Mistakes and Regrets #9

poster

Title: Mistakes and Regrets | Author: Macchiato

Genre: Friendship, Sad, Romance | Rating: PG – 17 | Length: Chaptered

Main Cast: Bae Sooji, Kim Myungsoo, Kim Sunggyu

Poster by animeputri @HSG

I don’t own anything besides the storyline

Chingu?

Previous chapter: #1 | #2 | #3 | #4 | #5 | #6 | #7 | #8

“Hei Soo, mautemaniakumakaneskrim?”

Myungsoo membelalakkan matanya begitu mendengar Sooji mengajaknya bicara. Ini nyata kan?

Myungsoo tahu dia pasti terlihat seperti orang bodoh ketika Sooji menghela nafas dan kembali mengulang pertanyaannya.

“Hei. Soo. Emm. Mau. Emm. Temaniakumakaneskrim?”

Myungsoo masih membatu. Myungsoo benar-benar tidak menyangka Sooji akan mengajaknya bicara. Saat dia memasuki café ini tadi dan berdiri di sebelahn Sooji, Myungsoo menyadari bahwa yeoja itu terlihat sangat tidak nyaman dengan keberadaannya.

“Soo?”

Dan hey, Sooji memanggilnya dengan panggilan Soo, seperti waktu itu, seperti saat mereka SMA dulu.

Myungsoo tersenyum, “Tentu saja Sooj.”

Sooji menggigiti sendok es krimnya tanda gugup. Sejujurnya Sooji merutuki keputusannya mengajak Myungsoo menemaninya. Sekarang dia tidak bisa menikmati es krimnya dengan nyaman. Sampai saat ini sooji masih belum berani mengangkat wajahnya dan menatap Myungsoo.

Sooji menggigit bibirnya perlahan, bingung dengan keadaanya yang sangat canggung ini. Sejujurnya Sooji masih bingung dengan perasaannya kepada Myungsoo. Sooji jelas merasa tersakiti, kecewa, dan marah kepada Myungsoo. Tapi di sisi lain sosok Myungsoo sebagai cheos-sarangnya tentu saja tidak bisa pudar begitu saja. Ada sebagian dari diri Sooji yang masih menginginkan Myungsoo atau setidaknya keinginan untuk diakui dan ‘dilihat’ oleh Myungsoo. Tidak seperti saat mereka SMA dulu.

Sooji masih mengaduk-aduk es krimnya ketika didengar Myungsoo berbicara.

“Kau masih saja suka es krim, Sooj.”

Sooji mengangguk. “Tentu saja” bahkan Sooji dapat merasakan bahwa suaranya bergetar.

Sooji dapat mendengar Myungsoo yang menghela nafas.

“Kukira kau memesan es krim cokelat. Dulu kukira kau sangat menyukai es krim rasa cokelat.”

Kali Sooji mengangkat wajahnya menatap Myungsoo dengan seksama.

“Aku tidak terlalu suka es krim cokelat.”

Myungsoo mengernyitkan dahinya, “Tapi ku…”

“Soojung. Soojung yang menyukai ani sangat menyukai es krim cokelat.” Sooji yakin suaranya semakin bergetar dan terdengar nyaris seperti sebuah bisikan.

Sooji dapat melihat Myungsoo yang kembali menegang dan pancaran matanya yang menunjukkan rasa bersalah.

Sooji ingin tertawa sekaligus menangis.

I can never win this, can I, Soo?”

Sooji tersenyum pahit. Saat Woohyun mengatakan pada Sooji untuk memiliki keberanian untuk berdamai dengan masa lalu, Sooji menyadari bahwa ini bukan soal memaafkan. Tapi juga menerima kenyataan. Salah satunya bahwa mata Myungsoo hanya melihat seorang Jung Soojung.

Sooji tahu, dia benar-benar harus bergerak maju dari masa lalunya. Termasuk perasaannya terhadap Myungsoo.

I can never win this, can I, Soo?”

Rasanya Myungsoo ingin sekali menampar dirinya sendiri ketika Sooji menatapnya dengan senyum pahit dan mata yang merefleksikan banyak luka.

“Tidak.. Bukan Sooj, Maksudku..”

Saat Myungsoo berusaha keras menutupi rasa bersalahnya dan memikirkan bagaimana cara meminta maaf pada Sooji, Myungsoo mendengar yeoja di hadapannya itu tertawa. Entah apa maksud dari tawanya itu.

