Huntsville [Chapter 2]

babyrosse1

Author | Babyrosse | Tittle | Huntsville

Cast | Bae Soo Ji | Oh Sehun |

Genre | Fantasy | Romance | lil bit Dark | Drama

Length | Chaptered | Rated | Teens

Disclaimer

The story is belong to Babyrosse©

Poster by Leeshinhyo

Keep Calm

Just read and comment😀

.
.
.
Story 2 ~ The Wicth and The Prince
.
.
.
Aku mulai sadar bahwa perasaanku

Tidak akan pernah bisa kusembunyikan

.
.
.

Suzy dan Sehun sudah meninggalkan rumah jamur saat hari sudah mulai pagi. Sehun masih menggerutu karna kali ini mereka hanya sarapan dengan buah berry kering yang dibeli Suzy dalam perjalanan.

“Kau membelikanku sekeranjangpun aku tidak akan kenyang!“ celetuk Sehun, berjalan agak terseok dibelakang Suzy karna medan yang menanjak dan berbatu.

“Siapa yang sudi membelikanmu sekeranjang he? Sebentar lagi kita akan sampai, setelah itu kita bisa makan siang sepuasnya di Desa sebelah.“ kata Suzy.

“Oh?! Oh… itukah dia?!“

Sehun menunjuk dengan semangat kearah tebing diatasnya. Tampak tanaman perdu berbunga warna Biru menyembul banyak disana.

“Waah… sepertinya ini sedang musim berbunga bahkan di tebing rendah pun dia sudah tumbuh.“ kata Suzy senang, merangkak naik dengan hati-hati.

Syukurlah mereka tak perlu mendaki tebing yang lebih tinggi untuk mencari Bunga Biru, dari tebing rendah ini saja Suzy sudah mendapat persedian yang cukup untuk beberapa bulan ke depan.

“Ckk…ckk… kurasa hanya mahluk gila saja yang tinggal disana.“ komentar Sehun memandang ke bawah tebing nun jauh disana, di daerah hutan gelap.

Suzy memandang kearah Sehun dengan kesal, Suzy sedang sibuk memetik Bunga Biru sementara Sehun sendiri asyik menikmati pemandangan dengan santainya.

“Kalau kau tak membantuku memetik ini, kita akan melewatkan makan siang di Dirt Dust ! Kau paling suka makanan disana bukan?“ kata Suzy yang lebih terdengar seperti ancaman.

“Eeh…?!“

Dirt Dust adalah tempat makan di perbatasan Hunstville, tempat itu sama terkenalnya seperti Durking Duck. Makanan yang disajikan pun adalah makanan terbaik tapi yang membuat Sehun tak suka adalah semua pelayannya yang merupakan seorang Goblin. Goblin adalah sejenis mahluk peri berwajah buruk rupa menyerupai Gergasi tapi jauh lebih pendek dan bertelinga runcing ─ dan jauh lebih tak ramah.

Sehun bukannya tidak suka melainkan dia takut. Dia punya trauma sendiri dengan Goblin. Ancaman Goblin selalu bekerja untuk Sehun.

“Aaa… aku lebih suka kita makan di Durking Duck saja hee!“ Sehun cepat-cepat membantu Suzy memetik Bunga Biru dan memasukkannya kedalam ransel kulit. Betapa melelahkannya perjalanan ini hanya untuk mencari bunga.

.
.
.
.
.

Aroma bawang putihlah yang menyambut Suzy saat memasuki daerah pemukiman Huntsville. Bawang putih bergantungan di tiap rumah penduduk untuk mengusir datangnya kelelawar pembawa wabah, sepertinya pihak Kerajaan telah memberikan Pengumuman pada penduduk.

“Khh… apa mereka tidak tahu kalau hidungku sangat sensitif?“ Sehun berulang kali bersin dan mengusap-usap hidungnya.

“Ciihh… dasar anjing hutan…“

“Heeii… aku serigala bodoh!“ protes Sehun, “dan aku sudah sangat lapar…“

“Aku akan pergi ke Istana dulu untuk memberikan Bunga ini ke ─ “

“Oh… tidak…tidak… terimakasih atas tawarannya, tapi aku tidak tertarik untuk pergi ke Istana.“ potong Sehun dengan cepat, “Aku akan ke Durcking Duck duluan kalau begitu.“

Jika Sehun menghindari Dirt Dust karna Goblin, maka dia menghindari Istana karna ada Pangeran tapi kali ini dia bukan takut pada Pangeran, tapi dia membencinya.

“─ Jessica.“ lanjut Suzy.

“Jessica?“

“Iya, Sicca bertugas di Istana menggantikan pekerjaan Bibi untuk sementara karna pertemuan tahunan para Penyihir di luar.“ ujar Suzy kalem.

