[Freelance] Business Marriage Chapter 6

Title : Business Marriage | Author : kawaiine | Genre : Comedy, Marriage Life, Romance | Rating : PG-17 | Main Cast : Bae Soo Ji, Kim Myungsoo | Other Cast : Lee Min Ho, Kim Yoo Jung , Kim Tae Hee , Lee Junho , Park Jiyeon , Kim Do Yeon, Lee Seung Gi,eTc.

“This plot and story is mine, sorry for typos, same characters or cast.happy reading :*”

***

Author POV
Suzy melangkahkan kakinya pelan menuju kamar mandi. Terkadang dalam langkahnya ia harus meletakkan telapak tangannya ke dinding. Miliknya, yang kini menjadi milik Myungsoo juga terasa sedikit sakit. Kini ia berdiri mematung di hadapan cermin, perlahan telapak tangannya mengusap wajahnya secara menyeluruh. Membayangkan kejadian tadi malam dimana setiap ciuman Myungsoo mendarat hampir di seluruh wajahnya. Suzy hanya tersenyum tipis, matanya tak lepas dari pantulan dirinya di hadapan cermin. Telapak tangannya kini menyusuri hampir setengah dari tubuh mungilnya. Bayangan yang indah kembali hadir di pikirannya. Seluruhnya, ia telah serahkan pada suami tercintanya termasuk hatinya. Suzy tertawa pelan, ia menunduk karena melihat warna merah perlahan muncul di sekitar pipinya. Tak lama kemudian, Suzy mengangkat kepalanya. Namun ia sedikit tersentak sekarang melihat bayangan seorang pria di belakangnya yang sedang tersenyum hangat menyambutnya. Refleks ia membalikkan badannya.

“Oppa!” Myungsoo masih dengan tersenyum lalu ia sedikit mengangkat bahunya. Myungsoo mendekati istrinya, meraih bahu Suzy lalu membalikkan badannya kepada posisi semula. Myungsoo melingkarkan tangan kekarnya di sekitar pinggang Suzy. Bahu mungil Suzy ia jadikan sebagai penopang dagunya.

“K—Kau menga—getkanku Oppa.” ucap Suzy terbata-bata, meskipun kini ia telah mengungkapkan semuanya pada Myungsoo, namun kecanggungan seringkali menghampirinya, terlebih disaat posisi seperti ini. Tubuhnya sedikit meremang akibat nafas Myungsoo yang berhembus halus di sekitar leher jenjangnya.

“Benarkah? Tapi kau terlihat gugup.” ujar Myungsoo. Matanya terpejam seolah menemukan tempat ternyamannya.

“A—Aku tidak gugup.” jawab Suzy, Myungsoo hanya tertawa.

“Kau akan berangkat ke kantor?” tanya Myungsoo, Suzy hanya mengangguk.

“Baiklah, karena aku juga harus ke kantor, untuk mempersingkat waktu… Bagaimana dengan mandi bersama?” tanya Myungsoo, Myungsoo kini menciumi leher jenjang istrinya. Beberapa tanda kemerahan terdapat disana. Suzy hendak membuka mulutnya untuk mengucapkan sesuatu akibat perbuatan Myungsoo. Namun, ia hanya mengangguk menyetujui permintaan suaminya untuk mandi bersama. Myungsoo melepaskan pelukannya di tubuh indah Suzy, perlahan Suzy membalikkan badannya lalu berjalan menuju bathtub. Myungsoo mengekor di belakangnya. Sesuatu yang indah seperti tadi malam terjadi lagi, lagi, lagi.
—-0000—-
Suzy kini melangkahkan kakinya menuju kantor cabangnya. Para artisnya mengucapkan selamat untuk pernikahannya dengan Myungsoo. Begitu pula di kantor Myungsoo. Suzy memasuki ruangannya, ia terduduk di kursi besar. Tak lama kemudian Jiyeon menghampirinya.

“Suzy-ah, ini.” Jiyeon memberikan sebuah kertas berbentuk persegi. Suzy menatapnya dan mengambilnya.

“Ige mwoya Jiyeon-ah?” tanya Suzy. Jiyeon hanya menunduk malu dengan senyumnya. Tak lama kemudian Suzy tertawa, awalnya memang sedikit mengejutkan.

“Ah! Chukkae Jiyeon-ah chukkae!” Suzy bangkit dari duduknya lalu menghampiri dan memeluk erat Jiyeon.

