[Freelance] New Destiny Chapter 10

Title : New Destiny | Author : danarizf| Genre :  Fantasy – Romance | Rating : Teen | Main Cast : L [Infinite] as Kim Myungsoo, Suzy [Miss A] as Bae Suzy | Support Cast : Hoya [Infinite] as Putra Mahkota Lee Howon, Krystal [F(x)] as Jung Krystal (2015) / Putri Mahkota Jung Soojung (Joseon), Jiyeon [T-Ara] as Park Jiyeon, Irene [Red Velvet] as Bae Joohyun, Minho [SHINee] as  Choi Minho

…. 

Joseon, 1365

Myungsoo berjalan meninggalkan kediaman Putra Mahkota dengan kening berkerut samar. Percakapannya tadi dengan Putra Mahkota membuatnya teringat akan janjinya pada Krystal untuk membantunya menemukan Putri Mahkota yang asli.

Myungsoo terus berjalan tanpa menyadari Ia berjalan ke arah yang salah. Bukannya keluar dari area istana, Ia justru masuk semakin dalam.

Eoh? Kenapa aku bisa sampai disini?” gumam Myungsoo kebingungan begitu menyadari Ia sudah salah jalan. Ia pun memutar tubuhnya dan kembali melangkah ke arah yang benar. Namun baru beberapa langkah, Ia harus kembali berhenti begitu melihat seseorang yang tak asing baginya.

“Bukankah dia salah satu dayang Putri Mahkota yang baru? Kenapa Ia bisa keluar dari kediaman Ibu Suri?” batin Myungsoo.

Melihat dayang tersebut bergerak membuat Myungsoo segera mengikuti dayang tersebut. Dan dugaannya benar, dayang tersebut kini tengah berjalan memasuki area kediaman Putri Mahkota.

“Jangan-jangan dayang itu juga merupakan kaki tangan Ibu Suri seperti dayang yang dulu!” gumam Myungsoo dengan kedua mata terbelalak. Namun sedetik kemudian Ia tersenyum. “Aku tidak akan membiarkan mereka lolos untuk kedua kalinya. Kali ini aku harus berhasil!”

“DOR!”

Myungsoo tersentak saat mendengar pekikan kencang di telinganya bersamaan dengan tepukan keras di bahunya. Ia pun menoleh dan mendapati Suzy yang kini telah berdiri tak jauh darinya sambil tertawa kemenangan.

Assa! Aku berhasil mengagetkanmu!” pekik Suzy senang.

Myungsoo tersenyum geli melihatnya. “Kau sudah selesai menemui Putri Mahkota?”

Suzy menganggukkan kepalanya. “Eoh. Aku baru saja selesai dan justru menemukanmu tengah melihat ke arah kediaman Putri Mahkota. Apa yang kau lakukan disini?”

“Aku akan menceritakan padamu nanti.”

Mwoya… ceritakan saja sekarang!”

“Nanti saja.”

Suzy memajukan bibirnya karena tak berhasil membuat Myungsoo membuka mulutnya dan menceritakan apa yang terjadi.

“Aku akan menceritakannya nanti. Sungguh. Lebih baik sekarang kita pulang. Aku akan mengantarmu,” kata Myungsoo.

Suzy hanya mengangguk pelan.

….

Suzy melirik Myungsoo yang terus berjalan di sampingnya tanpa mengatakan apapun. Ia mendengus kesal melihatnya. Bukankah tadi Myungsoo mengatakan akan menceritakan tentang apa yang tengah dilakukannya tadi di depan kediaman Putri Mahkota. Tapi sampai sekarang pemuda itu belum menceritakan apapun padahal mereka sudah hampir sampai rumah.

“Myungsoo…,” panggil Suzy.

“Hemm,” gumam Myungsoo, menanggapi panggilan Suzy membuat Suzy semakin menekuk wajahnya.

Karena Suzy hanya terdiam membuat Myungsoo menolehkan kepalanya untuk melihat gadis itu. Ia menahan senyumnya melihat Suzy yang tengah cemberut. “Jangan cemberut begitu. Aku akan menceritakannya, tenang saja,” kata Myungsoo.

“Tapi kita hampir sampai dan kau belum menceritakan apapun.”

“Baiklah aku akan cerita,” kata Myungsoo. “Sebenarnya aku tadi sedang mengawasi seorang dayang Putri Mahkota jadi aku mengikutinya sampai ke kediaman Putri Mahkota,” lanjut Myungsoo.

Suzy mengerutkan keningnya. Myungsoo mengikuti seorang dayang istana?

Ya! Kenapa kau mengikuti seorang wanita seperti itu. Kau menyukai dayang itu ya?” tuduh Suzy.

“Apa? Tidak. Aku mengikutinya karena dia baru saja keluar dari kediaman Ibu Suri Park dan tingkahnya yang was-was itu membuatku curiga. Apalagi dayang itu merupakan dayang Putri Mahkota,” bantah Myungsoo. “Sekarang coba kau pikir, kenapa seorang dayang dari kediaman Putri Mahkota bisa berada di kediaman Ibu Suri?”

Suzy terdiam sejenak. Keningnya membentuk kerutan dalam menandakan Ia sedang berpikir keras namun Ia tak kunjung menemukan jawaban dari pertanyaan Myungsoo.