“Baiklah! Kita pergi ke Istana dulu… kurasa makan siang disana terdengar bagus juga!“ sahut Sehun kemudian, mendahului Suzy berjalan menuju Istana.

Suzy memutar bola matanya malas, “Dasar!“

Istana Huntsville merupakan tempat tinggal keluarga Kerajaan yang sekaligus menjadi pusat pemerintahan Hunstville yang dipimpin oleh seorang Raja.

Suzy adalah salah satu dari orang yang mendapat akses bebas untuk masuk ke Istana begitupun dengan Sehun. Istana Hunstville sangat luas, untuk dapat berpindah dari satu bangunan ke bangunan yang lain kau memerlukan kendaraan jika tak ingin kakimu putus karna berjalan.

Tempat yang dituju Suzy adalah Rumah Pengobatan Istana yang letaknya jauh di belakang bangunan utama. Jadi dia memakai jasa petugas Istana dan kereta kuda untuk mengantarnya.

Pohon-pohon palem bewarna-warni menjadi penghias halaman Istana, di halaman utama terdapat petak-petak kosong yang dibuat menyerupai papan catur lengkap dengan bidak catur raksasa. Juga beberapa dekorasi aneh seperti air mancur yang terbuat dari coklat, rumah dari kue jahe dan permen, sampai maze yang rumit.

Mereka baru setengah jalan saat sekumpulan petugas Istana sedang menata sisi halaman yang lain. Kereta otomatis berhenti karna kusir kereta tengah memberi hormat pada orang yang sepertinya penting disana.

Suzy menyembulkan kepalanya untuk melihat. “Ohh! Luhan!“ seru Suzy.

Seorang laki-laki berwajah lembut berpaling karna panggilan untuknya, pakaian bagus yang dikenakannya jelas menunjukkan bahwa dia adalah orang yang penting.

“Kau sudah datang?“ tanyanya lembut.

“Jadi kau sudah mendengarnya?“ Suzy balik bertanya.

“Tentu saja, wabah seperti ini merupakan tanggung jawabku juga.“ ujar Luhan lembut, “Apa kabar Sehun lama tidak melihatmu.“ Luhan tersenyum kearah Sehun yang menghindari bertemu pandang dengannya.

“Kita berpapasan kemarin saat berburu, kau lupa?“ dengus Sehun.

“Sehun … ?“ Suzy menyikut tulang rusuk Sehun mengisyaratkan untuk bersikap lebih sopan.

“Ciih… Pangeran.“ gumam Sehun memutar bola matanya.

Luhan adalah putra tunggal Raja yang otomatis dia merupakan seorang Pangeran Mahkota, tapi Suzy dan Sehun tak perlu repot-repot memakai embel-embel itu untuk memanggilnya karna Luhan tidak suka mendengarnya. Mereka dulu satu angkatan saat Sekolah jadi wajar jika mereka terlihat akrab.

“Kalau begitu kami permisi dulu ya, Bunga ini harus segera kuberikan pada Jessica.“ kata Suzy.

“Hmm… aku akan menyusul nanti, halaman sedikit berantakan.“ Luhan mengerling kearah lubang-lubang di halaman istana, Pangeran Hunstville satu ini sangat suka berkebun.

“Sampai nanti!“

Dan kereta kembali berjalan menuju Rumah Pengobatan.

“Ciih… jika itu memang tanggung jawabnya kenapa bukan dia yang mencari Bunga sialan ini sendiri?“ gerutu Sehun.

“Pangeran punya urusan lain yang lebih penting, maka dari itu orang seperti kitalah yang dibutuhkan oleh Kerajaan ini bodoh!“

“Ohh… kau benar!“ dengus Sehun.

Kereta mulai melambat sampai akhirnya benar-benar berhenti di depan bangunan besar dengan patung malaikat dari pualam di sisi kanan-kirinya.

Saat mereka masuk ke dalam mereka melewati manusia yang tangannya dibebat perban, peri hutan kecil yang sayapnya patah, dan Sehun mengerang jijik melihat Gergasi yang tiba-tiba muntah di depannya.

Suzy memimpin jalan di depan, masuk lebih jauh ke dalam. Sehun berulang kali mendengar jerit kesakitan dari ruangan yang dilewatinya. Dia juga sesekali mendongakkan kepala setiap melihat gadis bergaun membawa nampan obat berharap itu adalah Jessica.

Mereka masuk ke ruangan yang sepertinya adalah penyimpanan obat karna banyak rak penuh dengan botol beraneka bentuk dan isi.

“Suzy? Kau kah itu?“ terdengar sebuah suara dari balik salah satu rak.

