[The London’s Journal] Lost and Found

THE LONDON’S JOURNAL

tlj-losta

miss A Bae Suzy and slight!mention BTOB Yook Sungjae | AU!Childhood, Angst, Family, Hurt/Comfort, Life, slight!Sport, and no romance at all!(I warn you!) | teen  and up | vignette (2,641 words) | disclaimer beside the poster and story-line i own nothing!!

July, 2015©

.

…kehilangan, yang sekali lagi, lebih menyakitkan ketimbang kematian itu sendiri.

.

part of THIS

.

“Nona Suzy, kukira sekarang liga telah memasuki fase rehatnya jadi mengapa kau masih di sini?”

Oliver Giroud, pria jangkung itu menyela Suzy yang kala itu tengah mengecek daftar progres kebugaran para pemain di salah satu bilik unit kesehatan. Gadis itu pun hanya tersenyum singkat sebelum kembali menilik daftar tersebut satu persatu secara cermat.

“Kau sendiri, Tuan Oliver? Mengapa pula kau masih berada di sini? Kukira jarak London dan Paris masih bisa ditempuh dengan kereta ekspres, ‘kan.”

Giroud balas menunjuk lututnya yang dibebat semacam kain elastis lalu menghempaskan diri di atas ranjang berwarna pekat tersebut.

“Lututku masih terasa kaku karena efek pertandingan pekan lalu. Ternyata meraih kemenangan itu tak semudah mengedipkan kelopak mata. Kau tahu, Sue? Meski itu hanya Piala FA namun rasanya seperti memenangkan titel juara liga.”

Trophy is just a trophy, Oliver.”

Yeah, meski trofi hanyalah sebua trofi, nyatanya untuk memenangkannya sungguh sulit.

Gelar Piala FA sebagai kompetisi sepakbola tertua di dunia memang tidak sementereng gelar juara liga. Meski  berada di kasta nomor tiga setelah BPL dan Champion League trofi, untuk memboyongnya tentu saja dibutuhkan efforts yang besar. Bagi tim raksasa Inggris sekaliber Arsenal pun, mempertahankan trofi tersebut secara dua tahun berturut-turut merupakan suatu pencapaian yang bisa dibilang fantastis.

Kepada daftar yang sudah diperiksa dengan teliti olehnya, Suzy pun beralih mengangsurkan fokus kepada lutut sebelah kiri Giroud yang nampak memar. Selanjutnya, ia pun mengambil boks perkakas kesehatan dan mulai membubuhi salep oles beserta pijatan khusus pada bagian yang terasa nyeri.

“Harusnya yang mengerjakan ini masseur bukan aku, omong-omong.”

“Kebetulan hanya kau yang ada di sini. Lagipula, Roberto sedang rehat di kampungnya bersama sanak saudaranya.” tukas Giroud tak acuh, menyebutkan salah satu ahli pijat berkebangsaan Spanyol di Arsenal.

“Ya, terserah kau.” ucap Suzy tak acuh.

Selang beberapa menit, gadis itu pun selesai dengan tugasnya. Setelah itu, ia pun segera pamit dan bergegas untuk kembali ke dorm, tempat tinggalnya, karena semua tugas di camp pelatihan telah rampung.

“Terimakasih banyak, Sue.”

“Tidak usah disebutkan.”

.

Suzy pun melenggang pergi dari gedung minimalis tersebut dalam langkah yang statis. Tidak terlalu cepat maupun lambat. Seketika, ucapan si pemuda Prancis beberapa waktu yang lalu terngiang di dalam benaknya kala dirinya sudah menapaki lusinan anak tangga, menuju stasiun bawah tanah, untuk kembali ke dorm yang terletak di kawasan Victoria Street.

Pulang ke rumah itu menyenangkan, sungguh. Beruntunglah bagi kalian yang masih memilik ‘rumah’. Kenapa beruntung? Contohnya, aku–aku jarang pulang ke Paris karena aku tidak punya ‘rumah’. Kedua orangtuaku telah tiada dan aku tak punya saudara.

