[Twoshoot] Buy One Get One Free Part 1/2

L Infinite, Suzy Miss A & Mark GOT7

© Art Fantasy by: periwinkeul

Title : Buy One Get One Free | Author : dindareginaa | Genre : Friendship, Romance | Rating : Teen | Main Cast : Kim Myungsoo, Mark Tuan & Bae Sooji

“Jadi, kau tetap tidak akan mengalah?” Kim Myungsoo menatap Mark Tuan lekat. Sedangkan lelaki yang ditatap hanya tersenyum simpul.

“Tidak akan. Aku menyukainya,” jawab lelaki berwajah bule itu.

Myungsoo mendesis. “Aku juga menyukainya!”

Keduanya kemudian terdiam sambil melemparkan tatapan maut mereka. Hingga akhirnya Mark menepuk meja dengan tangannya. “Baiklah kalau begitu. Karena aku dan kau tidak ada yang saling mengalah, bagaimana kalau kita bersaing secara sehat? Kita bebas mendekatinya asal tidak saling memonopoli lawan. Mengerti?

Myungsoo tersenyum lalu mengangguk setuju. “Call!

Kim Myungsoo dan Mark Tuan adalah dua makhluk paling tampan di Jaeil High School. Keduanya sudah bersahabat sejak mereka masih berada dikandungan Nyonya Kim dan juga Nyonya Tuan. Lalu kenapa mereka malah bertingkah seperti musuh? Hal ini tak lain dan tak bukan adalah karena Bae Sooji. Gadis cantik itu adalah siswi baru di sekolah mereka. Dan ya. Myungsoo dan Mark jatuh cinta pada gadis ini.

Mark pertama kali bertemu Sooji saat gadis itu terlambat di hari pertamanya masuk sekolah. Kebetulan, saat itu Mark juga bangun sedikit lebih siang, membuat lelaki itu juga ikut terlambat. Mark langsung terpesona dengan Sooji saat pertama kali melihat gadis itu. Akhirnya, Mark dan Sooji memutuskan untuk memanjat pagar sekolah mereka. Sooji yang saat itu mengenakan rok, tentu saja kesulitan. Maka dari itu, Mark memanjat pagar terlebih dahulu lalu menunggui gadis itu di bawah. Mark masih mengingat bagaimana ekspresi Sooji saat akan melompat dari pagar. Gadis itu memejamkan matanya lalu memegang kedua ujung roknya. Setelah berhitung sampai 3, barulah gadis itu melompat.

Gadis itu masih memejamkan matanya ketika Mark menangkapnya dengan kedua lengannya yang kekar. Mark tersenyum melihat tingkah Sooji. Meskipun wajah Mark tampan tapi lelaki itu tidak pernah berkencan dengan gadis manapun sebelumnya! Maka dari itu, ini adalah pertama kalinya bagi Mark.

Berbeda dengan Mark, Myungsoo lebih berpengalaman dalam hal berkencan dari pada sahabatnya itu. Myungsoo bahkan sudah mengencani semua siswi di sekolahnya. Myungsoo bertemu Sooji saat keduanya barebut taxi yang sama. Myungsoo dan Sooji bersikeras bahwa merekalah yang lebih dahulu memanggil si taxi. Akhirnya, karena lelah dengan keributan yang dibuat oleh Myungsoo dan Sooji, pak supir menyuruh mereka untuk turun.

“Kau menyebalkan!” teriak Sooji saat itu.

“Tapi, aku tampan,” Myungsoo tersenyum simpul lalu menatap Sooji lekat. “Dan kau sangat cantik.”

“Kenapa lama sekali?” gerutu Sooji. Pasalnya, sudah lima belas menit ia menunggu Paman Park yang bertugas menjemputnya, tapi lelaki yang sudah dianggapnya seperti ayahnya sendiri itu tak juga menampakkan batang hidungnya. Kemana sebenarnya lelaki itu?

“Jemputanmu belum datang?”

Sooji tersentak kaget begitu Myungsoo muncul dihadapannya dengan sepeda motor berwarna hitam miliknya.

“Hmm,” gumam Sooji.

