[Freelance] Business Marriage Chapter 7

Title : Business Marriage | Author : kawaiine | Genre : Comedy, Marriage Life, Romance | Rating : PG-17 | Main Cast : Bae Soo Ji, Kim Myungsoo | Other Cast : Lee Min Ho, Kim Yoo Jung , Kim Tae Hee , Lee Junho , Park Jiyeon , Kim Do Yeon, Lee Seung Gi,eTc.

“This plot and story is mine, sorry for typos, same characters or cast.happy reading :*”

***

Author POV
Sepasang kaki kecil berbalut sepatu sneakers berjinjit memasang sesuatu di dinding. Ia sedikit kesulitan ketika memasangnya, namun ia akhirnya berhasil, tiba-tiba sebuah suara yang memanggil namanya membuat ia berlari.

“Halmeoni, Ayo berangkat. Bukankah konsernya sekitar 1 jam lagi? Aku ingin sampai kesana sebelum konsernya dimulai.” ujar namja berumur 5 tahun tersebut. Sementara wanita paruh baya yang dipanggil Halmeoni tersebut sedang kesulitan menata rambut yeoja kecil berumur 3 tahun.

“Aku memanggilmu agar mengambilkan baju kodok yang berwarna kuning di lemari. Harabeoji kesulitan, lihatlah,adik kembarmu sudah meminta agar cepat memakai baju barunya.”
Namja itu kini membuka lemari kecil bermotif beruang di hadapannya, ia mengambil dua buah baju berwarna kuning dan menyerahkannya pada lelaki paruh baya yang sedang kesulitan karena menggendong salah satu dari dua orang bayi.

“Aishh, jika Nyonya Bae dan Tuan Bae singgah sebentar di sini kita tidak akan kesulitan seperti ini, yeobo.”

“Yeobo, mereka juga cukup kesulitan ketika kita berada di Eropa. Mereka mengurus cucu-cucu kita.  Terlebih cucu kita sangat lucu seperti ini.”

“Halmeoni, poni nya biarkan saja di jepitkan ke belakang.Aku lebih suka seperti itu.”

“Hmm, baiklah Agasshi. Kau mau jepitan yang bermotif apa?” goda  Nyonya  Kim, ia kini menyodorkan laci yang berisi jepitan dan accessories untuk cucunya.

“Beruang berwarna pink ini saja.” ujarnya, Nyonya Kim hanya tersenyum lalu memasangnya.

“Appa sangat menyukai jika gaya rambutku seperti ini. Seperti Eomma sewaktu sekolah. Eomma sangat cantik.” ujarnya dengan Aegyo yang khas, Nyonya Kim dan Tuan Kim menatapnya gemas.

“Baiklah, kau sangat cantik sekali. Seperti ibumu.”

“Yeobo, Ayo berangkat.” ujar Tuan Kim yang kini tengah mendorong kereta bayi yang berisi 2 bayi mungil yang tampan.

“Ayo.” Nyonya Kim kini menuntun kedua cucunya.

—-0000—-

“Haessari balgaseo
Haessari aju ttatteutaeseo nunmuri mallasseo
Saenggakbeodan aju ppalli
Jugeul geot gataseo jeongmal sumdo mot swieosseo
Geundae haessari balgaseo
Haessari balgaseo gwenchanhasseo
Haessari balgaseo
Apeumeul ijeul su isseosseo
Haessari Balgaseo nunmureul  meomchul su isseosseo
Haessari Balgaseo
Haneuri neomu gomawosseo
Haessari balgaseo
Haessari balgaseo
Gwenchanhansseo”

Melodi terakhir lagu tersebut kini mendapat tepukan tangan dari para penonton yang berada di kursinya maupun yang sedang berdiri. Penampilan ini tidak pernah bosan di lihat meskipun sudah 5 tahun berlalu. Lagu ini tetap di kenang oleh para masyarakat. Lagu yang di ciptakan seorang Bae Suzy, dan dinyanyikan dengan suaminya, Kim Myungsoo. Semenjak itu, baik Suzy maupun Myungsoo selalu mendapat tawaran untuk bernyanyi di acara penting sekalipun. Mendapatkan penghargaan bukan hal yang baru bagi Myungsoo maupun Suzy. Bukan masalah yang besar bagi Suzy untuk tampil dengan perut yang membuncit karena ia sedang hamil pada saat itu. Berbeda dengan sekarang, perutnya sudah rata dan tubuhnya tetap terjaga.

“Eomma!Appa!” ujar namja kecil yang berada di dalam pangkuan Nyonya Bae, sementara yeoja kecil berada dalam pangkuan Tuan Bae.

Suzy dan Myungsoo memasuki rumahnya, dengan kereta bayi yang berada dalam tangan Myungsoo. Suzy menggendong yeoja kecilnya.

“Oppa, sepertinya Ha Neum sangat lelah sekali. Tidurnya sangat nyenyak.”

“Ne, ia sepertimu. Dan tadi ia memakan es krim hampir 3 kali. Jika neneknya tidak melarangnya mungkin ia besok akan terkena flu.”
Suzy mengangguk, ia kemudian masuk ke kamar anak-anaknya dan menidurkannya. Sementara putranya, namja kecil bersneakers itu kini tengah melepaskan sepatu dan mengganti pakaiannya. Dan si kembar yang kini berada dalam tempat tidur berupa box kecil dengan mainan di atasnya.
Dalam 5 tahun, Suzy dan Myungsoo memiliki 4 orang anak yang lucu, pintar, cantik dan tampan.

