[Freelance] We Are Not King and Queen Chapter 2

Title : We Are Not King and Queen | Author : kawaiine | Genre : Historical, Marriage-Life, Romance | Rating : PG-17 Main Cast : Bae Soo Ji as Queen Soo Ji,Kim Myungsoo as Kim Myung Soo | Other Cast : Kim Do Yeon as Hee Bin (Selir Tk.1), Lee Min Ho

“This plot and story is pure from my mind. Sorry for typos, don’t be a siders and plagiator. Happy reading :*”

***

Author POV
Myungsoo menggenggam erat jemari tangan Soo Ji, istrinya tengah memakai cincin giok yang ia berikan tadi malam. Semua pelayan memberikan hormat pada Raja Myungsoo dan Ratu Soo Ji. Terkecuali seseorang disana yang menatap aneh pada mereka. Jo Sanggung, dayang yang melayani Soo Ji menyadari hal itu. Setelah Soo Ji dan Myungsoo tiba di balai pertemuan kerajaan, kali ini Myungsoo pertama kalinya memimpin pertemuan dengan gelar raja.

“Soo Ji-ah, aku akan memimpin pertemuan ini terlebih dahulu. Kau kembalilah ke kamarmu, siang nanti aku akan makan siang bersamamu.” Myungsoo kini tengah memandang raut wajah bahagia dari istrinya.

“Ne, cheona . Aku akan kembali sebelum jam makan siang.” ujar Soo Ji, membuat Myungsoo heran.

“Kau mau kemana?”

“Aku ingin menjenguk Shiyoung dan Da Ra,mereka mungkin merindukanku.”

“Ah, anak-anak manis itu. Bawalah mereka kesini dan makan siang bersama kita.” ujar Myungsoo, jawaban yang mampu membuat Soo Ji berbinar, bahagia.

“Benarkah? Terimakasih Cheona.” Myungsoo tersenyum, ia masuk kedalam balai pertemuan. Soo Ji memandang punggung suaminya, lalu ia segera berjalan kembali. Namun, Jo Sanggung menghentikan langkahnya.

Jungjeon Mama, bolehkah aku izin sebentar? Ku dengar Anda ingin mengajak seseorang ke dalam istana untuk makan siang bersama Anda dan Yang Mulia Raja, aku ingin memesan kudapan lezat untuk makan siang Anda.” Soo Ji menatap Jo Sanggung, lalu mengangguk, diikuti dengan senyuman indah di wajahnya. Jo Sanggung lalu pergi, Soo Ji melanjutkan langkahnya ke ruang jahit. Dayang bagian penjahit menunduk memberikan hormat pada Soo Ji, Soo Ji hanya menunduk sekilas lalu masuk kedalam ruang jahit.

Jungjeon Mama, adakah kiranya yang bisa ku bantu untuk Anda? Apakah Anda ingin di buatkan pakaian?” tanya kepala dayang bagian jahit. Soo Ji hanya mengeleng pelan.

“Aku ingin 2 buah baju untuk namja berumur 10 tahun, dan 2 baju untuk yeoja berumur 5 tahun. Tolong buatkan aku itu saja.” Kepala dayang bagian jahit Song pergi dari hadapan Soo Ji. Soo Ji keluar dari ruang jahit, lalu ia sedikit menghela nafasnya dan melangkahkan kakinya menuju kamarnya.

—-0000—-
Di arah lain, Jo Sanggung tengah menghampiri dayang bagian dapur. Ia mencari-cari mata yang memandang aneh pada Raja dan Ratunya. Jo Sanggung akhirnya menemukan apa yang ia cari, ia menyunggingkan senyumnya dengan sinis, lalu menarik dayang tersebut.

Mama-nim, apa—Apa yang Anda lakukan?” ujar dayang tersebut, Jo Sanggung hanya mendorongnya ke dinding.

“Seharusnya aku yang bertanya padamu, apa maksud tatapanmu terhadap Yang Mulia Raja dan Ratu tadi? Kau kira aku tak melihatnya? Kau hanya seorang Nain rendahan, kau jangan berharap akan menjadi pelayan yang melayani raja. Jaga pandanganmu sebelum sebuah tusuk Cheopji menusuk matamu.” Jo Sanggung berlalu di hadapan dayang yang sedang menunduk itu, setelah Jo Sanggung menghilang dayang itu hanya menyeringai, menampilkan senyum jahatnya.

Soo Ji kini tengah berganti pakaian, ia tak mau memakai Dangui kerajaan untuk berjalan-jalan keluar. Soo Ji hanya memakai Jeogori dan Chima berwarna ungu muda dan ungu tua. Perbedaan hanya terdapat di gaya rambut yang ia kenakan, gaya rambut Daenggi Meori kini berubah menjadi gaya rambut Jjeokjin Meori, dengan tusuk Binyeo emas bermotif bunga. Dwikkoji kupu-kupu berwarna hijau menghiasi sanggul rambutnya. Soo Ji pun berdiri dari duduknya.

Jungjeon Mama, mengapa Anda tidak mengenakan pakaian istana saja agar Anda di kenal sebagai ratu di luar sana. Bukankah mereka juga akan lebih hormat pada Anda dan tidak ada yang berani bermacam-macam pada Anda?” ujar Jo Sanggung. Soo Ji hanya tersenyum tipis.

“Aku tidak mau memakai itu, ketika berada di luar aku juga seorang rakyat seperti mereka. Aku tak peduli statusku sebagai seorang ratu. Aku hanya ingin dekat dengan rakyatku. Jo Sanggung, pastikan kau tidak memanggil para pengawal dan Gama . Aku ingin berjalan kaki.” perkataan Soo Ji mampu membuat Jo Sanggung dan dayang lainnya tercengang. Sejak kapan ada ratu tak mau menaiki gama dan memakai pakaian kerajaan untuk pergi keluar.