“Yak! kau menjalin hubungan dengannya tanpa sepengetahuanku dan Myungsoo Oppa?” tanya Suzy. Jiyeon hanya mengangguk dan tertawa.

“Kalian ternyata berkencan gelap. Dan kalian memutuskan untuk menikah?” ujar Suzy. Jiyeon hanya tertawa. Namun tawa Jiyeon terhenti seketika melihat sesuatu di balik rambut Suzy, tepatnya di leher Suzy yang sedari tadi sedikit tertutup oleh rambutnya. Tangan Jiyeon menyibakkan rambut Suzy. Suzy hanya mengernyit. Jiyeon tertawa.

“Yak! Kau sudah melakukannya dengan Myungsoo Oppa-mu itu, eoh?” tanya Jiyeon, Suzy terkejut.

“Lihatlah ini! Satu,dua,tiga,empat—“ Jiyeon meletakkan telunjuknya di leher Suzy tepatnya di tanda kemerahan yang berada di leher Suzy. Suzy merogoh sakunya untuk mengambil cermin, lalu ia terkejut.

“Ah—Ini bukan apa-apa.” ujar Suzy menjauhkan dirinya dari Jiyeon. Jiyeon tertawa kembali.

“Apa aku bilang, kau pasti mampu melakukannya Suzy-ah…” ujar Jiyeon, Suzy hanya tersenyum.

—-0000—-
Myungsoo dan Seung Gi kini tengah makan siang. Pernikahan Seung Gi dan Jiyeon mengharuskan calon pengantin ini membayar makan siang pasangan suami istri yang tak lain adalah sahabat-sahabatnya. Myungsoo, Suzy, Seung Gi dan Jiyeon kini tengah makan siang bersama. Di iringi dengan canda tawa. Namun, kegiatan mereka terhenti seketika melihat Min Ho menghampiri mereka, tepatnya menghampiri Suzy.

“Suzy-ah kita harus bicara…” ujar Min Ho. Suzy terdiam memandang pria di hadapannya, ia sedikit berdiri namun Myungsoo menahannya, Myungsoo kini berdiri dan menepuk pundak Min Ho membuat Suzy terkejut. Myungsoo menggiring Min Ho untuk keluar dari restoran, Suzy hendak bangkit berdiri namun Jiyeon menahannya. Seung Gi mengikuti jejak Min Ho dan Myungsoo.

“Ada apa lagi? Apa yang membawamu datang kesini?” tanya Myungsoo pada Min Ho.

“Aku hanya ingin berbicara dengan Suzy.”

“Apa lagi yang ingin kau katakan padanya? Dia sudah memiliki seorang suami. Kau seharusnya sadar akan posisi Suzy saat ini. Dia istriku.” ujar Myungsoo.

“Aku tau. Tetapi aku hanya ingin membicarakan sesuatu padanya. Tentang hubungan kami dulu yang sempat—“

“Apakah kau tak memiliki rasa malu? Kau tau? Telepon dan sms mu sewaktu kami di London mampu membuat rasa bersalahnya semakin dalam. Ia menangis kencang di hadapanku.” ujar Myungsoo, kini Myungsoo mendekatkan dirinya pada Min Ho.

“Kau tau? Ia sama sekali tak memberi harapan padamu. Kau yang terlalu berharap padanya. Ia tak mengharapkan perhatian lebihmu waktu itu. Kau tau? Semua perlakuanmu terpaksa ia terima karena ia merasa berhutang pada kedua orangtuamu yang baik padanya.”

“Tapi aku mencintainya Kim Myungsoo!”

“Kau harus menerima kenyataan dimana cintanya bukan untukmu, hatinya bukan untuk melengkapi hatimu. Min Ho-ssi kau harus menyadari bahwa kini ia adalah istriku, ia adalah jiwa hidupku. Kau harus menyadari posisimu sekarang.” ujar Myungsoo. Sebenarnya hatinya sedikit marah mengingat ucapan Min Ho tadi.

“Lee Min Ho-ssi, Suzy mencintai Myungsoo. Kau harus menerima kenyataannya. Cinta tak pernah menuntut untuk dibalas, namun cinta hanya menuntut rasa pengertian. Begitupula dengan Suzy. Suzy menuntut rasa pengertian darimu. Ia sekarang berstatus sebagai seorang istri.” ujar Seung Gi.

