[Freelance] We Are Not King and Queen Chapter 4

Title : We Are Not King and Queen | Author : kawaiine | Genre : Historical, Marriage-Life, Romance | Rating : PG-17 Main Cast : Bae Soo Ji as Queen Soo Ji,Kim Myungsoo as Kim Myung Soo | Other Cast : Kim Do Yeon as Hee Bin (Selir Tk.1), Lee Min Ho

“This plot and story is pure from my mind. Sorry for typos, don’t be a siders and plagiator. Happy reading :*”

***

Author POV
5 bulan setelah kematian Dayang Yin…
Matahari menampakkan sinarnya, kicau burung saling bersahutan, Soo Ji tengah berdandan di kamarnya. Ia menatap dirinya dalam sebuah cermin kecil,senyum manis menghiasi wajah cantiknya. Dengan balutan dangui berwarna kuning dan chima berwarna merah. Selanjutnya ia bangkit dari tempat duduknya dibantu oleh Jo Sanggung.

Mama,kehamilan anda sekarang menginjak usia ketujuh. Aku harap kau tidak berjalan-jalan keluar istana lagi.”

“Aku hanya ingin melihat perpustakaan. Jo Sanggung, aku ingin berjalan-jalan keluar.” Jo Sanggung tersenyum dan menggelengkan kepala.

“Tetapi anda berjalan-jalan sendirian. Tanpa—“ Jo Sanggung kemudian menutup mulutnya.

“Tanpa Yang Mulia?” tanya Soo Ji, masih dengan senyum yang mengembang.

“Dia sedang sibuk di perbatasan provinsi selatan. Aku juga tak mungkin memaksanya untuk pulang dan berjalan-jalan denganku. Bagaimana jika kau yang menemaniku Jo Sanggung ?”

“Y—Ya, aku pasti akan menemani anda kemanapun anda pergi Mama.”
Soo Ji melangkahkan kakinya keluar istana, dilihatnya Kim Suk-Won yang tengah berjalan-jalan juga. Kim Suk-Won menundukkan kepalanya tepat di hadapan Soo Ji. Soo Ji hanya tersenyum.

Jungjeon Mama, kandungan Anda sudah masuk di usia ke tujuh. Anda sebaiknya jangan terlalu kelelahan.” ujar Kim Suk-Won, Soo Ji hanya tersenyum.

—-0000—-
Soo Ji dan Kim Suk-Won kini berada di paviliun kamar Soo Ji. Soo Ji menuangkan teh kedalam gelas kecil untuk di sajikan kepada Kim Suk-Won, tak lupa dengan kudapan lainnya.

Mama, seharusnya anda tak perlu repot-repot menuangkan teh ini kepadaku.”

“Aku tidak merasa di repotkan. Kau adalah yang ku ajak masuk kesini, bukan? Bagaimana kandunganmu?” tanya Soo Ji.

“Kandunganku baik-baik saja,bagaimana dengan kandunganmu Mama?

“Sangat baik sekali. Tetapi aku kesulitan jika akan bangkit berdiri. Bayiku sangat berat sepertinya. Ia selalu menendang perutku, terkadang jika aku tertidur aku terbangun ketika merasakan tendangannya. Yang Mulia pasti sangat senang mendengar pertumbuhan bayi-bayi kita yang sehat.” Kim Suk-Won hanya tersenyum. Tapi, tiba-tiba Jo Sanggung mengumumkan bahwa Yang Mulia Raja sudah berada diluar hendak masuk kedalam paviliun kamar Soo Ji, membuat senyum Kim Suk-Won semakin melebar. Myungsoo melangkahkan kakinya memasuki kamar Soo Ji dengan wajah yang ceria.

“Soo Ji-ah, Soo Ji-ah… Aku sangat merindukanmu. Aish, 3 bulan berpisah denganmu membuatku—“
Myungsoo menghentikan kalimatnya, dilihatnya Kim Suk-Won yang sedang berada bersama Soo Ji. Membuat wajah ceria nya kembali pada wajah dingin.

“Oh, kau berada disini rupanya.” ujar Myungsoo, Kim Suk-Won dan Soo Ji menundukkan kepala memberi hormat pada Myungsoo. Kim Suk-Won hanya membalasnya dengan senyuman.

Cheona, kau pulang hari ini? Aku tak tahu bahwa kau akan pulang. Aku sedang membicarakan tentang anak-anak kami. Mereka sangat sehat dan aktif.” ujar Soo Ji, Myungsoo hanya tersenyum. Ia mendekatkan dirinya pada Soo Ji. Sementara Kim Suk-Won merasa ini bukan yang seharusnya ia lihat.

