[Freelance/Twoshoot] Saranghae (New) Appa! Part 2 End

Title : Saranghae (New) Appa! | Author : kawaiine | Genre : Family, Marriage-Life, Romance | Rating : PG-17 Main Cast : Bae Soo Ji (Suzy), Kim Myungsoo as Kim Myung Soo | Other Cast : Daniel Hyunoo Lachapelle a.k.a Oh  Gu Hoon, Aleyna Yilmaz a.k.a Oh An  Na, Oh Sehun

“This plot and story is pure from my mind. Sorry for typos, don’t be a siders and plagiator. Happy reading :*”

***

Author POV

Perceraian Suzy dan Sehun mampu membuat Gu Hoon terpukul secara mental. Sejujurnya, Suzy kehilangan sosok ceria Gu Hoon semenjak ia bercerai dengan Sehun. Bukan Suzy tak memikirkan masa depan anak-anaknya, namun ini juga untuk masa depan mereka. Dimana perceraian hanyalah satu-satunya cara yang mampu memisahkannya dengan Sehun, Suzy muak dengan semua sikap Sehun. Bagaimana tidak, istri mana yang akan kuat bertahan dengan suaminya ketika suaminya hanya bekerja sebagai karyawan sebuah kantor kecil, mungkin tetangga-tetangga Suzy hanya bisa menilai Suzy melalui cerita yang dibawa oleh Sehun. Ketika Suzy keluar dari rumah, tetangganya dengan semangat membicarakan dirinya. Ia mungkin saja bertahan dengan Sehun jika kekurangan Sehun hanya di bagian finansial, tetapi… Jika Sehun berpenghasilan tak seberapa bermain perempuan, pemabuk , dan selalu memakai kekerasan, apa yang harus ia pertahankan dari pernikahannya bersama Sehun? Cukup penderitaan pahit yang ia lewati selama 5 tahun pernikahannya bersama Sehun.  Oh Sehun, senior Suzy ketika Suzy duduk di bangku SMA. Pria yang bisa di bilang adalah yang paling populer di sekolahnya dulu. Orang tua Sehun mewariskan semua hartanya kepada Sehun karena Sehun merupakan anak tunggal.

Perusahaan Agribisnis yang juga merupakan salah satu warisan dari kedua orang tuanya, mengharuskan Sehun memimpin Perusahaan itu dikala lulus SMA.Selama 4 tahun keadaan Perusahaan itu maju di tangan Sehun karena di belakangnya peran kedua orang tua Sehun sangat mendominasi, dan di saat itu pula ia menikahi gadis cantik bernama Bae Suzy, namun semua berubah ketika sebuah kecelakaan pesawat menimpa kedua orang tua Sehun. Terpukul, mungkin itu yang dirasakan Sehun. Minimnya pengetahuan tentang cara memimpin perusahaan dengan benar mungkin menjadi salah satu penyebab penurunan kualitas perusahaannya. Hingga pada suatu hari perusahaannya di haruskan gulung tikar karena hutang yang banyak kepada pihak Bank. Kejadian itu, mengharuskan Sehun mencari kerja kesana kemari dengan ijazah SMA di tangannya.Pada saat itu Sehun tidak bekerja, Hal ini juga mengharuskan Suzy untuk bekerja karena keuangan keluarga kecilnya sangat minim. Gu Hoon kecil masih berusia 3 tahun kala kejadian itu. Beruntunglah Suzy memutuskan kuliah selepas lulus SMA, karena ijazahnya membuat ia di terima sebagai sebuah karyawan di perusahaan asuransi terbesar se-Korea Selatan.

Keadaan keluarganya mampu ia jahit pada saat itu, berbeda dengan sang suami yang terus menerus pulang larut malam, parahnya dengan keadaan mabuk. Dengan sabar Suzy mengurus Sehun, bagaimanapun Sehun adalah suaminya yang ia cintai, tepatnya sekarang adalah yang dulu ia cintai. 2 Tahun selanjutnya, Sehun kembali bertingkah memuakkan. Ia berani membawa perempuan lain ke rumahnya ketika ia mabuk, bahkan jika Suzy membahasnya, tangan kekar Sehun mampu melayang di pipi Suzy.Dan pertengkaran besar dimulai, Suzy masih bisa memaklum jika hanya mabuk. Tetapi, jika sudah bermain perempuan mana mungkin ia memberi toleransi? Hati siapa yang tidak terluka jika menjadi Suzy.
[FLASHBACK]

“Jika kau hanya sekedar mabuk, aku masih bisa memberikan toleransi kepadamu. Tapi, jika kau sudah bermain perempuan lain, aku tak tahu apa yang harus aku perbuat selain aku meninggalkanmu.”

“Jadi, kau sudah merasa hebat memutuskan untuk meninggalkanku?” Sehun kini mendekat menatap tajam pada istrinya, membuat Suzy yang berdiri di hadapannya melangkah mundur perlahan. Suzy memejamkan matanya dan menghembuskan nafasnya. Ia memberanikan diri menatap Sehun.

“Oppa! ini bukan masalah kehebatanku ataupun yang lain, ini adalah masalah hati seorang wanita Oppa!”

“Ia hanya temanku, Suzy-ah…” Suzy menggelengkan kepalanya.

“Apakah ini yang dilakukan seorang teman?” Suzy kini mengambil beberapa lembar  foto di dalam tas kecilnya, ia menunjukkan foto itu pada Sehun. Membuat Sehun sedikit gelagapan dan bingung, ia tertangkap basah sekarang.

“Ya, aku memang menyukai wanita itu! Ia meluangkan waktunya bersamaku, tidak seperti kau yang terus bekerja setiap hari, bahkan akhir pekan kau tak pernah libur!.” Sehun kini berbicara dengan nada keras di hadapan Suzy, beruntung Gu Hoon sedang berada di rumah Orang tua Suzy di Gwangju.

“Jika aku tidak bekerja, aku, kau, dan Gu Hoon tak mungkin bertahan dengan hidup yang terbilang cukup ini! Belum lagi dengan anak kita yang akan segera lahir sekitar 1 bulan lagi.”
Ya, Suzy kini tengah mengandung, usia kandungannya 8  bulan. Otomatis ia membutuhkan uang untuk persalinannya dan kebutuhan keluarganya akan semakin bertambah.

“Pernahkah kau berpikir tentang keluarga kecilmu ini Oppa?” tanya Suzy, Sehun hanya terdiam mematung.

“Aku rasa kau tak pernah peduli padaku juga Gu Hoon, terlebih kepada bayi di dalam perutku. Pada sosok yang nyata di hadapanmu saja kau acuh, apalagi dengan bayi ini yang belum ada di hadapanmu.”

“Aku selalu memikirkan kalian, bagaimana aku bisa menghidupi kalian selanjutnya. Kau tak boleh berpikiran seperti itu.” ujar Sehun, Suzy tersenyum getir pada Sehun.

“Sepertinya, kau berpikir hanya jika aku marah kepadamu seperti ini. Selebihnya kau tak pernah berpikir sedikitpun. Kau tak pernah berpikir kepada arah dimana jika aku tak bekerja kau juga mungkin tahu Oppa, bahwa penghasilanmu hanya kau gunakan untuk mabuk. Tanpa kau pikirkan apapun tentang keluargamu.”
Sehun kini mengepal tangannya, ia tak tahan dengan ucapan Suzy, tak lama kemudian tangannya mendarat di pipi Suzy. Membuat Suzy berteriak kesakitan.

