END (5/?

end-mybabysuzy-copy

END

KIM MYUNGSOO | BAE SUZY

KKANG SORA

HURT | SAD | MARRIED LIFE

Story line by mybabysuzy or RSA
Poster by rosalia ocha@ochedreamstories

*****************************************************************************************************************************

‘Kim Myungsoo, CEO termuda dengan citra bersihnya telah menikah dengan putri dari BAE GROUP? Hal apa yang membuat mereka menutupi pernikahan mereka yang telah berusia 2 tahun? Apakah pernikahan ini hanya sebagai hubungan bisnis belaka?’

Myungsoo mendengus membaca artikel mengenai pernikahannya itu. Padahal sudah lebih dari satu minggu semenjak dia memberikan pernyataan ketika pemakaman ayah mertuanya itu. Tetapi, manusia- manusia pencari berita itu tetap saja membahas hubungan pernikahannya sebagai berita utama.

Myungsoo juga telah mengadakan konferensi pers dan menceritakan tentang pernikahannya ini kepada seluruh dunia. Dan jelas- jelas dia menyatakan bahwa pernikah ini dilandasi oleh cinta dari kedua belah pihak. Mengapa manusia- manusia itu terus membahas masalah ini? Menyebalkan.

‘Mengapa istri CEO termuda kita tidak ikut dalam konferensi pers tiga hari yang lalu? Apa terjadi sesuatu diantara pernikahan mereka?’

Kali ini bukan hanya dengusan kesal ketika pria itu membaca artikel terpanas yang masih hangat menjadi perbincangan. Myungsoo bahkan menggertakan giginya kesal lantaran tak habis pikir dengan artikel tersebut. Mengapa manusia itu tetap membahas kehidupan pribadinya?

Karena tidak bisa menahan kesal, Myungsoo segera menyambar ponselnya dan menghubungi sekertarisnya. Dia harus menyelesaikan semua ini sekarang juga, dia tidak bisa membiarkan para netizen it uterus menerus membahas hal buruk tentangnya. Bisa tamat citra bersih yang selama ini ia jaga baik- baik.

“Yeobseyeo, sajangnim?”

“Lee biseo, cepat beritakan kepada awak media jika istriku sakit hingga tidak bisa menghadiri konferensi pers tiga hari yang lalu! Dan buat mereka berhenti menulis artikel tentang diriku! Jika tidak, tuntun saja mereka karena terlalu mengurusi kehidupan pribadiku! Jigeum danjang!”

“N.. ne?”

“Sudah kubilang cepat lakukan! Danjangrago!”

“Ah.. ye, sajangnim.”

Ponsel canggih hitam itu terhempas kasar di meja kaca yang menjadi tempat Myungsoo berkerja, pria itu melonggarkan dasinya berharap hawa sesak tidak menggelayutinya lagi. Amarahnya begitu besar saat ini, melihat berapa banyak manusia yang mencoba untuk membuat citranya terjatuh. Myungsoo muak!

Sejenak, pria itu melirik jam tangan yang bertengger manis di pergelangan tangan kirinya. Hembusan nafas kasar keluar begitu saja melihat angka yang ditunjukkan jam berharga selangit itu.

Satu minggu terakhir ini, Myungsoo sengaja menyibukkan dirinya agar ia tak berlama- lama dirumah bersama istrinya. Jika dia melihat wajah Soooji, perasaan bimbang menggelayuti dirinya akibat perkataan Sora tempo hari. Pria itu tidak bisa pungkiri bahwa ada setitik rasa iba kepada wanita itu. Tetapi, ego-nya lah yang membuat rasa iba itu lenyap begitu saja.

Saat ini sang mentari baru saja mengundurkan dirinya, berbalik arah agar sisi bumi lainnya merasakan sinar hangatnya. Sejenak pria ini memikirkan sesautu, menimang hal konyol yang seharusnya tidak dia pikirkan. Tentunya, Myungsoo sedang memikirkan Sooji.

Myungsoo jelas tahu Sooji tidak pernah mengisi perutnya semenjak Sora tiba- tiba saja menghilang –tanpa ia tahu alasanya- dan Nenek Han yang ikut mengilang. Bahkan wanita itu terlihat seperti mayat hidup yang mengerikan. Wajah tirusnya, lingkaran hitam yang menghiasi kedua matanya yang bengkak, tubuhnya yang semakin mengurus. Terlihat sangat memprihatinkan.