“Oh… aku sudah membawanya.“ balas Suzy.

“Syukurlah kau menemukannya!“ seru Jessica muncul dari sudut yang tertutup rak dengan memegang sendok pengaduk, “Aku sedang membuatnya dan tinggal menunggu memasukkan Bunga Biru.“ Jessica menunjuk ke sudut tempatnya bekerja, dia mengaduk sebuah kuali besar yang mengeluarkan asap bewarna hijau.

Sehun langsung merebut tas kulit di tangan Suzy dan menyodorkannya ke Jessica.

“Aku memetik Bunga ini khusu untukmu Jessica.“ kata Sehun penuh senyum.

“Dasar penjilat!“ rutuk Suzy.

Jessica hanya tersenyum geli menerima Bunga Birunya, dan dia mulai memasukkan bahan lain ke dalam kuali. Tangannya bergerak cekatan memotong akar, menuang cairan, kemudian mengaduknya.

Sehun mengagumi Jessica saat melakukan itu semua, dia tetap terlihat cantik meskipun tengah berkubang dengan kepulan asap dari kuali. Setiap gerakannya pun terlihat anggun begitupun dengan kata-katanya yang selalu terdengar lembut. Sehun mengerling ke Penyihir di sebelahnya ─ Suzy.

Tak seperti Jessica yang mengenakan gaun, dia mengenakan sepatu boots tinggi dan celana kulit pendek. Penampilan yang lebih pantas disebut sebagai pemburu vampire. Dia juga selalu berkata kasar pada Sehun, Sehun tak yakin kalau mereka berdua adalah saudara kandung.

Asap hijau itu berubah menjadi biru saat Jessica memasukkan Bunga Biru kedalam kuali, dia tersenyum senang mengaduk ramuannya yang mulai mengental.

“Aahh… itu persis seperti yang Kakek buat!“ seru Sehun.

“Benar, ini sudah siap.“ kata Jessica, “Aku akan menyiapkannya untuk kalian bagikan ke Penduduk di Desa sementara aku akan mengurus yang disini.“

“Aku akan membantumu disini.“ tawar Sehun.

Jessica menggeleng pelan sambil mengambil beberapa botol kosong dari rak, “Suzy tak akan bisa melakukannya sendiri, disini masih banyak ada bantuan yang lain.“

Sehun menatap Suzy dengan tatapan memohon agar dia bisa bersama Jessica, tapi Suzy hanya mengedikkan bahunya pura-pura menurut dengan perintah Jessica.

“Aku bisa pergi ke Desa jika itu dibutuhkan.“ ujar sebuah suara lembut menengahi.

“Pangeran…“ Jessica membungkuk hormat kearah Luhan yang muncul tiba-tiba.

“Luhan?“

“Waahh… benar sekali! Ada Luhan yang menemani Suzy pergi ke Desa.“ seru Sehun semangat, untuk pertamakalinya Sehun mensyukuri kehadiran Luhan disini.

Suzy mendelik tak suka kearah Sehun.

“Ayolah… Luhan sangat menyukaimu dan kau juga sepertinya begitu ─ jadi tolong biarkan aku bersama Jessica kali ini hmm … ?“ desis Sehun ditelinga Suzy.

“Aku tidak menyukainya…“ balas Suzy sengit.

Jessica mengernyit melihat Sehun dan Suzy yang sepertinya berdebat dalam diam, sementara Luhan tersenyum menunggu Suzy.

“Baiklah kalau kau ingin ke Desa, kita bisa pergi bersama!“ sahut Suzy riang dengan sebuah senyum palsu.

“Nah… apa yang bisa kubantu untukmu Jessica?“ tanya Sehun semangat merepet kearah Jessica.

Suzy hanya bisa memandang miris kedekatan Sehun dengan Jessica, dadanya terasa sesak. Cinta tak berbalas memang sangat menyakitkan.

.
.
.
.
.
.
.

Setiap berpapasan dengan siapapun baik itu manusia, peri hutan atau mahluk yang lain, mereka pasti akan membungkuk hormat kearah Suzy ─ atau lebih tepatnya pada Pangeran di samping Suzy.

Luhan memang terkenal karna sikap lemah lembut dan keramahannya, dia sangat memperdulikan keadaan rakyatnya persis seperti Ayahnya sang Raja. Dia pun tak segan untuk turun langsung ke Desa demi bisa melihat keadaan dan mendengar keluh kesah rakyatnya.

“Ambil lah ini sebagai hadiah Pangeran… hanya ini yang kami punya.“ seorang perempuan tua menyodorkan sebuah kain rajut kepada Luhan.