Seperti udara musim panas yang dihela oleh gadis itu ketika dirinya sudah berada di dalam tube, ia pun membiarkan perkataan Giroud berubah menjadi angin lalu yang tak terlalu berarti. Suzy sudah terlanjur jauh dan lama meninggalkan rumah. Bahkan, dia pun sampai pada tahap di mana menganggap dirinya sendiri sebagai seorang yang homeless.

***

***

 “Entahlah, hanya saja, apakah mungkin bagi rumah yang sampai tega mengusirku itu bisa memintaku untuk kembali? Mungkinkah itu terjadi?”

***

***

Buncah kegembiraan yang menguap di udara menjadi pertanda betapa bahagianya Suzy kecil yang kala itu tengah memacu sepeda roda duanya di taman yang tak berukuran terlalu luas, dekat pemukiman rumahnya di Gwangju. Binar-binar kecerian memasung segala nestapa yang sempat singgah dalam hati gadis itu kala dirinya gagal mengendarai sepeda yang dihadiahkan oleh abeoji tersebut.

“Hati-hati mengayuhnya, Suzy-a! Jangan, kencang-kencang.”

Eomma!!”

Eomma menyemangati putri kecilnya itu sembari mengikuti laju sepeda berornamen sailor moon itu di belakang. Berjaga-jaga untuk menahan Suzy ketika keseimbangan gadis kecil itu limbung gara-gara dirinya yang masih belum cakap mengendarai sepeda mini tersebut.

Gelak tawa yang mengiris kesunyian di antara mereka berdua pun tercipta. Suzy kecil bahagia bukan main ketika dirinya berhasil mencapai garis finish dengan sepedanya. Eomma, yang sedari tadi mengawasi putri kecilnya itu, segera menghadiahkan sebuah dekapan beserta kecupan di atas pipi gembil putrinya itu.

“Menyenangkan bukan bermain sepeda seperti ini?”

“Sangat menyenangkan! Terimakasih, Eomma, karena sudah mau menemaniku bermain sepeda!”

Peluh yang membasahi lekuk leher wanita itu pun tak dihiraukan. Dahaga yang memasung kerongkongannya pun demikian. Semuanya tidak berarti apa-apa dibandingkan secercah gerak ekspresif yang terpeta dengan manis di atas wajah putri kesayangannya itu.

“Nah, ayo kita kembali ke rumah, Suzy-a. Let’s go!!

***

***

Bandana polkadot berwarna biru muda itu menjadi hadiah terindah dan termanis yang pernah Suzy terima dari eomma-nya.

Gadis kecil tersebut sebelumnya merasa kelimpungan karena kehilangan salah satu aksesori berharganya, sebuah bandana. Bandana berwarna merah marun tersebut sebelumnya patah karena terinjak oleh Sungjae yang baru belajar berjalan. Akibatnya, ia pun menjadi murung setiap memerhatikan refleksi dirinya tanpa eksistensi si nona bandana pada cermin persegi yang tergantung di kamar sempitnya.

“Suzy-a, lihat apa yang Eomma punya untukmu?”

“Aku tidak – “

Sebuah bandana polkadoit berwarna biru terang tahu-tahu menghiasi mahkota kepala Suzy.

“ – EOMMA!!! Ini lucu sekali! Terimakasih!”

Eomma tersenyum senang sembari mengelus puncak kepala Suzy.

“Putri Eomma yang paling cantik sekarang semakin cantik. Jadi jangan cemberut terus, “ eomma mengelus pipi Suzy, membuat gestur menaikkan labium gadis manis itu. “nanti cantiknya hilang, lho.”

Mood Suzy kecil yang sebelumnya menguap dan hilang entah ke mana, kini telah muncul dengan jumlah yang signifikan. Dan itu semua berkat hadiah manis dari eomma.

“Aku ‘kan cantik sejak lahir jadi itu tidak mungkin, Eomma.”

“Eyyy, Putri Eomma…

***

***

Gadis kecil berusia satu dekade itu duduk termenung sembari memeluk erat adik lelakinya. Tampang ketakutan beserta peluh yang terus bercucuran menjadi aksesori yang terpeta di wajah keduanya. 

“Aku takut, Nuna. Bagaimana ini, hiks?”