“Tanpa perhatian lebih dari keluargamu, aku yakin Suzy masih bisa hidup. Karena Suzy adalah wanita yang sangat kuat.”
Min Ho kini mengepal tangannya, ia berbalik meninggalkan Seung Gi dan Myungsoo yang berdiri mematung. Seung Gi dan Myungsoo hanya menggeleng melihat tingkah angkuh Min Ho.

“Kau mendapat kata-kata itu darimana Hyung?” tanya Myungsoo dengan sedikit tawa.

“Drama yang ku tonton tadi malam.” ujar Seung Gi. Myungsoo tertawa pelan.

—-0000—-
Myungsoo duduk di kursi kebesarannya, ia memijat pelipisnya begitu map berwarna kuning itu terhempas di atas meja kerjanya. Esok ia di haruskan pergi ke kawasan Jeju untuk melakukan sebuah kerjasama dengan perusahaan iklan. Di arah lain, Suzy tengah bermain piano di ruangan keluarga lalu menggoyangkan pensilnya di atas kertas putih, sesekali ia bergumam pelan dan tersenyum. Ia menyukai seperti ini, ketika menciptakan sebuah lagu. Hingga kedatangan Myungsoo tak ia sadari. Myungsoo memperhatikan istrinya dari belakang yang sedang bermain piano dan bernyanyi. Myungsoo hanya tersenyum, ia harus mengakui kehebatan istrinya kali ini.

“Lagu yang indah, Suzy-ah.”

“Oppa! Kau mengagetkanku, sejak kapan kau pulang?” Suzy membalikkan badannya menghadap Myungsoo, ia beranjak dari duduknya lalu menghampiri Myungsoo.

“Suzy-ah, kau membuat lagu dengan sangat baik. Apakah itu lagu yang akan kau berikan untuk artismu?” tanya Myungsoo pada Suzy yang sedang melepaskan dasi yang melekat di kerah kemeja Myungsoo.

“Rencananya seperti itu, tapi aku ingin menyanyikan ini sendiri. Tetapi, aku membutuhkan seseorang lagi.” Myungsoo memegang kedua bahu Suzy. Lalu menatapnya dengan penuh harap.

“Bagaimana jika aku yang menemanimu?” Suzy tersenyum lalu mengangguk.

“Awalnya aku juga ingin meminta Oppa untuk menemaniku menyanyikan ini. Tetapi, aku takut Oppa tidak mau.” Myungsoo tertawa pelan, lalu mendekap Suzy kedalam pelukannya. Tak ada lagi rasa ragu untuk Suzy membalas setiap perlakuan Myungsoo padanya.

“Esok aku harus pergi ke Jeju. Bagaimana menurutmu? Aku mengkhawatirkanmu jika kau sendirian.”

“Pergilah Oppa, tak usah mengkhawatirkanku. Aku akan baik-baik saja. Berapa hari kau pergi?”

“Sekitar 2 hari Suzy-ah, apakah perlu aku memanggil Yoo Jung untuk menemanimu?”

“Tak usah, Aku akan baik-baik saja Oppa.”

“Karena aku akan pergi , aku pasti akan merindukanmu. Bagaimana jika—“ Myungsoo tak melanjutkan pembicaraannya, Suzy menatap Myungsoo heran, menyadari sesuatu yang tidak beres pasti terjadi.

“Ji—Jika Apa?” tanya Suzy dengan terbata-bata karena Myungsoo mulai mendekat pada wajahnya. Myungsoo menyeringai, lalu menggendong Suzy. Suzy meronta keras. Namun, usaha Suzy sia-sia. Tenaga Myungsoo lebih kuat darinya.

—-0000—-
“Bagaimana? Apakah pria itu menyetujui untuk pergi ke Jeju?” tanya Tuan Kang pada seorang pria di hadapannya.

“Ya, dia baru saja mengirimkan balasannya beberapa jam yang lalu.”

“Baiklah, bukankah kita harus menyingkirkannya satu persatu? Kita harus menyingkirkan kesombongan istrinya terlebih dahulu.”

“Baik, Tuan.” pria itu kini memberi hormat lalu pergi. Tak lama kemudian seorang wanita dan pria memasuki ruangan tersebut.

“Aku akan membantu membuat Myungsoo berlama-lama di Jeju.” ujar si wanita.

“Nona Kim Do Yeon, aku percayakan urusan Myungsoo padamu. Kau harus mampu membuatnya betah disana.”

“Aku yang akan menjebak Suzy.”

