[Freelance] New Destiny Chapter 11

Title : New Destiny | Author : danarizf| Genre :  Fantasy – Romance | Rating : Teen | Main Cast : L [Infinite] as Kim Myungsoo, Suzy [Miss A] as Bae Suzy | Support Cast : Hoya [Infinite] as Putra Mahkota Lee Howon, Krystal [F(x)] as Jung Krystal (2015) / Putri Mahkota Jung Soojung (Joseon), Jiyeon [T-Ara] as Park Jiyeon, Irene [Red Velvet] as Bae Joohyun, Minho [SHINee] as  Choi Minho

…. 

Joseon, 1365

Krystal menatap Suzy yang tengah duduk melamun di hadapannya. Matanya teralih pada kain berwarna kuning gading yang kini berada di genggaman Suzy. Melihat sahabatnya begitu terpukul karena kejadian semalam tentu saja membuat Krystal tak tega melihatnya.

“Suzy-ah…,” panggil Krystal.

Suzy tak bergeming. Pikirannya terlalu dipenuhi peristiwa kebakaran semalam.

“Joohyun Eonnie… seharusnya aku menolongnya,” gumam Suzy.

“Suzy-ah….”

Srett

Pintu ruangan itu terbuka seiring dengan masuknya seorang pemuda ke dalam ruangan itu. Howon. Pemuda itu menghampiri Krystal yang masih sibuk memperhatikan Suzy tanpa menyadari kehadirannya.

“Soojung-ah….”

Krystal menoleh begitu Ia mendengar suara Howon. Ia kemudian membungkukkan tubuhnya sedikit dan kembali menatap Suzy yang masih berdiam di tempatnya.

“Suzy…,”  panggil Krystal lagi. Ia menghela nafasnya karena Suzy tak kunjung mengalihkan perhatiannya padanya. “Aku harus kembali ke istana sekarang bersama Putra Mahkota. Kau… tak apa-apa kalau kutinggal?” tanya Krystal.

Suzy menolehkan kepalanya setelah sekian lama berdiam diri, lalu mengangguk pelan. “Hmmm…,” gumamnya.

Krystal pun beranjak dan menghampiri Putra Mahkota lalu melangkah keluar dari ruangan tempat Suzy berada.

….

 “Joohyun-ssi, bertahanlah. Aku akan menyelamatkanmu…”

 “Myungsoo-ssi…”

“….”

“Myungsoo… uhuk.. bawa ini. Gayageum ini uhuk adalah uhuk benda yang sangat kusayangi uhuk uhuk. Keluarga kami sangat menyukai gayageum dan aku ingin uhuk uhuk adikku juga menyukainya. Ambil uhuk dan bawa gayageum ini keluar, untuk adikku.. yang sebentar lagi akan lahir uhuk uhuk.”

“Aku akan membawamu, Joohyun-ssi.”

“Tidak bisa, Myungsoo….”

 

Myungsoo memejamkan matanya. Kilasan peristiwa saat Ia mencoba menyelamatkan Joohyun kembali terulang di dalam kepalanya. Dalam hati Ia merutuki tindakannya yang dinilainya sangat bodoh. Mengapa Ia tidak menyelamatkan Joohyun? Mengapa Ia membiarkan tubuh gadis itu hangus dilalap api? Mengapa Ia tak menemani gadis itu saja?

“Bodoh! Kim Myungsoo, kau bodoh!” rutuknya terus menyalahkan dirinya sendiri.

Bayangan bagaimana keluarga Bae yang kecewa saat melihatnya keluar hanya dengan seonggok gayageum yang sebagian permukaannya menghitam membuatnya diliputi beribu-ribu penyesalan. Belum lagi Suzy yang menangis di hadapannya karena tak berhasil membawa Joohyun keluar.

Ia benar-benar kecewa pada dirinya.

Orabeoni….”

Myungsoo hanya tersenyum tipis saat melihat adik perempuannya itu berjalan menghampirinya. Sohyun tahu peristiwa itu. Gadis itu juga tahu bagaimana dengan bodohnya kakaknya ini meninggalkan Joohyun sendiri di dalam.

“Animnida. Orabeoni sudah berusaha menolongnya. Bukankah dia sendiri yang memaksa Orabeoni padahal Orabeoni bersikeras untuk menolongnya?”

“Tapi… Suzy dan keluarga Bae…”

“Mereka begitu karena sedang berduka. Kalau Orabeoni tidak keluar saat itu bukankah mereka akan semakin sedih karena membiarkan nyawa orang lain ikut melayang saat menolong putri mereka? Jangan menyalahkan diri sendiri lagi, Orabeoni! Kau sudah berusaha.”

