[Freelance/Twoshoot] Gone Part 2 End

GONE

Title: GONE ||  Author: danarizf  ||  Genre: Sad, Angst (?)  || Main Cast: Bae Sooji Kim Myungsoo || Other Cast: Nam Woohyun Kim Jiwon || Length: Twoshoot  ||  Rating: PG

.

Disclaimer:

Semua cast yang ada disini bukan milik saya tapi milik mereka sendiri. Maaf jika ada kesamaan ide, latar, dan sebagainya, tapi cerita ini murni buatan saya sendiri. Dan yang terakhir, FF ini terinspirasi dari MV Cactus – Woohyun feat Lucia, tapi tenang aja karena ceritanya beda kok. Don’t be plagiator!

(PS: Adegan yang bercetak miring adalah flashback)

.

.

GONE – PART II

Eomma, tenang saja. Aku akan membawa Sooji segera untuk bertemu kalian. Jinjjaro.”

“….”

“Hmm, keuno.”

Seorang pemuda baru saja mematikan sambungan di ponselnya saat tiba-tiba benda itu kembali berbunyi dan bergetar secara bersamaan, menandakan sebuah panggilan masuk di ponselnya.

Yoboseyo?”

“….”

“Sudah keluar? Geure, aku akan kesana sekarang.”

….

Bau menyengat khas rumah sakit langsung tercium begitu pemuda itu menginjakkan kakinya di sebuah bangunan besar yang didominasi warna putih. Rumah Sakit Haewon. Dengan tergesa, Ia berjalan di lorong rumah sakit hingga akhirnya berhenti di depan sebuah ruangan.

Tok.. tok.. tok..

“Silahkan masuk.”

Pemuda itu menggerakkan kakinya, memasuki sebuah ruangan yang penuh berbagai macam alat untuk memeriksa pasien.

Eoh, Myungsoo, duduklah,” kata seorang pria dengan jas putih khas para dokter.

“Kenapa kau? Dimana Dokter Shin?” tanya Myungsoo mendapati pria di hadapannya bukanlah dokter yang memeriksanya sebelumnya, melainkan merupakan sunbae-nya saat sekolah dulu yang kebetulan merupakan dokter di rumah sakit ini.

“Ada salah satu pasien Dokter Shin yang tiba-tiba kritis jadi dia menyuruhku untuk membacakan hasilnya. Selain itu, ya… karena kau sudah mengenalku.”

Myungsoo mengangguk mengerti. Ia pun menjatuhkan pantatnya ke atas kursi dengan bantalan berwarna biru. Matanya kini menatap pemuda di hadapannya. “Jadi, Dokter, bagaimana hasilnya?” tanyanya langsung ke topik utama.

Eiy, panggil aku Hyung seperti biasa.”

Ne, Hyung.”

Dokter bermarga Lee itu berdehem pelan. Tangannya bergerak membuka laci dan mengeluarkan sebuah amplop putih berlogo Rumah Sakit Haewon. Dibukanya perlahan amplop tersebut.

“Aku sebenarnya belum melihat isinya dan baru akan membacanya. Kebetulan sekali kau sudah sampai. Kau ingin membaca sendiri atau kubacakan?”

“Bacakan saja! Kau kan dokternya.”

“Kim Myungsoo kau….”

….

Angin terlihat begitu bersemangat menerbangkan dedaunan kering yang lepas dari tangkainya. Menerbangkannya perlahan hingga akhirnya menyentuh permukaan tanah. Hawa dingin pun ikut terasa setiap angin berhembus sedikit lebih kencang. Hari yang cukup dingin semenjak musim gugur dimulai.

Kim myungsoo.

Pemuda itu terduduk di sebuah kursi kayu berwarna coklat dengan pinggiran besi hitam di tengah taman sebuah rumah sakit ternama di Kota Seoul, Rumah Sakit Haewon. Tangan kanannya mengepal begitu erat hingga membuat buku-buku jarinya memutih, sedangkan tangan kirinya tengah menggenggam sebuah amplop putih berlogokan rumah sakit tempat Ia berada sekarang.

Leukimia?

Benarkah Ia mengidap penyakit itu sekarang? Ia merasa sehat dan tidak mempunyai penyakit apapun. Pasti hasil pemeriksaan itu salah. Benar, pasti salah.

“Itu karena daya tahan tubuhmu yang kuat jadi kau tidak begitu mudah lelah, tidak seperti pasien leukimia yang lain. Lagipula ini hal yang baik karena penyakitmu terdeteksi lebih awal. Banyak diluar sana yang divonis setelah penyakitnya parah.”

Kedua sudut bibir Myungsoo tertarik ke atas. Sebuah senyuman yang terlihat begitu menyedihkan kini terukir di bibir pemuda itu.

“Hal yang baik? Apanya yang baik dari mempunyai sebuah penyakit?”

….