“Jo Sanggung, kau temani aku berjalan ke rumah Heo Ahjumma. Kita berjalan berdua saja. Kalian berjaga di istana.” ujar Soo Ji pada dayang-dayang lain.

“Ne, Jungjeon Mama.” Soo Ji tersenyum puas. Ia segera keluar dari kamarnya. Langkahnya terhenti begitu melihat kedua menteri di hadapannya yang sedang memberi hormat.

Jungjeon Mama, bukankah seharusnya sehari setelah pernikahan diadakan perayaan atas pernikahan Anda dan Yang Mulia Raja?” ujar Menteri Peperangan, Menteri Yoon.

“Aku sedang tak mau di arak seperti itu. Berjalan keluar lalu memaksa rakyatku untuk memberi hormat padaku.”

Jungjeon Mama,  bukankah itu salah satu tradisi kerajaan? Anda harus menghormatinya.” timpa Menteri Choi.

“Aku bukan tidak menghormatinya, tapi aku tidak mau melihat rakyatku seperti itu, bersujud memberi hormat padaku, orang yang tak memberi hormat di hukum atau di pukul dengan tongkat. Aku adalah ratu, aku tak mungkin membiarkan rakyatku di perlakukan dengan cara kasar. Lalu, apakah perjalanan kalian ini tidak melanggar tradisi kerajaan? Sejak kapan ada Menteri berjalan-jalan pada saat pertemuan di mulai.” ujar Soo Ji, kedua Menteri itu kini tercengang, saling menatap lalu menunduk malu.

“Jangan kalian menghalangi langkah Ratu untuk pergi, Ratu sedang ada urusan yang penting. Jangan kalian bertanya mengapa tak memakai Gama atau pakaian kerajaan. Ratu sedang ingin berbaur dengan rakyatnya, agar tidak mengenal kesenjangan Sosial antara Ratu dengan rakyatnya.” ujar Jo Sanggung, Soo Ji hanya tersenyum.

“Ayo, Jo Sanggung.. Mereka pasti merindukanku. Aku tak mau berlama-lama dengan perbincangan kosong ini.” Soo Ji kini mendelik ke arah kedua Menteri itu dan berlalu pergi. Menteri Yoon dan Menteri Choi menunduk memberi hormat.

Jungjeon Mama, perkataan tadi itu sangat menusuk ke dalam hati mereka.” ujar Jo Sanggung. Soo Ji tertawa di ikuti tawa Jo Sanggung.  Soo Ji tahu bahwa pada saat masa pemerintahan ayah mertuanya, fraksi selatan dan fraksi barat sedang berselisih. Fraksi selatan terlalu banyak menentang, seperti Menteri Yoon dan Menteri Choi.

Soo Ji dan Jo Sanggung sampai di kediaman Heo Ahjumma, Shiyoung dan Da Ra sedang bermain di halaman. Shiyoung berteriak akan kedatangan Soo Ji, Heo Ahjumma memberi hormat pada Soo Ji.
Jungjeon Mama.” ujar Heo Ahjumma, Soo Ji menundukkan kepalanya , ia meraih Da Ra kedalam dekapannya, Shiyoung hanya terdiam tak bergeming ketika Soo Ji datang. Soo Ji menggendong Da Ra dan menghampiri Shiyoung.

“Shiyoung-ah, kau kenapa?” Soo Ji mengusap rambut Shiyoung. Shiyoung masih diam.

“Eonni telah menikah dengan Ahjussi itu. Orabeoni bersedih, ia akan berjanji menikahi Noonan anti ketika ia sudah dewasa.” jawab Da Ra, Soo Ji hanya terkekeh pelan.

“Ahjussi mengajak kalian ke istana untuk makan siang bersama. Apakah Da Ra mau ikut?” tanya Soo Ji.
Da Ra hanya mengangguk dengan semangat. Sementara Shiyoung masih dengan diamnya.

“Apakah aku boleh bermain apapun di istana? Lalu makan makanan yang banyak?” tanya Da Ra, Shiyoung mulai menoleh pada Soo Ji dan Da Ra.

“Tentu saja, anak yang baik akan mendapat segalanya. Asalkan Da Ra tidak pernah marah kepada orang lain karena sesuatu hal yang kecil.” Shiyoung menunduk.

“Ayo, kita ke istana.” ujar Soo Ji menurunkan Da Ra di pangkuannya. Lalu mereka berjalan menuju pintu keluar, tiba-tiba langkah mereka terhenti. Soo Ji tersenyum puas.

“Aku ikut!” ujar Shiyoung. Shiyoung pun berlari menghampiri Soo Ji, Da Ra, Jo Sanggung .Mereka pun melanjutkan langkahnya untuk menuju istana.

—-0000—-
Di Balai Pertemuan Kerajaan~
Raja Myungsoo tengah menahan amarahnya mendengar laporan dari Menteri Yoon dan Menteri Choi. Fraksi selatan ini memang sangat kontra dengan pemerintahan Raja. Sementara Fraksi barat sangat mendukung pemerintahan Raja.

Cheona, bukankah seharusnya seorang ratu mentaati tradisi kerajaan atau mematuhi peraturan kerajaan? Bagaimana dengan Ratu yang berjalan tanpa menggunakan Gama atau tidak memakai baju dari kerajaan?”
Myungsoo menghela nafasnya.

“Menteri Yoon, ku rasa tidak masalah apabila Ratu memilih tidak memakai Gama atau memakai baju kerajaan. Ratu hanya ingin bersatu dengan rakyat-rakyatnya. Ratu tak ingin terlihat manja dengan memakai semua fasilitas yang ada di kerajaan. Ku rasa, Ratu telah melakukan hal yang baik.” ujar Menteri Wol dari Fraksi Barat.

