooji-ah?” Tuan Nam memecah keheningan saat makan malam berlangsung.

“Lancar samchon.” Jawab Sooji singkat.

“Bagaimana kelanjutan project resort di Ulsan? Ada masalah?”

Sooji menghentikan makannya sejenak, memilih kata-kata yang tepat untuk disampaikan pada samchonnya.

“Tadi siang memang sempat terjadi sedikit keributan saat pemilihan design. Dewan direksi benar-benar memastikan bahwa design yang dipilih kali ini adalah design terbaik sehingga tidak akan kalah saing dengan Jaesan.”

“Lalu?”

“Paman tidak perlu khawatir. Kami berhasil meyakinkan dewan direksi bahwa design kali ini adalah yang terbaik dan sesuai untuk kawasan Ulsan.”

“Kami?”

“Tentu saja Sooji dan busajangnimnya abeoji. Sunggyu hyung.”

Sooji kembali menutup mulutnya kembali ketika Wohyun yang menjawab pertanyaan Tuan Nam.

“Ah, Kim Sunggyu. Dia banyak membantumu, Sooji-ah?” Nyonya Nam ikut bergabung begitu mendengar nama Sunggyu disebut.

Ne, yimo. Sunggyu-shi banyak membantuku selama ini.”

“-shi? Astaga, kau masih memanggilnya dengan embel-embel –shi, Sooji? Kurasa jika kau panggil dia oppa, dia tidak akan menolak.”

Sooji hanya tersenyum menjawab pertanyaan yimonya. Oppa? Sekelebat bayangan kejadian siang tadi singgah di kepala Sooji.

“Kau terlihat jauh lebih cantik jika tersenyum sajangnim.”

Lagi-lagi, tanpa disadarinya, pipi Sooji memerah. Woohyun yang menyadari perubahan warna pipi Sooji hanya tersenyum penuh arti.

“Kurasa hyung tidak akan keberatan oemma, Sooji juga tidak keberatan memanggilnya oppa, geutchi?”

Sooji mendelik mendengar nada menggoda pada ucapan Woohyun yang membuat tawa Woohyun pecah.

Tok tok tok

“Sooji, bisa kau bukakan pintunya?”

Sooji yang sedang sibuk dengan bukunya menggerutu pelan. Sejujurnya dia paling tidak suka ketika waktu membacanya terganggu.

Ne, oppa. Chakkaman.”

Diletakannya bukunya dengan sembarang di atas meja kemudian dilangkahkan kakinya menuju pintu kamarnya. Begitu pintu kamarnya terbuk, berdiri di depan Sooji adalah seorang Woohyun yang tersenyum lebar dengan masing-masing tangannya menggenggam secangkir kopi.

“Mau menemani oppa minum?”

Sooji mendengus kemudian membuka pintunya lebih lebar dan mempersilahkan Woohyun masuk.

“Kenapa kau selalu ke kamarku malam-malam begini sih, oppa? Aku juga butuh privasi”

“Kau juga butuh teman mengobrol”

Sooji mendengus lagi, bukan Woohyun namanya kalau tidak bisa membalas ucapan Sooji.

Woohyun memberika secangkir kopi hangatnya kepada Sooji kemudian melangkahkan kakinnya menuju balkon kamar Sooji.

Sooji menghela nafas. Sepupunya memang punya cara aneh menunjukkan perhatian padanya. Dengan sedikit gontai Sooji menghampiri Woohyun di balkon dan mengikutinya yang menyandar pada pagar besi balkonnya.

“Ada apa, oppa?”

Woohyun tertawa kecil, “Apanya yang ada apa?”

Sooji menyesap kopinya perlahan kemudian membuang pandangannya pada langit malam.

“Kopi hangat dan balkon. Jika sudah begini biasanya kau mau mengajakku bicara serius.”

Woohyun tertawa lagi, “Geurae? Aku tidak menyadari kebiasaanku sendiri berarti.”

Sooji mendengus, “Ada apa, oppa?”

“Bukan aku tapi kau. Tidak ada yang ingin kau tanyakan?”

Sooji mengernyitkan dahinya, “Naega?”