Kim Hae Sun, putra pertamanya yang kini berusia 5 tahun. Sewaktu hamil Hae Sun Suzy memang terlihat sedikit malas dan sangat menyukai sepatu-sepatu sneakers. Penampilannya sewaktu hamil Hae Sun terbilang sangat tomboy. Pada saat proses persalinan, karena ini adalah persalinan yang pertama, Suzy sempat merasakan kesakitan yang luar biasa, seakan semua tulangnya patah dalam satu waktu. Suzy sempat menggigit tangan Myungsoo dan meninggalkan bekas yang dalam.

Kim Ha Neum, putri pertama yang kini berusia 3 tahun, Suzy kembali hamil sewaktu Hae Sun baru menginjak usia 2 tahun. Suzy dan Myungsoo sebetulnya telah mengikuti program keluarga berencana dan merencanakan memiliki anak kembali setelah Hae Sun berusia 6 atau 7 tahun. Namun rencana hanyalah rencana yang dapat berubah sewaktu-waktu. Suzy sangat memperhatikan penampilannya sewaktu hamil Ha Neum. Ia setiap kali berdandan, wajar jika Ha Neum sekarang tumbuh menjadi yeoja kecil yang penuh dengan keperfectsionisan dan sensitif terhadap penampilan. Ha Neum, Suzy ada dalam diri Ha Neum.

Si Kembar Kim Yu Ka dan Kim Yu Sa, namja mungil yang kembar ini baru berusia 8 bulan. Keluarga mereka hampir bingung dengan rumah Myungsoo yang setiap kali mengadakan perbesaran. Nyonya Kim dan Nyonya Bae melarang Suzy untuk hamil lagi setelah kelahiran si kembar.

“Suzy-ah, Yu Ka dan Yu Sa sepertinya ingin minum, mereka terlihat haus sekali.” ujar Myungsoo, Suzy yang sedang mengganti baju Ha Neum mengangguk.Tapi tak lama kemudian Ha Neum terbangun.

“Kenapa kau terjaga sayang?” tanya Suzy sembari mengusap rambut panjang Ha Neum.

“Aku belum menggosok gigi Eomma. Aku habis memakan es krim tadi.” ujarnya dengan wajah yang mengantuk. Suzy tertawa kecil mendengar ucapan putrinya, begitu pula dengan Myungsoo.

“Ayo, Oppa akan mengantarmu ke kamar mandi.” ujar Hae Sun.

“Ha Neum dengan Oppa Sunnie saja, Ne? Eomma akan menyusui dulu Yu Ka dan Yu Sa.”
Ha Neum mengangguk lalu berjalan bersama Hae Sun ke kamar mandi. Myungsoo menyerahkan Yu Ka terlebih dahulu kedalam pangkuan Suzy.

“Yu Ka sangat rakus sekali. Ia pasti menyusu lebih lama daripada Yu Sa.” Myungsoo tersenyum mendengar perkataan Suzy. Suzy mengusap kepala namja kecil di pangkuannya sembari tersenyum.

“Tetap saja meskipun Yu Sa dan Yu Ka menyusu lebih lama, mereka tak akan mampu menandingiku.” Senyum Suzy memudar seketika mendengar perkataan Myungsoo. Ia menatap Myungsoo dengan tajam.

“A—Ani, maksudku bukan seperti itu, Suzy-ah.” Myungsoo salah tingkah sendiri.  Ia tersenyum lebar di hadapan Suzy. Suzy kembali memfokuskan dirinya kembali pada Yu Ka di pangkuannya yang sudah tertidur lelap. Myungsoo mengambil Yu Ka di pangkuan Suzy, lalu menyerahkan Yu Sa. Tiba-tiba Hae Sun dan Ha Neum kembali ke kamarnya. Ha Neum naik ke tempat tidurnya dan segera tertidur. Ia semakin mirip dengan Suzy, Suzy jika sudah naik ke tempat tidur ia pasti akan langsung tertidur. Begitu pula dengan si sulung Hae Sun. Myungsoo menidurkan Yu Sa di samping Yu Ka yang sudah terlelap. Ia dan Suzy kemudian menciumi anaknya satu persatu dimulai dari Hae Sun.

“Suzy-ah, apakah tak sebaiknya kita mandi terlebih dahulu?” ujar  Myungsoo. Suzy mengangguk.

“Aku akan menyiapkan air panas untukmu dan untukku Oppa.” Suzy melangkah menuju dapur,namun Myungsoo menahan tangannya. Lalu menarik Suzy kedalam dekapannya.

“Suzy-ah… Aku sangat merindukan saat-saat kita seperti ini. Berdua.” ujar Myungsoo, Suzy hanya tersenyum lalu membalas dekapan suaminya.

“Aku juga sama, merindukan saat-saat berdua. Tapi, keadaannya sudah tak lagi sama seperti dahulu. Kita telah memiliki anak. Bukankah ini juga yang kau mau?” Suzy melepaskan dekapannya pada Myungsoo, tangannya terulur mengusap pipi Myungsoo. Tangan kekar Myungsoo masih setia memeluk pinggang Suzy.

“Tapi, semenjak memiliki mereka kau jarang memberiku ini.” Myungsoo menepuk pelan telunjuknya ke bibirnya. Suzy sedikit berjinjit lalu mengecup singkat bibir Myungsoo. Myungsoo tersenyum, lalu memeluk kembali Suzy.

