[OS] Too Late

too-late

Title: Too Late| Author: Macchiato

Genre: Friendship, Sad, Romance | Rating: PG – 17 | Length: One Shot

Main Cast: Bae Sooji, Kim Myungsoo

Poster by Mutia.R @HSG

I don’t own anything besides the storyline

Myungsoo selalu menyukai Sooji. Bagaimana iris cokelat gadis itu menatapnya, bagaimana rona merah menjalar di pipinya, bagaimana matanya membentuk bulan sabit saat tersenyum, dan bagaimana aroma tubuhnya yang begitu menenangkan Myungsoo, orange dan cinnamon.

Myungsoo selalu menyukai Sooji. Bagaimana gadis itu selalu menggenggam tangannya dan bagaimana gadis itu menyatakan perasaannya padanya lagi dan lagi.

“Aku menyukaimu.”

Dan selalu, Myungsoo hanya tersenyum menjawabnya. Myungsoo tidak pernah menjawab pernyataan Sooji secara langsung.

Myungsoo hanya ingin mengabadikan setiap kata, setiap pernyataan Sooji dalam ingatannya, mematrinya dalam hati, menggaungkan ulang kalimat itu di dalam kepalanya.

Myungsoo tidak akan pernah menyangka bahwa dirinya tidak akan pernah bisa menjawab ungakapan perasaan Sooji. Tidak saat Sooji sudah pergi meninggalkannya.

***

Myungsoo dan Sooji menikmati indahmanya malam musim panas di halaman belakang rumah Sooji. Myungsoo menatap langit malam yang terlihat menakjubkan dengan taburan bintang. Di sebelahnya, Sooji seakan tertidur dengan mata terpejam dan tangan terentang merasakan lembutnya rerumputan yang menggelitik tangannya.

Myungsoo kemudia ikut menidurkan dirinya. Ikut memejamkan matanya.

Sama-samar mereka dapat mendengar suara-suara teriakan dari dalam rumah.

“Mereka bertengkar lagi, Soo.” Bisik Sooji pelan

Myungsoo membuka matanya. Kemudian menyadari bahwa Sooji juga telah membuka kedua matanya dan kini memiringkan tubuhnya, menghadap dirinya.

Myungsoo ikut memiringkan tubuhnya. Menghadap Sooji. Menjadikan siku kirinya menjadi tumpuan.

“Itu pertengkaran biasa, ini pasti berlalu, Sooji-ah.”

Sooji menghela nafas kemudia kembali tertidur telentang dan mengarahkan pandangannya pada langit malam.

Dan Myungsoo lagi-lagi mengikuti Sooji untuk melakukan hal yang sama.

“Mereka selalu bertengkar, Soo. Terus menerus. Bahkan karena hal sepele.”

“Ada hal-hal yang tidak bisa kita mengerti Sooji. Hal-hal yang tidak kita lihat. Hal-hal yang hanya kedua orang tuamu yang tahu. Aku yakin mereka akan menemui jalan keluarnya. Cepat atau lambat. Dan yakinlah, aku akan selalu di sisimu. ”

Myungsoo dapat melihat dari sudut matanya bahwa Sooji tersenyum tipis. Rona merah menjalar perlahan di pipinya.

“Kau tahu Soo, sepertinya aku menyukaimu.”

Myungsoo ikut tersenyum, “Aku tahu.”

Myungsoo berusia 15 tahun ketika mendengar pernyataan Sooji untuk pertama kalinya. Pernyataan yang akan berkali-kali diucapkannya kepada Myungsoo.

Myungsoo menatap bagaimana daun-daun yang berguguran. Myungsoo merapatkan jaketnya. Angin di penghujung musim gugur terasa menusuk tulangnya. Sejujurnya Myungsoo sangat malas ke luar rumah sore ini tapi sayangnya dia sudah berjanji untuk menemui temannya. Mengerjakan tugas kelompok mereka di perpustakaan kota.

Begitu memasuki gedung tua itu, Myungsoo merasakan tubuhnya yang merileks. Dengan segera matanya mencari temannya. Tak lama, Myungsoo menemukannya. Duduk di sudut ruangan dengan buku bertumpuk tinggi yang nyaris menutupi keberadaannya,

Mianhae, aku terlambat.”