Sudah Myungsoo katakan, egonya terlalu besar hanya sekedar untuk membujuk Sooji agar wanita itu mengisi perutnya. Yang dipikirkan olehnya hanyalah fakta bahwa wanita ini adalah penghancur hidupnya dan melupakan sebuah fakta bahwa wanita itu juga tersakiti karenanya. Telinga dan hati Myungsoo telah tertutup untuk wanita itu, Sooji, istrinya.

‘Drt… Drt..’

Tangan Myungsoo kembali terulur mengambil ponselnya dan membukanya dengan cepat. Di dahi-nya terlukis kerutan halus begitu melihat notice pesan. Siapa yang mengiriminya pesan?

‘Aku Sora, kau pasti ingat kepadaku. Aku diharuskan untuk meninggalkan Sooji karena tugas dari pihak rumah sakit. Dan hari ini aku baru sempat untuk mengingatkan hal ini. Aku pergi tiga hari yang lalu, aku yakin kau tetap tidak memperhatikannya, bukan? Aku mohon bujuklah Sooji untuk mengisi perutnya meski hanya sehari sekali. Sooji memiliki penyakit mag. Ponselnya tidak bisa dihubungi, aku sangat khawatir. Aku mohon kepada-mu, Myungsoo-ssi.’

Kembali Myungsoo menghembuskan nafasnya kasar. Hanya kali ini. Hanya kali ini Myungsoo bersedia menuruti permintaan dari Sora, dan membuang egonya itu. Lagipula, dia tidak mungkin membiarkan wanita itu mati, kan? Bisa habis jika media tahu bahwa istirnya mati karena kelaparan. Sh*t, Myungsoo tak bisa membayangkan hal itu!

**********************

Sooji mengerang kecil ketika rasa sakit menyerang perutnya tiba- tiba. Ini bukan pertama kalinya perutnya berkontraksi akibat tidak diberi asupan nutrisi olehnya, tetapi bukan Sooji namanya jika dia tidak keras kepala. Selera makannya juga tidak ada, membuat Sooji tidak mengisi perutnya meski Sooji ingat bahwa ia memiliki penyakit maag.

Susah payah Sooji mendudukan dirinya, kemudian mencengkram perutnya yang semakin terasa sakit. Sooji bersumpah, dari segala rasa sakit yang menyerang lambungnya kali inilah yang tersakit dari semuanya. Bahkan ringisan tertahan yang tidak pernah Sooji keluarkan kini sukses tercipta dari bibir keringnya.

“Sudah puas mogok makannya, Sooji-ssi? Kurasa saatnya untuk berhenti melakukan tindakan bodoh-mu itu.”

Sooji mendongakkan kepalanya. Alangkah terkejutnya saat dia melihat sosok pria yang sangat dikenalnya sedang berdiri diambang pintu dengan sebuah nampan, tak lupa senyum sinis menghiasi wajah tampannya.

“Sedang apa kau disini, tuan?” Ujar Sooji pelan dengan nada tak kalah sinis.

Myungsoo nampak mengangkat kedua bahunya acuh, dan lebih memilih untuk berjalan menghampri Sooji dan duduk diranjang besar itu daripada meladeni perkataan sinis yang ditujukan kepadanya itu.

“Jangan salah paham, nona. Aku melakukan ini karena paksaan dari dokter tersayang-mu itu. And well, aku tidak mungkin membiarkan istri-ku ini mati karena kelaparan. Bagaimana reaksi media jika mengetahui hal ini? Cih, membayangkannya saja membuatku takut.”

Sooji terdiam. Amarahnya meradang sekaligus rasa perih yang menghantui hatinya. Pada awalnya Sooji sempat berpikir bahwa suaminya itu memberinya sedikit perhatian tulus untuknya. Tetapi, lagi- lagi Sooji salah dan harapan konyol itu tak terwujud. Dan tetap menjadi sebuah khayalan belaka.

“Kau tidak perlu takut, tuan Kim. Aku tidak mungkin mati karena kelaparan dan aku bisa mengurusi diriku sendiri, tuan.”

Sebuah tawa sinis tercipta dari bibir tipis milik Myungsoo. Pria itu bertingkah layaknya tengah melihat sebuah adegan lucu yang sekaligus membuatnya meras geli.

“Mengurus dirimu? Mengurus dengan membuat nyawamu melayang secara perlahan? Jangan bersikap naif, Sooji-ssi. Minum saja obat ini dan makanlah bubur ini, sebelum aku berubah pikiran dan membiarkanmu mati disini.”

