[Vignette] Love Fiction

love-fiction

by xianara

starring miss A Bae Suzy, Super Junior Cho Kyuhyun, f(x) Choi Sulli, and special appearance: EXO Kim Junmyeon / Suho | AU, College-life, Fluff, Friendship | Vignette |PG 15

.

May, 2015©

Tidak peduli dengan kata orang lain yang mencemooh dirinya karena terlalu ‘lurus’, Suzy tetap mematok standar itu baginya.

.

***

.

Suzy menghabiskan sisa waktu istirahatnya untuk mengoreksi salinan tugas bersama Jared. Pemuda berkulit cenderung pucat itu tengah memandang seluruh penjuru halaman gedung kampus yang luasnya kurang lebih mencapai 5 hektar. Sepasang mata abu-abu itu menangkap dua manusia dengan gender yang berlawanan. Si pria mengejar si wanita yang jelas sekali menghindar dari serbuan si pria tersebut.

“Lihat, mengerikan sekali. Junmyeon yang tanpa lelah mengejar cinta Marry. Padahal, gadis itu sudah berjuta-juta kali menolak Junmyeon, baik secara halus dan kasar. Benar-benar mengerikan.” komentar Jared sambil mendengus pelan.

“Konyol.” balas Suzy pendek.

Junmyeon ialah kompatriot asal Korea yang bersekolah di Institut Teknik California, sekelas dengan Suzy. Adegan Junmyeon membuntuti Mary seperti buntut kuda yang menempel tentu saja bukan kejadiaan yang baru dilihat. Sudah lebih dari seribu episode Mary yang mengabaikan Junmyeon tayang di sekitar pelataran kampus. Gadis yang sedang mengoreksi tugas mata kuliah rancang bangun itu pun mendengus dan kembali menjatuhkan fokus pada tugasnya.

Jared, pria keturunan Irlandia – Amerika yang menjadi partner tugas kelompok Suzy memilih untuk memainkan pulpennya. Membiarkan gadis berdarah Korea itu terlarut dalam membetulkan desain bangunan yang Jared sempurnakan semalam.

Sesungguhnya, sifat cuek yang dimiliki Suzy ini langka. Bayangkan, seorang wanita bersifat cuek melebihi bebek Texas di usia yang sedang berada di puncak romansa, malah menghablurkan romansa itu sendiri. Dalam artian, ia tidak menaruh romansa dalam skala prioritasnya. Seperti menutup mata. Suzy pun  membenarkan semua itu dengan pernyataan yang tak terbantahkan.

“Dalam hidup, aku hanya perlu mengejar keunggulan maka kesuksesan pun akan mengikuti. Jodoh itu sudah diatur oleh Tuhan. Dan mengejarnya? Ha, buang-buang waktu.”

Sinar matahari awal musim panas di California adalah surga bagi para Kaukasoid untuk berjemur dan sedikit mewarnai kulit mereka. Suzy menyadari itu. Buktinya, kali ini sepasang matanya menangkap sosok Jared yang hanya mengenakan kaos berlengan buntung dengan celana pendek sedengkul, tak ketinggalan dengan Rayban hitam yang bertengger manis di hidung mancungnya untuk menghalangi sinar UV yang menerjang.

Padahal tujuan utama mereka di sini adalah untuk menyelesaikan tugas kelompok yang sudah mendekati deadline. Tetapi mengerjakan tugas di ruangan terbuka memang banyak keuntungannya. Bisa sambil berjemur – jika masuk musim panas, dan mencuci mata dengan hilir-mudiknya para mahasiswa berpenampilan menawan.

“Good. Tugasnya sudah selesai. Suzy, sehabis ini kaumau ke mana?” tanya Jared sembari menyodorkan paper tugas kelompoknya yang sudah rampung dikoreksi itu.

“Asrama.”

Jawaban pendek Suzy memang masuk akal. Dia tidak memiliki banyak teman di sini sehingga ia pun jarang berkumpul dan bermain. Jared pun hanya kebagian sedikit porsi sebagai partner dalam setiap tugas kelompok bersamanya.