Perkataan Sohyun semalam pun tak mampu menenangkan pikirannya.

Orabeoni tidak menemui Suzy Eonnie?” tanya Sohyun hati-hati mengingat kakaknya pasti akan kembali menyalahkan dirinya saat mendengar nama Suzy.

Sorot mata lembut yang Myungsoo tujukan pada Sohyun megendur. Benar. Suzy. Ia tak mungkin berani menemui gadis itu setelah peristiwa itu. Suzy pasti tak akan memaafkannya. Membayangkannya saja sudah membuat dada Myungsoo sesak.

“Sohyun-ah, kau… pergilah menemui keluarga Bae. Setidaknya harus ada salah satu dari keluarga kita yang mengucapkan bela sungkawa,” kata Myungsoo.

Orabeoni tidak mau menemui mereka?” tanya Sohyun.

Myungsoo tersenyum kecut. “Apa mereka mau menemui seseorang yang telah membuat putri mereka meninggal? Mereka pasti  tidak mau menemui Orabeoni, termasuk Suzy juga. Karena itu aku menyuruhmu kesana. Suzy… dia juga pasti sedang sedih. Hiburlah dia.”

Orabeoni…”

Myungsoo menatap Sohyun penuh harap. Ia benar-benar tak bisa menemui keluarga Bae. Tidak setelah peristiwa mengenaskan itu.

“Aku pergi dulu, Orabeoni.”

“Hati-hati….”

Ne….”

….

Eonnie, aku turut berduka cita ya.”

Suzy menoleh lalu tersenyum simpul pada Sohyun. Matanya kembali menerawang mengingat kejadian mengerikan itu. Ia menghela nafas panjang.

Eonnie, Orabeoni… aku mohon jangan marah padanya,” ucap Sohyun.

Suzy terdiam, tak tahu harus bagaimana menanggapi. Ia memang masih marah pada pemuda itu yang tak bisa menyelamatkan Joohyun dan membuat gadis itu meregang nyawa di dalam kobaran api.

“Aku… tak tega melihatnya merasa begitu bersalah seperti itu. Orabeoni pasti tak berniat sedikitpun meninggalkan Joohyun Eonnie. Ia bukan orang yang seperti itu. Kalau Myungsoo Orabeoni tak berniat menyelamatkan Joohyun Eonnie, aku yakin Ia tak akan masuk ke dalam rumah itu.”

Suzy menghela nafas panjang. Apa yang dikatakan Sohyun memang benar. Ini sepenuhnya bukan salah Myungsoo. Tapi tetap saja… ada yang mengganjal di hatinya.

Tiba-tiba Suzy menolehkan kepalanya ke arah luar penginapan membuat Sohyun bingung.

“Ada apa, Eonnie?” tanya Sohyun.

“Hanya… merasa seperti ada yang mengawasi kita,” jawab Suzy.

“Hmm? Benarkah?”

“Mungkin cuma perasaanku saja,” tambah Suzy.

….

Myungsoo melangkahkan kakinya, melewati jalanan sempit yang menuju ke arah sebuah penginapan tempat keluarga Bae tinggal untuk sementara setelah peristiwa kebakaran itu. Memang Ia tadi menyuruh adiknya untuk menemui keluarga Bae karena Ia masih merasa bersalah pada keluarga itu. Namun ada sesuatu yang membuatnya ingin menemui mereka. Ia… hanya ingin melihat keadaan keluarga Bae, termasuk Suzy, ah tidak, terutama Suzy.

Langkahnya terhenti di depan pintu penginapan. Ia mendekatkan dirinya pada pagar batu penginapan itu, mencoba mencari Suzy atau siapapun dari keluarga Bae walaupun mungkin sedikit susah mengingat penginapan ini tak bisa dibilang kecil.

Namun keberuntungan mungkin berpihak padanya. Manik matanya dapat menangkap sosok Suzy yang tengah duduk di atas batu besar yang ada di halaman depan penginapan dengan Sohyun di sampingnya.

“Suzy-ah…,” gumam Myungsoo pelan.

Matanya membulat saat tiba-tiba gadis itu menolehkan kepalanya ke arahnya. Segera saja Ia menundukkan tubuhnya agar gadis itu tak melihatnya. Sepertinya Ia memang belum siap menemui Suzy.

Myungsoo pun melangkahkan kakinya menjauhi penginapan. Namun langkahnya terhenti saat melihat seorang pria berpakaian hitam tengah berada tak jauh dari penginapan sedang mengamati Suzy dan Sohyun.

Myungsoo mengerutkan keningnya. Ia pun segera mengikuti langkah pria yang baginya mencurigakan itu.