Sooji tertunduk. Tangisnya hampir pecah mendengar kalimat kasar secara tak langsung yang Myungsoo lontarkan. Dadanya terasa sesak mendengar seakan suaminya ini mengharapkan dirinya untuk meninggalkan dunia ini secepatnya.

Gelengan kecil Sooji ciptakan seraya dia menarik nafasnya dalam sebelum menghembuskannya perlahan. Kemudian, Sooji ulurkan tangannya untuk meraih obat mag itu dan kemudian mengambil mangkuk berisi bubur dan melahapnya perlahan.

“Jadilah wanita penurut seperti ini. Aku tidak akan melukai-mu jika kau sepenurut ini, nona. Sayangnya kau selalu tidak menurut jika aku perintahkan untuk mengikuti permainanku.”

Sooji berusaha untuk menutup telinganya rapat agar dirinya tak mendengar kalimat kasar yang membuat lukanya semakin mendalam. Hingga pria itu melengos pergi dari hadapannya, cairan bening itu mulai tumpah berjatuhan meski tangannya sibuk memasukan bubur tersebut. Susah payah Sooji meredamkan isak tangisnya, namun apa daya isak tangisnya tak mampu dia tahan dan membuat isaknya menggema di seluruh penjuru kamarnya. Menyedihkan.

****************

Sooji menatap pantulan tubuhnya di cermin besar itu sendu. Dirinya terlihat cantik setelah berdandan sedmikian rupa, namun tubuhnya yang begitu kurus itu membuatnya terlihat begitu menyedihkan.

Hari ini, kedua mertuanya telah sadar setelah melewati koma panjangnya. Dan Myungsoo memintanya untuk menemani menjenguk orang tuanya, karena dapat dipastikan para wartawan itu akan merekam kejadian hari ini. Sooji bisa mengerti bagaimana jika dirinya takkan hadir hari ini. Dunia bisa gempar karena berita tentang kehidupan dan pernikahannya seperti beberapa hari silam.

“Cepatlah sedikit!”

Sooji terperanjat kaget begitu mendengar pekikan dari suaminya itu. Dengan cepat Sooji memutar tubuh kurusnya dan meraih tas jinjingnya dan segera menghampiri suaminya yang sudah menunggunya di ambang pintu.

“Kau jangan menjawab apapun pertanyaan dari wartawan, kau hanya perlu mengumbar senyummu itu. Dan biarkan aku yang menjawab semuanya. Kau mengerti?”

Sooji hanya mengangguk seklilas dan lebih memilih untuk berjalan terlebih dahulu, meninggalkan Myungsoo yang berada dibelakang yang sedang menggerutu karena sikap kasarnya itu.

Well, Sooji tidak boleh lemah seperti dahulu. Meski keputusan itu belum Sooji pastikan, tetapi setidaknya selama dirinya menyakinkan hatinya untuk memilih Sooji tidak boleh lemah seperti dahulu. Setidaknya suaminya harus merasakan bagaimana jika seseorang tak dihiraukan. Myungsoo harus merasakanya.

*********************

Myungsoo dan Sooji kini telah berada di lift yang akan mengantarkan mereka ke lantai kamar orang tua Myungsoo. Sebenarnya tak hanya sepasang suami istri yang berada di lift tersebut, beberapa bodyguard bertubuh kekar juga berada di lift tersebut yang bertugas untuk membuka jalan dari para wartawan yang pasti sudah menunggu kedatangan sepasang suami itu.

Saat angka yang ditujukan lift hampir tiba di lantai kamar orangtua Myungsoo, tanpa ragu pria bernama Myungsoo itu menggenggam lembut tangan istrinya. Membuat Sooji terkesiap, susah payah Sooji berusaha untuk menetralkn jantungnya yang mulai berdegup kencang. Tangan mungil yang digenggam oleh sang suami mulai berkeringat akibat kegugupan yang melandanya. Dan Myungsoo menyadari hal itu.

“Ck, kau gugup, nona?”

Sooji tak menjawab, wanita itu lebih memilih untuk membungkam mulutnya. Ingin menyangkal toh percuma saja, siapa pun yang melihat wajahnya yang berkeringkat dingin seperti ini sudah pasti mengetahui bahwa kegugupan melandanya. Sooji yakin akan hal itu.

“Kau ingat apa yang kukatakan, bukan? Jangan menjawab dan hanya menyebar senyum-mu itu, kau mengerti?”