“Tidak magang di HardGet’s?” tanya Jared, menyebutkan nama toko perkakas rumah tangga tempat Suzy magang.

Nope. Hari ini dan besok, Joe pergi berlibur bersama istrinya.”

“Oh, begitu.”

Diktat kampus yang berceceran di atas meja kayu itu pun segera diberesi oleh Suzy dan dimasukkan ke dalam map bening berwarna hijau.

Jus lemon dalam gelas plastik yang tinggal setengah itu pun diraih dan ditenggak habis isinya oleh Jared. Pencerahan dan keberanian datang setelah dahaga hilang. Entah mengapa tetapi setelah pria berambut ikal itu meminum jus lemon tersebut, dengan enteng Jared pun berkata sesuatu yang berhasil memecah perhatian Suzy  yang sedang menyusun paper esai tugas mereka.

“Semoga kau cepat dapat pacar, Lady!”

“ … “

Ransel Jansport bermotif army yang tergeletak di bangku segera diraih Jared. Ia pun tidak mengindahkan tatapan laser Suzy padanya. Memangnya pacar itu penting, kira-kira begitulah isi dari tatapannya. Lagi, gadis itu pun mengabaikannya dan kembali memfokuskan diri pada paper esainya. Jared tak tinggal diam, ia pun berpindah tempat untuk duduk di samping Suzy.

“Suzy, aku serius. Aku harap kau segera menemukan cinta yang baru.” katanya, dengan nada yang sedikit memaksa namun terdengar simpatik. “Kudengar dari Sulli, kau pernah gagal berpacaran saat SMP. Tapi, bukankah itu sudah lama sekali? Ayolah, masa kau tidak bisa move on?”

Sulli, gadis bongsor bermulut ember! Suzy meyakinkan dirinya agar tidak segera kabur dari sana dan menerjang Sulli saat ini juga. Telinga dan wajah Suzy memerah, menahan amarah. Seperti engsel pintu yang karatan, Suzy dengan malas menoleh ke arah Jared yang sedang memandanginya.

Move on? Kautahu ‘kan apa itu move on?”

Seolah-olah aku tertarik dengan move on sialan itu, batin Suzy.

Move on adalah pergerakan progresif untuk meninggalkan masa lalu yang pahit.”

Kaupikir aku ini terlihat ingin tahu tentang definisi move on-mu, Jared, tatap Suzy.

“Sama seperti mesin, kau harus bergerak untuk maju ke depan. Moving on dalam mesin bersifat mutlak dan absolut. Tunggu, wah, penjelasanku ternyata keren juga, ya.” puji Jared pada dirinya sendiri, tidak memedulikan tatapan horor Suzy padanya.

“Jared, “

Suara pelan yang keluar dari mulut Suzy berefek pada keterdiaman Jared selanjutnya. Itulah hebatnya seorang Suzy, karisma yang dimilikinya mampu membungkam pria itu dalam hitungan detik. Ekor mata Suzy pun mengilat cepat kepada Jared yang sudah siap kabur dari sana.

Karakter asli yang sudah terbangun dari lahir pada Suzy tidak bisa dibantahkan lagi. Apa yang ada di dalam pikirannya tentu saja hanya Suzy sendiri ataupun hal yang penting-penting saja. Bukan mengenai pokok dirinya saat SMP ataupun masa lalu yang tidak penting. Baginya, masa sekarang dan masa depan adalah yang terpenting. Jadi, ia pun tidak terlalu memusingkan perihal pacar yang skalanya cenderung berjangka pendek.

Tidak peduli dengan kata orang lain yang mencemooh dirinya karena terlalu ‘lurus’, Suzy tetap mematok standar itu baginya.

Makanya, ketika Jared dengan entengnya menyinggung soal pacar yang tak Suzy punya, ia pun hanya menanggapinya dengan sebelah mata. Tidak terlalu memusingkan – tetapi ingatkan Suzy untuk melabrak Sulli yang membocorkan masa lalunya yang tidak penting kepada kekasih bulenya itu setelah ini.

