[Freelance] Kwajangnim Chapter 1

poster ff KWAJANGNIM

Title : Kwajangnim | Author : kawaiine | Genre : Angst, Family, Romance | Rating : PG-17 Main Cast: Kim Myungsoo, Bae Soo Ji, Choi Minho, Son Na Eun | Other Cast : Kim Soo Hyun,Lee Hyuk Jae [Eunhyuk] , Cho Kyuhyun,Choi Sulli, Kim Yoo Jung, Kim So Hyun, eTc

“This plot and story is pure from my mind. Sorry for typos, don’t be a siders and plagiator. Happy reading :*”

***

Author POV
Seorang pria berlari terburu-buru dengan kecepatan kakinya yang seperti kuda. Langit yang ditemani matahari yang memancarkan panasnya tak membuat pria muda ini menghentikan langkahnya. Ia kemudian memasuki sebuah gedung megah,termegah di antara barisan gedung lainnya. Tak lama kemudian ia sampai pada ruangan yang menjadi tujuannya. Ia melirik sekilas pada jam tangan berwarna hitam yang melingkar di pergelangan tangannya. “Masih ada 5 menit.” gumamnya dalam hati, ia kemudian membenarkan dasi dan jasnya agar terlihat rapi. Tak lupa ia juga mengelap keringat yang bercucuran di sekitar rambutnya. Tak lama kemudian seorang wanita berambut coklat tua masuk kedalam ruangan tersebut.

“Aku akan membacakan nama kalian dan penempatan posisi kalian sesuai dengan yang kalian tulis di tes minat dan bakat.”
Hampir seisi ruangan telah mendapatkan posisinya, sementara pria ini tengah menunggu. Ia dapat mendengar teriakan kemenangan dari rekan-rekan seperjuangannya.

“Kim Myungsoo, Teknisi Komputer.” ujar wanita tersebut, pria itu. Kim Myungsoo. Berteriak penuh kemenangan, ini posisi yang ia harapkan. Sesuai dengan kemampuannya. Kim Myungsoo, pria berusia 23 tahun ini adalah seorang putra dari detektif kepolisian Seoul, ibunya hanya seorang ibu rumah tangga. Myungsoo memiliki kedua adik perempuan, Kim So Hyun dan Kim Yoo Jung. Myungsoo kuliah di salah satu Universitas terkenal di Seoul, ia mengambil konsentrasi Komputerisasi Informatika di sana. Ia sangat menyukai hal-hal yang berbau software dan hardware.
Myungsoo melangkahkan kakinya memasuki lift, ia hendak ke lantai 3 tempat dimana ia akan bekerja.

“Whoa! Dia sudah datang!” ujar seorang pria yang sedang mengangkat sebuah kardus besar. Myungsoo hanya terdiam tak mengerti. Tiba-tiba seorang pria lain menghampiri Myungsoo. Myungsoo membungkukkan dirinya.

“Aku Kim Myungsoo, aku—“ tangan pria di hadapan Myungsoo mengisyaratkan Myungsoo untuk berhenti berbicara.

“Hentikan permulaan konyol itu, hentikan saja. Aku sudah mengambil datamu sebelumnya.”
Myungsoo hanya tersenyum kikuk, sementara pria lain yang mengangkat kardus tadi menghampiri Myungsoo.

“Kim Myungsoo, perkenalkan aku Cho Kyuhyun. Maafkan atas sikap sok cool Chojangnim kita ini. Aish wajahnya begitu tak enak dipandang.” Myungsoo hanya tertawa kecil.

“Dia Eunhyuk hyung, namanya Lee Hyuk Jae, namun nama kerennya adalah Eunhyuk. Kau bisa memanggilnya apa saja yang kau mau.” Eunhyuk hanya memandang Kyuhyun dengan tatapan aneh.

“Kau bisa melihatnya kan, Myungsoo? Wajahnya betul-betul sangat jelek.” Eunhyuk kemudian memukul kepala Kyuhyun.