Langkah Myungsoo menjadi semakin cepat saat mendapati pemuda mencurigakan yang diikutinya juga melangkah lebih gesit dan cepat dari sebelumnya. Myungsoo terus mengikutinya dan sesekali bersembunyi saat pemuda itu merasakan kehadirannya.

Myungsoo ikut menghentikan langkahnya saat pemuda berpakaian hitam itu berhenti di depan sebuah rumah yang cukup besar. Myungsoo mengerutkan keningnya melihat pemuda itu justru berdiri di depan pagar dan tak memasuki rumah. Ia penasaran, siapa pemuda itu dan mengapa Ia berada di penginapan tempat keluarga Bae menginap.

“Apa cuma kebetulan saja? Atau mungkin dia mempunyai kerabat yang menginap disana, dan bukan keluarga Bae?” gumam Myungsoo. Namun tetap saja Ia tak bisa memastikan yang mana yang benar.

Kedua mata Myungsoo menyipit saat melihat sosok familiar baru saja keluar dari kediaman itu.

“Bukankah dia Menteri Park Haejun?” batin Myungsoo.

Kening Myungsoo semakin berkerut karena Ia sama sekali tak mengerti apa yang dilakukan pemuda mencurigakan itu dengan Menteri Park. Otaknya semakin bekerja keras saat melihat Menteri Park yang mengeluarkan sebuah kantong berwarna hitam pada pemuda itu. Myungsoo bukan orang bodoh yang tidak tahu apa isi kantong tersebut. Uang. Ya, kantong itu berisi uang. Tapi untuk apa?

Tak lama kemudian pemuda mencurigakan berpakaian hitam-hitam itu pergi meninggalkan kediaman keluarga Park. Myungsoo pun menyembunyikan dirinya, lalu melangkahkan kakinya untuk melanjutkan mengikuti pemuda itu.

AHBEOJI!”

Namun baru beberapa langkah Myungsoo beranjak dari persembunyiannya, Ia justru mendengar suara lain yang cukup familiar di telinganya.

Myungsoo pun segera mencari tempat persembunyian saat melihat Jiyeon, putri dari Menteri Park keluar dari rumah dan menghampiri ayahnya.

Beruntung Myungsoo keluar dari tempat persembunyiannya sebelumnya karena tempat Ia berada sekarang membuatnya bisa mendengar percakapan kedua orang itu dengan lebih jelas dibandingkan sebelumnya.

Ahbeoji, jadi benar kalau Ahbeoji menyuruh anak buah Ahbeoji untuk membakar rumah keluarga Bae?” cerca Jiyeon.

Myungsoo membulatkan matanya mendengarnya. Ia benar-benar terkejut.

“Kenapa kau bertanya begitu, Jiyeon-ah?”

“Jawab saja, Ahbeoji!”

“Ya, aku memang melakukannya. Tapi aku melakukan semua ini untukmu, Jiyeon-ah. Kau bilang kau membenci Bae Suzy dan tidak ingin dia dekat dengan calon suamimu jadi aku hanya memberinya pelajaran. Dan kudengar mereka tak lagi dekat sekarang.”

Myungsoo yang mendengarnya benar-benar tak menyangka. Ia menggeram karena begitu kesal. Ia kesal pada Menteri Park yang mencelakai keluarga Bae hanya karena Ia dan Suzy dekat. Ia kesal melihat wajah Menteri Park yang tak menunjukkan rasa bersalah sedikitpun.

Ahbeoji, aku memang membencinya karena Ia dekat dengan orang yang kusukai. Tapi bukan berarti aku menginginkan hal buruk terjadi padanya. Aku ingin Myungsoo menyukaiku dengan sendirinya dan bukan karena terpaksa.”

Myungsoo semakin terkejut mendengar perkataan Jiyeon. Ia juga tak menyangka kalau Jiyeon begitu menyukainya.

“Jadi…. kebakaran itu….”

….

Suzy menatap kain berwarna kuning gading di tangannya. Melihat kain itu membuatnya teringat akan keinginan Joohyun untuk membuatkan pakaian untuk adiknya yang sebentar lagi akan lahir.

“Eonnie, kau membeli kain banyak sekali.”

“Ehm, aku sengaja karena aku akan membuat dua.”

“Dua?”

“Aku membuat dua, satu untuk laki-laki dan satu untuk perempuan.”

“Apa mereka kembar?”

“Kembar? Aku tidak tahu. Aku membuat dua karena aku tidak tahu adikku laki-laki atau perempuan.”

“Ah….”