Kling!

Sebuah lonceng mungil yang dipasang di atas pintu sebuah restoran mengeluarkan suaranya bersamaan dengan terbukanya pintu kaca tersebut saat seorang gadis cantik membukanya penuh semangat. Manik matanya menelanjangi setiap sudut restoran, mencari sosok pemuda yang mungkin saja sudah menunggunya sedari tadi. Senyumnya melebar saat bisa menemukan sosok itu tengah duduk membelakanginya sambil menatap keluar jendela.

Dengan riang gadis itu melangkah ke sudut restoran dan menghampiri pemuda tersebut.

Bae Sooji–gadis itu–dengan senyum jail di bibirnya, menaikkan kedua tangannya lalu menutup kedua mata pemuda itu.

“Sooji.”

Sooji mengerucutkan bibirnya begitu pemuda itu mengeluarkan suaranya. Pemuda itu selalu saja bisa menebak dengan benar.

“Kenapa kau selalu menebaknya dengan benar?” protes Sooji seraya mendudukkan dirinya di hadapan pemuda itu yang mau tak mau membuatnya tersenyum melihat raut kesal di wajah Sooji.

Kim Myungsoo, pemuda itu semakin terkekeh karena gadis di hadapannya ini masih saja memanyunkan bibirnya. Terlihat begitu cute di matanya.

“Kenapa aku selalu menebaknya dengan benar? Karena kau selalu melakukannya setiap bertemu denganku.”

Jinjja? Aku tidak sadar.”

Myungsoo kembali terkekeh mendengar sahutan Sooji. Gadisnya ini polos sekali.

“Kau sudah memesankan aku seperti biasanya?” tanya Sooji.

Myungsoo menganggukkan kepalanya. Ia tahu persis apa yang akan dipesan Sooji setiap mereka berdua makan di restoran ini. Sepiring pasta dengan lada hitam yang banyak dan tidak memakai jamur sama sekali. Ya, Ia selalu mengingatnya.

“Woohyun-ssi pasti sudah hafal dengan pesananku, keutchi? Hampir setiap akhir pekan kita makan siang disini dan aku selalu memesan pasta buatannya,” celoteh Sooji.

 Myungsoo yang mendengarnya hanya terdiam. Bukan karena Ia tidak ingin membalas perkataan Sooji, melainkan karena kepalanya yang tiba-tiba saja berdenyut. Ia merasa pusing sekali. Dalam hati Ia merutuki penyakit sialan yang bersarang di tubuhnya. Kenapa harus muncul disaat-saat seperti ini? Disaat Ia sedang bersama gadisnya?

“Myungsoo? Kenapa diam saja? Appo?”

Eoh? Gwaenchanha. Aku ingin ke toilet sebentar.”

Myungsoo segera beranjak dari duduknya dan bergegas ke arah toilet tanpa mendengarkan jawaban Sooji terlebih dahulu. Ia baru ingat kalau Ia belum meminum obatnya. Pantas saja kepalanya terasa begitu sakit dan rasanya seperti akan pecah.

“Heh….”

Myungsoo menghela nafas lega begitu berhasil menelan obatnya setelah tadi sempat meminta segelas air mineral pada seorang pelayan. Kepalanya memang masih pusing tapi lambat laun akan mereda seiring dengan obatnya yang bereaksi.

“Sudah seminggu. Apa aku harus memberitahu Sooji? Tapi… dia pasti akan khawatir.”

….

Jemari lentik gadis itu bergerak lincah di atas tuts-tuts ponselnya, lalu bergerak lagi dan menempelkan benda itu ke telinganya, kemudian kembali menjauhkannya sambil menggerutu tak jelas. Begitu seterusnya hingga Ia melakukannya berkali-kali.

Sooji sungguh kesal karena berkali-kali Ia mencoba menghubungi Myungsoo namun kekasihnya itu sama sekali tak menjawab panggilannya. Padahal saat ini adalah jam makan siang jadi kemungkinan besar Myungsoo tidak sedang berkutat dengan pekerjaannya. Atau dia lembur?

“Arghh… kemana kau Kim Myungsoo?”

Akhirnya Sooji memutuskan untuk melupakan niat awalnya menghubungi Myungsoo untuk mengajaknya makan siang bersama. Ia pun segera mengangkat tangannya dan memanggil seorang pelayan untuk menyampaikan pesanannya.

Chogiyo… aku ingin memesan!”

….

Myungsoo berusaha mati-matian menahan sakit di kepalanya setelah menjalani kemoterapi yang mulai Ia lakukan hari ini. Rasanya semua tubuhnya remuk seketika dan kepalanya sudah hancur berkeping-keping. Perutnya pun terasa tak enak sama sekali.

Dan benar saja karena beberapa saat kemudian pemuda itu memiringkan tubuhnya dan memuntahkan isi perutnya ke atas lantai. Seorang perawat menghampirinya untuk membantunya.