“Yak! Berhenti mempermalukanku di hadapan anak-anak buahku. Atau kau akan kucabut jabatanmu sebagai wakil kepala regu.”

Myungsoo yang menyaksikan kejadian itu hanya tertawa kecil. Tak disangka ia akan ditempatkan disisi orang-orang yang membuatnya tertawa seperti ini bahkan di awal pertemuan.
Tiba-tiba telepon berbunyi.

“Myung, kau tahu kan apa yang harus kau lakukan di pekerjaan ini? Kita hanyalah seorang teknisi.” Myungsoo mengangguk. Dan seorang pria membisikkan sesuatu di telinga Eunhyuk.

“Myungsoo-ssi, ada sebuah pekerjaan pertama untukmu. Kau pergilah ke lantai 2 dan temui wanita bernama Mi Ah.” ujar Eunhyuk, Myungsoo kembali mengangguk, ia kemudian melangkah keluar.

“Ya! Kim Myungsoo, taruhlah tasmu terlebih dahulu. Itu adalah meja mu, kau bisa memakainya.”
Myungsoo menaruh tasnya pada sebuah kursi yang terdapat komputer di atas mejanya. Myungsoo kemudian dengan sedikit berlari memasuki lift untuk turun ke lantai dua.

“Permisi, apakah kau tahu karyawan bernama Mi Ah?” ujar Myungsoo pada seorang wanita yang berada di bagian kepegawaian.

“Ne, aku sendiri Mi Ah. Kau pasti seorang teknisi yang Eunhyuk Oppa tunjuk kan?” Myungsoo hanya mengangguk.

“Kau harus membetulkan komputer milik Kwajangnim. Ah, itu Kwajangnim…” ujar Mi Ah, seluruh isi ruangan membungkukkan badannya, termasuk para karyawan yang sedang duduk juga menyempatkan berdiri. Myungsoo mungkin hanya satu-satunya orang yang tak memberi penghormatan terhadap Managernya. Myungsoo dengan seksama memperhatikan penampilan wanita tersebut, dengan balutan dress pink yang di padukan dengan blazer berwarna abu-abu. Rambut coklat kehitamannya dibiarkan tergerai, Myungsoo dapat melihat jelas leher jenjangnya ketika rambutnya tertiup oleh angin yang masuk melalui jendela. Cantik sekali, batinnya. Sementara tangan Mi Ah sibuk menyenggol tangan Myungsoo untuk menyuruhnya membungkuk. Myungsoo tak lama kemudian membungkuk. Ia dapat melihat bahwa tak ada seulas senyuman di bibir wanita itu ketika melihat para karyawannya yang membungkuk memberi hormat. Wanita itu berlalu, Mi Ah memerintahkan Myungsoo untuk mengikutinya.
Wanita itu, Bae Soo Ji. Gadis dengan paras cantik bernilai 100 dan sikap bernilai 0. Ia seorang anak perempuan tunggal dari pemilik perusahaan ini, meski belum di resmikan. Soo Ji sebelumnya adalah gadis cantik yang ceria, ia sangat pintar. Kepintaran yang membuatnya menyesal memiliki otak dengan kemampuan diatas rata-rata. Kepintaran yang mengantarkannya pada malapetaka dimana ia harus duduk sebagai seorang manager disini. Soo Ji sejak SMA sudah paham tentang tugas-tugas dan cara memimpin perusahaan. Tapi ia juga tak mengharapkan bahwa ketika lulus SMA ia langsung bekerja. Soo Ji sebetulnya ingin kuliah terlebih dahulu dan menghabiskan waktunya dengan teman sebayanya untuk sekedar berjalan-jalan ke Mall, menonton film di bioskop, atau pergi ke karaoke. Bukan bergaul dengan tumpukan berkas yang memusingkan. Ia mau tidak mau harus bergaul dengan client yang usianya mungkin sudah menjelang tua. Perusahaan ayah Soo Ji bangkrut sewaktu Soo Ji kelas 2 SMA, Setelah lulus Soo Ji bekerja sebagai manager disini. Hari-harinya sangat membosankan,hingga ia tak ada waktu untuk bersenang-senang. Haln ini yang membuat Soo Ji menjadi gadis pendiam,tertutup,sombong.

