[Freelance/Twoshoot] Gone Part 1

GONE

Title: GONE ||  Author: danarizf  ||  Genre: Sad, Angst (?)  || Main Cast: Bae Sooji Kim Myungsoo || Other Cast: Nam Woohyun Kim Jiwon || Length: Twoshoot  ||  Rating: PG

.

Disclaimer:

Semua cast yang ada disini bukan milik saya tapi milik mereka sendiri. Maaf jika ada kesamaan ide, latar, dan sebagainya, tapi cerita ini murni buatan saya sendiri. Dan yang terakhir, FF ini terinspirasi dari MV Cactus – Woohyun feat Lucia, tapi tenang aja karena ceritanya beda kok. Don’t be plagiator!

.

.

PROLOG

Di depan sebuah bangunan berwarna putih, seorang gadis dengan sebuah payung yang tertutup di genggamannya terlihat tengah menunggu seseorang sambil mengamati rintikan air langit yang jatuh membasahi permukaan bumi, membuat sebuah aroma khas hujan menyeruak ke dalam indera penciumannya.

Rambut lurus panjangnya bergerak-gerak tertiup angin. Ia menundukkan kepalanya, menatap sepatu sandalnya yang basah terciprat air hujan.

“Sooji?”

Sooji mendongakkan kepalanya. Seorang pemuda yang familiar baginya dengan kaos hitam dan celana jeans panjang berwarna senada melekat di tubuhnya kini tengah menghampirinya dengan kening berkerut samar. Kedua bola mata pemuda itu melebar saat bisa melihat dengan jelas raut wajah Sooji. Mata indah milik gadis itu kini terlihat sembab dan bibir manisnya yang biasanya berwarna merah muda kini terlihat pucat.

“Gwaenchanhayo?”

“Kenapa kau tak memberitahuku?”

“Eoh?”

….

 

GONE – PART I

Seorang gadis tengah membereskan kamarnya. Bukan karena Ia baru saja bangun tidur. Tidak, bukan itu. Ia benar-benar membereskan kamarnya hingga hanya tersisa beberapa perabotan kayu berwarna senada. Gadis itu menatap sekelilingnya, mengitari setiap sudut kamar yang sudah menjadi tempatnya bernaung selama beberapa tahun. Kamar itu kini terasa hampa tanpa adanya pernak-pernik berwarna pink yang biasa menghiasi.

Sooji.

Sebuah helaan nafas lolos dari bibirnya. Ia tak menyangka hari ini akan menjadi hari terakhirnya menginjakkan kaki di kamar apartemen ini.

Drrrtt.. drrrttt…

Getaran ponsel putih milik Sooji membuatnya tersadar dari kegiatannya yang tengah mengamati kamarnya. Pandangannya beralih pada sebuah ponsel yang tergeletak di atas meja rias. Segera saja diambilnya ponsel itu.

Sebuah panggilan masuk, dari serangkaian nomor tak dikenal.

Yoboseyo?”

“Benarkah ini Bae Sooji?”

Ne, siapa ini?”

“Ah, Kim Jiwon ibnida. Aku saudaranya Myungsoo.”

Myungsoo?

Sooji tertegun mendengarnya. Sudah lama sekali Ia tak mendengar nama itu.

“Myungsoo? Kim Myungsoo?”

“Ne. Eung… bisakah kita bertemu sekarang, Sooji-ssi?”

….

Sooji menatap sekelilingnya yang terlihat tak begitu ramai. Maklum saja karena jam makan siang sudah lewat beberapa jam yang lalu jadi cafe tempatnya berada sekarang ini tak begitu banyak pengunjung. Manik matanya menangkap sosok seorang gadis yang baru saja memasuki cafe. Gadis itu berjalan ke arahnya.

“Sooji-ssi?”

Sooji menganggukkan kepalanya. “Ne. Ah, silahkan duduk.”