“Ck.. sepertinya kau tidak tahu. Beberapa waktu lalu sebelum kau muncul, ada seorang dayang Putri Mahkota yang bekerja untuk Ibu Suri. Karena curiga dengan dayang itu, aku jadi mengawasinya. Tapi saat aku akan menemui dayang itu, Ia justru sudah meninggal karena dibunuh. Dan kupikir mereka membunuh dayang itu karena aku mencurigainya. Polisi juga sepertinya sudah disogok agar tidak melanjutkan kasus itu jadi aku berpikir dayang itu juga merupakan kaki tangan Ibu Suri untuk mengawasi Putri Mahkota,” jelas Myungsoo.

Suzy yang sedaritadi menyimak perkataan Myungsoo benar-benar terkejut apalagi saat mendengar dayang tersebut dibunuh. Mengerikan sekali.

“Maka dari itu aku mengikutinya. Sebenarnya aku ingin mengingatkanmu sesuatu.”

“Apa itu?”

“Jangan terlalu sering menemui Putri Mahkota karena itu akan menimbulkan kecurigaan. Kau bisa berada dalam bahaya seperti dayang itu atau malah Putri Mahkota yang asli. Selain itu juga jangan begitu sering membicarakan tentang masa depan atau yang berhubungan dengan itu jika kau sedang bersama Putri Mahkota. Dayang itu bisa mendengarnya dan melaporkannya pada Ibu Suri,” kata Myungsoo panjang lebar membuat Suzy menganggukkan kepalanya dengan raut yang masih terkejut.

Bahkan Ia tak sadar kalau mereka sudah sampai di depan kediaman keluarga Bae. Suzy terus melangkahkan kakinya membuat Myungsoo menatapnya bingung karena gadis itu berjalan terlalu jauh hingga melewati rumah keluarga Bae.

Ya! Kau mau kemana?”

Suzy terkejut saat tiba-tiba Myungsoo menarik lengannya membuat gadis itu mau tak mau membalikkan tubuhnya.

“Rumahnya sudah terlewat,” kata Myungsoo.

Suzy pun mengedarkan pandangannya dan terkejut mendapati Ia sudah melangkah lebih jauh. Ia kemudian menatap Myungsoo dan memamerkan sederetan giginya, menunjukkan wajah tanpa dosanya pada pemuda itu.

“Hehe.. kau benar. Kalau begitu aku kembali dulu.”

Myungsoo terkekeh melihat tingkah Suzy.

Tiba-tiba saja Suzy menghentikan lagi langkahnya lalu berbalik menatap Myungsoo.

“Ada apa?” tanya Myungsoo.

Suzy melirik tangan Myungsoo yang masih bertengger di lengannya membuat pemuda itu segera melepaskannya. “Maaf, aku tak sadar,” ucap Myungsoo.

“Dasar!” dengus Suzy.

“Eung… Suzy,” panggil Myungsoo sebelum gadis itu membalikkan tubuhnya dan melangkah menjauhi Myungsoo. Suzy menatap Myungsoo bingung karena nyatanya pemuda itu justru berdiri seperti patung di hadapannya.

Myungsoo tersenyum melihat raut bingung Suzy. Ia kemudian mengulurkan tangannya hingga menyentuh puncak kepala gadis itu, lalu mengelusnya pelan. “Ingat perkataanku tadi. Jangan membahayakan dirimu dan membuat curiga orang lain,” ujar Myungsoo.

Suzy terpaku. Bahkan tanpa sadar Ia menahan nafasnya saat merasakan jemari Myungsoo menyentuh rambutnya.

“Suzy?”

Eoh? Eoh,” jawabnya dengan kikuk.

Myungsoo tersenyum. “Masuklah, aku pulang dulu.”

Setelah mengatakan itu, Myungsoo segera melangkah meninggalkan Suzy yang masih terpaku di tempatnya. Gadis itu benar-benar terdiam seperti patung. Ia mengangkat tangannya lalu menyentuh puncak kepalanya tepat di tempat tangan Myungsoo menyentuh kepalanya tadi. Tangannya lalu bergerak menyentuh dada bagian kirinya yang berdetak lebih kencang dari biasanya.

Ige mwoya?” gumamnya pelan.

“EHEM!”

Suzy menolehkan kepalanya saat mendengar suara dehaman seseorang. Rupanya orang itu adalah Joohyun.

“Ck.. apa kalian sepasang kekasih? Bermesraan di depan umum, membuat iri saja,” celetuk Joohyun.

Suzy membulatkan matanya karena terkejut setelah mendengar perkataan Joohyun. Ia tak menyangka kalau Joohyun melihat apa yang Ia lakukan dengan Myungsoo tadi. Jangan bilang gadis itu juga melihatnya berdiri seperti orang bodoh setelah Myungsoo pergi!

“Hei jangan berdiam diri begitu. Ayo kita masuk!”

Eoh.”

Mereka berdua pun segera memasuki rumah tanpa menyadari sepasang mata menatap mereka dengan tatapan yang sulit diartikan. Kedua tangannya terkepal erat dan rahangnya mengeras menahan marah.

Gadis itu adalah Park Jiyeon.

Geu yeoja….”

….

Sebuah jarum dengan apiknya membawa sehelai benang emas menembus kain berwarna kuning hingga membentuk sebuah sulaman bunga yang begitu apik. Namun semakin lama bentuk itu menjadi tak teratur dan jauh dari kata bunga.

Tak!

Sebuah tangan yang sedaritadi sibuk menyulam itu melemparkan jarumnya ke dalam wadah benang secara tiba-tiba. Matanya menatap tajam kain di hadapannya bersamaan dengan kedua buku-buku jarinya yang memutih akibat kepalan tangannya yang mengerat.