“Tetapi, itu tidak ada di dalam aturan kerajaan.” ujar Menteri Choi.

“Baik, Menteri Choi.. Kau sebutkan aturan kerajaan.” ujar Myungsoo, Menteri Choi hanya tertunduk, ia sadar bahwa di dalam aturan kerajaan tak ada aturan lain yang mengatur ratu , kecuali “Mentaati perintah Ratu.”

“Jika ini tak ada dalam aturan, mari kita buat aturan baru. Dimana Ratu boleh saja keluar dari istana tanpa membawa atribut istana.” Myungsoo tersenyum puas ketika Ayah dan Ibunya masuk kedalam balai pertemuan dan mengatakan hal itu. Menteri dari Fraksi selatan kini terdiam. Dalam hati para Menteri dari Fraksi Barat mungkin sedang bersorak sorai, Menteri Bae tersenyum. Ia senang bahwa putrinya disayangi oleh pihak terbaik kerajaan. Ini akan menjadi hadiah untuk Nyonya Bae .

“Baiklah, jika tak ada lagi yang di bicarakan kembali, kita akhiri pertemuan ini.” ujar Myungsoo, lalu ia keluar bersama kedua orang tuanya.

“Myungsoo-ah.”

“Ne, Abamama.”

“Aku yakin kau akan memerintah dengan sangat baik.” ujar Raja Kim, Myungsoo hanya tersenyum dan terdiam.

“Kau memiliki istri yang cerdas, Aku sangat senang mendengar ia keluar istana tanpa mengenakan atribut kerajaan. Bukankah itu salah satu caranya untuk dekat dengan rakyat?” ujar Ibu Suri.

—-0000—-
Soo Ji kini tengah membereskan beberapa makanan untuk makan siangnya dengan Shiyoung dan Da Ra tak lupa juga dengan Myungsoo. Shiyoung mencubit-cubit pipinya.

“Shiyoung-ah, apa yang kau lakukan?” tanya Soo Ji

“Noona, eh.. Jungjeon Mama, aku merasa mimpi berada di istana.” jawab Shiyoung, Soo Ji hanya tertawa pelan.

Jungjeon Mama, biarkan kami yang membereskan kudapan ini. Anda beristirahatlah dengan Shiyoung dan Da Ra.” ujar Jo Sanggung. Soo Ji mengangguk seolah berkata “baiklah.” Soo Ji kini duduk menghadap Shiyoung dan Da Ra. Tak lama kemudian kepala dayang ruang jahit Song masuk kedalam ruangan, membuat Shiyoung dan Da Ra heran.
Jungjeon Mama, ini yang Anda minta. Kami telah membuatkannya untuk Anda.” ujar kepala dayang Song.

“Terimakasih kepala dayang Song.” ujar Soo Ji, kepala dayang Song tersenyum lalu memberi hormat dan pergi. Soo Ji kini memegang bungkusan yang diberikan kepala dayang Song.

“Shiyoung-ah, Da Ra, ini untuk kalian berdua.” ujar Soo Ji sembari memberikan kepada mereka berdua. Shiyoung dan Da Ra menerima dengan senang hati.

“Terimakasih Jungjeon Mama.” ucap mereka bersamaan, Soo Ji hanya tersenyum. Tak lama kemudian dayang di luar mengumumkan kedatangan Raja. Dan Raja kini masuk ke dalam. Soo Ji, Shiyoung, dan Da Ra memberi hormat. Myungsoo memuji Da Ra dan Shiyoung, menit berikutnya mereka makan bersama. Sebelum Soo Ji makan, Myungsoo mencicipi makanan Soo Ji terlebih dahulu, memastikan bahwa tak ada racun di dalamnya. Ini menjadi kebiasaan baru untuk Myungsoo.

Sore hari tiba, Myungsoo kembali ke ruangan kerjanya, ia tengah memeriksa beberapa laporan dari para menteri. Salah satu menteri melaporkan bahwa ada proyek pembangunan jembatan penghubung antar desa, lokasinya cukup jauh dan Myungsoo akan lama disana. Myungsoo terdiam, bagaimana bisa ia meninggalkan Soo Ji dalam waktu dekat ini. Soo Ji membutuhkan perlindungannya, terlebih ambisi Fraksi Selatan yang sangat menentang kebiasaan Soo Ji sekarang.

Di arah lain, Soo Ji berjalan bersama dayang-dayang ke bagian dapur istana. Soo Ji ingin memesan teh krisan hijau. Tiba-tiba langkah indah Soo Ji terhenti. Semua dayang yang mengekor di belakang Soo Ji otomatis berhenti.

Jungjeon Mama memiliki kebiasaan yang aneh, ia keluar istana tanpa memakai atribut istana. Jika aku menjadi ratu aku akan memamerkan gelarku pada seluruh negeri ini. Ah, bahagianya jika aku menjadi Ratu.” ujar salah satu dayang bagian dapur, Jo Sanggung gerah melihatnya, ia segera melangkahkan kakinya, namun tangan Soo Ji menahan langkah Jo Sanggung.

Mama, mereka sangat keterlaluan. Mulut mereka harus di siksa agar tidak mengatakan hal seperti itu.” ujar Jo Sanggung, Soo Ji hanya tersenyum.

“Biarlah, aku ingin tahu mereka mengatakan apa. Bukankah yang menilai diri kita adalah orang lain? Aku tak dapat memaksa siapapun untuk memandangku sebagai orang yang baik, jika aku salah tak ada salahnya mereka berkata seperti itu. “ Jo Sanggung terdiam, ia tak mengerti terbuat dari apa hati seorang Ratu di sampingnya ini.