Memangnya apa yang ingin aku tanyakan?” Tanya Sooji lagi.

Woohyun mengangkat bahunya, “Aku yakin ada yang ingin kau tanyakan tapi sepertinya kau sedikit ragu.”

Sooji kembali mengernyitkan dahinya, “Soal project Ulsan? Kita kan sudah membahasnya tadi saat makan malam, oppa.”

Woohyun menggeleng, “Bukan, bukan soal pekerjaan Sooji-ah.”

“Lantas soal apa?” Sooji kembali menyesap kopinya ketika dirasanya angin malam menusuk kulitnya. Woohyun pabo, mengajak yeoja bicara malam-malam dan di balkon pula. Dasar namja tidak peka.

“Tentu saja soal Sunggyu hyung.”

Dan Sooji tersedak kopinya sendiri. Tersedak kopi hangat. Bisa bayangkan?

“Uhuk uhuk uhuk”

Woohyun bukannya menenangkan Sooji atau setidaknya mengkhawatirkan Sooji malah tertawa. “Yya. Jika kau menyukainya kenapa tidak jujur saja sih? Aku bisa membantumu.”

“Uhuk uhuk, siapa yang menyukai siapa?” Sooji berusaha meredam batuknya dan juga meredakan rona di pipinya. Sial.

Woohyun tertawa lagi, “Tentu saja kau dan hyung. Sooji dan Sunggyu.”

“Yyaa, jangan bicara yang tidak-tidak.”

“Siapa yang bicara tidak-tidak?”

“Tentu saja kau, oppa. Jangan bicara hal yang tidak masuk akal.”

Woohyun tertawa lagi, kali ini lebih keras dibandingkan sebelumnya.

“Tidak masuk akal? Yya! Kalau begitu jelaskan kenapa pipimu merah begitu. Pipimu bahkan memerah hanya denganku mengucapkan nama hyung, Kim Sunggyu.”

“Kau terlihat jauh lebih cantik jika tersenyum sajangnim.”

Pipi Sooji kembali terasa terbakar membuat Woohyun memperbesar volume tertawanya.

“Lihat! Aigoo sepertinya uri Sooji sudah terkena pesona seorang Kim Sunggyu. Sudah kubilang kan dia punya charm, Sooji-ah.”

“Sudahlah oppa, jangan menggodaku, ini tidak lucu.”

“Siapa yang bilang ini lucu?”

“Kau, oppa! Berhentilah tertawa!”

Sooji memberengut kesal kemudian melangkah meninggalkan balkon menuju kamarnya. Diletakannya cangkir kopinya di atas meja kemudian di tenggelamkannya dirinya di atas kasur dengan selimut tebalnya.

Dan Woohyun masih tetap tertawa.

Oppa! Kubilang berhenti tertawa!” teriak Sooji agar terdengar oleh Woohyun yang masih berada di balkon.

Arra, arra, Mianhae” Woohyun akhirnya berhenti tertawa kemudian mengikuti Sooji masuk ke kamar dan duduk di atas kasurnya.

“Yya, kurasa Sunggyu hyung tidak buruk.”

Sooji kembali cemberut, “Bisa kita tidak melanjutkan pembahasan ini?”

Woohyun tersenyum jahil, “Tidak bisa.”

Soooji menghela nafas kemudian menutupi mukanya dengan bantalnya.

Geurae, sepertinya aku menyukainya oppa, otteokhaji?”

Woohyun kembali tertawa mendengar pengakuan Sooji. Sooji melepaskan bantalnya dan menatap Woohyun sengit, “Yya! Berhenti tertawa!”

Arra. Arra. Aigoo, hyung memang jjang! Bagaimana ceritanya Sooj? Bagaimana kau bisa menyukainya?”

Pipi Sooji kembali memerah perlahan yang membuat Woohyun hampir tertawa lagi tapi berhasil ditahannya.

Mollayo, oppa. Tadi pagi sepertinya aku masih tidak tahan dengan sikapnya yang suka ceramah panjang lebar.”