“Jaga ucapanmu!” Suzy kini menangis terisak, Sehun meninggalkannya sendiri. Suzy mengusap perutnya, ia kembali menangis. Ia tak mau memikirkan kemana perginya Sehun. Ia memilih masuk kedalam kamar lalu mengemas beberapa barang miliknya dan Gu Hoon. Malam hari tiba, Suzy terbangun dari tidurnya… Ia tertidur sewaktu membereskan barang-barangnya. Ia betul-betul akan menggugat cerai Sehun. Sehun belum tiba di rumah, Suzy kembali membereskan barang-barangnya, namun kedatangan Sehun dengan keadaan Sehun yang mabuk membuatnya menghentikan aktivitasnya saat ini.

“Apa yang kau lakukan? Apa kau akan meninggalkan rumah ini,huh?” Sehun kini mendekat pada Suzy, membuat Suzy sedikit ketakutan. Ia mundur menjauhi Sehun, ia tak suka juga dengan bau alkohol yang melekat di tubuh Sehun sekarang.

“Aku ingin kita bercerai selepas aku melahirkan anak kita.” ucapan Suzy terkesan dingin, membuat Sehun kembali menatap geram kepadanya. Ia mendorong Suzy hingga tubuh Suzy menyentuh dashboard ranjang mereka, suzy memekik kesakitan pada saat itu.

“Kau tak akan pernah bisa bercerai denganku!” ucap Sehun, ia mendekat pada Suzy, menatap dalam mata istrinya dan tangannya terulur untuk mengusap pipi bulat Suzy. Suzy takut dengan tingkah Sehun kali ini, tangan yang mengusap lembut pipi Suzy kini berubah menjadi tamparan yang luar biasa, Suzy kembali berteriak, dengan sisa tenaganya ia mendorong Sehun dengan kakinya, namun Sehun lebih kuat darinya. Sehun mendekatkan bibirnya pada bibir Suzy, hal yang paling Suzy benci yaitu bau alkohol yang menyengat dari tubuh Sehun dan mulut Sehun yang kini tengah melumat habis bibirnya, Suzy menangis… Sehun menindih tubuhnya, yang ada di dalam pikiran Suzy apakah Sehun tak  menyadari bahwa Suzy tengah hamil? Suzy tak mungkin melakukannya. Namun, entah apa yang menyelimuti jiwa Sehun saat ini. Ia melakukannya dengan kasar, disetiap penolakan Suzy disitu pula terdapat pukulan yang luar biasa dari tangannya. Hal ini yang membuat Suzy sangat membenci dan ingin cepat bercerai dengannya.

Pagi hari tiba, dengan sisa tenaganya Suzy kini berangkat ke kantor tempatnya bekerja, ia memakai baju yang sedikit tertutup untuk menutupi perlakuan Sehun semalam, pipinya sedikit memar, oleh karena itu ia mengoleskan make-up dengan sedikit lebih tebal dari biasanya.

“Setiap pekerjaan yang kau lakukan sangat bagus.” pria itu kini tersenyum pada Suzy, membuat Suzy juga menatapnya lalu membalas senyumannya.

“Kemarin kerjasama kita berhasil dan sangat menguntungkan, kau tau? cash flow perusahaan kita naik beberapa kali lipat dari tahun-tahun sebelumnya, dan ini berkat kau. Jika kau tidak menggantikanku presentasi aku tak tahu apa yang akan terjadi.” ujar pria itu, kini ia menatap ke arah Suzy.

“Itu juga berkat teman-teman yang lain, Sajangnim… Bolehkah 3 hari lagi aku mengambil cuti?”

“Tentu saja, perutmu sudah sangat besar. Aku khawatir kau akan melahirkan di kantor jika kau terus menerus bekerja.” Suzy kini tertawa di iringi tawa dari pria di hadapannya, Kim Myungsoo. Selanjutnya ia izin meninggalkan ruangan itu. Ia tak mengerti perasaan apa yang dirasakannya saat ini, melihat Myungsoo begitu menenangkan hatinya dan mampu melupakan kejadian yang menyakitkan baginya tadi malam bersama Sehun. Begitupula dengan Myungsoo, ia sangat menyukai Suzy, terlebih ketika Suzy bekerja… Suzy sangat professional dan mampu di andalkan. Ia juga tak tahu mengapa hatinya begitu senang jika melihat Suzy tersenyum terlebih lagi jika Suzy tertawa karena Myungsoo yang sedang bercanda. Myungsoo tahu ia salah mencintai wanita yang sudah bersuami. Ia selalu ingin melihat wajah Sehun, pria yang ia anggap beruntung memiliki Suzy. Tapi, apakah perasaannya masih terbilang salah jika melihat perlakuan Sehun pada Suzy dan yang akan Suzy lakukan selanjutnya?

Hari ini Myungsoo berniat untuk membelikan sebuah kado untuk ibunya di Mall. Namun langkahnya terhenti ketika ia melihat pernak-pernik dan perlengkapan bayi di sebuah toko. Ia berniat untuk membelikan hadiah kecil untuk kelahiran Suzy, Suzy memiliki banyak teman kantor yang mungkin saja melakukan hal yang sama seperti dirinya. Myungsoo berdiri di depan toko tersebut ia tersenyum ketika melihat sebuah gaun bayi berwarna pink, mungkin jika bayi Suzy perempuan sangat cantik jika memakai ini.

“Sajangnim.” Myungsoo terkejut dengan sebuah suara yang tak asing bagi dirinya, ia menoleh ke belakangnya. Di lihatnya Suzy yang sedang berdiri di belakangnya, dengan cepat ia berbalik arah menghadap Suzy.

“Apa yang kau lakukan disini Sajangnim?”

“Aku ingin membeli hadiah untuk kelahiran anakmu nanti—“ ujar Myungsoo menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Suzy tersenyum.

“Tak perlu repot-repot Sajangnim, aku akan membelinya juga hari ini.” ujar Suzy, Myungsoo tersenyum penuh arti.
“Bagaimana jika aku—Hem—Ah bagaimana aku mengatakannya.” gumam Myungsoo, membuat Suzy menatap heran padanya.

“Wae?”

“Bolehkah aku ikut berbelanja peralatan untuk bayimu?” Suzy terkejut, ia mengangguk. Myungsoo tersenyum, kini ia bersama Suzy tengah memilih baju-baju bayi perempuan.

“Apakah bayimu perempuan?”

“Ya, aku sudah USG dan dokter mengatakan bahwa ia seorang perempuan.”

“Ia pasti sangat cantik nanti.” ujar Myungsoo , membuat Suzy tersenyum.

“Suamimu pasti sangat sibuk, ia tak mengantarmu? Sangat berbahaya bagimu untuk membawa mobil dan berjalan-jalan sendiri.”

“Ah, ya… Mungkin begitu.” Myungsoo mengekor di belakang Suzy ketika Suzy sedang memilih aksesoris untuk bayinya. Suzy sedikit membungkukan dirinya ketika mengambil sepasang sepatu bayi di bawahnya, namun Suzy merasakan sakit di sekitar pinggangnya. Myungsoo menghampiri Suzy , berdiri di samping Suzy. Ia melihat sesuatu yang aneh di sekitar dada Suzy, ia mengambil sepasang sepatu yang hendak Suzy ambil.