Jung Soojung hanya tersenyum kecil kemudian mempersilahkan Myungsoo duduk.

Myungsoo memperhatikan bagaimana Soojung yang mengenakan coat berwarna cokelat muda. Bagaimana gadis itu menggunakan topi wol untuk menghangatkan telinganya. Bagaimana aroma strawberry menguar di sekelilingnya. Myungsoo tersenyum tipis. Tiba-tiba saja dirinya merindukan Sooji dan an aroma orange dan cinnamonnya yang menguar di sekelilingnya.

Myungsoo dan Soojung nyatanya terlarut dalam mengerjakan tugas mereka. Tidak menyadari bahwa senja telah lewat dan sang bulan sudah muncul.

Dan sialnya, hujan juga turun dengan tak tanggung, deras dan disertai angina yang cukup kencang.

“Kau bawa payung?” Tanya Myungsoo

Soojung menggeleng. Myungsoo menghela nafas, “Kuantar kau pulang.” Tak mungkin Myungsoo membiarkan seorang gadis pulang sendirian saat sudah malam dan juga hujan kan?

Soojung menatapnya, “Tidak merepotkan?”

Myungsoo tersenyum kecil, “Tidak sama sekali. Ayo”

Myungsoo tidak menyadari warna merah yang muncul di kedua pipi Soojung ketika tangannyanya menarik lengan gadis itu.

Begitu keluar dari gedung perpustakaan. Myungsoo terpaku. Dilihatnya seorang gadis sedang yang membelakangi dirinya, menghadap jalanan dengan tangan kanan memegang payung berwarna kuning dan menenteng payung lainnya yang berwarna hitam di tangan lainnya.

“Sooji!” teriak Myungsoo.

Gadis itu, yang tadinya menunduk memandangi tanah yang sedikit mulai becek mendongak ketika mendengar suara yang sangat dikenalnya. Namun senyumnya memupus ketika melihat tangan Myungsoo yang masih memegangi lengan Soojung.

Myungsoo melepaskan pegangannya pada Soojung kemudian dengan terburu-buru menarik Sooji, yang masih berdiri di tengah guyuran hujan, mendekat ke arahnya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Myungsoo begitu berhasil menarik Sooji ke bawah naungan canopy gedung perpustakaan.

“Menjemputmu.”

Alis Myungsoo terangkat.

“Aku tahu kau selalu lupa membawa payung karena itu aku mambawakannya untukmu.”

Senyum Myungsoo terkembang, “Gomawo.”

Sooji hany tersenyum tipis menanggapi, matanya masih memandangi gadis yang berada di belakang Myungsoo.

Myungsoo yang menyadari tatapan penasaran Sooji kemudian berdeham pelan.

“Sooji ini Soojung, teman sekelasku. Kami baru saja mengerjakan tugas sejarah bersama.”

Soojung mengelurkan tangannya yang diterima Sooji dengan ragu.

Soojung tersenyum kecil, “Annyeonghaseyo. Jung Soojung imnida.”

Sooji memandangi Soojung sebelum akhirnya menjawab, “Sooji.”

Sooji mengakui senyum Soojung yang menawan. Sooji merasa sangat iri melihat rambut Soojung yang panjang dan ikal bergelombang. Dan Sooji menyadari aroma strawberry Soojung.

Sooji lagi-lagi tersenyum tipis. Myungsoo suka strawberry dan Myungsoo mengidolakan gadis berambut panjang bergelombang.

“Sooji, aku akan mengantar Soojung terlebih dahulu ke halte. Kau bisa pulang duluan.”

Sooji menggeleng, “Tidak, aku ikut dengamu.”

Myungsoo mengangguk kemudian mulai membuka payung hitamnya dan menarik Soojung ke dekatnya.

Sooji memandangi semua itu dengan hampa.

Begitu bis Soojung tiba dan Myungsoo memastikan gadis itu sudah naik dan mendapatkan tempat duduknya, Myungsoo membalikkan tubuhnya menatap Sooji yang masih duduk di bangku halte. Gadis itu terlihat sibuk dengan pikirannya. Terbukti dengan Sooji yang tidak menyadari Myungsoo yang kini berdiri tepat di hadapannya.

“Kau kenapa?”