“Tidak apa, Soo. Sungguh. Wajar bukan kalau kau lebih mengingat es krim favorit Soojung?”

Myungsoo mendesah perlahan, “Mianhae, Sooj, Jeongmal mi….”

Myungsoo melihat Sooji mengangkat sebelah tangannya, seakan memberi isyarat pada Myungsoo agar berhenti bicara.

“Tidak Soo, aku yang harusnya minta maaf.”

Myungsoo merasa salah tingkah ketika Sooji menatapnya dalam.

“Aku yang harus minta maaf karena memaksamu untuk menjadi namchinku dulu. Pasti sangat mengesalkan ya? Jeongmal mianhae

Myungsoo memperhatikan bagaimana Sooji yang kembali tertawa sumbang kemudian mengaduk-aduk es krimnya. Bagaimana Sooji kembali menundukkan kepalanya dan tidak lagi menatapnya seperti tadi.

Myungsoo menghela nafasnya, seandainya Sooji tahu bahwa keinginan terbesar Myungsoo saat ini adalah memeluk Sooji dan menenagkannya. Bahwa keinginan terbesar Myungsoo adalah kembali seperti dulu dengan Sooji yang menatapnya hangat penuh cinta. Bahwa penyesalan terbesar Myungsoo adalah terlambat menyadari perasaannya pada Sooji dan membiarkan yeoja itu pergi.

Myungsoo bergerak-gerak gelisah di atas tempat tidurnya. Pertemuannya dengan Sooji benar-benar membuat dirinya tidak tenang.

Myungsoo berusaha menutup matanya namun sedetik kemudian membuka matanya kembali.

Chingu?” bisik Myungsoo pelan.

Myungsoo mendesah pelan. Terputar lagi di kepalanya pertemuannya dengan Sooji. Sooji yang hampir menangis lagi karenanya. Sooji yang di akhir pertemuan mereka meminta Myungsoo menjadi temannya. Dan bagaimana Sooji yang terlihat kecewa ketika Myungsoo menjawab pertanyaannya dengan ragu.

Myungsoo menghela nafas kemudian bangkit dari tidurnya. Myungsoo kembali termenung di ujung tempat tidurnya.

“Tentu saja aku ragu, Sooji-ah. Bagaimana caranya aku menjadi hanya sekedar chingu jika saat ini isi kepalaku penuh denganmu Bae Sooji?”

Sooji memasuki kantornya denagn mata hitam dan berkantung. Sapaan pegawainya bagai angin lalu di telinganya.

Ketika akhirnya Sooji memasuki ruangannya, Sooji mendesah frustasi kemudian menelungkupkan kepalanya di atas meja kerjanya.

Tok tok tok

Klek

Sajangnim, ini progress report perkembangan resort di Ulsan yang kau minta.”

Sooji menengadahkan kepalanya begitu mendengar suara cempreng yang merusak kedamaian paginya. Kondisi memprihatinkan Sooji tentu saja membuat Hyeri terkejut.

Omo. Ada apa denganmu, Sooji-ah?”

Sooji menghela nafas kemudian meperbaiki posisi duduknya.

“Sooj? Kau baik-baik saja?”

Sooji tersenyum kecil mendengar pertanyaan Hyeri.

Gwenchana. Aku baik-baik saja. Mana progress reportnya? Aku ingin segera menyelesaikan pekerjaanku hari ini.”

Hyeri dengan sedikit ragu menyerahkan laporan di tangannya kepada Sooji.

“Kau yakin kau baik-baik saja?”

“Yakin.”

“Ini tidak ada hubungannya dengan busajangnim kan?”

Sooji menghela nafasnya, “Kenapa harus ada hubungannya dengannya?”

Hyeri menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, “Aku hanya menebak. Mianhae kalo salah.”

Sooji tersenyum kecil, “Ada lagi yang mau kau sampaikan? Kalau tidak ada, kau boleh kembali ke ruanganmu.”

“Kau tidak mau bercerita?”

Sooji kembali menghela nafas, beginilah Hyeri kalau penasaran. Dia akan bersikeras mencari tahu dan baru berhenti ketika dirasanya cukup.

“Aku hanya kurang tidur Lee Hyeri.”

“Kenapa bisa kurang tidur? Kupikir sedang tidak ada dokumen yang perlu kau kerjakan di rumah.”