“Sst, “ Suzy menempelkan jemari telunjuknya di atas bibir, berusaha menenangkan isak tangis sang adik. “kamu tidak boleh cengeng, eomma pasti datang sebentar lagi. Kita hanya harus menunggunya, oke?”

“Tapi, Nuna, aku ‘kan – “

“Sungjae-ya, ingat kata eomma, lelaki itu tidak boleh menangis. Jadi, “ jemari mungilnya sontak terangkat untuk menyesap bulir airmata pada wajah Sungjae, lantas mengusapnya pelan. “berhentilah menangis dan kita tunggu eomma sampai datang.”

“Tapi eomma tidak akan kembali ke sini, Nuna!!

Kepala gadis itu pun tertoleh ke samping kanannya. Mata Suzy menatap adiknya dengan sorot tidak percaya. Apa yang barusan dibilang oleh Sungjae? Eomma tidak akan kembali. Tetapi tadi eomma masih bersama mereka berdua, berjalan-jalan di sekitar taman kota Gwangju. Lalu karena ada urusan sebentar, eomma pun menyuruh kedua buah hatinya itu agar menunggunya di dekat pohon ceri yang belum berbuah.

“Apa maksudmu, Sungjae-ya? Mengapa kau berkata seperti itu, eo?”

Eomma sudah pergi, Nuna.”

“Aku tahu, kok, ‘kan tadi eomma bilang begitu.”

“Bukan seperti itu! Tetapi eomma – “

Suzy tahu, eomma memang pergi tapi hanya sebentar ‘kan? Dan ia pun tadi sudah berjanji akan kembali.

“Sungjae! Eomma memang pergi karena ada urusan makanya dia menyuruh kita untuk – “

“Justru eomma pergi karena urusannya telah selesai, Nuna!” potong Sungjae.

Bagai tersambar petir di siang bolong, gadis manis yang baru menginjak tingkat lima sekolah dasar itu terkejut bukan main. Perkatan Sungjae sungguh ambigu.

“Hei, jangan berkata seperti itu, Sungjae-ya! Tahu apa kau soal seperti itu, sih!” geram Suzy.

Nuna, kau harus tahu kalau eomma telah – “

***

***

“Bae Suzy.”

Rasanya seperti berada di awang mimpi. Suzy merasakan sapuan hangat dan lembut pada wajahnya.

Saat ia membuka matanya, ia pun melihat eomma sedang duduk di tepi ranjangnya. Wajah yang tak pernah disambanginya selama bertahun-tahun itu pun terlihat pucat. Awaknya pun jelas sekali nampak lebih kurus. Namun binar di kedua netranya tetap memancarkan kehangatan dan kerinduan yang tak terbendung.

Eomma? Kaukah, itu?”

Suzy yang masih setengah sadar lantas segera tersentak ke belakang kala anggukan samar sang eomma tercipta. Dengan segenap raga, ia pun mencoba mengumpulkan kesadarannya. Memandang dengan tak percaya sekaligus pilu kepada sang eomma.

“Mengapa, Eomma ada di sini? Kapan Eomma tiba di London? Dari mana Eomma bisa tahu aku tinggal di sini?”

Cerocosan gadis itu pun menjadi salam pembuka kepada sosok yang paling dihindarinya selama enam tahun belakangan ini. Perlahan namun pasti, rasa kecewa yang dahulu membara kini muncul kembali. Menjauh dengan pasti, dirinya dari sisi eomma yang begitu dekat dengannya. Sebelum gadis itu berucap sepatah kata lagi, eomma pun menginterupsi.

“Suzy-a, kau tidak rindu dengan Eomma, eo? Padahal, Eomma sangat rindu pada putri Eomma yang satu ini.”

Lidah gadis itu tiba-tiba seperti bertulang. Terlalu kaku untuk digerakkan. Diam pun menjadi respon gadis itu sebelum eomma melanjutkan kembali.

Eomma tahu kau masih marah. Tetapi asal kau tahu, Suzy-a, aku melakukan semua itu demi kebahagianmu, ya meski nyatanya caraku salah dan tak sesuai dengan harapanmu. Namun satu yang perlu kautahu, Eomma di sini tidak pernah menghapus presensimu.” ia pun meletakkan satu telapak tangannya di atas dada.

