Because of Love (Chapter 3)

02-because-of-love

Title     : Because of Love

Genre  : AU, Romance, Angst

Main Cast: Bae Soo Ji as Miss A Suzy, Kim Myung Soo as Infinite L

Other Cast : Find by yourself

Rating : PG

Length : Multichapter

Auhtor : Chang Nidhyun (@nidariahs)

Cover by : Desy M (exoluhanfanfictionindonesia)

 

***

“Demi Tuhan! Itu tawaran yang bagus, Sooji! Jadi apalagi yang kau tunggu? Sehun itu tampan, manis, dan dia juga menyukaimu. Harusnya kau pacaran dengannya saja sejak dulu,” heboh Jiyeon setelah mendengar cerita singkat Sooji soal ajakan kencan Sehun tempo hari. Ya, tempo hari. Dan Sooji sama sekali belum ada niatan untuk menjawabnya.

Sooji sudah punya kekasih, apa yang akan dikatakan orang lain tentangnya nanti jika ia benar-benar menerima ajakan Sehun?

“Tapi tetap saja, bagaimana dengan image-ku jika aku….”

“Siapa yang akan peduli?” Jiyeon mulai merapikan –lagi—rambutnya yang bahkan masih terlihat rapi seperti terakhir ia merapikannya tadi, “Myungsoo oppamu yang paling cuek sedunia itu? Oh, ayolah Sooji. Apakah sebegitu butanya cinta sampai kau tidak bisa melihat laki-laki lain yang berada di sekitarmu? Bahkan kau berhasil menggaet seorang Yang Yoseob!” lagi, Jiyeon berkelakar panjang lebar dengan heboh. Dan Sooji sama sekali tidak berniat menyangkal ucapan Jiyeon, juga membenarkannya.

Sooji menatap datar pemandangan luar kafe melalui kaca tembus pandang di sisi kirinya. Pikirannya melayang entah kemana. Pusing. Ini lebih memusingkan daripada tugas kuliah yang ingin ia muntahi tiap kali ia melihatnya, ini lebih memusingkan daripada ujian fisikanya yang anjlok saat SMA dulu. Dan, sayangnya Sooji lebih suka memusingkan semua itu –tugas kuliah yang ingin dimuntahinya ataupun ujian Fisika yang membuat ayahnya mengamuk hebat. Seorang Kim Myungsoo bukan lagi cerita baru yang hangat, yang bisa membuat orang-oran di sekitarnya tertarik ataupun antusias mendengarnya. Mereka bahkan lebih suka mendengarkan Sooji mengeluhkan gosipnya dengan Yoseob daripada mendengarkan keluh kesahnya tentang Myungsoo.

Myungsoo brengsek. Dan itu benar. Sayangnya Sooji lebih merasa hati kecilnya lebih brengsek lagi, seolah-olah hatinya benar-benar buta meskipun telah tersakiti lagi dan lagi.

“Terima saja ajakan Sehun. Jika Myungsoo bukan jodohmu, kau akan menyesal dengan semua perasaan yang kau miliki untuknya,” Jiyeon berbicara dengan nada dewasa, dengan menyentuh tangan Sooji dan tatapan meyakinkannya, “Kau bisa bahagia dan menumpahkan air matamu tanpa namanya lagi. Dan semua orang akan berpikir itu benar.”

 

***

 

Myungsoo memutar-mutar pena di tangan kanannya. Ia hampir tidak berkonsentrasi selama mengerjakan ‘tugas’ yang diembankan padanya sejak beberapa hari lalu. Yeah, membuat lagu tentunya bukan hal baru yang harus membuat Myungsoo sampai jungkir balik karena kewalahan. Tapi kali ini, bosnya menaruh harapan besar pada artis ‘kesayangannya’ yang akan come back musim ini. Dan, anehnya Myungsoo seperti kehilangan perasaan saat mulai menuliskan lirik lagu yang telah dikerjakannya sejak kemarin sore.

“Kau bisa minta bantuan komposer lain jika kau…” Myungsoo mengangkat tangannya tanpa menoleh ke arah si pemilik suara. Woohyun berdecak melihat gelagat Myungsoo yang agak menyebalkan itu. Tapi ia diam saja, dan akhirnya ia memilih untuk duduk memperhatikan kertas yang tidak terlalu jelas isinya.