“Ini, adalah ruangan Kwajangnim.” Myungsoo mengangguk paham.
Mi Ah mengetuk pintu ruangan Soo Ji dengan perlahan. Tak lama kemudian Soo Ji menyuruhnya untuk masuk kedalam.

“Kwajangnim, ini… Teknisi yang dikirimkan dari bagiannya untuk memperbaiki komputermu.” Soo Ji yang sedang duduk manis di kursi kebesarannya hanya menoleh Myungsoo dan Mi Ah dingin.

“Perbaiki komputerku. Komputernya menampilkan layar warna biru dan sepertinya mengalami kerusakan. Data yang tersimpan disana sangat penting.Aku belum sempat mem-back up datanya.” Myungsoo berjalan ke arah komputer Soo Ji. Ia kemudian memeriksa komputer milik Soo Ji. Soo Ji berjalan mendekati Myungsoo.

“Komputernya mengalami Blue Screen. VGA nya pasti telah rusak. Aku akan mengganti VGA nya.” ujar Myungsoo, Soo Ji hanya menyunggingkan senyumnya sinis.

“Aku menyuruhmu memperbaikinya, bukan menyuruhmu memberitahu penyebabnya kepadaku. Lagipula istilah seperti itu aku tak tahu. Percuma saja kau menjelaskannya padaku.” jawab Soo Ji, ia kemudian melangkahkan kakinya untuk duduk di kursi kebesarannya. Myungsoo memandangnya tak percaya. Bagaiamana wanita yang menurutnya cantik ini memiliki sikap yang buruk. Myungsoo kemudian kembali ke ruangan teknisi, raut wajahnya tak bersahabat. Eunhyuk dan Kyuhyun yang sedang membereskan komponen komputer menatap Myungsoo dengan sendu.

“Pasti ia sudah merasakan semburan dari Kwajangnim di hari pertamanya bekerja.” ujar Eunhyuk, Kyuhyun menganggukan kepalanya, lalu mengepalkan tangannya keatas.

“Kim Myungsoo Fighting!” teriaknya, sementara Eunhyuk memandangnya kesal.

“Wae? Kau tak suka hyung?”

“Suaramu itu mengganggu, bodoh!”

Myungsoo kini tengah memasang dan memperbaiki komponen komputer yang rusak. Sesekali ia menoleh kepada Soo Ji yang kini sedang terduduk di sofa dekat jendela dengan posisi membelakangi Myungsoo.

“Beres!” gumamnya pelan. Mi Ah kemudian mengisyaratkannya untuk keluar. Myungsoo hendak melangkahkan kakinya keluar, namun pandangan matanya mengarah pada Soo Ji yang sedang terduduk santai dan memejamkan matanya. Rupanya Soo Ji tertidur. Bukankah tadi Soo Ji bilang bahwa ia tadi malam lembur di kantor?. Myungsoo tersenyum melihat wajah Soo Ji yang semakin cerah karena terpaan sinar matahari.

“Yak! Gisulja apa yang kau lakukan? Cepatlah keluar dari sini.” ucap Mi Ah, Myungsoo hanya tersenyum.

“Aku belum pamit pada Kwajangnim. Bukankah ia yang memintaku memperbaiki komputernya?”

