[Freelance] New Destiny Chapter 9

Title : New Destiny | Author : danarizf| Genre :  Fantasy – Romance | Rating : Teen | Main Cast : L [Infinite] as Kim Myungsoo, Suzy [Miss A] as Bae Suzy | Support Cast : Hoya [Infinite] as Putra Mahkota Lee Howon, Krystal [F(x)] as Jung Krystal (2015) / Putri Mahkota Jung Soojung (Joseon), Jiyeon [T-Ara] as Park Jiyeon, Irene [Red Velvet] as Bae Joohyun, Minho [SHINee] as  Choi Minho

….

(ps: buat yang lupa cerita sebelumnya bisa baca lagi disini)

….

CHAPTER 9

….

 

Joseon, 1365

Seorang pria paruh baya dengan kumis tebalnya tengah menyesap pelan teh panasnya. Sesekali tangan kanannya terulur naik ke pelipisnya, lalu mengurutnya pelan saat merasakan denyutan-denyutan di kepalanya.

“Astaga! Bagaimana aku bisa membuktikan kalau gadis yang ada di kediaman Putri Mahkota sekarang ini bukanlah Putri Mahkota yang sebenarnya?” gerutu pria tersebut.

Menteri Park Haejun, lagi-lagi Ia menyesap tehnya pelan lalu mengurut pelipisnya lagi.

“Ibu Suri pun tidak bisa diandalkan. Dia sudah terlalu tua untuk bisa memikirkan ide-ide cemerlang yang bisa mengeluarkan gadis itu dari istana. Jika gadis itu tidak juga keluar dari istana, Uri Jiyeon tidak akan bisa menjadi Putri Mahkota. Jiyeon harus menjadi ratu–”

“Ahbeoji…”

Park Haejun memalingkan pandangannya ke pintu saat mendengar suara seorang gadis yang memanggilnya. Kedua sudut bibirnya terangkat mengukir seutas senyum saat melihat putri semata wayangnya kini berjalan menghampirinya.

“Aigoo.. uri Jiyeon, ada apa? Kenapa malam-malam begini kau menemui Ahbeoji, hem?” tanya Haejun.

Terlihat sekali raut keraguan di wajah Jiyeon saat ingin mengatakan sesuatu pada ayahnya. Namun dengan tekad yang bulat, akhirnya Jiyeon membuka suaranya, mengatakan sebuah keinginannya pada ayahnya.

“Ahbeoji, bisa kau hentikan semua ini? Aku tidak ingin menjadi putri mahkota. Aku tidak ingin menjadi istri dari putra mahkota. Aku tidak ingin menjadi ratu, Ahbeoji,” kata Jiyeon pada ayahnya yang tentu saja membuat pria itu terbelalak tak percaya.

“Jiyeon-ah, ini semua untukmu. Kau akan memiliki kekuasaan yang besar kalau kau berhasil menjadi ibu negara ini. Belum lagi anak dan cucumu akan menjadi pemimpin negeri ini selanjutnya jika kau mau menikah dengan putra mahkota,” balas Haejun.

Jiyeon tertunduk. Sejujurnya Ia tidak berani membantah ayahnya. Tapi Ia benar-benar tidak menginginkan hal ini.

“Apa karena kau terlalu lelah menunggu? Apa karena kau ingin cepat menikah?” tanya Haejun.

“Aku… ya, aku ingin menikah. Tapi bukan dengan Putra Mahkota,” jawab Jiyeon. Haejun menatap putrinya penuh tanya. Jika bukan dengan putra mahkota, lalu dengan siapa putrinya itu ingin menikah?

“Siapa? Katakan pada Ahbeoji!”

Jiyeon menggigit bibir bawahnya. “Apa Ahbeoji akan memarahiku jika aku memberitahumu?”

“Tentu saja tidak. Aku tidak mungkin memarahi putri kesayanganku. Katakan pada ayah. Ayah akan membantu mewujudkan keinginanmu jika seseorang itu sesuai dengan yang ayah inginkan.”

“Tapi.. aku tidak yakin dia sesuai. Dia… pengawal pribadi Putra Mahkota, Ahbeoji. Kim Myungsoo.”

Haejun terdiam. Keningnya berkerut, mencoba mengingat-ingat yang mana pemuda bernama Kim Myungsoo itu. Kedua sudut bibirnya terangkat saat mengingat pemuda bernama Kim Myungsoo. Bukan, bukan sebagai pengawal Putra Mahkota. Tapi sebagai putra satu-satunya dari keluarga Kim, cucu dari mantan perdana menteri kerajaan yang menjabat pada masa pemerintahan raja terdahulu dan juga merupakan klan yang berpengaruh besar dalam negeri ini. Ah, dan jangan lupakan kenyataan kalau pemuda itu adalah sahabat Putra Mahkota.

“Kim Myungsoo…,” gumam Haejun.

Jiyeon melirik ayahnya. Ia takut ayahnya tak menyukai pilihannya. Namun seketika raut wajahnya berubah saat mendengar perkataan ayahnya. Bahkan bibirnya pun tak luput untuk menyunggingkan seulas senyum bahagia.

“Kau bersiaplah. Ahbeoji akan membuat keinginanmu itu terkabul.”

“Ahbeoji, jeongmalyo? Gamsahamnida.”

….

