[Freelance] We Are Not King and Queen Chapter 3

Title : We Are Not King and Queen | Author : kawaiine | Genre : Historical, Marriage-Life, Romance | Rating : PG-17 Main Cast : Bae Soo Ji as Queen Soo Ji,Kim Myungsoo as Kim Myung Soo | Other Cast : Kim Do Yeon as Hee Bin (Selir Tk.1), Lee Min Ho

“This plot and story is pure from my mind. Sorry for typos, don’t be a siders and plagiator. Happy reading :*”

***
Author POV
Siang hari di langit Joseon, Matahari memancarkan sinar begitu teriknya. Soo Ji tengah berjalan-jalan di kawasan pedesaan. Ia hendak memeriksa pembangunan rumah penampungan yang ia dirikan. Soo Ji tersenyum lega, begitu ia sampai disana rakyat di sekitar rumah penampungan tengah makan siang. Jumlah rakyat yang di tampung cukup banyak, Soo Ji memutuskan untuk memperbesar rumah penampungan ini. Lengkap dengan tambahan para pelayan yang akan di gaji oleh istana.

Mama, matahari begitu panas. Ada baiknya kita kembali saja ke istana.” ujar Jo Sanggung. Soo Ji hanya tersenyum. Menganggukan kepalanya pelan. Tangannya terulur untuk mengusap perutnya yang masih terlihat datar dalam balutan Chima berwarna hitam.  Soo Ji dan Jo Sanggung kini berbalik arah untuk melanjutkan perjalanannya ke istana.

Myungsoo duduk di kursi kerjanya, ia masih memikirkan tentang dayang yang kabarnya ia tiduri sewaktu ia mabuk. Myungsoo beranjak dari kursinya. Ia melangkahkan kakinya menuju bagian dapur. Ia hendak bertemu dengan pelayan dapur.

“Cheona.” ujar kepala dayang Dam.

“Aku ingin bertemu dengan pelayan dapur yang bernama Kim.”

“Pelayan Kim sedang keluar istana, ia izin ingin bertemu dengan orang tuanya, Cheona.”

“Baiklah, setelah ia kembali suruh ia menghadapku.” Myungsoo kini melanjutkan langkahnya, ia hendak mengunjungi Soo Ji di kamar milik Soo Ji. Tetapi, sebelum melanjutkan perjalanannya ia telah lebih dulu bertemu Soo Ji. Merasa ada yang memanggil namanya, Soo Ji menoleh lalu memberi hormat pada suaminya.

“Kau habis berjalan-jalan lagi?” tanya Myungsoo ketika berjalan bersama Soo Ji menuju kamar Soo Ji.
Soo Ji hanya tersenyum dan mengangguk.

“Jika kau hendak berjalan-jalan, kau sebaiknya mengajakku tadi. Aku ingin melihat perkembangan rumah penampungan yang kau bangun.”

“Aku tak tahu bahwa Cheona sedang tidak ada kegiatan. Cheona, bolehkah aku meminta sesuatu?”
Langkah Myungsoo dan Soo Ji terhenti. Sebentar lagi mereka sampai di kamar Soo Ji. Myungsoo dan Soo Ji melangkah ke dalam. Soo Ji menatap Myungsoo.

“Aku ingin memperluas rumah penampungan. Jumlah rakyat disana sangat banyak. Aku juga ingin menambah pelayan disana. Pelayan yang berasal dari bagian dapur dan bagian kesehatan.”
Myungsoo tersenyum, ia mengusap pipi Soo Ji lalu menggenggam tangan Soo Ji.

“Apapun, aku akan melakukannya untukmu. Aku akan bicara pada Menteri Pembangunan.”
Soo Ji tersenyum. Myungsoo menarik Soo Ji kedalam pelukannya.

“Bolehkah satu permintaan lagi?” pinta Soo Ji, Myungsoo menatapnya dengan senyuman.

Di arah lain, Pangeran Hyeosang tengah melamun. Lalu, ia di kejutkan oleh seseorang yang menepuk pundaknya.

“Apalah arti dirimu sekarang, meskipun kau mengumbar pada seluruh penghuni istana kau tidak akan di dengar. Ratu Soo tengah mengandung. Dan kau?”

“Bukan sekarang waktunya, pasti itu akan terjadi.”
“Apakah kau sangat mencintai Yang Mulia Raja?”
“Sejak awal aku masuk ke istana, aku hanya sebatas menyukainya saja. Cintaku tetaplah untukmu.”
“Kau jangan khawatir. Aku hanya muak melihat tingkah mesra Raja dengan Ratu Soo. Kau tahu? Aku membenci Ratu Soo.”
Pangeran Hyeosang kini menatap wanita itu, menatap dengan wajah penuh keheranan.