“Aish… Gisulja tampan ini ternyata susah sekali di beri tahu. Kwajangnim sedang tidur. Kau tak boleh mengganggunya.”
Myungsoo menganggukkan kepalanya. Ia melangkahkan kakinya keluar. Namun ia kembali menoleh kedalam. Di lihatnya bibir Soo Ji yang merah karena lipstick yang Soo Ji pakai. Jemari tangan Soo Ji yang lentik dan tampak halus. Myungsoo kemudian tersenyum kembali dan melangkahkan kakinya keluar. Myungsoo hanya tersenyum sepanjang jalan keluar dari ruangan Soo Ji, ia kemudian melihat seorang pria berjalan dengan gagah menuju ruangan Soo Ji. Myungsoo menghentikan langkahnya dan menatap punggung pria tersebut.

—-0000—-
Soo Ji masih damai dalam tidurnya. Siapapun akan mengatakan bahwa Soo Ji sangat cantik dilihat dari sudut manapun. Hanya saja sikap Soo Ji kurang untuk mengimbangi kecantikan wajahnya. Seorang pria menghampiri Soo Ji yang sedang tertidur, ia kemudian menutup tirai yang dimana memancarkan sinar matahari di wajah Soo Ji. Soo Ji hanya tersenyum.

“Kau tak bisa hentikan kebiasaanmu itu rupanya… Kau sangat suka sekali menggangguku ketika tertidur.”
Pria itu kini menatap Soo Ji dengan kesal.

“Apa maksudmu tak menghadiri makan malam bersama keluarga besarku tadi malam?” ujar pria yang bernama Choi Minho tersebut. Ia putra dari seorang chaebol. Ayahnya memiliki berbagai usaha seperti maskapai penerbangan, alat elektronik, dan lain-lain. Minho, pria ini adalah pria yang di jodohkan dengan Soo Ji. Perjodohan yang aneh menurut Soo Ji, ayah Soo Ji terlalu terobsesi dengan Minho. Ayah Soo Ji memiliki perusahaan yang cukup besar di Seoul. Namun, perusahaannya bangkrut. Hingga ia menemukan titik keluar dimana ia akan menjodohkan putri tunggalnya dengan putra seorang chaebol. Dengan menjodohkan Soo Ji kepada Minho, ayah Soo Ji berhasil membujuk ayah Minho supaya memberikan satu dari berbagai perusahaannya kepadanya, dan ayah Minho merasa bahwa perusahaan asuransi ini pantas diberikan pada Tuan Bae. Soo Ji yang kala itu masih terduduk di bangku SMA tak tahu apapun. Ia harus menerima kenyataan bahwa setelah lulus dari SMA ia akan menjadi pengurus perusahaan itu bersama ayahnya.

“Aku lembur tadi malam, kau bisa mengulang makan malam itu kapan saja kau mau, kan? Minho-ssi.” ucap Soo Ji, ia masih memejamkan matanya. Soo Ji kemudian mengisyaratkan Mi Ah untuk keluar.

“Tapi kau seperti merendahkan keluargaku!” ujar Minho, Soo Ji hanya tersenyum sinis.

“Kau merasa di rendahkan karena aku tak hadir pada acara makan malam. Lalu bagaimana dengan aku yang setiap kali keluargamu rendahkan. Bahkan aku tak dapat mengatakan ini pada kedua orang tuaku karena perusahaan ini masih belum resmi menjadi milik ayahku.”

“Jagalah ucapanmu!” timpa Minho, Soo Ji hanya tersenyum lalu membuka matanya.

“Keluargamu mengatakan aku adalah wanita yang gila harta, seharusnya mereka mengatakan itu pada pria tua yang aku ragukan statusnya sebagai ayahku.”

“Bae Soo Ji, hentikan ucapanmu itu.”