“Bae Suzy….”

Prang!

Kedua tangannya menyentakkan tempatnya menyulam beserta kainnya hingga membentur sebuah lemari kecil berisi pakaian yang tak jauh dari tempat  Ia duduk.

“ARRGHHH!!!!” jeritnya.

“Jiyeon-ah!”

Gadis itu memejamkan matanya sejenak lalu menatap seorang wanita paruh baya yang baru saja memasuki kamarnya. Tangannya masih terkepal erat dan semakin memutih seiring dengan tatapan matanya yang semakin menajam.

“Jiyeon-ah, ada apa?” tanya wanita itu.

Eomoni, aku membencinya,” geram gadis itu, Jiyeon.

Wanita paruh baya yang merupakan ibu gadis itu kini menatap anaknya bingung. “Jiyeon-ah, ada apa denganmu? Membenci.. membenci siapa?”

Geu yeoja… gadis yang selalu berada di sekitar calon suamiku. Bae Suzy, aku membencinya! Aku membenci gadis itu!!!”

“Jiyeon-ah, tenanglah…,” ucap Nyonya Park.

….

Dua gadis dengan umur yang terpaut tak begitu jauh itu terlihat bersemangat melihat-lihat kain berwarna-warni yang tergantung di pasar untuk dijual. Sesekali mereka memegang selembar kain lalu berganti lagi ke kain lainnya. Begitu seterusnya.

 “Eonnie, bukankah kain ini warnanya bagus?” Suzy, salah satu gadis itu menunjuk kain berwarna kuning gading.

Joohyun yang tengah melihat kain berwarna biru tua pun menoleh dan melihat kain yang ditunjuk Suzy. Ia mengerutkan keningnya sejenak lalu tersenyum lebar. “Kau benar. Itu bagus. Aku akan beli yang itu saja,” balas Joohyun.

Ia kemudian melangkahkan kakinya menemui si pedagang dan segera memberitahukan pesanannya.

Eonnie, aku menunggu di luar ya,” kata Suzy yang langsung berjalan keluar toko begitu Joohyun menganggukkan kepalanya.

Tak lama kemudian, Joohyun pun keluar dari toko tersebut dan menghampiri Suzy yang tengah sibuk melihat-lihat hiasan atau gantungan dan beberapa aksesoris wanita. Joohyun tersenyum melihat mata Suzy yang berbinar-binar melihat benda-benda itu.

“Kau menyukainya?”

Suzy memalingkan pandangannya begitu mendengar suara Joohyun. “Eonnie sudah selesai?”

Joohyun menganggukkan kepalanya. Ia lalu menatap beberapa aksesori untuk hanbok dan menunjukkannya pada Suzy. “Kau menyukai ini?” tanyanya lagi, mengulangi pertanyaannya sebelumnya.

Ne?”

“Kalau kau suka, aku akan membelikannya untukmu.”

“Eh, bukan begitu. Aku tidak begitu ingin perhiasan itu,” sahut Suzy sambil mengibaskan tangannya membantah perkataan Joohyun.

Joohyun menyipitkan kedua matanya. “Benarkah? Kurasa tidak begitu. Aku tadi melihatmu begitu bersemangat melihat aksesori ini. Benar tidak ingin? Aku tidak berbohong saat bilang aku akan membelikannya untukmu,” katanya.

Suzy menganggukkan kepalanya meyakinkan Joohyun. “Aku tidak menginginkan perhiasan itu. Tapi… apa kau bisa membelikan ini untukku? Hehe…,” balas Suzy sambil memamerkan cengirannya.

Joohyun menolehkan kepalanya menatap apa yang ditunjuk Suzy.

“Manik-manik?”

Ne, aku ingin membuat sesuatu dari itu. Bolehkah?” pinta Suzy.

Joohyun tersenyum. “Tentu saja. Lagipula harganya tidak mahal kok. Aku akan membelikannya untukmu.”

Jinjjayo? Woahh.. gamsahamnida, Eonnie,” pekik Suzy membuat Joohyun terkekeh melihatnya.

….

Haejun menggeram kesal saat istrinya tiba-tiba menghampirinya dan menceritakan apa yang terjadi pada Jiyeon, putri mereka. Wanita itu menceritakan bagaimana Bae Suzy yang selalu berada di sekitar Myungsoo dan hal itu membuat Jiyeon marah.

“Aku khawatir pada Jiyeon,” ujar Nyonya Park.

“Beraninya dia membuat Jiyeon-ku marah!” geram Park Haejun. Ia mengepalkan kedua tangannya, persis dengan apa yang dilakukan Jiyeon sebelumnya. “Ahn Daepoong! Cepat panggil dia!”

Mendengar apa yang dikatakan suaminya membuat Nyonya Park bergegas meninggalkan kamar itu dan mencari pemuda bernama Ahn Daepoong itu. Tak lama, pemuda dengan tubuh jangkung itu segera menemui Haejun yang masih berada di ruangannya.

Ye, Tuan,” sahut Daepoong begitu Ia menampakkan dirinya di hadapan Haejun.

“Ada sesuatu yang harus kau lakukan untukku,” kata Haejun tanpa menatap ke arah Daepoong sedikitpun.

“Apa itu, Tuan?”

Haejun tersenyum sinis bersamaan dengan tatapan matanya yang semakin tajam. Ia kemudian mengeraskan rahangnya seiring dengan pudarnya senyuman sinis yang terukir di wajahnya tadi.