“Musim panas kali ini betul-betul sangat panas. Jika kita mandi memakai air panas akan terasa semakin panas. Bagaimana dengan air dingin saja? Dan…” Myungsoo mendekatkan kepalanya ke telinga Suzy, terlihat membisikkan sesuatu. detik  berikutnya Suzy tersenyum. Suzy dan Myungsoo berjalan bersama memasuki kamar mereka.

—-0000—-
[FLASHBACK]

“Suzy-ah, ini.” Junho menyerahkan map berisi lembaran kertas yang terbilang sudah sedikit lusuh.

“Itu adalah yang akan membantumu , berkas ini berisi daftar nama perusahaan dan petinggi yang perusahaannya telah ayahku ambil. Kau bisa menyerahkan ini ke pengadilan. Dan ini ada surat pembalikkan nama untuk beberapa perusahaan tersebut. Aku sempat berpikir bahwa aku yang akan melakukannya. Tapi, aku telah terlibat dalam kasus ini. Aku yang menaruh timer di gardu listrik kantormu. Jadi, ku harap kau dan Myungsoo menyelesaikan ini semua.” Suzy sedikit menitikkan air mata, Junho menghapusnya.

“Uljima… Aku yakin kau bisa menyelesaikannya, sewaktu aku kembali lagi… Kau harus berjanji sudah menyelesaikannya.” Suzy mengangguk, Junho tersenyum.

“Junho Oppa, tapi mengapa marga mu berbeda dengan tuan Kang?”

“Dia sengaja merubah namanya . Dan menghilangkan identitasnya sebagai ayahku dan Minho Hyung.” Suzy menepuk pelan pundak Junho.

“Junho Oppa, Gomawo… Aku tahu setelah ini banyak sekali wartawan yang akan bertanya padaku terkait kau masuk kedalam penjara, aku berjanji setelah kau kembali aku dan Myungsoo Oppa akan membersihkan namamu kembali.” Junho tersenyum.

“Aku tak bisa membayar pertolonganmu dahulu, Suzy-ah… Kau menolongku ketika aku di kejar-kejar oleh preman-preman berbadan besar itu. Aku tak tahu jika aku tertangkap oleh mereka mungkin aku takkan berada disini.”
Suzy mengangguk, lalu ia keluar ruangan itu. Sementara Junho hanya terdiam, menunggu polisi yang menangkapnya.

[FLASHBACK END]

“Suzy-ah, ayo…” Myungsoo kini berpakaian rapi, Suzy sedang menatap map di hadapannya yang isinya telah di torehkan tanda check list. Suzy tersenyum, lalu mengikuti Myungsoo dan masuk kedalam mobilnya yang sudah berada Hae Sun, Ha Neum, serta Yu Ka dan Yu Sa.

Seorang pria menghembuskan nafasnya lega, terkadang ia menutup matanya untuk merasakan kebahagiaannya menghirup udara segar pagi hari ini. Ia kini berpakaian rapi dengan sebuah tas sedang di tangannya.

“Ahjussi…” Pria itu kini menoleh pada gadis kecil di belakangnya. Ia hanya tersneyum heran.

“Ne? Kau memanggilku?”

“Ini, untukmu.” gadis kecil itu menyerahkan sebuah kertas ucapan kepada pria di hadapannya. Tak lama kemudian gadis kecil itu berlari meninggalkan pria yang tadi di hadapannya. Pria itu mengerutkan dahinya. Ia lalu melangkahkan kakinya. Namun suatu suara yang ia kenal berhasil menghentikannya.

“Lama tidak berjumpa, Junho-ssi.” Junho berbalik ke belakang, ia melihat keluarga kecil Suzy tengah berbaris di dekat mobil. Ia tersenyum. Ia juga melihat gadis kecil yang memberikan sebuah ucapan padanya. Junho pun setengah berlari menghampiri mereka.

“Suzy-ah, Myungsoo—Hyung…” Suzy dan Myungsoo tersenyum penuh haru.

“Kami menjemputmu , Oppa…” ujar Suzy, Junho tersenyum.

“Terimakasih banyak Suzy-ah… Ku kira kalian akan melupakanku.”

“Anak-anak ini… Anak kalian?” tanya Junho, Suzy mengangguk.

“Kalian memiliki 4 orang anak? Daebak!” Suzy dan Myungsoo terkekeh geli.

“Sunnie, beri salam pada samchon. Ha Neum-ah, kau juga.” ujar Myungsoo. Hae Sun dan Ha Neum kini membungkukan badannya pada Junho.

“Lebih baik kita segera ke rumahku, Oppa… Kami sudah memasak makanan yang enak untukmu.”

“Tapi, apakah Min Ho keluar hari ini juga?” tanya Myungsoo.

“Ia masih dalam tahap penyelesaian, dengan Do Yeon.  Mungkin mereka akan keluar besok.”

—-0000—-

Junho menatap kagum interior dan desain rumah Suzy dan Myungsoo. Hingga ia tertarik dengan sebuah foto keluarga kecil Suzy.

“Foto ini, sangat bagus sekali. Nuansa putih cocok sekali dengan kalian.” ujar Junho.

“Aku yang menempelkannya kemarin, Samchon.” ujar Hae Sun, Junho menggendong Hae Sun kedalam pangkuannya.