Aku tidak berhenti menyayangimu meski kau sendiri berlaku seperti itu kepadaku. Aku sangat menyesal karena tega mengusirmu saat itu. Tidak seharusnya aku berbuat seperti itu kepadamu. Kau tidak salah sama sekali karena memang seorang putri sepertimu tidak patut untuk disalahkan. Eomma-lah yang bersalah, aku terlalu bodoh, egois, dan jahat. Benar, ‘kan?”

Mendengar penuturan eomma, Suzy mendadak kelu.

Ke mana perginya agoni yang telah memendam di dalam pekarangan hatinya selama ini? Mengapa dirinya tak bereaksi setelah mendengar penuturan eomma? Ketulusan, penyesalan, sayang, cinta, kasih, dan rindu yang menghukum hati eomma, seolah terpancar dengan gamblang di kedua matanya dan menampar keras Suzy dengan telak.

Bagaimana pun juga, Suzy juga tidak patut untuk berbuat seperti itu kepada eomma, ‘kan?

Kepada seseorang yang telah berjuang di antara hidup dan matinya. Kepada seorang ibu yang rela mengorbankan apa saja untuk kebahagiaan putrinya. Kepada seorang ibu yang rasa kasih dan sayangnya sepanjang masa. Kepada eomma, apakah Suzy pantas berlaku seperti itu?

Eomma, a-aku – “

Belaian sayang itu pun menghampiri pundak Suzy yang mulai bergetar. Kepalanya pun tertunduk dalam.

.

“ – tidak tahu harus berbuat apa lagi.”

.

Jemari mungil Suzy pun diremas lembut oleh eomma, seakan menyalurkan kekuatan kepada sang anak.

“Aku tidak marah kepada Eomma tetapi aku hanya kecewa. Ya, aku kecewa lantaran Eomma yang tidak meminta pendapat kami terlebih dahulu. Aku kecewa karena Eomma memilih untuk tidak peduli kepada kami, baik Sungjae maupun aku.

Jujur, apakah Eomma tahu? Sungjae memiliki bakat dalam menggambar sedari kecil. Di kamarnya tersimpan ratusan sketsa yang dibuat olehnya sendiri. Eomma pikir, hadiah yang sering Eomma terima berupa sketsa Eomma yang sedang tersenyum itu dari mana? Sungjae sendiri yang membuatnya.”

Tetapi saat aku mengetahui bahwa Sungjae terdaftar sebagai mahasiswa manajemen, hatiku turut remuk. Eomma belum berubah. Kecewa itu datang kembali karena nyatanya Eomma masih belum menyadari apa arti kebahagiaan sesungguhnya bagi kami. Sungjae membuang impiannya untuk menjadi animator demi Eomma. Jujur, aku tidak bisa menerima itu. Akal sehatku tidak dapat menerimanya.”

Mati-matian, gadis itu menahan airmata supaya tetap berada di daalam pelupuknya. Tidak, ia tidak ingin menangis, untuk sekarang.

Eomma tahu. Eomma minta maaf, untukmu dan juga Sungjae. Meskipun sepertinya maaf itu sudah terlambat, ya, bagimu.”

Hening merayapi keduanya sejemang. Suzy memilih untuk kembali bungkam. Selimut tebal yang menjadi kawan ranjangnya pun diremas dengan kuat, guna menyalurkan perasaan yang tak terbaca oleh satupun makhluk di sana kecuali Dia. Kenyataannya, eomma sudah mengakui kesalahannya lalu apa lagi?

“Lalu apakah sehabis ini Eomma akan memintaku untuk kembali? Setelah pengusiran yang kuterima, apakah itu masih pantas untuk kudapatkan?”

Manik yang terlihat rapuh itu berkaca-kaca, pun dengan raut wajah eomma yang mencoba meluluhkan agoni beku dalam hati sang putri. Ia tahu, luka yang ditorehkannya itu terlalu dalam dan sukar untuk dipulihkan. Luka itu sudah terlanjur membusuk.