[FLASHBACK]
“Ku mohon Tuan, bebaskan suamiku. Ia tidak bersalah. Ia tidak terlibat di dalam kasus penggelapan dana untuk rakyat.”  Wanita yang kini tengah mendekap kedua anaknya bersujud memohon pada utusan kerajaan di hadapannya. Kediamannya kini mencekam, obor api berdiri di setiap sudut rumah kecilnya. Para pengawal istana mengawasinya.

“Kau hanyalah seorang istri, Nyonya. Suamimu tak akan pernah menampakkan kesalahannya di depanmu dan juga kedua anakmu. Ia hanya berusaha untuk terus membahagiakan kalian, tanpa tahu sumber uang yang ia berikan adalah darimana asalnya. Aku menjadi saksi dimana ia betul-betul menggunakan uang itu untuk kepentingan dirinya sendiri, ia masuk ke rumah seorang gisaeng dan ia hendak melarikan diri ke China.”
Lelaki separuh baya ini kini memutar ingatannya dimana kawannya sendiri menerima uang dari istana sebagai utusan luar yang mengurus kepentingan rakyat.

“Ku mohon tuan, bukankah ia adalah temanmu? teman karibmu? Bukankah kau memiliki seorang istri dan seorang putri? Bayangkan jika mereka juga mengalami hal yang sama denganku.” Wanita itu kini menangis, di iringi tangis kedua anaknya.

“Maafkan aku, Nyonya. Aku sekarang menjadi utusan dalam istana, sebentar lagi aku di angkat menjadi seorang menteri pertahanan. Aku harus bersikap adil dan bijaksana. Dimana jika seseorang berbuat salah, aku tak boleh menutupinya. Seseorang yang berbuat salah tetaplah salah, termasuk jika istri dan anakku melakukan salah aku juga harus menghukum mereka. Namun dengan porsi yang wajar karena mereka adalah keluargaku. Aku seorang suami dan seorang ayah. Aku yang memimpin dan memutuskan. Aku tak bisa berbuat apapun, karena suamimu berurusan dengan Raja. Maafkan aku, Nyonya.” Lelaki itu kini meninggalkan wanita yang masih setia bersujud kepadanya.
Esoknya, hari eksekusi tiba. Semua tahanan di penjara di eksekusi dengan cara di penggal. Wanita itu kini terduduk lemas, bersama dengan kedua anaknya. Melihat kepala suaminya di atas benteng istana.

[FLASHBACK END]

—-0000—-

Myungsoo kini duduk di kamarnya, tak lama kemudian dayang di luar mengumumkan kedatangan pelayan dapur istana, Myungsoo mempersilahkannya untuk duduk. Sebelum duduk ia memberi hormat terlebih dahulu.

“Jadi kau wanita yang mengaku di tiduri olehku?” tanya Myungsoo pada pelayan dapur di hadapannya. Pelayan dapur itu kini bersujud, meminta ampun dari Myungsoo.

“Siapa namamu?” tanya Myungsoo.

“Aku Kim Do Yeon , Cheona.”

“Baiklah, Do Yeon… Dapatkah kau ceritakan bagaimana kejadian malam itu?”

“Sewaktu Yang Mulia mabuk, aku di perintahkan oleh Jin Sanggung untuk membawakan penawar dan penetralisir arak di dalam tubuh Yang Mulia. Lalu aku membawakannya kesini, tetapi di kamar ini kosong. Aku hanya melihat Yang Mulia  sedang terbaring. Aku meletakkan penawar itu di samping tempat tidur Yang Mulia, tapi Yang Mulia langsung menarik diriku. Setelah itu—“

“Cukup! Apakah kau yakin aku hanya sendirian? Aku merasa ada Pangeran Hyeosang di sampingku. Pangeran Hyeosang mengantarku ke kamar.”

“Aku rela mati Yang Mulia, aku bersumpah bahwa Yang Mulia hanya sendirian.”

“Lalu apa yang kau inginkan sekarang?” tanya Raja Kim pada pelayan di hadapannya.

“Karena Yang Mulia telah meniduri diriku, dan yang ku dengar Yang Mulia adalah pria yang bertanggung jawab—“

“Kau meminta pertanggung jawabanku? Kau belum hamil, dan bahkan aku tidak mengenalmu sama sekali. Aku tidak akan mengangkatmu terlebih dahulu untuk masuk kedalam keluarga kerajaan. Gelarmu masih tingkat Sang-ui. Kim Sang-ui.” tutur Myungsoo, Kim Sang-ui kini tersenyum, dan mengucapkan terimakasih pada Raja. Raja bangkit dari duduknya, berjalan melalui Kim Sang-ui yang masih terduduk di tempatnya.