“Kau tahu? Aku rasa kau sangat mirip dengan ayahmu. Tapi kau sedikit mirip juga dengan ibumu.” Hae Sun mengangguk.

“Mereka semua berwajah hampir mirip  Hyung.”

“Ya, karena mereka di buat dalam satu pabrik yang sama.” Junho lalu tertawa bersama Myungsoo. Suzy mengambil alih Hae Sun.

“Yak! tidakkah kalian lihat ada anak-anak disini?” ujar Suzy. Myungsoo dan Junho menunduk, Suzy kini membimbing anak-anaknya untuk segera duduk di ruang makan.

“Hyung, apakah angka 4 tidak tanggung untukmu? Mungkin dengan angka 5 terdengar lebih baik.”

“ Keluargaku , mereka semua menyuruh Suzy untuk tidak hamil setelah melahirkan Yu Ka dan Yu Sa.”

“Ah, ya… kalian cukup kerepotan dengan ini semua.” Myungsoo dan Junho tertawa, lalu mereka berjalan ke ruang makan. Selama 5 tahun ini, Suzy dan Myungsoo kerap kali mengunjungi Junho. Dan karena sering mengunjungi itulah hubungan Myungsoo dan Junho terlihat seperti keluarga dekat. Junho hanya tahu putra pertama Suzy, Hae Sun. Selebihnya ia tak tahu bahwa Suzy dan Myungsoo memiliki 4 orang anak. Pasalnya sewaktu Suzy mengandung Ha Neum dan Si kembar, ia jarang mengunjungi Junho, hanya Myungsoo lah yang sering mengunjungi Junho.

—-0000—-
Setelah makan bersama keluarga kecil Myungsoo, Junho meninggalkan rumah mereka. Ia akan menempati apartemen yang telah Myungsoo pesankan. Anak-anak Suzy dan Myungsoo cukup akrab dengan Junho. Terbukti ketika Junho mengajak mereka bermain, mereka tak lepas dari tawanya. Malam menjelang, bintang berkelip riang. Myungsoo dan Suzy telah selesai menidurkan ke-empat anak-anaknya. Kini mereka sedang bersantai di ranjangnya, Myungsoo mendekap Suzy dari belakang, Suzy sedang membolak-balikkan map di tangannya, kali ini map yang berbeda dari biasanya.

“Jadi, perusahaan ini menjanjikan kita untuk membuka kantor cabang di Amerika?”
Myungsoo mengangguk.

“Aku dengar perusahaan ini juga menawarkan kerja sama pada beberapa perusahaan besar di Korea.”

“Sepertinya aku akan menyetujui ini, ini cukup menjanjikan Oppa.”

“Ya, aku juga sudah memikirkan ini sebelumnya. Tapi, aku dengar hanya 2 perusahaan yang akan mereka ambil. Mereka menginginkan perusahaan yang terbaik. Dan pendiri perusahaan mereka juga dari Amerika.” Suzy menaruh map itu di atas lemari kecil. Myungsoo menariknya untuk segera tertidur.

“Kau sangat lelah kan? Mengurusi anak-anak memang sangat melelahkan. Apakah kau tidak ingin menyewa jasa pengasuh?” Tanya Myungsoo,lengannya masih setia memeluk istrinya. Suzy menenggelamkan wajahnya di dada bidang Myungsoo.

“Aku hanya takut mereka lebih mengenal dan merasakan kasih sayang pengasuhnya daripada aku dan kau Oppa.”

“Lalu langkah apa yang akan kau ambil? Yu Ka dan Yu Sa masih terbilang sangat kecil.”

“Aku akan berhenti bekerja. Aku akan menyerahkan semua ini pada Jiyeon. Aku hanya akan menciptakan lagu, dan itu akan ku lakukan di rumah sambil mengurusi mereka.” Jawaban Suzy membuat Myungsoo sedikit tercengang.

“Bagiku, anak-anak lebih penting daripada bisnis yang aku lakukan. Dan kau juga ada dalam list penting yang aku catat.”
Myungsoo tersenyum, ia kemudian mencium kening Suzy.

“Ini akan menjadi bisnis terakhirku, jika aku memenangkan bisnis ini, aku akan meminta Jiyeon untuk mengurusinya.”

“Baiklah, aku juga mengerti Suzy-ah…”

“Tidurlah, Oppa.” Myungsoo mengangguk, Suzy kemudian memejamkan matanya. Berada di dalam dekapan Myungsoo begitu membuatnya tertidur lelap. Myungsoo memejamkan matanya begitu melihat istrinya tengah tertidur. Sangat mirip Hae Sun, Ha Neum, Yu Ka dan Yu Sa.

—-0000—-
Pagi hari menjelang, Myungsoo dan Suzy juga anak-anak mereka telah terduduk rapi di ruang makan. Suzy akan menitipkan anak-anaknya kepada Nyonya Kim.

“Kita akan bertemu pukul 1 siang nanti.” ucap Suzy, Myungsoo mengangguk.

“Baiklah, jika begitu aku akan ke kantor terlebih dahulu.” sahut Myungsoo. Setelah mengantarkan anak-anak mereka, Myungsoo kemudian mengantar Suzy ke kantornya.

“Hati-hati di jalan, Oppa.” Myungsoo mengangguk, tak lama kemudian mobilnya hilang di pandangan mata Suzy. Kini Suzy melangkahkan kakinya masuk kedalam kantornya. Tapi, tiba-tiba Jiyeon menghampirinya.