“Terimakasih Sajangnim.” Myungsoo mengangguk, rambut Suzy sedikit tersibak membuka permukaan leher jenjangnya, Myungsoo dapat melihat beberapa tanda lebam di sekitar leher Suzy. Myungsoo hendak menyentuh leher Suzy, namun dengan cepat Suzy menutupnya dengan rambutnya.

“Apa—Apa yang terjadi dengan lehermu?” tanya Myungsoo, Suzy hanya menggeleng. Ia segera mengambil barang-barang belanjaannya lalu berjalan menuju kasir, Myungsoo sedikit berpikir keras. Ia tahu dan akan memaklum jika itu hanyalah tanda kemerahan, tapi itu adalah sebuah luka lebam. Apa yang sebenarnya terjadi pada Suzy, itu yang menyelimuti pikirannya saat ini.

“Kau yakin akan menyetir sendiri?”

“Ya, aku bisa melakukannya. Kalau begitu aku pulang terlebih dahulu, Sajangnim.”
Myungsoo mengangguk, ia penasaran tentang apa yang terjadi pada Suzy, ia  memutuskan untuk mengikuti Suzy. Namun tiba-tiba Suzy merasakan sakit di sekitar perutnya, ia terduduk di kursi, Myungsoo refleks berlari menghampiri Suzy.

“Gwenchana?!” Myungsoo kini menahan badan Suzy, Suzy tengah memekik kesakitan. Di kedua kaki Suzy tengah mengalir seperti air bening, Myungsoo bukan pria bodoh, ia tahu betul bahwa itu adalah air ketuban.

“Ketubanmu pecah, kau harus segera ke rumah sakit. Aku akan mengantarmu.” Myungsoo kini memapah Suzy, beruntung Suzy dan Myungsoo berada di lantai satu. Para penjaga Mall membantu Myungsoo memapah Suzy kedalam mobil Myungsoo. Myungsoo membawa Suzy ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Suzy di haruskan melahirkan sekarang juga karena Suzy sudah pada tahap pembukaan akhir. Myungsoo beberapa kali mencoba menelpon suami Suzy. Namun, hasilnya nihil. Myungsoo menemani Suzy melahirkan kala itu. Genggaman tangan Myungsoo dan semangat dari Myungsoo membuat Suzy semakin kuat. Terkadang ia ingat dengan Sehun yang menemaninya sewaktu akan melahirkan Gu Hoon.

“Bayinya seorang perempuan, Tuan. Ia sangat cantik seperti ibunya.” Myungsoo kini tersenyum lega pada Suzy, Suzy tersenyum.

“Ia cantik sekali Suzy, lihatlah…” Bayi perempuan itu kini berada dalam gendongan Myungsoo, Myungsoo menyerahkannya pada Suzy. Suzy menggendongnya dengan hati-hati.

“Sajangnim, maaf telah merepotkanmu. Terimakasih telah mengantarku kesini tadi.”

“Ah, aku tidak merasa di repotkan, aku senang membantumu. Oh ya, aku mencoba menghubungi suamimu namun tak ada hasil.” Suzy hanya tersenyum getir, perlahan ia menumpahkan seluruh air matanya di hadapan Myungsoo, membuat Myungsoo heran dan kasihan pada wanita di hadapannya. Detik itu juga, Suzy menceritakan semuanya pada Myungsoo.
~~
Hari ini adalah sidang terakhir perceraian Sehun dan Suzy. Suzy tersenyum lega, ia bahagia mendengar keputusan persidangan ini. Hak asuh berada di tangannya kali ini, namun ia juga tak menutup kemungkinan akan menyerahkan anaknya nanti. Sehun memutuskan untuk meninggalkan Korea setelah perceraiannya dengan Suzy.

[FLASHBACK END]

5 tahun selanjutnya setelah kelahiran Oh An Na, bayi perempuan yang kini bertransformasi menjadi gadis kecil yang lucu dan menggemaskan…
5 tahun itu juga Myungsoo banyak membantu keluarga kecil Suzy, terlebih ia sedang berjuang mendapatkan hati putra sulung Suzy, Oh Gu Hoon. Pasalnya, Gu Hoon sangat membenci Myungsoo… Tapi itu bukan sebuah halangan untuk masalah percintaan Suzy dan Myungsoo, sehari setelah ulang tahun ke 5 An Na, Suzy dan Myungsoo memutuskan untuk menikah. Untungnya, keluarga Myungsoo mampu menerima Suzy dan statusnya. Hari ini, satu bulan pernikahan Suzy dan Myungsoo, Gu Hoon masih setia dengan sikapnya, ia masih tak mau menerima Myungsoo .

“Oppa, bisakah kau menjemput Gu Hoon nanti? Aku hanya bisa menjemput An Na di sekolahnya. An Na pulang lebih awal dari Gu Hoon, aku ada meeting hari ini.”

“Baiklah, kebetulan sekali karena aku hanya melakukan sedikit pekerjaan hari ini. Setelah kau menjemput An Na, kau langsung membawanya ke Day Care?” Suzy mengangguk, ia merasa beruntung memiliki seorang suami seperti Myungsoo. Myungsoo sangat sabar menghadapi tingkah Gu Hoon. Siapa yang menyangka Myungsoo yang begitu di segani oleh para karyawannya di kantor dan dapat berkuasa, di rumahnya sendiri ia tak dapat berkuasa sebagaimana seorang suami dan ayah karena Gu Hoon. Gu Hoon selalu membuatnya merasa tak berguna, meskipun kedua bidadari Myungsoo menganggap bahwa Myungsoo adalah suami dan ayah yang baik.

Myungsoo menghentikan mobilnya tepat di depan sekolah Gu Hoon, ia melangkahkan kakinya memasuki sekolah Gu Hoon, Myungsoo mencari kelas Gu Hoon, namun di perjalanan ia terpaksa berhenti karena hendak bertanya pada  seorang guru wanita Gu Hoon.

“Permisi, apakah kau tahu letak kelas 5-1?” tanya Myungsoo.

“Ya, kebetulan aku adalah wali kelas 5-1, mereka sedang ada pelajaran tambahan. Jika aku boleh tahu, kau mencari siapa Tuan?”

“Aku mencari Oh Gu Hoon, baiklah… Aku akan menunggunya keluar. Terimakasih.”

“Oh Gu Hoon? Ah kebetulan sekali, sambil menunggunya keluar kelas, bagaimana jika kau mendengarkan apa yang ingin aku sampaikan?”

“Baiklah.” Myungsoo kini mengikuti guru wanita tersebut, lalu duduk berhadapan. Myungsoo merasa ada yang tak beres.

“Jadi, begini… Gu Hoon mengalami tekanan yang sangat berat sepertinya, ia menjadi anak yang sering berkelahi. Kemarin ia berkelahi hanya karena sepatunya terinjak.”

“Ah, bagaimana mungkin ia akan marah karena hal sekecil itu. Gu Hoon anak yang baik, tetapi jika kemarin terjadi perkelahian mengapa kau tidak menghubungi keluarga dari Gu Hoon?”

“Lihatlah rekaman CCTV ini.” Myungsoo kini melihat video dimana Gu Hoon memang benar memukul temannya.

“Aku mungkin salah satu wali kelas yang aneh dan mau saja mengabulkan permintaan dari seorang anak berusia 10 tahun, padahal ia tetap bersalah…”

“Maksudmu?”