“Pakaian dan Dayang untuk melayanimu akan ku kirim setelah ini, kau sementara tinggal di kamar ujung istana.”
Kim Sang-ui kini berdiri, menghadapkan dirinya kepada Raja lalu menunduk berterimakasih. Myungsoo  mendekatkan dirinya pada Kim Sang-ui, Kim Sang-ui merasa hatinya menari dengan gembira. Myungsoo membisikkan sesuatu tepat di telinga Kim Sang-ui.

“Jangan lupa pada kenyataan bahwa aku sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan padamu, gelar Sang-ui hanya sebagai gelar, secara definisi sangat jauh berbeda. Setelah ini kau harus berterimakasih pada Ratu.” Myungsoo kembali menjauhkan dirinya dari Kim Sang-ui, lalu berlalu keluar. Kim Sang-ui menahan air mata agar tidak keluar dari sudut matanya. Ia meremas chima yang ia gunakan dengan tangannya.

[FLASHBACK]
Myungsoo tengah menatap Soo Ji, wajah Soo Ji terlihat sangat lelah namun tak menghapus kecantikan yang ada dalam dirinya. Soo Ji menggenggam tangan Myungsoo.

“Aku mohon, pelayan yang kau tiduri kau angkat sebagai selirmu , Cheona.” Myungsoo menjauhkan dirinya dari Soo Ji, juga melepaskan genggaman tangan Soo Ji, namun Soo Ji menahannya.

“Cheona, bagaimana kau akan bertanggung jawab pada negeri ini sementara kau enggan bertanggung jawab terhadap apa yang telah kau lakukan bersamanya.” Myungsoo menundukkan wajahnya, ia menghela nafasnya berat.

“Cheona, ia pasti menunggu kepastian darimu.” Soo Ji menatap dalam mata Myungsoo, kini ia harus bersedia bahwa cinta Myungsoo mungkin akan terbagi. Soo Ji harus menata hatinya, ia tak boleh cemburu. Cemburu adalah salah satu dari lima poin yang tidak boleh di lakukan oleh seorang ratu.

“Jika kau tidak mau melakukannya untuk dirimu,Lakukan ini untukku, Cheona.”

[FLASHBACK END]

Soo Ji kini tengah mengunjungi perpustakaan kerajaan di dampingi oleh Jo Sanggung dan dayang-dayang lainnya. Soo Ji duduk di sebuah bangku, ia meletakkan buku yang ia ambil di atas meja. Soo Ji menarik nafasnya kecewa.

“Perpustakaan ini sangat luas, namun koleksi bukunya tidak lengkap. Jo Sanggung, haruskah aku membuat ‘pergerakan’ lagi?” tanya Soo Ji pada Jo Sanggung yang tengah berdiri, Jo Sanggung tersenyum.

“Ne, Jungjeon Mama. Dengan banyaknya Sarjana Sungkyunkwan mungkin bisa membantu ‘pergerakan’ anda.” Jo Sanggung menjawab dengan penuh hati-hati, Soo Ji tersenyum lalu mengusap pundak Jo Sanggung. Jo Sanggung otomatis bersujud di hadapan Soo Ji. Soo Ji terkejut.

“Mama, aku pantas mati.”
Soo Ji bangkit dari duduknya lalu membantu Jo Sanggung untuk berdiri.

“Jo Sanggung, tidak perlu seperti ini. Kau pelayan sekaligus temanku, ah tidak… karena kau lebih tua dariku maka kau adalah ibu sekaligus temanku.” ujar Soo Ji, Jo Sanggung hanya mengangguk dan menatap Soo Ji. Ia begitu takjub melihat Ratunya, Ratu yang rendah hati. Berbicara soal seorang ibu, Soo Ji termenung, ia merindukan keluarganya terutama Nyonya Bae.
Soo Ji kini melanjutkan langkahnya mengelilingi perpustakaan, Jo Sanggung dan dayang lainnya menunggu di dekat meja, Soo Ji tidak ingin di ikuti. Ia membaca sebuah buku di ujung lemari yang letaknya jauh dari meja. Seseorang masuk dan memerintahkan semua dayang termasuk  Jo Sanggung untuk keluar. Soo Ji masih dengan membaca buku sembari berjalan menuju meja.

“Jo Sanggung, kau harus lihat buku ini. Ceritanya sangat lucu.” ujar Soo Ji  dengan sedikit tertawa, wajahnya masih setia menatap buku tersebut. Tak ada jawaban dari Jo Sanggung, Soo Ji menutup bukunya lalu melihat siapa di hadapannya sekarang.

“Cheona.” Soo Ji terdiam, memandang Myungsoo. Myungsoo tersenyum.

“Buku apa yang kau baca sehingga membuatmu begitu bahagianya? “ tanya Myungsoo, Soo Ji terdiam, ia menyembunyikan bukunya di belakang.

“Bukan, bukan apa-apa, ini urusan wanita…” jawab Soo Ji, Myungsoo terkekeh pelan. Lalu mengambil buku itu dari tangan Soo  Ji dan meletakkannya di atas meja.