Omo! Myungsoo-ya!”

Myungsoo menggerakkan kepalanya perlahan, mendongak sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya. Ia bisa melihat seorang wanita paruh baya tergesa menghampirinya dan menatapnya penuh kekhawatiran. Myungsoo tersenyum tipis melihat raut wajah ibunya. Sebenarnya Ia pun tak tega melihat ibunya begitu mencemaskannya seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi? Ia benar-benar tak kuat menahannya.

Aigoo… kenapa tidak panggil Eomma?”

“Aku tidak mau mengkhawatirkan Eomma,” lirih Myungsoo.

Wanita paruh baya itu menatap putranya penuh kesedihan. Putra kesayangannya harus menahan rasa sakit yang begitu parah dan Ia tak bisa berbuat apa-apa selain berdoa untuk kesembuhan putranya.

“Kata Dokter Shin, kau sudah boleh pulang kalau sudah tidak terlalu sakit. Apa masih sakit? Mau tiduran dulu?” tanya Nyonya Kim.

Myungsoo menggelengkan kepalanya lemah. “Aku baru ingat aku ada janji dengan Sooji.”

Nyonya Kim mengerutkan keningnya mendengar nama gadis yang disebutkan putranya. Nama yang sudah tidak asing lagi di telinganya, nama milik seorang gadis yang menempati hari seorang Kim Myungsoo.

“Kau masih belum memberitahu kekasihmu?”

Sekali lagi Myungsoo menggelengkan kepalanya. Ia tersenyum tipis pada ibunya. “Dia akan khawatir jika tahu, Eomma. Aku tidak ingin membuatnya sedih. Dan lagi… aku… aku takut dia meninggalkanku karena penyakit sialan ini,”  lirih Myungsoo.

Nyonya Kim menatap putranya prihatin. Ia bisa merasakan apa yang dirasakan Myungsoo.

“Tapi akan lebih baik kalau kau memberitahunya, Myungsoo-ya.”

“Aku akan memikirkannya,” kata Myungsoo. “Aku akan mengantar Eomma pulang dulu. Ayo!”

“Tidak perlu. Eomma akan naik taksi. Kau tidak apa-apa menyetir sendiri?”

Myungsoo menganggukkan kepalanya sembari tersenyum tipis, mencoba meyakinkan ibunya agar tak khawatir padanya. Kepalanya sudah tak begitu sakit seperti tadi. Setidaknya Ia yakin Ia bisa menyetir dengan selamat untuk saat ini.

Geure, hati-hati.”

….

Sudah dua bulan berlalu dan tak ada yang tahu tentang penyakit Myungsoo kecuali keluarganya. Sooji pun belum mengetahui hal itu. Myungsoo masih tetap pada pendiriannya untuk tak memberitahu kekasihnya perihal penyakitnya itu.

Myungsoo tiba-tiba menghentikan langkahnya saat merasakan kepalanya begitu pusing. Tangannya bersangga pada tembok di sampingnya sedangkan kedua matanya sudah terpejam rapat menahan rasa sakit yang menghantam kepalanya.

“Myungsoo?”

Myungsoo bisa mendengar suara itu. Tapi Ia benar-benar tak bisa menahan rasa sakitnya. Ia tak peduli siapa orang yang memanggilnya itu, apakah Ia tahu penyakitnya atau tidak. Yang pasti Myungsoo butuh bantuan orang itu sekarang. Ia sudah tidak dapat menahannya.

“Myungsoo!”

“Tto..lo..ongh…,” lirih Myungsoo. Samar-samar Ia bisa melihat seseorang yang menolongnya. Seseorang yang dikenalnya. Sekali lagi Myungsoo meminta tolong padanya. “Tolong…a..ku….”

“Myungsoo! Kau kenapa? Myungsoo!!”

….

Myungsoo bisa merasakan tatapan penuh tanda tanya dari pemuda di hadapannya. Tentu saja pemuda itu akan menanyainya berbagai macam hal setelah menolongnya saat pingsan beberapa waktu yang lalu.

“Kau… benar-benar….”

“Mm.” Myungsoo menggumam pelan, memotong perkataan pemuda itu sebelum Ia sempat menyelesaikan kalimatnya dan menyebutkan nama penyakit sialan yang menjangkit dirinya. Pemuda itu terlihat menatapnya tak percaya.

“Myungsoo, kenapa kau tak mengatakannya dari awal?” tanya pemuda itu.

Myungsoo menghela nafas panjang. “Apa aku harus mengatakan dengan bangga pada orang-orang kalau seorang Kim Myungsoo adalah seorang pemuda penyakitan? Aku tidak ingin orang-orang mengkhawatirkanku. Sudah cukup keluargaku saja. Aku tidak mau orang lain kerepotan karenaku.”