“Gu Hoon meminta padaku agar jangan menghubungi siapapun karena masalah yang ia perbuat. Ia takut di marahi ibunya, dan ia banyak bercerita tentang keluarganya padaku. Sebetulnya ia anak yang sangat ceria tapi kurasa ada sesuatu yang aneh dengan keluarganya.” Myungsoo tertegun, mungkinkah perubahan sikap Gu Hoon dikarenakan pernikahannya dengan Suzy? Myungsoo merasa bersalah kali ini.

“Aku adalah ayah tirinya, mungkinkah ia bercerita tentangku padamu?” tanya Myungsoo, sementara wali kelas Gu Hoon memandang Myungsoo tanpa berkedip.

“Ah! Aku kira ayah tiri Gu Hoon memiliki tampang yang sangat jelek, galak. Tetapi, kau—“

“Sama sekali tidak terlihat seperti orang yang jahat. Gu Hoon bilang bahwa kau ayah yang jahat. Ah aku tak menyangka Gu Hoon pandai berbohong.”

“Ti—Tidak, Gu Hoon tidak pandai berbohong. Memang mungkin menurutnya aku perusak kebahagiaannya. Mohon maklumi saja dia.” ujar Myungsoo

“Baiklah, tetapi jika Gu Hoon bertingkah seperti ini lagi pihak sekolah mungkin tidak bisa melindungi lagi Gu Hoon.”

—-0000—-
Bel sekolah berbunyi, Myungsoo menggenggam dua buah botol yoghurt di tangannya. Ia menoleh ke belakang, lalu tersenyum. Manusia yang ia tunggu sedaritadi akhirnya menampakkan dirinya, meski ia kini menatap Myungsoo dengan penuh kebencian. Myungsoo tetap mengembangkan senyumnya lalu menghampiri Gu Hoon.

“Hei, Oh Gu Hoon.” Myungsoo menghampiri Gu Hoon yang tengah berdiri mematung.

“Berhentilah bersikap seperti ini padaku.” Gu Hoon kini berjalan meninggalkan Myungsoo, Myungsoo menghembuskan nafasnya  lalu tersenyum.

“Eomma tidak bisa menjemputmu, ia menyuruhku untuk menjemputmu kali ini. Ayo pulang.” Myungsoo menarik pergelangan tangan Gu Hoon. Namun Gu Hoon berteriak keras.

“Shirreo!!!”

“Baiklah, kau pulang sendiri saja. Akan ku laporkan pada Ibumu kau berkelahi dan melarang wali kelasmu memberitahukan ini padanya.” Gu Hoon kini terdiam, mulutnya terasa kaku untuk berbicara lagi. Tak ada pilihan lain, ia kini melepas tangan Myungsoo lalu berjalan membuka pintu mobil dan masuk. Myungsoo hanya tertawa kecil.

“Mengapa kau memukul temanmu hanya karena hal sekecil itu?” Myungsoo berusaha membuka percakapan untuk memecah keheningan diantaranya dan Gu Hoon. Gu Hoon hanya terdiam.

“Aku yakin kau telah meminta maaf padanya. Dan temanmu pasti memaafkannya. Tapi, apakah kau tau? Kata maaf tak bisa melunturkan sebuah perbuatan buruk yang kau lakukan padanya.” Gu Hoon sedikit menoleh pada Myungsoo.

“Kau berisik sekali Ahjussi.” Myungsoo hanya tersenyum, senyuman yang indah namun pahit artinya. Gu Hoon membelakangi Myungsoo. Ia hanya menghembuskan nafasnya kasar. Ia menatap keluar jalan raya. Hingga di kejutkan oleh sesuatu.

“Wooaah!! Daebak!! Ternyata sudah keluar!!” Pekiknya, seketika tingkat kefokusan menyetir Myungsoo menurun kala itu. Ia menoleh pada Gu Hoon. Dan berusaha melihat keluar, sesuatu yang membuat Gu Hoon begitu senang. Ia tersenyum dan melihat wajah Gu Hoon yang tersenyum lebar, ia begitu mirip dengan Suzy jika tersenyum seperti ini. Lama Myungsoo menantikan saat dimana Gu Hoon bisa tersenyum karenanya, kini keinginannya terkabul meski bukan karena perlakuan Myungsoo setidaknya disamping Myungsoo,berdua bersama Myungsoo. Myungsoo menghentikan mobilnya tepat di depan toko mainan terkenal di pusat kota Seoul. Membuat Gu Hoon menatapnya.

“Mengapa kita berhenti disini?” tanya Gu Hoon, Myungsoo hanya tersenyum lebar.

“Ayo!” ia dengan cepat melepas seat-beltnya lalu membuka pintu mobil dimana Gu Hoon masih terduduk manis. Gu Hoon hanya menatap aneh pada pria disampingnya yang kini tengah menuntunnya masuk kedalam sebuah Toko Mainan. Myungsoo mengeluarkan ID Card dari dalam dompetnya, membuat Gu Hoon menatapnya tak percaya. Myungsoo lalu menarik Gu Hoon untuk memilih mainan yang tadi ia lihat di papan iklan jalan raya.

“Bukankah kau menginginkan ini?” tanya Myungsoo, Gu Hoon mendelik ke arah Myungsoo, tak lama kemudian ia mengangguk.

“Ah! Mainannya tinggal satu lagi!” teriak Myungsoo, Gu Hoon menatap Myungsoo, mengisyaratkan bahwa ia agar dengan cepat mengambilnya.

“Mainan ini yang kau maksud? Baik akan ku ambilkan.” ujar salah satu pelayan toko yang kini tengah menaiki tangga besi untuk mengambil mainan itu, Myungsoo yang tengah berjinjit melompat meraih mainan itu menghentikan aktivitasnya. Gu Hoon hanya menatapnya kembali.

“Permisi, ini mainan sudah di pesan sejak hari kemarin.” ujar pelayan tersebut. Myungsoo dan Gu Hoon saling bertatapan. Myungsoo melihat berbagai pria dengan anaknya sedang berburu mainan yang sama seperti dirinya dan Gu Hoon. Mainan itu adalah sebuah robot yang multifungsi. Wajar jika semua anak laki-laki menginginkannya, termasuk Gu Hoon. Tiba-tiba sebuah peringatan membuat Myungsoo dan Gu Hoon berlari ke ujung ruangan toko tersebut, di iringi dengan suara berlari para pria dan anak-anaknya. Myungsoo dan Gu Hoon hanya berjongkok ketika para pria tersebut menyerbunya. Tepatnya menyerbu mainan yang berada di depan Myungsoo dan Gu Hoon, Myungsoo melindungi kepala Gu Hoon dengan cara menutupi dengan lengannya. Tangan Myungsoo terulur mengambil kotak besar tersebut. Ia kini beranjak berdiri bersama Gu Hoon, lalu sedikit berlari untuk mencapai ke kasir. Myungsoo menyuruh Gu Hoon untuk menunggunya diluar.

“Ini, mainan yang kau mau.” ujar Myungsoo dengan senyumnya, lalu menyerahkan kotak besar terbungkus plastik itu ke tangan Gu Hoon, Gu Hoon hanya menatapnya dingin, lalu berjalan menuju sebuah kursi.