“Ku dengar para menteri mempermasalahkan Ratu di pertemuan tadi. Mereka bahkan menganggap Ratu tidak menghormati tradisi istana. Bukankah sangat aneh—“ ucapan mereka terhenti, kepala dayang Dam menampar pipi mereka satu persatu. Jo Sanggung tersenyum puas, di ikuti oleh senyuman para dayang lain di belakang Soo Ji. Soo Ji terkejut, lalu ia melanjutkan langkahnya mendekati kepala dayang Dam. Kepala dayang Dam adalah kepala dayang bagian dapur, resep-resep makanannya sangat enak.

Mama-nim— Oh, Jungjeon Mama.” ucap kedua dayang tersebut. Kepala dayang Dam langsung menunduk memberi hormat pada Soo Ji.

“Kepala dayang Dam, jangan menampar mereka. Mereka berhak mengatakan apapun yang mereka rasakan.” Kepala dayang Dam kini menunduk. Kedua dayang bagian dapur ini menunduk lebih dalam.

“Tetapi, Jungjeon Mama..Mereka mengatakan hal yang tak seharusnya mereka ketahui.” ujar kepala dayang Dam, Soo Ji hanya tersenyum.

“Mereka berada di dalam istana, rumor-rumor di istana akan terbang dengan cepat. Mereka pasti mendengarnya. Aku tak masalah mereka berkata hal buruk tentangku. Justru, aku sangat berterimakasih pada mereka yang mengoreksiku.” ujar Soo Ji, Kepala Dayang Dam dan kedua dayang itu refleks bersujud meminta maaf pada Soo Ji, Soo Ji menggeleng, lalu membimbing mereka berdiri.

“Bekerjalah dengan baik. “ Soo Ji menepuk pundak kepala dayang Dam, lalu ia pergi menjauhi dapur istana.
Sepasang mata mengawasi kejadian itu, ia tersenyum licik. Pada malam harinya di luar istana, di sebuah kios pasar terjadi pertemuan antara seorang pria dan wanita.

“Mereka bilang bahwa Ratu sedang dalam masalah karena tidak mematuhi tradisi kerajaan.” ujar si wanita.

“Lalu, fraksi mana yang tidak mendukung Ratu?” tanya si pria.

“Fraksi selatan.”

“Bukankah ini bisa kau manfaatkan? Apakah ambisimu masih sama?”
Wanita itu kini menatap lekat pria di hadapannya, ia tersenyum licik.

“Jelas saja, aku mencintainya… tapi cintaku padamu juga sangat besar.”
Pria itu menyeringai.

“Bukankah kita bisa bekerja sama?” tanya pria yang berpakaian terkesan seperti pendekar itu, wanitanya kini mengangguk.
—-0000—-
Malam ini, bulan bersinar terang, bintang berkelip riang. Soo Ji duduk di bangku yang terbuat dari batu di dekat jembatan kamarnya. Ia terdiam, bukan karena Myungsoo yang tidak ada di sampingnya. Ia masih memikirkan perkataan dayang tadi. Soo Ji berdiri, ia menghadap ke ujung kamarnya,membelakangi pintu utama. Kepalanya menengadah ke atas langit, bohong jika ia tak merindukan Myungsoo. Merindukan dalam arti Soo Ji ingin bercerita tentang masalah yang kini terkesan di persulit oleh Fraksi Selatan. Ia melangkahkan kakinya ke depan, berjalan menuju pintu kamarnya, namun sebuah pelukan di bahu Soo Ji mampu membuat Soo Ji menghentikan langkahnya. Ia kenal betul siapa yang memeluknya, ia tersenyum.

Cheona..”  Soo Ji tersenyum lega, ia lalu berbalik arah dan memeluk suaminya. Myungsoo memeluknya dengan erat.

“Apakah kau merindukanku?” tanya Myungsoo. Soo Ji melepaskan pelukannya. Lalu memeluk Myungsoo kembali. Myungsoo melepas pelukan Soo Ji, ia membelai wajah Soo Ji dengan kedua tangannya. Dapat ia lihat bahwa istrinya kini menyembunyikan sesuatu. Matanya penuh dengan rahasia. Myungsoo mengajak kembali Soo Ji duduk di bangku batu tersebut. Lalu menggenggam tangan Soo Ji , membiarkan Soo Ji bersandar di bahunya.

“Aku seorang ratu yang aneh.” Soo Ji mengucap lemah, Myungsoo mendekap tubuh Soo Ji, mengusap bahu istrinya pelan.

“Kau,seorang ratu yang tak pernah di temukan pada dinasti lain yang pernah ada. Keanehanmu membuat semua orang jatuh cinta pada kebaikanmu. Hatimu lembut, tanganmu sangat hangat untuk merangkul manusia yang membencimu.” ujar Myungsoo, Soo Ji menatap Myungsoo lekat. Perkataan Myungsoo mampu mendinginkan kepala dan hatinya.

“Ayah dan Ibuku bilang bahwa kau Ratu yang cerdas. Mereka sangat bangga padamu, Soo Ji-ah, terlebih Ayah dan Ibumu. Aku sangat ingin bertemu dengan mereka, mengucapkan terimakasih kepada mereka. Kedua orang tuamu berhasil mendidik seorang anak.” Soo Ji masih menatap Myungsoo, air matanya kini turun. Myungsoo mengusap air mata Soo Ji.  Di luar kamar ,langit menjadi saksi cinta Myungsoo yang begitu dalam pada Soo Ji, Bulan dan Bintang menjadi saksi betapa besarnya pengaruh kehadiran Myungsoo untuk Soo Ji. Di dalam kamar, kegelapan menjadi saksi curahan cinta Soo Ji dan Myungsoo.