“Aku tidak bisa tidur.”

“Kenapa?”

Sooji menghela nafas. Lagi dan lagi. Mulai jengan dengan perhatian Hyeri. Tangannya mulai sibuk membolak balik laporan perkembangan di genggamannya.

“Aku memang sulit tidur.”

“Kenapa?”

“Temanku tidak menelfonku semalam.” Ditambah pertemnuan dengan Myungsoo yang berhasil mengacak-acak perasaan Sooji.

Chingu? Nugu? Namja? Yeoja?

Namja. Kusebutkan namanya juga kau tak kenal.”

“Apa hubungannya temanmu yang menelfon dengan kau yang tidak bisa tidur?”

“Kau mulai menjengkelkan, Lee Hyeri”

“Jawab saja, sajangnim.”

“Aku baru bisa tidur kalau dia menyanyikanku sebuah lagu, over the rainbow.”

“Yakin hanya chingu?”

Sooji tertawa tanpa mengalihkan matanya dari laporan yang sedang dibacanya.

Chingu. Dia sudah punya kekasih, Lee Hyeri. Dan kekasihnya itu temanku juga. Mereka berdua sahabatku di Jepang.”

Hyeri mengangguk. Mulutnya terbuka hendak bertanya lebih jauh ketika …

“Maaf mengganggu nona-nona. Mungkin kalian bisa melanjutkan gosip kalian saat makan siang nanti.”

Hyeri nyaris terjengkang mendengar sebuah suara tegas yang berasal dari belakangnya.

Jwesonghamnida. Sajangnim, aku kembali ke ruanganku dulu.” Dengan terburu-buru, Hyeri meninggalkan ruangan atasannya itu.

Sooji membelalakkan matanya. Sejak kapan Sunggyu ada di ruangannya?

“Aku tidak tahu ternyata kau bisa menggosip, sajangnim.”

Sooji menggigit bibir bawahnya, tidak tahu harus menjawab apa. Disibukkanya lagi dirinya dengan dokumen di tangannya.

Sunggyu menaikkan alisnya bingun. Bingung karena Sooji diam saja mendengar sindirannya. Dilangkahkan kakinya mendekati meja Sooji.

“Ehem.”

Sunggyu berdeham berusaha mengalihkan perhatian Sooji dari dokumennya itu.

Sooji mendesah. Sejujurnya Sooji senang Sunggyu dating ke ruangannya tapi Sooji juga kesal karena dianggap hobi menggosip dan ditambah dirinya yang kurang tidur tapi sudah diganggu orang-orang semenjak menginjakan kakinya di ruangannya pagi ini.

Waeyo?”  Sooji menjawab, lagi-lagi tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumennya.

“Tidak sopan jika tidak menatap lawan bicaramu, Sooji-ah.” Suara Sunggyu terdengar berwibawa.

Sooji menghela nafas dan berdoa agar suaranya tidak terdengar bergetar.

Waeyo?”

Sunggyu mengernyitkan dahinya begitu melihat wajah – tepatnya mata – Sooji. Hitam dan berkantung.

“Astaga, kau benar-benar kurang tidur.”

Sooji mendengus, “Kau menguping, busajangnim.”

“Aku tidak menguping. Aku mendengarnya langsung tanppa sembunyi-sembunyi.”

Sooji menghela nafas lagi.

“Jadi? Ada apa kau kemari, busajangnim?”

Sunggyu menggelengkan kepalanya, “Tadinya aku ingin mengajakmu bertemu dengan wakil dari WS Corp. Tapi melihat keadaanmu sepertinya tidak jadi.”

Sooji mengernyitkan dahinya?

“WS?”

Ne. Mereka bisa dibilang partner abadi Hwajae. Tuan Nam sangat dekat dengan Tuan Lee. Minyoung juga sangat dekat Woohyun karena mereka seumur”

“Minyoung?”

Sunggyu tertawa, “Kau harus memanggilnya oenni, sajangnim. Dia wakil dari WS yang aku bicarakan. Kalian harus bertemu. Sepertinya kalian akan cocok. Dia yeoja yang luar biasa.

Sooji memberengut kesal. Minyoung? Yeoja? Luar biasa?

“Kalau begitu aku pamit Sooji sajangnim. Nanti setelah jam istirahat kalau keadaanmu masih menyedihkan begini biar aku yang ke Yongin.”