“Termasuk Sooji? Kekasihmu sendiri?”

“Dia akan menjadi orang yang paling sedih dan khawatir jika tahu aku mengidap sebuah penyakit. Woohyun Hyung, kumohon jangan beritahukan siapapun tentang penyakitku ini. Kalaupun pada akhirnya aku harus memberitahu Sooji, aku… akan memberitahunya sendiri.”

Woohyun tak bisa berkata apapun. Pasti berat bagi pemuda di hadapannya ini untuk menanggung sebuah penyakit parah seperti itu yang bahkan cukup mematikan mengingat sudah banyak yang kehilangan nyawanya karena mengidap penyakit itu.

Cklek.

Kedua pemuda itu sontak menolehkan kepalanya saat melihat dua orang wanita memasuki ruang rawat Myungsoo. Seorang wanita paruh baya dan wanita muda menghampiri mereka.

Eomma… Jiwon….”

“Jiwon datang untuk menjengukmu,” kata Nyonya Kim.

Gadis muda bernama Jiwon itu terlihat sedih melihat sepupunya terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Namun Ia mencoba menyembunyikannya dengan memasang seutas senyum di bibirnya. Ia kemudian mengalihkan pandangannya dan mendapati seorang pemuda lainnya tengah menatapnya penuh tanda tanya. Ia pun membungkukkan tubuhnya yang langsung dibalas pemuda itu.

“Myungsoo, Eomma baru saja berbicara dengan Dokter Shin.”

Myungsoo menatap Eomma-nya. Ada apa lagi ini?

“Dokter Shin bilang ada satu cara agar kau bisa sembuh. Beliau punya seorang kenalan yang pernah menyembuhkan seseorang yang mempunyai penyakit yang sama denganmu. Beliau bilang siapa tahu kau bisa sembuh dengan penanganan dokter itu.”

Semua orang yang ada di ruangan itu terlihat berbinar mendengar penuturan Nyonya Kim. Siapa yang tidak senang jika mempunyai sebuah kesempatan untuk bisa sembuh dari penyakitnya. Tentu Myungsoo termasuk ke dalam orang yang akan senang mendengarnya.

Geunde, dokter itu bekerja di Amerika,” lanjut Nyonya Kim.

Myungsoo membeku mendengarnya. Amerika? Bukan di Korea Selatan?

“Amerika?”

Nyonya Kim menganggukkan kepalanya. Ia tahu putranya pasti akan ragu setelah mendengar kata Amerika. “Myungsoo, kita kesana ya? Eomma ingin melihatmu sembuh,” ucap Nyonya Kim sambil mencoba menahan air matanya agar tak keluar.

“Sooji… aku… tak bisa meninggalkannya, Eomma.”

“Kau bisa memberitahunya semuanya. Dia pasti akan mendukung keputusan kita untuk pergi. Apalagi ini demi kesembuhanmu.”

“Aku… tidak tahu, Eomma. Aku bingung. Aku akan memikirkannya,” ucap Myungsoo pelan. Ia kembali membaringkan tubuhnya dan membalikkan tubuhnya membelakangi Ibunya, juga Woohyun dan Jiwon yang masih berada disana.

Myungsoo berusaha sekuat tenaga menahan air matanya untuk tak tumpah. Ia bisa mendengar isakan pelan keluar dari bibir ibunya. Mendengar hal itu membuat dada Myungsoo benar-benar sesak.

Tiba-tiba Myungsoo beranjak bangun dan menghampiri ibunya. Kedua lengannya mendekap tubuh mungil ibunya yang kini bergetar di dalam pelukannya. Ia masih bisa mendengar dengan jelas isakan tangis itu membuatnya tak bisa menahan lagi air matanya. Pertahanan itu ambrol dan air matanya ikut tumpah.

Eomma, aku.. takut. Aku takut, Eomma….”

….

Myungsoo sudah membulatkan tekadnya. Ia tak mau ibunya terus menangis dan mengkhawatirkannya. Ia hanya ingin hidup dengan bahagia tanpa ada penyakit yang menggelayutinya. Ia tahu, Ia tak mungkin akan tega melakukan hal ini. Tapi Ia benar-benar harus melakukannya.

“Sooji-ah…,” panggil Myungsoo.

“Hmm?” balas gadis itu.

“Aku… aku ingin hubungan kita berhenti disini saja.”

Perkataan Myungsoo bagaikan petir di siang bolong. Tubuh Sooji membeku mendengarnya. Matanya membulat tak percaya. Lidahnya terasa kelu dan tak mampu menghasilkan sebuah katapun.

“Myungsoo… apa maksudnya ini? Kau… kita….”

“Sooji-ah, aku ingin kita putus.”

Sekali lagi Sooji merasa petir itu menyambarnya untuk kedua kalinya. Menamparnya tepat dipipinya hingga menimbulkan rasa panas yang menjalar ke matanya. Cairan bening mulai membasahi bola matanya, menutupi penglihatannya hingga mulai kabur.

