Mistakes and Regrets #10

poster

Title: Mistakes and Regrets | Author: Macchiato

Genre: Friendship, Sad, Romance | Rating: PG – 17 | Length: Chaptered

Main Cast: Bae Sooji, Kim Myungsoo, Kim Sunggyu

Poster by animeputri @HSG

I don’t own anything besides the storyline

Smile

 Previous chapter: #1 | #2 | #3 | #4 | #5 | #6| #7 | #8| #9

Warning! Yang bercetak tebal adalah flashback

Sunggyu melajukan audi hitamnya dengan kecepatan tinggi. Yang ada di benaknya saat ini adalah bahwa sajangnimnya – Sooji, sedang bersama dengan Myungsoo. Myungsoo. Kim Myungsoo. Adiknya. Sunggyu menghela nafas kesal begitu menemui lampu merah. Dipejamkannya matanya dan pikirannya berkelana kepada cerita Woohyun dulu mengenai adik sepupunya – Sooji, bagaiman yeoja itu menghadapi keadaan terburuk dalam hidupnya dan bagiama Myungsoo juga memiliki andil di dalamnya. Sunggyu bersyukur keadaan Sooji saat ini sudah jauh lebih baik dibandingkan saat pertama kali bertemu dengannya. Tapi, lagi-lagi Kim Myungsoo?

Tiiiiiin

Sunggyu membuka matanya perlahan dan mendesah frustasi. Dari semua teman yang Sooji punya, kenapa harus Myungsoo yang menemaninya?

Busajangnim?”

Ne, busajangnim.

Dia bilang dia akan menjemputku?”

Ne, dia memintaku memastikan kau menunggunya.”

Myungsoo memperhatikan yeoja di depannya dengan seksama. Bagaimana rona merah yang menjalar di pipinya. Hatinya benar-benar terasa terbakar. Entah perasaan apa yang dirasakannya saat ini. Marah, kecewa, menyesal, dan … perih. Myungsoo menhela nafasnya perlahan, berusaha menekan egonya. Ingat Myungsoo, sat ini kau hanya chingunya.

“Kau terlihat senang mendengar busajangnimmu akan menjemputmu Sooj”

Myungsoo memperhatikan bagaimana senyum Sooji yang menyentuh matanya.

Geurae? Apa seterlihat itu?” Yeoja itu kemudian terkekeh pelan dan tangannya yang kemudian bergerak perlahan, membetulkan rambutnya.

“Kau sudah terlihat cantik, tenang saja.”

Gerakan tangan Sooji berhenti seketika. Padangannya otomatis beralih kepada namja yang duduk di sampingnya itu. Matanya menyiratkan keheranan.

Myungsoo berdeham pelan, “Wae? Kau memang terlihat cantik.”

Geurae? Menurutmu begitu?”ucap Sooji yang merasa heran, bingung, dan sedikit geli dengan sikap Myungsoo.

Myungsoo mengangguk, “Tentu saja. Kau harus bangga karena tidak banyak yeoja yang kusebut cantik.”

Tawa Sooji kemudian pecah, “Aigoo, aku tidak tahu kau bisa se-cheesy ini, Soo.”

Sooji yang dulu akan tersenyum lebar dengan pipi merona apabila Myungsoo memujinya. Lihat sekarang, Myungsoo baru saja memujinya, yeoja ini malah menatapnya aneh. Bae Sooji memang sudah berubah.  Waktu memang sudah berjalan dan tidak bisa diputar kembali.

Myungsoo tersenyum kecil, Sooji memang berubah. Tapi dirinya juga berubah. Bukan berarti tidak ada kesempatan untuknya kan?

“Selamat datang.”

Sunggyu hanya tersenyum tipis menaggapi pelayan café. Matanya berputar-putar mencari Sooji. Meskipun sudah hampir tengah malam, café ini terbilang ramai karena masih cukup banyak meja yang terisi.

Sunggyu akhirnya menemukan Sooji – dan Myungsoo di sudut café. Matanya yang sipit semakin menyipit melihat Sooji yang tertawa dan Myungsoo yang tersenyum menanggapinya. Dilangkahkannya kakinya dengan cepat mendekati kedua orang tersebut.

“Ehem..”

Deheman kecil Sunggyu berhasil megejutkan keduanya. Terbukti dari Sooji yang menatapnya terkejut dan Myungsoo yang menatapnya … malas.