“Aku hampir tidak percaya kau diberi kepercayaan sepenuhnya untuk membuat lagu dalam album Luna,” Woohyun kembali bersuara, kali ini berhasil menarik perhatian Myungsoo, “Tentunya untuk lagu utamanya kau akan sedikit gugup. Kau berhasil mengalahkan penulis lagu lain, bahkan kau yang diberi kepercayaan untuk membuat musik dan liriknya bersamaan. Tidak perlu terlalu serius, man. Semua orang percaya pada kemampuanmu,” kata Woohyun lagi sambil menepuk pundak Myungsoo.

Myungsoo tidak menjawab dan hanya menatap kertas lagunya dengan jengah –yeah, ia telah menghabiskan berjam-jam waktunya di studio musik ini. Dan ia merasa 70% lagunya yang satu ini sama sekali tidak bermutu.

“Oya, ngomong-ngomong bagaimana hubunganmu dengan Sooji? Kau tahu, sikapmu menjadi obrolan hangat…”

Myungsoo mendelik malas saat Woohyun mulai membicarakan hal yang tak ingin didengarnya –lagi. Pertanyaan seputar hubungannya dengan Sooji menjadi hal yang sensitif untuk menyentuh gendang telinganya. Ayolah! Apalagi yang akan mereka katakan tentang Myungsoo? Myungsoo yang brengsek karena tidak memperlakukan Sooji dengan baik? Myungsoo yang menyebalkan karena mengabaikan Sooji? Atau Myungsoo yang payah karena masih menaruh perasaan pada Soojung?

Myungsoo mendesis. Sebegitu payahnya semua orang sampai harus memusingkan dirinya. Apa mereka sama sekali tak punya masalah sampai masih sempat untuk memikirkan Myungsoo yang bahkan tidak tahu harus memikirkan apa tentang mereka yang membicarakan Myungsoo.

“Aku di pihakmu, kok,” Woohyun menepuk pundak Myungsoo, bernada seolah ia benar-benar bersimpati pada teman lamanya itu. Bagaimanapun, Woohyun tahu betapa keterlaluannya Sooji selama ini –yeah, baginya Sooji amat keterlaluan.

“Dia hanya masih kecil, dia tidak terlalu bisa mengendalikan emosinya,” Myungsoo menyahut. Ia tidak bermaksud untuk membela Sooji, hanya saja ia merasa Sooji memang masih perlu banyak belajar. Well, sejak kecil Sooji memang memiliki tempramen yang agak buruk.

“Dan dia terlalu terobsesi padamu. Melabrak dan memusihi tiap wanita yang dekat denganmu. Bahkan dia sering mengganggu Soojung. Apa dia tidak tahu cinta tidak bisa dipaksakan?” Woohyun mulai mengeluh. Ia tahu sebenarnya ia orang lain, orang luar yang bahkan tidak memiliki keuntungan ataupun kerugian untuk memikirkan ini semua.

Sooji keterlaluan. Itulah yang dipikirkan Woohyun tiap kali orang membicarakan Sooji yang belakangan ini begitu terkenal setelah gossip ‘manisnya’, dan hal itu berhasil membuat fans Yoseob menjadi ‘diabetes’ karena kemanisan bahasa wartawan untuk membumbui skandal mereka. Bahkan namanya kembali disebut-sebut setelah ia dikonfirmasi akan menjadi lawan main actor Kim Soo Hyun yang baru saja mendapat gelar ‘artis dengan bayaran termahal’. Dan yang menjadi poin jelek di mata Woohyun, orang di sekitar Sooji –yang tentunya tahu Sooji adalah kekasih Myungsoo—merasa jengkel karena Myungsoo terlihat acuh. Bahkan Woohyun yakin sekali Sooji bercerita jika Myungsoo memang cuek padanya, meskipun benar, tapi menurutnya Sooji harusnya tahu jika sejak dulu Myungsoo tidak menyukainya. Cinta tidak bisa dipaksakan. Ya. Mungkin Sooji harus tahu tentang ini.

“Itu sudah berlalu, dia memang kekanakan…”

“Dan kau selalu memaafkannya dengan mudah. Ayolah, man! Kau terlalu memberinya harapan kosong. Kau membuatnya seolah ada cinta yang bisa ia kecap darimu, sementara kau justru lebih peduli pada pekerjaanmu ketimbang fokus pada hubunganmu.”