Luhan tersenyum dan menyampirkannya ke bahu perempuan itu. “Gunakan ini untuk dirimu sendiri, musim dingin sebentar lagi akan datang.“ kata Luhan.

Suzy tersenyum, Ahh… Luhan memang seperti itu sejak dulu. Dia tidak mau menerima pemberian orang lain jika orang itu sendiri sedang kesusahan. Benar-benar sosok penerus Raja yang baik, pikir Suzy.

“Apa kau ingin minum teh setelah ini?“ tawar Luhan setelah keluar dari rumah terakhir yang harus mereka kunjungi.

“Durking Duck pasti sangat ramai saat ini…“

“Nee?“

Meskipun Luhan adalah teman masa Sekolah Suzy dulu, tetap saja posisinya sekarang adalah seorang Pangeran Mahkota penerus tonggak pemerintahan Hunstville.

Seperti kata Luhan, Durking Duck memang ramai ─ bahkan selalu ramai. Para pengunjung disini haus akan informasi terbaru yang bergulir cepat jika kau mendengarnya disini.

“Aaah… aku sangat lelah seharian ini!“ seru Suzy menghempaskan pantatnya di kursi kayu Durking Duck. Di tempat seperti ini tidak akan ada perbedaan status, semua mahluk adalah sama. Maka jangan heran Pangeran sekalipun akan diperlakukan sama dan mendapat tempat duduk yang sama.

“Dimana Sehun? Apa dia tidak datang?“ keluh Krystall mencatat pesanan Suzy dan Luhan.

“Dia bosan melihat wajahmu!“ sahut Suzy asal.

Krystall hanya mendengus berlalu pergi sambil menggerutu tentang Suzy.

“Kalian terdengar seperti tidak terpisahkan.“ komentar Luhan.

“Eh apa?“

“Kau dan Sehun. Kalian selalu bersama, orang-orang tadi banyak menanyakan kehadiran Sehun.“

Suzy mulai mengerti, Luhan sepertinya merasa bersalah seolah sudah menggantikan posisi Sehun sebagai partnernya.

“B-bukan seperti itu! Mereka berkata begitu karna kemarin aku dan dialah yang memeriksa penduduk. “ sergah Suzy. “B-biasanya aku pergi sendiri sih…“

“Ooh… seperti itu.“

Dua gelas teh buah pesanan mereka datang tepat pada waktunya untuk Suzy. Sehingga dia bisa menghindari perasaan tak nyaman dengan pura-pura meminum tehnya.

Obrolan mulai beralih tentang kenalakan mereka disaat Sekolah dulu, rasanya sudah lama mereka tidak berpetuang bersama menyusuri hutan Hunstville dan berenang di danau.

“Alvin sudah sangat besar! Biasanya aku datang setiap minggu untuk memberinya makan…“

“Benarkah? Kau memelihara Naga Air itu?!“

“Iyaa… tapi aku tidak akan lupa bagaimana marahnya Guru Shin pada kita saat itu.“ gerutu Suzy. Sewaktu Sekolah dulu, mereka pernah melompat ke Danau dekat Sekolah hanya untuk melihat proses melahirkan Naga Air. Tapi sayangnya saat itu bertepatan dengan jam Sekolah jadi mereka otomatis membolos dan sialnya mereka ketahuan karna ketidakmampuan mereka dalam hal berenang.

“Ahahaha… maaf itu salahku karna memaksa ingin melihat Naga Air secara langsung.“ “Dan kau ingat saat Sehun melompat untuk menyelatkan kita karna hampir tenggelam?“

“Sehun …  “ ulang Luhan mengernyit tiba-tiba beralih menjadi Sehun.

“Eh?“ Suzy sendiri tak sadar bagaimana dia bisa membicarakan Sehun segala?

Luhan tersenyum penuh pengertian, dia meneguk tehnya sebelum kembali berkata.

“Jadi kau sudah menyukainya sebelum atau setelah dia melompat menyelamatkan kita?“

“Eh … ?“

Luhan menatap Suzy seolah sedang menelanjangi isi pikirannya. Suzy bergerak gelisah, dia tak bisa berbohong pada Luhan.

“Oke… okee… baiklah aku ketahuan!“ Suzy mengangkat tangannya pasrah, “… sebenarnya jauh sebelum itu, kau tahu kami adalah teman sejak kecil.“

Luhan tertawa kecil sekaligus miris saat itu juga. Bagaimanapun dia adalah seorang Lelaki sayangnya Suzy tak pernah melihat itu pada diri seorang Luhan.