Sifat tak acuh yang terdapat pada diri Suzy bukan hanya ingin menunjukkan kesan pada orang sekitar, toh, dia memang terlahir dengan sifat itu. Ketika Jared sudah melarikan diri, Suzy dapat mendengar seruan pemuda itu yang terdengar sayup-sayup dari kejauhan.

“Lihat saja nanti!!”

Apanya yang mau dilihat? Tagihan listrik asramaku?

“Sehabis ini akan ada pemuda Korea yang menghampirimu dan dialah jodohmu!”

Kedua mata Suzy membulat sempurna. Orang-orang di sekitar pun mulai berkasak-kusuk sambil melirik dirinya. Uh, ingatkan Suzy juga untuk menghapus nama Jared O’Donoghue dari paper tugas kelompok mereka.

***

Meskipun matahari sudah mulai menjorok ke ufuk barat, langit California masih menampakkan lukisan lembayung senja yang sungguh indah. Aroma khas laut yang melewati indera penciuman Suzy pun seolah bukan hal yang menjemukan.

Pasalnya, dia tengah ‘kabur’ dari rutinitasnya sebagai seorang mahasiswi dan pekerja paruh waktu di HardGet’s. Suzy memilih tidak langsung kembali ke asrama melainkan menjelajahi sudut-sudut kota yang belum pernah dijamah olehnya sampai saat ini.

Sebuah kursi lipat yang terletak tepat di bawah pohon kelapa ditempati Suzy untuk melepas lelah setelah setengah hari berjalan kaki mengitari kota tanpa tujuan yang jelas. Ingatkan Suzy untuk mengutuk Jared atas perkataan yang dilontarkan pemuda itu siang tadi. Bohong, siapa bilang Suzy tidak mempermasalahkan perihal pacar? Dia ‘kan masih seorang perempuan.

Tiba-tiba, saat Suzy tengah memusatkan pikiran sembari memejamkan kedua matanya, wajahnya seperti dijatuhi sesautu. Terasa ringan, Suzy yakin yang menimpa wajahnya bukan kelapa yang jatuh karena kalau memang itu mungkin dia sudah berteriak kesakitan.

Suzy pun menemukan secarik kertas berwarna kuning terang dengan tulisan yang memenuhi bagian atasnya. Tangannya pun menyambar kertas yang sepertinya terbang dibawa oleh angin ini.

“Punya siapa ini?”

Suzy bangun dari posisi tidurnya lanjut membaca tulisan yang ada di selembar kertas tersebut. Namun sebelum Suzy sempat membaca kalimat awalnya, gadis itu mengejap tak percaya. Tulisan yang ada di kertas itu beraksara Hangeul. Huruf Korea.

‘Seperti sepotong kisah di balik deburan ombak yang menggulung-gulung sampai ke bibir pantai. Mirip dengan sensasi klasik yang menyapamu dalam secangkir kafein di pagi hari. Seperti debu yang setiap hari berterbangan di dekatmu. Adakalanya tokoh fiksi menambah bumbu-bumbu romansa di dalamnya. Seorang atau dua orang tokoh yang hidup di kepalamu berbicara melalui tulisanmu. Fantasi. Mewaktu bersama masa, menggunung bersama karsa.’

“Pasti orang yang menulis ini anak Sastra.” simpul Suzy sesaat setelah membacanya. “Atau orang yang sedang depresi.” imbuhnya.

Lantas, gadis itu pun melipat kertas berukuran sedang tersebut dan berniat menyimpannya di dalam saku celananya. Namun, belum sempat Suzy memasukkan lipatan kertas tersebut ke dalam saku celananya, dirinya dikejutkan dengan suara bas seorang pria.

“Permisi, apa kau melihat kertas yang terbang?”