Myungsoo mungkin saja menghajar Woohyun saking cerewetnya pemuda itu. Tapi Myungsoo urung dan lebih memilih untuk memelototi Woohyun. Ia pusing. Demi Tuhan dia pusing dan ia sedang tidak ada mood untuk menanggapi Woohyun.

“Dan juga…”

“Aku tidak peduli,” potong Myungsoo cepat, “Aku tidak peduli apa yang dibicarakan orang lain dan apa yang mereka yakini tentang hubungan kami. Aku tidak peduli meskipun Sooji terlampau sering membuat masalah, aku tidak peduli dengan semua itu karena aku, aku yang menjalani semua ini. Jadi kumohon, berhenti merecoki hubungan kami. Mengerti?!” Myungsoo langsung bangkit dan meninggalkan Woohyun sendirian di dalam. Persetan! Ia pusing! Ia membutuhkan udara segar sebelum kepalanya meledak dan tak menghasilkan apapun saat ini.

 

***

 

Bang Minah tersenyum cerah pada pelayan yang baru saja mengantarkan kopi yang dipesannya. Dan senyumnya semakin cerah saat matanya beralih menatap Kim Myungsoo yang duduk behadapan dengannya. Demi Tuhan! Ini sebuah hadiah manis untuk hari yang melelahkan ini –yeah, persiapan debutnya membuat ia merasa lelah di kepala dan juga fisiknya. Tapi semangatnya sedikit terobati lagi saat ia melihat Myungsoo, penulis lagu yang tampan dan juga menjadi kesayangan bosnya.

“Kau sedang lelah? Kau tidak terlihat baik,” Minah membuka keheningan yang sejak tadi melanda mereka. Dan memang benar, Myungsoo terlihat kusut sekali sejak ia menginjak kafe ini, membuat lidahnya gatal untuk menyapa pria tersebut.

Myungsoo menatap Minah beberapa saat. Kemudian ia tersenyum penuh arti, mengedikkan bahunya, lalu menjawab, “Hanya lelah. Aku butuh tim untuk projek baruku, untuk album Park Luna,” Myungsoo menjawa dengan jujur. Yeah, akhirnya ia mengakui ia butuh tim.

Minah balas tersenyum, “Lagumu memang sangat bagus. Aku harap kau juga bisa ikut andil dalam album debutku,” katanya dengan nada harap. Ya. Ia selalu berharap Myungsoo menulis lagu untuknya, bisa dekat dengannya, dan…ada banyak lagi khayalan yang berputar di kepalanya.

Sedikit bocoran, Minah mengharapkan Myungsoo sejak ia menjadi trainee setahun lalu.

Myungsoo mengangkat bahu, “Aku tidak menampik jika aku bekerja untuk uang, jika aku diberi tugas dari atasan, aku juga tidak akan keberatan.”

“Haruskah aku membujuk bos kita?”

Myungsoo terkekeh pelan, “JIka kau berani. Hanya setipe Luna yang akan berhasil membujuknya,”

Minah tidak tersinggung. Memang benar hanya setipe Park Luna yang bisa merayu orang-orang dalam perusahaan untuk mewujudkan mimpinya dalam karir. Bahkan saham perusahaan belakangan naik karena Luna, wanita bersuara emas yang merangkap sebagai aktris. Minah harap, kelak ia bisa mengalahkan Luna.

 

***

 

Sooji sedikit berbohong pada Jaehyun ketika laki-laki itu bertanya soal ‘bolosnya’ Sooji di jadwal syuting iklan hari ini. Yeah, Sooji harus menundanya sampai nanti malam. Dan ia berkata jika ia sedikit flu, jadi ia harus pergi ke rumah sakit –padahal ia mendatangi tempat Myungsoo bekerja. Hatinya yang flu, dan dokternya adalah Myungsoo.

“Kau ingin aku dihajar Jaehyun Hyung?” Sehun mengeluh kecil ketika gadis itu tadi menelponnya dan merengek minta diantar ke suattu tempat –yang ternyata kantor Myungsoo bekerja.

Sooji hanya tersenyum dan melingkarkan tangannya pada tangan Sehun, “Ayolah. Akhir pekan ini kita kan akan kencan,” Sooji menunjukkan aegyo-nya yang sama sekali gagal. Membuat Sehun harus menoyor pelan kepala gadis itu.