Myungsoo menatap pintu kayu sebuah rumah di hadapannya. Tak jauh di sampingnya, Suzy tengah berdiri sambil sesekali mengulurkan tangannya untuk mengetuk pintu yang sama dengan yang dilihat Myungsoo. Sebenarnya Ia masih tak habis pikir dengan Suzy. Mengapa gadis itu mau-mau saja saat ayahnya menyuruhnya untuk pergi dari rumah Myungsoo hanya karena ayahnya merasa tak enak dengan keluarga Park? Gadis itu kan tidak memiliki siapa-siapa di sini. Lagipula belum tentu juga Myungsoo menikah dengan putri keluarga Park itu.

“Aku yang pindah kenapa kau yang cemas?” celetuk Suzy saat mendapati Myungsoo dengan raut wajah tak enak.

“Apa? Aku tidak cemas. Hanya… sedikit khawatir.”

“Sama saja.”

“Tidak, tidak. Aku merasa tidak enak padamu. Harusnya Ahbeoji tidak mengatakan hal itu padamu. Bisa-bisanya dia menyuruhmu pindah padahal kau tidak punya siapa-siapa di sini,” balas Myungsoo.

Suzy berdecak pelan. “Jangan berkata seolah-olah aku ini sebatang kara. Aku punya keluarga juga. Tapi tidak di sini.”

“Sama saja,” ucap Myungsoo, mengikuti perkataan Suzy sebelumnya.

Cklek..

Saat kedua orang itu sibuk mengobrol, tiba-tiba saja pintu di hadapannya terbuka. Seorang wanita paruh baya muncul dari balik pintu sambil menatap bingung dua orang di hadapannya.

“Suzy?”

Annyeonghaseyo,” sapa Suzy sambil membungkukkan tubuhnya diikuti Myungsoo yang juga ikut menyapa wanita itu.

“Masuklah dulu.”

….

“Tidak punya tempat tinggal?”

Suzy menganggukkan kepalanya saat pria paruh baya bermarga Bae di hadapannya ini mengulangi perkataannya. “Sebenarnya aku merasa malu dan juga tidak enak meminta ini pada kalian. Tapi, aku benar-benar tidak punya tempat untuk tinggal. Jika harus kembali ke rumah… aku tidak tahu bagaimana caranya,” kata Suzy. Sesekali Ia melirik Myungsoo yang duduk di sebelah kanannya dan Joohyun yang duduk di sebelah kirinya.

Ahbeoji, Suzy ini kan kerabat jauh kita. Dia bahkan mempunyai marga yang sama dengan kita. Mengapa tidak mengijinkan saja dia tinggal di sini?” ujar Joohyun, mencoba membantu Suzy.

Tuan Bae menghela nafas pelan. “Baiklah, kau boleh tinggal disini sampai kau bisa tahu caranya pulang. Bagaimanapun aku tidak mungkin membiarkan seorang gadis berkeluyuran di jalanan tanpa tahu jalan pulang. Bisa-bisa kau dimanfaatkan oleh orang jahat,” putus Tuan Bae akhirnya yang langsung dibalas dengan senyum lebar dari ketiga orang di hadapannya, Joohyun, Myungsoo, dan tentu saja Suzy.

Gamsahamnida, Tuan Bae. Anda benar-benar orang yang sangat baik. Gamsahamnida. Gamsahamnida,” ucap Suzy sambil membungkukkan tubuhnya berkali-kali. Sedangkan Tuan Bae hanya tersenyum tipis namun terlihat sekali keramahan di senyumnya itu.

….

 “Mwo? Suzy sudah tidak tinggal di rumahmu?” pekik Krystal saat Ia menanyakan soal sahabatnya itu pada Myungsoo yang tengah berada di istana saat itu. Ia tak sengaja berpapasan dengan Myungsoo yang baru saja keluar dari ruangan Putra Mahkota.

Ne, tadi pagi dia pindah dari rumahku dan sekarang Ia tinggal di rumah keluarga Bae.”

“Keluarga Bae?” tanya Krystal.

Myungsoo menganggukkan kepalanya. “Ne.”

Krystal menghela nafas panjang. “Baiklah kalau begitu. Tapi Myungsoo, sepertinya ada yang ingin kubicarakan denganmu. Bisa kau ikut denganku? Ini masalah hidup dan matiku.”

Walaupun bingung mengapa Krystal tiba-tiba ingin berbicara dengannya dan bahkan menyebut-nyebut hidup dan mati, namun Myungsoo tetap melangkahkan kakinya mengikuti gadis itu ke kediamannya.

.

.

“Jadi apa yang ingin Anda bicarakan, Mama?” tanya Myungsoo begitu Ia telah sampai di kediaman Putri Mahkota.

“Bisa kau bantu aku?”

Myungsoo mengerutkan keningnya pertanda tak mengerti. “Bantu apa?”

“Kau tahu kan aku dan Suzy berasal dari masa depan. Itu artinya aku bukan Putri Mahkota Jung Soojung seperti yang orang-orang kira. Aku adalah Krystal. Jung Krystal. Bukan Jung Soojung,” kata Krystal. Begitu Ia lihat Myungsoo masih menyimak perkataannya, Ia segera melanjutkan kalimatnya. “Tapi.. aku tidak bisa terus menerus berpura-pura menjadi Putri Mahkota. Aku tidak bisa berpura-pura mencintai Putra Mahkota. Aku tidak bisa berpura-pura anggun di depan Raja dan Ratu apalagi Ibu Suri Park.