Lagi dan lagi Sooji tidak menjawab. Wanita itu hanya mengangguk kecil dengan pandangan lurus ke depan, entah apa yang diperhatikannya. Kesadarannya tersita untuk menetralkan jantungnya yang terus berpacu cepat itu. Sooji berharap waktu berputar lebih cepat sekarang sebelum urat malunya itu terlihat.

***********

Sooji dan Myungsoo melangkahkan kaki mereka memasuki ruangan VIP dimana orang tua Myungsoo dirawat, sementara beberapa bodyguard mereka berjaga diluar setelah menyelesaikan tugas mereka, yaitu membuka jalan dari para wartawan itu.

“Eo, wasseo?” Sapa sang ayah yang telah berada dikursi roda.

Well, cedera yang di alami ayah Myungsoo tidaklah seburuk ibu Myungsoo yang kini masih berbaring di ranjang rumah sakit setelah sehari kesadarannya. Tubuhnya terlihat kurus dan menyedihkan, terlebih puluhan selang yang menghiasi tubuh rapuh ibu Myungsoo.

“Ne, ahbeonim. Maafkan kami yang baru bisa menjenguk setelah kesadaran kalian, jwesongheyeo.”

Sepasang suami istri itu tersenyum sendu kemudian menyuruh Sooji untuk duduk duduk disamping ibu Myungsoo. Tangan lembut wanita tua itu mengusap puncak kepala Sooji selembut mungkin, seakan memberikan kekuatan kepada wanita itu.

“Maaf, eommeonim tidak menemani-mu ketika kau berkabung, Sooji-ya.”

Sooji menggeleng kemudian tersenyum manis, ia menatap lembut wanita paruh bayah itu. Sooji teringat sosok ibunya kerap kali melihat wanita seumuran ibunya, terlebih yang memperlakukannya dengan baik.

“Tidak, aku kuat menghadapinya sendiri, eommeonim.”

Ny. Kim kembali tersenyum, namun senyumnya memudar begitu mendengar rententan kalimat yang membuat sepasang suami istri itu terkejut.

“Kuat? Ck, tidak mengisi perutmu selama tiga hari kau bilang kuat? Kau bisa saja mati jika aku tidak mamaksamu untuk makan, Sooji-ssi. Dan, untuk apa kau bersikap baik kepada mereka, eoh? Merekalah yang membawamu kedalam neraka yang aku ciptakan, Sooji-ssi.”

Tidak. Selama ini Sooji selalu mengatakan jika hubungan mereka berjalan dengan baikdan mereka selalu terlihat baik didepan mereka. Tetapi mengapa anaknya berkata demikian? Apa benar? Selama ini Sooji menderita karena ulahnya? Bukan ini yang mereka mau. Meski tetap bisnis tujuan utama mereka dnegan penikahan ini, tetapi begitu mengenal sosok Soooji. Perlahan demi perlahan rasa sayang terhadap Sooji mulai tumbuh seiring berjalannya waktu.

Jadi, selama ini Sooji menderita?

“Kim Myungsoo!” Bentak Sooji.

“Ck, kau masih ingin bermain sandiwara dengan mereka, hm? Kau terlalu naif, nona. Jujur saja kau pasti sudah sangat lelah dengan pernikahan ini. Tetapi sayangnya aku tidak bisa membiarkanmu lepas dari neraka ini, nona. Karena kau penghancur hidupku, sayang.”

Tak hanya sekali tembakan, sebuah tembakan lainnya kini membuat sepasang suami itu terkejut bukan main. Apa yang tidak mereka ketahui lagi? Apa mungkin cerita dibalik kematian Soojung?!

“Myungsoo-ssi, kau benar- benar keterlaluan!”

Sooji memekik, kemudian berjalan dengan kesal setelah membungkuk hormat tanpa peduli bahwa suami istri itu yang masih terdiam karena terkejut. Baru saja dirinya ingin melangkah keluar, namun niatannya terkurung begitu menyadari masih banyak wartawan diluar sana. Dengan kesal ia menarik paksa lengan Myungsoo untuk membawanya pulang setelah berpamitan dnegan suami istri yang masih terdiam itu. Jika begini, takkan ada lagi rumor aneh yang ingin makan mentah-mentah saat itu juga.

“Kita yang membuatnya menderita, yeobo.”

***********************

Sooji menatap sendu hamparan air sungai yang berada di depannya. Entah sudah berapa lama dirinya hanya terduduk di pinggir sungai dan menatap sungai itu sendu. Entahlah, Sooji hanya berpikir air sungai yang mengalir indah ini terlihat seperti aliran cairan bening yang maniak coklatnya keluarkan dan membanjiri pipinya setiap saat.