“ … dia menyukai Jessica, dia seperti orang bodoh mengejar-ngejar Jessica.“

“ …… “

“ … dia memberikan hadiah ulang tahun bunga-bunga yang cantik pada Jessica tapi dia hanya memberiku bunga kering yang diawetkan… “

“ …… “

“ … padahal aku yang menginginkan gelang giok itu tapi dia memberikannya pada Jessica. “

“ …… “

Luhan hanya menanggapi setiap ocehan Suzy dengan anggukan kepala ataupun senyuman kecil.

“Aah… maaf aku jadi bicara terlalu banyak.“ ujar Suzy sadar diri mengelus tengkuknya karna malu.

“Tidak masalah, pasti sangat sulit menyimpannya sendiri. “ kata Luhan. “ Sering-seringlah berkunjung ke Istana, aku bosan melihat wajah Jessica terus di Rumah Pengobatan. “ gurau Luhan.

“ Aku tidak pernah ada di rumah, aku lebih sering pergi untuk mencari bahan obat dan ramuan. Hei !… aku juga sering ada di Rumah Pengobatan, kau saja yang tida pernah melihat kearahku. “ protes Suzy.

Luhan terkekeh, “ Setiap melihatmu kau terlihat sibuk, aku tak tega untuk menganggumu. “

“ Ahh… itu sih karna Bibi suka menyuruh-nyuruhku, lain kali kau harus mengajakku pergi dari sana he? “

“ Bisa kita lihat Alvin kapan-kapan? “

“ Ide bagus ! “

Dan keduanya tertawa, mengobrol mengingat kenakalan yang pernah mereka perbuat semasa Sekolah.

.
.
.
.
.
.

“ Aku akan mengantarmu pulang. “ kata Luhan setelah keluar dari Durking Duck. Mereka mengobrol banyak sampai tak sadar hari sudah sore.

“ Aisshh… apa kau lupa siapa aku ? Aku terbiasa pulang sendiri. “ tolak Suzy.

“ Baiklah… mungkin lain kali. “ gumam Luhan tak jelas.

Mereka berpisah di persimpangan jalan, Luhan menuju ke balik bukit sementara Suzy berjalan menuju pinggir hutan.
Suzy melangkah gontai sepanjang jalan, Sehun pasti bersenang-senang dengan Jessica di Istana seharian ini. Haah… apa dia tidak tahu kalau sebenarnya Jessica itu ─ ahh sudahlah!

Suzy tanpa sadar menendang sebuah batu kerikil terlalu keras sampai mengenai seseorang yang berdiri tak jauh disana.

“ Auuw ! Kau jalan sebenarnya melihat kearah mana he ?! “

“ Sehun ? “

Sehun berdiri tak jauh di depan rumah Suzy dibawah pohon ek besar, entahlah mungkin dia sedang menunggu.

“ Kau tidak sadar ini jam berapa ? Memangnya kau sampai memeriksa lubang semut bersama Luhan ? “ sungut Sehun tampak marah karna Suzy lama sekali datang, padahal dia sudah menunggu kedatangannnya sejak sejam yang lalu.

“ A-ada apa ? Apa kau menungguku ? “ tanya Suzy penuh harap.

Sehun melempar sebuah bungkusan tak beraturan kearah Suzy yang ditangkapnya dengan sigap, “ Tuh ! Aku lupa memberikan itu padamu, hanya itu kok ! “ sahut Sehun.

“ Apa ─ “

“ Aku membuatnya susah payah tahu ! Anggap saja hutang budi gara-gara aku memecahkan kompas kacamu kemarin… “

“ Aisshh… kompas itu lebih berharga dari benda apapun ini. “ ujar Suzy mengacungkan bungkusan tak beraturan itu dia jadi teringat kompas kaca kesayangannya yang tak sengaja Sehun pecahkan saat perjalanan mereka mencari tanaman obat.

“ Dasar munafik ! Aku aka pergi ! “ dengus Sehun sebelum pergi melompat ke dalam hutan.

“ Aku mendengarnya tahu ! “ teriak Suzy, kemudian dia tersenyum menatap bungkusan di depannya.

Sehun menyebalkan, tidak sensitif, bodoh, tapi dia sangat peduli terhadap Suzy. Suzy merasa bahwa Sehun selalu melindunginya selama ini. Dia tak pernah membiarkan Suzy pergi jauh mencari tanaman obat sendirian, pasti dia yang akan menemaninya. Tapi sayang, bagi Sehun itu hanya sebuah perhatian untuk seorang sahabat, tidak lebih.

“ Oh… kau sudah pulang ? “ sapa Jessica yang sudah terlebih dahulu sampai di rumah.