Diam. Myungsoo mengangkat sebelah alisnya kemudian mengulurkan tangan kanannya. Memindahlan beberapa helai rambut Sooji ke belakang telinganya.

“Sooji? Kau kenapa?”

Sooji sedikit terkejut melihat Myungsoo yang berdiri tepat di depannya entah sejak kapan. Seingatnya pria itu masih berdiri menemani Soojung menunggui bis.

“Sooj? Kau melamun.”

Sooji menghela nafas kemudian menatap Myungsoo tepat di manik matanya. Senyum kecil tersungging di bibirnya, “Aku menyukaimu, Soo.”

Myungsoo tersenyum lebar. Menikmati bagaimana iris cokelat Sooji seakan menembusnya dan menyukai bagaimana rona merah di pipi Sooji yang selalu muncul setiap Sooji menyatakan perasaannya. Lagi dan lagi. Tangannya kemudian menggenggam tangan Sooji yang mulai mendingin.

“Aku tahu itu. Kajja

Myungsoo tidak menyadari tatapan terluka Sooji dan bagaimana senyum sedih yang kemudian terukir di bibirnya.

Sooji memandangi Myungsoo yang masih berkutat dengan kameranya. Sooji menghela nafas.

“Kau sangat sibuk sekarang. Kau bahkan tidak pernah ke rumahku lagi.”

Mianhae, Sooji-ah. Kau tahu aku sibuk dengan festival sekolah dan kau pasti tahu kan club fotografi akan membuka stand? Aku tidak ingin acara ini gagal.”

“Apa kau bisa menemaniku ke toko buku besok sore? Aku ingin membeli kotak pensil. Kotak pensilku sudah jelek sekali, Soo“

Myungsoo menatap Sooji dengan pandangan tidak enak. Sooji yang menyadari pandangan Myungsoo bersidekap kemudian balik memandangi Myungsoo.

Wae? Kau tidak bisa?”

Jeongmal mianhae, Sooj. Aku sudah ada janji dengan Soojung. Dia memintaku mengajarinya mengambil foto dengan angle yang bagus.”

Sooji menghela nafas, menunduk memandangi cangkir tehnya  kemudian mengaduknya perlahan. Lagi-lagi Soojung.

“Sooj?” Myungsoo memandangi gadis di depannya lekat-lekat. Myungsoo merasa bersalah melihat Sooji yang terlihat sangat kecewa. Tapi mau bagaimana lagi, dirinya sudah terlebih dulu janji dengan Soojung.

“Sooj?”

Perasaan Myungsoo mulai was-was begitu Sooji tidak juga menjawab panggilannya yang kedua. Myungsoo menyadari bahwa Sooji sangat jarang marah padanya dan seringnya Sooji yang mengalah. Kekananakan memang tapi nyatanya Myungsoo menyukai bagaimana Sooji yang terang-terangan menunjukkan hatinya padanya meskipun Myungsoo tidak menjawabnya. Bukan, bukan tidak menjawab. Tapi belum, Myungsoo merasa ini belum saatnya.

Tangan Myungsoo terulur kemudian mengangkat dagu Sooji dengan jari-jarinya. Ditatapnya lekat iris cokelat gadis itu.

Mianhae Sooj. Jeongmal Mianha. Aku akan menebusnya, yagsog.”

Sooji memejamkan matanya.

“Kau tahu aku menyukaimu kan, Soo?”

Senyum Myungsoo perlahan terkembang. Tangannya kemudian bergerak menuju puncak kepala Sooji dan mengacak rambut gadis itu perlahan.

“Tentu saja aku tahu, Bae Sooji.”

Sooji menyandarkan kepalanya di bahu Myungsoo. Mereka berdua duduk di ujung tempat tidur Myungsoo. Mata Sooji membengkak karena dirinya baru saja menangis. Kedua orangtuanya kembali bertengkar dan kali ini benar-benar pertengkaran yang hebat. Sooji tidak tahu harus berbuat apa.

Dengan sabar Myungsoo mengelus punggung gadis itu agar gadis itu tenang.

Drrttttt drrttttt drttttttt

Handphone Myungsoo yang tergeletak di atas meja bergetar.