Gadis manis itu pun segera mendudukkan dirinya di kursi di hadapan Sooji. Setelah memesan minuman masing-masing, mereka berdua pun terdiam. Belum ada yang memulai percakapan bahkan sampai pelayan mengantarkan pesanan mereka.

“Jadi, Jiwon-ssi… ah, namamu Kim Jiwon kan?” tanya Sooji, membuka percakapan.

Gadis bernama Kim Jiwon itu menganggukkan kepalanya. “Ne, maaf karena tiba-tiba mengajak bertemu begini. Pasti kau sedang sibuk,” kata Jiwon, akhirnya mengeluarkan suaranya.

Anieyo, gwaenchanseubnida,” balas Sooji. “Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan. Ini tentang Myungsoo kan?”

Jiwon terdiam. Ia kemudian mengambil tasnya, mengeluarkan sebuah agenda berwarna hitam dan menaruhnya di atas meja. Sooji tahu buku itu. Agenda hitam yang selalu dibawa kemana-mana oleh Kim Myungsoo.

“Ini.. milik Myungsoo,” kata Jiwon.

Sooji mengerutkan keningnya tak mengerti. Mengapa gadis di hadapannya ini memberikan agenda milik Myungsoo kepadanya? Ia sudah tak memiliki hubungan apa-apa dengan Myungsoo itu jadi… apa maksudnya memberikan agenda itu padanya?

“Sooji-ssi, walaupun agenda ini milik Myungsoo, tapi sepertinya kau perlu tahu isinya,” lanjut Jiwon saat melihat Sooji yang hanya diam saja.

“Tapi….”

“Bawalah, Sooji-ssi. Kurasa Myungsoo sengaja meninggalkannya untukmu.”

Sooji hanya terdiam. Ia tak tahu harus bagaimana menanggapi perkataan gadis di hadapannya. Pikirannya masih tak bisa menangkap  apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa Myungsoo sengaja meninggalkan agenda ini untuknya? Memangnya Myungsoo kemana? Dan… bukankah hubungan mereka sudah berakhir?

“Sooji-ssi?”

Ne?”

Jiwon tersenyum tipis sebelum akhirnya berkata, “Myungsoo sangat mencintaimu. Bahkan sampai sekarang walaupun kalian telah berpisah.”

….

Sooji menghempaskan tubuhnya di atas ranjang empuk berwarna pink miliknya setelah beberapa jam berkutat dengan kardus dan barang-barang yang baru saja diboyongnya dari apartemen lamanya. Sebenarnya Ia hanya pindah ke rumah orang tuanya, jadi tak banyak yang harus ditata lagi.

“Huft….”

Pandangan Sooji terarah pada sebuah kardus yang belum disentuhnya sejak Ia kembali ke rumahnya. Kardus yang mengingatkannya akan Myungsoo. Ya, kardus itu berisi barang-barang kenangannya dengan mantan kekasihnya itu termasuk agenda hitam yang diberikan Jiwon juga Ia letakkan di dalamnya.

Sooji bangun dari tidurnya. Langkah kakinya bergerak ke arah kardus tersebut. Ditatapnya kardus itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Sedih? Rindu? Sakit? Entahlah. Sooji sendiri tak paham.

Tangan kanannya bergerak membuka penutup kardus berwarna coklat itu. Sebuah agenda hitam milik Myungsoo langsung tertangkap pupil matanya begitu Ia berhasil membuka penutup kardusnya.

Tanpa sadar tangannya terulur meraih benda itu, mengusap cover hitam polosnya, lalu membukanya perlahan.

Sooji tersenyum melihat tulisan tangan Myungsoo yang rapi, tak seperti tulisan tangannya yang berantakan dan jauh dari kata apik. Lagi-lagi diusapnya lembar pertama buku itu, tepat pada sebuah goresan tinta bertuliskan Kim Myungsoo.