“Suzy-ah, kita harus secepatnya membersihkan nama baik Junho.”

“Aku sudah memikirkannya, dan aku juga akan melakukannya besok. Kau siapkan saja wartawan. Jika aku berhalangan hadir, kau saja yang menggantikan.”

Jiyeon mengangguk.

“Suzy-ah, mulai minggu depan aku akan mengambil cuti. Aku akan berbulan madu kembali bersama Seung Gi Oppa.”

“Baiklah, kau harus tenang jikalau kau sedang berbulan madu. Agar hasilnya juga tidak mengecewakan. Dan, Jiyeon-ah… Semoga kali ini kau berhasil.” Jiyeon kembali mengangguk, nasibnya memang berbeda dengan Suzy. Dalam waktu 5 tahun Suzy sudah memiliki 4 orang anak. Sementara Jiyeon kehilangan janinnya pada saat berusia 3 bulan.

Myungsoo melangkahkan kakinya masuk kedalam ballroom hotel. Disana ia melihat begitu banyak petinggi-petinggi perusahaan lain. Dan satu yeoja yang tak asing untuk dirinya, Suzy. Pertemuan penting inipun dimulai, satu persatu perusahaan mempresentasikan perusahaannya dengan baik. Namun sesuai dengan ketetapan bahwa hanya akan ada 2 perusahaan saja yang akan memenangkan proyek besar ini.

“Kami sudah mempertimbangkan, dan hanya ada 2 perusahaan yang akan lolos.”

“KMS Advertising, BS Agency. Selamat kalian terpilih untuk bekerja sama dengan kami.” Suzy dan Myungsoo bertatapan tak percaya, mereka kemudian membungkukan badannya untuk memberi ucapan terimakasih. Ucapan selamat juga terus membanjiri Suzy dan Myungsoo.Tapi, siapa yang menyangka  ada satu pria yang menatap kesal pada mereka.

Suzy dan Myungsoo kini tiba di halaman rumahnya, dengan anak-anak yang masing-masing mereka gendong, kecuali si kecil Yu Ka dan Yu Sa yang berada di kereta bayi. Dengan penuh kasih sayang, Myungsoo dan Suzy mengganti pakaian anak-anaknya. Mereka pulang malam hari, hingga anak-anak tertidur sepanjang perjalanannya.

“Chukkae, Oppa.” ujar Suzy, Myungsoo hanya tertawa pelan.

“Chukkae, Nyonya Kim.” jawab Myungsoo, Suzy hanya terkekeh.

“Ku rasa ini bukan cara yang baik untuk mengucapkan selamat.” Suzy menatap Myungsoo tajam.

“Tidak, bukan itu yang aku maksud.” ujar Myungsoo, Suzy mendekat ke arahnya, ia mengecup pelan pipi Myungsoo.

“Jangan meminta yang lebih dari ini, aku lelah dan ingin beristirahat.” Myungsoo tersenyum, detik berikutnya ia berjalan berdampingan dengan Suzy memasuki kamar mereka.

—-0000—-
Pagi hari datang, Suzy tengah mendandani Ha Neum, lain halnya dengan Myungsoo yang sedang merapikan pakaian Hae Sun. Hari ini, orangtua Suzy maupun Myungsoo sedang sibuk, hal itu juga yang mengharuskan Ha Neum dititpkan di sebuah Day Care, sementara si kembar akan dibawa oleh Suzy ke kantornya.

“Eomma akan menjemputmu nanti siang, Sunnie. Kau jangan kemana-mana kalau Eomma belum datang.” Hae Sun mengangguk, ia kemudian melambaikan tangannya pada Suzy dan Ha Neum. Suzy hanya tersenyum, entah kenapa ia merasa tidak enak ketika Hae Sun melambaikan tangannya seperti itu.
Ia kemudian melajukan mobilnya, hanya butuh waktu 10 menit untuk sampai ke Day Care Ha Neum.

“Eomma akan menjemputmu juga nanti siang, jangan nakal di dalam, Ne?”
Ha Neum menganggukan kepalanya, ia tertawa riang di pangkuan pengasuh yang menggendongnya. Dan kembali, perasaan tidak enak itu datang. Mungkin ini adalah kekhawatiran Suzy, ini pertama kalinya ia menitipkan Ha Neum di Day Care.
Suzy melanjutkan perjalanannya menuju kantornya, disana para karyawan maupun artis-artis memuji si kembar, mereka memang tampan dan lucu. Hingga siang hari tiba…

“Hae Sun sudah di jemput , bahkan sebelum jam pelajaran selesai. Tadi seorang pria datang menjemputnya.” Tak lama kemudian dengan sigap Suzy mengambil handphone di tasnya.

“Yeoboseyo.”

“Oppa, apakah kau menjemput Hae Sun?”

“Tidak, Suzy-ah… Aku baru selesai meeting. Wae? Apakah sesuatu terjadi pada Hae Sun?”
Terdengar suara panik dari Myungsoo di seberang sana, Suzy setengah berlari keluar dari sekolah Hae Sun, ia memasuki mobilnya. Ia meneteskan air matanya.

“Oppa, Hae Sun tidak ada di sekolahnya. Oppa eotthokkae?” Suzy menangis, Myungsoo panik bukan main, tak lama kemudian Myungsoo meninggalkan kantornya dan segera menuju lokasi dimana Suzy berada.