“Aku mempunyai sebuah kejutan untukmu.” Myungsoo menarik tangan Soo Ji keluar dari perpustakaan, mereka hendak berjalan menuju aula terbuka pertemuan keluarga kerajaan.Para kasim dan dayang-dayang mengekor di belakang Raja dan Ratunya. Myungsoo menggenggam jemari tangan Soo Ji. Berjalan dengan di iringi canda tawa. Hanya puluhan langkah lagi untuk sampai ke aula, namun Myungsoo menghentikan langkahnya. Soo Ji mengernyit heran.

“Kasim Chun.” Kasim Chun menghadap Myungsoo, lalu tersenyum ke arah Myungsoo dan Soo Ji, Kasim Chun memberikan sebuah kain panjang pada Myungsoo.

“Karena ini adalah kejutan, kau harus menutup matamu.” ujar Myungsoo , Soo Ji hanya tertawa lalu berbalik, Myungsoo memasangkan penutup mata itu di mata Soo Ji lalu mengikatnya. Myungsoo tak bisa menahan bahagianya, senyuman masih menghiasi wajahnya. Myungsoo membimbing Soo Ji untuk mengikutinya dengan cara mendekap Soo Ji. Para dayang dan kasim istana juga tersenyum menyaksikan kejadian ini.

Soo Ji merasakan bahwa dirinya kini tengah naik keatas aula.  Myungsoo tersenyum.

“Kau boleh membukanya sekarang.” ujar Myungsoo, tangan Soo Ji bergerak membuka penutup matanya, ia terkejut dengan apa yang ada di hadapannya. Soo Ji tersenyum bahagia, ia menatap Myungsoo. Matanya berbinar.

“Eommoni, Abeoji..” ucap Soo Ji, Nyonya Bae dan Tuan Bae kini menundukkan kepalanya. Soo Ji berlari kecil dan berhamburan ke pelukan kedua orang tuanya. Myungsoo menyaksikan kejadian ini dengan hati yang amat bahagia. Setelah pertemuannya dengan Kim Sang-ui, Myungsoo mengutus pengawal kerajaan untuk membawa Ayah dan Ibu mertuanya ke istana. Tak lupa ia juga mengundang ibu dan ayahnya untuk sekedar bercengkrama dengan keluarga barunya.
Soo Ji melepas pelukannya dari kedua orang tuanya, kini Soo Ji dan Myungsoo memberi hormat pada orang tua mereka.

“Jungjeon Mama, aku mewakili semua disini. Selamat atas kehamilan anda. Kami betul-betul bahagia.” ujar Ibu Suri, Soo Ji tersenyum.

“Terimakasih Daebi Mama. Cheona, terimakasih untuk kejutan ini.” Myungsoo tersenyum.

“Ini belum semuanya , Soo Ji-ah.. . Kasim Chun.” panggil Myungsoo, Soo Ji menatap penuh keheranan. Tiba-tiba musik mengalun, menghiasi suasana yang tentram, canda tawa terdengar dari aula.

—-0000—-
Soo Ji kini tengah menatap langit dengan bahagianya. Tak pernah ia merasakan kebahagiaan yang begitu sempurna. Tiba-tiba Jo Sanggung menghampirinya.

“Mama, seseorang ingin bertemu dengan Anda.”
Soo Ji menjawab dengan senyuman dan anggukan. Dan Soo Ji kini tengah menatap lekat pada pria yang kini memberi hormat dan berada di hadapannya.

“Jungjeon Mama.” ujarnya, Soo Ji tersenyum.

“Oh, kau…” balas Soo Ji.

“Apa kabarmu? Bagaimana kabar Ahjumma?” tanya Soo Ji.

“Kabarku baik, ibuku juga…”
Soo Ji kini mempersilahkan Min Ho masuk ke dalam ruangannya. Dayang So memberikan beberapa makanan dan teh untuk  Soo Ji dan Min Ho.

“Mengapa kau begitu mudahnya masuk kedalam istana?” tanya Soo Ji.

“Karena aku adalah kakak dari raja. Aku pangeran Hyeosang.” jawab Min Ho. Soo Ji mengerti. Ia tak bertanya banyak.

“Oh, apakah kedatanganmu ingin bertemu dengan Yang Mulia Raja? Sebentar lagi ia akan datang.”

“Tidak, aku hanya ingin bertemu dengan Anda Yang Mulia, Selamat atas kehamilan anda.”

“Ya, terimakasih.” Soo Ji tersenyum.

“Apakah Anda tahu masalah pelayan dapur yang tidur dengan Yang Mulia?”

“Sangat tahu, kejadian itu sangat cepat beredar.” Soo Ji masih dengan senyumannya.

“Apakah kau tidak sedih mengetahui orang yang kau cintai jatuh kepada wanita lain?”
Soo Ji tertawa pelan. Ia menyunggingkan senyumannya.