Drrttttt drrttttt drttttttt

Drrttttt drrttttt drttttttt

Sooji menegakkan tubuhnya, dengan kasar diusapnya wajahnya untuk menghapus jejak air matanya. “Angkatlah.”

Myungsoo menatapanya, “Tidak. Nanti saja. Sekarang kau yang memerlukan aku.”

Drrttttt drrttttt drttttttt

Drrttttt drrttttt drttttttt

“Angkatlah. Sepertinya penting.”

Myungsoo menghela nafas, tangannya kemudian terulur mengelus pipi Sooji lembut.

“Tidak apa?”

Sooji tersenyum tipis kemudian mengangguk.

Yeoboseyo…”

Sooji memperhatikan bagaimana Myungsoo mengangkat telfonnya. Sooji mengawasi bagaimana Myungsoo yang memelankan volume suaranya dan mencuri-curi pandang ke arahnya. Myungsoo kemudian bangkit dan menjelajahi kamarnya seakan mencari-cari sesuatu hingga akhirnya Myungsoo berseru pada telfonnya sambil mengangkat sebuah buku.

Setelah menutup pembicaraannya, Myungsoo kembali menghampiri Sooji dan duduk di kembali di sebelahnya. Tangannya kemudian menarik kepala Sooji agar kembali bersandar di bahunya dan kembali memeluknya.

Nugu?” Tanya Sooji. Jari telunjuknya bergerak di dada bidang Myungsoo seakan menggambar lingkaran-lingkaran kecil.

“Soojung. Dia mau meminjam buku soal fotografi. Sepertinya dia jadi keranjingan memotret karena berteman denganku.”

Bibir Sooji mendadak kelu mendengar ucapan Myungsoo. Soojung Untuk kesekian kalinya. Ditegakkan lagi duduknya dan dipandanginya Myungsoo dengan seksama.

Dengan gerakan lambat digenggamnya tangan Myungsoo.

“Soo-ya, aku menyukaimu.”

Myungsoo tersenyum kemudian mengelus punggung tangan Sooji yang sedang menggenggam tangannya.

“Aku tahu, Sooji. Aku tahu.”

Tapi Myungsoo tidak pernah tahu bahwa Sooji ingin mendengar kalimat yang sama darinya.

“Jongin menyatakan perasaanya padaku. Bagiamana menurutmu?”

Sooji dapat melihat sekilas rasa cemburu yang menghampiri wajah Myungsoo.

“Ini bukan soalku, Sooj. Ini soal kau. Jadi, bagaimana menurutmu?”

Sooji menghela nafas, Sooji benar-benar ingin mendengarnya walau sekali saja, bagaimana perasaan Myungsoo padanya.

“Aku hanya menyukaimu, kau tahu kan?”

Sooji bisa melihat wajah Myungsoo yang kembali bersinar ketika pria menjulurkan tangannya dan memindahkan sejumput rambut Sooji kebelakang telinganya.

“Tentu saja aku tahu, Sooji.”

Dan tidak, Sooji tidak mendengarnya. Tidak untuk kali ini.

“Kau benar-benar sibuk sekarang.”

Mianhae. Aku benar-benar ingin melanjutkan ke Yonsei Unversity. Oleh karena itu aku harus belajar dengan keras di kelas tiga ini.”

Sooji meneguk cokelatnya kemudian menatap Myungsoo dalam.

“Tapi itu di Seoul.”

Myungsoo menghela nafas, “Kau yakin kau tidak ingin melanjutkan kuliah? Kita bisa ke Seoul bersama Sooji.”

Sooji menggeleng, “Ani, aku ingin tetap di sini. Di Gwangju. Aku… ingin tetap bersama oemma dan appa.”

Myungsoo mengangguk. Myungsoo mengerti bagaimana rasa saying Sooji pada orang tuanya, Meskipun sepertinya orang tua Sooji terlalu sibuk untuk memperhatikan putri mereka.

“Kau yakin akan tetap ke Seoul?” Tanya Sooji balik.

Myungsoo tertawa, “Hey itu cita-cita ku, nona Bae.”

Sooji tersenyum tipis, “Tapi Seoul….. cukup jauh”

Myungsoo tersenyum kecil kemudian mengacak rambut Sooji.

“Seoul tidak sejauh itu, Sooji-ah. Aku bisa pulang sebulan sekali bahkan seminggu sekali kalau perlu.”