Mama, aku akan pergi ke kamarku. Terimakasih atas makanan dan teh ini.” Soo Ji tersenyum bingung.

“Kau jangan pergi dahulu, Kim Suk-Won, ada yang harus aku bicarakan dengan kalian berdua.” ujar Myungsoo. Soo Ji menatap Myungsoo.

“Tugasku di Provinsi Selatan kemungkinan akan memakan waktu sekitar 5 bulan lagi. Dan selama 5 bulan disana aku tidak akan pulang. Aku akan menetap disana.” Soo Ji dan Kim Suk-Won yang duduk berdampingan menatap Myungsoo dengan serius.

“Baiklah. Harap jaga kesehatan Anda Yang Mulia.” ujar Soo Ji. Myungsoo hanya tersenyum hangat. Kim Suk-Won hanya menatap tatapan Myungsoo yang mengarah pada mata Soo Ji. Membuatnya semakin muak, ya… andai saja ia yang mengatakan itu tadi.

Kim Suk-Won dengan dayang-dayangnya meninggalkan paviliun kamar Soo Ji. Soo Ji kini berada di dalam bersama Myungsoo. Myungsoo menarik tangan Soo Ji yang sedang berdiri untuk segera duduk, tak lama kemudian Myungsoo meletakkan kepalanya di sebelah paha Soo Ji, tubuhnya dibiarkan terlentang. Tangannya terulur mengusap pipi Soo Ji. Tangan Soo Ji juga terulur memijat pelan kepala Myungsoo.

“Aku sangat-sangat-sangat merindukanmu.” ujar Myungsoo, matanya terpejam menemukan kenyamanan berada di pangkuan Soo Ji.

“Bagaimana jika aku tidak merindukanmu?” jawaban dari mulut Soo Ji mampu membuat Myungsoo refleks membuka matanya dan bangkit dari tidurnya.
,
“Bagaimana mungkin kau mengatakan hal mengerikan seperti itu?” sahut Myungsoo Soo Ji hanya tertawa kecil.

“Bagaimana mungkin aku berbohong seperti itu, Cheona.” Myungsoo kemudian mengukir senyumannya. Dengan cepat ia menangkup wajah Soo Ji dengan tangannya. Soo Ji kebingungan dibuatnya, tak lama kemudian Myungsoo mendaratkan ciumannya di bibir Soo Ji berkali-kali. Myungsoo pun menghentikan aksinya seketika Soo Ji mengusap perutnya.

“Dia bergerak, dia menendang perutku!” Myungsoo tertawa riang bersama Soo Ji. Myungsoo kemudian mendaratkan telapak tangannya di perut Soo Ji yang tertutup oleh Dangui. Myungsoo tersenyum dan tertawa.

“Kau pasti suka jika Abeoji mencium Eommoni. Hingga kau bergerak seperti ini. Pergerakanmu sangat cepat, Wonja.” Soo Ji menatap Myungsoo.

Wonja?” tanya Soo Ji.

“Aku sangat bisa merasakan bahwa ia seorang laki-laki. Dan ia adalah Wonja. Wonja milik kita.”  Soo Ji hanya tersenyum.

Cheona, tentang kematian Dayang Yin…” Myungsoo yang sedang asyik bermain dengan bayi di perut Soo Ji lalu menengadahkan kepalanya menatap Soo Ji.

“Wae? Apakah ada perkembangan lain?”

[FLASHBACK]
2 Hari setelah penaikan tingkat Selir. Kim Suk-Won
Seorang pria memasuki paviliun kamar Myungsoo, disana sudah ada Soo Ji dan Myungsoo yang sedang terduduk menunggunya. Di belakangnya tepat Jo Sanggung dan Kasim Chun juga kepala biro penyelidik kerajaan.Mereka semua memberi hormat kepada Soo Ji dan Myungsoo.

Cheona, Jungjeon Mama, dia adalah Cho Tae… Cho Tae merupakan kekasih Dayang Yin. Dayang yang berasal dari bagian dapur. Dayang Yin memang sudah senior di bandingkan dayang lainnya termasuk dayang Kim, maksudku Kim Suk-Won.”

“Baiklah, apakah Dayang Yin mengatakan sesuatu pada saat ia akan meninggalkan istana?” tanya Soo Ji pada Ra Jeo Sook, Kepala Biro Penyelidik Kerajaan.
“Ia hanya mengatakan bahwa ia berada disana saat Cheona  tidur bersama Kim Suk-Won. Ia hendak mengatakan lebih sepertinya namun gerak geriknya seperti tengah terancam. Ia gelisah dan melihat kekanan kekiri. Ia datang  ke rumahku, bukan ke kantorku. Sepertinya ia hendak mengatakan sesuatu yang banyak.” ujar Ra Jeo Sook. Myungsoo dan Soo Ji mengangguk mengerti.