“Tapi… kenapa?”

Myungsoo terdiam. Kenapa? Kenapa? Ia tak bisa memberitahukan alasan itu. Tentu saja. Ia tak bisa mengatakan perihal penyakitnya dan keberangkatannya ke Amerika lusa untuk pengobatannya.

“Tidak ada alasan khusus. Hanya… aku merasa kita sudah tidak cocok lagi.”

Tes.

Air mata Sooji sukses lolos dari sudut matanya. Tak ada kata yang terucap, hanya isak tangis yang mulai terdengar. Matanya masih menatap sosok di hadapannya. Wajah Myungsoo menjadi semakin kabur seiring dengan air matanya yang terus menumpuk di pelupuk mata.

“Aku… aku hanya ingin mengatakan itu. Nan ganda.”

Sooji menggelengkan kepalanya melihat tubuh pemuda itu berbalik tepat di hadapannya.

Hajima….”

Tubuh Myungsoo menegang saat merasakan lengan Sooji melingkar di pinggangnya. Ia bisa merasakan tubuh gadis itu yang bersandar pada punggungnya. Tubuh Sooji bergetar.

Myungsoo berusaha keras menahan air matanya agar tak tumpah. Perlahan dilepaskannya lengan Sooji dari pinggangnya membuat gadis itu panik. Tanpa membalikkan tubuhnya atau sekedar menolehkan kepalanya, Myungsoo melanjutkan langkahnya sambil menahan sesak di dadanya.

Hajima… Myungsoo….”

….

Myungsoo menatap nanar pemandangan di luar jendela pesawat. Ia sudah duduk di kursinya dan sebentar lagi pesawatnya akan lepas landas dan membawanya ke Amerika. Myungsoo membuka ponselnya, mengecek apakah ada pesan masuk atau panggilan tak terjawab. Matanya terpaku pada sebuah nama yang masih melekat di hatinya.

Bae Sooji.

Myungsoo, aku… aku tak tahu apa alasanmu mengakhiri hubungan ini. Walaupun aku sedih, aku kecewa, aku sakit, aku akan mencoba menahannya dan menerima semuanya. Karena ini semua adalah pilihanmu. Terima kasih untuk segalanya. Jauh di lubuk hatiku, masih tersimpan perasaan yang sama padamu. Myungsoo, saranghae.

Bibir pemuda itu mengulas senyum getir. Pesan singkat yang dikirim gadis itu, gadis yang telah menempati hatinya, membuat dadanya terasa begitu sesak.

Mianhe, Sooji-ah. Nado saranghae.”

….

“Myungsoo, istirahat yang cukup malam ini. Besok adalah jadwal operasimu. Eomma ingin semuanya berjalan lancar.”

Myungsoo menganggukkan kepalanya pelan. Ia menatap ibunya penuh kasih sayang. Melihat guratan lelah itu membuat Myungsoo merasa bersalah karena telah membebaninya dengan sebuah cobaan yang berat.

Ne, semuanya akan berjalan lancar Eomma. Setelah operasi besok, aku tak akan merasakan sakit lagi. Aku janji itu.”

Mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca mendengar perkataan putranya. Dipeluknya tubuh Myungsoo yang semakin lemah dari sebelum-sebelumnya. Saat ini Ia hanya bisa berdoa untuk kesembuhan putranya.

Eomma, tiba-tiba aku ingin melakukan sesuatu. Bisa kau bantu aku?”

….

Di depan sebuah bangunan berwarna putih, seorang gadis dengan sebuah payung yang tertutup di genggamannya terlihat tengah menunggu seseorang sambil mengamati rintikan air langit yang jatuh membasahi permukaan bumi, membuat sebuah aroma khas hujan menyeruak ke dalam indera penciumannya.

Rambut lurus panjangnya bergerak-gerak tertiup angin. Ia menundukkan kepalanya, menatap sepatu sandalnya yang basah terciprat air hujan.

“Sooji?”

Sooji mendongakkan kepalanya. Seorang pemuda yang familiar baginya dengan kaos hitam dan celana jeans panjang berwarna senada melekat di tubuhnya kini tengah menghampirinya dengan kening berkerut samar. Kedua bola mata pemuda itu melebar saat bisa melihat dengan jelas raut wajah Sooji. Mata indah milik gadis itu kini terlihat sembab dan bibir manisnya yang biasanya berwarna merah muda kini terlihat pucat.

Gwaenchanhayo?”

“Kenapa kau tak memberitahuku?”

Eoh?”

“Woohyun-ssi, kenapa kau tidak memberitahukanku tentang Myungsoo?”

Woohyun – pemuda berkaos hitam dan celana jeans panjang itu – menundukkan kepalanya. Sejujurnya Ia sedikit bernafas lega karena akhirnya gadis di hadapannya ini tahu yang sebenarnya.