“Baiklah, tetapi jika usahamu gagal jangan harap kau bisa hidup dengan tenang.”

—-0000—-
Pagi hari tiba, Suzy sedang membereskan baju yang akan di bawa Myungsoo ke Jeju. Suzy melipat dan memasukkannya kedalam koper dengan rapi. Myungsoo tersenyum ketika keluar dari kamar mandi begitu melihat istrinya. Entah apa, ia sangat merindukan Suzy bahkan ketika Suzy jelas di hadapannya. Myungsoo memakai bajunya. Ia lalu memeluk Suzy yang sedang membereskan barang-barangnya.

“Oppa…”

“Aku merindukanmu Nyonya Kim…”

“Kau akan pulang, kau harus berjanji padaku.”

“Aku pasti akan pulang, kau jagalah diri baik-baik.”

“Kau juga Oppa…” Myungsoo mengecup bibir istrinya, ia memeluk Suzy erat.

“Kau harus segera berangkat, jika tidak kau akan terlambat.” Myungsoo mengangguk.

“Aku akan menghubungimu begitu aku sampai disana.” Suzy tersenyum, tak lama kemudian Myungsoo menghilang dari hadapannya. Hanya suara mobil yang terdengar jelas di telinganya. Suzy kembali kedalam rumah, ia menuntaskan tugasnya sebagai seorang istri pagi ini. Perlahan ia menatap seisi rumah, memang hampa tanpa kehadiran suaminya. Suzy melangkahkan kakinya keluar rumah, lalu pergi dengan mobil yang dikendarainya. Kini ia tiba di kantor cabang agensinya yang sedang sedikit di perbesar.

“Suzy-ah, ini… ada beberapa berkas yang harus kau baca.”

“Baiklah, aku akan mengurusnya. Jiyeon-ah, apakah Seung Gi Oppa ikut bertugas ke Jeju?”

“Tidak, ia berada di kantor. Wae? Apakah Myungsoo pergi ke Jeju?”

“Ya, tadi pagi suamiku baru saja berangkat.”

“Kau sendirian di rumah? Bagaimana jika aku menemanimu?”

“Tidak perlu, kau akan banyak kesibukan akhir-akhir ini… Lebih baik pikirkan saja pernikahanmu yang semakin hari semakin dekat.”

“Baiklah, jika kau membutuhkan sesuatu hubungi saja aku Suzy-ah.”
Suzy hanya mengangguk, Jiyeon melangkah keluar. Suzy kembali membaca isi berkas penawaran itu. Ia dengan teliti mengerjakannya. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Kini jam dinding menunjukkan pukul 5 sore, namun Suzy masih berkutat dengan tumpukan berkas di hadapannya. Myungsoo telah tiba di Jeju. Ia menghubungi Suzy tadi siang. Suzy melihat pada jam tangan indah yang melekat di pergelangan tangannya. Ia segera membereskan berkas-berkasnya dan memasukan kedalam lemari kecil di hadapannya. Suzy lalu melangkahkan kakinya menuju pintu keluar dan hendak pulang ke rumahnya. Tapi di perjalanan pulang Min Ho menelponnya.

“Min Ho Oppa, wae?”

“……….”

“Bagaimana bisa Yoo Jung ada disitu?”

“………”

“Baiklah, aku akan kesitu. Dimana sekarang lokasinya?”

“……….”

Suzy kembali memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia baru saja mendapat kabar dari Min Ho bahwa Yoo Jung ditemukan tengah pingsan ketika sedang berjalan dengan teman-temannya dan tak sengaja berpapasan dengan Min Ho.

“Min Ho Oppa, kemana Yoo Jung? Mengapa kau tahu bahwa aku adalah kakak iparnya?”

“Aku hanya membaca call historynya denganmu, cukup banyak jadi aku mencoba menghubungimu.”

“Lalu, kemana Yoo Jung?”

“Yoo Jung ada di dalam, kau masuklah.” Min Ho sedikit menundukkan wajahnya, ada rasa sedikit tak tega menjebak wanita yang pernah ia cintai, mungkin sekarang juga masih ia cintai. Namun, seperti yang di katakana Seung Gi bahwa ia harus menyadari posisinya sekarang. Min Ho menundukkan wajahnya, ia memang kesal pada Suzy ketika ia mengetahui kenyataan bahwa Suzy adalah istri dari Myungsoo. Sepintas rasa ingin membunuh Suzy kembali muncul menepis rasa bersalah telah menjebak Suzy. Ia keluar melangkahkan kakinya dan meraih handphone dari sakunya.