Woohyun mengangguk, mengakui kalau sunggyu memang hobi memberi ceramah berkepanjangan, “Geurae? Kalau kau menyukainya kau harus berusaha Sooji-ah. Sainganmu tidak sedikit.”

Sooji tersenyum tipis. Berusaha mendapatkan orang yang disukai? Sepertinya Sooji sudah pernah melakukannya. Kelewat berusaha malah. Sooji berusaha sangat keras membuat Myungsoo menyukainya dulu.

Sooji menghela nafas, “Oppa?”

Ne?”

“Apa aku ini tidak dewasa?”

Woohyun sedikit terkejut mendengar pertanyaan Sooji, “Ne?

“Apa aku ini tidak dewasa?” ulang Sooji lagi.

Woohyun menatap Sooji dalam kemudian tersenyum kecil.

“Semua orang tahu, dewasa itu pilihan sedangkan tua itu pasti, Sooj.”

Sooji merengut, “Itu tidak menjawab pertanyaanku, oppa.”

“Oke, sedikit. Sedikit tidak dewasa.”

“Kau yakin?”

Woohyun menghela nafas, “Kau mau jawaban jujur?”

Sooji diam tidak menjawab pertanyaan Woohyun.

“Sooji yang kukenal dulu itu sosok yang periang, tangguh, dan pekerja keras. Aku tau kehilangan ayahmu merupakan pukulan berat untukmu Sooji, ditambah pula kehilangan Sungyeol dan masalah baru soal oemma tirimu. Tapi kurasa pilihanmu saat itu, pilihanmu untuk terbang meninggalkan Korea dan meninggalkan masalahmu bukan pilihan yang tepat dan bukan keputusan yang dewasa.”

Woohyun kembali menatap Sooji yang sedang menunduk dan memainkan jari-jarinya.

“Tapi, aku tidak akan menyalahkanmu. Usiamu baru 16 saat itu, tentu saja aku mengerti seberat apa itu bagimu. Saat kau kembali ke sini, aku yakin kau akan memperbaiki diri dan mendewasakan diri. Terbukti dari tanggung jawabmu di perusahaan.”

Tangan Woohyun terulur mengangkat dagu Sooji agar yeoja itu menatapnya.

“Tapi kau harus menyadari Sooji-ah. Dewasa bukan hanya soal tanggung jawab. Banyak hal lainnya yang harus kau tunjukkan untuk membuktikan bahwa kau sudah dewasa. Termasuk keberanian untuk berdamai dengan masa lalu.”

Sooji merapikan rambutnya yang sedikit mencuat keluar.

Fighting Sooji-ah, fighting!” Sooji berujar pelan pada dirinya sendiri. Dihela nafasnya perlahan kemudian dihirupnya lagi.

Tangannya perlahan terjulur hendak membuka pintu mobilnya ketika dilihatnya sebuah Audi hitam yang datang dan parkir terpaut hanya satu mobil dari mobilnya.

Sooji spontan mengurungkan niatnya untuk keluar dari mobilnya ketika melihat sang pemilik audia hitam keluar dari mobilnya. Kim Sunggyu.

Tanpa sadar Sooji menahan nafasnya. Begitu dilihatnya Sunggyu berjalan menjauh Sooji baru bernafas normal kembali. Ditempelkannya dahinya pada stir mobilnya.

“Relaks Sooj! Astaga, kenapa aku jadi seperti remaja kasmaran begini?”

Sooji kembali menghirup udara sebanyak-banyaknya kemudian membuangnya perlahan. Dengan penuh percaya diri, dibukanya pintu mobilnya dan dilangkahkannya kakinya dengan pasti.

Fighting, Sooji-ah!” ujar Sooji sambil menutup pintu mobilnya.

Fighting untuk apa sajangnim?” sebuah suara menginterupsi heningnya parkiran Hwajae Property pagi itu dan berhasil membuat Sooji terlonjak kaget. Beruntung semalam Sooji dapat tidur nyenyak karena Jongin dan Jieun menelfon dan melullabykan dirinya hingga tertidur, kalau tidak Sooji yakin kedua kakinya sudah menyerah menyangganya.

“Astaga, Lee Hyeri kau mengagetkanku!”Sentak Sooji kepada asistennya itu.