Sooji berdecak pelan, “Baiklah. Sampaikan salamku untuk Minyoung-minyoung itu.”

Sunggyu kembali tertawa. Tangannya terulur ke puncak kepala Sooji, kemudian mengacak rambut yeoja itu perlahan. “Nan ganda”

Sooji tersipu. Bagaimana bisa dia tidak jatuh pada pesona Kim Sunggyu jika begini?

“Jadi?”

“Jadi dia tidak datang, Min. Harus berapa kali aku menjelaskannya padamu?”

Yeoja berambut sebahu itu berdecak pelan.

“Iya, aku tahu dia tidak datang. Yang ingin aku tahu adalah alasannya.”

“Dia errr tidak terlihat baik.”

Minyoung –atau Min- mengerutkan dahinya. “Tidak baik bagaimana? Sakit?”

Sunggyu memiringkan kepalanya tanda berfikir.

“Entahlah. Tapi matanya hitam dan bengkak. Dia .. terlihat menyedihkan.”

Min tertawa mendengar penjelasan Sunggyu.

“Yya! Kau tidak boleh menertawakan penderitaan orang lain, Lee Minyoung.”

Ani, aku bukan menertawakan yeoja itu, oppa. Tapi penjelasanmu.”

Sunggyu mengernyitkan dahinya, “Memang kenapa dengan penjelasanku? Memang benar kok matanya bengkak.”

“Bukan masalah bengkaknya, oppa. Tapi kata ‘menyedihkan’ yang selalu kau gunakan untuk menjelaskan keadaannya.”

Sunggyu berdecak, “Dia memang terlihat menyedihkan kok.”

“Seorang yeoja tidak akan suka jika dikatakan menyedihkan, oppa. Tidak ada seorang pun yang ingin dikasihani.”

“Aku bukan mengasihaninya. Aku ingin ..”

“Melindunginya, geutchi?” potong Min cepat.

Nan arrayo, oppa. Kau dan hero complex mu itu.”

Sunggyu tertawa, “Yya, memangnya tidak boleh melindungi yeoja? Namja diciptakan untuk melindungi yeoja, neo arra?”

“Tergantung posisimu, oppa.”

Lagi-lagi Sunggyu tidak mengerti pernyataan Min, “Maksudmu?”

“Kau ingin melindunginya sebagai namja atau ‘namja’?”

Sunggyu terdiam membuat Min tersenyum kecil. Yeoja itu kemudian menyesap kembali ice coffee nya.

“Tidak baik bermain-main dengan hati seorang yeoja, oppa. Apalagi jika yeoja itu sudah berkali-kali terluka.”

Setelah selesai bertemu dengan Minyoung dan menyelesaikan urusan mereka, Sunggyu memutuskan untuk berjalan-jalan dulu di sekitar Insandong untuk menghabiskan jam istirahatnya.

Sudah lama sekali Sunggyu tidak memiliki kesempatan seperti ini, semenjak menjadi orang kepercayaan Tuan Nam, waktu luang Sunggyu memang berkurang drastic. Sibuk di kantor saat week day. Dan menghabiskan waktu di rumah untuk beristirahat saat week end.

Saat sedang berkeliaran di Ssamzigil, surganya para pasangan, Sunggyu sedikit bergidik. Dia sendiri tidak habis fikir kenapa dia mau ke sini. Pasangan kekasih bertebaran dimana-mana, baik pasangan yang conservative hingga yang tidak segan mempertontonkan kemesraan mereka.

“Oppa, ayo kesini aku ingin beli kotak music.”

“Lagi? Kau yakin? Kemarin kau baru saja membelinya”

“Aku ingin membeli design yang berbeda dan music yang berbeda juga.”

Sunggyu hanya bisa tertawa kecil mendengar obrolan sepasang kekasih yabng baru saja dilewatinya. Si yeoja bersikeras mengajak namjanya untuk membeli kotak musik, entah untuk keberapa kalinya.

Tunggu, kotak music katanya?

“Aku baru bisa tidur kalau dia menyanyikanku sebuah lagu, over the rainbow.”

Sunggyu memutar balik tubuhnya dan memasuki toko yang dimasuki oleh sepasang kekasih tadi.

Begitu masuk ke toko tersebut Sunggyu dapat melihat bermacam-macam kotak music dengan berbagai bentuk dan ukuran. Diedarkannya matanya untuk mencari si pemilik toko.