“Hmmh….” Suzy menghela nafas panjang. Sejujurnya Ia ingin melanjutkan keinginan Joohyun yang harus tertunda karena peristiwa mengenaskan itu. Tapi sayang sekali karena Ia tak tahu menahu masalah menjahit sama sekali.

Tiba-tiba Suzy menegakkan tubuhnya. Sepertinya Ia tahu siapa orang yang bisa menolongnya. Suzy pun segera bersiap untuk menemui orang tersebut.

….

Howon yang tengah membaca buku-bukunya, sesekali melirik seseorang yang tak jauh dari tempat Ia duduk. Dapat dilihatnya raut sendu di wajah pemuda itu. Ia tahu pasti pemuda itu masih memikirkan peristiwa yang menimpa keluarga Bae. Dan Ia  yakin ada masalah lain lagi yang ikut mengusik hati pemuda itu.

“Kim Myungsoo…,” panggil Howon.

Myungsoo yang tahu Howon memanggilnya segera mendongakkan kepalanya. “Ne, Choha,” sahutnya. Ia yang sebelumnya tengah terlarut dalam pemikirannya sedikit terkejut mendengar Howon memanggil namanya.

“Apa kau sedang ada masalah?” tanya Howon.

Ne? Animnida, Choha.”

“Jangan berbohong padaku, Kim Myungsoo.”

Myungsoo terdiam. Ia ragu apakah Ia harus menceritakan masalah yang mengganggunya pada Putra Mahkota atau tidak?

“Sebenarnya… aku… aku tak sengaja mendengar hal ini. Kurasa Menteri Park merupakan seseorang dibalik peristiwa kebakaran di kediaman keluarga Bae,” jelas Myungsoo akhirnya yang membuat kedua bola mata Howon membulat.

Howon tak menyangka Menteri Park sekeji itu walaupun Ia tahu memang jika Menteri Park bukan orang yang baik.

“Dan… ada satu lagi yang masih mengganggu pikiranku,” lanjut Myungsoo. Howon pun menyimak baik-baik apa yang akan dikatakan pemuda itu. “Aku merasa sangat bersalah pada Keluarga Bae. Mereka harus kehilangan putri mereka karena aku tak bisa menyelamatkannya dari kebakaran itu. Apa yang harus kulakukan, Choha? Aku ingin membantu mereka tapi disisi lain mereka pasti tak ingin bertemu denganku.”

Howon terdiam. Ia ikut memikirkan bagaimana agar Myungsoo bisa membantu Keluarga Bae tanpa harus bertemu dengan mereka.

“Kurasa kau bisa membantu mereka secara diam-diam. Maksudku membantu tanpa harus diketahui mereka kalau kau membantu mereka.”

Myungsoo termenung memikirkan saran Howon untuknya.

“Aku akan memikirkannya. Gamsahamnida, Choha.”

Myungsoo pun akhirnya pamit untuk kembali ke rumahnya. Namun baru beberapa langkah Ia keluar dari bangunan tempat tinggal Howon, langkahnya kembali terhenti saat seseorang tiba-tiba memanggilnya.

“Kim Myungsoo!” panggil Krystal.

Myungsoo membungkukkan tubuhnya sedikit, memberi salam pada Krystal.

“Eung… bagaimana keadaan Suzy?” tanya Krystal.

Myungsoo menundukkan kepalanya. Benar. Bagaimana keadaan Suzy saat ini? Ia sendiri tak tahu bagaimana keadaan gadis itu sekarang karena memang Ia belum menemuinya lagi sejak peristiwa itu. Terakhir Ia hanya bisa melihat gadis itu saat mengobrol dengan Sohyun sebelum akhirnya Ia justru berakhir dengan mengikuti pemuda mencurigakan berpakaian hitam-hitam kemarin itu.

Jwesonghamnida, Mama. Saya kurang tahu soal itu,” jawab Myungsoo. Ia pun kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Krystal setelah sedikit membungkuk memberi salam tadi.

Krystal hanya dapat menatap iba pada Myungsoo. Ia tahu Myungsoo pasti tengah terpukul.

“Heh… aku juga tak bisa berbuat apa-apa untuk membantu mereka,” gumam Krystal lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju kediaman Putra Mahkota.

….

Myungsoo terus berjalan sambil menunduk, memikirkan semua hal yang terjadi. Ia sudah cukup pusing dengan tugasnya mencari Putri Mahkota yang menghilang dan sekarang masalahnya bertambah lagi.

Tiba-tiba Myungsoo menghentikan langkahnya. Ia teringat sesuatu.

“Jika Menteri Park memang orang yang mencelakakan Keluarga Bae, aku bisa menggunakan alasan ini untuk menolak perjodohan itu. Ahbeoji pasti mengerti,” gumam Myungsoo.

