Moon River

myungzzy

Title : Moon River | Author : dina | Genre : Romance | Main Cast : Kim Myungsoo, Bae Sooji

Disclaimer:

Story is Mine, all cast belongs to God and their family

.

.

Myungsoo memandang dengan wajah penuh ketenangan luar biasa. Invitation, sebuah kata yang mungkin menyakiti hatinya terdalam, sebuah hubungan yang berujung pada kegagalan di masa lalunya. Dan kini ia dengan kepala terangkat selayaknya lelaki sejati yang akan menerima dengan lapang berniat untuk memenuhi undangan wanita yang pernah menemani masa mudanya. Cinta pertama, kekasih pertama, kenangan indah pertama. Segala label ‘pertama’ yang ia sematkan pada wanita yang mungkin dalam beberapa hari lagi akan menjadi milik sah pria lain yang berhasil memenangkan pertarungan mereka. Myungsoo tidak kalah sebelum berperang, ia hanya tidak dapat memenangkan secara absolut hati wanita bersurai cokelat cantik yang sangat ia sayangi. Bagaimanapun manusia berhak memilih, dan ia menerima pilihan wanita itu, wanita anggun nan menawan yang memutuskan untuk tidak lagi bergandeng tangan bersamanya meniti lembaran baru hidup mereka yang telah Myungsoo persiapkan sedari awal hubungan manis mereka. Dulu, satu tahun yang lalu sebuah hubungan yang sangat menyakinkan kandas, menyisakan rasa sakit di dalam benak Myungsoo. Namun sebagai lelaki, pantang baginya larut dalam kesedihan. Myungsoo dan kisah cintanya.

~

I reach for her hand, it’s always there

“Apa ini?” Jemari lentik seorang wanita mengambil sebuah kertas tebal berwarna gold di meja kerja Myungsoo.

“Kau bisa membacanya sendiri..”

“Undangan? Pernikahan?”

“Hem…”

“Nama ini, sepertinya tidak asing..”

Myungsoo meletakkan dokumen yang sedari tadi menyita perhatiannya, dan mungkin akan bertahan hingga beberapa jam ke depan jika wanita di hadapannya saat ini tidak menganggunya dengan sekedar pertanyaan yang membuatnya tidak nyaman.

“Kau akan datang?” Tanyanya.

“Entahlah..” jawab Myungsoo sekenanya.

Wanita itu menatap curiga lelaki Kim yang sepertinya masih belum bisa menerima kegagalan cinta serba pertama yang masih membekas di hati.

“Katakan padaku, apakah kau masih merasa berat melepaskannya?”

Myungsoo masih bergeming, ia benar-benar tidak tertarik dengan bahasan perihal undangan pernikahan yang terlontar dengan santainya dari bibir wanita yang tengah menopang dagu menatapnya. Manik mata bulat itu seakan-akan menggoda Myungsoo untuk menanggapi rasa ingin tahu yang berlebihan. Keingintahuannya tentang apa yang ada di dalam benak Myungsoo, apakah sedih, terpukul atau biasa saja.

“Mengapa aku harus berat melepasnya? Dia telah menentukan pilihan.” Myungsoo menjawab dengan diplomatis, tangan kanannya sibuk membubuhkan tanda tangan pada berkas demi berkas yang mulai berkurang di siang hari ini.

“Tapi dulu kau pernah mencintainya, memilikinya, merencanakan kehidupanmu yang akan datang dengannya…”

“Aku tidak tertarik lagi dengan bahasan itu.” Myungsoo memotong dengan cepat kalimat wanita di hadapannya.

Wae? kau trauma?” Lagi sebuah pertanyaan terlontar dengan sendirinya.

“Tidak.”

“Lalu? Kau tidak ingin menjalin sebuah hubungan?”

“Aku hanya sedang tidak ingin menjawab pertanyaanmu! Bisakah kau tidak membahasnya lagi?”

Wanita itu tersenyum mendengar jawaban Myungsoo, jawaban yang sejatinya menggagalkan dirinya untuk memenangkan hati lelaki pilihan ibunya.

“Baiklah, aku mengerti sekarang..”

Myungsoo menarik nafas panjang, ia tidak bermaksud marah hanya enggan menjawab pertanyaan konyol wanita muda yang cukup energik yang selalu diliputi rasa ingin tahu akan dirinya.

“Aku telah menceritakan segalanya tentang diriku, kurasa infromasi ini cukup untuk mengenalmu. Sementara ini..” Wanita itu kembali tersenyum, menampakkan eye smile yang Myungsoo sukai tanpa disadarinya. Tapi tunggu, sejak kapan Myungsoo menyukai senyuman wanita di hadapannya saat ini? Apakah hatinya sembuh begitu saja? Bukankah itu berarti ia pria termasuk kalangan pria hidung belang yang dengan mudahnya berpindah hati? Entahlah, ia sendiri tidak dapat mengenali dengan pasti sejak kapan ia menyukai senyum itu, senyum tulus yang selalu dihadiahkan padanya ketika ia tidak lagi mampu menjawab pertanyaan retoris yang terlontar begitu saja dari bibir wanita itu.