“Dia sudah datang, semua suruhanmu sudah disini. Dan ku pastikan kali ini ia akan menyetujuinya.”

“Baiklah, aku akan segera kesana.” ucap seseorang di luar sana, Min Ho masuk kedalam mobilnya, ia memejamkan matanya.

Di arah lain, Suzy tengah menyusuri setiap ruangan lalu mencari-cari Yoo Jung. Terbukti Yoo Jung tak ada disini. Suzy merasa ada yang tak beres, ia merasa seperti di jebak oleh Min Ho. Kini Suzy berlari menuju pintu keluar, namun naas seorang pria membekap mulutnya dan membawanya ke lantai atas. Kini Suzy duduk di sebuah kursi dengan tali yang melilit badannya.

“Si—Siapa kalian? Dimana adikku?” tanya Suzy. Sementara seseorang masuk dari arah luar sana, membuat Suzy membelalakkan matanya.

“Tuan Kang—“

“Ya, Nona Bae… Ku pikir hanya dengan cara ini kau dapat berubah pikiran untuk menerima kerjasama dariku.” Suzy menatap geram pada Tuan Kang membuat pria tua itu tertawa.

“Jangan berharap kau dapat menjadikanku atau suamiku bagian dari keserakahanmu.” Tuan Kang kini mengambil sebuah map dari dalam tasnya, lalu melemparkannya ke arah Suzy.

“Bacalah dengan teliti dan setujui itu. Aku akan menunggumu hingga esok hari.”

Suzy terdiam. Tuan Kang dan para pengawalnya meninggalkannya, Suzy menangis… Ia merindukan Myungsoo, berharap Myungsoo berada disini. Suzy tak kehabisan akal, kini tangannya meraih sebuah pecahan kaca di dekat sebuah meja tinggi. Ia menggoresnya pada tali yang mengikat tangannya. Dengan usahanya ia berhasil melepaskan tali yang mengikat tubuhnya, kini ia berjalan pelan memastikan bahwa tak ada yang melihatnya. Termasuk para pengawal Tuan Kang. Suzy sedikit berlari dengan nafas terengah-engah, namun langkahnya terhenti ketika seseorang membekap mulutnya di balik tembok. Suzy berteriak, namun orang itu menyuruhnya untuk diam. Suzy percaya bahwa orang ini akan menyelamatkannya. Ia mengikuti langkah pria ini menuju sebuah ruangan kecil.

“Kau siapa? Mengapa kau membawaku kesini?” tanya Suzy, sementara pria itu membuka penutup wajahnya.

“Jun—Junho Oppa…”

“Suzy-ah, kau baik-baik saja? Apakah kau terluka?”

“Aku baik-baik saja Oppa, Oppa… Mengapa kau tahu tempat ini? Mengapa kau menyelamatkanku? Apa hubunganmu dengan Tuan Kang?”

“Duduklah, aku akan menjelaskannya nanti. Aku akan membuatkan segelas susu untukmu.”

“Baiklah.”

Tak lama kemudian Junho datang bersama segelas susu di tangannya, ia memberikannya pada Suzy. Suzy hanya menatapnya lekat-lekat.

“Aku mendengar bahwa kau akan di culik untuk segera menandatangani berkas kerjasama dari perusahaan pria itu. Jika kau bertanya apa hubunganku dengannya, Mungkin aku tak pantas memanggilnya Ayah—“

“Ayah? Apakah kau dan Min Ho Oppa—“ Suzy kini membelalakkan matanya,menutup mulutnya tak percaya.

“Ya, aku dan Min Ho Hyung adalah putra dari pria serakah itu. Aku di paksa melakukan ini, maafkan aku Suzy-ah…”

“Junho Oppa, seharusnya aku berterimakasih padamu. Meskipun aku harus melalui bahaya, tetapi aku selalu selamat pada akhirnya. Oppa, mengapa Min Ho Oppa melakukan ini padaku? Ia bilang bahwa adik iparku tadi bersamanya…”

“Itu hanyalah siasatnya saja untuk menjebakmu. Menjebak dirimu.”
Suzy menunduk lemas, tiba-tiba bayangan Myungsoo melintas di pikirannya.

“Oppa, suamiku pergi ke Jeju… Apakah ini adalah sebuah jebakan juga untuknya?”