“Dan yang lebih gawat, sepertinya Ibu Suri tahu kalau aku bukan Putri Mahkota yang sebenarnya. Aku takut jika Ia mengungkapkan hal itu pada Putra Mahkota atau Raja. Mereka pasti akan menghukumku. Tapi kurasa Ibu Suri belum memiliki bukti untuk membuktikan aku bukanlah Jung Soojung makanya Ia belum memberitahu Putra Mahkota. Karena itu, sebelum jatidiriku ketahuan, bisakah kau membantuku mencari Putri Mahkota yang asli? Kumohon.”

Setelah mendengar cerita panjang lebar dari Krystal, Myungsoo masih berdiam diri. Ia tak yakin akan bisa menemukan Putri Mahkota secepat itu. Bukankah sebelum Krystal muncul, Ia sudah mencari keberadaan Putri Mahkota dimana-mana tapi tak ketemu?

“Kumohon, Myungsoo. Aku tidak ingin mati disini.”

“Eung.. aku tidak janji tapi aku akan mengusahakannya.”

Krystal tersenyum mendengarnya. “Terima kasih, Myungsoo,” ucap Krystal. “Dan terakhir, bisa kau ajak Suzy kesini? Aku merindukannya.”

Ne, aku akan mencobanya, Mama.”

….

Suzy mengintip kediaman keluarga Kim yang terlihat sepi. Sepertinya Tuan Kim dan Myungsoo sedang tidak ada di rumah. Kedua sudut bibirnya tertarik mengukir senyuman saat melihat sesosok gadis berhanbok merah muda yang baru saja keluar dari rumah. Suzy pun segera menghampiri gadis itu.

“Sohyun-ah…,” panggil Suzy.

Gadis berhanbok merah muda yang merupakan Sohyun itu menolehkan kepalanya. Ia tersenyum lebar begitu menyadari siapa yang baru saja memanggilnya.

Eonnie!” pekik Sohyun seraya menghampiri Suzy. “Aku senang Eonnie kemari. Disini sepi sekali. Orabeoni sedang ada urusan di istana sedangkan Ahbeoji sedang kerja. Aku jadi kesepian,” keluh Sohyun. “Heh.. aku benar-benar merindukanmu, Eonnie.”

Suzy tersenyum tipis mendengarnya.

“Baru kutinggal sebentar saja sudah merindukanku. Aku kan baru pergi tadi pagi,” kata Suzy.

Sohyun mengerucutkan bibirnya. “Eonnie kan tahu aku ingin punya saudara perempuan.”

“Kan ada calon istrinya Myungsoo.”

“Aku tidak mengenalnya, Eonnie. Lagipula mereka kan belum lama mengadakan pertemuan. Pernikahan juga belum dibicarakan lebih lanjut. Dan lagi Orabeoni juga tidak mengenalkannya padaku,” kata Sohyun menceritakan keluh kesahnya.

Suzy menyipitkan matanya. “Berarti kalau kau sudah mengenalnya, kau akan melupakan Eonnie, begitu?” celetuk Suzy.

“Bukan begitu. Aku tidak akan melupakan Eonnie.”

Suzy yang mendengarnya pun terkekeh pelan.

Cklek…

Baik Sohyun maupun Suzy sontak menolehkan kepalanya saat mendengar suara pintu yang terbuka. Suzy menghela nafas lega karena yang datang adalah Myungsoo, bukan Tuan Kim. Bagaimanapun Ia merasa tidak enak pada Tuan Kim jika pria itu mendapatinya tengah bercanda bersama putrinya di rumahnya.

Eoh, kau disini….”

“Myungsoo-ya, kau sudah pulang?” sapa Suzy.

Myungsoo menganggukkan kepalanya sambil menyunggingkan seutas senyum.

“Ah sebentar, sepertinya aku meninggalkan sesuatu tadi. Eonnie, maaf ya, aku harus melanjutkan pekerjaanku. Maaf aku tidak bisa menemanimu. Eonnie mengobrol saja dengan Orabeoni,” kata Sohyun tiba-tiba.

Suzy tersenyum tipis. “Tidak perlu. Aku hanya mampir sebentar. Ini juga aku mau pulang.”

“Cepat sekali…,” keluh Sohyun.

“Kapan-kapan Eonnie akan kemari lagi dan mengajakmu jalan-jalan.”

“Janji ya?”

Eoh.”

Sohyun pun beranjak memasuki rumah sambil tersenyum riang. Sedangkan Suzy hanya tersenyum tipis melihat kelakuan Sohyun yang entah mengapa begitu bersemangat jika bertemu dengannya.

Uri Sohyunie, sepertinya dia menyukaimu.”

Suzy menolehkan kepalanya menghadap Myungsoo lalu menatapnya dengan kening berkerut. “Apa? Dia perempuan dan aku perempuan. Mana mungkin menyukaiku,” balas Suzy.

“Bukan itu maksudku. Sohyun menyukaimu sebagai kakaknya,” kata Myungsoo, menjelaskan ucapannya sebelumnya yang disalah artikan oleh Suzy.

Geure? Aku juga berpikir begitu.”

Hening. Baik Suzy maupun Myungsoo sama-sama bingung harus mengatakan apa. Entahlah tapi mereka merasa ada sesuatu yang mengganjal dan itu membuat mereka canggung satu sama lain.

“Oh iya, aku mau pulang. Myungsoo-ya, aku pulang dulu ya. Annyeong!”