Hyeri tertawa, “Mianhaeyo, sajangnim.”

Sooji merengut kesal, untung saja dia tidak punya riwayat sakit jantung.

“Kau terlihat sangat bersemangat pagi ini Sooji-ah. Pertanda baik.”

Sooji menatap Hyeri seakan Hyeri adalah mangsanya, “Waeyo? Tidak boleh? Gloomy tidak boleh, penuh semangat tidak boleh. Lalu aku harus bagaimana?” sindir Sooji pedas.

Hyeri kembali tertawa kemudian ditepuknya bahu Sooji perlahan yang menimbulkan protes dari bibir Sooji.

“Yya, Lee Hyeri! Sudah kubilang aku ini atasanmu, jaga sikapmu sedikit!”

Mian. Mian. Tapi bebar deh, kau terlihat sedikit berbeda hari ini.”

Sooji kembali mendelik memandang asistennya itu kemudian berlalu pergi, “Terserah kau saja.”

Tiba-tiba Hyeri menarik tangannya membuat Sooji kembali menghadap yeoja berpotongan rambut pendek itu.

“Yya!”

“Ah, matta. Aku tau perbedaannya dimana.”

Sooji mendengus, “Kau menarikku hanya untuk itu, jinjja daebak. Kau mau kupecat?”

Hyeri menghiraukan ancaman Sooji dan mengangkat tangannya menunjuk penampilan Sooji dari atas hingga bawah.

“Kau merubah penampilan, Sooj! Astaga, bagaimana bisa butuh waktu cukup lama bagiku untuk menyadarinya. Kau merubah warna lipstikmu. Kau juga me­-roll rambutmu. Aigoo, yeppeouda.”

Sooji membuka mulutnya lagi hendak menceramahi asisten –sedikit- kurang ajar yang baru saja mengomentari penampilannya ketika didengarnya lagi Hyeri kembali bicara.

“Jadi… siapa pegawai yang berhasil menarik perhatianmu, Sooji? Sunggyu busajangnim?”

Dan Sooji hanya bisa menggigit bibir bawahnya.

“Kau benar-benar harus ke Yongin hari ini, aku tidak bisa terus-terusan menggantikanmu.”

Ne.”

“Kau harus mendengarkan keluhan ketua tim design, kau juga harus bisa memberikan dorongan dan masukan.”

Ne, algeusseumnida”

Sunggyu mengernyitkan dahinya. Kenapa yeoja di depannya ini begitu penurut belakangan ini?

“Kau harus bisa memberi semangat bagi tim supaya pembagunan condominium di Yongin selesai tepat waktu.”

Ne, busajangnim.”

“Kau.. ada apa denganmu belakangan ini?”

Ne, algeuss.. ne?” Sooji mendongakkan wajahnya dan mengerjapkan matanya bingung. Yang terakhir tadi bukan perintah?

Sunggyu menghela nafasnya, “Yya, ada apa denganmu belakangan ini?”

Tatapan mata sipit seakan menghujam Sooji. Sooji tidak tahu kalau mata sipit Sunggyu punya kekuatan sebesar itu.

Sooji berusaha menjawab dengan tenang dan sebiasa mungkin, “Waeyo? Ada apa denganku memangnya?”

Lagi-lagi Sunggyu menghela nafas. Diangkatnya tubuhnya dari kursi dan dilangkahkan kakiknya mendekat menuju meja Sooji.

Sunggyu menatap Sooji intens berusaha membaca raut wajah atasannya sedangkan Sooji sibuk berkomat-kamit menetralkan jantungnya.

“Yya! Kutanya ada apa dengamu, sajangnim? Tidak biasanya kau tidak mengeluh. Bahkan kurasa sudah seminggu aku tidak mendengar keluhanmu.”

Sooji melan salivanya. Aigoo dilihat dari sedekat ini Sunggyu memang tampan. Astaga Sooji, fokus!!

Geuraeyo? Aku belajar untuk tidak mengeluh. Waeyo? Kau tidak suka? Perlu diingat Sunggyu-shi, aku ini atasanmu!” Oppa! Oppa! Rasanya Sooji benar-benar ingin memanggilnya oppa. Sooji, Jeongshin charyeo!!