“Kau marah?” tanya Myungsoo.

“Apa aku tampak marah?” Wanita itu dengan surai hitam lurus berdiri mengambil tas jinjingnya. Dress selutut berwarna peach semakin menambah kesan kasual, khas seorang wedding organizer. “Kau tahu? Meskipun aku telah menyaksikan berpuluh pasang pengantin menikah, hanya satu hal yang membuatku penasaran..”

“Apa?”

“Melihatmu di altar!”

Eoh?”

“Hem, aku yakin semua wanita di dalam altar akan bergumam iri dengan calon pengantin wanitamu kelak.”

“Kau merayuku nona?”

“Tidak, aku hanya mengatakan yang sesungguhnya.”

—–

Myungsoo berdiri menatap calon pengantin wanita yang tengah berfoto dengan teman-teman wanitanya.

“Myungsoo-ssi..” Sapa salah satu teman wanita yang mengenalnya, dengan sopan Myungsoo berusaha tersenyum. “Kami pergi!” pamit mereka kemudian.

“Hem..gomawo!”

Cheonmaneyo…annyeong Myungsoo-ssi.”

Myungsoo menganggukkan kepalanya tatkala rombongan teman-teman yang mengenalnya dan calon pengantin melewatinya. Suasana hening tiba-tiba melingkupi keduanya.

“Kau datang oppa?”

“Tidak ada alasan untukku tidak datang..”

Ne…”

Myungsoo melangkahkan kakinya, berdiri tepat di hadapan wanita yang pernah ia cintai sepenuh hatinya.

“Kau tidak ingin memberiku selamat?”

“Hem, chukkae Ji..”

Mianhe oppa..”

“Untuk?”

“Pilihanku..”

—–

“Sooji-ya!”

“Hem?”

“Sampai kapan kau di sini?”

“Sebentar lagi, kalian pulanglah!”

“Kau yakin?”

“Yap!”

Wanita Itu, Sooji menatap langit luas bertabur bintang, setelah seharian menyiapkan sebuah pesta pernikahan di salah satu resort, ia memutuskan untuk melepaskan sepatu heels-nya, menggantungkan kedua kakinya di tepi geladak yang tepat menghadap sungai. Lampu kerlap kerlip menambah keindahan malam miliknya. Pun dengan alunan pelan lagu Moon River milik Andy William yang dimainkan pihak resort bagi tamunya yang ingin menikmati kesyahduan hingga tengah malam menjelang.

Tuk!

Sooji terkejut tatkala sebuah kaleng minuman soda dingin menempel di pipi kirinya. “Kau?” ucapnya dengan kedua mata mengerjap selayaknya rusa.

“Yap!” Myungsoo duduk di sisi kiri Sooji, melepas jas hitam yang menutupi tubuhnya. “Aku melihat teman-temanmu tadi.”

“Iya..” Sooji mengalihkan pandangannya pada hamparan sungai, hanya bercahayakan temaram lampu dan sinar bulan serta suara jangkrik yang terkesan natural, menambah kesyahduan hatinya.

“Kau tidak lelah?” tanya Myungsoo.

“Aku? Tentu saja lelah..”

“Lalu kenapa kau masih di sini?”

“Aku hanya ingin menikmati ketenangan ini..bersama sekaleng soda pemberianmu.” Sooji kembali tersenyum, jemari lentiknya dengan cepat ia membuka kaleng soda. “Cheers?” tawarnya.

Cheers!” Myungsoo mengangkat kaleng sodanya. Ia tertawa geli melihat lagi-lagi tingkah Sooji yang santai, tanpa beban, sekalipun kelelahan tercetak jelas di wajah ayunya.

“Jadi, mengapa kau di sini?” tanya Sooji.

“Menjemput seseorang..” jawab Myungsoo sembari meneguk soda dinginnya.

“Bilang saja kau mengkhawatirkanku!”

Heol~!”

Sooji tersenyum mendengar protesan Myungsoo. Perlahan angin malam berhembus menemani keduanya, Sooji memejamkan kedua matanya, menikmati semilir yang memainkan anak rambut miliknya. Myungsoo menatap Sooji, tatapan yang tidak terbaca oleh siapapun. Bahkan teman-temannya mengakui kemampuan pocker face miliknya.

“Aku mau pulang..” Sooji membuka matanya, sedikit terkejut tatkala ia mendapati Myungsoo tengah menatapnya lekat.

“Kuantar!”

“Hem, aku tahu kau sengaja menjemputku!”

Myungsoo tersenyum kecil, lagi-lagi kelugasan Sooji berhasil mematahkan sikap arogan dirinya yang tidak mau mengakui jika ia tertarik dengan segala polah Sooji yang dianggapnya sedikit kekanakan, berbeda dengan mantan tunangannya yang beberapa jam yang lalu telah resmi menjadi istri orang lain. Wanita kalem yang sering dipuja banyak pria, termasuk temannya yang berhasil merebut perhatian Lee Ji Eun, mantan tunanganya.