“Kapan kau terakhir kali bertemu dengan Dayang Yin?” tanya Myungsoo pada Cho Tae.

“3 Bulan yang lalu, itu mungkin terakhir aku menemuinya. Aku harus melakukan suatu pekerjaan di perbatasan. Aku pulang 3 bulan sekali, dan pada saat itu aku menemuinya. Ia sangat ceria seperti biasanya. Tapi, kemarin aku mengunjunginya… Ia tampak sangat kacau. Ia tak mau bertemu siapapun.” jawab Cho Tae.

Mama, aku sudah melihat keadaannya dan ia tampak mengkhawatirkan. Aku merasa iba melihatnya.” ujar Jo Sanggung,

“Aku yakin Dayang Yin mengetahui sesuatu. Ia menyembunyikannya, mungkin dibawah tekanan dari orang lain. Ia begitu terpukul.” ujar Ra Jeo Sook.

“Kau harus mengunjunginya besok pagi, kau harus membuatnya mengatakan apa yang terjadi sebenarnya. Ia satu-satunya jawaban dari setiap permohonan kita.” ujar Myungsoo.

Malam hari tiba, tepatnya ini sudah tengah malam. Ra Jeo Sook dan Cho Tae berlari dengan cepat berbalut perasaan yang tak menentu. Ia berlari menuju paviliun kamar Yang Mulia Raja, Soo Ji yang mengetahui dari Jo Sanggung segera mengenakan Dangui dan Chima untuk menutupi hanbok putihnya. Dengan langkah cepat Soo Ji menuju paviliun kamar Myungsoo, di iringi dengan Jo Sanggung  dan dayang-dayang lainnya.

“Apa yang terjadi?” Soo Ji melangkah masuk kedalam, ia melihat raut frustasi dari wajah Myungsoo, begitupun wajah Kepala Biro Penyelidikan Ra Jeo Sook, dan ia melihat kesedihan di wajah Cho Tae. Ia kemudian menghampiri Myungsoo.

“Dayang Yin ditemukan meninggal dunia, Soo Ji-ah…” Soo Ji menutup mulutnya, tangannya sedikit bergetar, begitu pula dengan Jo Sanggung.

“Mayatnya di temukan di sekitar sungai. Seseorang pasti sengaja melakukan ini.” ujar Ra Jeo Sook.

“Apa yang harus aku lakukan? Aku bahkan belum sempat menikahinya, janjiku yang kubuat dengan hatiku sendiri.” ujar Cho Tae, Soo Ji dan seisi ruangan hanya menatapnya penuh kesedihan.

—-0000—-

Soo Ji melangkahkan kakinya keluar dari bagian Jimbang (Area Menjahit Kerajaan). Ia baru saja membuat sebuah pakaian. Dayang-dayang bagian Jimbang maupun bagian dapur kini seolah tak ada sekat sedikitpun untuk bertegur sapa dengan Soo Ji. Tapi, hal ini tak membuat mereka kehilangan rasa hormat untuk Soo Ji. Soo Ji kini berada di bagian dapur untuk memasak makan siang, makan siang besar hari ini akan di adakan di istana. Namun, hanya kalangan wanita saja, tentunya Soo Ji dan Dayang-dayang pekerja istana, sebetulnya Soo Ji juga ingin mengundang rakyat-rakyat di rumah penampungannya, namun ini adalah suatu hal mustahil. Tapi tak membuat ide itu hilang begitu saja karena kata mustahil.

Kim Suk-Won tengah memakan ikan sebagai santapan makan siangnya dengan semangkuk nasi di mejanya, ia tersedak dan memuntahkan makanan yang mengisi tenggorokannya.

“Han Sanggung,siapa yang berani menghidangkan makanan ini untukku? Apakah mereka ingin meracuniku?” Han Sanggung hanya menunduk.

“Antar aku kesana sekarang juga, aku akan membuat perhitungan pada Dayang-dayang di area dapur istana.” Kim Suk-Won kini beranjak dari tempat duduknya, ia dengan angkuhnya melangkah ke area dapur istana, tak lupa dengan dayang-dayang yang mengiringinya. Jika seorang pemimpin adalah seseorang yang memiliki kepribadian buruk, tak heran jika suatu saat perlahan kepribadian itu mulai turun kepada bawahannya. Kim Suk-Won dengan kemarahan di wajahnya masuk kedalam area dapur istana, disana para dayang sedang tertawa. Kim Suk-Won yang melihatnya semakin kesal. Rupanya ia tak tahu yang berada di samping dayang-dayang tersebut, keberadan Ratu Soo sedikit terhalang karena banyaknya Dayang dapur yang berada di hadapannya.

