[Vignette] Night After in Dublin

naid

Miss A Bae Suzy and EXO Kai | Alternate Universe, Fluff, Friendship, No Romance! Slice of Life | PG-15 | Vignette (1,170 words count) | disclaimer beside the poster and story-line i own nothing!

related to One Night in Dublin

August, 2015©

.

You’ll never be alone, it’s all you need to know…

.

recommended song All You Need To knowShane Filan

.

Suzy masih tidak habis pikir. Setelah hampir terlunta-lunta selama sepekan di ibukota Irlandia karena kehabisan kurs Euro dan sukses membuatnya menjadi gelandangan tulen, justru pada malam keempat belas ini, Suzy menghabiskan malamnya di dalam sebuah bar lokal.

Bukan untuk foya-foya ataupun menikmati segelas bir di tengah malam, melainkan bekerja.

Dengan bantuan seorang yang kebetulan bekerja di bar tersebut, dia bisa mendapatkan sebuah hunian yang layak tinggal dan yang lebih pentingnya lagi adalah sebuah pekerjaan. Memunguti pinggan kotor dan gelas-gelas bir besar yang berserakkan pun tak masalah. Yang jelas, di balik semua itu, masih ada seseorang yang mau membantunya tanpa pamrih, omong-omong.

“Sue, “

Panggilan cukup nyaring itu pun menyerempet gendang telinga gadis itu. Saat menoleh ke asal suara, dia pun menemukan sosok yang ia kenal selama hampir dua minggu ini, tengah duduk di atas salah satu kursi kosong yang menganggur di atas sebuah mini stage di dalam bar tersebut.

“Oh, Kai. Sudah lama berada di situ?”

“Lumayan,” jawabnya sambil men-steam gitar akustik miliknya, menyocokkan berbagai asupan melodi yang akan dimainkan olehnya.

Suasana di dalam bar lokal tersebut masih sepi, maklum karena belum memasuki jam operasionalnya. Cahaya lampu yang agak remang pun menambah kesan sepi serta sunyi. Serta dentingan kaca dari gelas-gelas cocktail ataupun vodka yang saling bersinggungan; ulah si Mark; sang bartender yang tengah mempersiapkan bagian beverages seorang diri. Kemudian, gadis itu pun hanya mengangguk sebentar sebelum melanjutkan kembali aksi mengusap permukaan meja dan membenahi letak asbak rokok dengan seksama.

Omong-omong tentang rokok, pemuda bernama Kai itu rupanya adalah seorang mantan perokok berat. Hal itu justru disesali oleh pemuda itu. Tiga hari setelah perjumpaan pertama mereka, lelaki itu pun sedikit mencurahkan perihal kebiasaan buruknya kepada Suzy. Di mana, tabiat merokok yang digeluti semenjak remaja itu telah menyebabkan komplikasi serius pada organ pernapasannya.

“Kai, mengapa tidak kaumainkan sebuah lagu untukku? Bisakah kaumainkan satu lagu untukku, kumohon?”

Kai mengangguk.

“Baik. Semoga kau menyukai lagu ini.”

Alunan melodi indah itu terkuar. Intro sebuah lagu pun meregas sunyi. Strum berdurasi ganda yang dibubuhi dengan kunci-kunci nada pengiring tembang milik Shane Filan pun mulai terdengar. Diikuti pula dengan suara yang cukup merdu kepunyaan Kai.

.

.

Sometimes you got to go back to the start

And glue back all the pieces that you took apart

Sometimes you takes the teardrops to set you free

I know you’ll only working out who you wanna be

I can’t know everything you want

but I’ll give you everything I’ve gotten

.

I will be your shoulder to cry on

I’ll be there to carry you home,

I will warm your heart like a winter sun,

It’s just the way it goes

you’ll never be alone

It’s all you need to know

It’s just the way it goes

.

.

Prok! Prok!

Gadis itu membubuhi telapak tangannya dengan tepukan nyaring. Lagu sudah habis dinyanyikan. Jejak-jejak ketersimaan pun tak lekang dari wajah Suzy begitu juga dengan suasana hatinya yang semakin hari semakin membaik. Lain halnya dengan Kai yang hanya menyanjungkan setitik senyum.

“Permainan yang bagus, Kai! Kau memang menakjubkan!”

“Kau terlalu membual, omong-omong. Tetapi terimakasih!”

***

Lima belas menit menjelang jam operasional bar dimulai, keadaan bar lokal yang terletak tidak jauh dari Grafton Street itu mulai ramai. Para pelayan yang jumlahnya tidak lebih dari setengah lusin termasuk gadis itu sendiri, nampak sibuk merapihkan tiap sudut bar. Dua orang bartender yang siap meracik minuman di balik sarangnya nampak memoles permukaan meja persegi keramik hingga mengkilat.

Diam-diam, gadis itu menjajakan sedikit atensi kepada pemuda yang gemar memakai topi fedora sebagai aksen penunjang penampilannya. Sifat murah hati yang ditujukan oleh Kai kepadanya saat tempo dulu sesungguhnya benar-benar menggugah sedikit hatinya meski hanya beberapa senti.