“Suzy-ah…” Myungsoo membuka pintu mobil Suzy, dilihatnya istrinya yang tengah menangis, tak lama kemudian Suzy memeluk Myungsoo.

“Oppa, Hae Sun dan Ha Neum hilang, aku baru saja menelpon Day Care Ha Neum, mereka bilang bahwa Ha Neum sudah di jemput oleh lelaki yang membawa Hae Sun. Lelaki itu juga membawa Hae Sun pada saat ia akan mengambil Ha Neum. Oppa, eotthokkae?” Suzy menangis semakin dalam.

“Mungkin saja Junho menjemputnya, kau telepon dia Suzy-ah.” Suzy menggeleng.

“Junho Oppa tidak mungkin menjemputnya, ia sedang bersama pihak kantor dan jaksa untuk membersihkan namanya. Aku mengadakan pers untuknya.” Myungsoo memejamkan matanya frustasi. Ia kemudian membawa Suzy kedalam mobilnya bersama Yu Ka dan Yu Sa untuk pulang kerumah.

“Uljima… Kita akan segera menemukannya.” ucap Myungsoo, Suzy semakin kacau, tangisannya semakin tak tertahan, ia menatap foto keluarga kecilnya yang Hae Sun pajang di dinding ruang keluarganya. Tak lama kemudian Nyonya dan Tuan Bae datang.

“Suzy-ah…” Nyonya Bae menatap sendu pada putrinya, ia memeluk erat Suzy. Tuan Bae menepuk pundak Myungsoo.

“Eomma, eotthokkae? Hae Sun dan Ha Neum hilang, aku benar-benar seorang ibu yang tak berguna.” Nyonya Bae hanya mengusap air mata Suzy. Ia menggeleng pelan.

“Ini bukan kelalaianmu, Suzy-ah.. Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri.”

“Kau bersabarlah , Myung… Aku sudah menelpon suruhanku untuk mencari mereka dan aku menelpon detektif dari kepolisian untuk segera menyelidiki ini.” ujar Tuan Bae, Myungsoo hanya mengangguk. Tak lama kemudian, Nyonya dan Tuan Kim, beserta dengan Tae Hee dan Yoo Jung datang, wajah mereka sangat khawatir.

“Myungie, apa yang terjadi pada cucuku? “ tanya Nyonya Kim, Myungsoo memejamkan matanya.

“Mereka hilang…” Yoo Jung dan Tae Hee kemudian menghampiri Suzy, ia mencoba menenangkan Suzy,namun Suzy menangis semakin dalam.

3 jam kemudian Jiyeon dan Seung Gi datang, di iringi dengan Junho dan pihak kepolisian. Pihak kepolisian menyerahkan CCTV dari Day Care dan Taman Kanak-kanak.  Mereka kemudian menyalakannya, Myungsoo menggenggam tangan istrinya, berusaha membuat Suzy berhenti menangis, namun usaha Myungsoo sia-sia. Suzy menangis semakin dalam ketika melihat Hae Sun  dan Ha Neum di bawa oleh lelaki yang tak dikenalinya.

“Beruntunglah CCTV disana  memakai kamera kualitas terbaik. Kami akan segera menanganinya.” ujar detektif Ki. Myungsoo mengangguk.

“Baiklah, kami permisi terlebih dahulu.” ujar detektif Kid an rombongannya yang segera meninggalkan kediaman Suzy juga Myungsoo. Yoo Jung, Tae Hee, dan Jiyeon sedang mengajak bermain si kembar. Nyonya Kim dan Nyonya Bae memasakkan makan malam untuk semuanya.

“Makanan sudah siap, ayo kita makan.” Keluarga Suzy maupun Myungsoo dan sahabat mereka memutuskan untuk menginap malam ini. Mengingat kondisi Suzy yang sedang tidak baik.

“Selamat makan.” ujar semuanya, Myungsoo memasukkan suapan pertamanya pada mulutnya. Terasa sedikit kegundahan di hatinya. Apakah Hae Sun dan Ha Neum sudah makan? Myungsoo mengalihkan pandangannya pada Suzy di sebelahnya.

“Suzy-ah… Kau harus makan.” Myungsoo menatap pada Suzy, sementara mata Suzy hanya terlihat kosong, matanya terlihat sedikit bengkak, belum lagi dengan cairan yang membasahi pipinya.

“Oppa, apakah Hae Sun dan Ha Neum sudah makan? Bagaimana bisa aku memakan ini, sementara anak-anakku, disana mereka belum tentu makan selezat ini.” Myungsoo menghela nafasnya.

“Satu sendok saja, kau harus makan, Suzy-ah, jika kau merasa kehilangan mereka, aku juga merasakan hal yang sama.” ujar Myungsoo, Suzy hanya tersenyum dingin.

“Jika kau merasakan hal yang sama, satu suap pun kau takkan berani memasukkannya kedalam mulutmu.”  Suzy kemudian berdiri, membuat mata  seluruh penghuni rumah menoleh ke arahnya.

“Aku akan mencari mereka, Oppa.” ujar Suzy, Myungsoo menyusul Suzy yang tengah berjalan. keluar.

“Kita sudah menyerahkan ini pada kepolisian Suzy-ah, kau jangan gegabah. Tindakanmu salah jika seperti ini. Bagaimana jika kau juga hilang? Aku kehilangan kau, Hae Sun, Ha Neum.” Lutut Suzy melemas seketika, Myungsoo membantunya untuk bangun, lalu membimbingnya masuk kedalam kamar. Masih dengan menangis.