“Bukankah disini aku adalah wanita yang kau cintai? Bukankah dulu sewaktu di SMA juga kau selalu mengejarku? Kau… sewaktu aku latihan basket, apakah kau kira aku tak tahu siapa yang mengirim cokelat dan boneka juga bunga mawar itu di tas ku? Aku tahu itu kau. Kau… Pria yang tergila-gila padaku, kau mendapatkanku karena cara rendahan ini, perjodohan! Kau seharusnya menerima kenyataan bahwa aku sama sekali tak menyukaimu terlebih mencintaimu.”
Soo Ji dan Minho satu sekolah sewaktu SMA, Soo Ji banyak disukai oleh para pria di sekolahnya tersebut, termasuk Minho, Minho sangat tergila-gila pada Soo Ji, terbukti dengan hadiah yang ia kirimkan pada Soo Ji di loker Soo Ji setiap minggunya yang membuat Soo Ji merasa kesal. Soo Ji tak menyukai Minho karena Minho seringkali berlaku semena-mena di sekolah. Ia dan ayahnya seperti mesin penggerak sekolah. Dengan uang, Minho mampu membayar para preman untuk memukuli siapapun yang berani mendekati Soo Ji, atau ia juga tak segan mengeluarkan pria yang mendekati Soo Ji. Soo ji risih dengan sikap berlebihan Minho.

Tangan Minho kini terulur mengambil sebuah hiasan kaca berbentuk gajah, lalu ia melemparkannya ke dasar lantai. Soo Ji hanya menatap Minho yang marah dengan tatapan datar. Seolah ini bukan pertama kalinya terjadi.

“Mulutmu betul-betul tajam. Kau tidak bisa menyaring kata-katamu dengan benar.” ujar Minho. Soo Ji hanya tersenyum simpul.

“Salahkan saja kedua pasangan itu. Mereka yang membuatku seperti ini, membuatku seperti sebuah boneka. Boneka yang dapat mereka kendalikan sesuka hati.”

“Kau tak boleh berbicara seperti itu pada kedua orang tuamu!” bentak Minho. Soo Ji terdiam.

“Bukankah kau dekat dengan mereka? Bahkan aku sekarang seperti orang asing di rumahku sendiri. Mereka banyak bicara kepadamu. Chh, orang tua? Itu yang kau sebutkan orang tua?”

“Karena mereka muak dengan sikapmu Bae Soo Ji. Mereka muak! Kau harusnya menyadari itu!”

“Kau! Jika kau tidak tahu apapun tentang sikapku ini kau seharusnya diam! Sikapku hanya akulah yang tahu dan aku yang mengerti. Karena kau tak pernah mengalami ini,lebih baik kau diam! Diam!” bentak Soo Ji, nada ucapan Soo Ji terbilang tinggi dibanding dengan Minho. Minho yang tak bisa mengendalikan emosinya hendak menampar Soo Ji. Namun ia dengan cepat menepis tangannya sendiri. Meskipun ia kesal tapi Soo Ji adalah wanita yang ia cintai. Minho lalu berteriak kesal.

Myungsoo melangkahkan kakinya menuju lift, ia lalu menyadari bahwa toolset yang ia bawa tertinggal di ruangan Soo Ji. Ia lalu berbalik arah menuju jalan ke ruangan Soo Ji. Pada saat ia tiba di dekat ruangan Soo Ji, ia melihat seorang pria yang tadi berpapasan dengannya. Raut wajahnya tampak mengerikan. Hati Myungsoo sedikit tidak enak, ia lalu dengan cepat menghampiri ruangan Soo Ji. Ketika ia tiba di daun pintu yang tertutup, ia dapat mendengar tangisan seoranhg wanita dari dalam. Siapa lagi jika bukan Soo Ji. Tak mungkin Mi Ah, karena tadi ia melihat Mi Ah dan Eunhyuk yang sedang tertawa di ruangan kepegawaian. Setelah dirasa cukup lama berdiri, ia kemudian mengetuk pintu ruangan Soo Ji.

“Masuklah.” ujar Soo Ji dari dalam. Myungsoo dengan penuh kehati-hatian melangkah masuk kedalam. Di lihatnya Soo Ji yang sedang duduk di kursinya.