“Bukan, tepatnya ini adalah agar tidak ada yang menyelamatkanmu. Namun, aku tak bisa berdiri tenang melihat orang yang baik hati padaku dalam bahaya. Masalah suamimu, ia akan baik-baik saja. Wanita itu takkan mampu untuk membuatnya betah di sana.”

“Wanita?”

“Ya, wanita yang mengejar suamimu waktu itu. Ia di tugaskan untuk membuat suamimu berlama-lama disana agar rencana ayahku berjalan lancar. Tapi, kau tak perlu khawatir Suzy-ah…”

“Oppa? Apa yang harus aku lakukan?”

—-0000—-
Myungsoo POV
Hari ini cukup melelahkan sekali setelah mengadakan meeting dengan perusahaan yang akan bekerja sama denganku. Tak lama kemudian, seorang wanita menghampiriku.

“Tuan, kau harus membatalkan kerjasama ini. Percuma kau berlama-lama disini namun tak akan membuahkan hasil. Jika seorang wanita yang berpakaian sepertiku menghampirimu, hiraukan saja. Ini untuk kebaikanmu.”

“Wae? Aku tak mengenalmu, mengapa aku harus percaya padamu? Apakah kau ingin menjebakku?”

“Ini untuk kebaikanmu dan juga istrimu.”Aku tertegun,teringat Suzy. Aku mengecek handphone, tak ada pesan apapun dari istriku.

“Istriku? Apa yang kau lakukan pada istriku? Apa yang kau lakukan?”

“Istrimu dalam bahaya, jika kau cepat kembali dan segera menghubungi polisi… Istrimu akan selamat. Maka dari itu, kau harus membatalkan ini. Kerjasama ini adalah kerjasama yang kosong Tuan. Ini tak akan menghasilkan apapun. Istrimu sedang bersama orang yang menyuruhku.”

“Menyuruhmu? Siapa?”

“Lee Junho, ini adalah siasat Tuan Kang. Tuan kumohon padamu sesegera mungkin kau meninggalkan Jeju.”

“Baiklah. Terimakasih telah membantuku.”
Aku kini sedikit berlari menuju kamar penginapan, membereskan setiap barangku. Hanya Suzy di dalam pikiranku saat ini. Aku takut terjadi apa-apa padanya. Aku melangkahkan kaki keluar dari penginapan ini. Tak lama kemudian Do Yeon datang menghampiriku, pakaiannya sama dengan wanita yang menghampiriku tadi.

“Myungsoo Oppa, aku merindukanmu.” Do Yeon kini mendekapku, aku melepasnya dengan paksa.

“Apa yang kau lakukan? Pergilah dari sini.”

“Oppa, apakah kau tidak merindukanku?” Do Yeon kini menggenggam tanganku, namun aku melepaskannya dan berlalu pergi. Tiba-tiba seorang pria datang menghampiri Do Yeon, mungkin itu yang di beri tahu oleh wanita itu tadi. Aku berjalan untuk segera meninggalkan Jeju dan secepat mungkin menemui Suzy.

—-0000—-
Author POV
Suzy kini tengah membaca beberapa map yang di berikan oleh Junho. Ia menatap tak percaya pada Junho.

“Aku tahu kau akan mendapat masalah besar setelah ini, Oppa. Terimakasih telah membantuku.”

“Ini belum seberapa di bandingkan kebaikanmu padaku Suzy-ah, sekitar 1 jam lagi suamimu akan datang kesini. Kau bersiaplah dan pasti sebentar lagi pria itu akan mencarimu dengan anak buahnya.”

“Junho Oppa…”

“Aku tak menyangka kau adalah seorang anak dari Tuan Kang, aku juga tak menyangka bahwa Min Ho Oppa mendekatiku hanya karena di suruh oleh Tuan Kang.”

“Oleh karena itu, aku membencinya. Keserakahannya yang sangat keterlaluan membuatku membencinya.”

“Bagaimanapun ia adalah ayahmu…”

Junho menceritakan seluruhnya pada Suzy. Dimana ia dan Min Ho adalah putra dari Tuan Lee Kang Cho. Kedua orang tua mereka bercerai.Suzy hanya bisa tersentuh mendengar cerita yang mengejutkan dari kehidupan Junho. Satu jam berlalu, Suzy hanya bisa menghela nafas dan menatap Junho.