“Tidak sama sekali. Karena cinta adalah teman dari rasa rela.” Soo Ji meneguk teh yang ada di hadapannya.
Min Ho tercengang.

“Yang Mulia, rumah penampungan yang Anda bangun sangat bermanfaat untuk rakyat. Anda benar-benar hebat untuk menjadi seorang Ratu.” Soo Ji tersenyum.

“Itu adalah tugasku sebagai Ratu.”

—-0000—-
Kim Sang-ui kini tengah merias dirinya di depan cermin kecil. Pakaian dayang kini berubah menjadi pakaian seperti kelas bangsawan. Dengan rambut Jjeokjin meori dan binyeo berwarna perak. Tiba-tiba Hong Sanggung mengumumkan kedatangan Menteri Yoon. Kim Sang-ui mengijinkannya masuk.
Menteri Yoon memuji tampilan Kim Sang-ui sekarang. Kim Sang-ui hanya tersenyum dingin.

“Kau telah mendapatkan apa yang kau inginkan sekarang, tanyakan pada Pangeran Hyeosang tentang janjinya.”

“Aku belum sepenuhnya mendapatkan apa yang aku inginkan. Ini baru permulaan. Lagipula aku belum mengandung. Jika aku mengandung Yang Mulia akan mengubah gelarku. Kau bersabarlah, Pangeran Hyeosang tak mungkin mengingkari janjinya.”
Menteri Yoon mengangguk.

“Lalu, apa rencanamu selanjutnya?”

“Masih banyak, aku harus memilihnya satu persatu. Aku harus berhati-hati karena Yang Mulia belum sepenuhnya berpihak kepadaku. Ia masih berpihak pada wanita itu.”
Menteri Yoon mengangguk dan Kim Sang-ui tersenyum sinis.

—-0000—-
2 Bulan selanjutnya…
Pagi hari tiba, seperti biasa Soo Ji sedang merapikan baju dinas Myungsoo. Soo Ji dengan cekatan memasang sabuk giok di badan Myungsoo. Myungsoo hanya terkesima memandang Soo Ji yang semakin hari semakin cantik. Soo Ji berpenampilan sangat sederhana hari ini, dengan balutan dangui berwarna hijau dan rok berwarna merah muda. Setelah selesai, Myungsoo mendekap tubuh mungil Soo Ji. Ia memejamkan matanya, seolah menemukan kedamaian ketika memeluk istrinya. Soo Ji hanya terdiam, tersenyum dan membalas pelukan Myungsoo. Myungsoo melepaskannya, tangannya terulur untuk menangkup kedua pipi Soo Ji, Myungsoo mengecup dahi istrinya lalu turun mencium lembut bibir Soo Ji. Badan Myungsoo sedikit berjongkok setelah ia melepas ciumannya. Tak lama kemudian tangannya mengusap lembut perut Soo Ji di balik Dangui hijau yang Soo Ji kenakan. Soo Ji hanya tertawa pelan.

Myungsoo menuntun Soo Ji untuk berjalan keluar, di iringi dengan para dayang dan kasim.

“Bagaimana jika kita sedikit berjalan-jalan nanti siang?”

“Baik , cheona… Kandunganku sudah cukup kuat jika di ajak berjalan jauh sekalipun.” ujar Soo Ji, Myungsoo hanya tersenyum lalu kembali menuntun Soo Ji.

“Aku akan ada pertemuan dahulu, kau tunggulah di kamar. Ah, bahkan kau tidak bisa diam di kamar akhir-akhir ini.” Soo Ji hanya mengangguk dan tersenyum. Ia melangkahkan kakinya ke bagian dapur, pasalnya Soo Ji telah berjanji pada Dayang Dam untuk memasak dan membuat udon bersama. Tetapi, langkahnya terhenti.

“Jungjeon Mama.” ujar wanita di hadapan Soo Ji, lalu Soo Ji hanya menundukkan kepala membalas hormat dari seseorang di hadapannya yang tampak dengan wajah berseri-seri. Soo Ji hanya tersenyum.

“Kau terlihat sangat bahagia sekali hari ini. Yang Mulia Raja sedang mengadakan pertemuan pagi, kau akan menemuinya bukan?” tanya Soo Ji.

“Ne, karena anak Yang Mulia Raja sedang berada pula di dalam perutku. Periodeku terlambat, aku memeriksanya tadi kepada Tabib. Lalu tabib mengatakan bahwa aku tengah mengandung.” Soo Ji hanya tersenyum, tak menampakan wajah kesalnya detik itu.

“Selamat atas kehamilanmu, Kim Sang-ui. Yang Mulia pasti sangat bahagia mendengar kabar mengejutkan ini.” Kim Sang-ui tersenyum puas. Soo Ji menundukkan kepalanya rendah lalu melanjutkan kembali langkahnya, Jo Sanggung hanya memandang sendu Ratu Soo Ji.