Tersadar akan sesuatu, Sooji pun dengan segera menutup agenda itu bersamaan dengan lenyapnya senyuman yang tadi sempat terukir di bibirnya. Otaknya dengan segera membisikkan kalimat-kalimat yang biasa Ia pikirkan. Kalimat-kalimat berisi kata-kata untuk tak lagi mengingat-ingat Myungsoo. Ia harus melupakan Myungsoo. Begitulah salah satu kalimat yang terngiang di pikiran Sooji.

Dimasukkannya lagi agenda itu ke dalam kardus sebelum akhirnya menutup rapat kotak itu dan mendorongnya masuk ke kolong tempat tidurnya.

“Hemh… lupakan Myungsoo, Sooji­-ah…. Bukankah dia yang menginginkannya?”

….

Sooji melemparkan pandangannya keluar jendela mobil, menikmati rintikan hujan yang turun di luar sana. Sesekali ditatapnya kedua orang tuanya yang duduk di kursi depan dan sibuk bercengkrama sendiri.

“Sooji-ah….”

Sooji mengalihkan perhatiannya saat bibir ibunya meloloskan namanya. “Ne, Eomma?”

Eomma perhatikan daritadi kau diam terus. Gwaenchanha? Neo appo?” tanya Eomma Sooji.

Sooji menggelengkan kepalanya pelan. Disunggingkannya seulas senyum tipis agar ibunya itu tak lagi merasa khawatir. “Gwaenchanhayo, Eomma. Hanya sedang malas bicara,” jawab Sooji masih sambil menatap ibunya. Begitu dirasanya ibunya tak lagi khawatir, Sooji kembali memutar kepalanya dan menatap keluar jendela.

“Myungsoo sangat mencintaimu.”

Sooji memejamkan matanya saat tiba-tiba suara Jiwon merasuki pikirannya. Padahal terhitung sudah lewat sehari sejak Ia bertemu gadis itu tapi kalimat itu masih saja terus terngiang di kepalanya.

Agenda itu… Sooji belum lagi membukanya.

Tidak. Ia hanya tak ingin membukanya. Agenda itu akan mengingatkan Sooji pada pemiliknya yang entah sekarang berada dimana. Setelah putusnya hubungan mereka, Ia tak ingin mengingat-ingat lagi pemuda itu.

Appa, bisa kita mampir di restoran itu sebentar? Tiba-tiba aku ingin makan pasta,” kata Sooji tiba-tiba saat matanya menangkap sebuah papan bertuliskan nama sebuah restoran yang terletak di ujung jalan.

Walaupun bingung dengan permintaan putrinya yang tiba-tiba, namun ayah Sooji tetap menghentikan mobilnya di depan restoran tersebut.

Appa dan Eomma tidak ikut turun?” tanya Sooji saat kedua orang tuanya hanya berdiam diri di kursi.

Aniya. Appa harus kembali ke kantor satu jam lagi jadi harus cepat pulang. Kau makanlah sendiri. Atau mau ditemani Eomma-mu?”

Sooji menggelengkan kepalanya. “Aku sendiri saja. Lebih baik Eomma menemani Appa. Aku turun dulu. Hati-hati di jalan… Appa, jangan ngebut ya!” balas Sooji seraya mengecup pipi kanan milik ayahnya dan sebelah kiri untuk ibunya.

….

Kling!

Lonceng kecil yang diletakkan di atas pintu masuk otomatis berbunyi begitu Sooji membuka pintu kaca restoran dan mengayunkan kakinya memasuki bangunan tersebut. Diedarkannya pandangannya ke sekeliling restoran, mencari sudut ruangan dengan meja yang kosong dan tak terlalu ramai di sekelilingnya.

Setelah memesan sepiring pasta kesukaannya, Sooji pun kembali terdiam–seolah telah menjadi kebiasaanya saat tak mempunyai kegiatan apapun. Ia terlarut dalam lamunannya hingga tak menyadari seseorang kini tengah menatapnya.

“Sooji-ssi, orenmaniya….”