“Kwajangnim, Toolset ku tertinggal… Aku akan mengambilnya.” Soo Ji mengangguk. Myungsoo dapat melihat kedua sudut mata Soo Ji yang basah. Ia semakin yakin bahwa Soo Ji yang tadi menangis. Myungsoo kemudian mengambil Toolset yang ia tinggalkan di atas meja komputer Soo Ji. Myungsoo membungkukan badannya kepada Soo Ji meski ia tak yakin Soo Ji akan melihatnya. Ia kemudian melangkahkan kakinya keluar.

“Chakkaman…” Soo Ji akhirnya bersuara, meski suaranya terdengar cukup parau. Myungsoo membalikkan badannya menghadap Soo Ji.

“Ne?”

“Gomawo, Gisulja. Kau memperbaiki komputerku tadi.” ujar Soo Ji masih dengan tatapan datar dan kata-kata yang terkesan dingin. Myungsoo hanya membungkukkan kembali badannya. Ia tersenyum di dalam hatinya. Ia kemudian meninggalkan ruangan Soo Ji dengan bersorak sorai pelan. Ia sedikit melompat kegirangan, pada saat ia melewati ruangan kepegawaian, Eunhyuk melihatnya dengan aneh. Ia kemudian menghampiri Myungsoo.

“Yak! Kau baru saja keluar dari ruangan Kwajangnim? Wae? Wae? Kau terlihat bahagia. Apakah wanita harimau itu melakukan sesuatu padamu?” tanya Eunhyuk penasaran.

“Ya, aku baru saja keluar dari ruangan Kwajangnim. Chojangnim, mana mungkin kau mengatakan wanita harimau pada wanita yang sangat manis seperti itu?” ujar Myungsoo dengan ekspresi yang seperti dimabuk cinta. Sementara Eunhyuk hanya menatapnya aneh. Ia kemudian membawa Myungsoo ke ruangan teknisi.

“Mwo?! Dia mengatakan bahwa wanita harimau itu manis?” ujar Kyuhyun, Eunhyuk hanya mengangguk dengan ekspresi orang bersedih. Eunhyuk dan Kyuhyun kemudian menoleh pada Myungsoo yang sedang melamun dengan senyum yang mengembang.

“Dia berkata bahwa Kwajangnim mengatakan terimakasih kepadanya karena telah memperbaiki komputernya.” ujar Eunhyuk. Kyuhyun yang sedang meneguk secangkir kopi memuntahkan kopinya.

“Jinja? Kwajangnim belum pernah seperti itu pada kita sebelumnya, atau pada karyawan lainnya. Ia adalah harimau tak berhati.Tak pernah menganggap kita semua manusia. Tunggu, apakah kau yakin anak itu tak berbohong?”

“Aish, tampangnya terlalu polos untuk di bilang ia seorang pembohong. Ku rasa ia menyukai Kwajangnim.” Kyuhyun menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan perkataan Eunhyuk.

—-0000—-
Soo Ji kini menggerutu sendiri, ia benar-benar mengutuk dirinya sendiri. Ia sempat memandang wajah Myungsoo dan tampan. Ia juga yakin Myungsoo adalah pria yang baik.

“Aku benar-benar sudah gila, mengatakan terimakasih pada Gisulja  itu.” batinnya.

Soo Ji kembali bekerja, hingga tak dirasa waktu menunjukkan pukul 7 malam. Soo Ji membereskan berkasnya. Soo Ji kemudian melangkahkan kakinya keluar. Ia kini berada di lapangan parkir. Ia memacu mobilnya dengan cepat untuk menuju ke rumahnya.

“Agasshi, beruntunglah Anda sudah pulang. Aku akan menyiapkan air hangat untukmu.” ujar Ra Ahjumma. Soo Ji hanya mengangguk. Rumahnya ini megah namun seperti tak berpenghuni. Yang menghuni hanyalah Ra Ahjumma, Gil Ahjumma, dan Woon Ahjussi. Orang tua Soo Ji tak tau kemana.
Soo Ji kini mematut dirinya di cermin besar di kamarnya.