Tanpa basa-basi Sunggyu menarik tangan Sooji untuk berdiri, “Kajja, kita pulang. Nyonya Nam benar-benar mengkhawatirkanmu.”

Myungsoo menggeram kesal melihat Sunggyu mengacuhkannya. Lebih kesal lagi karena melihat  tangan Sunggyu yang menggenggam tangan Sooji.

Sooji menatap Sunggyu bingung. Bingung mengapa namja yang biasanya tenang kini mendadak memiliki aura mencekam.

Kajja Sooji-ah.”

Sooji mengerjapkan matanya. Matanya beralih melirik tangannya yang digenggam oleh Sunggyu kemudian beralih menatap Sunggyu yang juga sedang menatapnya. Pipinya lagi-lagi merasa terbakar karena tatapan intens Sunggyu padanya.

“Aaah, Soo. Kalau begitu aku pulang. Jeongmal gomawo sudah menemaniku.” Ucap Sooji sambil berdiri dari bangkunya dan keluar perlahan dari kungkungan meja di depannya.

Myungsoo mendesah pelan, “Kau tidak mau menyapaku, hyung?”

Gerakan Sooji kembali terhenti. Matanya lagi-lagi mengerjap. Hyung? Diliriknya Sunggyu yang masih belum melepaskan pandangannya dari dirinya.

Kajja, Sooj.” Ucapan Sunggyu seakan meminta Sooji mempercepat gerakannya.

Sooji sedikit membungkukkan tubuhnya, “Gomawo Soo, geurigo anyeong.

Sunggyu kembali menarik Sooji agar yeoja itu mengikuti langkahnya.

Hanya beberapa langkah dari meja yang tadinya Sooji tempati, suara Myungsoo kembali terdengar.

Hyung! Kau benar-benar tidak mau menyapaku?”

Langkah Sunggyu spontan berhenti. Kini giliran Sunggyu yang menghela nafas.

“Sesekali kau perlu pulang Soo-ya. Kau tidak mau bertemu oemma?”  ucap Sunggyu tanpa membalikkan badannya.

Mata Sooji membulat seketika. Oemma?

Sooji mengatupkan bibirnya. Suasana di mobil yang begitu hening terasa sangat tidak nyaman baginya. Bukan, bukan hening yang menjadi masalah di sini. Tapi aura gelap yang memancar dari namja yang sedang menyetir di sebelahnya.

Wae? Kau mau mendengarkan music?” Sunggyu yang menangkap gelagat aneh Sooji berusaha memecahkanhening di antara mereka.

A..aniyo.” jawab Sooji pelan sambil menundukkan kepalanya.

Kedua sudut bibir Sunggyu seketika terangkat mendengar suara Sooji yang terdengar seperti sebuah cicitan. Sepertinya yeoja itu takut padanya.

Wae? Kau kenapa sajangnim? Kau kedinginan? Atau … ketakutan?”

Bukannya merasa bersalah Sunggyu malah menggoda Sooji yang masih menundukkan kepalanya dan memainkan jari-jarinya.

Sooji mengangkat kepalanya dan melirik Sunggyu yang menyetir di sebelahnya. Matanya menagkap seulas senyum di bibir namja itu. Sooji menghela nafas lega. Aura Sunggyu masih terasa menekannya tapi setidaknya namja itu sudah sedikit lebih rileks.

Senyum Sunggyu melebar. Sepertinya tebakannya benar, sajangnimnya ini sempat ketakutan. Tangan kanannya kemudian mengacak rambut Sooji perlahan.

Mianhae.”

Dan Demi Tuhan, lagi-lagi Sooji harus mengontrol jantungnya yang sibuk berlompatan.

“Dari mana saja kau, Sooji-ah? Kenapa tidak memgangkat telfon dari yimo? Kau tidak kenapa-napa, kan?”

Begitu sampai Sooji langsung dihadapkan pada paman, bibi, dan sepupunya yang menungguinya dengan cemas di ruang keluarga.

Jwesonghaeyo, yimo. Aku bertemu teman lama dan emm kami mengobrol banyak.” Tentu saja Sooji tidak bisa jujur bahwa dia tidur di café kan?

“Teman? Yeoja? Namja? Apa temanmu itu tidak tahu aturan? Menahan seorang yeoja hingga larut malam begini?”