“Suzy-ah, jamsimanyo!”

Suzy menghentikan langkah kakinya. “Apa?”

“Aku akan mengantarmu. Tidak baik seorang gadis berjalan-jalan seorang diri,” kata Myungsoo membuat Suzy tersenyum tipis. Ia tidak menyangka Myungsoo mempunyai sisi lembut seperti ini.

“Myungsoo…,” panggil Suzy begitu mereka melangkahkan kaki keluar dari kediaman keluarga Kim.

“Hem?” sahut Myungsoo.

“Tadi… kau memanggilku apa?”

Myungsoo menautkan kedua alisnya. “Em? Suzy sepertinya.”

“Bukan,” sahut Suzy.

“Memang aku memanggilmu apa?”

“Ishhh… baru sebentar saja lupa. Kau memanggilku Suzy-ah, bukan Bae Suzy atau Suzy-ssi,” kata Suzy, mencoba menjelaskan pada Myungsoo bagaimana pemuda itu memanggil namanya tadi.

“Aku tidak sadar. Memangnya kenapa?”

“Entahlah. Aku senang saja. Itu artinya kita menjadi lebih dekat. Aku memanggilmu Myungsoo-ya, dan kau memanggilku Suzy-ah. Kita sudah seperti sepasang sahabat saja,” celoteh Suzy.

Hmm….”

.

.

“Sudah sampai.”

Suzy memutar tubuhnya menghadap Myungsoo. “Kau tahu, entah hanya aku saja atau kau juga merasakannya tapi aku merasa hari ini kita canggung sekali. Aku penasaran apa karena kau akan menikah? Tapi kurasa juga bukan karena itu. Entahlah…,” kata Suzy sambil menatap Myungsoo sedangkan pemuda itu hanya berdiam diri di tempatnya sambil membalas tatapan Suzy.

“Rasanya benar-benar tidak nyaman kalau canggung begitu. Tapi tadi tiba-tiba kau memanggilku ‘Suzy-ah’ dan setelah itu aku merasa kecanggungan yang sempat menyelimuti kita itu luntur. Karena itu,” Suzy menjeda sebentar kalimatnya sambil menyunggingkan seutas senyumnya pada Myungsoo. “Terima kasih sudah memanggilku begitu dan juga mau menjadi temanku, Myungsoo-ya,” ucap Suzy lalu segera berlari memasuki kediaman keluarga Bae tanpa menghiraukan Myungsoo yang kini tengah mematung di tempatnya.

Myungsoo tersenyum simpul melihat tingkah aneh Suzy.

Yeppeo.

….

Jiyeon menggigiti kuku jari tangannya saat mengingat peristiwa beberapa waktu yang lalu. Lebih tepatnya saat Ia tak sengaja melihat Myungsoo tengah mengobrol bersama seorang wanita sambil berjalan berdampingan.

Jiyeon tengah melihat-lihat berbagai macam perhiasan di pasar saat matanya tak sengaja menangkap sosok Myungsoo di antara orang-orang yang berlalu lalang. Ia tersenyum saat mendapati matanya tak salah melihat. Namun senyumnya memudar saat melihat Myungsoo tengah berjalan bersama seorang wanita.

“Siapa gadis itu?” gumam Jiyeon sambil terus mengamati Myungsoo yang tengah berjalan bersama Suzy.

Tanpa Jiyeon sadari, kakinya mulai bergerak mengikuti kemana Myungsoo melangkah. Ia bahkan meninggalkan pelayannya yang masih sibuk berbincang dengan si pedagang.

Kening Jiyeon berkerut tak suka saat mendapati Myungsoo yang tengah tersenyum pada gadis itu. Ia tak suka jika lelaki yang disukainya tersenyum pada gadis lain. Bahkan Ia saja belum pernah disenyumi oleh Myungsoo.

Jiyeon menghentikan langkahnya dan bersembunyi di balik tembok saat Myungsoo dan Suzy tiba-tiba menghentikan langkah mereka. Ia pun berusaha memasang telinganya baik-baik dan mencoba mendengar percakapan dua orang itu.

“Sudah sampai.”

Jiyeon semakin menatap tak suka saat mendengar suara Myungsoo yang lembut pada Suzy, gadis yang bersama Myungsoo. Apalagi saat tiba-tiba Suzy memutar tubuhnya menghadap Myungsoo. “Genit sekali,” cibirnya.

“Kau tahu, entah hanya aku saja atau kau juga merasakannya tapi aku merasa hari ini kita canggung sekali. Aku penasaran apa karena kau akan menikah? Tapi kurasa juga bukan karena itu. Entahlah….”

Jiyeon tersenyum sinis. “Dia tahu Myungsoo akan menikah tapi tetap saja menggodanya.”

“Rasanya benar-benar tidak nyaman kalau canggung begitu. Tapi tadi tiba-tiba kau memanggilku ‘Suzy-ah’ dan setelah itu aku merasa kecanggungan yang sempat menyelimuti kita itu luntur. Karena itu…” Suzy menghentikan sejenak perkataannya sedangkan Jiyeon sudah mendelik begitu mendengar perkataan Suzy. Myungsoo memanggil gadis itu dengan akrab? Astaga! Ia bisa gila!

“Terima kasih sudah memanggilku begitu dan juga mau menjadi temanku, Myungsoo-ya,” ucap Suzy lalu segera berlari memasuki kediaman keluarga Bae tanpa menghiraukan Myungsoo yang kini tengah mematung di tempatnya.