“Kalau begitu, biar kuantar pulang.” Myungsoo menyerahkan helm pada Sooji.

Sooji mengernyit bingung. Kenapa tiba-tiba lelaki ini berubah menjadi manis seperti ini? “Tidak usah. Paman Park sebentar lagi pasti akan datang.”

Ya! Jangan menolak. Bagaimana kau tahu kalau lelaki itu akan datang? Sudahlah, naik saja. Kau tidak tahu kalau sekolah kita ini angker? Kabarnya, ada hantu yang suka memakan anak yang terlambat dijemput.”

Sooji dapat merasakan buku kuduknya merinding mendengarkan cerita Myungsoo. “Benarkah?” tanyanya tanpa sadar. Sooji lalu mengedarkan pandangannya. Ia meneguk salivanya. Sial! Ternyata hanya tinggal beberapa orang lagi yang belum dijemput. “Baiklah, kalau kau memaksa,” ujar Sooji cepat. Gadis itu segera merebut helm dari tangan Myungsoo.

Diam-diam, Myungsoo menertawakan Sooji. Kenapa gadis itu mudah sekali percaya dengan cerita konyolnya? “Pegangan yang kuat,” titah Myungsoo begitu Sooji sudah duduk dibelakangnya.

“Tidak mau,” tolaknya ketus.

Myungsoo tersenyum menunjukkan smirk khasnya. Ia segera menggas sepeda motornya lalu melajukannya dengan kecepatan tinggi membuat Sooji sontak berteriak dan memeluk pinggang Myungsoo. Myungsoo tersenyum penuh kemenangan.

“Apa yang kita lakukan disini?” tanya Sooji begitu Myungsoo memarkirkan motornya disalah satu warung makan di pinggir jalan.

“Tentu saja makan. Duduklah.” Myungsoo menepuk kursi yang ada disebelahnya, menyuruh Sooji agar duduk disana. Lelaki itu kemudian menyebutkan pesanannya pada si pemilik warung.

Sooji mendengus kesal namun ia tetap duduk disebelah Myungsoo. “Ya! Bukankah kau berjanji untuk mengantarku pulang?”

“Memang iya. Tapi, aku lapar dan aku harus makan terlebih dahulu. Kau mau aku tidak konsentrasi mengendarai motor dan menabrak?”

Sooji menekuk wajahnya lalu menggeleng.

“Kecuali kau ingin pulang jalan kaki.”

Sooji menatap Myungsoo tak percaya. Apa? Jalan kaki? Ini bahkan belum setengah jalan dari rumahnya. Sebenarnya lelaki ini berniat atau tidak mengantarnya pulang?! Sooji kemudian memegang kedua perutnya. Kalau boleh jujur, sebenarnya ia juga lapar. “Bibi, aku pesan makanan yang sama dengannya,” teriak Sooji pada bibi pemilik warung.

Tak lama, wanita paruh baya tersebut menghampiri mereka dengan 2 mangkok bimbap ditangannya.

“Selamat makan,” seru Myungsoo semangat seraya menyantap makan malamnya. “Jangan dilihat dari tampilannya. Meskipun tempat ini kecil, tapi makanan disini sangat enak,” ujar Myungsoo disela kunyahannya.

Sooji hanya diam. Ditatapnya Myungsoo lekat lalu mulai menyantap makan malamnya. Sooji masih ingat cerita teman-temannya tentang Myungsoo. Lelaki ini kabarnya sangat suka berkencan dengan para gadis. Teman-temannya bahkan sudah memperingatkan Sooji untuk tidak meladeni Myungsoo begitu gadis itu bercerita bahwa Myungsoo suka sekali mengganggunya.

“Aku tidak menyangka kau suka mengajak wanita yang ingin kau ajak kencan ke tempat seperti ini,” celetuk Sooji tiba-tiba.

Myungsoo menoleh pada Sooji sejenak lalu kembali melanjutkan santapannya. “Tidak. Kau orang yang pertama kali ku ajak kesini.”

Sooji mengenyit bingung, cukup terkejut sebenarnya dengan jawaban Myungsoo. “Kenapa?”