“Mama, ia tengah mengandung juga… Aku khawatir jika ia akan berbuat licik. Dan ia juga pasti akan naik tahta menjadi Selir Tingkat 4.” Ratu Soo hanya tersenyum.

“Bukankah anakku akan memiliki seorang teman nanti? Jika ia besar ia akan bermain bersama anak Kim Sang-ui, aku tak bisa membayangkan betapa indahnya melihat mereka tumbuh menjadi anak-anak kebanggaan Yang Mulia. Kau tau Jo Sanggung? Kebahagiaan dari Yang Mulia adalah kebahagiaanku juga… Ia pasti senang akan mendapatkan sekaligus 2 orang anak. Ya, itu sudah pasti… Ia akan menjadi selir tingkat 4, dan jika ia berhasil melahirkan anak dari Yang Mulia, ia akan menjadi selir tingkat 1.”
Jo Sanggung semakin memandang sendu Ratu Soo Ji.

“Sebuah kelicikan akan terungkapkan dengan sendirinya tanpa kita kejar dan kita gali. Percayalah padaku.” Soo Ji tersenyum , Jo Sanggung juga tersenyum. Ia sangat beruntung di tugaskan melayani Ratu. Terlebih Ratu yang amat sangat baik hati.

—-0000—-
Suasana balai pertemuan kerajaan kini berubah menjadi panas, pasalnya tadi Kim Sang-ui mengumumkan kehamilannya di depan para pejabat. Membuat Raja Myungsoo semakin geram dan membenci Kim Sang-ui juga membenti Fraksi Selatan yang meminta agar Kim Sang-ui segera di naikkan tingkatnya menjadi tingkat 1.

“Aku hanya bisa memberikan tingkat 4 saja padanya saat ini. Aku akan memberikan tingkat 1 jika ia berhasil melahirkan anakku.”

“Cheona, bukankah itu terlalu merendahkan anak anda yang di kandung oleh Kim Sang-ui?”

“Tidak, aku rasa ini yang terbaik. Baiklah, aku akhiri pertemuan kali ini.” Myungsoo beranjak dan meninggalkan tempat duduknya. Ia kini hendak menyusul Soo Ji ke kamarnya, namun ia di beritahu oleh dayang bagian dapur melalui Kasim Chun bahwa Soo Ji tengah memasak bersama mereka di dapur. Myungsoo memasuki ruangan kamarnya, ia duduk memijat pelipisnya. Ia kini semakin yakin dengan dugaannya bersama Soo Ji.

[FLASHBACK]

“Cheona, ceritakanlah apa yang kau ingat sewaktu kau mabuk…” pinta Soo Ji

“Aku hanya ingat bahwa Hyung menemaniku meminum Arak, lalu setelah itu aku berada di kamar dan di kabarkan telah meniduri wanita itu. Dan Fraksi selatan memintaku bertanggung jawab setelah itu.”

“Fraksi Selatan?”

“Ya, kubu yang mendukung ibu Lee, selir ayahku, ibunya Hyung. Fraksi selatan juga dahulu selalu membela ibu Lee.” Myungsoo kini menatap Soo Ji, Soo Ji juga menatap Myungsoo.

“Apakah kau satu pemikiran denganku Cheona?” tanya Soo Ji, Myungsoo mengangguk.

“Tapi, kita sepertinya harus bertindak bijak untuk mengetahui yang sebenarnya terjadi.”
Myungsoo mengangguk.

[FLASHBACK END]
Myungsoo kini mengganti bajunya dengan baju biasa, ia kini berjalan keluar… Kasim Chun mengatakan bahwa Ratu Soo kini sudah kembali ke kamarnya lalu sedang berganti baju. Myungsoo tersenyum, ia melangkahkan kakinya menuju kamar Soo Ji. Sesampainya disana, Ia melihat Soo ji yang begitu anggun di balik Hanbok berwarna Pink dan Hijau, di tambah dengan hiasan rambut yang manis. Soo Ji sedang memberi makan ikan-ikan yang berada di kolam kecil di halaman kamarnya. Soo Ji menundukkan kepalanya memberi hormat begitu Myungsoo masuk kedalam kamarnya.

“Bukankah kita akan berjalan-jalan ke tempat yang indah siang ini?” Soo Ji tersenyum lebar, lalu menghampiri Myungsoo. Myungsoo menggenggam tangan Soo Ji, berjalan-jalan layaknya sepasang kekasih yang sedang berkencan. Para kasim dan dayang yang biasanya mengekor kini tiada di belakang mereka. Myungsoo dan Soo Ji keluar dari kawasan istana, Myungsoo menggenggam tangan Soo Ji erat. Mereka berjalan kaki semakin jauh, hingga tiba di sebuah air terjun yang sangat indah, kicau burung masih bersahutan walau matahari sangat terik. Udara disini sangat sejuk. Soo Ji dan Myungsoo duduk di sebuah batu berukuran sedang, memandang air terjun yang ada di hadapannya.