Sunggyu mengangkat sebelah alisnya kemudian tersenyum.

Sooji mengerjapkan matanya dan jantungnya berloncatan tak karuan. Sooji hanya bisa berharap namja di depannya ini tidak mendengarnya.

Geurae, kalau begitu aku kembali ke ruangaku dulu. Jika perlu bantuanku kau bisa memanggilku.”

Sooji mengangguk seperti orang bodoh ketika Sunggyu berjalan perlahan meninggalkan mejanya. Dihembuskannya nafas perlahan tanda lega. Namun kelegaannya tidak berlangsung lama ketika tiba-tiba Sunggyu membalik badannya dan menatapnya lagi. Tatapan yang menusuk meskipun jarak di antara mereka cukup jauh.

“Kau potong rambut ya? Yeppo.”

Setelah berkata demikian, Sunggyu kembali melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan Sooji. Meninggalkan Sooji yang tersenyum bodoh memegangi rambutnya.

“Aku hanya me-rollnya pabbo! Dan ini sudah seminggu sedangkan kau baru menyadarinya sekarang? Jeongmal pabo”

“Hyeri-ah, aku akan ke Yongin. Kau lanjutkan saja pekerjaanmu, dan jika ada yang perlu kau ketahui, tanyakan saja pada busajangnim.”

“Kau tidak cemburu?”

Sooji mengernyitkan dahinya, “Ne?”

“Kau tidak akan cemburu jika aku dekat dengan busajangnim?”

Pipi soji terasa kembali memanas, “Yya! Mengapa aku harus cemburu?”

“Karena ini busajangnim, Sooji. Sunggyu busajangnim.”

Sooji merutuk pelan dalam hati. Kenapa asistennya harus begitu peka?

“Memang kenapa dengan Sunggyu busajangnim?”

Hyeri tertawa, “Yya! Tidak udah menyembunyikannya! Wajahmu memberitahuku semuanya!”

“Jangan sok tau, Lee Hyeri!”

“Apa perlu aku memberitahunya, sajangnim?”

“Yya!”

“Sepertinya lebih baik aku memberitahunya. Atau kau mau memberitahunya sendiri?”

“Yya Lee Hyeri! Tutup mulutmu atau kau kupecat!”

Sooji memukul-mukul pundaknya perlahan. Sooji baru saja mengunjungi pembangunan condominium di Yongin. Sooji benar-benar mengikuti saran Sunggyu. Mendengarkan segala keluhan tim dan memberikan mereka dorongan semangat. Sooji juga berusaha ramah dan sering tersenyum. Di kepalanya Sooji terus-terusan merapalkan kalimat ‘jangan gloomy dan terus tersenyum.”

Sooji mendengus menyadari bahwa ternyata tersenyum terus menerus cukup melelahkan. Dia membayangkan dirinya dulu pasti sangat naïve karena selalu tersenyum apapun yang terjadi.

Sebelum pulang, Sooji memutuskan mengunjungi café favoritnya terlebih dahulu. Sooji berfikir se-cup ice cream tidak ada salahnya di malam musim panas seperti ini.

“Aku pesan yang rasa strawberry dan kacang merah.”

“Mohon ditunggu sebentar.”

Soojji tersenyum tipis menanggapi pelayan café. Matanya kemudian mengedar memandangi setiap sudut café. Senyum kecil muncul di bibirnya. Café ini ternyata tidak terlalu banyak mengalami perubahan selama dirinya tidak di Korea.

“Selamat datang”

Ucapa selamat datang pelayan café kepada pengunjung baru memecah lamunan Sooji. Sooji mengamati pengunjung baru itu dengan rasa ingin tahu. Ini sudah memasuki musim panas masih memakai pakain serba hitam? Sooji tersenyum kecil dan memandangi pakaiannya yang juga serba hitam.

Senyum Sooji perlahan memudar ketika menyadari siapa namja itu ketika namja tersebut berjalan perlahan menghampiri counter dan berdiri di sebelahnya.