“Omo! Myungsoo tersenyum lagi pada gadis itu! Bahkan setelah gadis itu pergi!” pekik Jiyeon tertahan.

“Ini tidak bisa dibiarkan! Mana bisa mereka berduaan begitu sedangkan Myungsoo adalah calon suamiku! Ahh!! Ini membuatku gila!”

Jiyeon  menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha menepis kejadian tadi. Namun berkali-kali Ia mencoba melupakan peristiwa yang membuatnya kesal itu, berkali-kali pula kejadian itu memenuhi kepalanya.

“Arghh!!” geram Jiyeon.

….

Joohyun tengah memasak makanan di dapur dibantu oleh Suzy saat tiba-tiba Suzy menghentikan pekerjaannya lalu menatap Joohyun seolah ingin menanyakan sesuatu. Joohyun yang melihatnya pun bingung.

“Ada apa, Suzy-ah?”

“Joohyun Eonnie, apa menurutmu ada seseorang di keluargamu yang mengenal seseorang bermarga Choi?” tanya Suzy.

Lagi-lagi Joohyun menatap Suzy bingung. “Kau menanyakan tentang itu lagi?”

“Itu.. aku hanya penasaran.”

“Tidak ada yang perlu dipenasarankan. Kami tidak ada yang mengenal keluarga Choi. Aku sudah memastikannya. Ayahku, ibuku juga, bahkan mendiang kakekku juga sepertinya tak ada yang mengenal seseorang bermarga Choi,” jelas Joohyun membuat Suzy pun akhirnya menyerah. Sepertinya memang bukan keluarga Bae yang ini yang dimaksud kakeknya.

“Suzy….”

Suzy memalingkan pandangannya saat mendengar suara Ny. Bae yang memanggilnya dari luar dapur. Suzy pun segera keluar menghampiri Ny. Bae yang sedikit tertatih karena kandungannya yang semakin membesar.

Eomonim, seharusnya Anda di kamar saja. Aku tidak ingin kandungan Anda kenapa-napa,” kata Suzy sambil menuntun Ny. Bae untuk duduk.

Gwaenchanhayo. Berjalan-jalan begini akan membuatku lebih mudah saat melahirkan nanti,” balas Ny. Bae.

Suzy tersenyum mendengarnya. “Ada apa memanggilku, Eomonim?” tanya Suzy.

“Ah, itu, ada temanmu di depan. Temanmu yang datang bersamamu saat kau pindah kesini,” jawab Ny. Bae.

Myungsoo. Suzy tahu pasti yang dimaksud Ny. Bae adalah Myungsoo. Tapi untuk apa Myungsoo kemari? Apa Ia meninggalkan sesuatu di rumahnya kemarin? Atau Sohyun tiba-tiba merindukannya?

Setelah mengantarkan Ny. Bae masuk ke dalam rumah, Suzy pun bergegas menemui Myungsoo. Pemuda itu kini tengah berdiri sambil bersandar pada tiang kayu penyangga rumah. Entah mengapa muncul niat iseng Suzy untuk menjahili Myungsoo.

Suzy pun berjalan mengendap-endap ke arah Myungsoo. Tangan kanannya terulur, bersiap untuk mengagetkan pemuda itu.

“Aku bisa melihat bayanganmu, Bae Suzy,” celetuk Myungsoo membuat Suzy pun menghentikan langkahnya. Bibirnya mengerucut sebal karena tak berhasil mengerjai Myungsoo.

“Ada apa kau kemari?” tanya Suzy datar. Ia masih kesal karena tak bisa mengagetkan Myungsoo tadi.

“Aku? Menjemputmu.”

“Mau kemana?”

“Ke istana. Putri Mahkota ingin bertemu denganmu,” balas Myungsoo.

Suzy berdecak pelan mendengar Myungsoo yang masih menyebut Krystal sebagai Putri Mahkota. “Sudah kubilang dia Krystal. Bukannya kau mulai mempercayaiku?”

“Aku tidak bisa hanya memanggilnya dengan namanya saja. Mau dia adalah Krystal atau Putri Mahkota Soojung, tetap saja sekarang Ia adalah Putri Mahkota.”

Suzy mendengus mendengarnya. “Terserah kau sajalah,” celetuk Suzy. “Kalau begitu aku mengganti bajuku dulu dan berpamitan pada orang rumah. Tunggu sebentar ya.”

Myungsoo tersenyum simpul sambil menatap punggung Suzy.

….

Di salah satu sudut istana, tepatnya di tepi sebuah kolam ikan di dekat kediaman Putra Mahkota, Howon dan beberapa dayangnya tengah berdiri sambil menikmati cuaca hari itu. Walaupun matahari bersinar penuh semangat hari itu, namun semilir angin yang cukup kencang tak membuat panas yang dipancarkan matahari begitu terasa.

Myungsoo dan Suzy melangkah perlahan menghampiri Putra Mahkota.

Choha…,” panggil Myungsoo membuat Howon menolehkan kepalanya. Ia pun membungkukkan tubuhnya memberi hormat diikuti Suzy yang berdiri di sampingnya.

“Myungsoo-ya, kau bersama teman Putri Mahkota?” tanya Howon.