Jwesonghaeyo, yimo.”

“Apa kau tidak tahu seberapa khawatirnya aku? Kau tidak mengangkat telfonmu dan Woohyun bilang kau ke Ulsan DAN tidak ada yang menemanimu ke sana.”

Nyonya Nam kemudian berbalik menatap suami dan anaknya.

“Yya! Kalian lihat ini? Gara-gara kalian meminta Sooji ke Ulsan dia sampai rumah larut malam begini. Jangan lagi kalian memintanya ke sana sendirian. Dia itu yeoja. Sooji itu yeoja. Bagaimana bisa kalian membiarkannya pergi sendirian? Sekarang ini kejahatan sedang merajalela. Kalian tahu-“

Jwesonghaeyo, yimo.” Potong Sooji. Tangannya kemudian sedikit menarik yimonya itu agar menghadap padanya dan berhenti menceramahi samchon dan sachonnya.

Jeongmal jwesonghaeyo. Tapi ini bukan salah samchon atau Woohyun oppa. Project di Ulsan memang tanggung jawabku, yimo.”

Nyonya Nam menatap Sooji sekilas namun kemudian kembali mengahdap suami dan anaknya, melanjutkan kembali ceramahnya.

“Kalian lihat? Bagaimana bisa kalian menularkan sifat workaholic kalian pada Sooji? Dia itu masih muda. Dan apa kalian tidak kasihan dia bekerja sendirian?”

Woohyun menatap oemmanya memelas. Matanya terlihat sudah sangat mengantuk. “Sunggyu hyung adalah busajangnimnya, oemma. Oemma tahu sendiri dan sudah mendengar sendiri dari Sooji kalau hyung banyak membantunya.”

“Dan kemana Sunggyu siang tadi? Kenapa dia tidak membantu Sooji? Apa perlu aku bicara dengannya agar dia bekerja dengan benar?!” pekikan Nyonya Nam tidak juga berhenti meskipun jam sudah menujukkan pukul 12 kurang.

“Aku meminta Sunggyu menemuiku, yeobo.” Ucapan Tuan Nam seakan menyiram bensin pada api, membuat amarah Nyonya Nam semakin membara.

Wae? Untuk apa kau menemui Sunggyu? Sekretarismu tidak becus? Pecat saja! Sekretarismu kurang? Cari yang baru! Kenapa harus Sunggyu? Lihat, uri Sooji jadi kelelahan.”

Sooji pucat pasi. Dia tidak menyangka kepulangannya yang telat ini akan menjadi sebuah episode  drama tengah malam. Dia merasa sangat bersalah pada samchon dan sachonnya.

Wae? Aku atasannya, yeobo. Tentu saja aku berhak memanggilnya kapanpun aku mau.”

Nyonya Nam kembali mendelik, mulutnya sudah nyaris terbuka ketika akhirnya Sooji memeluk yimonya itu.

Jwesonghaeyo, yimo. Aku baik-baik saja kok. Samchon dan Woohyun oppa tidak bersalah karena ini memang tanggung jawabku. Sunggyu oppbusajangnim juga tidak bersalah, Dia malah yang menjemputku tadi.

Sesaat kemudian Sooji melepaskan pelukannya kemudian menatap yimonya itu dalam-dalam. Berharap yimonya mengerti bahwa dirinya baik-baik saja.

Geurae. Kalai begitu lebih baik kau tidur Sooji. Besok pagi kau harus ke kantor lagi, kan?”

Sooji mengangguk pelan. Nyonya Nam tersenyum kecil kemudian menepuk punggung tangan Sooji perlahan, “Jaljayo.”

Tak lama setelah yimonya itu meninggalkan mereka –Tuan Nam, Sooji, dan Woohyun – Tuan Nam ikut berdiri kemudian menepuk bahu Sooji pelan.

“Pergi ke kamarmu dan istirahat. Maafkan yimomu ya jika reaksinya berlebihan. Dia selalu menginginka seorang putri tapi ternyata aku tidak bisa memberikannya, JAdinya ya sifat protektifnya ditujukan padamu .”

Sooji tersenyum tipis, “Gwenchanayo, samchon. Salahku juga pulang terlalu malam.”

Tuan Nam mengangguk kemudian berlalu ke kamarnya. Kini hanya tersisa Sooji dan Woohyun di ruang keluarga.