Suzy mengalihkan pandangan dari kertas yang berada di genggamannya ke asal suara. Seorang pemuda berkulit pucat dengan pakaian kasual berupa kaos lengan pendek dan celana khaki panjang.

Setelah gadis itu menyadari barusan si pria itu berbicara dalam bahasa Korea, ia pun berdehem sebentar. Kemudian, ia menatap heran pemuda berwajah oriental itu. Pemuda itu beralis cukup tebal dan bermata agak sipit dengan rambut berwarna hitam. Tunggu, Hangeul? Korea? Oh, Kutukan Jared sepertinya akan benar-benar menimpa Suzy.

I’m sorry?”

Do you see, uh, the pepper?” tukas pemuda itu dengan kikuk. “The paper is flying. And, and I don’t know the paper is where…” lanjutnya dengan Bahasa Inggris yang pas-pasan dan aksen Korea yang kental sekali.

“Maksudmu ini?” jawab Suzy dengan Bahasa Korea, sambil mengangkat tangannya dan menyodorkan kertas kuning yang terlipat rapi.

“Ah, that’s right. Thank you, Miss!” jawabnya, mengambil kertas yang dicari-carinya itu.

“Ya, sama-sama.”

Pemuda yang belum diketahui namanya itu pun menampilkan ekspresi wajah yang baru saja disiram seember air dingin. Barusan, Suzy membalasnya dengan Bahasa Korea ‘kan? Berarti?

“Ah, tunggu. Apa kau orang Korea?” ceplos pemuda itu sesaat.

“Ya.” awab Suzy cepat.

Yaa, syukurlah! Aku hampir mati kutu karena tidak fasih berbahasa inggris – pasti kau mau menertawakan bahasa inggrisku yang jelek tadi, ya? Tidak apalah, yang penting kamsahamnida, Nona.” seru pemuda itu.

Sementara Suzy pun bergidik melihat respon pemuda yang dikiranya berlebihan tersebut. Suzy pun bangkit dari kursi lipat dan mengambil ransel beserta jaketnya.

“Maaf, aku harus pergi. Permisi.”

“Yaa, tunggu dulu, Nona!” cegat pemuda itu.

Suzy mengacuhkan seruan pemuda itu dan menghentikan langkahnya. Dia pun memberikan pandangan heran pada pemuda tak bernama yang berdiri di depannya dan baru ditemui dalam semenit barusan.

“Cho Kyuhyun. Kau?” ucap pemuda bernama Kyuhyun itu sambil menundukkan kepala.

Ekspresi wajah gadis itu berubah menjadi heran. Angin dari mana yang membawa pemuda Korea bermarga Cho ini berani mengajaknya berkenalan? Dia pun tak urung membalas Si Orang Korea yang wajahnya terlihat memerah ini. Mungkin efek dari matahari musim panas di California.

“Nona? Kaupunya nama, ‘kan?”

Suzy berdehem sejenak. Dia pun menatap malas pemuda yang kini terlihat semakin mendesaknya. Dengan gerakan yang malas-malasan, Suzy pun balas menundukkan kepala namun barang 15° saja, berbeda dengan Kyuhyun yang semangat memberi salam kepadanya tadi.

“Suzy. Bae Suzy.” kata Suzy terdengar pelan. “Maaf, Kyuhyun-ssi, aku harus pergi. Semoga harimu menyenangkan.”

“Apa? Yaa, tunggu dulu!”

Uh, apa yang sebenarnya direncanakan pemuda Korea itu, sih? Suzy yang baru mengangkat kaki itu pun kembali menjatuhkan langkah sebentar, barang menengok kepada Kyuhyun yang terlihat rikuh di tempatnya. Suzy menatap Kyuhyun dengan tatapan yang kesal.

“Sebenarnya apa yang mau kaulakukan?” Suzy pun menggertak dengan halus.

Sebenarnya, Kyuhyun ini nampak lumayan. Wajahnya manis, ditambah senyumnya yang, wah, kalau tidak salah lihat, sedari tadi banyak sekali wanita bule berbikini yang mencuri-curi pandang ke arah Kyuhyun. Tetapi bukan itu yang menjadi poin penilaian Suzy terhadap pemuda Korea di depannya ini. Kyuhyun itu adalah orang asing dan agak menyebalkan.