Suk-Won Mama.” ujar Kepala Dayang Dam.

“Kepala Dayang Dam, aku memakan ikan ini. Dan ikannya tidak enak, bawang yang di tuangkan kurang banyak, dan duri ikan tersebut mengganggu. Sangat mengganggu. Kau harus memasak dengan benar agar tak mengecewakan orang lain yang memakannya.” Ratu Soo yang merasa gerah dengan perkataan Kim Suk-Won kini berdiri, membuat seisi ruangan dapur mencekam.Suk Won yang naik darah seketika merasa amat malu melihat siapa yang berdiri dan menghampirinya. Ia kemudian menundukkan kepalanya memberi hormat pada Ratu Soo.

“Apa yang membawamu kesini Suk Won? Apakah kau memprotes masakan dari bagian dapur?” tanya Ratu Soo.

“Ya, makanannya sangat mengecewakan. Aku tidak dapat mencernanya dengan baik. Bagaimana jika sesuatu terjadi pada anakku.” ujar Suk Won dengan mengusap perutnya. Soo Ji hanya tersenyum simpul.

“Maafkan lah dayang-dayang disini. Kami menghabiskan banyak bawang untuk makan siang hari ini. Karena kami akan makan siang bersama-sama. Mungkin kau bisa juga ikut, kami memasak sangat banyak dan itu mungkin bisa menghapuskan rasa kesalmu.” ujar Soo Ji, dayang-dayang di bagian dapur terlihat senang karena Soo Ji membela mereka.

“Aku ada sedikit urusan. Sepertinya aku tak bisa.” ujar Kim Suk-Won, ia lalu meninggalkan dapur istana, semua dayang dapur hanya mencibirnya, bagaimana mereka tak akan mencibir dayang jahat dan menyebalkan seperti Kim Suk-Won.

Mama, anda benar-benar membuat dia mati di tempatnya.” ujar Jo Sanggung dengan sedikit tawa, Soo Ji hanya tersenyum, selanjutnya ia kembali memasak dengan dayang-dayang bagian dapur, setelah selesai Soo Ji menyiapkan semuanya untuk makan siang bersama para pelayan kerajaan. Mereka makan di aula kerajaan, dengan penuh canda dan tawa, mereka sangat senang memiliki ratu seperti Soo Ji.

Soo Ji keluar dari paviliun kamarnya, ia sudah memakai baju biasa, bukan dangui dari kerajaan. Para penghuni kerajaan tahu bahwa Soo Ji akan keluar siang ini. Sebelum Soo Ji keluar istana, Soo Ji dan Myungsoo yang berada di sampingnya mengunjungi daerah Woogak, tempat para berkumpul dan belajar para sarjana Sungkyunkwan. Mereka membungkukan tubuhnya serentak ketika Soo Ji dan Myungsoo tiba.

Cheona, Jungjeon Mama… Semua yang kalian minta tempo hari telah kami selesaikan.” ujar Guru Yoo, Guru besar Sungkyunkwan.

“Terimakasih atas kerja keras kalian. Ini sebuah pekerjaan yang melelahkan. Kalian harus menulis beberapa buku seri dengan pemikiran kalian sendiri. Dan juga harus memperbaiki buku-buku yang rusak dan menyalinnya lagi.” ujar Soo Ji. Para sarjana Sungkyunkwan  hanya tersenyum.

Mama, Cheona juga membantu kami. “ Soo Ji refleks menoleh pada suaminya, Myungsoo hanya menatapnya dengan senyuman lebar. Bagaimana bisa Myungsoo tak memberi tahunya. Para sarjana Sungkyunkwan dan Guru besar Yoo menoleh mereka dengan senyuman, benar-benar pasangan yang menggemaskan.

“Baiklah, apakah buku-buku itu telah siap di pindahkan ke perpustakaan kali ini? Jangan lupa, kami juga membutuhkan 2 pengajar.” ujar Myungsoo.

“Kami sudah mempersiapkannya, cheona. Gerobak yang akan mengangkut buku-buku ke perpustakaan telah siap, kami tinggal berangkat saja.”