“Membosankan sekali, sepertinya berjalan-jalan keluar bukan suatu masalah besar.” gumamnya dalam hati, ia tersenyum. Tak lama kemudian ia berpamitan pada Ra Ahjumma.Ia keluar rumah dengan berjalan kaki. Hingga ia tiba di sebuah kedai ramen di pinggir jalan. Mi Ah selalu bilang bahwa memakan ramen di pinggir jalan lebih enak. Soo Ji kini tertantang. Ia duduk di sebuah kursi sederhana, tidak seperti kursi mewah yang biasa ia duduki jika makan malam di rumah maupun di restoran mewah.

Soo Ji menghabiskan sekitar 4 mangkuk ramen sekaligus. Ia memuji Ahjumma pembuat ramen tersebut. Setelah dirasa kenyang, Soo Ji hendak meninggalkan kedai tersebut, namun ketiga pria aneh menghadangnya. Soo Ji jika berpenampilan sederhana seperti ini, hanya memakai jaket pink, kemeja putih dan rok berwarna pink membalut sempurna tubuh Soo Ji yang mungil. Rambutnya dibiarkan tergerai lurus, tak ada efek dari pengeriting rambut. Wajahnya yang tanpa make up semakin membuat dirinya tampak seperti seorang gadis SMA. Soo Ji kini memandang ketiga pria itu dengan tatapan tajam, tatapan yang biasa ia keluarkan jika di kantor. Semua karyawan kantor pasti taut melihatnya jika sudah seperti ini, tapi berbeda kali ini… Ketiga pria ini bukanlah karyawannya.

“Anak manis ini, angin malam tak baik untukmu… Esok kau harus sekolah… Lebih baik kau pulang… Bersamaku, kerumahku…” ujar seorang pria di hadapannya. Soo Ji melangkah mundur, ia kemudian mendorong dan menendang ketiga pria di hadapannya. Ia kemudian berlari kencang. Tapi sayang ketiga pria ini lebih cepat menyusul Soo Ji.

“Kau mau pergi kemana? Lebih baik kau bersenang-senang denganku.” Ketiga pria ini mabuk, Soo Ji dapat mencium bau alkohol dari ketiganya. Tangan seorang pria itu kini memegang bahu Soo Ji. Soo Ji menepisnya dengan cepat.

“Menyingkirlah! Atau aku akan berteriak!” ujar Soo Ji, ketiga pria ini hanya tertawa bersamaan. Membuat Soo Ji takut. Tubuhnya sedikit bergetar. Tangan liar ketiga pria itu kini memegang tangan Soo Ji. Soo Ji berusaha menepisnya, ia kemudian berteriak. Hingga…

Bugh!

Seorang pria kini memukul ketiga pria itu bersamaan. Soo Ji mengenal betul siapa pria di hadapannya ini. Pria itu kini menghampiri Soo Ji. Wajah Soo Ji sedikit tertutup oleh rambut.

“Agasshi, kau kembalilah kerumah. Orang tuamu pasti sangat mengkhawatirkanmu. Lagipula mengapa kau berjalan-jalan sendiri? Kau tak memiliki teman? Kau tak memiliki saudara? Aissh, sudahlah… Lain kali kau tak boleh mengulanginya.” ujar pria itu dengan menepuk pundak Soo Ji. Soo Ji hanya terdiam bingung.

“Melihatmu aku jadi rindu kedua adikku.” gumam pria itu tak jelas. Pria itu kini meninggalkan Soo Ji yang berdiri mematung.

“Yak! Apakah kau tak mengenalku?” ujar Soo Ji dengan sedikit berteriak. Pria itu menghentikan langkahnya, ia kemudian menoleh ke belakang.