Chogio ahjushi, kau punya kotak music dengan lagu over the rainbow?”

Sooji kembali menguap untuk ke sekian kalinya. Nyatanya memang Sooji harus ke Yongin karena Sunggyu diminta Tuan Nam untuk menemuinya.

Tiin

Suara klakson dari mobil di belakangnya mengejutkan Sooji. Astaga, bahakan Sooji tidak menyadari kalau lampu lalu lntas sudah berganti warna.

Sooji menguap lagi. Sooji mendengus, dirinya sungguh membutuhkan asupan caffeine jika ingin selamat sampai rumah. Untuk itu Sooji memutuskan untuk kembali mempir di café langganannya.

“Americanonya satu.”

“Mohon ditunggu sebentar.”

Sooji melirik jam di tangannya. Sudah hampir jam 9. Sooji berdecak, beginilah jjika menyanggupi ajakan timnya untuk makan malam terlebih dahulu. Sooji akan sampai di rumah terlampau malam. Sooji mengaduk-aduk isi tasnya kemudian mengeluarkan handphone.

9 missed call – Woohyun oppa

4 missed call – Nam yimo

4 missed call – Busajangnim

Sooji tersenyum kecil begitu menemukan kontak Sunggyu pada missed call list­-nya.

“Es krim lagi, Sooj?”

Sebuah suara menginterupsi pikiran Sooji, membuatnya spontan medongakkan kepalanya.

Di depannya kini berdiri namja tinggi yang tersenyum dan menunjukkan lesung pipinya. Kim Myungsoo.

Sooji membalasnya dengan senyum kecil. “Ani, aku memesan kopi kali ini.”

“Ini pesanan anda, nona. Silahkan dinikmati.”

Sooji mengangguk kecil kepada pelayan café kemudian melangkahkan kakinya menuju meja terdekat.

Tak berapa lama, Myungsoo menyusulnya.

“Kau selalu pulang jam segini?”

Ani.” Jawab Sooji singkat namun kemudian, Sooji melihat bahwa Myungsoo masih menunggu kelanjutan ucapannya.

“Ada pekerjaan yang mengharuskan aku ke Yongin.” Jawab Sooji parau

Myungsoo mengerutkan dahinya, “Kau sakit?”

Ani”

“Kau kelihatan tidak baik, Sooj.”

Sooji tertawa kecil, “Aku baik-baik saja, Soo. Aku mengantuk makanya aku mampir untuk secangkir kopi. Aku ingin selamat sampai rumah.”

“Kau mau kuantar pulang?”

“Tidak, terimakasih. Aku akan baik-baik saja setelah minum kopi.” Tolak Sooji halus.

Myungsoo menghela nafas kemudian mengeluarkan handphonenya juga earphonenya. Myungsoo kemudian bangkit dari duduknya dan pindah ke sebelah Sooji.

Sooji mengernyitkan dahinya, “Mwohanya?”

Myungsoo kemudia menyelipkan earphonenya pada kedua telinga Sooji.

Sooji terdiam ketika mendengarkan lagu yang terdengar di telinganya. Over the rainbow.

Myungsoo tersenyum kecil melihat reaksi Sooji.

“Kau selalu mendengarkan lagu itu saat tidur di tengah pelajaran ketika SMA dulu.”

Sooji masih terdiam, tidak tahu harus berkata apa.

Cah, sekarang kau bisa tidur sebentar nona. Kau menolak tawaranku untuk mengantarmu dan aku tidak ingin kau celaka saat pulang nanti. Jadi kau harus tidur sebentar. Aku akan meminjamkan bahuku.”

Sooji masih bergeming membuat Myungsoo sedikit khawatir apakah langkahnya – langkah Myungsoo untuk kembali mendekati Sooji- terlalu cepat.

“Sooj?”

Sooji menatap Myungsoo. Myungsoo tahu pasti Sooji keheranan dengan sikapnya. Tapi Myungsoo sudah memutuskan dia tidak akan menyerah soal Sooji. Meskipun harus dimulai dari chingu lagi.

Myungsoo berdeham pelan, “Kita chingu kan? Teman harus saling membantu kan?” Suara Myungsoo seakan tercekat mengatakan kata chingu.

Sooji tersenyum. Senyum yang menyentuh matanya. Yeoja itu kemudian menarik lengan Myungsoo mendekat padanya kemudian menyandarkan kepalanya di sana.