“Baiklah, berangkatlah bersama kami. Kami juga akan kesana.” ujar Soo Ji, detik selanjutnya mereka menuruti perintah Soo Ji. Soo Ji dan Myungsoo kini memasuki perpustakaan umum yang mereka bangun di pusat pertengahan kota. Perpustakaannya cukup besar ditambah dengan meja dan kursi. Soo Ji yakin bahwa para Ahjussi yang mengerjakan ini tidak tertidur semalam. Semua buku ditata rapi di dalam rak yang berdiri di perpustakaan umum tersebut. Para sarjana Sungkyunkwan yang melakukannya, ditambah dengan bantuan warga kalangan rakyat jelata yang sukarela. Soo Ji dan Myungsoo juga ikut membantu.

“Aku yakin bahwa Raja dan Ratu adalah orang yang sangat baik, mereka membangun perpustakaan ini untuk kita semua para rakyat yang terbilang bodoh dan tak mengenal apapun tentang pembelajaran.” ujar salah seorang warga, Soo Ji yang sedang membereskan buku sontak menghentikan aktivitasnya, begitu pula dengan Myungsoo, ia kemudian melirik Soo Ji, dan tersenyum.

“Ya, aku sangat ingin menatap wajah Raja dan Ratu. Wajah mereka pasti diberkati dengan cahaya kebaikan. Aku heran sekali mengapa mereka tidak mau menampakkan wajahnya pada rakyatnya sendiri.” timpa seorang warga lain.

“Permisi, Tuan… Kalian membicarakan Raja dan Ratu? Aku menjadi tertarik untuk membicarakan ini juga.” Soo Ji menoleh ke arah Myungsoo, ia tak menyangka suaminya begitu sensitif jika ada yang mengatakan tentang Raja maupun Ratu.

“Ya, kau boleh bergabung dengan kami. Aku dengar juga Ratu tengah mengandung anak dari Raja. Aku harap anak mereka kelak menjadi anak yang baik seperti kedua orang tuanya.”
Myungsoo mengangguk setuju, Soo Ji mengusap perutnya. Pandangan warga-warga tersebut beralih pada Soo Ji.

“Tuan, apakah ia istrimu?”

“Ya, kami menikah beberapa bulan yang lalu. Ia juga tengah mengandung.”

“Kau dan istrimu sangat baik sekali mau membantu membereskan perpustakaan umum ini. Apakah kalian utusan kerajaan? Atau kalian terkait dengan kerajaan?”

“Ti—Tidak, kami hanyalah rakyat biasa.” ujar Soo Ji.

“Ku dengar juga Ratu memiliki selera pakaian yang baik, jika aku bertemu dengannya, aku ingin meminta sepasang sepatu kulit rusa untuk putriku yang akan menginjak usia ke 15 tahun. Esok adalah hari ulang tahunnya.”

“Ya, jika aku bertemu dengan Raja, aku juga ingin meminta pakaian yang layak. Aku sudah kedinginan jika musim dingin setiap kali memakai pakaian berbahan seperti ini.Aku menyesal memilih rumah di daerah Yeongjae, rumahku hanya satu-satunya yang terletak di kaki gunung” Soo Ji dan Myungsoo hanya terdiam dan tersenyum.

—-0000—-
Soo Ji dan Myungsoo kini sedang terduduk di jembatan kecil di depan paviliun kamar Soo Ji. Soo Ji dan Myungsoo memandang bulan yang bersinar penuh dan bintang yang bertabur di atas langit.Myungsoo mendekap Soo Ji yang berada di sampingnya.

“Aku sudah menyiapkan sepatu, baju untuk ku berikan pada teman Ahjussi itu dan istri Ahjussi tersebut. Karena aku tak tahu rumahnya, aku menyelipkan sebuah surat kecil di kotak tersebut untuk memberikan sepatu ini pada putri Ahjussi tadi.”

“Baiklah, aku akan segera mengirim Jun Do untuk pergi kesana. Lagipula kita sudah menyatukannya di dalam satu kotak kan? Aku juga memberinya 10 koin.” Soo Ji mengangguk.

Cheona, aku sudah memerintahkan biro penyelidikan untuk memeriksa rumah dayang Yin, tapi mereka tak menemukan apapun. Dan Dayang Yin juga di duga bunuh diri, seseorang melihatnya berjalan ke sekitaran sungai…”

“Ya, aku juga sudah memerintahkan semuanya namun tak ada hasil yang bisa aku dapatkan, Soo Ji-ah… Aku tak tahu harus apa sekarang. Aku masih merasa bahwa anak yang di kandung oleh Suk Won bukanlah anakku.” Soo Ji mengusap bahu Myungsoo.