Sooji mendongakkan kepalanya saat seorang pemuda dengan pakaian serba putih khas koki melangkah menghampirinya. Ia tersenyum tipis begitu menyadari siapa pemilik suara yang menyapanya baru saja.

Annyeonghaseyo, Woohyun-ssi,” sapa Sooji.

Pemuda sipit bernama Woohyun itu segera saja menarik bangku di hadapan Sooji dan mendudukinya setelah meletakkan sepiring pasta yang dipesan Sooji. “Aku tadi diberitahu karyawanku kalau kau tiba-tiba berkunjung ke restoranku dan memesan seperti biasanya. Eii… sudah lama sekali kau tak kesini,” kata Woohyun.

Mianheyo, Woohyun-ssi. Aku sedang banyak urusan akhir-akhir ini jadi tak sempat kesini.”

Woohyun menyipitkan matanya. “Jinjjayo? Bukan karena Myungsoo?”

Ne?”

“Hemhh… aku tahu tentang hubungan kalian yang sudah… ya begitulah. Kau takut teringat Myungsoo kalau kemari, benarkan?” tebak Woohyun.

Lagi-lagi untuk kesekian kalinya dalam satu hari ini, Sooji terdiam. Ia merasa tertohok mendengar perkataan Woohyun. Benar, Ia tak ingin mengingat Myungsoo. Ia juga tak ingin bertemu pemuda itu dengan tak sengaja di restoran ini setelah berakhirnya hubungan mereka.

“Myungsoo… masih sering kemari?” tanya Sooji sedikit ragu.

Namun jawaban yang diberikan Woohyun membuatnya mengernyit heran. Pemuda itu menggelengkan kepalanya, pertanda Myungsoo sudah jarang ke restoran itu. Padahal Ia ingat sekali tentang kebiasaan pemuda itu yang selalu ke restoran ini setiap akhir pekan.

Woohyun tersenyum tipis. Sangat tipis hingga mungkin Sooji tak akan menyadarinya jika tak benar-benar memperhatikan pemuda itu.

“Jadi dia juga jarang kemari,” gumam Sooji pelan namun masih dapat didengar Woohyun.

“Heuh….” Woohyun menghela nafasnya. “Sudah kuduga kau belum tahu.”

Kening Sooji kembali berkerut, tak mengerti dengan kalimat yang dilontarkan Woohyun. Apanya yang Ia tak tahu? Apa tentang Myungsoo yang sedang pergi seperti yang dikatakan Jiwon padanya?

“Jangan terlalu dipikirkan, makan saja pastamu. Sepertinya mulai dingin. Kau tak mau kan aku memasak dengan sia-sia?”

Mendengar perkataan Woohyun membuat Sooji mulai menyuapkan pastanya ke dalam mulutnya sedikit demi sedikit.

“Sooji-ssi, jika aku menyuruhmu menemui Myungsoo, apa kau akan menemuinya?”

Gerakan tangan Sooji yang tengah menyendokkan pasta ke mulutnya sontak berhenti. Mulutnya yang sudah terbuka kembali tertutup seiring dengan tangannya yang tak jadi menyuapkan pasta ke mulutnya.

“Karena kau diam saja, berarti kau setuju. Aku akan memberikanmu alamatnya. Tunggu sebentar,” celetuk Woohyun seraya berdiri menjauhi meja Sooji dan berjalan ke arah kasir. Dilihatnya Woohyun yang tengah mengambil secarik kertas dan sebuah pena sebelum akhirnya kembali menghampirinya setelah menuliskan sesuatu di atas secarik kertas tersebut.

Igeo… kau bisa menemui Myungsoo disana,” kata Woohyun sambil menyodorkan kertas kecil tersebut pada Sooji.

Walau sedikit bingung dengan sikap aneh Woohyun, Sooji tetap mengulurkan tangannya dan menerima kertas tersebut dari Woohyun. “Maaf merepotkanmu, Woohyun-ssi,” ucap Sooji merasa tak enak pada Woohyun walaupun sebenarnya bukan Ia yang memintanya tetapi Woohyun sendiri yang berinisiatif memberinya.