Sooji menghela nafas kemudian menarik tangan Myungsoo yang masih berada di puncak kepalanya dan menggenggamnya.

“Aku menyukaimu, Soo.”

Myungsoo tersenyum dan balas menggenggam tangan Sooji lebih erat.

Nan arra..”

Sooji mengusap rambut Myungsoo perlahan, melihat pria itu tertidur dengan kepala menempel di atas meja dan buku-buku soal terbuka lebar di depannya.

Sooji kemudian berjongkonk dan mensejajarkan wajahnya dengan Myungsoo. “Hei Soo, aku menyukaimu.” Bisik Sooji di telinga Myungsoo.

Mata Myungsoo terbuka perlahan dan menangkap iris cokelat yang sedang menatapnya. Iris cokelat kesukaannya. Senyum tipis tersungging di bibirnya.

Arra..” jawab Myungsoo serak sambil menarik Sooji dalam dekapannya. Tidak peduli posisis mereka yang sangat ganjil dan tidak nyaman.

Sooji memejamkan matanya. Merapatkan tubuhnya dalam dekapan Myungsoo. Sooji ingin mendengarnya sekali saja.

“Happy birthday, Sooji! Saengil chukka Bae Sooji!” Myungsoo berteriak dan menyerbu memasuki kamar Sooji.

Myungsoo menunduk kemudian mengecup pipi Sooji sekilas. Diletakkannya red velvet kesukaan Sooji di atas meja belajar gadis itu.

Sooji tersenyum kecil kemudian menggapai tangan Myungsoo.

“Aku menyukaimu.”

Myungsoo tertawa, “Aku tahu. Jadi, siap untuk memotong kuenya?”

Sooji menggigit bibir bawahnya. Lagi-lagi Myungsoo tidak menjawabnya.

Sooji melempar bola saljunya pada Myungsoo. Ini entah musim dingin ke berapa yang mereka lalui bersama. Mereka sudah bersahabat sejak mereka balita atau setidaknya begitulah ingatan Sooji.

“Soo, aku menyukaimu!” teriak Sooji dengan suara serak sambil melemparakan bola salju pada Myungsoo.

Myungsoo tertawa dan mencari tempat berlindung. “Nan arra, nona Bae..”

Tidak menyadari Sooji yang terisak kecil melihat Myungsoo yang berlari menjauh.

“Kau dari mana saja?” Tanya Sooji begitu Myungsoo memasuki kamarnya. Lagi-lagi matanya bengkak karena pertengkaran orang tuanya.

“Aku baru menemani Soojung membeli kado untuk kakaknya, wae? Ibuku bilang kau sudah menungguku dari tadi.”

Myungsoo menyadari keadaan Sooji yang berantakan kemudian mendekat gadis itu. Tangannya terjulur kemudian menangkup wajah gadis itu yang terlihat pucat.

“Sooj, kau kenapa?”

Sooji menggigit bibir bawahnya berusaha menahan isakannya.

Gadis itu kemudian menepis tangan Myungsoo dan meraih mantelnya yang tadinya tergeletak di atas tempat tidur.

Tangannya meraih kenop pintu sebelum kemudian berbalik sebentar kembali menghadap Myungsoo.

“Soo, kau tahu aku menyukaimu, kan?”

Myungsoo menatap Sooji bingung, “Iya, aku tahu. Ada apa Sooj? Kau bisa bercerita padaku”

Sooji tersenyum miris kemudia berlalu, meninggalkan Myungsoo yang memanggil-manggil namanya tak peduli Myungsoo yang mengejarnya.

Kali ini Sooji menangis. Dirinya sudah terlalu lelah.

Semakin mendekati ujian masuk universitas, intensitas pertemuan Myungsoo dan Sooji semakin sedikit. Myungsoo tidak menyadari kantung mata yang semakin menebal di bawah mata Sooji, pipi gadis itu yang semakin tirus, dan Sooji yang kehilangan berat badannya.