“Gadis-gadis yang ku kencani lebih suka makan ditempat yang mahal dari pada di tempat seperti ini. Dulu aku selalu makan disini bersama ibuku. Berbahagialah, Bae Sooji.”

Sooji tertegun. Ia tak menyangka si jahil Myungsoo mempunyai sisi kelam seperti ini.

“Kenapa diam? Makan!”

Sooji meringis kesakitan begitu Myungsoo memukul kepalanya pelan dengan sumpit. Gadis itu mengusap-usap kepalanya pelan. Ditatapnya lelaki tampan itu kesal. Namun, sedetik kemudian Sooji membulatkan matanya begitu Myungsoo mengusap lembut ujung bibirnya.

“Ch. Kenapa kau makan seperti anak kecil? Merepotkan saja.”

Sooji hanya menggumam tak jelas lalu kembali melahap makanannya. Diam-diam, Myungsoo tersenyum simpul. Sepertinya ia berhasil menarik perhatian Sooji. Assa! Mark Tuan! Bersiaplah menerima kekalahanmu!

“Terimakasih,” ujar Sooji menyerahkan helm Myungsoo.

Myungsoo mengangguk kecil. “Kalau begitu, aku pulang dulu.” Myungsoo kemudian melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.

Setelah memastikan bahwa motor Myungsoo sudah tak terlihat lagi, barulah Sooji memutuskan untuk masuk ke rumahnya.

Sooji yang sedang asik mengerjakan pekerjaan rumahnya sontak menghentikan kegiatan tulis menulisnya itu begitu mendengar bel rumahnya berbunyi. Sooji masih sempat menghembuskan nafasnya sebelum akhirnya mengintip dari balik jendela kamarnya yang berada di lantai dua.

“Oh, itu Mark!” seru Sooji semangat begitu melihat Mark sedang berdiri didepan pagarnya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, gadis itu segera berlari kecil untuk membukakan pagar. Mark dan Sooji memang sering saling berkirim pesan semenjak mereka terlambat “bersama”. Sebenarnya, dibanding Myungsoo, Sooji lebih suka tipe lelaki yang lembut seperti Mark.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Sooji dengan nafas yang terengah-engah begitu ia sudah berada dihadapan Mark.

“Sedang sibuk?” tanya Mark tanpa menghiraukan pertanyaan Sooji sebelumnya.

Sooji menggigit bibir bawahnya sebelum menjawab,”Tidak juga.” Ya, Sooji memang memiliki kebiasaan menggigit bibir bawahnya sebelum berbohong. Bukankah tadi Sooji sedang sibuk mengerjakan pekerjaan rumahnya?

“Kalau begitu, ayo,” Mark menarik lembut tangan Sooji.

Ya! Kita mau kemana? Apa aku tidak boleh ganti baju terlebih dahulu?” Sooji menatap penampilannya. Kaus berwarna putih dan juga hotpants. Cukup simpel bukan?

“Bagiku, kau tetap cantik meskipun seperti ini. Silahkan masuk, Tuan Putri.” Mark membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan Sooji masuk.

Sooji hanya bergumam kecil sebelum akhirnya masuk kedalam mobil. Bodoh! Kenapa ia jadi gugup begini saat bersama Mark? Ia bahkan tak berani menatap mata lelaki itu!

“Sudah sampai,” seru Mark. Ia lalu keluar dari mobil terlebih dahulu lalu membukakan pintu untuk Sooji. Oh, hentikan, Mark! Kau membuat Sooji semakin tersanjung!

“Kita mau kemana?” tanya Sooji heran begitu Mark menarik lengannya dengan penuh perasaan.

Mark tidak menjawab. Lelaki itu hanya tersenyum, memandang Sooji penuh arti.

“Apa yang kita lakukan disini?” bisik Sooji pada Mark begitu lelaki tampan itu membawanya ke kolam renang yang ada di sebuah rumah yang cukup besar. Tempat itu cukup gelap. Hanya diterangi oleh lampu kecil di setiap sudut kolam. Kenapa perasaan Sooji jadi tak enak begini?

Tak.jauh dari kolam tersebut, Sooji bisa melihat satu meja dan dua kursi tertata rapi.