Terdengar konyol mungkin, tetapi siapa sangka jika air mata Sooji telah terbuang sebanyak air sungai ini? Sooji telah menderita dan terus terisak dua tahun terakhir ini. Bukankah cukup jika air matanya dikumpulkan dan dijadikan sebuah sungai?

Terkadang, Sooji memohon kepada Sang Pemilik. Sooji berharap jika air matanya ini mongering dan membuatnya tidak pernah menangis pilu seperti itu. Sooji membenci dirinya yang begitu lemah. Tetapi, apa daya dirinya? Sooji tidak lebih dari wanita lemah yang selalu tersakiti.

“Pilihan?” Gumamnya.

Sooji baru teringat akan perkataan Sora. Pilihan? Tentu, sebuah pilihan yang akan dipilihnya memberi dampak tersendiri. Dan berat untuknya juga, Sooji terlalu bingung untuk memilih diantara keduanya. Sejujurnya, Sooji sudah terlalu merasa lelah untuk melanjutkan hidup seperti ini. Tetapi, perasaan yang terus tumbuh ini membuatnya harus berulang kali berpikir untuk memilih meninggalkan suami tercintanya, Myungsoo.

“Eotteokkaji?”

Sekali lagi Sooji berlirih, membuat sebuah nada akan keperihan di sana. Membuat Sooji terdengar begitu miris dan menyedihkan. Sooji tak peduli apa yang akan orang lain pikirkan tentangnya, toh memang hidupnya menyedihkan. Sooji jelas tidak akan mampu menyangkalnya sebesar apapun usahanya untuk menyangkal.

Sepasang maniak indah berwarna coklat itu kembali menatap sendu aliran sungai itu. Tunggu, sungai? Entah setan mana yang merasuki pikiran Sooji, kini Sooji berpikir untuk melakukan hal konyol yang selama ini Sooji mati-matian hindari.

Tetapi, kondisinya dan sekarang berbeda. Meski Sooji tetap terlihat menyedihkan baik dulu maupun sekarang, tetapi dahulu Sooji masih memiliki sosok yang dijadikan alasan untuk membuatnya bertahan. Tapi, sosok- sosok tersayang yang ia miliki telah menghilang dari dunianya dan meninggalkannya. Lagipula Sooji tidak harus membuat pilihan jika Sooji memilih untuk mengkahiri hidipnya.

“Geurae, semuanya telah berakhir, Sooji.”

Perlahan, Sooji beranjak dari duduknya dan menaruh tas jinjing yang ia bawa. Kaki jenjangnya melangkah perlahan mendekati aliran sungai tersebut. Saat ini, keadaan sekelilinginya sangat sepi. Jelas, jam telah menunjukkan pukul 12 malam sekarang. Taka da orang disana satu pun keculai Sooji tentunya.

Langkah Sooji yang pelan perlahan mulai cepat, setengah tubuhnya telah terpendam oleh air sungai yang mengalir tenang. Seulas senyum Sooji terukir, bukan sebuah senyum abahagia melainkan sebuah senyum miris. Sooji hendak menenggelamkan dirinya, namun sebuah suara terdengar oleh kedua telinganya.

“Hei, nona! Sebelum kau bunuh diri, kau harus menemui-ku dulu!”

Sooji sontak berbalik. Dahinya mengeryit begitu melihat sosok pria berpakaian lengkap jas sedang melipat kedua tangannya di dada dnegan wajah kesalnya. Hei, apa maksud dari pria ini? Menemuinya sebelum bunuh diri? Apa maksudnya?

“Nona, cepatlah kemari?!”

Kedua bola mata Sooji membulat begitu pria itu memekik keras. Astaga, bahkan dirinya yang di tengah sungai masih bisa mendengar pekikan pria itu dengan jelas. Sooji yang masih takjub akan kelantangan pria itu lantas terdiam membisu.

“Yya! Apa aku harus menyeretmu kesini?!”

Sekali lagi kedua mainak Sooji terbulat sempurna. Karena tidak ingin membuat pria itu menyeretnya paksa, Sooji segera melangkahkan kakinya kemudian menghampiri pria itu dan menatapnya kesal begitu dia dihadapan pria asing itu.

“Ada apa, tuan>? Mengapa aku harus berbicara denganmu terlebih dahulu?”