—-0000—-
Pagi hari~
Menteri Yoon tengah mengadakan pertemuan rahasia dengan dayang bagian dapur bermarga Kim. Keheningan masih menyelimuti mereka berdua.

“Apa yang kau inginkan?”

“Aku ingin menjadi selir raja.”

“Kau jangan bergurau, hanya raja yang dapat menunjuk siapa dayang yang ia sukai. Lagipula, tak ada yang berpihak padamu. Ini akan menjadi hal yang sulit.”

“Putra dari Selir Raja terdahulu akan membantu kita. Aku tahu hanya dia yang bisa menunjuk  siapa yang ia sukai. Tapi, kau bisa kan mempengaruhi raja atau Fraksi Selatan untuk melakukan penunjukkan selir?”
Menteri Yoon berpikir, ia menganggukan kepalanya.

“Maksudmu Pangeran Hyeosang akan membantu kita?”

“Selain dia akan membantuku menjadi selir, ia juga bisa menjadikanmu pemimpin dari Fraksi Selatan.”

“Baik, aku terima tawaranmu. Kau tunggu dalam kurun waktu 1 bulan. Yang kau inginkan akan segera terlaksana.”

~Kediaman Min Ho~

“Bagaimanapun, dia adalah adikmu. Jangan kau berniat apapun padanya. Terlebih jika kau ingin menurunkan tahtanya. Ia sangat mampu memimpin negeri ini.”

“Ia mengambil semua yang aku ingin.Aku menyesal di lahirkan olehmu, ibu. Mengapa aku harus di lahirkan sebagai putra seorang selir yang tak dapat dijamin masa depannya. Putra dari seorang selir yang tak mendapat apapun dari—“ ucapan Min Ho terhenti ketika tangan ibunya mendarat di pipinya. Min Ho berlalu pergi, Ibunya kini memandang nanar kepergian putranya, lalu menangis. Hanya ini yang bisa ia lakukan, merawat dan membesarkan Min Ho seorang diri tanpa bantuan dari siapapun. Ia berjualan Norigae di pasar untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dengan Min Ho. Nyonya Lee, Lee Hee Bin. Ia menjadi selir raja, namun hanya dengan waktu yang singkat setelah ia melahirkan Min Ho. Fitnah kejam, menurut Nyonya Lee. Fitnah  yang berasal dari Fraksi Barat mampu membuatnya di usir dari istana. Beruntung raja memutuskan untuk mengusirnya dari istana, bukan di hukum mati.

Min Ho sebenarnya mempunyai gelar sebagai Pangeran, nama aslinya adalah Kim Hyeosang, tapi ibunya mengubahnya. Pengubahan nama tentunya tak bisa menghapuskan status kakak beradik antara Min Ho dan Myungsoo. Gelar sebagai pangeran terlalu sakit untuk ia bawa. Ia hanya ingin membalas kesakitan hati ibunya dengan menghancurkan Fraksi Barat. Ia juga ingin menghancurkan Raja yang memerintah saat ini, karena ia tahu bahwa gadis yang ia sukai telah menjadi permaisuri Raja. Meskipun ia telah memiliki seorang kekasih saat ini , yaitu dayang istana bagian dapur. Dayang itu tak dapat mencuri hatinya. Hatinya tercuri oleh seorang gadis yang membantu mengobati Ibunya. Pedih hati Min Ho, mengetahui kenyataan dari Yeol bahwa gadisnya kini menjadi permaisuri. Yang tak lain, adalah istri dari Raja,adiknya sendiri. Kini ia mencoba untuk memiliki kekasih yang berasal dari golongan rendah, bukan karena cinta ia memilikinya… Karena ingin membalaskan dendamnya, ia mengirimkan kekasihnya sendiri untuk menjadi dayang bagian dapur,dan untuk menjadi selir raja. Meskipun kekasihnya mencintainya, namun ia tak dapat membalas cintanya, cinta yang ada di dalam hatinya hanya untuk seseorang yang tak dapat ia gapai.

—-0000—-

Myungsoo harus pergi ke perbatasan desa hari ini, meninggalkan Soo Ji… Satu bulan lamanya Myungsoo harus tinggal disana, menyelesaikan pembangunan proyek yang tidak kunjung selesai.
1 bulan kemudian, Soo Ji bosan karena ia hanya berdiam diri di istana. Ia hanya menghabiskan waktu dengan mendesain pakaian, atau sekedar merajut bersama Ibu Suri. Namun itu membosankan menurutnya, akhirnya ia memutuskan untuk berjalan keluar istana, penampilannya seperti biasa, hanya memakai baju hanbok biasa. Di dampingi Jo Sanggung , Soo Ji berjalan menuju ujung pasar, rakyat kelaparan semakin membanyak jumlahnya. Anak-anak mendominasi. Soo Ji kini meminta  Jo Sanggung  untuk mengumpulkan para Ahjussi pekerja bangunan. Soo Ji meminta dibuatkan rumah penampungan yang cukup besar untuk menampung rakyat-rakyat kelaparan. Karena Ahjussi yang bekerja cukup banyak jumlahnya,  mungkin dalam 1 hari penampungan ini akan selesai. Meski hanya beratapkan jerami, namun setidaknya ini melindungi mereka dari teriknya matahari karena musim hujan belum berlangsung.
Waktu telah memasuki sore hari, Soo Ji duduk di bangku sekitar rumah penampungan. Kepalanya terasa pusing, wajahnya pucat. Entah mengapa ia teringat Myungsoo. Soo Ji kini meminta Jo Sanggung untuk mengawasi pembangunan, Soo Ji ingin berjalan-jalan ke hutan. Awalnya Jo Sanggung melarang Soo Ji berpergian sendiri, tetapi Soo Ji mampu meyakinkan Jo Sanggung  bahwa ia akan baik-baik saja. Jo Sanggung  hanya bisa menuruti keinginan Soo Ji.