“Mukamu jelek,” Sehun tidak peduli dan hanya mencibir saat Sooji memukul bahunya dengan keras, “Cepat masuk. Aku tunggu di sini saja,” putus Sehun.

Sooji tidak menyahut dan bergegas masuk ke dalam, sedikit melupakan raut wajah Sehun yang terlihat dongkol sekali. Maafkan aku Sehun, Myungsoo Oppa prioritasku sekarang –ia berbisik dalam hati.

 

Sooji sedikit menekuk wajahnya saat tahu Myungsoo sedang tidak berada di tempatnya. Dan si informan yang tidak Sooji tahu namanya itu, juga tidak tahu kemana perginya Myungsoo –karena telponnya pun ikut dimatikan.

Oh, ayolah! Sooji tidak ingin usaha ‘berbohongnya’ menjadi sia-sia. Dan Sooji pun berinisiatif mencari Myungsoo di sekitar kantor agensinya tempat bekerja, sampai akhirnya Sooji hampir menyerah ketika ia tidak sengaja mendapati siluet pemuda itu di dalam kafe yang bersebelahan dengan kantor.

Sooji sudah tersenyum dan mempercepat langkah kakinya, namun semua mood nya langsung hancur berantakan saat ia menemukan sesosok gadis yang tidak asing lagi baginya. Dan lagi, untuk apa gadis sok cantik itu duduk satu meja dengan Myungsoo?

Sooji tidak menunggu lebih lama lagi, ia langsung menyeret kakinya menuju kafe tersebut dan langsung mendatangi meja Myungsoo jika ia belum menjadi aktris seperti sekarang, mungkin ia sudah menyiram wajah Bang Minah dengan air yang ada di meja mereka. Tapi saat ini, akan ada banyak orang yang mengenalnya, dan ia tidak mau terkena omelan bosnya karena embuat kekacauan di kantor agensi lain yang bisa dikatakan menjadi saingan agensinya saat ini.

“Kau tidak mengangkat telponku, Oppa!” kata Sooji dengan mata tertuju ke arah Minah, mengintimidasinya, kebiasaan yang tidak pernah hilang dari seorang Bae Sooji.

Myungsoo cukup gelagapan saat mendapati Sooji ada di hadapannya. Ia terkejut, tentu saja. Bagaimana bisa Sooji ada di sini sedangkan dengan jelas gadis itu mengeluhkan seluruh jadwalnya yang terbilang padat.

“Kenapa kau disini?”

“Menemuimu. Menurutmu apalagi?” suara Sooji berubah ketus. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa Myungsoo bisa berada di sekitar gadis genit di hadapannya ini, atau mungkin bagaimana bisa gadis genit itu yang bisa berada di sekitar Myungsoo.

Sooji mengenal Bang Minah, tentu saja. Gadis cantik yang merasa dirinya sangat cantik, gadis genit yang merasa semua orang menyukainya, gadis ambisius yang sangat arogan, gadis yang merasa dirinya paling hebat dan paling suka mencemooh Sooji saat mereka mengambil kelas acting.

Dan, yeah. Bolehkah Sooji tinggi hati sekarang? Karena nyatanya, justru gadis itu ditendang sebelum dia berhasil mencapai impiannya. Bahkan harusnya Minah bersyukur, karena hari ini dia masih diberi kesempatan untuk memperbaiki impiannya.

“Sooji…”

“Apa yang kau lakukan disini Nona Bae?” tanya Minah memotong suara Myungsoo. Dan suara gadis itu bukan hanya berhasil mengalihkan perhatian Myungsoo dan Sooji, tapi hampir separuh orang-orang di kafe tersebut, “Setelah membuat hubungan palsu dengan Yoseob di masa lalu dan membuat skandal dengannya sekarang, kau juga sekarang mencari perhatian orang dalam agensi kami?”

Wow, wow. Sooji mungkin saja menampar wajah gadis dengan mulut berbisanya itu jika Myungsoo tidak menahan tangannya saat ini.mungkin Myungsoo tahu kebiasaan buruk Sooji, sehingga reflex pemuda itu menahan tangannya seperti sekarang.

“Kau kira siapa yang kau sebut orang dalam agensimu itu, Nona Bang?” Sooji mulai terpancing.