“Jangan takut. Rumah ini milik pamanku. Hanya saja tidak.ada penghuninya,” jelas Mark. Mark kemudian menarik kursi tersebut dan mempersilahkan Sooji duduk.

Mata Sooji berbinar begitu melihat daging panggang sudah terhidang dihadapannya. “Kau yang memasaknya?”

“Aku sebenarnya ingin menjawab iya, tapi nyatanya tidak begitu. Aku membelinya.”

Sooji hanya menggumam lalu mulai memotong daging panggangnya. “Pantas saja enak,” gerutu Sooji seraya mengunyah.

Mark mendesis. Ia lalu menuangkan minuman ke dalam gelas milik Sooji.

Ya! Aku tidak minum alkohol!” seru gadis itu.

“Tenang saja. Ini hanya soda. Bodoh,” Mark terkekeh.

Sooji menekuk wajahnya. Namun ia tetap meminum sodanya. “Oh,” Sooji tersentak begitu merasakan air hujan mulai menetes. “Hujan!”

“Ayo, kita berteduh!” seru Mark saat hujan mulai deras.

Saat Mark ingin menarik lengan Sooji agar berjalan mengikutinya, Sooji menahannya. “Biar saja. Lagipula, kita sudah basah,” gumam Sooji. Gadis itu menengadah keatas dengan kedua tangannya yang terentang.

Mark hanya tersenyum simpul seraya menatap Sooji lekat. Gadis ini cantik. Sangat cantik. Mark suka saat gadis itu tertawa. Rasanya seperti seluruh beban Mark hilang melihat tawa gadis itu.

Sooji sedikit kaget begitu menyadari bahwa jaraknya dan Mark kini sangatlah dekat. Begitu menyadari niat Mark, Sooji kemudian memejamkan matanya.

“Kenapa kau memejamkan matamu?”

Sooji sontak membuka matanya kembali. Ia bisa melihat dengan jelas Mark kini menyeringai. Ia memukul pundak Mark, membuat lelaki itu meringis kesakitan.

“Sebaiknya kita pulang. Kau bisa sakit nanti.”

Sooji mengangguk kecil lalu mengikuti langkah Mark. Sebenarnya, Mark memang berniat mencium Sooji tadi. Tapi tiba-tiba saja ia teringat akan Myungsoo. Ia tak ingin mencuri ciuman Sooji sebelum gadis itu memilih antara dirinya dan Myungsoo.

Mark baru saja pulang dari rumahnya dengan hati yang berbunga-bunga. Lelaki tampan itu segera bergegas ke kamarnya. Namun, ia tersentak begitu melihat Myungsoo sudah berbaring manis di ranjangnya.

“Bagaimana kencanmu?” tanya Myungsoo. Lelaki itu kini sedang asik memainkan game di ponsel miliknya. Ia bahkan tak menoleh sedikit pun pada Mark.

“Berjalan lancar,” jawab Mark. Lelaki itu segera membuka bajunya dan menggantinya dengan kaus tanpa lengan yang baru saja diambilnya dari lemari pakaiannya.

“Aku hanya ingin memperingatkanmu. Sebaiknya kau menyerah sebelum terlambat. Bukankah kau tahu tidak ada gadis yang bisa menolak pesona seorang Kim Myungsoo?”

Mark tersenyum kecil lalu ikut berbaring disamping Myungsoo. “Aku tidak akan menyerah. Ini pertama kalinya bagiku. Dan aku tidak akan enyerahkan Sooji begitu saja pada seorang player sepertimu.” Mark mulai memejamkan matanya, bersiap untuk tidur.

“Aku memang seorang player. Tapi, itu sebelum aku bertemu dengan Sooji,” gumam Myungsoo. Ia lalu menatap ponselnya yang kini penuh dengan pesan masuk dari gadis-gadis yang “pernah” dikencaninya.

TO BE CONTINUED

Tulisan ini sebenernya buat iseng doang. Anggap aja buat ngerayain comeback Infinite yang barengan. By the way, jangan lupa nonton Infinite Bad Official MV & GOT7 Just Right Official MV okeh?

66 responses to “[Twoshoot] Buy One Get One Free Part 1/2

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s