Soo Ji berjalan menuju hutan, entah mengapa ia merasa seseorang tengah melindunginya. Setibanya disana, ia terkejut, memutar memori otaknya.. Bukankah ini hutan tempat pertama kalinya ia bertemu dengan Myungsoo? Soo Ji tersenyum, ia menatap sekeliling hutan ini. Hutannya indah, seindah pertemuannya bersama Myungsoo dahulu. Soo Ji duduk di antara rumput-rumput hijau yang tumbuh kecil di atas permukaan tanah, ia menyandarkan tubuhnya pada pohon tinggi yang menjulang. Tiba-tiba sebuah panah menancap di pohon itu, tepat di atas kepala Soo Ji, Soo Ji terkejut bukan main… Ia menatap sekelilingnya ia dapat melihat dari jauh bahwa seseorang tengah menunggangi kuda dan memegang panah, dengan pakaian serba hitam, Soo Ji kini bangkit dari duduknya. Ia setengah berlari menunduk, namun tangan kekar menarik tubuhnya, mendekap tubuh Soo Ji dan membawanya ke sebuah benteng kecil dan sempit. Jantung Soo Ji kini berdegup kencang, namun ia tersenyum bahagia mengetahui siapa yang mendekapnya dan membawanya ke benteng ini.

Cheona..”

“Gwenchana?”

“Aku baik-baik saja, Apa yang kau lakukan disini Cheona?”

“Entah apa, aku ingin mengunjungi tempat ini. Soo Ji-ah.. Lagipula, pembangunan jembatan itu sudah selesai.Kau seperti yang sedang sakit, aku akan membawamu ke tabib kerajaan.” Myungsoo hendak berdiri memapah Soo Ji,tapi tangan Soo Ji menahan tangan Myungsoo,Soo Ji menggeleng pelan.

“Semua baik-baik saja, keberadaanmu di dekatku membuatku sangat bahagia.” ujar Soo Ji, Myungsoo hanya memandangnya sendu. Tak lama kemudian riuh-riuh di luar persembunyian mereka terdengar jelas, pengawal-pengawal kerajaan tengah mengurus pria berkuda yang hendak memanah Soo Ji tadi. Soo Ji dan Myungsoo keluar dari benteng, lalu Soo Ji mengajak Myungsoo ke tempat penampungan besar yang Soo Ji buat. Myungsoo tersenyum bahagia.

“Kau yang membuat ini?”

“Aku hanya memerintahkan, Ahjussi-Ahjussi ini yang membuatnya.” ujar Soo Ji.

“Kau Ratu yang hebat, cantik, cerdas.” jawab Myungsoo, Soo Ji menunduk malu. Pipinya merona, Myungsoo hanya tertawa.

—-0000—-
Keesokan harinya tepatnya di waktu malam, Myungsoo mengadakan pertemuan dengan para Menteri. Raut wajahnya tak bersahabat, ia pusing mendengar ide-ide konyol dari Fraksi Selatan.

Cheona, sudah sebulan lebih pernikahan Anda dengan Ratu Soo. Tapi ia tak kunjung hamil. Seorang Putra Raja adalah penerus Kerajaan. “ ujar Menteri Choi.

“Jika Ratu Soo tak kunjung hamil, bukankah Anda bisa memilih seorang dayang istana untuk di jadikan seorang selir dan mengandung anak dari Anda?” timpa Menteri Yoon, Myungsoo tak dapat terima atas perkataan Menteri Yoon, Myungsoo menggebrak keras meja di hadapannya, lalu berdiri.

“Jaga ucapanmu Menteri Yoon! Aku tak akan pernah menunjuk seorang dayang untuk ku jadikan Selir. Aku hanya memiliki satu cinta yang tak dapat ku bagi dengan siapapun, kecuali dengan istriku!” Amarah Myungsoo meledak, ekspresi dari Fraksi Selatan merujuk pada ketakutan.

“Menteri Yoon, cinta adalah sesuatu hal yang berbeda dengan nafsu. Cinta hanya memilih seseorang untuk dijadikan seorang cinta di dalam hati. Tetapi nafsu bisa memilih beberapa orang yang bisa di jadikan untuk kepuasan sesaat. Jelas berbeda, karena cinta itu tulus.” ujar Menteri Bae.

Myungsoo mendudukkan dirinya kembali di kursi pertemuannya. Ia memijat keningnya. Kepalanya berat dan pusing. Ia memutuskan meninggalkan balai pertemuan lalu melangkah ke ruang kerjanya. Ia minum arak sebanyak-banyaknya. Tiba-tiba Pangeran Hyeosang datang menghampirinya.

“Oh, Hyung kau mengunjungiku… Tentunya kau ingin meminum arak ini bersamaku kan?” ujar Myungsoo, Pangeran Hyeosang mengangguk lalu minum arak bersama Myungsoo. Malam ini, Soo Ji tak menunggu Myungsoo seperti biasanya. Soo Ji juga sepertinya sedang sakit. Kepalanya pusing sedari tadi pagi, sistem tubuhnya melemah seketika.  Dan Malam ini juga, Myungsoo dengan kakaknya tengah berjalan menyusuri istana dengan berjalan sempoyongan, para Kasim yang mengikuti di belakang mereka telah hilang karena di usir oleh Myungsoo. Pangeran Hyeosang sebetulnya masih dengan tingkat kesadaran sempurna, ia membimbing Myungsoo masuk kedalam kamar Myungsoo. Tiba-tiba sesosok wanita masuk kedalam kamar Myungsoo. Pangeran Hyeosang membisikkan sesuatu. Myungsoo sudah sepenuhnya tidak sadar dibawah pengaruh arak itu. Malam hari ini, Pangeran Hyeosang benar-benar membuat  masalah yang tidak dapat di pikirkan dengan logika.