“Omo… Kwajangnim!” pekik pria itu, Myungsoo.  Kemudian ia membungkukkan dirinya di hadapan Soo Ji.

Myungsoo kini tengah memakan ice cream vanilla di genggamannya, begitu pula dengan Soo Ji. Mereka kini duduk berdua di sebuah taman yang penuh dengan lampu yang bersinar.

“Kwajangnim, aku tak tahu bahwa itu kau. Kau tampak seperti gadis SMA jika seperti ini.” Soo Ji hanya tertawa kecil.

“Lagipula, mengapa kau keluar malam-malam seperti ini. Ini sangat berbahaya untuk gadis sepertimu.” ujar Myungsoo.

“Aku hanya bosan di rumah.” jawab Soo Ji singkat.

“Kau tak perlu ribut tentang ini.” tambah Soo Ji. Myungsoo mengangguk.

“Kwajangnim, selesai memakan ini lebih baik ku antar kau pulang” ujar Myungsoo. Soo Ji hanya mengangguk. Myungsoo yakin jika karyawan-karyawan di kantornya melihat ini, mereka akan mengira ,bahwa Soo Ji seorang gadis lucu yang sedang berjalan-jalan bersama temannya.

“Kwajangnim, kau tampak seperti gadis berusia 15 tahun.” ujar Myungsoo.

“Tambah dengan 6  tahun. Itulah usiaku yang sebenarnya.” jawab Soo Ji dingin.

“Jinja? Berarti kau lebih muda 2 tahun dariku.”

“Kau sudah menjadi seorang manager. Kau sangat hebat Kwajangnim.” Soo Ji hanya tersenyum getir.

—-0000—-
Di bandara Incheon, terlihat seorang pria berkacamata hitam dengan penampilan yang sangat rapi. Ia mengenakan kemeja dan celana jeans. Ia melirik jamnya. Tak lama kemudian seorang wanita parih baya menghampirinya.

“Aigoo… Hyunnie.” ujar wanita paruh baya yang di ketahuinya sebagai ibu dari pria tersebut, Kim Soo Hyun.

“Mengapa kau pulang dengan mendadak terus seperti ini?” tanya ibunya.

“Bayangan itu selalu menghampiriku, Eomma… Aku harus menemukannya.” ujar Soo Hyun, Nyonya Kim hanya memandangnya haru.

_TBC_

Haii, ini yang author maksud tentang ff baru author, gimana menurut kalian nih? Hehe, maaf kalau ga seru yaa. Ini penggantinya Business Marriage yang akan tamat bentar lagi haha. Maaf ya ffnya geje -_- berharap ada yang baca ajadeh wkwk. Readers yang baik pasti meninggalkan jejak. Hehe, sekian dan terimakasih~ 😀

Advertisements

106 responses to “[Freelance] Kwajangnim Chapter 1

  1. Waaa yeoja dingin, ketus dan arogant ternyata memiliki sisi kiyut dimata myungsoo. Disaat orang lain menyebut suzy wanita singa ia justru menyebutnya wanita manis. Kkk~

    kehidupan suzy sepertinya sangat tertekan dengan keadaan. Ia terpaksa harus bersama minho walaupun ia tidak menginginkan pria itu.

    Kim soohyun ! Dia mencurigakan.

  2. suzy jadi kwajangnim yang dingin dan datar.. joha….
    myungsoo jatuh cinta pada pertama sama suzy.. kkkk….
    bayangan apa yang terus menghampiri soo hyun dan dia ingin menemukan apa? penasaran…
    keep writing
    fighting!!!

  3. yah myung hanya seorang teknisi padahal berharapnya dia sajangnim hahahaha …
    penasarannn sama cerita selajutnyaaa
    izin baca yaa ..

  4. Omo apa yg ada dipikiran ortu suzy smpe2 buat suzy kerja stlah sma. Hhh emng hila uanh tu ortu suzy.. Cie soo oppa suka sma kwajangnimnya yg galak ya??

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s