“Suamimu sudah ku beritahu, kau keluarlah… Ini sedikit jebakan untuk ayah dan kakakku.” Suzy mengangguk, ia melangkahkan kaki keluar. Ia berlari menuju pintu luar, namun anak buah Tuan Kang menahannya.

“Kau jangan mencoba kabur atau kau akan mati! Kau tau? Tuan Kami kebingungan mencarimu tadi. Kau, panggil Sajangnim.” ujar salah satu anak buah pada temannya. Suzy hanya berharap Myungsoo cepat datang.

“Oh, rupanya kau disini Nona Bae, jangan mencoba untuk kabur Nona atau kau akan menyesal.” ujar Tuan Kang yang kini tengah memegang sebuah pistol di tangannya, membuat Suzy sedikit takut.

“Sampai kapanpun aku tak akan kerja sama dengan perusahaanmu. Aku tak akan pernah mau, kau jangan berharap apapun.” ujar Suzy, sementara Tuan Kang kini mendekat ke arahnya. Memainkan pistol di tangannya di sekitar kepala Suzy. Namun tak lama kemudian pintu terbuka, membuat Suzy bernafas lega dan Tuan Kang sedikit terkejut lalu membuang pistolnya. Polisi kini tengah berjaga dimana-mana, Min Ho telah di tangkap oleh polisi. Tuan Kang dan anak buahnya mengangkat tangan, ia tak menyangka akan seperti ini akhirnya. Suzy tersenyum lega, mendengar seseorang memanggil namanya, ia kini menoleh ke arah belakang.

“Suzy-ah…”

“Myungsoo Oppa!” Suzy kini berhamburan memeluk Myungsoo, ia menangis terisak. Myungsoo memeluknya dengan erat.

“Apakah ada yang terluka?” tanya Myungsoo, Suzy menggeleng, kembali memeluk suaminya dengan erat.

Polisi kini tengah menangkap semua anak buah Tuan Kang dan meminta Suzy juga Myungsoo menjelaskan kasus ini di kantor polisi. Tuan Kang tentunya telah di tangkap terlebih dulu. Begitu pula dengan Junho.
Sedikit rasa tak rela pada diri Suzy melihat Junho akan dimasukkan ke penjara, namun hukuman Junho akan lebih ringan. Do Yeon sebagai mata-mata untuk kejahatan Tuan Kang masih dalam proses pengejaran. Hari ini tepatnya adalah proses persidangan. Ini adalah yang di tunggu-tunggu oleh Suzy dan Myungsoo meskipun mereka tahu ini bukanlah akhir dari segalanya.

“Lee Kang Cho, Penjara seumur hidup. Lee Min Ho, Lee Junho, Kim Do Yeon, 5 tahun penjara.”

—-0000—-
1 bulan kemudian..
Suzy duduk di kursi taman depan halaman rumahnya, ia memejamkan matanya menarik nafasnya dan menghembuskannya dengan perasaan penuh kelegaan. Angin malam berhembus tenang, membuat Suzy semakin betah berlama-lama berada di luar. Meskipun itu tak baik untuk kesehatannya…Saat ini

“Suzy-ah, ini untukmu…” Myungsoo berjalan menghampiri istrinya, membuat Suzy menoleh dan tersenyum ke arahnya. Myungsoo meletakkan sepiring Waffle dengan Topping coklat ke tangan istrinya.

“Terimakasih Oppa.” Myungsoo mengangguk, lalu duduk di sebelah istrinya, tangannya terulur pada sebuah benda persegi panjang kecil di atas meja, ia mengambilnya lalu tersenyum penuh bahagia.

“Sepiring Waffle, tak ada apa-apanya di bandingkan hadiah terbesar yang kau berikan untukku.”
Suzy hanya tersenyum, dengan lahap ia memakan dan menghabiskan Waffle yang di bawakan Myungsoo.

“Aku akan menjaganya Oppa.” ujar Suzy setelah memakan dan menghabiskan Waffle lalu meneguk segelas susu. Myungsoo tersenyum bahagia melihat Suzy yang sangat lahap makan, tidak seperti minggu sebelumnya dimana Suzy sangat susah untuk sekedar makan nasi meskipun satu suap. Rasa mual terkadang menyerangnya, namun ia mencoba untuk menyamankan dirinya dengan keadaan seperti ini. Ini memang hal-hal terindah yang di alami oleh seorang calon ibu.