Suzy menanggalkan jubah miliknya di samping pintu masuk, “ Kapan kau pulang ? “

“ Hmm… dua jam yang lalu ? “ jawab Jessica, dia sudah mengganti gaunnya dengan gaun rumah yang lebih polos. “ Aku sudah membuat sup untukmu, kau pasti lelah hmm… ? “

Suzy hanya mengangguk pelan sembari mengawasi Jessica yang kini menyiapkan peralatan merajut, mendekati musim dingin Jessica akan merajut aneka jenis pakaian dari wol tebal.

“ Aku tadi bertemu Kris di Desa, sepertinya dia sedang mencari sesuatu… “ kata Suzy.

Wajah Jessica tampak memerah mendengar itu, dia pura-pura merajut di kursi goyang.

“ … dia kelihatannya bingung memilih kalung untukmu jadi kusarankan untuk ─ “

“ Heeii… kenapa kau menganggunya ? “ protes Jessica berusaha menahan rona merah diwajahnya.

“ Ckk… kalian sudah dewasa tapi masih saja kekanakan. “ dengus Suzy.

Kris adalah kekasih Jessica, mereka sudah bersama sejak lama. Kris adalah seorang wolfrine sama seperti Sehun dan bahkan Kris adalah Kakak tertua Sehun di keluarganya. Selama ini Sehun hanya pura-pura menutup mata tentang hubungan Jessica dan Kakaknya menganggap bahwa itu hanya sebuah pertemanan sementara dia sendiri masih mencoba menarik perhatian Jessica.

“ Apa ini ? “ tanya Suzy melihat sepucuk surat beramplop coklat di meja makan.

“ Aah… itu untukmu, aku menemukannya di kotak surat tadi. Sepertinya itu dari Sekolah lama mu iya kan ? “

Benar kata Jessica, surat itu memang dari Sekolah lama Suzy terlihat dari lambangnya di amplop ─ Hunstville Academy.
“ Ciih… reuni ? “

“ Apa kalian mengadakan reuni ? “ tanya Jessica.

“ Oh… sepertinya begitu. “ sahut Suzy memasukkan kembali suratnya kedalam amplop. “ Hii… aku ngeri sekali, teman-teman sekelasku kebanyakan adalah wolfrine dan peri hutan yang menyebalkan. “ Suzy bergidik teringat teman-temannya semasa Sekolah.

Jessica berdehem kecil, “ … kau sekelas dengan Pangeran juga bukan ? “

“ Benar… kau ingat tidak ? Sewaktu kecil aku pernah dijamu olehnya di Istana tapi pulang-pulang Bibi memarahiku karna mengira aku membuat masalah disana. “

“ Hmmpp… kau mendapat pukulan telak dipantatmu, aku tidak heran. “

“ Aiishh… tertawalah sesukamu ! “

.
.
.
.
.
.

Suara gemericik air yang menjadi teman Suzy saat ini. Matanya mengawasi dengan awas setiap gerakan dalam sungai kecil itu sementara tangannya sudah siap untuk membidik anak panah kapan pun. Kakinya melangkah pelan di dalam air, berusaha untuk tidak membuat suara apapun.

“ Sreet… “ mata Suzy bergerak cepat menangkap gerakan itu.

“ Craak ! “ satu anak panah melucur ke dalam air.

Suzy tersenyum senang, dia memungut ikan yang menggelepar terkena anak panahnya.

“ Susah sekali untuk mendapatkanmu, kau sedang bermain petak umpet denganku ? “ rutuk Suzy bicara pada ikan bewarna keemasan dengan sirip berduri di kedua sisinya. Itu adalah Corn Fish, biasanya digunakan dalam ramuan pengobatan setelah dijadikan bubuk terlebih dahulu.

“ Suzy ! Suzy ?! Kau sudah mendapatkannya ? “ terdengar teriakan cempreng dari dalam rumah tak jauh dari sungai kecil tempat Suzy berada.

“ Ckk… bisanya hanya menyuruh saja. “ omel Suzy. “ Dia pikir menangkapnya semudah menangkap cicak di dinding ? “
“ Yaa ! Aku sudah mendapatkannya Bi… ! “ balas Suzy segera masuk ke dalam rumah.

Asap memenuhi sebagian ruangan di rumah, semua itu berasal dari kuali besar di perapian. Selain asap baunya juga sangat busuk.

“ Uhukk… hukk… kau sedang membuat apa ? “ Suzy berulang kali terbatuk tapi dia tetap mendekat kearah kuali, sejak seminggu yang lalu dia penasaran pada apa yang sebenarnya dikerjakan Bibinya ini. “ Aku belum pernah ramuan ini sebelumnya. “ tambahnya setelah melihat cairan abu-abu menjijikkan menggelegak di dalam kuali.