Yang Myungsoo tahu, perasaan Sooji padanya tetap sama. Pernyataan Sooji padanya selalu sama. Pernyataan yang selalu membuatnya berbunga-bunga. Pernyataan yang dia simpan baik-baik di hati dan pikirannya. Myungsoo berjanji pada dirinya sendiri akan ada waktunya Myungsoo mengatakan hal itu kepada Sooji. Tapi bukan sekarang. Myungsoo akan mengatakannya ketika Myungsoo sudah menjadi seorang yang dapat membuat Sooji bangga. Sooji selau berharap Myungsoo menjadi seorang dokter. Dan Myungsoo berjanji ketika dirinya diterima di Yonsei dan menjadi mahasiswa kedokteran, dirinya akan menyatakan perasaannya pada Sooji. Myungsoo akan membalas kaliamat Sooji lebih banyak dari yang gadis itu pernah ucapkan. Tapi bukan sekarang, bukan. Belum saatnya.

Hari ini adalah hari penentuan. Hari ujian masuk universitas dilaksanakan.

Drttt drrrttttt drtttt

Myungsoo memandangi handphonenya yang bergetar. Sooji.

Senyum terkembang di sudut bibirnya.

“Hey Soo. Semangat untuk tesnya”

Myungsoo mengangguk namun begitu menyadari bahwa Sooji tidak akan bisa melihatnya, Myungsoo berdeham pelan

Gomawo, Sooji-ah. Jeongmal gomawo.”

Myungsoo dapat mendengar tawa Sooji yang menurutnya terdengar sedikit ganjil.

“Kau pasti bisa, Soo. Yonsei milikmu.”

Kini giliran Myungsoo yang tertawa. “Kau benar sekali nona Bae. Yonsei milikku.”

Myungsoo kemudian mendengar helaan nafas di seberang telfon.

“Hei Soo, aku menyukaimu.”

Myungsoo kembali tersenyum lebar. “Arra, Sooj. Aku tahu kau selalu menyukaiku.”

Hening.

“Kau tidak ingin mengatakan hal lain, Soo?” Myungsoo yakin suara Sooji bergetar.

Myungsoo menggigit bibirnya, tentu saja dia tahu apa yang sebenarnya Sooji maksud, “Apa lagi yang harus kukatakan Sooji-ah?”

Begitu telfon ditutup, Myungsoo memandangi handphonenya dan menghela nafas. Sebentar lagi Sooj, Aku akan mengatakan hal yang sama padamu.

Myungsoo tidak tahu itu adalah saat terakhir dirinya mendengar pernyataan Sooji. Bukan. Itu adalah saat terakhir Myungsoo mendengar suara Sooji.

­—

Myungsoo menatap surat ditangannya dengan takjub. Surat penerimaan mahasiswa dari Yonsei. Dengan cepat Myungsoo meraih jaketnya. Dia harus bertemu Sooji sekarang.

“Bu, aku ke tempat Sooji dulu! Aku diterima Yonsei, bu! Yonsei!”

Nyonya Kim tersenyum kecil melihat putranya yang melompat-lompat dan kemudian memakai sepatunya dengan asal.

Geurae. Chukkae. Sampaikan salam ibu pada Sooji.”

Myungsoo tersenyum kecil sebelum akhirnya membanting pintu di belakangnya.

Myungsoo mempercepat larinya. Rumanhnya dan rumah Sooji memang hanya berbeda satu blok. Selama perjalanan senyum tak pernah lepas dari bibirnya.

Langkahnya memelan begitu melihat mobil polisi dan ambulans yang terparkir di depan rumah Sooji.

Myungsoo menahan nafasnya begitu melihat nyonya Bae dan Tuan Bae yang menangis di depan rumah mereka.

Nyonya Bae yang melihat kedatangan Myungsoo menangis semakin kencang.

Kaki Myungsoo sedikit gemetar. Ada apa sebenarnya?

Ommeoni, ada apa? Sooji oeddiyeyo? Aku ingin bertemu dengannya.” Ucap Myungsoo tersendat.

Tangis Nyonya Bae mengencang.

“Salahku..ini salahku.. Sooji pergi salahku.” Isak Nyonya Bae

Tuan Bae memeluknya, berusaha menahan tangisnya dan berusaha menenangkan istrinya. “Ini juga salahku. Ini salah kita.”

Myungsoo memandang mereka dengan heran, ketakutan mulai muncul di kepalanya.

“Ada apa? Oemmoni, abhonim? Sooji oeddiyeyo?”