Myungsoo melirik Suzy sekilas lalu menatap Howon lagi. “Ne, Choha. Putri Mahkota bilang ingin bertemu dengan temannya jadi saya menjemputnya saat dalam perjalanan kemari,” jawab Myungsoo.

Howon mengangguk mengerti.

Setelah itu, Suzy pun pamit undur diri dan segera beranjak menuju kediaman Putri Mahkota.

“Ah, lebih baik kita pergi ke ruanganku,” kata Howon seraya melangkahkan kakinya menuju bangunan yang berada tak jauh dari tempatnya berada.

Namun baru beberapa langkah rombongan Putra Mahkota itu bergerak, sebuah suara dari seorang pria paruh baya membuat rombonan itu berhenti melangkah. Howon menatap sedikit tak suka pada pria di hadapannya.

“Apa yang kau lakukan disini, Menteri Park?” tanya Howon datar.

“Saya hanya ingin menemui Yang Mulia Ibu Suri dan kebetulan sekali bertemu dengan Anda dan… Myungsoo disini,” kata Haejun.

Howon mendelik mendengar bagaimana Haejun memanggil Myungsoo. “Beraninya kau memanggil orangku hanya dengan menyebut namanya saja!”

Haejun terkekeh mendengar Howon yang tak terima Ia memanggil Myungsoo tanpa embel-embel jabatannya. “Aku hanya ingin memanggil calon menantuku dengan akrab, bukankah begitu Myungsoo?”

Kedua alis Howon tertaut bingung. Ia kemudian menatap Myungsoo yang masih diam di tempatnya, lalu menatap Haejun kembali. “Calon menantu?”

“Ah, sepertinya Myungsoo belum bercerita. Keluarga kami telah mengadakan pertemuan untuk pernikahan anak-anak kami, Kim Myungsoo dan putriku, Park Jiyeon. Mereka akan segera menikah, Choha.”

Howon menatap Myungsoo tajam. Ia kesal dengan Myungsoo yang tak memberitahunya apa-apa soal ini padahal pemuda itu setiap hari selalu bertandang ke istana dan menemuinya. Ia lalu berpaling pada Haejun.

“Sepertinya perbincangan akrab antara kau dan calon menantumu harus ditunda karena aku mempunyai urusan dengan pengawalku.”

Setelah mengatakan itu, rombongan Putra Mahkota pun kembali bergerak meninggalkan Park Haejun yang masih berdiri di tempatnya sambil menatap tak suka pada Putra Mahkota Howon.

….

Krystal menghela nafas panjang. Seharian ini Ia begitu bosan. Biasanya ada Putra Mahkota yang mengajaknya mengobrol atau hanya sekedar menemaninya, setidaknya Krystal tidak akan hanya berdiam diri seperti ini. Namun karena peristiwa ‘ciuman tiba-tiba’ itu membuat Krystal beberapa kali menghindari Howon. Ia masih kesal… dan juga sejujurnya Ia malu. Dan lagi perkataan Ibu Suri Park beberapa hari yang lalu terus saja menghantui dirinya hingga membuat Ia lebih banyak di dalam kediamannya. Ia takut jika Ia melakukan sesuatu akan membuat orang-orang curiga akan identitasnya yang sebenarnya.

“Heh… membosankan,” keluh Krystal.

Tingkat kebosanannya sudah benar-benar mencapai puncak. Bahkan Suzy pun sekarang jarang mengunjunginya. Mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan orang-orang. Tapi Ia kan bosan setengah mati jadinya.

“Mama, Nona Bae Suzy datang menemui Anda!”

Krystal mendongakkan kepalanya begitu mendengar teriakan dayangnya dari luar. Raut suram di wajahnya pun kini berganti cerah seiring dengan bibirnya yang tergerak mengukir senyuman.

Setelah mempersilahkan Suzy masuk, Krystal pun kembali memasang senyumnya, bersiap untuk menyambut sahabat karibnya itu.

“Suzy-ah!!!!!” pekik Krystal begitu sepasang kaki milik Suzy menapak di lantai ruangan Putri Mahkota. Gadis itu langsung saja beranjak berdiri dan menghampiri Suzy, lalu memeluknya erat.

Ya! Ya! Ya! Apa yang kau lakukan? Krystal-ah! Aku tidak bisa bernafas!”

Mendengar perkataan temannya pun membuat Krystal melepaskan tautannya. Ia menatap Suzy sebal dengan bibir mengerucut. “Eish.. aku kan merindukanmu! Kau ini kemana saja tidak pernah mengunjungiku?” cerca Krystal.

Mian. Aku kan tidak mungkin sering-sering datang ke istana,” sahut Suzy.

“Eish… pasti kau sibuk berduaan dengan Kim Myungsoo itu! Iya kan?”

“Kau bercanda! Mana mungkin!”

Krystal pun mengulurkan tangannya dan menarik Suzy untuk duduk di hadapannya.

“Kudengar dari Myungsoo kau sudah tidak tinggal di rumahnya, kenapa?” tanya Krystal.

“Memang dia tidak menceritakan alasannya?”

Krystal menggelengkan kepalanya. “Ani. Dan aku lupa menanyakannya.”

“Sebenarnya aku pindah karena merasa tidak enak dengan keluarga Kim dan juga keluarga Park. Ah, keluarga Park itu akan menjadi besannya keluarga Kim. Jadi Kim Myungsoo dan putri dari keluarga Park itu dijodohkan. Kalau Myungsoo menikah, otomatis istrinya pun tinggal di kediaman keluarga Kim dan karena aku bukan keluarganya dan juga aku seorang wanita, jadi aku harus pindah,” jelas Suzy.