“ Ramuan baruku… “ jawab Bibinya ─ Hyori memasukkan Corn fish yang baru ditangkap Suzy kedalam kuali lengkap dengan anak panah yang masih menempel disana.

“ Heei… heii… itu bahkan belum dibersihkan ! “ seru Suzy.

Tapi Hyori tak memperdulikannya, cairan abu-abu dalam kuali berubah menjadi warna keemasan, Hyori mengetukkan tongkatnya ke pinggir kuali dan cairan itu pun menjadi berpendar perak keemasan. Suzy masih mengernyitkan keningnya, tak tahu apa yang tengah dibuat Bibinya ini.

“ Sudah lama sekali aku tidak membuat ramuan ini… “ gumam Hyori mengaduk isi kuali, “ Ini adalah ramuan yang rumit, Kakakmu bahkan tak pernah sanggup membuatnya. “

“ Apa gunanya ? “ tanya Suzy penasaran.

“ Untuk membuat permintaan. “ jawab Hyori kalem.

Suzy tahu ada banyak ramuan ajaib yang bisa dibuat oleh para Penyihir seperti dirinya. Ramuan untuk awet muda, ramuan pembalik waktu, atau hal kecil seperti penumbuh rambut, atau penghilang lemak sekalipun. Tapi semakin mustahil efek yang diinginkan dari sebuah ramuan maka semakin rumit dan langka bahan yang diperlukan untuk membuatnya, bahkan memerlukan waktu puluhan tahun untuk membuatnya seperti ramuan pembalik waktu.

Tapi Suzy baru mendengar ada ramuan membuat permintaan, dilihat dari betapa berantakannya meja kerja Bibinya pasti dia sudah menyiapkan ini sejak lama.

“ Demi ini aku menghabiskan persediaan kuku naga kita dan untung saja aku tak perlu menyuruhmu mencari Lebah Peri karna aku mendapatkannya dari temanku di Pertemuan kemarin… “ Hyori mulai berceloteh.

“ Tapi untuk siapa ini ? “ tanya Suzy lagi, biasanya untuk ramuan selain obat Bibinya hanya membuatnya apabila ada pemesanan khusus.

“ Oh… kau benar ! Kau akan melakukan pengiriman khusus ini ke Dreamville. “ sahut Hyori.

“ Dreamville ?! Itu kan jauh sekali ! Lebih baik pakai jasa burung pengantar. “

“ Teman lamaku meminta ini, kau tahu ramuan ini sebenarnya sangat berbahaya ─ dia bisa saja meminta hal yang bisa menghancurkan dunia, menjadi raja, menjadi penguasa … yaah… hal-hal seperti itu… “

“ Kalau sudah tahu berbahaya kenapa kau membuatnya ? “ cibir Suzy, tapi dia tak perlu menunggu jawabannya. Uang yang diberikan pastilah sangat banyak ─ Hyori sangat gila uang ─ sehingga mampu menggoda Hyori untuk bekerja keras membuatnya.

“ Naah… maka dari itu aku ingin kau pergi untuk mengawasinya saat meminum ramuan ini dan membuatnya meminta hal sesuai perjanjian ─ “ Hyori memberikan botol kecil berisi cairan bewarna putih bening yang merupakan ramuan perjanjian, “ Suruh dia minum ini dulu… dia sudah berjanji kalau dia hanya akan meminta jadi abadi bukan hal yang lain. “

“ Ckk… suruh saja salah satu vampire untuk menggigitnya. “

“ Dia tidak ingin berwajah pucat selain itu dia takut pada darah. “ tukas Hyori.

“ Haaah… merepotkan sekali. “

“ Ramuan ini akan siap dua hari lagi, kau bisa pergi bersama kekasihmu seperti biasa kan ? “

Maksud Hyori dari kekasih ini pasti adalah Sehun.

“ Aku ragu kalau aku benar-benar bagian dari keluarga ini. “ gumam Suzy kesal. “ …dan Serigala bodoh itu bukan kekasihku ! “

Hyori bersenandung riang mengaduk isi kualinya mengabaikan protes sang keponakan, memikirkan kepingan emas bold yang dia dapat dengan ini.

.
.
.
.
.

Hutan Hunstville, menawarkan banyak keajaiban disana dengan berbagai mahkluk yang tinggal disana. Seperti misalnya kawanan Wolfrine yang menguasai hampir setengah dari hutan Hunstville untuk menjadi daerah teritori mereka.

Segerombolan pemuda topless baru saja datang dari berburu, terlihat dari beberapa ekor rusa mati yang mereka bawa.

“ Baumu sudah tercium dari kejauhan… “ sahut salah satu dari mereka─ Kai ─mengendus udara disekitarnya saat melihat sosok seorang Penyihir duduk di kursi kayu panjang beranda rumahnya.