Si pria tersenyum tipis. Entah apa alasannya, pria itu menarik lengan wanita tak dikenalnya kemudian menyuruhnya untuk terduduk kembali disamping tasnya. Pria itu juga duduk di samping Sooji. Sooji hanya menurut, diirnya telalu bingung. Mengapa pria kasar ini menjadi lembut seperti ini?

“Kau bodoh!” Delik si pria.

Sooji kembali membulatkan matanya. Hei, apa- apaan pria ini?! Mengapa sikapnya berubah lagi? Mengapa menjadi sekasar dan menyebalkan? Aish, tak bisakah pria ini bersikap lembut seperti tadi? Setidaknya itu lebih baik daripada pria ini bertingkah menjengkelkan, sungguh!

“Yya, kenapa kau mengataiku bodoh, eoh?” Delik Sooji tak mau kalah.

Si pria bukannya merasa bersalah atau bagaimana malah tertawa ringan. Membuat lagi dan lagi Sooji mendelik tajam kepada pria ini. Hei, seseorang bisakah memberitahunya apa tujuang dari pria ini.

“Selain bodoh, kau pemarah juga ya.”

“Yya!”

“Seharusnya kau tidak berbuat sekonyol itu, nona. Seberat opapaun dan sedalam apapun luka yang kau miliki, kau tetap tidak boleh berniat untuk mengakhiri hidup-mu. Masih banyak orang lain yang mengingkan kesempatan hidup-mu yang lama itu, kau beruntung nona.”

Sooji seketika tertegun. Pria ini… Pria aneh ini…. Pria aneh yang bertingkah seakan mengetahui luka yang ia miliki? Tunggu, selain itu mengapa Sooji merasa bahwa pria ini mengerti dirinya?

“Arra, kau pasti berpikir didunia ini tidak ada seorang pun yang bisa kau jadikan alasan untuk bertahan hidup. Kau salah, nona. Kau pikir siapa yang memiliki-mu, hm? Tuhan-lah yang berhak menentukan takdirmu, kau tidak bisa bertindak seperti tadi. Meski tidak ada seseorang pun yang bisa kau jadikan alasan untukmu bertahan, kau harus tetap hidup. Orang- orang yang kau cintai dan telah tinggal dengan indah di Surga takkan menyukai jika kau bertindak seperti ini. Kau mengerti?”

Sooji tak menjawab. Lidahnya kelu untuk membalas perkataan pria ini, hatinya terhenyuh mendnegar setiap penuturan pria dihadapannya ini. Siapa pria ini sebenarnya? Mengapa pria asing ini bisa menenangkan hatinya yang gundah? Mengapa pria ini membuatnya nyaman meski pertama baru bertemu?

“Kau harus memilih salah satu dari dua pilihan yang kau punya. AKu tak tahu masalah-mu sebenarnya apa, tetapi aku yakin masalah yang kau hadapi bukanlah masalah kecil. Kau harus membuat pilihan diantara keduanya, kau juga harus memikirkannya dengan matang. Sebuah pilihan akan memiliki dampak, dan kau akan menyesal jika kau membuat pilihan yang salah. Kau mengerti?”

Sooji masih terdiam. Kedua maniak hitamnya menatap sosok pria yang selesai berbicara dnegan pandangan yang lurus kedepan. Pria ini… Pria ini seperti sosok penyamangatnya untuk mempertahankan hidupnya. Pria ini mampu membuat hatinya untuk menghapus rencana konyol yang ia miliki. Pria ini… seperti maniak berharga yang harus ia miliki. Pria ini istemewa.

“G..gomawo, oppa.” Gumam Sooji tanpa sadar.

Terdengar suara tawa dari pria ini. Rasanya menyenangkan wanita muda dan cantik mamanggilnya dengan sebutan manis seperti itu. Suaranya terdengar tulus, bukan seperti gadis- gadis penggoda yang terus merayunya dan memanggilnya dengan sebutan itu.

“W..waeyeo?” Tanya Sooji bingung.

Si pria sontak mengusap pelan rambut sooji dan tersenyum simpul. Sebuah senyum simpul yang mampu menghangatkan hati Sooji. Tidak, Sooji tidak menyukai pria ini sebagai pria. Hanya saja Sooji seperti menemukan sosok kakak, sama halnya dengan yang dirasakannya kepada Sora.

“Kyeopta. Cha, jadi siapa namamu, nona?”

“Sooji, bae Sooji, oppa. Neoneun?”

Si pria tersenyum kembali. Sepasang bola matanya masih menatap gemas wajah Sooji yang masih memerah karena perlakuan lembutnya itu. Astaga, ia tak menyangkan gadis seperti Sooji akan memerah hanya dengan usapan yang ia berikan.