“A-anu, itu, a-aku ingin menraktirmu es krim di sana.” kata Kyuhyun sambil terbata-bata, menunjuk kedai es krim milik Paman Richard di belakang Suzy menggunakan kepalanya. “Sebagai tanda terimakasihku. Bagaimana, kaumau?” tawarnya.

“Aku tidak suka es krim, “

Tiba-tiba, Kyuhyun pun menyodorkan lipatan kertas miliknya itu kepada Suzy.

“Ya sudah, kalau begitu kertas ini untukmu saja.”

“Ha?” respon Suzy tak mengerti.

Apa tadi katanya, kertas yang berisi tulisan tidak jelas itu buatku saja? Heol, bukannya mau merendahkan tetapi Suzy bukan penikmat sastra ataupun sejenisnya. Jadi, untuk apa dia harus menerima tulisan itu?

“Kaumau menolaknya?” tebak Kyuhyun pasti.

“Eh, bukan begitu.” tukas Suzy cepat.

Tiba-tiba, perkataan Jared tadi siang kembali terngiang di dalam pikirannya. Oh, tidak-tidak! Apakah Jared merupakan keturunan penyihir dari Irlandia? Kenapa perkataan pemuda berjanggut itu tiba-tiba menjadi kenyataan. Suzy yang akan bertemu dengan pemuda Korea dan dialah yang akan menjadi jodohnya. Tunggu, jodohnya?! Tidak mungkin.

“Ambil saja. Siapa tahu tulisan ini bisa menjadi referensi dalam membuat desain ruangan berdasarkan filosofi dalam tugas kuliahmu? Dibanding anak Sastra, kertas ini berguna untuk anak Teknik sepertimu.” Kyuhyun menaikkan kedua alisnya seraya menyengir lebar. Tahu-tahu, kertas yang disodorkan Kyuhyun itu disambar oleh Suzy cepat. Gadis pun mengangguk gamang.

“T-terimakasih.” cicit Suzy.

Tiba-tiba, mercusuar yang selama ini berdiri dengan kokoh di dalam ruang sensor Suzy megeluarkan tanda. Ada sesuatu yang janggal, katanya. Yaitu, pada seorang Kyuhyun.

“Tapi, bagaimana kau bisa tahu kalau aku Anak Teknik?”

“Eo, i-itu rahasia.” sambar Kyuhyun, diselingi dengan tawa yang terdengar gugup. “Jadi, apa sekarang kau mau makan es krim bersamaku?”

“Kau mencurigakan.” Suzy menggeleng samar.

***

.

“Es krim?”

“Rasa cokelat. Ukuran family.”

“Woah! Katanya tidak suka es krim?”

“Makanya jangan pernah memotong ucapan seseorang.”

“Memang aku berbuat begitu?”

“Ya. Kau tadi memotong ucapanku dengan menyodorkan kertas kuning anehmu itu.”

“Eung, maaf. Jadi, kausuka es krim?”

“Tentulah, siapa sih orang yang tidak suka es krim di dunia ini? Apalagi kalau es krim gratis. I really really like it!”

“Tapi tadi kaubilang kau tidak suka es krim.”

“Itu kalau aku yang beli pakai uangku sendiri. Aku tidak suka.”

“Kau aneh. Dan err, pelit.”

“Itu irit.”

.

***

Dua orang yang sedang bercengkerama ditemani dengan satu mangkuk besar es krim itu terlihat cukup akrab. Setidaknya itulah yang dapat ditangkap oleh Jared dan Sulli yang mengamati Suzy dan Kyuhyun dari kejauhan, menggunakan teropong bintang milik Sulli.

“Woah, bahkan Suzy jarang terlihat seperti itu kalau bersamaku!” seru Jared tertahan.