“Aku juga pernah merasakan kehilangan anakku. Aku tahu Suzy sangat terpukul.” ujar Jiyeon, Seung Gi kemudian mengusap pundak istrinya.

“Sabarlah, aku yakin kalian akan memiliki anak yang banyak.” ujar Nyonya Bae.

“Ya, jangan berputus asa. Teruslah berusaha Jiyeon, Seung-Gi.” timpa Nyonya Kim

“Aku merasa kasihan pada Eonni. Ia sangat terlihat menyedihkan.” ujar Yoo Jung, yang lain hanya mengangguk.

Tiba-tiba Junho teringat pada Min Ho.

“Solma…”

“Wae?” tanya Tuan Kim.

“Tidak, tidak apa-apa…” jawab Junho.

—-0000—-
Sudah 2 hari Hae Sun dan Ha Neum hilang, 2 hari itu juga Suzy dan Myungsoo susah payah mencari anak-anaknya. Beruntung mereka memiliki kenalan para wartawan yang baik. 2 hari itu pula Suzy sama sekali tidak makan, ia hanya minum susu. Suzy tidak menyentuh Yu Ka dan Yu Sa,tidak menyusui mereka, terpaksa Myungsoo menggantinya dengan Susu Formula. Suzy,  ia diam di dalam kamar, menangis, menatap foto dan mainan yang biasa digunakan anak-anaknya. Myungsoo tak kalah frustasi dengan semua ini.

“Suzy-ah… Makanlah, kau pasti sangat lapar dan tersiksa menahan kelaparanmu.” ujar Myungsoo yang sedang menyisir rambut Suzy.

“Aku sudah bilang, aku tak akan makan sebelum Hae Sun dan Ha Neum datang.”

“Suzy-ah!” Myungsoo sedikit membentak Suzy, membuat Suzy menatap tajam kepadanya.

“Aku benci keadaan seperti ini. Kau seharusnya kuat, Suzy-ah!”

“Bagaimana aku akan kuat sementara keadaan anak-anakku. Aku tak tahu mereka bagaimana. Aku tak tahu mereka sudah makan atau belum. Yang jelas, aku sangat tahu mereka takut.” ujar Suzy masih dengan air matanya. Myungsoo menghela nafasnya berat.

“Berhentilah bersikap seperti ini. Kau harus makan agar kau tidak sakit!”

“Oppa. apakah kau enak makan dengan keadaan anak-anakmu tidak ada?”

“Jikalau aku boleh jujur padamu, setiap suapanku aku merasa pahit, aku tak merasakan apapun, itu menyakitkan. Aku terpaksa melakukan itu, karena jika aku sepertimu, dan aku jatuh sakit, bagaimana dengan kau? Siapa yang akan menguatkanmu? Siapa yang akan membujukmu? Eomma? Appa? Jiyeon? Noona? Yoo Jung? Tidak, mereka tak mengerti semua ini Suzy-ah, ini antara kau dan aku. Antara anak-anak kita, batin yang ada di dalam sini terhubung dengan kuat.  Kau tahu? Aku merasa sangat terpukul, aku juga merasa bukan seorang ayah yang berguna. Sejujurnya, aku ingin menangis lebih dari yang kau lakukan, tapi… Aku sadar itu semakin memperburuk keadaan.”
Suzy terdiam beberapa saat, ia meneteskan air matanya kembali. Myungsoo melangkahkan kakinya keluar dari kamar.

“Simpan saja air matamu jika anak-anak sudah kembali. Beristirahatlah, mereka sudah pamit pulang tadi sore.” Myungsoo menutup pintu kamarnya kasar, ia kemudian berjalan ke kamar Yu Sa dan Yu Ka.

“Appa tidak berguna kan? Lihatlah Noona dan Hyung kalian hilang. Apakah kalian merasakannya?”tanya Myungsoo pada kedua putra kecilnya, Yu Ka menggerakkan tangannya pada pipi Myungsoo. Myungsoo hanya tertawa kecil.

“Kau bermaksud menenangkan Appa? Hm? Anak pintar.” Myungsoo mengusap kepala Yu Ka dan Yu Sa, ia kemudian mengambil dot di sebelahnya, lalu meminumkannya kepada Yu Ka dan Yu Sa. Tak lama kemudian Myungsoo ikut terlelap.

Pagi hari tiba, Suzy membuka matanya. Ia berjalan ke kamar mandi, setelahnya, ia mematut diri di hadapan cermin, mengoleskan make up dengan tipis. Suzy membuka pintu kamarnya, dapat dilihat Myungsoo dan kedua putra kecilnya sedang sarapan, Myungsoo menyuapkan bubur pada Yu Ka dan Yu Sa. Terlihat canda tawa di antara mereka, membuat Suzy juga tersenyum.

“Kau mengurusnya dengan baik, Oppa… Siapa bilang kau ayah yang tak berguna.” batinnya.

Suzy kini memberanikan diri keluar dari kamarnya, ia melangkah tanpa diketahui Myungsoo. Ia keluar melalui pintu belakang, dilihatnya beberapa tangkai bunga mawar merah dan beberapa ucapan untuk menguatkannya di samping rumahnya, membuat Suzy semakin tersenyum lebar. Ia menyesal sempat tidak keluar dari kamarnya. Di lihatnya Myungsoo yang keluar dari pintu depan, membuat Suzy  terperanjat dan masuk kedalam melalui pintu belakang, ia kemudian menghampiri Yu Ka dan Yu Sa.