“Cheona… Kim Sang-ui sedang mengandung anakmu.” ujar Soo Ji, kepala Soo Ji kini bersandar di bahu Myungsoo. Myungsoo hanya tersenyum.

“Aku tahu…”

“Bukankah kabar yang bagus? Anakku nanti akan memiliki teman bermain jika sudah besar.”

“Tetapi fraksi selatan memintaku menaikkan tingkat selirnya…”

“Lakukan saja, bukankah kau penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya?” Myungsoo tersenyum, Soo Ji juga tersenyum.

Hari sudah akan memasuki sore hari, Myungsoo dan Soo Ji kembali berjalan untuk pulang ke istana. Di perjalanan, semua tak ada yang memberi hormat. Memang aneh, namun mereka menyukai ini. Dimana mereka bisa melihat dan merasakan langsung kebahagiaan dan kesedihan rakyat mereka. Soo Ji dan Myungsoo kini tiba di rumah penampungan yang Soo Ji buat.

“Jungjeon Ma—Nyonya, Tuan…” ujar seorang pelayan rumah penampungan yang memang berasal dari istana. Soo Ji dan Myungsoo membalas hormat para pelayan di hadapannya.

“Apakah ada rakyat yang sakit?” tanya Soo Ji.

“Ada, seorang bayi… Demam tubuhnya tak kunjung menurun..” Soo Ji dan Myungsoo kini masuk kedalam ruangan dimana orang-orang sakit berada, Soo Ji melihat seorang bayi di pangkuan ibunya.

“Permisi, apakah aku boleh melihat keadaan anakmu?” ujar Soo Ji.

“Demamnya tak kunjung menurun Nyonya…” ujar wanita ini yang kini tengah menyerahkan bayinya pada Soo Ji, Soo Ji menidurkan bayinya dan memeriksa denyut nadinya.

“Myungsoo-ssi, denyut nadinya lemah sekali.” ujar Soo Ji. Myungsoo memeriksanya kembali lalu ia mengecek deru nafas bayi laki-laki malang ini.

“Nafasnya juga tersenggal, sepertinya ia kesulitan bernafas.” ujar Myungsoo, ibu si bayi kini semakin khawatir dan menangis.

“Kau tenang saja, kami akan mencoba menyelamatkan putramu.” ujar Soo Ji, kini Myungsoo berlari keluar mencari tabib istana yang berjaga, namun para pelayan mengatakan bahwa tak ada tabib disini. Padahal Myungsoo sudah mengirim beberapa tabib istana kesini. Untungnya ia seikit mengerti tentang kesehatan. Ia kembali pada tempat dimana bayi malang itu berada.

“Ia tidak bernafas…” ujar Soo Ji panik, Myungsoo membuka baju si bayi, ia lalu meletakkan jempolnya di dada si bayi lalu menekannya dengan pelan-pelan. Soo Ji menenangkan Ibu bayi tersebut. Berharap bahwa bayinya bisa selamat. Myungsoo kembali menekan dada bayi di hadapannya, setelah kurang lebih 3 menit, bayi itu akhirnya menangis. Tangisan yang membuat Soo Ji, Ibu si Bayi, dan Myungsoo bernafas lega.

“Terimakasih Tuan, Nyonya..” Ibu si bayi kini menggendong dan menciumi bayi tersebut. Soo Ji dan Myungsoo hanya tersenyum lalu meninggalkan bayi dan ibu tersebut.

“Cheona, darimana kau belajar teknik seperti itu?”

“Dulu aku sering belajar itu bersama Tabib Keluarga Istana, sangat menyenangkan sekali.”

“Kau hebat.” ujar Soo Ji lalu mengedipkan matanya pada Myungsoo.

“Aku semakin hebat karena menjadi suamimu.” Soo Ji tersenyum, lalu ia melihat pemandangan seorang anak-anak tengah berebut buku di hadapannya.

“Kalian tidak boleh berebut, bukankah bisa membacanya dengan bersamaan?” ujar Soo Ji.

“Dia sangat pelit, buku disini hanya ada lima buah. Aku telah membaca semuanya , hanya tinggal yang ini. Dia tak mau meminjamkannya padaku Noona.Itu adalah buku seri terakhir.” ujar seorang bocah lelaki kecil.

“Kau sudah membaca semuanya?” tanya Myungsoo pada bocah lelaki kecil yang kedua.

“Belum, aku hanya ingin membaca yang ini.”

“Jika kau membacanya tidak berurutan, kau akan pusing… Maka dari itu lebih baik kau membaca yang lain terlebih dahulu.” ujar Soo Ji, ia mengusap kedua bocah kecil di hadapannya.