Sooji menatap Woohyun – yang juga sedang menatapnya – dengan malas.

Wae?”

Woohyun menghela nafas kemudian dilangkahkan kakinya menghampiri Sooji, hingga mereka benar-benar saling berhadapan.

Wae?” Tanya Sooji lagi.

Tangan Woohyun terangkat kemudian menjitak Sooji perlahan tapi cukup menyakitkan.

“Yya! Apayo!”

Woohyun mendengus, “Wae? Wae katamu?! Yya! Kau ini kemana saja? Dihubungi tidak bisa. Baru ketika Sunggyu hyung menelfon kau mengangkatnya!”

“Sudah kubilang aku bersama teman, oppa. Dan aku tidak bermaksud hanya mengangka telfon dari Sunggyu opp- busajangnim. Kebetulan saja panggilan yang kuangkat itu dari dia.”

Woohyun mendengus lagi. “Aku diomeli habis-habisan oleh oemma, neo arra? Rasanya menjengkelkan sekali. Kau sudah sebesar ini dan masih harus dijemput.”

“Yya! Bukan aku yang minta dijemput. Dia sendiri yang tiba-tiba menjemput. Oppa tahu aku bawa mobil.”

Tangan Woohyun terangkat lagi dan lagi-lagi menjitak kepala Sooji.

“Yya!”

“Yya, yya, yya, yya. Aku ini oppamu. Berhenti meneriakan yya!”

Woohyun menghela nafas, “Lekas tidur. Pulang jam segini bukan berarti membebaskanmu dari masuk kantor besok, tidak ada kata membolos di kamusku.”

Sooji mendengus kemudian melangkahkan kakinya menuju tangga, “Siapa juga yang mau membolos?”

Baru saja Sooji melewati beberapa anak tangga, Woohyun sudah berhasil melampauinya.

“Lebih baik kau jauhi Myungsoo, Sooji-ah. Sunggyu hyung kalau marah mengerikan.” Ucap Woohyun sambil lalu.

Sooji membelalakkan matanya. Langkahnya seketika terhenti. “Neo arra, oppa?”

Nan arra. Apa sih yang tidak aku ketahui tentangmu, Sooji-ah.” Jawab Woohyun tanpa membalikan tubuhnya ataupun menghentikan langkahnya.

Sooji mengerucutkan bibirnya. Tahu semua tentangku? Maldo andwe. 

Sooji menatap kotak music di tangannya. Kotak music yang sangat sederhana. Berbentuk persegi panjang dengan tutup kaca, berwarna cokelat auburn yang sedikit keunguan sehingga menambah kesan elegant. Simple but classy. Tangan Sooji bergerak membuka kotak music itu dengan perlahan. Alunan istrumental over the rainbow terdengar manis begitu kotak music tersebut dibuka sepenuhnya. Kedua sudut bibir Sooji terangkat. Sepertinya busajangnimnya itu benar-benar menguping pembicaraannya dengan Hyeri tadi pagi.

 “Ada yang mau kau tanyakan?”

Sooji tidak menjawab pertanyaan Sunggyu dan malah memainkan lagi jari-jarinya. Sooji dapat mendengar helaan nafas Sunggyu.

“Aku yakin banyak yang ingin kau tanyakan, geundae.. Aku rasa aku tidak bisa menjawabnya. Tidak sekarang,”

Sooji menggiigit bibir bawahnya. Dia benar-benar penasaran mengenai hubungan antara Sunggyu dan Myungsoo. Sooji punya asumsi namun dia harus memastikan sendiri.

“Aku.. benar-benar tidak boleh bertanya?” Cicit Sooji. Butuh keberanian besar bagi Sooji untuk bersuara karena aura mencekam Sunggyu yang masih bisa dirasakannya meskipun sudah jauh berkurang dibandingkan beberapa saat yang lalu.

Mata Sunggyu yang tadinya berfokus pada jalanan di depannya kini beralih pada Sooji. Menatap Sooji dalam-dalam tepat di manik mata yeoja itu.

Sooji gelagapan.

“Ar..arrasseo. Aku tidak akan bertanya. Bi..bisakah kau lihat ke depan saja? Aku emm tidak mau masuk rumah sakit.”