Gwaenchanhayo, Sooji-ssi,” balas Woohyun. “Ah, aku harus kembali ke dapur. Silahkan nikmati makananmu, Sooji-ssi. Aku permisi.”

Ne, gomapseumnida, Woohyun-ssi.”

….

Sooji menatap selembar kertas bertuliskan alamat yang kemarin diberikan Woohyun. Pandangannya seolah terpaku pada kertas putih itu.

“Sooji-ssi….”

Kepala Sooji terputar saat gendang telinganya menangkap sebuah suara yang memanggil namanya. Diputarnya kursi tempat  Ia duduk hingga menghadap si pemilik suara. Seorang wanita muda dengan blazer krem dan rok hitamnya.

Ne, Timjangnim,” jawab Sooji seraya beranjak dari duduknya.

“Kau sedang tidak sibuk kan? Tolong belikan americano di cafe depan kantor ya, aku harus menyelesaikan laporan yang diminta Sajangnim sekarang juga. Bisa kan?” pinta Kim Kyungran–wanita muda itu–seraya mengulurkan beberapa lembar uang pada Sooji.

Sooji menganggukkan kepalanya sambil mengulurkan tangannya, menerima uang yang diberikan Kyungran. “Ne, Timjangnim,” jawab Sooji. Ia segera melangkahkan kakinya keluar ruangan hingga tanpa sadar menjatuhkan secarik kecil kertas yang sedari tadi digenggamnya. Kertas berisi alamat yang diberikan Woohyun.

Eoh? Sooji menjatuhkan kertasnya,” gumam Kyungran seraya memungut kertas tersebut. Keningnya berkerut samar saat membaca alamat yang tertera di atas secarik kertas tersebut. “Tempat ini kan….”

….

Eoh, gomawo, Sooji-ssi,” ucap Kyungran begitu Sooji menaruh segelas americano dan beberapa lembar uang di mejanya.

Sooji menyunggingkan senyumnya. “Ne, Timjangnim.”

Begitu selesai dengan urusannya, Sooji pun segera membalikkan tubuhnya, berniat untuk kembali ke mejanya dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena sibuk melamun tadi.

“Eh, Sooji-ssi, tunggu!”

Namun belum sempat Ia melangkahkan kakinya, suara Kyungran yang memanggilnya membuat Ia mengalihkan perhatiannya pada wanita itu. Kedua alisnya tertaut tak mengerti saat Kyungran tiba-tiba mengulurkan secarik kertas.

“Kau menjatuhkannya tadi,” kata Kyungran, mengetahui kebingungan Sooji.

Jemari tangan Sooji terulur dan menerima kertas tersebut. “Gamsahamnida, Timjangnim,” ucapnya.

Kyungran tersenyum tipis. “Gwaenchanha,” balasnya. “Ngomong-ngomong ada urusan apa kau kesana?” tanya Kyungran sambil mengarahkan dagunya pada kertas yang kini berada di tangan Sooji.

Ne? Animnida, seorang teman memberikannya padaku,” jawab Sooji.

Chingu? Jinjjayo? Kenapa temanmu memberi alamat itu? Aneh sekali….”

Ne? Memangnya ada yang salah dengan alamatnya, Timjangnim?” tanya Sooji tak mengerti. Memangnya ada apa dengan alamat yang diberikan Woohyun? Bukannya itu alamat baru Myungsoo? Apa alamatnya salah?

Kyungran berdecak pelan melihat kebingungan Sooji. “Neo mollayo?”

Ne?”

“Alamat itu…”

….

Sooji segera mengganti sepatunya dengan sebuah sandal rumah berwarna putih begitu Ia menginjakkan kakinya di rumah. Tak peduli dengan teriakan ibunya yang menyuruhnya pelan-pelan saat menaiki tangga, gadis itu tetap melanjutkan langkahnya hingga masuk ke dalam kamar.