“Lee Jongsuk, kau bisa memangilku Jonsuk oppa, Sooji-ya.”

*****************************

“Yya! Kubilang hentikan mobilnya!”

Sebuah mobil sport berwarna putih bermerk Lamborgini melaju cepat diantara keheningan malam yang menyeruak Kota Seoul. Lajuan mobil sport tersebuut semakin cepat tak kala sebuah mobil sedan yang mengejarnya tak kalah cepat darinya. Si pengemudi mobil sport ini jelas tahu, meski hanya sedan tetapi mobil tersebut memiliki kecepatan yang luar biasa karena ia tahu bahwa mobil tersebut telah dimodifikasi beberapa kali.

“Jung Soojung! Hentikan mobilnya! Kau belum pandai mengendarai!”

“Kubilang hentikan! Kau harus mendengarkan alasaku terlebih dahulu!”

“Sooji hanyalah wanita pilihan orang tua ku?! Aku hanya ingin memberitahu-mu tetapi aku belum siap! Aku takut kau akan tersakiti dan diluar kendali seperti ini?!”

“Sungguh! Aku hanya ingin menyiksanya saja!”

Pekikan- pekikan yang berasal dari si pengendara sedan dengan mudah dihiraukan oleh wanita bernama Soojung, si pengendara mobil Sport. Seulas senyum sinis terlukis diwajah cantiknya itu. Ah, jadi nama gadis itu Sooji? Mengapa ia tak sadar, dari namanya saja gadis itu kentara cantik, jelas kekasihnya pasti takkan mampu menolak pesonanya! Mengapa kekasihnya masih saja berbohong? Memuakan!

“YYA! Jung SOOJUNG!”

Soojung semakin muak, amarahnya telah meledak. Tanpa ragu gadis itu mengejal gas hingga kecepatan penuh, Sooj tersenyum ketika melihat pria itu yang kewalahan mengejarnya. Dan kini berada di belakang mobilnya.

“Yya! Yya!”

Soojung masih bisa mendnegar dengan jelas pekikan yang berasal dari kekasihnya itu, mungkin mantan kekasihnya lebih tepatnya. Tetapi, suara itu mulai pudar sejurus rasa sakit yang menjulur disekujur tubuhnya. Cairan berwarna merah terlihat bececeran disekujur tubuhnya, kepalanya mulainya terasa pening dan kesadarannya mulai hilang. Soojung telah tiada karena kecelakaan yang dialaminya. Mobil Sport yang ia kendarai menabrak sebuah truk yang membawa besi yang berlawanan arah darinya.

Soojung telah meninggalkan sosok pria yang membutuhkannya. Pria yang menganggap Soojung sebagai oksigennya. Pria ini tak mampu bertahan hidup tanpanya, tanpa sosok Soojung disisinya.

Hingga sebuah kebencian mulai timbul. Pada awalnya kebenciannya kepada dirinya sendiri, namun pria ini mencoba untuk menyangkalnya. Hingga rasa kebencian itu beralih kepada sosok istrinya, Sooji. Sooji yang telah membuat Soojung meninggalkannya, Sooji yang telah membuat hidupnya hancur. Sooji yang ia benci.

“Andwae!”

Kedua mata Myungsoo sontak terbuka lebar, nafasnya terengah-engah. Dahinya dipenuhi oleh peluh keringat dingin. Kejadian itu. Kejadian yang paling menyakitkan untuknya. Kejadian yang kerap kali menjadi mimpi dalam tidur lelapnya. Tidak, tidurnya tak bisa lelap jika otaknya kembali menjelajah ruang nostalagia. Tentu, membuat rasa benci akan sosok istrinya semakin membesar. Istrinya yang membuatnya seperti ini.

Semua ini salah Sooji.

************************

“Eo, oppa!”

Sooji berlari kecil menghampiri suaminya begitu melihat sosok suaminya yang baru saja keluar dari kamarnya. Senyum Sooji mengembang indah membuat eye smile yang ia miliki nampak cantik.

Sementara itu, Myungsoo mengeryit melihat kondisi Sooji. Mengapa wanita ini secerah ini? Seingatnya Sooji tidak pulang hingga larut malan sehabis mereka mengunjungi orang tua Myungsoo. Seingatnya juga sepanjang hari Sooji bersikap dingin kepadanya, mengapa sekarang wanita ini bersikap begitu ceria?