“Bae Suzy… gadis itu…”

….

Hari semakin sore dan langit yang tadinya berwarna biru cerah kini mulai ber-transformasi hingga memunculkan bercak-bercak kekuningan di ufuk barat menandakan hari yang semakin matang. Burung-burung pun berterbangan untuk kembali ke sangkarnya. Sama seperti dua gadis ini yang tengah berjalan kembali ke rumahnya.

Eonnie, kau membeli kain banyak sekali,” ujar Suzy saat melihat apa yang ada di kantung yang di bawa Joohyun.

“Ehm, aku sengaja karena aku akan membuat dua,” jawab Joohyun.

Suzy membelalakkan matanya. “Dua?” sahutnya heran. Pasalnya gadis yang lebih tua beberapa tahun darinya itu tadi memberitahunya kalau Ia akan membeli kain untuk membuat baju yang akan Ia berikan pada adiknya yang akan lahir. Kenapa harus membuat dua baju yang sama untuk satu bayi?

“Aku membuat dua, satu untuk laki-laki dan satu untuk perempuan,” balas Joohyun.

“Apa mereka kembar?”

“Kembar? Aku tidak tahu. Aku membuat dua karena aku tidak tahu adikku laki-laki atau perempuan.”

“Ah…,” gumam Suzy sembari menganggukkan kepalanya mengerti.

Mereka berdua pun kembali melanjutkan perjalanan mereka sambil sesekali bercengkrama.

“Suzy-ah!”

Dua gadis itu sontak menolehkan kepala saat mendengar sebuah suara menyerukan nama salah satu dari kedua gadis itu. Suzy tersenyum lebar melihat siapa yang menghampirinya. Ia melambaikan tangannya lalu menyapa pemuda itu.

“Myungsoo!” sapa Suzy.

Myungsoo tersenyum melihatnya. Ia kemudian membungkukkan tubuhnya sedikit pada Joohyun yang segera dibalas senyuman oleh gadis itu. “Myungsoo-ssi, aku tidak menyangka akan bertemu denganmu disini,” kata Joohyun.

“Ah, ne. Kebetulan sekali,” balas Myungsoo.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Suzy pada Myungsoo.

“Aku baru saja dari istana,” jawab Myungsoo.

Suzy menyipitkan matanya pertanda curiga. “Jinjjayo? Dari istana? Bukan habis menemui calon istrimu?”

Kedua bola mata Myungsoo melebar mendengarnya. Darimana Suzy bisa mendapat pemikiran seperti itu? Mana mungkin Ia menemui putri Menteri Park? Lagipula Ia masih belum menyetujuinya. Mereka kan hanya berbicara  dengan ayahnya, bukan dirinya.

“Ada apa dengan wajahmu itu? Kau kelihatan tak suka,” celetuk Suzy.

Myungsoo melengos, malas membalasnya.

“Wah.. Myungsoo-ssi akan menikah? Siapa gadis beruntung itu? Apa dia cantik?” celetuk Joohyun membuat Myungsoo semakin malas mendengarnya.

“Tidak. Suzy hanya mengada-ada. Tidak ada pernikahan, Joohyun-ssi,” jawab Myungsoo.

“Apa? Aku tidak mengada-ada!” bantah Suzy. “Aku kan melihatnya sendiri….”

Joohyun terkekeh melihat tingkah kedua manusia di hadapannya. Ia melirik langit yang semakin petang, kemudian beralih pada Suzy yang masih berusaha menjelaskan kalau Ia tidak mengada-ada.

“Suzy-ssi, sudah semakin sore. Lebih baik kita pulang sebelum orang di rumah khawatir,” kata Joohyun.

Ne, Eonnie.”

“Kalian sudah mau pulang?” tanya Myungsoo.

Kedua gadis itu mengangguk bersamaan menandakan apa yang ditanyakan Myungsoo itu benar.

“Kalau begitu aku akan mengantar kalian. Sudah hampir malam, jalanan pasti mulai gelap dan berbahaya. Ayo!” ajak Myungsoo membuat Suzy menatapnya heran. Gadis itu mengernyitkan keningnya.

“Kau tidak akan meminta imbalan kan?” tuduh Suzy.

Myungsoo menggelengkan kepalanya mantap.

“Baiklah. Ayo pulang! Eonnie, ayo!”

….

Krystal melangkahkan kakinya menuju kediaman Putra Mahkota. Akhir-akhir ini Ia jarang sekali mengunjungi pemuda itu lantaran peristiwa ciuman dadakan yang dilakukan Howon padanya. Ia hanya sesekali kesana jika pemuda itu memerintahnya. Termasuk saat ini.

Begitu sampai di depan bangunan kediaman Putra Mahkota, Krystal pun menyuruh dayangnya untuk memberitahu kasim Putra Mahkota tentang kedatangannya.

“Choha, Yang Mulia Putri Mahkota datang menemui Anda!”

Krystal pun mengayunkan kakinya memasuki ruangan itu. Seorang pemuda tengah berkutat dengan setumpuk buku di mejanya membuat Krystal mengerutkan keningnya tak mengerti.

Ck.. untuk apa dia menyuruhku kemari kalau dia sedang sibuk begitu? Memangnya aku boneka pajangan? Batin Krystal.

“Kau sudah datang?” sapa Howon begitu melihat sosok Krystal yang masih berdiri di ambang pintu. “Masuklah dan duduk disini, jangan hanya berdiri  disitu,” kata Howon yang segera dituruti Krystal.