“Aku tidak akan memintamu kalau kau sendiri tak ingin kembali.”

Blus berwarna putih bersih yang dikenakan oleh eomma diremas kuat, pun dengan buku-buku jemarinya yang memutih dan semakin pucat. Secercah senyum tertuang di atas bibir. Dia pun berdiri dari ranjang dan menghadap kea rah Suzy yang masih membuang pandangan darinya.

“Suzy-a, “

“Hm, “

“Apakah kau sebegitu bencinya, kah, dengan Eomma? Apa hubungan kita benar-benar tidak bisa kembali seperti semula?”

“Aku tidak tahu.”

“Bahkan ketika Eomma sudah meninggalkan dunia ini, akankah kau tetap memendam rasa kecewa itu kepada Eomma?”

Deg!

Kepalanya pun diangkat untuk memandang figur eomma di hadapannya. Badannya tiba-tiba terasa kaku, pun dengan serebrumnya yang tiba-tiba memaksanya untuk berpikir keras. Meninggalkan dunia?

Tiba-tiba, ia teringat dengan mimpinya. Sungjae berkata bahwa eomma telah pergi dan tidak akan kembali. Kalut, dirasakan oleh gadis itu sejenak. Lantas, ia pun memerhatikan lebih dalam sosok ibu yang masih mematut di depannya.

Awak yang terlihat kurus, kulit yang pucat, pun dengan senyum lemah yang terorganisasi di atas wajah eomma. Mengapa semua itu terasa sangat menyakitkan? Menatapnya membuat Suzy merasakan sesak yang meraung-raung. Diafragma-nya seperti mau pecah.

“Apa aku salah? Memilih jalanku sendiri untuk mewujudkan kebahagiaanku sendiri? Eomma, kumohon jawab aku!? Apa aku egois?”

Gelengan terpatri. Eomma perlahan mengikis jarak di antara mereka, gentian mengusap kuncup kepala anak gadisnya itu.

“Kau tidak salah sama sekali. Kau sudah melakukan hal yang benar, Suzy-a.”

Diangkat pula kepala gadis itu, menatap langsung ke dalam obsidian milik eomma yang semakin meredup itu. Senyuman itu pun masih betah untuk bertahan, seolah mencoba tuk menghibur hati yang lara, yang tengah dirasakan oleh anak gadisnya tersebut.

“Nah, Eomma harus pergi sekarang.”

“Ke mana?”

Diam. Tidak ada jawaban. Tangan yang kurus itu pun turun untuk membelai wajah sang putri. Kemudian, eomma pun mengecup puncak kepala Suzy dengan lembut. Lelehan kristal pun membasahi wajah oval miliknya.

Obsidian milik sang anak perlahan melebar, pun dengan tatapannya yang menjerang. Kesendirian, kesepian, dan yang paling tidak diinginkan kehilangan. Ketiga rasa itu perlahan merayapi kalbu.

Ke mana eomma akan pergi? Apa benar eomma akan meninggalkannya? Tetapi ke mana?

“Ikuti hatimu selalu. Itulah hal terbaik yang telah kaulakukan selama ini, Suzy-a.”

Eomma berjalan menuju jendela yang tiba-tiba terbuka karena terjangan bayu yang cukup kencang. Gorden krem yang menaunginya pun berterbangan secara acak. Eomma berhenti tepat di depan kusen jendela, menghadap Suzy.

“Jaga baik-baik dirimu, Sungjae juga abeoji. Bilang pada keduanya supaya tidak begadang melulu.”

Bangkit dari ranjang dan mendekati eomma, Suzy pun menghentikan langkah dan memandang wanita itu tidak mengerti sekaligus heran. Intuisi terburuk dalam hatinya pun berbisik sesuatu yang membuat darahnya mendidih. Tidak mungkin!! sangkal Suzy dalam hati.

Eomma selalu mencintaimu, Suzy-a. Eomma pergi.”

Seketika, jendela yang terletak di lantai tiga itu pun dilongkapi oleh eomma. Sontak membuat Suzy segera berteriak sekencang-kencangnya dan berusaha meraih pergelangan tangan eomma.