—-0000—-
Pagi hari, langit mendadak mendung. Padahal musim hujan masih lama. Matahari tak memunculkan sinarnya, Myungsoo terbangun, matanya berat untuk ia buka. Namun, ia menyadari bahwa kedinginan menjalar di seluruh tubuhnya. Ia segera terbangun, kini ia menyadari bahwa seluruh pakaian yang ia gunakan telah tanggal. Ia memutar kembali ingatannya tadi malam, namun kepalanya masih sakit untuk mengingat sesuatu. Ia tak tahu mengapa ia terbangun dalam keadaan seperti ini.

Di luar sedang ribut bahwa seorang pelayan istana tengah membalikkan rok nya. Artinya pelayan tersebut telah melayani Raja. Jo Sanggung segera menghampiri Soo Ji yang sedang menghias dirinya. Soo Ji terkejut, jantungnya serasa mati, nafasnya tercekat. Sakit mengingat bahwa suaminya yang begitu ia cintai kini meniduri pelayan istana, itu memang haknya sebagai seorang Raja. Namun, sempat terlintas di benak Soo Ji.. Kekurangan apa yang ada di dalam diri Soo Ji? Sementara suaminya selalu memujinya dengan pujian yang memabukkan. Kepala Soo Ji semakin pusing, di tambah dengan mual di perutnya.

Raja Myungsoo tengah memimpin pertemuan pagi. Wajah dari para menteri Fraksi Barat sangat kelam. Myungsoo heran, terlebih Menteri Bae tidak ada di tempatnya. Wajah para menteri Fraksi Selatan menyeringai senang.

Cheona, ternyata perkataanmu tak bisa di pegang. Kau tetap saja meniduri seorang pelayan istana. Bukankah itu untuk mendapatkan keturunan?” Menteri Yoon dengan enaknya berbicara, Myungsoo terkejut. Bagaimana bisa ia meniduri pelayan istana, dirinya sedang mabuk tadi malam.

“Aku tidak meniduri pelayan istana! Aku sedang mabuk, mana mungkin aku menidurinya!”  bantah Myungsoo.

“Seseorang menyaksikan ini Cheona.” ujar Menteri Choi, tiba-tiba Pangeran Hyeosang masuk kedalam balai pertemuan. Myungsoo ingat bahwa semalam ia bersama Pangeran Hyeosang.

“Benar, Yang Mulia Raja telah meniduri pelayan istana bagian dapur. Aku melihat Yang Mulia Raja masuk kedalam kamar bersamanya.” ujar Pangeran Hyeosang, Myungsoo memejamkan matanya. Ia tak tahu bahwa kejadiannya akan seperti ini.

Cheona, karena Yang Mulia Ratu tidak dapat memberikan kepastian akan kehamilannya dan selama masa ia memerintah tak memberikan efek apapun kami meminta Yang Mulia Ratu di gulingkan.” ujar Menteri Yoon.

“Gulingkan Yang Mulia Ratu, Cheona..” teriak para Menteri Fraksi Selatan.

Namun tiba-tiba, suara pintu terbuka mampu membuat teriakan para menteri Fraksi Selatan terhenti.
Soo Ji masuk kedalam Balai Pertemuan, ia kini memandang sendu pada Myungsoo dan memandang tajam pada seluruh menteri Fraksi Selatan. Soo Ji kini berdiri di samping Myungsoo.

“Jika kalian ingin menggulingkan aku, gulingkan saja.” ujar Soo Ji, membuat seluruh ruangan tercengang dan terkejut. Menteri Yoon tersenyum bangga.

“Tapi, jangan lupa bahwa aku tengah mengandung anak dari Yang Mulia Raja.” tambah Soo Ji, membuat seisi ruangan kembali terkejut. Termasuk pria yang sedang berdiri di hadapannya.

Jungjeon Mama, Anda tak boleh mempermainkan soal kehamilan. Anda harus membuktikannya.” ujar Menteri Seo dari Fraksi Selatan.

“Kau pikir aku sedang bermain-main? Tabib Kang, masuklah kedalam!” ujar Soo Ji, seluruh penghuni ruangan terdiam. Tak lama kemudian Tabib Kang masuk kedalam balai pertemuan. Myungsoo tersenyum bahagia menatap Soo Ji. Tak menyangka bahwa hasil cintanya bersama Soo Ji membuahkan seorang janin di dalam rahim Soo Ji.

“Tabib Kang! Jelaskan pada mereka semua!”

Jungjeon Mama mengeluh sakit kepala dan mual. Lalu ia memanggilku tadi, aku memeriksa denyut nadinya. Denyut nadinya ada 2. Telah di pastikan bahwa Jungjeon Mama tengah mengandung anak dari Yang Mulia Raja, Selamat Yang Mulia Raja, Selamat Yang Mulia Ratu.” ujar Tabib Kang. Membuat raut wajah menteri dari Fraksi Selatan sangat mendung.

“Selamat Yang Mulia Raja, Selamat Yang Mulia Ratu.” ujar seluruh Fraksi Barat, bersujud memberikan ucapan selamat pada Soo Ji dan Myungsoo. Soo Ji menatap Myungsoo , tatapan Soo Ji berubah menjadi sendu. Myungsoo menggenggam tangan Soo Ji. Pangeran Hyeosang kini keluar dari ruangan, Soo Ji sempat melihatnya. Seperti pria yang pernah ia temui.