Gadis itu duduk tepat di hadapan Howon dengan sebuah meja kayu membatasi mereka berdua. Krystal melirik buku-buku yang dibaca Howon lalu menautkan kedua alisnya begitu melihat judul-judul yang sama sekali tak dimengertinya. Mungkin hanya beberapa kata tapi tetap saja tak mengerti.

“Kau tertarik membacanya?” tanya Howon tiba-tiba.

Krystal mendongakkan kepalanya menatap Howon. “Apa? Membaca apa?”

“Kulihat kau terus melirik judul buku yang kubaca. Mau membacanya?”

Mendengar hal itu praktis membuat Krystal menggelengkan kepalanya. Ia bahkan tak pernah bisa mengerti pelajaran sejarah di kelasnya dan sekarang ditawari membaca salah satu buku yang ada hubungannya langsung dengan pelajaran itu? Tentu saja Ia menolaknya mentah-mentah.

Geure, kalau begitu aku juga tidak akan membacanya,” kata Howon.

Jwesonghamnida, Choha. Saya akan membacanya agar Anda juga membacanya.”

Howon tersenyum mendengarnya. “Tidak perlu. Aku memintamu kemari karena aku sedang suntuk dan bosan membaca buku-buku ini terus. Jadi karena kau sudah disini, aku akan melanjutkan membacanya nanti.”

Krystal hanya tersenyum kikuk mendengarnya. Dalam kepalanya Ia berpikir kalau pemuda di hadapannya pasti benar-benar mencintai Putri Mahkota Jung Soojung.

“Choha, Yang Mulia Ibu Suri datang menemui Anda!”

Krystal membulatkan kedua bola matanya saat mendengar suara kasim yang menyerukan kedatangan Ibu Suri. Ia masih takut jika bertemu Ibu Suri Park karena kejadian beberapa hari yang lalu saat wanita itu tiba-tiba menemuinya.

Jangan-jangan wanita itu akan mengatakan yang sebenarnya pada Putra Mahkota? Omo! Eotteokhae?’ batin Krystal.

Ia menatap takut-takut pintu ruangan itu yang bisa terbuka kapan saja dan menampilkan sosok Ibu Suri Park yang pasti akan menatapnya dengan tatapan tajamnya itu. Memikirkannya saja membuat Krystal bergidik ngeri.

Ibu Suri Park melangkahkan kakinya memasuki ruangan Putra Mahkota. Senyumnya berubah sinis tatkala mendapati sosok Krystal yang tengah duduk di hadapan Putra Mahkota. Gadis itu segera berdiri dan membungkuk hormat padanya diikuti Howon yang melakukan hal yang sama dengannya.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Ibu Suri Park pada Krystal.

Howon yang mendengarnya mengernyit tak senang. “Harusnya aku yang bertanya begitu pada nenek, apa yang Anda lakukan disini?” balas Putra Mahkota tak memberi kesempatan pada Krystal untuk menjawab.

“Cih… Anda terlalu polos, Yang Mulia,” kata Ibu Suri Park masih sambil berdiri di tempatnya. Ia kemudian berjalan menghampiri Krystal yang masih menunduk karena takut.

“Apa maksud Nenek?”

Ibu Suri Park mengalihkan pandangannya pada Howon yang menatapnya tak suka. Ia tersenyum sinis lalu melirik Krystal yang berdiri tak jauh darinya.

“Seharusnya Anda menanyakannya pada Putri Mahkota, Yang Mulia. Aku bahkan tak mempunyai hak untuk mengatakan hal tersebut pada, Anda,” kata Ibu Suri Park lalu menoleh pada Krystal. “Benarkan, Putri Mahkota?”

Krystal hanya dapat menggigit bibir bawahnya. Ia benar-benar takut semuanya akan terbongkar. Digenggamnya erat-erat rok hanboknya sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam, tak berani menatap Ibu Suri Park maupun Howon.

“Lihat! Dia tidak bisa menjawabnya.”

Howon menatap Krystal yang hanya menunduk. Matanya kemudian beralih pada Ibu Suri Park dan menatapnya tajam. “Sebaiknya Anda kembali ke kediaman Anda, Mama. Istriku sedang dalam keadaan tidak baik saat ini dan kehadiran Anda membuatnya semakin tak nyaman,” kata Howon.

Ibu Suri Park melengos. Tanpa kata Ia berbalik lalu meninggalkan kedua orang itu.

Howon menghela nafas panjang. Pandangannya beralih pada Krystal yang masih berdiri sambil menundukkan kepalanya. Dihampirinya gadis itu lalu diraihnya kedua pipi gadis itu seraya mendongakkannya agar Ia bisa melihat wajah gadis itu lebih jelas.

Gwaenchanhayo? Apa Nenek membuatmu tak nyaman?” tanya Howon.

Krystal menggelengkan kepalanya pelan. Namun jelas sekali Ia masih takut jika Ibu Suri Park kembali dan mengatakan hal yang sebenarnya pada Howon. Ia benar-benar takut jika Raja ataupun Putra Mahkota menghukumnya. Tidak, Ia belum siap mati. Setidaknya bukan di masa Joseon ini.

Melihat Krystal yang hanya diam saja membuat Howon tak tenang. Direntangkannya kedua tangannya lalu memeluk gadis itu dengan erat.