“Ishh… untung saja kau dapat tempat tinggal. Kalau saja kau tidak dapat, aku akan memaksa Putra Mahkota agar mengijinkanmu tinggal di istana.”

Suzy terkekeh mendengar perkataan Krystal. Ia kemudian teringat sesuatu. “Kudengar wanita yang dijodohkan dengan Myungsoo itu mantan calon Putri Mahkota. Jadi kalau Jung Soojung tidak jadi Putri Mahkota, dialah yang jadi Putri Mahkota itu.”

Jinjja? Jangan bilang kalau aku tidak muncul pun gadis itu yang akan menggantikan Jung Soojung!”

Kedua alis Suzy tertaut tak setuju dengan apa yang dikatakan temannya. “Maldo andwae. Ini bukan drama, Krystal-ah. Jangan kau samakan dengan drama-drama sageuk yang kau tonton!”

Aniya. Menurutku mungkin saja benar,” bantah Krystal. “Coba pikirkan, Jung Soojung terpilih menjadi Putri Mahkota, itu artinya putri keluarga Park yang kau maksud itu tidak terpilih. Lalu, klan dari keluarga itu membuat Soojung menghilang agar bisa membuat putri keluarga Park menjadi penggantinya. Tapi tiba-tiba saja aku muncul makanya dia tidak jadi diangkat menjadi Putri Mahkota. Setelahnya dia dijodohkan dengan Myungsoo. Bukankah skenario-ku cocok sekali?”

“Emm.. begitukah?”

Krystal menganggukkan kepalanya penuh semangat seolah telah memecahkan sebuah teka-teki paling sulit di dunia.

“Dan kalau dilihat dari marganya, keluarga Park itu pasti masih mempunyai hubungan dengan Ibu Suri Park. Kau tahu, kalau tidak salah dua atau tiga hari yang lalu, Ibu Suri Park menemuiku dan bertanya siapa aku. Sepertinya dia tahu kalau aku bukan Putri Mahkota yang asli. Bukankah aneh dia bisa tahu? Pasti menghilangnya Jung Soojung ada hubungannya dengan keluarga itu. Ibu Suri Park dan keluarga Park,” jelas Krystal panjang lebar.

Suzy mengerutkan keningnya, mencoba mencerna sedikit demi sedikit penjelasan yang dituturkan Krystal.

Geunde.. sepertinya aku harus bersyukur. Kalau Myungsoo dijodohkan dengan putri keluarga Park, bukankah itu artinya Ibu Suri Park tidak akan mengusikku lagi? Karena mau dia mengungkapkan identitasku ataupun tidak, putri keluarga Park itu tidak akan bisa menempati posisi ini. Jadi Ibu Suri pasti menyerah.”

Suzy masih bertahan dalam diamnya.  Kalau Myungsoo dijodohkan dengan putri keluarga Park… entah mengapa ada yang aneh. Mengapa Ia terus memikirkan soal perjodohan Myungsoo. Ia kan bukan siapa-siapanya Myungsoo.

“Suzy-ah! Suzy-ah!”

Eoh?” balas Suzy begitu sadar dari lamunannya.

Gwaenchanha? Kau banyak berdiam diri hari ini.”

Eoh, nan gwaenchanha.

….

“Jadi yang dikatakan Menteri Park tadi… benar? Kau akan menikah?” tanya Howon begitu Ia telah sampai di kediamannya. Ia menatap Myungsoo yang duduk bersimpuh sambil menundukkan kepalanya.

Jwesonghamnida, Choha. Apa yang dikatakan Menteri Park adalah yang sebenarnya,” jawab Myungsoo.

Howon tersenyum tipis mendengarnya. “Kenapa kau meminta maaf? Aku tidak akan marah padamu hanya karena kau akan menikah. Aku hanya terkejut dan sedikit kesal karena kau tidak memberitahuku,” balas Howon. “Tapi… kenapa keluarga Park bisa menjodohkan putrinya denganmu? Ini aneh karena yang kutahu, pria itu selalu berusaha untuk membuat putrinya bisa menikah denganku. Apa dia mulai menyerah karena Soojung-ku sudah kembali?”

“Saya kurang tahu, Choha.”

“Apapun itu… aku rasa ini hal yang bagus. Selama kau tidak akan mengkhianatiku, aku akan mendukung apapun keputusanmu, Myungsoo-ya.”

Myungsoo menganggukkan kepalanya sekali dengan sangat pelan. Ia bahkan belum membuat keputusan apa-apa tentang perjodohannya. Bukankah Ia tidak ingin perjodohan ini? Tapi mengapa tidak ada yang mengertinya? Seandainya saja Krystal tidak ada, Ia pasti tidak akan dijodohkan dengan Park Jiyeon. Ah… mengingat Krystal, Ia jadi ingat permintaan gadis itu untuk segera menemukan Putri Mahkota.

“Myungsoo, kau tidak mendengarkanku?”

Jwesonghamnida, Choha. Saya pantas mati.”

….

Seorang wanita dengan hanbok berwarna biru tengah berjalan sambil mengendap-endap. Sesekali Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak akan ada orang yang melihat Ia berkeliaran di tempat ini.