Woohyun pun memberanikan diri menatap Sooji tepat ke manik mata gadis itu. Bisa dilihatnya raut lelah terlukis di wajah gadis itu dan juga sedikit pucat. Matanya pun tak kalah memprihatinkan dengan bengkakan besar akibat menangis.

“Aku bukannya tidak ingin memberitahumu, Sooji-ssi. Aku hanya merasa saat itu bukanlah waktu yang tepat. Mengingat kau masih terlihat terpuruk karena putusnya hubungan kalian. Bahkan aku bisa melihat sikapmu yang tidak seperti dulu saat kau mengunjungi restoranku beberapa waktu yang lalu.”

“Tapi aku berhak tahu. Bahkan aku tidak tahu Myungsoo menderita akibat penyakit yang dideritanya padahal saat itu Ia masih berhubungan denganku. Apa aku ini bodoh?”

Woohyun menjadi tidak tega melihat keadaan Sooji saat ini. Memang tak ada tetesan air mata, tapi Ia tahu jelas bagaimana perasaan Sooji saat ini. Mungkin juga karena air mata gadis itu sudah habis terkuras hingga tak bersisa setetes pun.

“Kau sudah tahu semuanya?” tanya Woohyun hati-hati.

Dan Ia bisa melihat gadis itu menganggukkan kepalanya.

“Termasuk kenapa Myungsoo kembali ke Seoul?”

Lagi-lagi Woohyun dapat melihat anggukan kepala Sooji.

“Woohyun-ssi, antarkan aku… ke tempat Myungsoo. Sekarang juga,” kata Sooji.

Walaupun langit masih meneteskan sisa-sisa air hujan, namun Woohyun tahu gadis di hadapannya tak bisa ditolak lagi keinginannya. Lagipula lebih cepat lebih baik. Ia akan mengantarkan gadis itu… ke tempat Myungsoo.

“Ayo….”

….

Sebuah gundukan tanah terlihat masih basah, dengan sebuket lily teronggok di samping nisan putih berukirkan sebuah nama. Sebuah nama yang tak mudah dilupakan oleh orang-orang di sekitarnya. Sebuah nama yang mengingatkan kenangan manis yang terjalin selama beberapa waktu lalu. Sebuah nama yang sampai sekarang masih bertahan di hati Sooji. Kim Myungsoo. Ya, Kim Myungsoo.

“Myungsoo…,” lirih Sooji.

Matanya menatap sedih ke arah nisan itu. Jemari tangannya bergerak ke atas, mengusap pelan tepat di atas ukiran nama Kim Myungsoo.

“Kenapa kau meninggalkanku? Kenapa kau tak memberitahuku semuanya? Kenapa kau menyembunyikan sakitmu dariku? Kau anggap aku ini apa? Apa kau tidak percaya padaku?” cerca Sooji. Di belakangnya, Woohyun hanya bisa diam terpaku sambil mendengarkan kata-kata Sooji untuk Myungsoo.

Sooji menarik nafasnya panjang. Matanya sudah berkaca-kaca namun Ia mencoba menahan agar buliran bening itu tak menerobos untuk keluar dari pelupuk matanya. Tubuhnya sedikit bergetar, begitupun jemari tangannya yang masih setia mengusap nisan putih itu.

“Kalau aku tak bertemu sepupumu dan juga Woohyun-ssi, aku tidak akan pernah tahu hal ini. Apa ini yang kau inginkan? Membuatku tak tahu apa-apa tentang kepergianmu seumur hidupku?”

 

“Myungsoo… dia pergi ke Amerika. Tepat beberapa hari setelah Ia memutuskan hubungannya denganmu.”

Sooji mengerutkan keningnya mendengar perkataan Jiwon. Myungsoo pergi ke Amerika? Apakah Myungsoo memutuskannya karena ingin pergi ke Amerika? Tapi kenapa dia tak memberitahu Sooji?

“Dia… pergi ke Amerika karena suatu hal. Ah, lebih baik kau melihat ini,” Jiwon menjeda kalimatnya seraya tangannya merogoh ke tasnya dan mengeluarkan sebuah ponsel berwarna hitam yang Sooji tahu merupakan milik Myungsoo, “ada sebuah pesan video yang dibuat Myungsoo. Yang aku tahu Ia menyebut-nyebut namamu dalam video ini jadi kurasa kau perlu melihatnya.”

Sooji segera meraih ponsel itu dan memasang earphone putih di telinganya. Tangannya bergerak menekan tulisan play di layar ponsel itu.

Gelap. Tak ada apapun.

Selama beberapa detik layar itu hanya menunjukkan gambar hitam polos yang tentu saja membuat Sooji bingung. Namun tak lama kemudian muncullah sosok Myungsoo di video itu. Myungsoo-nya yang entah mengapa terlihat kurus dan dalam balutan… pakaian rumah sakit?