Of course, Babe! Kau itu menyebalkan, mana mungkin Suzy bisa tersenyum selebar itu bersamamu!”

“Hei, kita berdua ‘kan sama. Walaupun aku menyebalkan, aku tetap menggemaskan, ya ‘kan?” goda Jared sambil menaikkan kedua alisnya.

“Tentu saja. 200 % sure of that, kyaaa!” mendadak Sulli memekik tertahan. Telunjuknya pun mengarah pada Kyuhyun yang terlihat sedang membersihkan sisa es krim di sekitar bibir Suzy menggunakan tisu. “Omona, itu manis sekali!!!”

“Kaumau aku melakukan itu juga?” tawar Jared sambil mengerling sok imut. Justru kerlingan pemuda itu malah dihadiahi toyoran ‘sayang’ oleh Sulli.

“Kau gila, eo?” hardik Sulli pelan. “Kita di sini ‘kan untuk memastikan kencan mereka berjalan lancar, duh, kau ini!”

“Iya, aku tahu.”

“Ah, kalau tahu begini, sudah sejak dulu aku mempertemukan oppa-ku itu dengan Suzy.”

“Ya, kau benar.” Jared menambahkan pasti.

***

Matahari yang ternyata sudah kembali ke peraduannya pun kini disubstitusikan dengan penampakan langit yang pekat. Lampu-lampu yang melilit batang pohon-pohon kelapa di bibir pantai pun mulai memancarkan cahanya yang terang. Tak ketinggalan dengan gemerlap cahaya dari hotel-hotel dan cottage mewah di sebelah utara pantai.

Kyuhyun terlihat menyendokkan suapan terakhir es krim cokelat dan green tea pada Suzy. Selanjutnya, gadis itu pun tersenyum simpul.

Ternyata, tanpa perlu mengorek informasi dari siapapun, dia sudah tahu siapa dalang di balik munculnya Si Pemuda Korea ini yang tiba-tiba datang dan mencari kertas yang disalah-artikan menjadi lada olehnya karena bahasa inggrisnya yang mengenaskan itu.

“Jadi, Sulli yang memintamu untuk datang menemuiku?”

“Ya, begitulah.” Ujar Kyuhyun kalem. Namun kedua telinganya yang memerah tidak menandakan dia berada di posisi kalem, tentunya.

“Ah, gadis itu. Awas saja.” semprot Suzy.

“Hei, “

Kyuhyun tahu-tahu menggeser sebuah tisu yang di atasnya terdapat sebuah tulisan. Mentang-mentang anak Sastra, sedikit-sedikit menulis sesuatu. Suzy pun melipirkan kertas tersebut beserta bolpoin hitam yang tergeletak di sampingnya. Di sana tertulis,

‘Kau mungkin tidak tahu tetapi cinta adalah … ‘

Suzy membaca tulisan itu dan tidak dapat menahan gerak impulsif pada bibirnya yang menghasilkan sebuah senyuman. Sejurus kemudian, dia pun ikut membubuhkan tulisan pada tisu tersebut. Lalu, mengembalikan tisu tersebut pada Kyuhyun.

‘Fiksi, khayalan, rekaan.’

Kyuhyun juga tidak bisa tidak tersenyum membacanya. Lantas, Kyuhyun balik menatap Suzy yang saat itu juga tengah memandangnya dengan wajah yang datar.

‘You probably didn’t know too but love is … ‘

You.

Mulai detik itu juga, Suzy pun tak dapat menyembunyikan senyuman. Diawali semburan tawa Kyuhyun, keduanya pun tertawa bersama. Menertawakan hal-hal lintas imaji yang melatarbelakangi pertemuan mereka. Entahlah sehabis ini, apakah Suzy harus berterima kasih kepada Sulli atau memusuhinya selamanya?

TAMAT.


12 responses to “[Vignette] Love Fiction

  1. awwwwwww couple favoritku kyuzy aaaaaawwwww,sukaaaa pke bgt. thanks authornim!!! cerita’a bgussss aku suja.

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s