“Ah, oppa. Aku sudah buatkan sarapan khusus untukmu. Hari ini kau tidak berkerja, kan?”

Myungsoo yang masih heran hanya mengangguk kecil. Kedua matanya melebar begitu Sooji menarik lengannya dan mendudukan dirinya di kursi meja makan. Myungsoo dapat melihat begitu banyak jenis makanan dan juga wangi harum dari masakan buatan Sooji. Ada apa Sooji memasak sebanyak ini?

“Apa maksudmu, Sooji-ssi? Mencoba untuk bersikap menjadi istri yang baik lagi?”

Sooji menngangguk ringan. Kemudian tersenyum simpul sembari menatap Myungsoo yang menatapnya dingin dengan kedua mata tajam miliknya. Tidak. Sooji harus bisa membuat Myungsoo memakan masakannya ini.

“Makanlah, oppa.”

Myungsoo menggeleng tegas, sembari tertawa kecil. Sooji yang melihatnya hanya tersenyum simpul. Tidak, dirinya tidak boleh menyerah seperti ini. Sooji harus membuat Myungsoo mencicipi makananya.

“Kau harus makan, oppa. Aku mohon, hanya kali ini saja. Aku tidak mungkin memakan makanan sebanyak diri seorang diri. Akan sangat sayang jika dibuang, Nenek Han belum kembali dari kampong halamannya.”

Sial. Myungsoo merutuki dirinya begitu dirasanya rasa ibu mulai menggelayuti dirinya. Selama ini Sooji tidak pernah memohon dengan wajah memelas seperti ini. Gadis ini hanya terdiam dan meredam isakannya jika ia tidak memakan masakannya.

“Baiklah.”

Myungsoo segera menyantap makananya dengan pelan. Sekali lagi Myungsoo merutuk ketika bibirnya hendak memuji keahlian wanita ini dalam memasak. OhTidak! Mengapa tubuhnya diluar kendalinya seperti ini?!

Tetapi, ketika pria ini baru setengah memakan masakah Sooji. Pria ini menghentikan kegiatannya, sepintas pikiran mengusi pikirannya. Ditatapnya tajam Sooji yang hanya menatapnya lembut sembari tersenyum manis. Bukankah Sooji bertingkah seperti ada maksud lain?

“Apa maumu?”

Sooji tersenyum tipis. Bagaimana pun Myungsoo pasti akan mengetahui bahwa dirinya memiliki tujuan lain. Myungsoo bukanlah pria bodoh yang tidak pernah berfikir, pria ini adalah pria cerdas. Sooji bangga memiliki suami cerdas seperti Myungsoo.

“Makan terlebih dahulu, oppa? Ini akan menjadi sarapan terakhir untukmu.”

Myungsoo kembali menheryit. Pandangannya tak lepas yang masih menatap istrinya tajam tanpa ampun. Sementara yang ditatap masih mengulum senyum manisnya. Mungkin ini adalah senyum yang bisa ia tunjukkan kepada suaminya.Terakhir? Solma…

“Ne, aku ingin kita mengakhiri hubungan ini, oppa. Aku sudah lelah.”

***************************

Annyeong! Maaf ya aku baru updete, aku lagi males ngetik haha. Berhubung puasa telah selesai dan tenagaku udah kembali, jadi aku selesai ngetiknay deh. Ahya, minal aidzin wal faidzin yaa bagi reader yang muslim. Aku minta maaf kalo ada salah sama kalian, termasuk kalo sering typo. haha.

Sialhkan dibaca, semoga memuasakn

Dont forget to RCL

39 responses to “END (5/?

  1. Sepertix aku berbeda opini dgn komentar lainx… As long as you happy sooji ya…

    Berharap tokoh myung bisa berubah…

  2. Satu sisi pengen suzy cerai biar gk mnderita tp d sisi lain pngen mreka ttp bersama..
    Next d tunggu author, makin pnasaran..

  3. WUaa.. akhirnya sooji ngambil keputusan buat pisah… iya.. rasain tuh myunh..dia pasti heran knpa suzy lakuin itu..
    Ada jongsuk lagi..😍😚kali ajah tar mereka jatuh cinta…😀
    Next ditunggu bgt…✊

  4. maaf baru komen sekarang min,

    kerennnnnnnnn, part ini makin keren aja,
    mudah-mudahan awal kebahagian bagi suzy dan awal penderitaan bagi myungsoo.
    boleh ka saya berharap suzy menjalankan perusahan yang di tinggalkan oleh ortu nya🙂

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s