“Lain kali, kau tidak perlu seperti ini. Aku bisa meminta Eomma membelikannya nanti ketika Toko itu sudah sedikit sepi.” jawab Gu Hoon , ia kini menatap dalam Myungsoo… Ia melihat Myungsoo yang sangat berantakan karena berebut mainan yang ia inginkan.

“Sudahlah, yang penting kau sudah mendapatkannya.” Gu Hoon tersenyum dingin, berbeda dengan Myungsoo yang kini tertawa lebar. Ia mengingat dimana pertama kalinya berebut mainan bersama Gu Hoon, suatu momen yang sangat langka yang tidak bisa ia dapatkan.  Gu Hoon hendak mengucapkan terimakasih pada Myungsoo, namun lidahnya terasa kelu dan ia tak dapat melawan egonya sendiri. Ia masih teringat pada Sehun, ayah kandungnya.

“Bagaimana bisa kau mendapatkan ID Card tersebut?” tanya Gu Hoon membuat Myungsoo tak percaya.

“Ah, aku mendapatkannya sewaktu aku kanak-kanak. Aku sering membeli mainan disini, hingga aku memiliki ini. Yang katanya susah untuk di dapatkan.”

“Ya, temanku bilang bahwa itu susah sekali di dapatkan.” Myungsoo tersenyum lega, bagaimana bisa Gu Hoon memulai seperti ini, bukankah ini suatu permulaan yang bagus? Myungsoo merogoh jasnya, ia kini mengambil kedua yoghurt yang tak sempat ia berikan pada Gu Hoon.

“Minumlah, kau pasti sangat lelah tadi.” ujarnya, Gu Hoon mengangguk lalu meminum habis yoghurt ditangannya. Ia kini meletakkan tangannya di perut.

“Kau lapar? Kau suka bakso ikan?” tanya Myungsoo, Gu Hoon terdiam. Myungsoo lalu berjongkok di depan Gu Hoon dengan arah berbalik.

“Naiklah, kita akan mencari bakso ikan.” Gu Hoon hanya terdiam, bagaimana bisa Myungsoo tahu kesukaannya? Apakah Ibunya memberitahu pada pria ini tentang kegemarannya? Gu Hoon tersenyum, ia lalu naik ke punggung Myungsoo. Gu Hoon bersyukur ayah tirinya ini tidak memiliki kaca spion di samping kanan dan kirinya dan melihat Gu Hoon tersenyum.Sesosok pria kini tengah mengawasi Gu Hoon dan Myungsoo. Ia juga tersenyum.

—-0000—-
Suzy dan An Na kini tengah terduduk di ruang makan, mereka menunggu Myungsoo dan Gu Hoon. Sudah hampir menjelang malam namun mereka belum kembali. Suzy dan An Na sedikit terperanjat dari lamunannya ketika suara sebuah mobil masuk ke halaman rumahnya. An Na refleks turun dari kursi, ia lalu menghampiri pintu utama.

“Appa!Appa!” An Na berteriak girang ketika melihat Myungsoo berada di hadapannya. Myungsoo menggendongnya.

“Berapa lama waktu yang kau habiskan untuk menunggu Appa?” tanya Myungsoo, An Na hanya tersenyum.

“Aku senang menunggu Appa lalu Appa pulang dengan selamat! Itu membayar seluruh waktu yang ku habiskan untuk menunggu Appa!” jawab An Na dengan aegyo nya yang sangat lucu. Membuat Myungsoo gemas. Sementara Suzy tengah menghampiri Gu Hoon, namun Gu Hoon berlalu begitu saja di hadapannya dengan sebuah kantong plastik besar di genggamannya. Suzy menggelengkan kepalanya pelan. Ia tak tau harus berbuat apa pada Gu Hoon.

“Aigoo… Putri Appa sudah pandai menjawab dengan kata-kata yang sangat romantis. Eomma mengajarimu?” tanya Myungsoo. An Na mengangguk. Suzy hanya tertawa, lalu ia sedikit heran dengan jas Myungsoo yang sedikit kotor, lusuh. Ia lalu menggendong An Na, lalu memerintahkan An Na untuk menyusul kakaknya di atas, Gu Hoon hanya akan mengobrol dengan baik jika bersama An Na.

“Oppa… Mengapa jas mu sangat kotor sekali?” tanya Suzy sembari melepasnya dari tubuh Myungsoo. Myungsoo hanya tersenyum.

“Kau pasti sangat lelah…” ujar Suzy, telapak tangannya mengusap pipi Myungsoo. Lalu mengecup pipinya dengan singkat.

“Kau baru saja mengisi energinya… Tapi, itu hanya 50%.” ujar Myungsoo membuat Suzy tertawa dan sedikit malu.

“Lebih baik kau mandi lalu makan bersama.” Myungsoo mengangguk lalu segera membersihkan dirinya.

—-0000—-
Pagi hari di rumah Suzy dan Myungsoo, semua terlihat lebih baik dari sebelumnya. Si Sulung kini tengah duduk di kursi mobil bersama An Na. Membuat Myungsoo dan Suzy menatap aneh, tumben sekali Gu Hoon tidak bersikap seperti biasanya. Namun ia hanya terdiam.

“Suzy-ah…”

“Wae Oppa?”

“Sepertinya kita pulang siang hari. Bagaimana jika kita makan siang bersama. Dengan Gu Hoon dan An Na?” ujar Myungsoo. Suzy menoleh ke belakang, An Na mengangguk semangat, Gu Hoon hanya mengangguk malas. Membuat Myungsoo tersenyum.

“Baiklah, Eomma akan menjemput An Na. Gu Hoon-ah, kau akan dijemput Myungsoo Ahjussi.” Tak ada penolakan dari Gu Hoon, membuat Myungsoo dan Suzy tersenyum, begitu pula dengan An Na.

Waktu berlalu begitu cepatnya, kini siang hari telah tiba. Hal yang tentunya di nantikan oleh Myungsoo, yaitu menjemput Gu Hoon, Suzy dan An Na telah sampai terlebih dahulu di restoran yang telah Myungsoo beritahu padanya tadi.

Gu Hoon tengah mendengus entah untuk keberapa kali. Ia menunggu Myungsoo, entah apa yang merasukinya saat ini. Ia menunggu Myungsoo pria yang ia benci, tepatnya mungkin kebencian itu sempat memudar ketika kebersamaannya dengan Myungsoo. Tiba-tiba sebuah tangan kekar menutup kedua mata Gu Hoon, membuat Gu Hoon sedikit kesal.

“Hei! Ahjussi berhentilah mengerjaiku. Atau aku tak akan ikut makan siang bersamamu.” ucap Gu Hoon, kini tangan pria itu terlepas dari kedua mata Gu Hoon, Gu Hoon berbalik. Ia berteriak kegirangan mengetahui siapa yang mendatanginya.

“Appa! Appa! Aku merindukanmu!” ujarnya, kini ia berada dalam pangkuan Sehun. Sehun menciumi putranya lalu mengusap rambut Gu Hoon.

“Ah, kau tumbuh dengan sangat baik. Kau sangat terlihat senang hari ini.”

“A—Aku senang karena bertemu denganmu. Weekend kemarin aku tak mengunjungimu karena ada Study Tour, maafkan aku Appa!” ujar Gu Hoon, ia kini memeluk Sehun manja, Gu Hoon terlihat seperti seorang balita sekarang. Membuat Sehun tertawa.