Sooji beranjak dari peraduannya, ia berjalan pelan, tangan kirinya menenteng sepatu heels-nya. Tampak Myungsoo berjalan di belakang Sooji, ikut menyusuri geladak sepanjang 10 meter dari tempat resepsi pernikahan diadakan.

“Ji!”

“Hem?” Sooji membalikkan tubuhnya, tampak Myungsoo menatapnya dengan wajah tenang, setenang riak air sungai tempat mereka berada saat ini. Dengan mantap, Myungsoo berjalan mendekat, tangannya memasangkan jas hitamnya di tubuh Sooji.

“Aku tidak ingin dimarahi eomma jika esok kau terkena flu!” Myungsoo menarik surai hitam Sooji keluar dari jas, menata ulang anak rambut Sooji yang bergoyang pelan tertiup angin malam.

Sooji menatap Myungsoo, eye smile kembali menghiasi wajah putihnya. “How romantic!” kekehnya sembari menyentil pelan hidung Myungsoo. Dengan sigap Myungsoo menangkap tangan kanan Sooji yang bebas, menempelkannya di pipinya.

“Aku serius Ji..”

“Tentang?”

“Aku tidak ingin kau terlalu lelah..”

“Apa kau mengkhawatirkanku?”

Myungsoo menganggukkan kepalanya pelan, tatapannya mengunci manik mata Sooji yang perlahan mulai berair, entah karena hembusan angin malam atau ia memang terharu.

“Aku menyukaimu Ji..”

“Sejak kapan?”

“Aku tidak tahu, yang kusadari kau membuatku cukup lelah akhir-akhir ini..”

Waeyo?”

“Kau selalu hadir di pikiranku, tanpa kupinta. Bukankah itu ciri-ciri menyukai seseorang?”

So cheesy..”

Arra!”

Myungsoo menurunkan tangan Sooji, menautkan jemarinya dengan jemari Sooji, berganti berjalan bersisian menyusuri geladak.

Gomawo!” Sooji memajukan wajahnya, mencium singkat pipi Myungsoo. Sooji terkejut tatkala Myungsoo menghentikan langkahnya, wajahnya tampak berpikir. “Kenapa?” tanyanya.

Myungsoo mengerjapkan kedua matanya perlahan, lesung pipi tercetak di wajah tampannya. Perlahan ia memutar tubuhnya menghadap Sooji, berbisik tepat di depan wajah wanita pencuri hatinya. Sebuah pengakuan cinta terlontar diakhiri dengan kecupan ringan di bibir Sooji.

Eoh..” Sooji hanya mampu membulatkan bibir merahnya, menyadari jika ia baru saja menyandang status baru. Kekasih Myungsoo tepatnya.

“Kenapa kau diam? Kau tidak ingin menerimanya?”

Jantung Sooji berdetak lebih kencang dari biasanya, pikirannya tiba-tiba kosong, perutnya serasa berisi ribuan bulu yang menggelitik. Myungsoo yang cukup peka dengan reaksi terkejut Sooji kembali memutuskan untuk melanjutkan ciumannya. Tangan kanannya bertenger di pipi Sooji, bibirnya ia gerakkan perlahan, menuntun Sooji untuk menikmati sentuhan kasih yang tiba-tiba memenuhi pikirannya saat ini.

Myungsoo menarik pelan bibirnya, beralih mengecup pelan hidung Sooji. Ia tersenyum melihat Sooji masih terpejam dengan bibir merahnya yang sedikit terbuka, perlahan mengatup kembali. Sebuah reaksi alami yang tiba-tiba menjadi favorit Myungsoo.

“Heh..” Sooji membuang nafas panjangnya.

“Sudah?” suara berat Myungsoo kembali menyadarkan Sooji, ia membuka cepat kedua matanya yang terpejam.

“Hem..” Sooji menganggukkan kepalanya.

Jhoa!” Myungsoo mengelus kedua pipi putih yang berhias semburat rona merah di sana.

**

Maafkan saya yang sepertinya lama ga posting di wp ini, komen juseyo, ghamsahamnida!!

60 responses to “Moon River

  1. ketika satu pintu tertutup, maka pintu yg lain akan terbuka..
    tinggal bagaimana kita mengikhlaskannya🙂
    sempet kaget diawal karna terkecoh sama nama, but as always, berakhir dengan apiknya khas kak dina.
    aahhh suka banget, posternya juga bagus.. jhoa

  2. kyyaaaaa..romantissssnyyyaaaaa..!!
    myungie kasian juga d tinggal nikah..uhuhu..tp seneng kan udh ada gantinya..

  3. Kyaaaaa so cheesy, akhirnya myung mulai menyadari kalau dia menyukai sooji dgn segala tingkah kekanakan dan terbukanya😀
    Nice story thorrr

  4. Wiiih so cheesy myung.. bukannya ngamuk krn patah hati eee malah lgs dpt ganti yg lbh cantik…ck ck.. kamu hebat Myung

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s