“Jangan dengarkan perkataan nenek… aku hanya akan percaya padamu,” ucap Howon.

Krystal melepaskan pelukan itu lalu menatap Howon. “Benarkah?”

Howon menganggukkan kepalanya sembari tersenyum membuat Krystal mau tak mau menyunggingkan senyumnya.

Pemuda itu kembali meraih tubuh gadis itu ke dalam dekapannya.

Saranghae…”

….

Suzy, Joohyun, dan Myungsoo berjalan beriringan menuju kediaman keluarga Bae yang hanya tinggal beberapa meter lagi. Sesekali ketiga orang itu mengobrol atau saling bercanda dengan santai tanpa ada kecanggungan sama sekali.

Tiba-tiba saja Suzy menghentikan langkahnya. Keningnya berkerut samar dengan tatapan mata yang terarah lurus ke depan.

Eonnie, ada apa disana? Kenapa ramai sekali?” tanya Suzy.

Joohyun dan Myungsoo yang mendengar perkataan Suzy praktis langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah yang dilihat gadis itu. Mata Joohyun menyipit saat melihat orang-orang berlarian ke arah rumahnya.

“Bukankah itu api?” celetuk Myungsoo saat tak sengaja melihat kobaran berwarna kuning kemerahan dengan asap tebal yang mengepul di sekelilingnya.

Ketiga orang itu terpaku melihat api itu. Sedetik kemudian mereka segera mengayunkan kakinya ke arah asap itu berasal. Hati Joohyun mencelos saat melihat halaman rumahnya dikerubungi orang-orang sedangkan rumahnya kini tengah diselimuti kobaran api.

Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada orang-orang di sekelilingnya, mencari keberadaan keluarganya. Ia menghela nafas lega begitu melihat semuanya berada di luar rumah termasuk ayah dan ibunya.

Dengan terengah-engah Suzy dan Myungsoo menghampiri Joohyun.

Eonnie, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa- Eonnie!!”

Semua orang yang ada disana terkejut saat melihat Joohyun tiba-tiba mengayunkan kakinya dan berlari menerjang kobaran api dan memasuki rumah. Saking terkejutnya tak ada satupun yang bergerak mencegah gadis itu. Suzy yang melihatnya juga tak kalah terkejutnya. Ia kemudian menoleh pada orang tua Joohyun yang sama terkejutnya.

“JOOHYUN-AH!!!” teriak Ibu Joohyun. Jelas sekali Ia begitu khawatir melihat putrinya tiba-tiba memasuki bangunan rumah yang bahkan sudah tak berbentuk.

Tanpa sadar kaki Suzy bergerak ke arah rumah yang terbakar. Ia harus membantu Joohyun. Gadis itu pasti susah keluar jika tidak ada yang membantunya. Suzy terus melangkahkan kakinya hingga tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia menoleh dan menatap lengannya yang digenggam Myungsoo.

“Myungsoo, lepaskan!”

Myungsoo menggelengkan kepalanya. “Tidak, Suzy! Kau tidak boleh masuk!”

“Lepaskan, Myungsoo! Joohyun Eonnie ada di dalam! Aku harus membantunya keluar!”

“Tidak, Suzy!” teriak Myungsoo. “Aku yang akan menolongnya. Kau tunggu disini saja dan tenangkan kedua orang tua Joohyun,” katanya lalu segera berlari masuk ke dalam rumah membuat orang-orang yang ada disana kembali terkejut.

Suzy masih berdiri di tempatnya sambil menatap tubuh Myungsoo yang mulai menghilang di balik bangunan itu. Ia kemudian menghampiri kedua orang tua Joohyun. Nyonya Bae sudah menitikkan air matanya sedaritadi karena begitu khawatir. Joohyun tak kunjung keluar dan itu semakin membuatnya tak tenang.

Eomoni, Joohyun Eonnie pasti bisa keluar,” ucap Suzy sambil merangkul tubuh wanita paruh baya itu. Mereka berdua kemudian menatap ke arah bangunan di hadapan mereka yang semakin habis dilalap api sedangkan Tuan Bae bersama yang lain tengah sibuk memadamkan api begitu bantuan air datang.

….

Seorang gadis tengah membantu ibunya membuat teh di dapur sembari sesekali bercakap-cakap. Gadis itu hanya tersenyum malu saat ibunya bertanya mengenai seseorang yang disukainya.

“Kau begitu menyukai putra dari keluarga Kim itu ya?” goda sang Ibu sedangkan Jiyeon, putrinya tersenyum malu mendengar pertanyaan ibunya.

Eomoni, jangan bertanya begitu. Kau membuatku malu,” celetuk Jiyeon.

Nyonya Park terkekeh geli mendengarnya. “Untuk apa malu? Kau kan menyukai calon suamimu, bukan suami orang lain. Tidak perlu malu begitu pada Ibu,” kata Nyonya Park yang justru semakin membuat gadis itu malu.

“Ah, aku akan mengantarkan teh ini pada Ahbeoji saja sebelum Eomoni semakin membuatku malu,” ujar Jiyeon seraya mengangkat sebuah nampan dengan sebuah cawan berisi teh di atasnya.

Gadis itu segera melangkahkan kakinya menuju ruangan ayahnya.

Baru saja Jiyeon akan mengetuk pintu ruangan ayahnya, Ia langsung mengurungkan niatnya saat mendengar ayahnya tengah berbicara dengan seseorang. Pikirannya bertanya-tanya dengan siapa ayahnya berbicara.