Pagi hari di kawasan Yeongjae

Seorang ahjumma berlari kecil menghampiri suaminya yang sedang tertidur pulas. Ia memekik kegirangan, membuat sang suami terbangun dengan cepat, telinganya cukup sakit, kantuknya juga dengan cepat menghilang.

Yeobo, seseorang mengantarkan ini ke rumah kita.”

“Buka, bukalah kotak itu, aku penasaran dengan isinya.” ujar Ahjussi tersebut. Tangan istrinya dengan cepat membuka kotak yang berbalut kain di hadapannya, tak lama kemudian wajah mereka menunjukkan ekspresi terkejut.

“Yeobo, ah—Ini pakaian yang mahal!” pekik Ahjumma tersebut, suaminya hanya memandang tak percaya yang ada di hadapannya sekarang, ia membuka kotak lain yang berisi sebuah sepatu yang di dalamnya juga ada sebuah surat, karena Soo Ji tahu Ahjussi ini tak dapat membaca, maka ia juga menulis penjelasan setiap huruf yang ia tulis, seperti sebuah kamus kecil.

“Aigoo…Siapa yang mengirimkan ini pada kita?” ujar Ahjumma, suaminya hanya terdiam, ia sedang berpikir, ia juga mengingat pertemuannya dengan sepasang suami istri di perpustakaan umum.

“Solma… Mereka sangat baik hati sekali.”

Soo Ji mematut dirinya di hadapan cermin, malam tadi Myungsoo mengatakan bahwa ia akan melaksanakan tugas besar di Provinsi Selatan hari ini, para militer disana kekurangan personil untuk membangun pertahanan di laut Provinsi Selatan, juga untuk membangun beberapa kapal penyebrangan. Myungsoo sebagai seorang Raja harus turun membantu, tak lupa Myungsoo juga meminta para pengawal dan militer kerajaan lain untuk pergi kesana. Hari ini Myungsoo berangkat pagi-pagi sekali, Soo Ji sempat bertemu dengan Myungsoo sebelum Myungsoo berangkat. Soo Ji menghela nafasnya, begitu membosankan berada di kamarnya, ia hendak berjalan-jalan menuju area Jimbang,akhir-akhir ini Soo Ji seringkali mengunjungi area Jimbang,mungkin ada sebuah misi tersembunyi.

[FLASHBACK END]

“Aku ingin mengunjungi kediamannya. Entah kenapa aku begitu penasaran. Ia hanya tinggal seorang diri.” ujar Soo Ji, Myungsoo menatapnya lekat.

“Aku akan menemanimu.”

Cheona, siang ini juga kau akan kembali lagi ke Selatan, kau harus fokus pada tugasmu.” Myungsoo menatap Soo Ji.

“Ah, aku takut terjadi apa-apa denganmu.” ujar Myungsoo. Soo Ji hanya tersenyum.

—-0000—-
Kim Suk Won hanya terdiam di kamarnya, ia begitu sakit melihat Myungsoo yang hanya merindukan Soo Ji. Ia meremas chima yang ia pakai dengan erat. Kekesalan tampak pada wajahnya. Pangeran Hyeosang datang menghampirinya.

“Yang Mulia sudah pulang ternyata.”

“Tapi ia akan segera pergi kembali.”

“Bagaimana bisa kau tahu?”

“Ia memberitahuku tadi. Aku sedang berada di kamar Ratu Soo. Tiba-tiba ia datang. Dan ia mengatakan bahwa sekitar 5 bulan ia akan tinggal menetap disana.” Pangeran Hyeosang hanya mengangguk paham.

“Aku ingin mengeluarkan Ratu Soo dari istana. Aku benci melihatnya. Melihat ia bersama Yang Mulia membuatku muak.”

“Apakah kau mencintai Yang Mulia sekarang?” tanya Pangeran Hyeosang

“Ya, jika aku boleh jujur kepadamu aku mencintainya. Di banding mencintaimu, aku lebih mencintainya.” Pangeran Hyeosang hanya mengepalkan tangannya kesal.

“Bagaimana bisa?”

“Kau juga mencintai Ratu Soo, aku tahu. Tapi kau menutupinya. Dengan memanfaatkanku sebagai alat balas dendammu pada Yang Mulia, apakah kau rasa kau akan baik-baik saja?”

“Apakah kau marah padaku?” tanya Pangeran Hyeosang, Kim Suk Won hanya tertawa.