Kesiapan pemuda itu saat melepaskan tabiat buruknya sesungguhnya patut diacungi jempol. Sesungguhnya berhenti merokok itu tidak semudah yang terlihat dan terucap. Khususnya bagi para pecandu nikotin kelas kakap, termasuk Kai.

“Dua minggu sudah kita berteman dan dua minggu pula aku berhenti merokok. Itu keren, ‘kan?”

Suara sang pemuda yang tiba-tiba menghampiri gendang telinga gadis itu sontak membuatnya terkejut. Suzy pun mendengus sebal sebelum menjawab perkataan laki-laki itu dengan, “well, jangan pernah menghitung waktu yang sudah terlewat. Lalu, soal kau yang berhenti merokok, yeah itu keren. Lanjutkan!”

“Lho? Memangnya tidak boleh? Justru aku berpolah seperti itu karena aku sangat menghargai sang waktu. Dengan terhitungnya hari dan tahun yang telah berlalu aku jadi bisa semakin memaknai momen yang pernah kulaui lebih dekat.  Termasuk kau yang saat itu meminta sebatang rokok padaku.”

Rentetan kalimat terakhir pemuda itu sontak membuat pipi Suzy memanas. Uh, jika mengingat hal itu, rasanya benar-benar memalukan.

“Yayaya, khotbahmu boleh juga Pastur Kai dan please, jangan lagi kau mengungkit-ungkit soal kejadian itu!”

Beberapa botol minuman berkarbonat yang disusun di atas meja bundar itu pun disentuh oleh Kai. Lalu, memainkan jarinya di atas tutup botol tersebut. Matanya sontak ikut tersenyum tatkala irisnya menangkap tutur tak suka dari gadis semampai tersebut.

“Oke, aku mengerti. Santai saja, Nona. Lagipula kalau aku tidak bertemu denganmu, dunia tidak akan tahu kalau aku sudah pensiun jadi perokok.”

Baki berisi tumpukan tisu bersih yang diangkut oleh Suzy terhenti di udara. Ucapan pemuda bertubuh tegap yang sekarang tengah mengamatinya dari samping itu implikasinya. Begitu banyak hal sekiranya yang bisa dijadikan tolak ukur seorang Kai untuk tidak berteman dengan gadis pelancong sepertinya. Akan tetapi, pemuda itu malah memilih untuk berteman dengannya.

“Dan seharusnya aku bersyukur untuk hal yang satu itu.”

Meja bulat berkaki empat yang terletak di depannya pun dijadikan sebagai alas untuk menaruh baki yang dibawa oleh Suzy. Gadis bersurai yang dicat warna hitam itu pun seketika bingung sekaligus merasa heran.

“Kau terlalu berlebihan. Aku tidak seharusnya disyukuri. Ah, sudahlah. Aku harus bekerja begitu juga dengan kau.” ujarnya sambil berlalu.

“T-tapi – “

“Tidak ada tapi-tapi-an. Satu lagi, jangan pernah menyinggung soal masa lalumu itu lagi!”

.

Mengapa? Apa itu karena kau yang belum bisa lepas dari zat aditif nikotin itu, Sue?”

.

Tidak ada jawaban yang keluar. Begitu juga dengan pemuda itu yang enggan beranjak dari tempatnya.

Bak alarm yang menyala, intuisi pemuda itu sontak berkata bahwa ia baru saja melakukan kesalahan. Ya, omongannya memang terlalu nyelekit untuk ukuran seorang lelaki. Tetapi apa daya kalau keceplosan. Sedetik kemudian, ia pun segera meminta maaf kepada gadis yang termenung di hadapannya itu.

“Maaf, a-aku tidak bermaksud – “

It’s okay. Aku bisa mengerti. Tidak usah meminta maaf.” potong Suzy seketika.

“O-oke, kalau begitu aku kembali ke tempatku, kau juga. Dan, “ jeda Kai sejenak. “selamat bekerja!” lanjutnya dengan nada yang agak canggung.

Melihat kepergian Kai, gadis itu malah tersenyum. Tidak, dia tidak sakit hati sama sekali atas perkataan Kai barusan.

Sejujurnya, apa yang dikatakan pemuda itu seratus persen benar. Dia yang belum bisa lepas dari jeratan sebatang tembakau. Ingin sebenarnya dia bisa lepas dari jerat itu namun dinding yang membatasi hatinya kepalang tinggi untuk dipanjat.

But, you never know if you even never try.

Memang begitu. Tetapi alangkah baiknya seseorang itu berubah karena kemauannya sendiri dan bukan atas kemauan orang lain. Namun bukan berarti pula Suzy tak ada kemauan untuk sembuh. Tentu ada. Toh, seburuk-buruknya kita menjadi tipikal manusia di masa sekarang, pada akhirnya pada kebenaran pula kita akan kembali.

TAMAT

14 responses to “[Vignette] Night After in Dublin

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s