Ia pun kembali melanjutkan langkahnya dan memasuki halaman rumahnya.

Tiba-tiba Myungsoo kembali menghentikan langkahnya. Matanya terpaku pada sosok gadis berhanbok kuning yang baru saja keluar dari salah satu bangunan di rumahnya. Lebih tepatnya dari kamar milik adiknya, Kim Sohyun.

Myungsoo segera mengayunkan kakinya mendekati gadis itu.

“Suzy…,” panggil Myungsoo begitu jaraknya dan gadis itu tak begitu jauh.

Suzy yang tak tahu jika Myungsoo sudah pulang pun terkejut. Ia tak menyangka akan bertemu Myungsoo saat ini karena Sohyun mengatakan kalau kakaknya sedang pergi ke istana menemui Putra Mahkota.

Entah mengapa melihat Myungsoo membuat dada Suzy terasa sesak. Ia kembali mengingat kejadian itu. Matanya terasa perih dan sebelum mulai jatuh membasahi pipinya, Suzy pun segera melangkahkan kakinya menghndari Myungsoo.

Grep.

Suzy menghentikan langkahnya. Manik matanya menangkap jemari Myungsoo yang menahan lengannya. Suzy menundukkan kepalanya, menghindari tatapan Myungsoo yang tepat menghujam manik matanya.

“Suzy-ah, aku… minta maaf. Maafkan aku,” ucap Myungsoo pelan.

Tes.

Suzy tak tahu mengapa air matanya melompat keluar dari pelupuk matanya hanya dengan mendengar suara Myungsoo. Entahlah. Tak ingin berlama-lama disana dan membiarkan Myungsoo melihatnya menangis, Suzy segera melepaskan jemari Myungsoo dari lengannya dan melanjutkan kembali langkahnya.

Sedangkan Myungsoo, Ia hanya dapat menatap tubuh Suzy yang semakin menjauh. Ia merasa sedih melihat gadis itu menangis. Dadanya pun terasa sesak mengetahui gadis itu menghindarinya.

“Suzy-ah…,” lirih Myungsoo.

….

Myungsoo mengetuk kamar ayahnya pelan. Ia kemudian melangkahkan kakinya memasuki kamar ayahnya setelah mendengar suara ayahnya yang mempersilahkannya masuk. Myungsoo segera mendudukkan dirinya di hadapan ayahnya.

“Ada apa, Myungsoo?” tanya Tuan Kim.

Myungsoo teringat saran Howon untuk membantu keluarga Bae. Tapi sebelum itu, Ia ingin menceritakan perihal Menteri Park dan juga perjodohannya.

Ahbeoji… aku tidak ingin menikah dengan putri Menteri Park,” kata Myungsoo.

Tuan Kim menatap Myungsoo penuh tanda tanya. Ia tahu Myungsoo memang tidak awalnya menolak perjodohan itu dan Ia pikir akhirnya Myungsoo menerimanya. Rupanya Ia salah. Putranya itu tidak ingin perjodohan itu terjadi.

“Kenapa?”

“Karena… aku tidak ingin menjadi menantu dari seseorang yang suka mencelakakan orang lain,” jawab Myungsoo yang membuat Tuan Kim semakin tak mengerti. Myungsoo pun melanjutkan perkataannya. “Aku tak sengaja mengetahui ini tapi… Menteri Park adalah orang dibalik peristiwa kebakaran yang menimpa keluarga Bae.”

Tuan Kim terkejut bukan main. Benarkah calon besannya orang seperti itu. “Myungsoo… kau tidak salah dengar?”

Myungsoo menggelengkan kepalanya mencoba meyakinkan ayahnya. “Tidak, Ahbeoji. Aku mendengarnya sendiri dari mulut putri Menteri Park walaupun aku tak sengaja mendengarnya saat itu. Menteri Park menyuruh anak buahnya untuk mencelakakan keluarga Bae.”

Tuan Kim terdiam. Ia masih terkejut dengan apa yang dikatakan putranya.

Ahbeoji, ini salahku. Menteri Park melakukan itu karena kedekatanku dengan Bae Suzy. Tapi… tetap saja mereka juga salah. Aku tidak ingin ada yang celaka lagi karena perjodohan ini,” kata Myungsoo.

Ahbeoji akan mencoba mengatakannya pada Menteri Park.”

Myungsoo tersenyum mendengarnya. Setidaknya Ia bisa bebas dari perjodohan itu.