“Marah? Ya, aku sangat marah padamu ketika tahu bahwa kau menggunakanku sebagai alat balas dendammu. Tapi, setelah ku pikir aku juga memiliki tujuan yang sama denganmu. Aku ingin membalas dendam pada Ratu Soo, dan kau ingin membalas dendam pada Yang Mulia. Jika anak ini lahir, ia akan menjadi alat kita yang baru. Ia harus lahir terlebih dahulu sebelum anak Ratu Soo lahir, atau ia harus tumbuh baik sesudah anak Ratu Soo menghilang.” Pangeran Hyeosang hanya tersenyum.

“Dengan begitu, anakku akan tumbuh dengan baik. Ia akan menjadi seorang Putra Mahkota, dan berakhir menjadi seorang raja. Dan Yang Mulia pada saat itu akan hidup menjadi Mantan Raja, kau bisa melakukan apapun yang kau mau termasuk mengambil Ratu Soo, itupun jika Ratu Soo masih hidup.” ujar Kim Suk Won.

“Aku menerima apa yang kau usulkan, mulai hari ini kau dan aku harus fokus pada tujuan yang jelas, yaitu untuk menguasai kerajaan.Bagaimana jika sepulang Yang Mulia nanti, kita membuat sebuah kejutan untuknya.” Kim Suk Won hanya tersenyum jahat.

—-0000—-
Soo Ji melangkahkan kakinya masuk kedalam perpustakaan umum, Myungsoo sudah kembali tadi siang. Ia melihat Yeol yang sedang berjaga di perpustakaan. Yeol yang melihat Soo Ji langsung menghampiri Agasshi kesayangannya.

Mama.” Soo Ji mengisyaratkan Yeol untuk tak memanggilnya seperti itu disini, ia menempatkan telunjuknya di bibirnya.

“Nyonya apa yang Anda lakukan disini? Lihatlah kandunganmu sudah sangat besar, kau tak mungkin untuk berjalan-jalan dengan santai seperti ini.” Soo Ji hanya tertawa.

“Aku merindukanmu.” ujar Yeol, ia kemudian memeluk Soo Ji. Soo Ji juga memeluk Yeol dengan tulus.

“Apakah pengunjungnya sangat banyak? Ku lihat perpustakaan ini sangat sepi.”
Yeol hanya tersenyum pada Soo Ji.

“Sepi? Ayo, ikut aku.” Yeol kini menuntun Soo Ji ke halaman belakang perpustakaan, Jo Sanggung yang berada di samping Soo Ji refleks mengikuti Ratunya. Ia kemudian membelalakkan matanya, begitu pula dengan Soo Ji, Yeol hanya tersenyum puas.

“Aigoo… Mama…” ujar Jo Sanggung. Soo Ji hanya tersenyum puas dan bangga, ia tak menyangka begitu banyak warga yang semangat untuk mengenal pembelajaran. Warga kini tengah duduk rapi dan dengan seksama memperhatikan pelajaran yang dibawakan oleh para sarjana Sungkyunkwan. Sarjana yang berawal 2 kini menjadi 4. Untuk menyeimbangi jumlah warga yang ikut juga.

“Yeol-ah, aku tak menyangka akan sebanyak ini.” Yeol hanya tersenyum.

“Jika didalam mereka akan merasa kegerahan dan berdesakkan, oleh karena itu mereka berinisiatif untuk membersihkan lapangan ini. Lalu mereka belajar disini.”

“Baiklah, kau harus berjaga terus disini. Aku ada urusan sebentar, aku akan kembali lagi beberapa hari yang akan datang. Jika kau butuh apapun, atau ada masalah kau datang saja ke istana.” ujar Soo Ji. Yeol hanya mengangguk. Soo Ji dan Jo Sanggung kemudian meninggalkan perpustakaan.

Mama, lihatlah… Jalanan sekitar kota mulai lengang. Para rakyat sedang belajar di perpustakaan yang Anda bangun bersama Yang Mulia. Dan aku dengar dari kepala keamanan kerajaan bahwa para preman yang seringkali membuat kekacauan tengah dilatih secara militer.” ujar Jo Sanggung. Soo Ji hanya menatapnya heran. Ia seorang Ratu tapi tidak tahu tentang pelatihan militer.

“Siapa yang melakukannya?” tanya Soo Ji penasaran, Jo Sanggung hanya tersenyum lebar.

“Yang Mulia Raja.” Soo Ji kemudian tersenyum pula. Jo Sanggung dan Soo Ji kini tiba di sebuah rumah kecil dengan halaman rumah yang sedikit luas, Soo Ji dan Jo Sanggung melihat seorang wanita tua tengah menangis di dalam rumah Dayang Yin.

“Permisi, apakah aku boleh masuk kedalam?” tanya Soo Ji, wanita itu kini mengangguk.