Begitu dipastikannya tidak ada orang, Ia pun segera melangkahkan kakinya menghampiri seorang dayang berhanbok hijau. Ia membisikkan sesuatu pada dayang tersebut membuat dayang tersebut mengangguk mengerti dan mempersilahkannya masuk ke dalam sebuah bangunan.

Mama, dayang dari kediaman Putri Mahkota datang menemui Anda,” ucap dayang tersebut pada seorang wanita paruh baya dengan hanbok berwarna keemasan di hadapannya. Ia pun membungkukkan tubuhnya sebelum beranjak keluar dari ruangan dan meninggalkan wanita tadi bersama di wanita paruh baya yang Ia panggil ‘Mama’.

Ibu Suri Park menyesap pelan tehnya lalu menatap dayang muda yang ada di hadapannya.

“Kau sudah melakukan apa yang kusuruh?”

Ne, Mama,” jawab dayang tersebut.

“Katakan.”

Dayang tersebut terdiam sejenak, lalu mulai membuka mulutnya. “Sesuai yang Anda katakan, saya mendengar kalau Putri Mahkota menyebut dia bukanlah Putri Mahkota. Dia juga menceritakan tentang Anda yang mengunjunginya beberapa hari yang lalu pada temannya,” kata dayang tersebut.

Ibu Suri Park tersenyum sinis. Sesuai dugaannya. Gadis yang menempati kediaman Putri Mahkota sekarang bukanlah Putri Mahkota yang asli.

“Sudah kuduga,” gumam Ibu Suri Park pelan. “Kau kembalilah ke kediaman Putri Mahkota sekarang dan jangan sampai ada satupun yang melihatmu keluar dari sini. Kau mengerti?”

Ne, algeusseumnida, Mama.”

….

TBC

….

Aku tahu ini udah kebangeten banget karena aku lamaaaaaa banget nggak ngelanjutin ff ini. Alesannya, pertama aku lagi fokus buat masuk perguruan tinggi waktu itu (dan sampai sekarang sebenernya belum kelar ngurusnya, walopun sebenernya ga banget-banget sih). Aku cuman nggak mau keteteran aja gara2 keasikan bikin ff. Kedua, kadang (enggak ding tapi sering banget) ide suka hilang begitu aku buka file ff ini. Tapi alhamdulillah tadi pas buka jadi semangat lagi buat ngelanjutin chapter 11 (sebenernya aku udh bikin chapter ini lamaaaaa banget tp mutusin buat kirim pas udh mulai ngetik chapter 11). Ketiga, aku lagi fokus ke infinite dibandingin ff dan myungzy. Apalagi infinite habis comeback (AHHH DAN KEREN BANGET!!! LOVE LETTER, BAD, DAN SUNGGYU OPPA BENER-BENER MENUHIN PIKIRAN AKU) dan bakal banyak hal yang menanti buat di download, streaming, vote, dsb. Keempat, feel myungzy aku nggak sesama dulu dan aku berharap ini nggak mempengaruhi ffku. Tapi tenang aja karena aku tetep myungzy shipper apapun yang terjadi.

Huah. Kayak ngetik pidato panjang banget.

Makasih buat reader yang selalu nunggu. Komen-komennya juga makasiiiiih banget. Jadi, jangan lupa RCL yaaaaaa😀

51 responses to “[Freelance] New Destiny Chapter 9

  1. wahh.. ibu suri udah tau rahasianya, apa identitas krystal bakal kebongkar??
    semoga myung cepet nemuin putri mahkota soojung, dan batalin pernikahannya sama jiyeon

  2. ya ampun kpan myungzy saling suka”an wkwk.. ibu suri naruh mata” di kediaman putri mahkota.. bahaya itu brarti

  3. Nah kan akhirnya mulai terungkap siapa yg nyembuiin putri mahkota ya meakipun br perkiraan krystal doang tp lumayan bs membuat suzy berpikir
    Aigoo suzy psti khawatir klo myungsoo jd nikah sm jiyeon…suzy ga mau myungsoo tersakiti hehe
    Ceritanya smkin menyenangkan buat myungzy…interaksi mereka sbg sahabat seru bgt aplgi kepribadian mereka yg berbeda suzy yg ceria dan myung yg pndiam membuat mereka nampak cute
    Aku jg lg sibuk2 nya nontonin semua berita ttg comebacknya infinite…they’re so adorable…I love Bad so much
    ditunggu kelnjutannya ne…semoga ga lama2 ne author

  4. sangPutri mahkota yg sebenarnya itu di mana?
    sepertinya Suzy mulai suka sama myungsoo kan?

  5. Aigooo jinjja si jiyeon ih asli pingin dibuat perkedel kenapa sih harus ke myungsoo kasian uri suzy:(((( greget asli sama sama suka udah lah tembak aja selama janut kuning blm melengkung kkk

  6. Rasanya pen nelen ibu suri park hidup” kk :v duhh tuh org ngeselin bgt. Gimana nasib myungzy selanjutnya yah? Aahh gk bisa ngebayangin kalo myung beneran nikah ntar ama jiyeon

  7. ternyata ada mata2…tuan park jg mencurigakn…knp dia semudah itu jodohin myung sma jiyeon…
    myungzy msh belom sadar sm perasaan msing2 nih…

  8. Duh, itu jiyeon apa sih, pake ngintil(?) mereka :v tidak bagus jika ibu suri dan jiyeon bersatu buat mengusir suzy & krystal. Btw, apa kabar soojung?

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s