“Ah, dan satu lagi. Aku teringat tentang teman Ahbeoji yang merupakan pemilik penginapan tempat keluarga Bae saat ini tinggal untuk sementara. Aku ingin meminta bantuan Ahbeoji dan teman Ahbeoji untuk membantu keluarga Bae.”

“Hmm.. geure. Ahbeoji akan meminta tolong bantuannya nanti,” kata Tuan Kim.

Myungsoo tersenyum senang. Ia tahu ayahnya pasti mau membantunya. Kemudian Ia teringat sesuatu. Kalau keluarga Bae tahu Ia membantu mereka, bukan tidak mungkin mereka akan menolaknya. Terlebih setelah peristiwa meninggalnya Joohyun. Mereka pasti menolak bantuan Myungsoo.

Ahbeoji, tapi… kumohon jangan sampai keluarga Bae mengetahui kalau kita membantunya.”

“Kenapa?”

“Aku… hanya tidak ingin mereka tahu.”

….

Myungsoo kembali ke kamarnya setelah menemui ayahnya. Ia menghela nafas panjang. Masalah selesai. Ia lega karena tidak harus menjalani perjodohan itu lagi. Dari awal Ia memang tidak setuju walaupun saat itu Ia tidak bisa menolak permintaan ayahnya. Ia pikir Ia bisa melakukannya dengan menjalaninya sedikit demi sedikit. Tapi nyatanya Ia justru semakin tidak ingin perjodohan itu terjadi. Apalagi setelah mendengar tentang Tuan Park yang merupakan dalang dari peristiwa kebakaran itu.

“Hmmh….”

Lagi-lagi Myungsoo menghela nafas panjang.

Tidak. Masalah yang Ia hadapi belum selesai. Hanya satu masalah yang selesai dan masih banyak masalah lain yang menanti untuk diselesaikan. Termasuk hilangnya Putri Mahkota.

Sampai sekarang Ia masih belum bisa menemukan dimana Putri Mahkota yang asli berada. Dayang mata-mata yang saat itu Ia curigai pun kini hilang entah kemana. Dan hal itu membuat pekerjaannya semakin sulit.

Ia merasa bersalah pada Krystal karena tidak bisa bergerak cepat.

Eotteokhaji?”

….

Hari masih pagi namun Tuan Kim sudah bangun dari tidurnya dan kini tengah bersiap-siap. Setelah mendengar cerita Myungsoo kemarin, Tuan Kim ingin dengan segera pergi menemui temannya yang merupakan pemilik penginapan tempat keluarga Bae menginap.

Ahbeoji mau kemana pagi-pagi begini?” tanya Sohyun saat mendapati ayahnya sudah memakai pakaian rapi bersiap untuk pergi keluar rumah.

Ahbeoji ingin menemui teman Ahbeoji.”

“Kalau begitu hati-hati.”

Tuan Kim tersenyum tipis sambil menepuk pelan kepala putrinya lalu segera pergi menemui temannya itu. Sohyun pun kembali melanjutkan kegiatannya yang tengah menjemur pakaian saat tiba-tiba dilihatnya kakaknya keluar dari ruangannya dengan pakaian yang tak kalah rapinya dengan ayahnya.

Sohyun menatap kakaknya yang kini tengah memakai sepatunya.

Orabeoni mau pergi ke istana?” tanya Sohyun.

Myungsoo yang sudah selesai memakai sepatu pun berjalan menghampiri Sohyun.

“Iya. Orabeoni harus pergi ke istana sekarang,” jawab Myungsoo.

“Em? Tumben sekali Orabeoni berangkat sepagi ini.”

“Karena ada sesuatu yang penting jadi Orabeoni harus pergi ke istana sekarang. Apa Ahbeoji sudah berangkat?” tanya Myungsoo.

Sohyun menganggukkan kepalanya. “Baru saja berangkat.”

“Kalau begitu Orabeoni juga berangkat dulu,” kata Myungsoo.

“Hati-hati!”

Myungsoo tersenyum tipis lalu berbalik membelakangi Sohyun dan melanjutkan langkahnya. Belum sampai lima langkah tiba-tiba Myungsoo berhenti dan membalikkan tubuhnya lagi lalu menghampiri Sohyun.

Sohyun mengerutkan keningnya bingung melihat kakaknya yang tak jadi pergi. “Ada apa? Apa ada yang tertinggal? Mau aku ambilkan?” tanya Sohyun.

Myungsoo menggelengkan kepalanya. Tidak ada yang tertinggal atau apapun. Hanya saja tiba-tiba Myungsoo teringat akan Suzy yang kemarin kemari menemui Sohyun. Entah mengapa Ia merasa penasaran ada urusan apa Suzy menemui adiknya.