“Jika aku boleh bertanya, mengapa kau menangis di rumah Dayang Yin? Apakah kau kerabatnya?” tanya Soo Ji.

“Ya, aku adalah pengasuhnya sejak ia kecil. Semenjak ia remaja dan masuk kedalam istana, aku keluar dari rumahnya, dan kini aku mendengar bahwa ia sudah meninggal dunia, padahal ia mengunjungiku sebelumnya. Mengapa ia begitu cepat mendahuluiku.” Soo Ji dan Jo sanggung menatapnya sendu.

“Jika aku boleh tahu, kau siapa Nyonya?”

“Dia adalah seorang Ratu istana, aku tahu kau tidak akan percaya. Tapi, dengan melihat dangui ini mungkin kau akan percaya. Kami bukan seorang pembual.” ujar Jo Sanggung dengan mengeluarkan Dangui ratu di bungkusan kainnya. Wanita tua itu kini bersujud memberi hormat pada Soo Ji. Soo Ji hanya menarik wanita itu untuk bangun.

“Tak perlu melakukan ini, halmeoni… “

“Kau—Kau adalah Ratu, aku harus cepat-cepat memberitahumu ini. Yin-ku mengatakan ia ingin memberikan sesuatu di dekat kolam tua di belakang rumahnya kepadamu.” ujar wanita tua itu, Soo Ji kemudian melangkah keluar. Ia melihat sekilas kolam yang ada di dekat benteng rumah ini seperti tak ada sebuah retakan, namun ternyata di dalamnya terdapat sebuah retakan kecil. Soo Ji kemudian mengambil sebuah batu, ia memukul retakan tersebut, hingga retakan itu terbuka dan terdapat sebuah surat dengan bungkus kayu lonjong. Soo Ji memerintahkan Jo Sanggung untuk menyimpannya.

“Halmeoni, terimakasih karena kau sudah memberitahuku ini…” Wanita tua itu tersenyum kepada Soo Ji dan Jo Sanggung.

Soo Ji kini berada di dalam kamarnya, ia membaca surat yang diberikan oleh Dayang Yin. Akhirnya ia mendapatkan sesuatu yang dapat meluruskan kesalahpahamannya selama ini. Air matanya perlahan turun. Ia kemudian teringat Myungsoo, merindukan Myungsoo… Soo Ji mengusap perutnya, bayinya bergerak kembali.

“Kau tahu kan sekarang bahwa aku merindukan ayahmu? Kau anak yang cukup pandai menggunakan perasaan.” batinnya.

Kim Suk Won dan Pangeran Hyeosang kini tengah mengobrol dan bermain catur bersama. Pangeran Hyeosang menatap Kim Suk Won yang tengah menguap dan sepertinya mengantuk.

“Kau tidur saja, permainan ini kita lanjutkan saja besok.”

“Baiklah, tapi kau jangan lupa terhadap janji yang kau setujui bersamaku, ingatlah bahwa aibmu kau simpan bersamaku.”

_TBC_

Hai readers, kembali lagi sama ff ini yang makin lama makin geje😀 hehe maafkan yaa kalau emang iya makin gajelas haha. Author lagi suka banget sama OST-OST Gu Family Book nih, dan kayanya cocok buat dijadiin temen kalo lagi baca ff ini haha. Jangan lupa RCL, sampai berjumpa lagi di chapter selanjutnya😀

56 responses to “[Freelance] We Are Not King and Queen Chapter 4

  1. Ini biar dendam jg masa ga ada rasa terharu c, Suzy ud perlakuin dia dg baik juga koq, aduh.. Suzy yg hamil aku yg deg2an.. Aku tkt ada yg mo clakain kluarga kecil myungzy..
    Aku harap Suzy sukses melahirkan..
    Myung jg jagain Suzy bgt, c doyeon entah knp slalu bkin emosi jiwa tiap dia muncul..

  2. Dan hahs.. C doyeon jd obat nyamuk..
    Dan fakta sudah hampir terkuak, pgn cpt2 c doteon ini dihukum dan diusir kluar d..
    Cinta ke myung? Cinta kiq nipu..
    Jgn pke cara kotor dunk..

  3. Suzy dan Myung bner2 perfect couple bgt.. Anaknya pasti bkl jd raja yg hbt juga, atau kl yg lahir pitri pasti akan mnjd putri yg baik cantik dan bijak seperti Suzy, tp aku skrg lbh mengharap Suzy melahirkan ank lelaki..
    Posisi putra mahkota hrs diamanin dl ga rela kl ankny c doyepn yg jd, kn itu jg bkn ankny myung

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s