Sunggyu tersenyum tanpa menyadari muka Sooji yang sudah pias karena Sunggyu tak kunjung memalingkan wajahnya.

“Waeyo? Jalanan sepi karena sudah nyaris tengah malam.” Senyum Sunggyu melebar melihat wajah sooji yang gugup. Diliriknya sekilas jalanan di depannya. Jalanan memang benar-benar lengang.

“Busajangnim, jebal. Aku belum mau mati, aku masih muda.”

Dan tawa Sunggyu pecah. Aigoo. Yeoja ini terlihat sok kuat padahal aslinya begitu polos dan menggemaskan. Kyeopta.

Diacaknya lagi rambut yeoja di sampingnya itu sebelum pandangannya kembali di daratkannya pada jalanan di depannya.

“Mengenai pertanyaan… Aku akan mendengar pertanyaanmu dan menjawabnya, aku janji. Tapi tidak sekarang.”

Sooji mengangguk.

“Dan… Oppa.” 

Sooji menatap Sunggyu bingung, “Ne?”

“Oppa. Panggil aku oppa di luar jam kerja Sooj. Kau membuatku tampak seperti ahjushi tua dengan menyebutku busajangnim selarut ini.”

Sooji melongo. Dia tidak salah dengar kan? “Eh?”

“Bukan eh, Sooji-ah. Tapi oppa.”

“Oppa?” Sooji merasakan lagi panas yang merayap di pipinya.

Sunggyu mengangguk puas mendengar Sooji memanggilnya oppa.

“Ah. Hampir lupa. Tolong ambilkan goodie bag di bangku belakang Sooji-ah.”

Sooji membalikkan badannya untuk melihat bangku belakang melalui celah antara kursinya dan kursi Sunggyu. Pandangannya terjatuh pada sebuah goodie bag putih polos yang berada di atas tumpukan buku di bangku belakang. Tangannya terjulur mengambil goodie bag itu.

“Igeo?”

Sunggyu mengangguk lagi. “Untukmu.”

Sooji melongo lagi. “Untukku?”

“Ne, seongmul”

“Waeyo?”

Sunggyu tertawa lagi. “Memangnya aku tidak boleh memberimu hadiah? Wae? Kau tidak suka jika aku memberimu hadiah?”

Sooji menggeleng. Digigitnya bibir bawahnya menahan pekikannya yang mungkin saja keluar.

“Ah.. gomawoyo, oppa.”

“Cheonma. Kau buka di rumah. Dan beri tahu aku, kau menyukainya atau tidak.”

Sooji mengangguk. Dipegangnya erat-erat goodie bag yang entah apa isinya. Yang dia tahu, apapun itu, apapun isinya, Sooji akan menyukainya.

Soooji mengambil handphonnya yang sebelumnye tergeletak di meja. Diketikkannya sesuatu dengan cepat.

Gomawo atas kotak musiknya, Aku benar-benar menyukainya.

Sooji menggigit bibir bawahnya, menimang-nimang apakha mengirim pesan yang baru saja diketiknya atau tidak. Sunggyu memang meminta Sooji memberitahunya apakah Sooji menyukai hadiahnya atau tidak. Tapi sooji tidak tahu apakah Sunggyu mengharapkan ada pesan masuk semalam ini. Sooji menghela nafas. Molla.

Dengan ragu Sooji menekan send. Pekikan tertahan terdengar dari bibirnya.

“Aku sudah mengirimnya, ottokhae?” bisik Sooji perlahan. Sooji kemudian membenamkan wajahnya pada bantalnya. “Ottokhae? Ottokhae? Ottokhae?”

Drrtttttt drtttttt drrttttt

Getaran handphone Sooji yang masih berada di genggamannya membuat yeoja itu kembali duduk tegak.

Geurae? Baguslah kalau kau menyukainya. Sekarang kau bisa tidur nyenyak kan? Jalja

Sooji membelalakkan matanya. Sunggyu membalas pesannya! Sunggyu mengucapkan jalja padanya!  Dan malam itu, Sooji tertidur dengan senyum bodoh di bibirnya.

Sooji melangkahkan kakinya memasuki ruang makan dengan senyum lebar di bibirnya.

“Selamat pagi, yimo. Selamat pagi, samchon.”

Dengan ucapan selamat paginya itu, Sooji menarik kursi di sebelah Woohyun yang sedag menyesap kopi paginya. Senandung pelan terdengar dari bibirnya.