“Apakah Appa baru mu itu memperlakukanmu dengan baik?” tanya Sehun, membuat Gu Hoon kebingungan menjawabnya, di sisi lain ia membenci Myungsoo. Tapi perlahan kebenciannya hilang sedikit demi sedikit karena kebersamaannya dengan Myungsoo.

“A—Ani, ia Appa yang sangat buruk! Bahkan, aku sampai saat ini tak menyukainya.” ujar Gu Hoon, Sehun tersenyum.

“Apa alasanmu tak menyukainya?” tanya Sehun yang membuat Gu Hoon terdiam.

“Karena—Karena—Karena ia telah merebut Eomma.” ujar Gu Hoon terbata-bata, ia menatap Sehun.

“Jadi kau membencinya karena Eomma?” tanya Sehun kembali, membuat Gu Hoon mengangguk.

“Oh Gu Hoon, Kau tak seharusnya terlibat dalam kasus percintaan Appa dan Eomma juga Appa barumu. Kau hanya perlu menjaga apa yang kau miliki, sekarang.” Gu Hoon kini menangis.

“Tapi, Appa mencintai Eomma kan? Guru ku bilang bahwa jika kau merasa yang paling berharga dalam hidupmu di ambil oleh orang lain, kau hanya perlu merebutnya kembali.” Sehun menggelengkan kepalanya lalu tersenyum. Ia mengusap air mata Gu Hoon.

“Dulu, Appa memang mencintai Eomma-mu, Eomma juga memberikan seluruh hatinya pada Appa, namun… Appa tak pernah menghargainya, Appa bahkan menjadi suami yang sangat buruk dan mengerikan. Appa merasa kehilangan Eomma-mu setelah bercerai dengannya, Appa kehilangan seseorang yang selalu memperhatikan Appa dan mencintai Appa. Hingga pada saatnya Appa sadar bahwa ini adalah sebuah hukum alam, dimana tak ada seorangpun yang dapat menghindarinya, ini lah yang di sebut Karma. Appa memutuskan untuk menikahi wanita lain, awalnya… Appa tak menemukan sosok Eomma mu dalam diri wanita itu, kau tahu sendiri bukan? Tapi, Appa kembali belajar bahwa kau hanya perlu menerimanya, beginilah pasanganmu.” Gu Hoon tertegun mendengar penjelasan Sehun.

“Appa hanya berharap kau jangan menjadi pria yang seperti Appa, Appa bukan Appa yang baik. Appa bahkan selalu berharap kau menuruti apa yang Eomma katakan, dan yang Appa baru-mu katakan. Berhentilah memanggilnya Ahjussi.”

“Tapi, ia tak pernah marah jika aku memanggilnya seperti itu.”

“Apakah kau tau? Hati seseorang hanya pemiliknya yang tahu. Ekspresi wajah tak selamanya mewakili keadaan hatimu. Bisa saja Appa baru-mu tersenyum tapi hatinya sangat pedih.” ujar Sehun, Gu Hoon kembali memutar ingatannya dimana ia selalu bersikap buruk pada Myungsoo.

“Kau seharusnya meminta maaf padanya, kau terlalu kasar padanya. Ia rela berkorban jas mahal nya terinjak oleh Ahjussi-Ahjussi yang berebut mainan, ia hanya melakukannya untukmu. Ia melindungi kepalamu dari tangan-tangan Ahjussi itu. Ia juga merelakan punggungnya menjadi tempatmu berkendara ketika kau lelah. Appa tahu, kau mulai menyayanginya… Oh Gu Hoon, lawan ego-mu sendiri, egoisme yang seperti ini yang akan menghancurkanmu.”

“Appa…”

“Ne, Appa melihatmu bersamanya kemarin. Kau sangat bahagia kan sebetulnya? Hanya kegengsianmu terlalu tinggi untuk menyatakannya. Ah, jika Appa diberi kesempatan untuk hidup kembali layaknya anak sepertimu, Appa sangat ingin memiliki Ayah seperti Appa baru-mu… Kau beruntung memilikinya, ia pria yang baik.” Gu Hoon menunduk, ia memutar kembali momen bersama Myungsoo di toko mainan.

“Belajarlah arti memiliki, sebelum kehilangan yang menjelaskannya, Oh Gu Hoon… “ Gu Hoon menunduk semakin dalam, ia menenggelamkan kepalanya di sela-sela kakinya yang ia lipat. Ia lalu melihat sisi kanan kirinya dimana Sehun sudah tidak ada bersamanya, ia kini berlari mengejar Sehun yang masih terlihat belum begitu jauh. Di arah lain Myungsoo melihat Gu Hoon tengah mengejar  seorang pria, Sehun. Myungsoo kini segera melepas sabuk pengamannya, ia hendak mengejar Gu Hoon, awalnya hanya berlari pelan, namun ia terkejut melihat sebuah mobil dari arah berlawanan hendak menabrak Gu Hoon, dengan sigap Myungsoo berlari sekencang mungkin.

“Oh Gu Hoon, Awas!” Myungsoo mendorong tubuh Gu Hoon hingga tubuh Gu Hoon kini masuk kedalam semak-semak. Sehun yang menyadari peristiwa itu kini menghampiri putranya. Myungsoo malang yang telah menyelamatkan Gu Hoon kini terbaring kaku di jalan raya, hanya kepala dan mulutnya berlumur darah. Gu Hoon segera beranjak dari semak-semak, ia tak memperdulikan Sehun yang berada di hadapannya, Ia kini menghampiri Myungsoo, dengan air mata yang berlinang.

“Appa! Myungsoo Appa!” Gu Hoon menggoyangkan tubuh Myungsoo, sementara sirine ambulans telah terdengar, Gu Hoon kembali menangis kencang. Sehun menghampiri Myungsoo, ia memeriksa denyut nadi Myungsoo. Tak lama kemudian Myungsoo di bawa kedalam Ambulans dengan Gu Hoon dan Sehun yang berada di dalamnya juga. Sehun hanya menenangkan putranya, menjamin bahwa Myungsoo akan baik-baik saja.

Sementara Suzy dan An Na kini tengah menampakkan wajah kesalnya karena Myungsoo dan Gu Hoon belum menampakkan batang hidungnya. Tak lama kemudian handphone Suzy berbunyi.

“Yeoboseyo—“  An Na hanya menatap ibunya heran, tubuh Suzy bergetar hebat. Ia terkejut begitu mendengar suara pihak kepolisian menghubunginya, dengan kabar yang sangat mengejutkan. Ia kini meninggalkan restoran dengan An Na, ia memasuki mobil. Air mata tak henti-henti mengalir dari kedua matanya. Suzy kini tiba di rumah sakit, kakinya melemas seketika melihat suaminya terbaring lemah dengan segala macam alat yang menempel di tubuhnya maupun benda-benda yang berada di samping tempat tidur suaminya.

“Oppa… “ tangis Suzy semakin menjadi ketika ia mendekatkan wajahnya pada Myungsoo, ia memeluk tubuh Myungsoo.

“Bangunlah Oppa, jangan tinggalkan aku sendiri seperti ini…”

Suzy kini melangkahkan kakinya keluar, ia melihat putrinya sedang menaiki kursi tunggu.

“An Na…” Suzy memeluk An Na, ia menciumi An Na.

“Eomma… Appa, mengapa Appa tidak terbangun?” An Na sedikit menangis.

“Appa sedang beristirahat sayang, Appa hanya sedikit sakit…” Suzy menghapus air mata An Na, An Na juga menghapus air mata Suzy.