“Myungsoo… dia terkena leukimia.”

Sooji terkejut mendengar perkataan Jiwon yang tiba-tiba itu. Belum sempat Ia membalas, video Myungsoo mulai terputar. Dan pemuda itu mulai mengeluarkan kata-katanya.

Raut wajah Sooji terlihat berubah-ubah setiap Ia mendengarkan kalimat yang diucapkan pemuda itu. Tubuhnya tiba-tiba saja menegang mendengar kalimat lain yang diucapkan Myungsoo. Air matanya mulai jatuh membasahi pipinya. Ia sudah tak bisa membendung buliran bening itu. Hatinya terlalu sakit. Ingin sekali Ia meneriakkan pada Myungsoo kalau Ia merindukan pemuda itu. Tapi Ia tahu.. semuanya hanya sia-sia. Karena Myungsoo tak akan bisa mendengarnya.

“Kau… memperlihatkan video ini padaku… itu artinya.. Myungsoo.. Myungsoo….”

Ne, dia sudah pergi,” potong Jiwon dan hal itu berhasil membuat setetes air mata kembali lolos dari mata Sooji. “Setelah operasi itu, Myungsoo akhirnya bangun. Ia terlihat sehat. Dokter berkata jika selama beberapa minggu Myungsoo baik-baik saja, itu artinya tubuh Myungsoo menerima donor itu dengan baik. Tidak ada penolakan dari tubuhnya.”

Sooji menggigit bibir bawahnya. Sepertinya Ia tak siap dengan apa yang akan dikatakan gadis itu selanjutnya.

Geunde… beberapa hari setelah operasi itu, Myungsoo tiba-tiba saja sering pingsan. Dokter bilang itu adalah salah satu bentuk penolakan tubuh Myungsoo. Kami semua tentu saja sedih dan kecewa mendengarnya. Terutama Myungsoo. Ia terlihat begitu muram. Sehari-hari Ia hanya duduk termenung. Terkadang Ia memainkan kameranya, atau kadang juga terlihat mencoret-coret buku agendanya. Bahkan tak jarang aku melihatnya tengah memandangi selembar foto.”

Sooji menahan nafasnya. “Foto…?”

“Foto yang terselip di agenda Myungsoo yang kuberikan padamu.”

Sooji tertegun. Ia tahu foto itu. Foto dirinya bersama Myungsoo. Entah mengapa tiba-tiba saja dadanya terasa sesak. Bodohnya Ia saat itu yang mengira Jiwon memberikan agenda itu karena Myungsoo menyuruh Jiwon mengembalikan foto Sooji dan Myungsoo. Bodohnya Ia saat itu karena berpikir Myungsoo benar-benar ingin melupakannya. Mendengar hal yang dialami Myungsoo membuat Sooji begitu terluka. Bagaimana pemuda itu bisa menyimpan lukanya sendirian?

“Dan hari itu tiba. Myungsoo tiba-tiba kritis. Ia koma selama berhari-hari. Yimo… maksudku Ibu Myungsoo bahkan sudah menghabiskan air matanya setiap malam dan selalu berdoa agar Myungsoo bangun. Dokter bilang lebih baik Myungsoo dirujuk kembali ke Korea Selatan karena di Amerika pun sudah tidak ada yang bisa mereka lakukan. Dengan berat hati kami kembali ke Korea. Sayang sekali Myungsoo hanya bisa kembali di sini selama beberapa saat saja, karena dua hari setelah Ia dipindah di salah satu rumah sakit disini, Ia… benar-benar pergi selamanya. Dan tak akan pernah kembali lagi.”

 

Sooji masih berjongkok di samping pusara tempat Myungsoo disemayamkan. Ia masih teringat jelas cerita Jiwon padanya tentang Myungsoo saat di Amerika hingga detik-detik terakhirnya di Seoul.

Tes.

Dan air mata itu jatuh. Sooji tak bisa menahannya. Diangkatnya tangan kanannya untuk mengusap kasar pipinya yang basah oleh air matanya sendiri.

“Myungsoo… aku… juga ingin mengatakan sesuatu padamu. Mianhe. Maaf karena aku membuatmu tak bisa menemanimu. Maaf karena aku bahkan tak ada disampingmu saat kau sakit, dan saat kau pergi. Geurigogomawo. Terima kasih telah menjadi bagian dari hidupku. Terima kasih sudah memikirkan perasaanku. Terima kasih sudah mencintaiku setulus hati. Dan terakhir….”

Sooji menghentikan sejenak kalimatnya. Ia kemudian mendekatkan kepalanya ke arah nisan putih milik Myungsoo, lalu berbisik pelan…

“Myungsoo-ya, nado saranghae….”

….

EPILOG

Eomma, aku akan membuat video. Bisa bantu aku merekamnya?”