Woohyun melirik Sooji yang terlihat aneh sekali pagi ini.

Sooji yang menyadari lirikan Woohyun hanya menatapnya sekilaskemudian melanjutkan kegiatannya mengoleskan selai di rotinya.

Waeyo?”

Jal jasseoyo?”

Sooji tersenyum menjawab pertanyaan Woohyun, “Geurom.”

Sebelah alis Woohyun terangkat, pandangannya belum teralihkan sama sekali dari Sooji. Tumben sekali Sooji begitu bersemangat di pagi hari.

Neo gwenchana?”

Ne, nan gwenchana,” Sooji tetap menggigit rotinya, melanjutkan makannya tanpa repot-repot menatap Woohyun.

Neo, issanghae Sooji-ah.”

Naega wae? Meo go isseoyo naneun.”

Woohyun masih memandangi Sooji, masih bingun dan terkejut dengan sikap yeoja itu pagi ini.

Ppali meo go, oppa. Kau harus mengantarku. Mobilku belum diambil oleh Pak Han.”

Woohyun mendengus kemudian mulai memakan rotinya yang belum tersentuh sama sekali.

“Kenapa tidak meminta dijemput oleh busajangnimmu saja?”

Sooji tertawa. “Aniyo. Aku tidak mau menggangunya sepagi ini lagi pula aku yakin dia sudah sampai kantor. Kau tahu sendiri oppa, Kim Sunggyu loves his job too much.”

Woohyun kembali mengerutkan dahinya. Apa baru saja Sooji tertawa hanya karena hal receh? Astaga. Pasti ada yang salah pada Sooji.

Tok tok tok

Klek

Sooji mendongakkan kepalanya dari dokumen yang dibacanya. Dilihatnya Hyeri yang berjalan ke arahnya dengan setumpuk dokumen yang berada di tangannya. Sooji mendesah. Another ‘novels’ to read.

Begitu sampai di depan Sooji, Hyeri menyerahkan setumpuk dokumen itu kemudian menjelaskan satu per satu mengenai setiap dokumen. Hyeri juga menjelaskan agenda Sooji hari ini yang ternyata tidak begitu padat.

Dan dokumen ini adalah yang paling penting, Sajangnim. Dokumen ini berisi rencana pembangunan komplek Apartment di Itaewon. Harap kau baca dan koreksi baik-baik. Kau harus tetapkan baik-baik keputusan dan perjelas alasanmu agar besok kita bisa meyakinkan dewan direksi. Di pembangunan apartment kita selalu kalah tender dari Jaesan. Ku harap kali ini kita bisa lebih unggul dan memenangkan tender ini.”

Sooji mengangkat alisnya, bingung dengan kalimat Hyeri yang panjang dan sedikit berbelit. Dan juga terselip nada perintah di sana.

“Itu kalimatmu? Tumben kau-“

Ani, itu kalimat Woohyun sunbae. Dia memintaku menyampaikan pesan itu.” Potong Hyeri cepat.

Sooji mengangguk sambil tersenyum kecil. Typical Woohyun yang selalu menyusahkan orang untuk menyampaikan pesannya padahal dia tinggal menghubungi Sooji langsung.

“Ada lagi yang perlu aku kerjakan?”

“Kau sudah makan siang?”

Sooji tersenyum lagi, “Wae? Kau sudah sangat lapar? Kau ingin makan siang denganku? Ini bahkan baru jam 12 kurang, Lee Hyeri.”

Hyeri mendengus. “Yya, aku kan hanya bertanya. Kau mau makan siang dengaku tidak? Kudengar kau tidak membawa mobil.”

Sooji tersenyum tipis. “Mianhae, aku sudah ada janji.”

Kedua mata Hyeri menyipit, memandangi Sooji.

Nugu? Apa dengan busa-“

Bukan. Bukan dengan dia.” Potong Sooji cepat.

“Ah iya, dia ke Ulsan aku lupa. Kalau begitu siapa?”

Chingu

Yeoja?”

“Namja.”

 “Ireumi?”

Myungsoo. Kim Myungsoo.”

“Aku tidak menyangka kau akan menagih makan siang dengan ku secepat ini. Kita bahkan baru bertemu kemarin.” Ucap Sooji sambil mengaduk naengmyeon – cold noodles- nya.