“Sohyun-ah, kemarin… Suzy… dia kemari menemuimu kan?” tanya Myungsoo.

“Ah itu… ya, kemarin Suzy Eonnie kemari dan menemuiku. Dia ingin aku mengajarinya menjahit sesuatu,” jawab Sohyun.

Myungsoo menganggukkan kepalanya pelan.

Orabeoni kemarin bertemu Suzy Eonnie?” tanya Sohyun.

“Tak sengaja,” sahut Myungsoo. “Kalau begitu… Orabeoni pergi dulu.”

Myungsoo pun kembali melangkahkan kakinya dan segera pergi ke istana sedangkan Sohyun hanya bisa menatap kepergian kakaknya dengan iba. Ia tahu kakaknya pasti masih merasa bersalah karena peristiwa kebakaran itu. Tapi Ia pun tak bisa melakukan apa-apa.

….

Tidak seperti yang dikatakan Myungsoo sebelumnya pada adiknya, kali ini Myungsoo tidak pergi ke istana. Ia justru pergi ke sebuah tempat di dekat pasar yang tak jauh dari rumahnya. Matanya menelisik, mencari seseorang yang akan Ia temui.

Myungsoo segera menghampiri seorang pemuda yang kini tengah duduk di sudut ruangan.

“Nam Woohyun,” panggil Myungsoo.

Pemuda bernama Woohyun itu mendongakkan kepalanya, menyipitkan matanya sebentar sebelum kemudian kedua bola matanya membulat saat melihat siapa yang baru saja memanggil namanya.

“Yaaa… Kim Myungsoo… Lama tidak bertemu.”

Myungsoo tersenyum tipis melihat reaksi Woohyun saat melihatnya. Mereka berdua adalah teman lama. Namun karena kesibukan masing-masing membuat keduanya sulit untuk bertemu.

“Tumben sekali mencariku, ada apa?” tanya Woohyun langsung tanpa basa-basi. Dan Myungsoo sudah terbiasa dengan hal itu.

“Sebenarnya aku ingin meminta bantuanmu,” kata Myungsoo.

Woohyun menaikkan sebelah alisnya dan menatap Myungsoo penuh tanda tanya. “Apa?”

“Itu….”

….

Tuan Kim memasuki pekarangan sebuah penginapan yang cukup luas. Ia memberitahukan kedatangannya pada seorang pelayan yang sudah dikenalnya. Dengan segera pelayan itu membawa Tuan Kim untuk menemui temannya sekaligus pemilik penginapan.

Cklek.

Tuan Kim pun masuk ke dalam sebua ruangan yang Ia yakini merupakan ruangan milik temannya. Dan benar saja karena temannya itu kini tengah duduk sambil membaca sesuatu enta apa itu di mejanya.

Pria yang merupakan teman Tuan Kim itu segera mendongakkan kepalanya saat mendengar suara langkah kaki mendekat. Matanya membulat saat melihat sosok yang dikenalnya.

Eoh? Yonghwan-ah… duduklah duduklah.”

Tuan Kim segera duduk di hadapan temannya.

“Tumben sekali kau kemari, ada apa?” tanya teman Tuan Kim.

“Aku perlu bantuanmu, Taeji-ah. Tapi sebelumnya ada yang ingin kuceritakan padamu,” kata Tuan Kim.

“Tentang apa?”

“Ini tentang keluarga Bae.”

“Keluarga Bae? Yang rumahnya kebakaran itu?”

Tuan Kim menganggukkan kepalanya. “Ya, keluarga Bae yang itu. Kudengar mereka tinggal disini untuk sementara, karena itu aku meminta bantuanmu, Taeji-ah. Dan kurasa hanya kau yang bisa membantunya.”

“Apa itu?”

….

Suzy tersenyum senang melihat sebuah hanbok mungil berwarna kuning gading yang baru setengah jadi di tangannya. Setelah belajar sedikit soal menjahit kemarin pada Sohyun, Suzy pun mulai menjahit hanbok itu sendiri sejak semalam. Dan saat ini dia sudah berhasil mengerjakan setengah potong. Memang Ia akan membuat dua dan Ia belum menyelesaikan satu pun tapi Ia sudah cukup senang.

Suzy meregangkan otot-ototnya yang pegal setelah semalaman menjahit hanbok itu. Ia menyipitkan matanya saat merasakan cahaya matahari yang mulai memasuki kamarnya melalui celah-celah jendela.

“Sudah pagi.”

Suzy beranjak dari duduknya. Ia kemudian keluar dari ruangannya dan menghirup dalam-dalam udara pagi yang masih segar itu.