Dan Myungsoo langsung menarik lengan Sooji, ia tidak ingin ada keributan di tempat ini. Bagaimanapun ini adalah wilayah kerjanya, dan tidak semua orang tahu duduk permasalahan mereka –meskipun Myungsoo tidak tahu bagaimana Minah dan Sooji bisa saling mengenal. Tapi dengan tabiat Sooji saat ini, Myungsoo hanya tahu membawa Sooji pergi adalah cara terbaik.

“Kekasih orang yang kau rebut!” Minah tiba-tiba berteriak saat Myungsoo dan Sooji baru beberapa langkah menjauhi meja mereka tadi, “Kau kira aku tidak tahu bagaimana tidak tahu malunya dirimu, Nona Bae?”

“Tutup mulutmu Bang Minah!”

Myungsoo kembali menarik lengan Sooji ketika gadis itu hendak mendekati Minah, “Kau yang harus tutup mulut gadis penipu!”

“Bae Sooji!” Myungsoo kembali menarik lengan Sooji, tapi Sooji masih kukuh untuk diam di tempatnya, “Dia terus menghinaku, Oppa! Dia harus tahu jika kau…”

“Kumohon cukup! Kita keluar darisini!”

 

***

 

Sooji benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Myungsoo. Ia jauh-jauh datang ke tempat Myungsoo untuk melihatnya, Sooji merindukannya juga mengkhawatirkannya. Dan sekarang Sooji justru dibalas dengan tatapan tajam dan raut takbersahabat itu? Oh, kekasihnya memang benar-benar manis.

“Bisakah kau menahan sedikit emosimu? Kau tahu kau sedang naik daun sekarang, banyak orang yang mengenalmu, temasuk orang-orang di agensi ini. Bagaimana bisa kau menjatuhkan harga dirimu hanya dengan omong kosong tak bermutu seperti itu? Kau tahu bahkan aku…”

“Dia mendekatimu,” lirih Sooji, “Dia menyukaimu. Dan kau disana, di dekatnya. Kau kira aku suka jika kau…”

“Bisakah kau berhentu mencurigai orang lain seperti tu?!” Myungsoo kehilangan kontrolnya. Ia pusing. Ia sudah pusing dengan masalah pekerjaannya yang tidak kunjung selesai, belum lagi suasana hatinya yang memang tidak terlalu baik. An sekarang ahuskah Sooji menambahnya dengan hal-hal sepele yang tidak perlu dipermasalahkan?

“Kau tahu dia teman sekantorku! Dan kau terus mencurigainya! Kau bahkan selalu melakukan itu pada Soojung…” Myungsoo menarik napas panjang, menyesali ucapannya yabg tak kunjung berhenti, “Bahkan Soojung tidak pernah mengeluhkan sikapmu yang ketelaluan Bae Sooji. Kumohon…berhenti bersikap posesif seperti ini. Kau tahu aku takkan lari darimudan…”

“Haruskah kau menyebut nama Soojung di saat seperti ini?”

“Sooji…”

“Apakah sebegitu tak berharganya kaus ampai kau menyebut nama Soojung lagi saat ini?”

Diam. Myungsoo hanya bisa diam ketika Sooji menyudutkannya. Myungsoo tak menyalahkan ucapan Sooji, ia tidak ingin menyangkal lagi. Myungsoo mengusap tengkuknya kasar. Ini menyulitkan, jujur saja.

“Sooji apa yang kau lakukan? Wartawan ada disini…”

Sooji tidak yakin darimana Sehun bisa muncul pada suasana seperti ini, tapi yang ia tahu, tiba-tiba pemuda itu menarik tangannya dengan tatapan tajam yang diarahkan ke arah Myungsoo. Tidak ada penolakan. Sooji sama sekali lelah, sakit, tentu saja. Akhirnya ia tahus atu hal yang selama ini disembunyikan Myungsoo…

Myungsoo emnyalahkan Sooji untuk kematian Soojung.

 

20150802

AM0020

37 responses to “Because of Love (Chapter 3)

  1. seolah semua menyalahkan suzy, suzy juga sakit jika kalian sadar bahkan tak dianggap myungsoo juga…semoga suzy tetap baik2 saja walaupun aku gak yakin…next thor

  2. bsrru nemu ff ini dan ternyata keren bingo kak, semua ff kakak emang selalu the best. palli next ya kak

  3. Bikin penasaran!!
    Cepet dilanjut min, ini ff yg paling aq tunggu2 next partnya, ff favorit,, pliisss……. jgn lama2 lanjutnya^^ Gomawo^^

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s