Myungsoo tersenyum kecil melihat yeoja di depannya yang terlihat menyantap makanannya dengan lahap.

Wae? Kau tidak suka bertemu denganku?”

Ne, aku tidak suka bertemu denganmu.”

Diketuknya dahi yeoja itu, “Yya, harusnya kau bersyukur ada chingu yang mengajakmu makan.”

Sooji mendelik tak suka, “Yya! Kau kira temanku hanya kau?”

“Memang benar kan? Aku yakin kau kehilangan semua kontak teman kita saat SMA dulu karena kau pindah ke Jepang.”

Kunyahan Sooji berhenti. Diliriknya Myungsoo dengan malas. Kenapa Myungsoo menyinggung masa SMA mereka sih? Membuat Sooji tidak nyaman.

Myungsoo menghela nafas. Myungsoo tahu topik soal masa SMA mereka pasti topic yang Sooji hindari. Tapi Myungsoo juga yakin bahwa untuk memperbaiki hubungannya dengan Sooji dan memulainya dari awal adalah dengan membuat Sooji berdamai dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan masa-masa mereka saat SMA. Termasuk orang-orang di sekeliling mereka.

Wae? Aku benar kan? Kau pasti kehilangan kontak mereka semua kan? Memangnya kau tidak mau bertemu lagi dengan mereka?” Tanya Myungsoo lagi.

Kini Sooji benar-benar kehilangan selera makannya. Tangannya beralih mengaduk-aduk lemon squashnya.

Sooji menghela nafas, “Terserah kau saja, Tuan Kim.” Sejujurnya memang tidak banyak teman Sooji saat SMA dulu. Hanya satu tahun Sooji satu sekolah dengan Myungsoo di Seoul, tapi satu tahun itu nyatanya berhasil mengobrak-abrik dunianya.

“Kau tidak mau bertemu dengan Jiyoung?”

Mata Sooji seketika membulat, “Jiyoung?”

Myungsoo mengangguk.

“Kang Jiyoung? Jiyoungie?” Tanya Sooji lagi memastikan.

“Iya, Sooji. Kang Jiyoung, teman sebangkumu dulu.”

“Kau punya nomernya?”

“Lebih dari itu, dia teman sekantorku”

Jinjja? Dia juga jadi arsitek? Daebak?” Senyum manis kini tersungging di bibir Sooji.

Myungsoo tertawa tidak menyangka reaksi Sooji akan seperti ini.

Ne, dia juga arsitek. Jangan salah sangka, dia kesayangan Team-jangnim.”

“Jinjja?”

“Jiyoung selalu mengusung tema minimalis dan Tema-jangnim selalu menyukainya.”

Sooji memberengut lucu, “Jiyungie bogoshippeoso.”

“Aku bisa mengjaknya makan siang bersama kita lain kali.”

Jinjja?”

Myungsoo mengangguk

Jinjja? Jinjja? Jinjjaaa? Yagsog?”

Myungsoo tersenyum geli melihat tingkah Sooji.

Nee, yagsog.”

“Gomawo Soo-yaa”

Sooji tersenyum lebar. Senyum yang menyentuh matanya. Senyum yang menampilkan eye smilenya, bulan sabit kesukaan Myungsoo. Senyum yang membuat matanya semkin terlihat berbinar. Senyum yang membuat Myungsoo ikut tersenyum lebar. Dan Myungsoo tahu, Myungsoo mau melakukan apapun untuk melihat senyum itu ditujukan padanya.

-TBC-

a/n

Anyeooong. Ini next part Mistakes and Regrets.

Sekali lagi makasih banyak ya buat segala komentar dan masukannya, yeorobun.

Jeongmal gomawo. Kalian jjang!🙂

Lagi-lagi chapter ringan, ga ada angstnya. Tapi semoga ceritanya berkembang ya. Seperti yang duluuu banget pernah aku bilang. Ini alurnya emang lambat. Jadi mian kalo ada beberapa hal yang belum jelas.

Sorry for any typos, wrong diction, or anything.

Drop your comment, pleeaaaaseeeeeeee.

Gomawo🙂

 

75 responses to “Mistakes and Regrets #10

  1. Pingback: Mistakes and Regrets #12 | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  2. Pingback: Mistakes and Regrets #10 | Splashed Colors & Scattered Words·

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s