“ Sepagi ini sudah mau berkencan dengan adik kami ? “ timpal yang satu lagi meletakkan rusa buruannya di halaman depan berdekatan dengan tumpukan kayu bakar yang belum di potong.

“ Diam kau Tao, kau juga masih kecil tahu apa he ? “ sahut Sehun muncul dari dalam rumah kayu dimana Suzy duduk menunggu hingga berlumut.

Suzy sekarang ada di kediaman Keluarga Sehun atau lebih tepatnya hutan kawasan Keluarga Sehun tinggal. Mereka tinggal di tengah hutan seperti kebanyakan Woflrine lainnya. Rumah mereka sangat unik terbuat dari kayu sepenuhnya, tampak sangat alami. Suzy paling menyukai halaman belakang kediaman ini, dimana ada gudang tempat penyimpanan makanan, dan dia juga menyukai kepala buruan yang diawetkan dan dijadikan hiasan di dinding kayu rumah.

Kedatangannya kali untuk menjemput Sehun karna mereka akan berangkat ke Dreamville hari ini, melakukan pengiriman ramuan.

“ Kau tidak ingin sarapan disini dulu ? Aku sudah membuat sup untukmu. “ seorang wanita cantik seusia Bibinya datang membawa panci berisi sup panas.

“ Tidak aku sudah sarapan tadi, terimakasih. “ tolak Suzy pada Ibu Sehun, dia adalah seorang Wolfrine tapi tentu saja dia tidak toplless seperti para putra dan suaminya. “ Oh ya… aku juga datang untuk membawa pesanan dari Paman. “ Suzy mengeluarkan beberapa botol ramuan obat.

“ Ibu… apa kau menyetujui punya menantu seorang Penyihir ? “ goda Kai sambil merangkulkan tangannya dipundak Suzy. “ Sehun sepertinya sudah siap untuk menikah. “

Baekhyun dan Tao sudah menahan tawa dibelakang punggung Ibunya.

“ Tentu saja, selama Suzy juga menyukainya. “ sahut Ibu Sehun riang.

“ Enak saja, yang aku mau itu Penyihir yang satu lagi ! “ ralat Sehun protes.

“ Maksudmu pasti Penyihir tua pembuat kereta diseberang sungai kan ? “ balas Suzy sengit sambil mengibaskan tangan Kai dari pundaknya.

“ Aku lebih memilih untuk menikah dengannya daripada harus dengan Penyihir tak berperasaan sepertimu kau tahu ?! “

“ Apa kau bilang ? Kemari kau sepertinya kau sudah bosan menjadi serigala. “ Suzy mengeluarkan tongkatnya.

“ Ayah belum pulang ? “ tanya Baekhyun mengabaikan pertengkaran bodoh keduanya.

“ Belum, perjalanan ke Selatan sangat jauh. Dimana Kris ? Dia tidak ikut berburu ? “ kata Ibunya. “ Tao coba kau bereskan gudang belakang ─ Lho ? Kemana bocah itu ? “

Tao sudah melesat kabur ke rumah pamannya yang tak jauh darisana, karna dia sudah menebak bahwa Sehun akan pergi maka pasti dialah yang akan disuruh membereskan gudang.

“ Kalau begitu kau bereskan dulu gudang sebelum para tetua datang. “ suruh Ibunya beralih pada kedua putranya yang tersisa.

“ Aah… tapi sayangnya, aku dan Kai ada keperluan ke Istana. “ sahut Baekhyun berkelit.

“ Heeii… pergi kemana kau ?! Cepat kemari ! “ teriak Suzy memanggil Sehun yang sudah berlari jauh menghindari amukan Suzy.

“ Ke Pelabuhan ! Kau mau kita ketinggalan kapal ?! “ balas Sehun setelah agak jauh dari Suzy.

“ Aiisshh… “ geram Suzy menghentakkan kakinya, “ Bibi… kami berangkat dulu, sampai jumpa ! “ sahut Suzy sebelum pergi meninggalkan kediaman Keluarga Sehun.

Ini akan jadi perjalanan panjang yang paling mengesalkan bagi Suzy.

.
.
.
.

To be continued~


Baby note

Halo…mian lama update😛

Jangan lupa commentnya~

22 responses to “Huntsville [Chapter 2]

  1. Kris sama Jessica pacaran? Tapi Sehun tetep kekeuh ngejar2 Jessica.
    Luhan suka sama Suzy ya?
    Mending Suzy sama Luhan aja daripada sama Sehun makan ati mulu lol
    Makin penasaran sama lanjutannya thor kkk
    Sukaaaaa^^

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s