“Hahhh… segarnya. Sepertinya menyenangkan kalau aku jalan-jalan sebentar.”

Suzy pun memakai sepatunya dan melangkah menjauhi bangunan kamarnya. Hawa di penginapan masih segar. Ia pun mengayunkan langkahnya lagi dan berjalan mengelilingi penginapan. Mencoba untuk menyegarkan pikirannya setelah semalaman berkutat dengan kain dan benang.

Tiba-tiba Suzy menghentikan langkahnya saat tak sengaja melihat seseorang yang dikenalnya. Keningnya berkerut samar dan pikirannya bertanya-tanya sedang apa orang tersebut di sini.

“Ada urusan apa Tuan Kim kemari?” batin Suzy.

Namun Suzy segera menepis pikirannya. Toh Tuan Kim kesana pun tidak ada hubungannya dengan dirinya. Begitulah yang Suzy pikirkan. Namun manik matanya masih belum lepas dari sosok Tuan Kim.

Melihat Tuan Kim tiba-tiba saja membuat Suzy kembali mengingat saat Ia tak sengaja bertemu Myungsoo kemarin. Entah mengapa Suzy merindukan pemuda itu. Sejujurnya Ia merasa tidak enak karena menghindari Myungsoo kemarin tapi melihat pemuda itu membuatnya teringat Joohyun.

“Hehh…. aku ini kenapa?”

….

TBC

….

Hallo~~~~

Ini chapter 11-nya. Maaf ya lama banget hehe… Tapi kn sambil nungguin chapter ini bisa baca ffku yg lain dulu *ehem* *promosi*. Makin lama cerita ini makin…. entahlah. Agak aneh gimana gitu. Tapi  emang dari awal mau aku bikin kayak gini sih. Endingnya masih lumayanlah.. beberapa chapter lagi mungkin. Belum tahu juga. Belum ada bayangan jadi nikmatin aja. Tapi kemungkinan nggak sampe dua puluh chapternya.

Buat reader yg udah setia nungguin dan ninggalin jejak di ff ini… jeongmal gamsahamnida *bow*. FF ini nggak akan ada apa-apanya tanpa kalian *bighug*

Hmm… akhir kata jangan lupa RCL yaaaa =D

 

 

67 responses to “[Freelance] New Destiny Chapter 11

  1. akhirnya myung tau siapa di balik musibah yang menimpa keluarga bae…. akhirnya gk bakalan ada pernikahan di antara myung dan jiyeon.. semoga…. apa putri mahkota yang asli akan ketemu ya?? hufftt penasaran… trus gmn kabar keluarga Choi yang berjasa dengan keluarga Bae???

  2. wah..wah… kayaknya ada kesalahan dimasa lalu yang mengatakan kalo keluarga choi yang membantu keluarga bae padahal sebenarnya dibalik itu semua ada keluarga kim,, he semoga zyeon bisa tau apa yang terjadi,😀 tapi myungzy lucu, zyeonnya marah sama myung tapi rindu juga ternyata😀

  3. Yaahh aku sedih karena sooji menghindar dr myung..aku sih bs ngerti perasaan sooji tp apa yg diomongin sohyun ttg kakaknya yg tulus mau bantu joohyun keluar dr kebakaran itu bener
    Huffttt makin runyam nih kyknya
    Dan klo keluarga kim ngebatalin acara perjodoham itu kok aku malah ngeri keluarga park.bakalan lbh sadis lagi yaa
    Tp aku seneng sih meskipun dichap ini ga ada myungzy momentnnya tp keliatan bgt klo mereka udh slg membutuhkan satu sama lain disini
    Semoga aja di chap slnjutnya myungzy udh baikan…aku lbh suka ngeliat mereka becanda drpada marahan kyk gini syeediihh
    Ditunggu lanjutannya ne

  4. Myungzy kapan saling sukanya yah? Hehe udh gak sabar liat mereka bakal pacaran :v. Kasian myung masalah trus dtg mnghampirinya aigoo

  5. sahabat tuan kim itu tuan choi kan…mknya haraboeji blg klrga berhutng budi sm choi…pdahal keluraga kim aigooo…
    myungzy knp jd gtu…huhu

  6. Teman Tn. Kim itu bermarga Choi kah? Jadi keluarga Bae mengira keluarga Choi yg menolongnya padahal yg sebenarnya keluarga Kim. Lalu suzy mengetahui kebenarannya dan bisa memberi alasan utk menolak minho? Haha *mulai nglantur :v

  7. Ceritanya mulai menggambarkan hubungan masa lalu dan masa depan (?) .. semoga kedepanny banyak myungzy moment hehehe next author keep fighting! ^_^

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s