Tiba-tiba Sooji duduk di samping tempat tidur, tangannya terulur ke kolong tempat tidur dan menarik sebuah kotak berwarna coklat yang sengaja Ia taruh disana dua hari yang lalu. Perlahan dibukanya tutup kardus tersebut.

Agenda hitam itu masih disana. Tergeletak di antara tumpukan benda-benda lain yang memiliki kenangan bersama Myungsoo, mantan kekasihnya.

Dengan sedikit ragu, tangan Sooji bergerak menyentuh agenda tersebut, mengambilnya dan membuka covernya hingga menampilkan lembar pertama berisikan nama sang pemilik agenda itu.

“Kim Myungsoo…,” gumam Sooji pelan sambil mengusap goresan nama itu.

Dibukanya lagi lembar selanjutnya agenda itu. keningnya berkerut menyadari halaman kedua agenda tersebut hanya berisikan catatan-catatan pekerjaan Myungsoo. Begitu pula pada halaman-halaman selanjutnya.

“Kenapa Jiwon memberikan agenda ini padaku kalau isinya hanya catatan pekerjaan Myungsoo?” gumam Sooji, bertanya-tanya pada dirinya sendiri.

JDERR!

Sooji berjengit kaget saat tiba-tiba terdengar guntur menggelegar bersamaan dengan bunyi gemericik air hujan yang semakin deras. Segera Ia bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati jendela kamarnya yang terbuka. Kedua tangannya terulur meraih jendela yang terbuka lalu menutupnya perlahan sebelum angin kencang masuk ke dalam kamarnya sambil membawa derasnya air hujan.

Setelah merasa tertutup rapat, Sooji pun kembali ke tempat Ia duduk tadi. Diraihnya agenda milik Myungsoo yang Ia geletakkan begitu saja di atas lantai kamarnya.

“Tak ada apa-apa disini. GeundeTimjangnim tadi bilang… ah, molla.”

Frustrasi karena tak kunjung mendapatkan jawaban yang diinginkannya, Sooji pun segera meraih tutup kotak kardus tadi dan berniat menutupnya. Namun gerakannya terhenti saat sadar agenda milik Myungsoo belum ikut masuk ke dalam kardus.

Diambilnya agenda tersebut dan memasukkannya ke dalam kardus.

Belum sempat Sooji menutup kardus tersebut, manik matanya justru menangkap sebuah benda yang terselip di antara agenda Myungsoo. Ia pun meraih benda tersebut. Sebuah foto.

Sooji tersenyum masam melihat foto dalam agenda Myungsoo. Selembar foto berisikan sepasang kekasih yang tengah tersenyum lebar sambil menatap ke kamera. Foto dirinya… dan Myungsoo.

Apakah ini maksud Jiwon memberikannya agenda ini? Karena Myungsoo memintanya untuk mengembalikan foto ini padanya? Begitukah?

“Dia benar-benar sudah melupakanku,” lirih Sooji.

Dibukanya agenda Myungsoo pada halaman yang Ia taksir merupakan tempat terselipnya foto tersebut. Keningnya mengernyit tak mengerti saat mendapati beberapa goresan tinta di halaman tersebut. Tulisan tangan Myungsoo. Dan ini bukan catatan pekerjaannya.

Aku… apa yang harus kulakukan?

It’s over.

Sooji-ah, mianhe.

Sungguh. Sooji tak mengerti maksud dari setiap kalimat yang dituliskan Myungsoo di agendanya itu. Apanya yang ‘over’? Apa yang dimaksud Myungsoo adalah hubungan mereka yang selesai?

“Jadi Myungsoo memang sudah merencanakannya? Mengakhiri hubungan ini?” lirik Sooji.

Tanpa sadar, jemari Sooji kembali bergerak, membuka lembaran selanjutnya.