Kim Myungsoo.

“Cokelat hangatnya satu.”

“Mohon ditunggu sebentar.”

Sooji menyadari bahwa Myungsoo juga terkejut melihatnya berada di café itu. Sooji melihat bahwa Myungsoo melemparkan senyum tipis padanya namun Sooji merasa belum siap membalasnya.

Agashi, ini pesanan anda. Silahkan menikmati.”

Sooji sangat berterima kasih pada penjaga counter café itu, setidaknya saat ini Sooji dapat menjauhi counter.

Banyak hal lainnya yang harus kau tunjukkan untuk membuktikan bahwa kau sudah dewasa. Termasuk keberanian untuk berdamai dengan masa lalu.

Ucapan Woohyun seakan terngiang di kepalanya. Sooji menghela nafas kemudian membalikan tubuhnya, kembali berjalan mendekati counter.

“Hei Soo, mautemaniakumakaneskrim?” Sooji menggigit bibir bawahnya.

Sooji memperhatikan bagaimana Myungsoo mengerjapkan matanya. Dia terlihat benar-benar terkejut ketika Sooji mengajaknya berbicara dengan ucapan yang tidak dia mengerti –karena Sooji mengucapkannya dengan kecepatan kilat.

Sooji kembali menghela nafas.

“Hei. Soo. Emm. Mau. Emm. Temaniakumakaneskrim?”

Myungsoo masih membatu sedangkan Sooji masih tetap mengigiti bibir bawahnya.

“Soo?”

Myungsoo seakan baru tersadar dari tidurnya, senyum lebar kemudian tersungging di bibirnya.

“Tentu saja Sooj.”

-TBC-

a/n

Annyeong yeorobun! Ada yang masih inget ff ini? Semoga masih ada ya kkk

Jeongmal mianhae baru ngelanjutin cerita ini. Writer block ditambah jadwal yang sedikit tidak bersahabat haha

Anyway, ini lanjutan Mistakes and Regrets. Kalau pada lupa monggo dibaca ulang, linknya ada di atas kan *ting ting

Jangan salahkan aku jika banyak Sunggyu, salahkan Sunggyu yang menjerat hatiku kkk tapi tenang, aku masih Myungzy shipper kok hehe

Mumpung lagi libur aku usahain nulis banyak, doain aja ff ini kelar ya. Pengen banget deh sekali aja namatin buat ff chaptered 😦

Sejujurnya plotnya agak melenceng dari yang aku rencanain dari awal dan kayanya chapter ini lebih ringan daripada yang sebelum-sebelumnya ditambah gaya nulis aku yang kurasa sedikit berubah

Ah iya, aku juga ga balesin comment satu-satu tapi yakinlah semua aku baca dan aku mau berterimakasih banget atas semua saran, dorongan, dan masukannya

Mianhae kalau ada typos atau apapun dan again, I’m waiting for your comments 🙂

74 responses to “Mistakes and Regrets #8

  1. Daebak daebakkkkk….aku lebih setuju suzy sama sunggyu author..ahhh dia udah bisa ngobatin luka suzy dgn buat dua jatuh cinta..tapi masalahnya keknya sunggyu blm suka suzy, baru sadar penampilan suzy berubah aja baru seminggu..ahh pokoknya lbh setuju suzy ma sunggyu ❤❤❤❤

  2. Lanjut thor, dulu aku udh komen wkwk..tapi baca lagi ini, aithor ff nua keren bgt..suka momen suzy sunggyu dibanding myungsoo suzy ga tau kenapa

  3. Pingback: Mistakes And Regrets #11 | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  4. Pingback: Mistakes and Regrets #12 | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  5. Pingback: MIstakes and Regrets #8 | Splashed Colors & Scattered Words·

  6. Seneng deh sooji sdah berbah, dan kalau perubhanny krna sunggyu aku mlh senang. Sunggyu jga bkn nanmja brengsek 😉 aku jadi sering senym2 kalau baca saat sooji lagi sama sunggyu kkk~
    dan syukurlah sooji sdh mau menerima maskan woohyun untk berdamai dg masalalunya

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s