Kemudian Myungsoo melihatnya. Melihat tandu yang tertutupi selembar kain putih lewat dihadapannya.

Myungsoo berubah kaku. Rasa takut benar-benar menyerangnya saat ini.

“Katakan ini tidak benar. Katakan ini bohong. Oemmoni katakan padaku di mana Sooji!” Myungsoo memekik histeris, berusaha tidak memedulikan tandu yang dibawa memasuki ambulans.

“Sooji pergi, Myungsoo-ya! Sooji pergi! Sooji meninggalkan kita!” Pekik nyonya Bae tak kalah histeris.

Dan dunia Myungsoo serasa runtuh saat itu juga.

Myungsoo menatap gundukan tanah di depannya dengan sendu.

Sooji bunuh diri, Myungsoo. Putriku bunuh diri. Di rumahku sendiri. Karenaku sendiri. Aku terlalu sibuk dengan duniaku. Terlalu sibuk bertengkar dengan suamiku. Terlalu sibuk hingga tidak menyadari bahwa putriku, putri kami,  juga terluka.

Myungsoo menghela nafasnya. Dirinya kemudian mendudukkan dirinya di sebelah makam Sooji.

Annyeong, Sooji. Mianhae baru mengunjungimu.”

Myungsoo membelai nisan Sooji perlahan. “Kepergianmu benar-benar mengejutkanku, kau tahu. Aku..”

Myungsoo menghelas nafasnya lagi. Berusaha menahan sakit yang lagi-lagi datang di dadanya,

“Aku… tak pernah berhenti menyalahkan diriku sendiri Sooji-ah. Bagaimana bisa aku tidak menyadari keadaanmu. Bagaimana bisa aku tidak berada disampingmu saat kau sedih. Aku mengingkari janjiku sendiri, geutchi?”

Buliran air mata mengalir pada kedua pipi Myungsoo.

Bogoshippeo, Sooji-ah. Jeongmal bogoshippeo. Aku merindukan senyummu. Aku merindukan binar di matamu. Aku merindukan aroma orange dan cinnamonmu. Aku merindukan… pernyataanmu.”

Myungsoo mengigit bibir bawahnya, berusaha menahan isakannya semakin keras. Dipukulnya perlahan dadanya sendiri.

“Aku bodoh, geutchi? Tak pernah membalas pernyataanmu? Aku bodoh. Nan jeongmal pabo saram. Kau pasti terluka. Mianhae. Jeonngmal Mianhae. Aku menyesal tidak mengatakannya lebih cepat. Na do, Sooji-ah. Na do jhoahae, ani… Nan neol saranghae… Jeongmal saranghae”

-FIN-

Mian for any typos or anything

Drop comment yaa

Gomawo :3

Mian for any typos or anything

Drop comment yaa

Gomawo :3

46 responses to “[OS] Too Late

  1. duh bener2 g bisa ditahan ni airmata duh uri suzy kasian bgt deh..!!genre sad bener2 jjang thor moga ttp semangat nulis genre yg lebih waw lg

  2. nyesek bnget ,, smpe nangis aku bca ff ini ..
    myung knpa ga lngsung bles ajaa sih ,, ga perlu harus banggain suzy dlu bru nerima cinta x ..
    udah tau suzy lg sedih karna ornk tua x brtengkar trus ,, knpa dia ga nxemangati suzy sih ,, wlaupun dia slalu di smping suzy , tp ynk suzy mau itu myung bles prasaan x , agar dia smngat untuk mnjalani hdup x ….

  3. Nyesek banget ngebacanya, Myungsoo trlalu sbuk sih jdinya suzy mrasa sndiriankan.. Banjir air mata ngebacanya😥

  4. Ya ampun ff ini sukses buat aku mewwk sejadi-jadinya, gk tau kenapa kek sedih banget sama nyesek pas suez bilang dia suka myung, tapi tak satu pun dari pernytaan suez yg dijawab ama myung. Aku sampe bingung mau koment apa, gk bisa ngomong apa”…ikutan sedih baca ff ini. Heh…andai sekali saja myung balas ungkapan suez pasti suez gk akan berakhir bunuh diri, suez yg rapuh dan selalu bergantung sama myung…

  5. Pingback: Too Late | Splashed Colors & Scattered Words·

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s