“Aku juga akan menjaganya, menjagamu juga…” Myungsoo kini mendekat pada istrinya, memeluk erat dengan penuh cinta. Suzy merasa nyaman jika berada di dalam dekapan Myungsoo.

“Bagaimana jika kita masuk kedalam kamar?” tanya Myungsoo. Suzy mengangguk, lalu hendak berdiri. Namun, ia terkejut ketika Myungsoo menggendongnya. Sesampainya di dalam kamar, Suzy kini membuka sebuah map yang ia selalu baca dan selidiki akhir-akhir ini bersama suaminya. Sebuah map berharga yang Junho berikan padanya, dimana Junho harus berjuang dengan gemetar mengambil beberapa berkas itu, kertasnya memang sedikit kusut karena Junho meremasnya agar tak diketahui oleh Tuan Kang, Ayahnya sendiri.

“Selesaikan ini lagi?” tanya Myungsoo, Suzy mengangguk. Tapi tangan Myungsoo dengan cepat mengambil map tersebut dan meletakkannya di atas meja.

“Aku merindukanmu…” Myungsoo menatap lekat mata Suzy.

“Lalu?” tanya Suzy dengan malas pada Myungsoo, mana mungkin ia akan memberikannya ketika ia sedang hamil muda di usia kandungan yang baru menginjak satu bulan. Ia hafal betul dengan suaminya jika Myungsoo telah berkata rindu.

“Baiklah, aku tak mungkin meminta itu. Tapi, jika ini… Kau akan memberikannya bukan?” Myungsoo meletakkan telunjuknya di bibirnya. Suzy hanya tertawa. Tanpa berpikir panjang ia mendekat pada Myungsoo lalu menempelkan bibirnya tepat di bibir Myungsoo. Myungsoo tersenyum puas. Ia melumat dengan lembut bibir istrinya. Sejujurnya ia tidak menyangka bahwa Suzy akan seperti ini, padahal jika mereka seperti itu, Suzy adalah yang paling malu-malu. Namun, berbeda kali ini. Myungsoo kini mendorong Suzy dengan hati-hati, masih dengan tautan bibirnya. Setelah sekitar 10 menit, Myungsoo maupun Suzy melepaskannya, deru nafas terdengar dengan sangat jelas. Myungsoo mencium kening dan pipi Suzy. Lalu bertepi di telinga Suzy.

“Kau tau?”

“Apa?”

“Kau sangat berbeda malam ini, kau biasanya sangat malu jika harus memulai terlebih dulu. Tapi, tadi menurutku kau sangat bagus.” Suzy kini tertawa pelan , ia mengusap kedua bahu Myungsoo.

“Ini mungkin dari bayi yang ada di dalam perutku.”

“Baiklah, jika perlu kau setahun sekali harus hamil… “ Suzy terkejut mendengarnya, ia membelalakkan matanya.

“Agar aku sering merasakan seperti ini…” ujar Myungsoo, membuat Suzy geram dan Suzy menarik kepala Myungsoo, Myungsoo tersenyum puas. Namun, senyuman itu pudar ketika Suzy kini berhasil menggigit telinganya.

“Yak! Suzy-ah, Appo!”

_TBC_
Hai readers, maaf update kelamaan… Banyak acara sehabis lebaran wkwk. Maaf ya…
Gimana chapter ini? Oh iya, sebelumnya author mau ngucapin Selamat Hari Raya Idul Fitri buat yang merayakan, maaf lahir batin ya… Maafkan segala kesalahan Author yaaa😀 hehe. Cukup deh basa-basinya, Don’t forget to RCL yaaaa~

84 responses to “[Freelance] Business Marriage Chapter 6

  1. Oalah.. ternyata mereka anak tuan kang.
    Gak kepikiran.
    Untung junho msh baik, gk kayak minho.
    Bikin bete..

    Akhirnya yang jahat dihukum jg. Tapi kasian junho kna hukum jg pdhl dia gak ikut betkomplot ma ayah n minho.

    Waaa.. udh ada aegy alias little kim. Kkk. Jdilag keluarga yg bahagia.

    Anw map itu map apa yah? Pnasaran..

  2. Sesuatu yang jahat tidak akan slamanya berakhir kebaikan. Ini sebuah kejutan bahwa minho dan junho adalah anak dari pria itu ! Dan sekarang mereka dipenjara? Doyeon juga ternyata .

    Ah senangnya myungzy akan segera memiliki anak😀

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s