“Baiklah, ini.”  Soo Ji, Myungsoo kini tersenyum. Soo Ji dan Myungsoo diminta untuk membacakan dongeng kepada mereka semua, Soo Ji dan Myungsoo menyanggupinya, sehingga mereka pulang ke istana hampir larut malam.

“Apakah kita harus menyuruh para sarjana Sungkyunkwan untuk menulis buku berseri atau menulis buku apa saja untuk anak-anak disana?” tanya Myungsoo

“Selain menulis buku, mereka juga harus mengajar anak-anak disana. Bagaimana? Aku juga ingin membangun perpustakaan kecil di tengah Kota.”

“Baiklah, akan ku bicarakan nanti dengan mereka.” Myungsoo kini tersenyum pada Soo Ji, Soo Ji hendak membalas senyum dari Myungsoo, namun pemandangan di hadapannya membuatnya menghentikan niat tersenyumnya.

“Cheona, apa di luar sana yang membuatmu kembali selarut ini?” ujar Kim Sang-ui

“Aku hanya berjalan-jalan dengan Ratu.”

“Baiklah, aku akan segera kembali ke kamar. Sepertinya kalian sangat lelah.” ujar Kim Sang-ui, Myungsoo dan Soo Ji melanjutkan langkahnya menuju kamar Soo Ji meninggalkan Kim Sang-ui yang berdiri mematung , wajahnya kini bersemu marah hendak menitikkan air mata.

—-0000—-
Pangeran Hyeosang dan Menteri Yoon kini menunggu Kim Sang-ui di pavilunnya, Kim Sang-ui yang datang dengat raut wajah seperti itu, membuat kedua pria ini heran.

“Apa yang terjadi denganmu?”

“Aku membenci ketika mereka berjalan berdua.”

“Kau harus merebut hatinya. Dengan cara apapun agar kau bisa mendapatkan apa yang kau mau dengan mudah.”
Kim Sang-ui kini menatap Pangeran Hyeosang yang sepertinya terlihat tegang.

“Wae?”

“Dayang Yin, ia melihat kejadian sewaktu di kamar Yang Mulia Raja. Tetapi ia sudah ku bereskan tadi siang.”

“Mengapa bisa seperti itu? Jika ini ketahuan, kita bisa mati! Bahkan anakku juga!”

_TBC_
Hai readers, sebelumya maaf kelamaan update, author lagi kesandung masalah yang cukup berat. Ohehe iya, Selamat Hari Raya Idul Fitri buat yang menjalankan yaa😀 kalau disini ada yang belum ngerti apa artinya Sang-ui, itu tuh artinya dayang yang diperlakukan istimewa, tingkatnya kalau gasalah paling rendah. Gimana chapter 3? Jangan lupa RCL ya😀 Sampai berjumpa di Chapter selanjutnyaaaa!

60 responses to “[Freelance] We Are Not King and Queen Chapter 3

  1. aku penasaran sebenernya doyeon emang beneran hamil dan anaknya siapa kalo dia hamil..
    suzy pinter banget yaa… ratu yang sanggaaatttttt baik….. hebat bangettt…
    myungzy nggak terpengaruh sama doyeon hebatt

  2. Oh ya Tuhan, hati sooji itu terbuat dari apa? Mengapa ia begitu baik,wanita mana yang ingin didua? Tapi dengan bijak nya sooji justru menerima itu. Do yeon dan Minho itu senang sekali mereka merusak kebahagiaan myungzy.

    Doyeon hamil bukan anak myungsoo kan?

  3. Yes ada titik terangnya skrg.. Cpt amankan dayang yin itu sblm mereka.. Itu c pangeran hyeosang kayakny bkn krna dy suka Suzy d tp krna emnk dy pengen tahta dan bls dendam doank..

  4. Btw, Suzy ini bijak bgt dan baik hati sekali.. Aku jd inget ungkapan di blkg pria hebat pasti ada wanita hebat juga yg mendampingi..
    Dan ini bner2 fit bgt buat ngegambarin MyungZy..
    Kl pnya pemimpin bgini rakyat psti sejahtera..

  5. C doyeon ini blh ga c aku sumpah serapahin.. Tp ada aturannya jgn ngebash.. Tp ga blg ngebash siapa..
    Haha.. Ini cewe jahat knp totalitas bgt c.. Antek2 fraksi selatan jg bkin geram..
    Untung ada myungzy momentnya jd adem lg..

  6. Tp aku ttp kasian sm anakny c doyron yg msh dikandung, krn dosa ibu bkn dosa anak..
    Lah ini jd judul sinetron..
    Anaku bukan anakmu.. Tp msk jg anaknya c rubah ups c doyeon bkn anak Myung..
    hahs..

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s