“Appa pernah berkata kepadaku,aku tak boleh melihat Eomma menangis… Mata Eomma terlalu berharga untuk mengeluarkan air mata.” ujar An Na, membuat Suzy tersenyum dengan paksa, ia kembali memeluk An Na.

“Nyonya Kim.” ujar salah satu perawat, membuat Suzy melepaskan pelukannya dengan An Na.

“Ya, saya Nyonya Kim. Apakah sesuatu terjadi pada suami saya?” tanya Suzy dengan suara seraknya.

“Dokter akan menjelaskannya pada Anda. Di ujung sana ruangannya.” Suzy tersenyum, ia hendak berdiri untuk menuju ruangan dokter tersebut, namun langkahnya terhenti ketika dokter tersebut adalah seseorang bagian dari masa lalunya. Oh Sehun.

“Lama tak berjumpa, Nyonya Kim.” Suzy tersenyum dingin, ia tak menyangka Sehun menjadi seorang dokter disini. Ia juga tak habis pikir cara apa yang Sehun gunakan untuk menyembunyikan identitasnya sebagai seorang dokter.

“Suamimu koma, benturan di kepalanya terlalu keras. Tapi, kau tak perlu khawatir karena ia tak akan mengalami amnesia. Jika ia sudah terbangun semuanya akan baik-baik saja. Kakinya hanya sedikit terbentur dengan mobil. Kemungkinan ia akan lemah untuk berjalan.” jelas Sehun. Suzy hanya mengangguk mengerti. An Na tersenyum ketika melihat Sehun, ia memberi salam pada Sehun.

“Appa, Myungsoo Appa akan baik-baik saja kan? Aku rindu bermain bersamanya…” ujar An Na

“Ne, ia akan baik-baik saja… Appa akan membantu Myungsoo Appa-mu untuk kembali terbangun.” jawab Sehun, An Na tersenyum kecil.

“Suzy, Kau harus secepatnya menemui Gu Hoon…”  Suzy menepuk dahinya, bagaimana bisa ia melupakan Gu Hoon. Bukankah Gu Hoon di jemput Myungsoo kala itu? Pasti Gu Hoon tahu sesuatu.

“Baiklah, aku akan pulang sebentar. Bolehkah aku menitip An Na dan Suamiku?” Sehun mengangguk, Suzy segera pergi dari hadapan Sehun. Ia menuju rumah dengan pikirannya yang sedang kacau. Sesampainya di rumah, ia tak melihat Gu Hoon. Di kamarnya, atau di halaman belakang tak ada. Rupanya Gu Hoon tengah berada di kamarnya, Gu Hoon memeluk foto pernikahan Suzy dan Myungsoo. Suzy menghampiri Gu Hoon yang tengah terduduk di lantai.

“Gu Hoon-ah…” Gu Hoon menoleh pada Suzy, ia menangis sejadi-jadinya… Di peluknya Suzy dalam-dalam.

“Appa tertabrak mobil ketika menyelamatkanku. Aku orang yang sangat mengerikan.” ujar Gu Hoon yang membuat Suzy semakin tak percaya dan kembali menitikkan air mata. Di mata Myungsoo Gu Hoon tetaplah seorang anak-anak yang harus ia terima. Bagaimana bisa Myungsoo membiarkan Gu Hoon berada dalam bahaya.

“Kau tidak mengerikan, Appa sangat menyayangimu… Ia tak ingin kau terluka.” ujar Suzy. Gu Hoon menangis kembali.

3 Hari sudah Myungsoo berada di rumah sakit dengan keadaan koma, kini Sehun menjaga Myungsoo di rumah sakit. Suzy berada di rumah bersama kedua anaknya. Ia begitu merindukan Myungsoo. Suzy duduk di sofa ruangan televisi bersama Gu Hoon, An Na berlari kesana kemari. Hanya tingkah laku An Na yang mampu mengobatinya. Tak lama kemudian An Na menyerahkan sebuah disc.

“Eomma, Appa memintaku memberikannya pada Oppa. Tapi, ini juga untuk Eomma… Appa memintaku merekamkan ini.” Suzy dengan sigap mengambilnya lalu memutar disc tersebut. Air matanya kembali turun, begitu pula dengan Gu Hoon.

Hai, Oh Gu Hoon. Jika kau melihat ini, aku harap kau dapat mencerna setiap kata-kataku dengan baik. Maafkan aku jika kehadiranku hanya merusak kebahagiaanmu. Maaf jika kau selalu risih dengan setiap perkataanku, atau keberadaanku. Maafkan aku jika aku selalu bertanya padamu Suzy-ah… Tentang kesukaan Gu Hoon maupun kebiasaannya, aku begitu ingin mendekatinya, namun aku tak bisa. Tapi kau selalu menyemangatiku agar tak menyerah menghadapi Gu Hoon. Dan Gu Hoon, awal aku bertemu denganmu, aku tahu kau sangat membenciku. Tatapanmu begitu horror ketika melihatku kala itu, namun.. semakin kau menjauhiku, keinginan mendekatimu begitu tumbuh subur di dalam sini.  Meskipun kau panggil aku dengan kata Ahjussi, namun aku menikmatinya. Kau belum menerimaku sepenuhnya, aku tahu itu. Semua terpampang jelas dari sikapmu. Sejujurnya aku bersedih, tapi aku tak mungkin memperlihatkannya di depan kalian semua. Oh Gu Hoon, aku tahu kau adalah anak yang menyenangkan. Hmm, kali ini untuk putriku yang berada di hadapanku. An Na, Oh An Na, kau gadis kecil Appa yang cantik dan pintar. Terimakasih selalu membuat Appa merasa berguna. Kau sama seperti ibumu, cantik, baik hati, dan pintar. Pertama kali Appa bertemu denganmu, kau sangat kecil saat itu, kau baru saja melihat dunia yang selalu kau impikan. Wajahmu bulat, putih dan bersih seperti bulan. Appa begitu jatuh cinta saat melihatmu, melihatmu Appa merasa seperti melihat ibumu. Appa sangat beruntung dapat bersama denganmu, meskipun darah Appa tak mengalir di tubuhmu, percayalah bahwa kasih sayang Appa mengalir deras di dalam hatimu. Dan untukmu, Bae Suzy… Selamat hari pernikahan yang ke-1 bulan. Aku sangat beruntung bisa berbagi hati dan berbagi kasih denganmu. Aku sangat tertarik melihatmu kala itu. Suzy-ah, perlu kau tahu… Aku sangat mencintaimu dan juga mencintai anak-anak. Aku ingin bersama kalian sampai pada akhir hidupku nanti. Aku menjadi pria yang paling beruntung di dunia ini, memiliki kalian semua. Kalian adalah harta berhargaku.”

Suzy , Gu Hoon, dan An Na kini menangis semakin dalam mengingat Myungsoo, terlebih Gu Hoon yang merasa sangat jahat pada Myungsoo. Setelah selesai menonton video itu, Gu Hoon meminta Suzy untuk mengunjungi rumah sakit, Ia ingin melihat keadaan Myungsoo. Suzy kini melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Sesampainya disana, Gu Hoon langsung memasuki kamar Myungsoo, ia menggenggam tangan kekar Myungsoo yang melemas. Gu Hoon menatap Myungsoo.