“Kau sudah melakukan yang kuperintahkan?”

Jiyeon menautkan kedua alisnya mendengar kalimat ayahnya. “Melakukan apa?” gumamnya pelan. Ia kembali mendekatkan telinganya agar dapat mendengar lebih jelas sembari menyembunyikan tubuhnya agar ayahnya tak bisa melihat bayangannya.

“Sudah, Tuan. Aku sudah melakukan apa yang Anda perintahkan.”

“Bagus kalau begitu. Ambil ini. Aku akan melihat hasilnya dulu dan setelah itu baru aku akan memberikan sisanya jika kau melakukan dengan benar. Sekarang kau boleh kembali”

“Algeusseumnida.”

Jiyeon segera menyembunyikan tubuhnya saat merasa orang yang baru saja berbicara dengan ayahnya itu akan keluar. Benar saja karena seorang pemuda yang Ia tahu sebagai salah satu anak buah ayahnya tiba-tiba keluar dari ruangan ayahnya.

Jiyeon terdiam. Ia benar-benar tak mengerti pembicaraan ayahnya dengan anak buahnya itu.

“Melakukan apa?” gumamnya.

….

Myungsoo melangkahkan kakinya sambil sesekali terbatuk-batuk karena menghirup asap. Ia terus melangkahkan kakinya dan mencari Joohyun yang entah berada dimana.

“JOOHYUN-SSI!” teriak Myungsoo.

“Tolong aku….”

Samar-samar Myungsoo mendengar suara seseorang meminta tolong. Ia pun segera mempercepat ayunan kakinya menuju ke sumber suara. Kedua matanya membulat saat melihat Joohyun yang kini tengah meringkuk di atas lantai kamarnya.

“Joohyun-ssi.. uhuk.”

Myungsoo segera menghampiri Joohyun. Namun belum sempat Ia sampai di depan gadis itu, sebongkah kayu tiba-tiba jatuh di hadapannya membuat api dengan cepat menyambar kayu itu dan sekelilingnya.

Myungsoo semakin panik karena Ia tak bisa melewati api itu sedangkan Ia harus menyelamatkan Joohyun.

“Myungsoo… uhuk… ada sebuah gayageum… uhuk…”

Myungsoo menatap Joohyun bingung. Ia melangkahkan kakinya mendekati bongkahan kayu tadi dan mencoba mencari celah agar bisa mencapai Joohyun.

“Myungsoo.. dengarkan aku.. ambil gayageum yang ada di situ uhuk… ambil itu dan keluarlah. Uhuk… kau tidak bisa uhuk terus berada disini… kau harus keluar dan selamat… Myungsoo.. uhuk…”

“Tidak, Joohyun-ssi, aku akan menyelamatkanmu dulu baru keluar!”

Myungsoo masih mencoba untuk melewati bongkahan kayu tadi sedangkan Joohyun begitu lemas di tempatnya. Pasokan oksigen mulai menipis dan paru-parunya sudah terlalu banyak menghirup asap.

“Kumohon, Myungsoo-ssi…”

Pemuda itu menatap Joohyun panik karena gadis itu tiba-tiba menutup matanya setelah mengucapkan kalimat itu. Matanya sudah tergenang air karena takut tak bisa menyelamatkan gadis itu.

“Joohyun-ssi, bertahanlah. Aku akan menyelamatkanmu…”

Buk!

Dengan nekat Myungsoo menerobos bongkahan kayu itu lalu mengangkat tubuh Joohyun. Tak peduli pakaiannya yang dengan mudah tersambar api. Ia segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.

“Myungsoo-ssi…”

Dengan mata yang masih terpejam, Joohyun memanggil Myungsoo namun tak digubris pemuda itu. Ia kini terlalu sibuk mencari jalan keluar. Parahnya lagi jalan yang tadi dilewatinya untuk masuk kini tertutup oleh kayu-kayu.

“Myungsoo-ssi, bawalah gayageum itu. Kau tidak akan bisa keluar jika kau menyelamatkanku. Dengarkan aku, Myungsoo-ssi….”

Myungsoo menggelengkan kepalanya. Kakinya sudah begitu lemas. Ia benar-benar kekurangan oksigen sekarang. Pakaian yang dipakainya bahkan sudah tak berbentuk karena sebagian hangus oleh api.

“Myungsoo-ssi, kau harus selamat dan membawa gayageum itu.”

Myungsoo yang sudah lemas kini jatuh terduduk. Joohyun yang berusaha turun dari gendongan Myungsoo lalu tertatih-tatih kembali ke kamarnya. Diambilnya gayageum yang sebagian mulai berubah warna, kemudian kembali menghampiri Myungsoo.

“Myungsoo… uhuk.. bawa ini. Gayageum ini uhuk adalah uhuk benda yang sangat kusayangi uhuk uhuk. Keluarga kami sangat menyukai gayageum dan aku ingin uhuk uhuk adikku juga menyukainya. Ambil uhuk dan bawa gayageum ini keluar, untuk adikku.. yang sebentar lagi akan lahir uhuk uhuk.”

Myungsoo menatap Joohyun tak mengerti. Mengapa Ia harus menyelamatkan sebuah gayageum? Ia harusnya menyelamatkan Joohyun.

“Aku akan membawamu, Joohyun-ssi.”