“Mianhae, Eomma membiarkan kalian seperti ini… Kalian pasti merindukan Eomma.” ujar Suzy menghampiri kedua putra kecilnya, Yu Ka dan Yu Sa tersenyum. Suzy kemudian menggendong Yu Sa di dalam pelukannya dan menyusuinya, setelah Yu Sa barulah Yu Ka. Kedua namja kecil itu tertidur, Suzy memindahkannya kedalam kamar lalu mencium mereka. Suzy melangkahkan kakinya ke ruang tamu, Myungsoo datang tiba-tiba dengan membawa banyak boneka.

“Suzy-ah…”

“Oppa…”
Suzy berlari kecil menghampiri Myungsoo, tak lama kemudian ia memeluk Myungsoo. Myungsoo tersenyum, ia kemudian memeluk erat istrinya.

“Para wartawan mengirimkan boneka ini untukmu, dan ucapan-ucapan itu—“

“Aku sudah membacanya tadi, aku sangat terharu dan bahagia.” ucap Suzy. Myungsoo menarik tangan Suzy.

“Bacalah, itu belum seberapa.” Suzy kini tersenyum dan menahan air matanya melihat sticky notes yang tertempel di dinding yang terpampang foto keluarganya yang besar.

Suzy-ah, bangkitlah, kuatlah, bersabarlah, Kami merindukanmu.Tertanda : Eomma, Appa, dan Mertuamu yang sangat keren.” Suzy tertawa pelan.

Suzy-ah, Eonni yakin ini membuatmu terpukul. Tapi, kau harus kuat. Mereka pasti dapat berkumpul lagi bersama kita disini.”

“Suzy-ah, aku juga pernah mengalami kehilangan anak yang ku cintai. Kau beruntung masih sempat membesarkannya, menciumnya, melihat wajahnya. Sedangkan aku? Hanya organ yang belum terbentuk yang dapat ku lihat.Jangan merasa paling menderita di dunia Suzy-ah.”

“Suzy-ah, jangan bersedih lagi. Tertanda : Junho Oppa yang mungkin kau cintai.”

“Myung, Suzy-ah… Kalian harus bersabar, aku tak akan membiarkan ini berlangsung lama.”

“Eonni, setelah kau membaca ini, kau harus mengecek berita di internet. Kau masuk kedalam pencarian nomor 1. Disana kau bisa menemukan kembali semangatmu. Tertanda : Yoo Jung.”

Suzy tertawa, air matanya kembali turun, namun ini air mata kebahagiaan, Myungsoo hanya tersenyum. Suzy meraih handphone di dalam sakunya, ia mengecek berita yang dikatakan oleh adik iparnya. Ia kembali terharu.

Sabarlah Hae Sun Eomma, kami selalu mendoakan yang terbaik untuk keluarga kalian.”

“FourKim Eomma, aku istri seorang detektif terkenal di Korea. Kakak iparku seorang jaksa. Kami akan membantumu jika kau membutuhkan. Hubungi saja kami, jangan ragu.”

“FourKim Eomma, bersabarlah. Kau harus kembali tersenyum.”

“Eonni, aku teman Jungie. Ia menyuruhku dan teman-teman berkomentar disini. Tapi, kami tidak terpaksa melakukannya. Kami betul-betul turut bersedih atas kejadian yang menimpa keluarga kalian. Eonni, aku melihat keponakan Jungie sangat lucu. Kapan-kapan, undang kami ke rumahmu, atau ke kantormu agar aku bisa bertemu dengan Junho Oppa^^.” Suzy tersenyum lebar, Myungsoo memeluknya.

“Bagaimana? Kau sudah merasa lebih baik?” Suzy mengangguk.

—-0000—-
Di sebuah rumah kecil yang terpencil…

“Anak-anak ini akan kau apakan?”

“Hanya ku diamkan beberapa saat, aku juga akan menghubungi kedua orang tuanya nanti.”

“Kau berikan saja apa yang mereka mau, kecuali bertemu dengan kedua orang tuanya.” sambung pria dengan setelan berjas rapi itu, ia tersenyum jahat.

Sementara Hae Sun dan Ha Neum menatapnya penuh ketakutan.

—-TBC—-

Haaaai, bagaimana dengan kelanjutannya? Makin absurd yaaa haha, maaf kalau ffnya sekarang genre comedy nya udah hilang. Hehe, rencananya bentaran lagi ini mau tamat. Author udah kepikiran ko mau bikin lagi ff yang baru. Oh iya, lagu yang Myungsoo sama Suzy nyanyiin di ff ini, itu lagunya Suzy sama Bernard Park di One Mic, sama Jung Seung Hwan juga Suzy nyanyi ini,sekedar ngasih tau aja sih kkkk, enak banget lagunya kalau dijadiin pengantar tidur. Yaudah, Jangan lupa RCL yaa , makasih😀

67 responses to “[Freelance] Business Marriage Chapter 7

  1. OMG ! Penuh drama kehidupan myungzy. Sudah beberapa tahun ini mereka merasakan kebahagiaan yang luar biasa bersama keluarga kecilnya, dan sekarang mereka harus mengalami penderitaan kembali. Ini seperti de javu. Namun kali ini cobaannya datang dari ke-dua anaknya.

    Jadi siapa yang menculik haesun dan haneum?

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s