Disaat hatiku tengah berbunga-bunga karena berhasil merasakan apa itu yang namanya cinta, disaat itu pulalah bunga-bunga yang bermekaran itu layu. Semuanya sudah selesai.

Appo. Jinjja appo.

Sooji termenung. Ia kembali membuka halaman selanjutnya. Begitu seterusnya. Selembar. Selembar. Selembar. Selembar. Hingga berlembar-lembar Sooji membaca tulisan tangan Myungsoo yang bukannya membuat Ia paham namun justru semakin memusingkan otaknya.

“Kim Jiwon. Dia pasti tahu sesuatu.”

.

.

Sebuah ponsel tertempel di telinga kanan Sooji dengan tangan kanannya sebagai penyangga agar ponselnya tak jatuh. Beberapa detik telah terlewati sejak Sooji menekan tombol dial untuk menghubungi nomor Jiwon namun sampai sekarang gadis itu belum juga mengangkatnya.

“Yoboseyo?”

“Kim Jiwon-ssi, ini aku Sooji. Ada yang ingin kutanyakan tentang Myungsoo,” kata Sooji.

“Myungsoo? Apa itu?”

“Eung… Myungsoo… apa yang terjadi padanya?”

“Akhirnya kau menanyakannya, Sooji-ssi.”

….

Di depan sebuah bangunan berwarna putih, seorang gadis dengan sebuah payung yang tertutup di genggamannya terlihat tengah menunggu seseorang sambil mengamati rintikan air langit yang jatuh membasahi permukaan bumi, membuat sebuah aroma khas hujan menyeruak ke dalam indera penciumannya.

Rambut lurus panjangnya bergerak-gerak tertiup angin. Ia menundukkan kepalanya, menatap sepatu sandalnya yang basah terciprat air hujan.

“Sooji?”

Sooji mendongakkan kepalanya. Seorang pemuda yang familiar baginya dengan kaos hitam dan celana jeans panjang berwarna senada melekat di tubuhnya kini tengah menghampirinya dengan kening berkerut samar. Kedua bola mata pemuda itu melebar saat bisa melihat dengan jelas raut wajah Sooji. Mata indah milik gadis itu kini terlihat sembab dan bibir manisnya yang biasanya berwarna merah muda kini terlihat pucat.

Gwaenchanhayo?”

“Kenapa kau tak memberitahuku?”

Eoh?”

….

TBC

….

Hallo aku balik lagi nih hehe.. jangan bosen-bosen ya sama aku. Aku nggak tahu apa ff ini bakal dapet feel-nya atau nggak. Mungkin ada yang udah bisa nebak jalan ceritanya? Hehe… sebenernya ff ini mau aku jadiin oneshoot tapi karena terlalu panjang jadi aku bagi dua. Ini ff bikinnya udah lama tapi baru aku selesaiin sekarang.

Kenapa aku pake prolog di awal? Aneh sih emang. Tapi kalo mau dijadiin pos-an sendiri jadi dikit banget makanya aku jadiin satu. Sama part 1.

Buat part 2-nya bakal aku kirim secepetnya kalau respon readers bagus hehe. Enggak deh, walaupun responnya nggak bagus tetep aku kirim kok. Tapi tetep aja aku berharap semoga ff ini mendapat sambutan yang bagus dari pada readers *halah*

Baca juga ffku yang judulnya Between Me & You dan New Destiny. Castnya sama semua kok haha.

Oke jangan lupa RCL😀

68 responses to “[Freelance/Twoshoot] Gone Part 1

  1. ya ampun penasaran !! di prolog itu siapa yg pke kaos hitam?? myung kah??
    apa jangan” myung sakit? tp klo di lihat dr judulnya ko aq jd hawatir ya,bkalan sad end..
    ah next aja deh

  2. Myungsoo sakit parah yah?
    Krn itu dia menutuskan untuk berpisah ma Sooji?
    Apa Myungsoo bakal meninggal?
    Andwae.. Gak rela..

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s