Nyonya Kim menatap putranya sejenak lalu segera menyiapkan apa yang diminta putranya. Saat ini, yang bisa Ia lakukan adalah menuruti permintaan Myungsoo. Ya, hanya itu.

Myungsoo sudah bersiap, Ia duduk di sebuah sofa berwarna coklat dengan sebuah kamera di hadapannya. Ia kemudian menatap ibunya yang masih berdiri di belakang kamera.

Eomma, bisa… kau keluar sebentar? Aku tidak bisa melakukannya kalau Eomma ada disini. Ne?”

Walaupun berat, akhirnya Nyonya Kim keluar dari ruang rawat putranya. Ia menutup pintu kamar putranya lalu berdiri di depan pintu. Darisana, Ia masih bisa mendengar jelas apa yang dikatakan Myungsoo.

Annyeong, Kim Myungsoo imnida. Saat ini aku sedang ada di Amerika. Untuk berobat, dan bukan untuk berlibur. Aku meminta bantuan Eomma untuk membuat video ini. Eung… bukan bermaksud apa-apa sih. Hanya ingin membuat kenang-kenangan untuk kita semua. Besok… aku akan menjalani operasi sumsum tulang belakang. Dokter bilang jika tubuhku bisa menerima donor sumsum ini, maka aku bisa sembuh.

“Eung… sebenarnya ada satu hal yang ku khawatirkan. Selama beberapa minggu ini hatiku terasa kosong. Kalian tahu kenapa? Karena aku merindukan Sooji-ku. Dia kekasihku yang bahkan belum sempat aku kenalkan pada Eomma. Tidak. Dia bukan kekasihku lagi sekarang. Aku memang bodoh telah menyia-nyiakan gadis sebaik dia. Aku tahu dia mencintaiku, sama seperti aku mencintainya. Aku hanya tidak ingin dia mengkhawatirkanku. Aku tidak ingin dia ikut sedih. Bagaimanapun… penyakitku adalah penyakit yang parah. Bagaimana kalau aku tidak bisa sembuh? Aku hanya akan membuat hatinya terluka.

“Aku… aku membuat video ini hanya untuk menyampaikan perasaanku yang sesungguhnya pada Sooji, karena aku tak tahu apakah aku masih bisa bertemu lagi dengannya atau tidak setelah operasi itu. Sooji-ah, aku berharap kau tidak pernah melihat video ini karena jika itu terjadi, artinya aku sudah tidak ada di dunia ini lagi.”

Nyonya Kim tertegun mendengar perkataan Myungsoo. Air matanya sudah lolos sedaritadi karena terus mendengarkan kalimat-kalimat yang diutarakan Myungsoo. Mengapa Ia merasa begitu sedih seolah-olah akan berpisah dengan Myungsoo selamanya? Mengapa?

“Hmmh… Sooji-ah, mianhe. Maaf karena aku membuatmu menangis. Maaf karena membuatmu terluka. Geurigogomawo. Terima kasih telah menjadi bagian dari hidupku dan menempati ruang kosong di hatiku. Dan terakhir…

“Sooji-ah, saranghae….”

….

Fin.

….

Udah tamaaaaaaaaaaaat!!!! Gimana ceritanya? Jelek ya? Feel-nya nggak dapet ya? Gampang ketebak ya? Hehe.. kemarin banyak yg udah nebak bener tapi ragu gara-gara adegan Sooji di awal sama akhir part 1. Dari awal emang lagi males bikin yang susah ditebak jadi hasilnya gini deh. Maaf banget  kalau ff ini masih banyak kekurangan.

Ada yang bingung sama alurnya mungkin? Enggak kan? Semoga enggak. Kalau bingung ditanyain aja, nanti sebisa mungkin aku jelasin🙂

Oh ya sebenernya kalau kalian tahu MVya Woohyun ft. Lucia – Cactus, pasti langsung bisa nebak ceritanya. Buat yang belum lihat, Mvnya recomended banget. Sedih banget pokoknya.

Oke terakhir, makasih yang udah baca dari part 1 sampai part 2. Reader-nim, jangan lupa RCL yaaa😀

 

70 responses to “[Freelance/Twoshoot] Gone Part 2 End

  1. huft… sedih, feelnya dapet banget,reader jd bsa merasakan kesediahn semua castnya, alurnya juga ngga ngebingungin..
    kata katanya mudah di pahami..smpai nangis baca ff in thor..😥
    wlopun sad end,tp author ttep daebak..
    teruslah berkarya

  2. Huaaa.. aku nangis.. sedih banget c.. feelny dpt bgt..
    Pas Sooji nyamperin nisan Myungsoo, aku lsg sedih..
    Gak rela Myungsoo meninggal.. Kasian Sooji.. huaaaa.. tanggung jawab author krn bikin aku mewek.. huhuhu..

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s