“Tidak bisa, Myungsoo,” sahut Joohyun. “Jika kau membawaku, kau tidak akan uhuk uhuk bisa melewati kayu-kayu itu. Tapi kau masih bisa melewatinya uhuk jika hanya membawa gayageum ini. Kau harus selamat, Myungsoo-ssi. Uhuk uhuk. Jangan membuat usahaku berlari kesini menjadi sia-sia.”

Myungsoo menggelengkan kepalanya. Ia tak bisa meninggalkan Joohyun.

Sedangkan gadis itu kini sudah menatapnya memohon.

….

Sudah beberapa menit berlalu namun baik Joohyun maupun Myungsoo belum juga menampakkan batang hidungnya. Kedua orang itu masih berada dalam bangunan yang terbakar itu membuat orang-orang semakin cemas. Apalagi api juga tak kunjung padam walaupun sudah disiram berkali-kali.

“Dia keluar!”

Suzy segera menolehkan kepalanya saat mendengar seseorang berseru. Hatinya mencelos saat melihat hanya ada satu orang yang keluar dari sana.

“Joohyun Eonnie….”

Suzy segera melangkahkan kakinya menghampiri orang itu yang merupakan Myungsoo. Ia menatap Myungsoo penuh tanda tanya karena pemuda itu hanya keluar seorang diri tanpa Joohyun dan justru membawa sebuah gayageum di tangannya.

“Joohyun Eonnie… dimana dia?” tanya Suzy.

Myungsoo menatap Suzy tak tega. Ia kemudian menggelengkan kepalanya pelan sedangkan Suzy menatap pemuda itu tak percaya. Ia menggelengkan kepalanya menolak jawaban Myungsoo.

“Tidak, Myungsoo. Jangan bercanda! Dimana Joohyun Eonnie? Kenapa kau keluar sendiri, eoh? Katakan padaku, Myungsoo! Myungsoo!”

Myungsoo hanya membungkam mulutnya. Ia benar-benar merasa bersalah karena memilih meninggalkan gadis itu di dalam.

“Maafkan  aku….”

Bug!

Myungsoo menatap Suzy yang tiba-tiba memukulnya. Perlahan setetes demi setetes air mata keluar dari sudut mata Suzy. Gadis itu menangis. Myungsoo benar-benar merasa tak berguna melihatnya. Ia hanya dapat berdiam diri saat Suzy memukulnya berkali-kali sambil menangis tersedu-sedu.

“Kenapa kau tak menolongnya? Kenapa kau keluar sendiri? Kenapa kau malah membawa gayageum itu? Kenapa Kim Myungsoo?”

Bruk!

Myungsoo dan Suzy sontak menolehkan kepala mereka begitu mendengar sebuah suara. Kedua orang itu terkejut saat melihat Nyonya Bae yang tiba-tiba pingsan. Beruntung karena Tuan Bae dengan sigap menangkapnya.

Eomoni!” seru Suzy seraya menghampiri Nyonya Bae.

Myungsoo yang melihatnya ikut menghampiri Nyonya Bae walaupun pada akhirnya Ia hanya bisa berdiam diri karena sudah ada yang menolong Nyonya Bae lebih dulu. Pandangannya kini tertuju pada keluarga Bae.

“Maafkan aku….”

….

TBC

….

Hallooooo akhirnya bisa balik lagi bawa ff ini. Maaf ya sebelumnya aku agak sensi (kalo kalian baca ff ku yang judulnya Between Me & You pasti tahu). Ya kayak yang aku bilang disitu, kayaknya peminat ff ini berkurang kalau dilihat dari komen chapter 9 kemarin yang turun banget dari chapter sebelumnya. Tapi udah enggak aku pikirin sekarang. Tapi aku nggak janji apa aku bakal tetep sensi apa enggak ntar kalau semisal komen di chapter ini anjlok lagi.

Tapiiiiii gimanapun makasih banget buat reader yang mau nungguin ff ini. Aku terharu baca komen para reader di Between Me & You yang pada mau ff ini dilanjut :’)

Maaf kalau ceritanya makin kesini makin jelek dan feelnya kurang. Mungkin efek dari masalah yang aku sebutin di atas. Nggak tahulah. Tapi aku usahain supaya nggak ngefek2 banget di ff ini.

Dannnnnn… udah pada dengerin lagunya Suzy? Yang OST-nya Neoreul Saranghan Sigan? Lagunya enak banget…. yang belum dengerin ayo dengerin dulu.  Liriknya pas banget sama cerita di dramanya. Aku baru nonton sampe episode 3 sih sebenernya (gara2 Myungsoo) dan rencananya baru mau lanjutin setelah dapet sumbangan episode selanjutnya dari temen hehe.

Ah satu lagi, maaf kalo aku lebih sering ngomongin Infinite.  Yang Inspirit (kalau ada) pasti tahu rasanya hehe.

Terakhir jangan lupa rcl yaaaaaaaaa😀

78 responses to “[Freelance] New Destiny Chapter 10

  1. eehhh myung harus lebih jelas napa kalo nolak lamaran dari keluarga park kan kasihan keluarga yang jadi korbannya, jadi jiyeon ngak tau apa yang dilakuin ayahnya sama keluarga bae,, hee…

  2. Duhh gimana nasib joohyun? Apa dia meninggal? Aigoo kasian. Eishh ayahnya si jiyeon jahat bgt sampe segitunya mw nyingkirin suzy dasarrr

  3. aigooo…joohyun meninggal..suzy ga punya kwan lg donk…
    ini pasti ulahnya tuan park…
    ibu suri jga mkin nekat…aduh…penasaran….!!!

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s