Gomawo, Soo-ya.” Bisiknya perlahan sebelum memejamkan matanya.

Dan sumpah mati Myungsoo harus menahan dirinya untuk tidak mengecup gadis yang tertidur di bahunya itu.

Sementara Sooji tertidur, Myungsoo memutuskan untuk membaca novel. Dari dulu Myungsoo memang suka membaca namun tentu saja pekerjaannya mengurangi waktunya untuk hobinya itu.

Drtttt drrrrttttt drtttttt

Myungsoo mendesah, dia ingin membaca dengan tenang tapi getaran handphone Sooji cukup mengganggunya. Memang semenjak yeoja itu tertidur, handphone Sooji –yang tergeletak di meja- tidak pernah berhenti bergetar. Entah sudah berapa banyak panggilan yang masuk dan tak terjawab. Setelah cukup bersabar sekian lama, Myungsoo akhirnya menyerah dan mengangkat panggilan yang datang.

Busajangnim

Myungsoo mengernyitkan dahinya bingung. Berdasaarkan cerita Sooji kemarin, Soooji adalah seorang sajangnim. Untuk apa seorang busajangnim menelfon atasannya malam-malam begini?

Yeoboseyo?”

Terdapa jeda yang cukup panjang setelah Myungsoo mengucapkan salam. Myungsoo yakin bahwa si penelfon terdengar ragu karena yang mengangkat handphone Sooji bukan yeoja itu sendiri.

Yeoboseyo?” Tanya Myungsoo lagi

“Sooji?”

Sooji? Busajangnim memanggil atasannya dengan sebutan nama tanpa embel-embel? Myungsoo melirik Sooji yang masih tertidur, bersandar pada bahunya.

Mianhamnida, Sooji sedang tertidur, ada yang ingin kau sampaikan?” bisik Myungsoo pelan, takut membangunkan Sooji.

Kembali hening yang Myungsoo terima.

Neo, nuguseyo?” Tanya si penelfon tajam. Bahkan hanya melalui telfon, Myungsoo dapat merasakan kemarahan si penelfon membuat dirinya sedikit bergidik.

Naneun Sooji chingu. Kim Myungsoo” Myungsoo merasa mengenalkan dirinya adala langkah tepat agar mengurangi kecurigaan terhadap dirinya.

“Kim Myungsoo?”

Ne, Kim Myungsoo. Naneun Sooji chingu.”

Kembali hening

“Anda tidak perlu khawatir, aku tidak melakukan apapun pada Sooji.”

Soo-ya?”

Myungsoo mengernyitkan dahinya bingung. Siapa orang ini, seenaknya memanggilnya Soo-ya.

“Soo, neo eoddisseo? Aku akan menjemput Sooji.”

Kernyitan di dahi Myungsoo semakin dalam ketika untuk kedua kalinya busajangnim itu memanggilnya dengan sebutan Soo. Dia tahu yang memanggilnya Soo di dunia ini hanya tiga orang, yaitu ibunya, hyungnya, dan Sooji. Myungsoo membelalakkan matanya ketika menyadari siapa yang sedang berkomunikasi dengannya melalui handphone Sooji. “Hyung?”

Ne, naya. Neo oeddisso?”

Myungsoo terdiam. Dia merasa bodoh karena sempat melupakan fakta bahwa hyungnya dan Sooji saling mengenal dan mungkin lebih dari sekedar kenal.

“Soo, neo oddi?” Suara Sunggyu terdengar lebih tegas dari sebelumnya.

Myungsoo menghela nafas. Sial. Kenapa dirinya bisa lupa fakta penting itu?

“Sudah kubilang aku tidak akan melakukan apapun hyung dan aku akan menjaganya.” Masih dengan berbisik Myungsoo berusaha meyakinkan si penelfon yang ternyata adalah hyungnya.

Neo oddi?! Kubilang aku akan ke sana.”

Myungsoo tercengang. Lagi-lagi Myungsoo bisa merasakan kemarahan hyungnya, benar-benar terdengar dari nada bicarannya.

Myungsoo menghela nafas, “Lemon Blast Café, Itaewon.”

Sooji menggeliat pelan sebelum akhirnya membuka matanya dengan sempurna.

“Sudah puas tidurnya, agashi?”