Eomma!!!!! Emmaaaa!!

Namun terlambat. Saat ia melongokkan kepala melalui bira jendelanya, ia tidak menemukan apa-apa di bawah sana.

Airmata yang sedari tadi berdesakkan dalam diam pun meluncur dengan derasnya. Pun dengan mulutnya yang tiada henti menyebut nama eomma berkali-kali. Raungan dan isakan itu semakin santer terdengar.

Pun demikian dengan sebuah penyesalan yang nyatanya sudah mendekam sekian lama di dalam hatinya.

“Maafkan aku yang telah bersikap bodoh ini, Eomma!!!

.

.

.

***

***

Eomma!!

Suzy terbangun dengan kaos yang basah kuyup karena keringat yang membanjiri tubuhnya. Gadis itu barusan bermimpi buruk. Dan, untungnya hanya mimpi.

Sekelebat bayangan eomma yang melompat dari jendela sontak terbayang dengan jelas kala dirinya mengamati jendela kamarnya yang nampak tertutup rapat.

Deru napas gadis itu pun menjadi tak beraturan. Suzy memeriksa degup jantungya yang menggila. Rasanya seperti habis dilempar dari ujung tebing tertinggi hingga menyentuh dasar. Sungguh, perasaan ini tidak nyaman sekali.

Refleks, dia pun memeriksa ponselnya yang terselip di balik bantal. Layar ponselnya pun berpendar.

Setelah diperiksa kembali, dirinya mendapati 72 panggilan tak terjawab beserta 50 pesan tak terbaca. Ia pun baru menyadari bahwa keadaan silent ponselnya inilah yang menyebabkan daftar panggilan tak terjawab jadi sebanyak itu.

Tunggu, siapa pula yang menelponnya sampai sebanyak itu?

Suzy pun segera mengecek siapa penelpon, yang ternyata adalah Sungjae dan Soojung. Paling banyak Sungjae, tentu. Aneh, mengapa pula dua orang ini meneleponnya sampai segila itu. Ia pun segera menggeserkan jemari di atas ponselnya.

Namun belum sempat ia membuka menu pesan, Suzy mendapatkan panggilan dari Sungjae.

Yya! Sungjae, mengapa kau memborbardir ponselku dengan –“

“ . . . .”

Ponselnya terjatuh, bersamaan dengan kunang-kunang yang menutupi pandangannya.

.

.

.

Setetes airmata nyatanya tidak cukup untuk menutupi kesedihan yang tiba-tiba menyeruak. Bagai bola salju yang menggelinding, perasaan itu semakin membesar. Penyesalan yang datangnya terlambat itu terlampau besar karena kebodohan yang diperbuat olehnya. Dan pemicu dari segala sembilu itu berasal dari….

…kehilangan, yang sekali lagi, lebih menyakitkan ketimbang kematian itu sendiri.

.

.

.

***

***

Ha-halo, Nuna… ” isak tangis tertahan terdengar. helaan napas itu terdengar sungguh berat. membuat si komunikator di seberang menahan napas dengan segera. “Eomma telah pergi, meninggalkan kita semua.[]

 


  • wuaahh, ini chapter paling emosional yang pernah saya buat T_T yesss
  • well, kemuningkinan besar, TLJ akan segera tamat entah itu dengan dua series lagi ataupun langsung dibabat sama satu series.
  • anyway terimakasih banyak atas atensi dan dukungan temen-temen untuk The London’s Journal selama ini ^^❤😀

2 responses to “[The London’s Journal] Lost and Found

  1. sumpah demi apa kak, ff nya bikin airmataku meleleh. feel nya dapet bgt. ya Tuhan.. kakak jago bgt bikin ff penuh emosi kek gini. daebakk!!
    ditunggu next series kak, fighting!!!!!!!!!^^

    • halo Man Ri Ra🙂 sebelumnya, terimakasih sudah sempetin baca ff ini 🙂
      dan, untuk pujian-mu, duh kayanya terlalu berlebihan🙂 saya masih belum jago banget tapi kalau feel-nya bisa kamu rasain itu alhamdulillah bgt🙂
      terimakasih ya🙂

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s