—-0000—-
Myungsoo dan Soo Ji kini tengah duduk berdampingan, namun Soo Ji tak bergeming. Mereka duduk di bangku batu di depan kamar Soo Ji.

“Soo Ji-ah, aku mohon jangan mendiamkanku seperti ini. Aku tak tahu mengapa aku bisa meniduri seorang Nain.

“Karena kau dibawah pengaruh arak, cheona. Hentikan kebiasaanmu itu. Tak baik untuk kesehatanmu.”

“Kau percaya padaku bukan?”

“Jelas saja, namun entah untuk saat ini. Memilih untuk percaya, namun aku tak mengetahui kebenarannya. Memilih untuk tidak percaya, tapi telingaku terasa sakit , hatiku juga… “
Myungsoo kini terdiam, ia menatap Soo Ji. Menarik Soo Ji kedalam dekapannya.

“Aku bersumpah demi apapun yang ada di bumi ini, aku tak meniduri Nain itu. Bahkan tahu wajahnya pun aku tidak. Aku seperti tengah di jebak Soo Ji-ah.”

Soo Ji kini terdiam, ia berusaha berpikir kritis untuk mendapat jawaban yang logis. Tak butuh waktu lama untuk berpikir, Soo Ji menemukan jawabannya.

_TBC_

Annyeong readers, gimana nih chapter 2? Oh iya,aku baca di komentar ada yang bilang katanya alurnya kecepetan. Hehe, maafkaaan kalau alur itu kecepetan. Padahal aku nulis kurang lebih 5.000 kata. Itu udah cukup menurut aku menggambarkan pertemuan dan perasaan Myungsoo sama Suzy. Oh iya, ada juga yang bilang bahwa ada yang belum tau artinya cheona, dwikkoji, dll. ini aku jelasin ya..
cheona : Panggilan untuk raja.

Jungjeon Mama : Panggilan untuk ratu.
Sanggung : Dayang yang melayani keluarga kerajaan, mau ratu, raja, ibu suri, putra mahkota, dan lain lain.
nah, kalau masalah aksesoris ini aku kasih pict nya aja yaa

Ini Binyeo, Binyeo biasanya dipake sama wanita yang udah menikah, ehehe.

Kalau ini Norigae, biasanya dipakai di otgoreum atau Chima.

Nah, ini gaya rambut buat wanita yang udah nikah. namanya gaya rambut jjeokjin meori. Dimana rambut di kepang terus di buat sanggul dan di tahan pake Binyeo. Binyeo yang di pake tergantung sama status si wanita itu.

Nah, kalau ini bagian-bagian dari Hanbok. Di simak aja yaa. Kalau Soo Ji udah jadi Ratu dia ga pake baju yang modelnya kaya gini. Dia pakai baju sehari-hari khusus ratu.

Kalau ini namanya Sokchima, dalemannya chima/rok.

Nah, ini namanya Dwikkoji, ini biasanya dipake di sisi kepala kanan kiri buat gadis yang blm nikah. Kalau yang udah nikah mah pakenya di sanggulan rambut itu, buat nemenin Binyeo. Dwikkoji ini yang Myung kasih ke Soo Ji, yang baca dari chapter 1 pasti tau.

Kalau ini Cheopji, tusuk konde kecil buat nemenin Binyeo juga di sanggulan rambut. Motifnya tergantung status wanita yang pake sih. Nah, Jo Sanggung mau nusuk matanya Do Yeon pake ini kalo dia berani natap Raja lagi.

Ini gaya rambut Daenggi Meori, biasanya gaya ini dipakai sama gadis yang belum nikah. Nah, daenggi itu pita merah di ujung kepangan rambut.

Kalau ini, pakaian raja sama ratu waktu nikah. Soo Ji sama Myungsoo pake ini pas mereka nikah, em berharap kenyataan aja sih wkwkwk

Kalau ini pakaian sehari-hari khusus raja dan ratu.

Nah, ini jipshin.. biasanya dipake sama rakyat jelata.

Kalau ini Unhye, sepatunya perempuan-perempuan bangsawan.
Okedeh, sekian dulu dari author yah.. Jangan lupa RCL seperti biasa, kalian readers yang baik kan tentunya? Hehe. Oh iya, sedikit cerita disini ada juga mungkin yang mirip-mirip sama drama korea saeguk TMTETS dan JOJ. Satu lagi, ini maaaaf banget author ga bisa balesin komentar kalian satu-satu. Bukannya author sombong yah, susah ngebalesnya sumpaaah kalo ngebuka di Opera Kecil.😀 . See U in Chapter 3 yah! Jangan lupa RCL, Baca juga yang Business Marriage. Terimakasiiiih :*

70 responses to “[Freelance] We Are Not King and Queen Chapter 2

  1. Ye ye ye.. Jo sanggung hbt.. Hajar aj tuh dayang kampret.. Ada batu di blk udang pasti tuh dayang kegatelan..
    Myung cinta bgt sm Suzy, jd pengen ngedenger Suzy panggil myung oppa d..
    haha..

  2. Dan yes Suzy hamil, rasain tuh rubsh2 tua, enak aj mau ngegulingin Suzy, sm rese bgt c nih mentri2 ini ngurusin ratu, mndg ngurusin negara sono biar rakyat ga tmbh sengsara..
    Dasar..

  3. Kira anak MyungZy hmna ya, cute bgt pasti..
    Kluwrga harmonis bgt dan tmbhnlgkp dg wdanya anak..
    Tp itu c Doyeon cewe busuk itu bnrr2 culas bgt c..
    Aku ga rela Suzy dimadu..

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s