Sooji tersenyum kecil mendengar sapaan Myungsoo, “Sudah Soo-goon.”

Myungsoo ikut tersenyum melihat Sooji. Rasanya sudah lama sekali dia tidak melihat Sooji yang serileks ini di sekitarnya.

Sooji memekik pelan ketika melihat jam tangannya. Jam setengah 11.

“Astaga Soo, kau benar-benar membiarkanku tidur selama itu di sini.”

Myungsoo tersenyum kecil. “Kurasa tidak apa, café ini buka 24 jam kok.”

Sooji berdecak, “Bukan cafénya yang ku khawatirkan pabo. Tapi bahumu. Kau tidak pegal? Bhaumu tidak sakit kan?”

Myungsoo tertawa kecil, apa yeoja ini menghkhawatirkannya?

“Sejujurnya bahuku pegal sekali. Tapi kurasa makan siang bersama lain kali akan menyembuhkannya, ottae?”

Sooji tersenyum, “Call. Kalau begitu aku pulang, chingu. Bibi dan sepupuku pasti sangat khawatir dengan keadaanku. Mana aku belum sempat juga mengabari mereka tadi.”

Tangan Myungsoo dengan cepat menahan tangan Sooji ketika yeoja itu bangkit berdiri.

Wae?”

“Kau nanti dijemput?”

“Hah?”

“Akan ada yang menjemputmu nanti. Kau tunggulah sebentar. Mian. Tadi aku sempat mengangkat panggilan yang masuk ke handphonemu.”

Sooji mengernyitkan dahinya namun kembali duduk di kursinya.

Ah, pasti sepupuku. Padahal dia tahu aku bawa mobil.”

Ani, bukan sepupumu.”

Sooji kembali mengernyitkan dahinya bingung.

“Bukan sepupuku?”

“Bukan, aku yakin dia bukan sepupumu.”

Nugunde?”

Busajangnim.”

“Eh?”

Myungsoo memandang Sooji lekat-lekat, ingin mengetahui reaksi yeoja itu lebih jelas.

Busajangnim. Di kontak handphonemu namanya busajangnim. Dan dia bilang dia akan menjemputmu.”

Busajangnim?”

Ne, busajangnim.

Dia bilang dia akan menjemputku?”

Ne, dia memintaku memastikan kau menunggunya.”

Rona merah perlahan menjalari pipi Sooj dan tentu saja mata Myungsoo dapat menangkapnya dengan jelas. Myungsoo menghela nafas, Dia telah kalah langkah.

TBC-

a/n

Annyeong! I’m back! Sesuai janjiku aku bakal berusaha cepet ngepost kan? Hihi

Makasih banget buat para readers yang udah nyempetin baca dan nyempetin buat ngasih komentar. Semuanya aku baca kok, chingu

Sebenernya, aku paling seneng kalo baca komentar yang bener-bener ngomentarin isi tulisanku, kaya ngereview gitu. Rasanya kaya kalian tuh bener-bener mahamin isinya. Dan jadinya aku tau apakah isi tulisan aku tuh bisa ditangkep atau ngga, ngena atau ngga, berkesan atau ngga. Makanya kalo baca komentar yang panjang itu berasa dapet jackpot hihi.

 Tapi apapun komentar kalian, makasih banget udah drop comment🙂

Untuk selanjut-lanjutnya atau dimanapun, tetep drop comment ya, karena comment readers tuh kaya ngasih sumbangan semangat haha.

Anyway ini chapter 9 Mistakes and Regrets. Semoga ngena ya setiap moment-momentnya. Moment Sooji-Myung ataupun Sooji-Sunggyu. Jangan tanya akhirnya sama siapa yak arena aku juga belum tau. Kalo boleh egois sih Sunggyu pastinya punya aku haha.

 Dan seperti biasa, jangan lupa, drop your comment *sorry bawel haha

Ah iya, Happy Ied juga ya buat yang merayakan🙂

78 responses to “Mistakes and Regrets #9

  1. Pingback: Mistakes And Regrets #11 | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  2. Pingback: Mistakes and Regrets #12 | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  3. Pingback: Mistakes and Regrets #9 | Splashed Colors & Scattered Words·

  4. Nyesel kan? Sekarang tau kan rasanya orng yg kita cintai tersipu karna namja lain? Apalagi namja itu kakak sendri… Heh~ penyesalan memang selalu datang terlambt😡

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s