“Appa, aku disini… Aku datang menjengukmu lagi, kau pasti bosan mendengarku meminta hal yang sama. Bangunlah Appa, kami sangat membutuhkanmu, merindukanmu, cepatlah bangun. Appa, aku telah menonton video yang kau berikan pada An Na, aku begitu merasa sangat bersalah padamu. Atas segala kesalahanku, aku meminta maaf padamu. Maaf yang mungkin takkan bisa menghapus perbuatan buruk yang telah ku lakukan padamu, seperti yang kau katakan. Appa, aku ingin mencoba bermain denganmu, selama ini aku menahannya—“ ucapan Gu Hoon terhenti ketika ia merasa jari-jari tangan Myungsoo bergerak perlahan dengan air mata di kedua sudut matanya.

“Appa, aku yakin kau mendengarku, Appa… Bangunlah, Eomma setiap kali menangis mengingatmu, begitupula aku dan An Na, kami merindukanmu. Appa… Kami semua mencintaimu.” Gu Hoon berkata tanpa ada keraguan sedikitpun, tangan Myungsoo menggenggam tangannya, mata Myungsoo perlahan mulai sedikit terbuka. Gu Hoon menatapnya senang, ia lalu berteriak memanggil dokter,yang tak lain adalah ayah kandungnya sendiri.
“Ia sudah sadar, kalian boleh menemuinya.” ujar Sehun, Gu Hoon, Suzy dan An Na berlari menghampiri tempat tidur Myungsoo, membuat Myungsoo tersenyum lega.

“Appa!Appa!” ujar An Na, Myungsoo tersenyum lebar.

“Oppa, aku merindukanmu…” ujar Suzy, ia memeluk Myungsoo erat.

“Appa, maafkan aku.” tambah Gu Hoon, Myungsoo mengusap puncak kepala Gu Hoon. Lalu ia memeluk mereka semua.

—-0000—-
Pagi hari tiba, kicau burung bersahutan. Myungsoo kini tengah berjalan-jalan sendiri di taman belakang rumahnya, setelah ia keluar dari rumah sakit Gu Hoon, An Na dan Suzy dengan semangat mengajarinya terus untuk berjalan-jalan. Kaki Myungsoo terancam lumpuh namun ini bukan masalah besar karena Myungsoo tidak sepenuhnya lumpuh. Kini Myungsoo sudah bisa berjalan-jalan sendiri, ia tersenyum puas dan bangga.

“Appa! Ayo kejar aku dan An Na!” ujar Gu Hoon, ia baru saja keluar dari rumah. Myungsoo dengan semangatnya sedikit berlari ke arah Gu Hoon dan An Na. Suzy hanya tersenyum melihatnya.

“Appa hebat! Appa sudah bisa berlari.” ujar An Na, Myungsoo hanya tersenyum puas.

“Appa, bolehkah kami meminta sesuatu?” tanya Gu Hoon, Myungsoo sedikit heran, Suzy menatap kedua anaknya.

“Aku ingin seorang adik.” Suzy dan Myungsoo bertatapan, mereka tersenyum.

“Baiklah.” Gu Hoon dan An Na kini tengah ber-high-five. Membuat Myungsoo dan Suzy tertawa.

Malam hari tiba, Suzy masih membacakan dongeng untuk An Na,  tanpa di sadari Myungsoo sudah berada di hadapannya. Dan An Na sudah tertidur lelap. Myungsoo tersenyum penuh arti pada Suzy. Suzy menutup pintu kamar An Na lalu masuk kedalam kamarnya, di ikuti Myungsoo.

“Suzy-ah…” Myungsoo kini mendekap tubuh Suzy dari belakang.

“Wae Oppa?”

“Kau tampak terlihat seperti seorang gadis malam ini , sungguh…”  Suzy tersenyum, pipinya memerah, membuat Myungsoo sangat gemas terhadapnya.

“Kau memanggilku seorang gadis? Ya, anggap saja aku seorang gadis…”

“Aku selalu menganggapmu gadis setiap hari, tapi… Terkadang aku juga ingin membuatmu terbangun menjadi seorang wanita dewasa….”

“Aku sudah melahirkan kedua anakku, aku menyusui mereka sampai usianya kurang lebih 2 tahun. Kau masih menganggapku seorang gadis?” tanya Suzy, Myungsoo terkekeh pelan.

“Ah, Ya… Kau sangat pandai merawat dirimu… Lihatlah tubuhmu sama sekali tidak berubah, aku melihat album fotomu sewaktu kau masih gadis, kau tampak seperti ini.”

“Baiklah, apa yang kau inginkan? Bukankah membuatku terbangun menjadi wanita dewasa? Jika begitu maumu, ajari aku bagaimana menjadi wanita dewasa malam ini. “ Suzy kini membalikkan dirinya, lalu mendorong Myungsoo keatas ranjang, Suzy kini tepat berada di atas Myungsoo. Myungsoo dengan cepat membalikkan posisinya. Ia mencium kening Suzy, lalu beralih ke permukaan pipi, hingga ia kini mencium bibir Suzy. Malam ini Myungsoo menuntaskan janjinya pada kedua anaknya. Ia tak ingin menjadi seorang pembohong.

—-0000—-
2 bulan kemudian…
Myungsoo dan Gu Hoon terduduk di taman belakang, Myungsoo memandang tenang langit di atas sana.

“Appa… Maafkan aku.” Myungsoo menarik Gu Hoon kedalam pelukannya.

“Berhentilah mengucapkan itu, kejadian itu bahkan sudah Appa lupakan.”

“Appa pernah berkata padaku bahwa manusia tak mudah melupakan kejadian buruk yang menimpanya.”

“Ya, memang… Namun sebagian dari mereka menganggap ini sebuah pelajaran yang berharga, termasuk Appa.”
Gu Hoon tersenyum.

“Aku ingin menjadi pria kuat sepertimu Appa.”
Myungsoo tersenyum, ia mengusap puncak kepala Gu Hoon.

“Appa, Saranghae.” Myungsoo tersenyum lebar.

“Appa telah memberikan semuanya padaku, termasuk…. Seorang adik yang sedang berada di perut Eomma.” Myungsoo mengangguk, memeluk putranya.

“Saranghae, Appa… Jeongmal Saranghae.”

———————————————————–END————————————————-

Hai readers gimana endingnya? Author sempet bingung mau gimana endingnya, huhu., tadinya mau dijadiin chapter ed aja, tapi Author takut keteteran. Berhubung Author juga nulis Business Marriage, We Are Not King and Queen. Belum ide-ide dan inspirasi yang datang di waktu tak terdugaa. Maaf kalau di part 1 alurnya kecepetan atau ceritanya kependekan, itu author ngetik jam 3 shubuh wkwk *curhat* .  Oh iya, ceritanya author balas dendam di part ini, karena part 1 banyak yang bilang kependekan wkwk. Yaudah, Jangan lupa yang udah baca, comment atau Like. :*😀 hehe Terimakasssiiihhh~

80 responses to “[Freelance/Twoshoot] Saranghae (New) Appa! Part 2 End

  1. uwaaaa seruseruu hehe aku pikir sehunnya bakalan minta balik sama suzy ternyara engga. eh datengdateng ko udh jadi dokter ya si sehun??
    happy ending buat myungsoo suzy hehehappy

  2. happy ending…yeayy akhirnyaaaa…… guhoon akhirnya sadar jugaa..
    sehun udah berubah jadi orang baik yaaa daebak

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s