[Freelance] Kwajangnim Chapter 2

Title : Kwajangnim | Author : kawaiine | Genre : Angst, Family, Romance | Rating : PG-17 Main Cast: Kim Myungsoo, Bae Soo Ji, Choi Minho, Son Na Eun | Other Cast : Kim Soo Hyun,Lee Hyuk Jae [Eunhyuk] , Cho Kyuhyun,Choi Sulli, Kim Yoo Jung, Kim So Hyun, eTc

“This plot and story is pure from my mind. Sorry for typos, don’t be a siders and plagiator. Happy reading :*”

***

Author POV
Soo Hyun tengah terduduk di ruangan kantornya, ia memandang sebuah foto di tangannya. Ia tersenyum.

“Hei, aku merindukanmu… Mungkin jika ada kau aku takkan kesepian seperti ini.” gumamnya pelan. Tak lama kemudian seorang wanita masuk membawakan sebuah map.

“Sajangnim, ini berkas kerja sama yang di tawarkan oleh Choi Financial Group.” wanita itu menyerahkan berkasnya pada Soo Hyun, Soo Hyun membacanya dengan teliti. Ia memasukkan foto yang tadi ia genggam kedalam saku jasnya.

“Baiklah, adakan pertemuan dengan mereka besok pagi.” Soo Hyun kemudian menorehkan tanda tangan dan stempelnya pada map yang lain.

Di arah lain, Myungsoo tengah membetulkan komputer bersama Eunhyuk di ruangan kepegawaian. Tiba-tiba para karyawan yang sedang beraktivitas berdiri dan membungkuk memberikan hormat, termasuk Eunhyuk dan Myungsoo. Eunhyuk menyenggol lengan kanan Myungsoo, membuat Myungsoo menoleh padanya.

“Wanita sombong itu yang kau sebut manis? Lihatlah gaya berlajannya yang arogan. Tapi, tubuhnya memang sangat indah, aku mengakui itu.” ujar Eunhyuk.

“Dia memang manis, sunbae. Kemarin saja ia memakan—“ ucapan Myungsoo terhenti, tiba-tiba bayangan Soo Ji tadi malam merasuki pikirannya. Ia menggeleng kuat.

“Makan? Kau mengintipnya juga ketika ia sedang makan? Aish, kau sangat menyukainya?” tanya Eunhyuk. Myungsoo mengangguk.

“Aku pasti sudah gila memilihmu bekerja disini Kim Myungsoo.” Myungsoo hanya tertawa lebar. Tiba-tiba pria yang kemarin berpapasan dengannya berjalan menuju ruangan Soo Ji. Membuat Myungsoo mengernyit heran.

“Ku dengar kwajangnim kemarin bertengkar dengan kekasihnya yang itu. Kekasihnya tampan sekali. Tapi kwajangnim malah mengajaknya bertengkar.” ujar salah satu pegawai, Myungsoo dan Eunhyuk saling bertatapan, wajah Myungsoo menujukkan raut kekecewaan.

“Kalian tak boleh menyebar isu bahwa kwajangnim memiliki kekasih. Wanita memang suka sekali bergosip.” ujar Eunhyuk pada kedua pegawai yang berada di sampingnya.

“Yak! Gisulja Chojangnim. Kami tidak bergosip. Ini kenyataan, kemarin saja Kwajangnim menangis di ruangannya. Aku mendengarnya dari Mi Ah. Bukankah Mi Ah kekasihmu? Mengapa kau tak tahu bahwa kwajangnim memiliki seorang kekasih?” Eunhyuk hanya memekik kesal pada kedua orang di sampingnya ini. Ia kemudian menepuk pundak Myungsoo.

“Aish, kau jangan bersedih seperti ini. Tenanglah, mereka memang suka bergosip.”

—-0000—-
Minho masuk kedalam ruangan Soo Ji , dilihatnya Soo Ji yang duduk di kursi kebesarannya. Soo Ji kemudian menoleh pada Minho.

“Ada apa kau datang kesini? Ini masih terbilang pagi Minho-ssi. Tumben sekali.” ujar Soo Ji dengan tatapan dinginnya.

“Keluargaku mengundangmu untuk makan malam bersama. Ibu dan ayahmu juga sudah ku beritahu tadi.” ujar Minho.

“Ah, kata-kata menyakitkan apa lagi yang akan keluargamu ucapkan padaku? Aku tak berjanji akan datang. Sebelumnya, terimakasih untuk undangan makan malamnya.” Minho menghembuskan nafasnya berat. Kemudian ia melangkah keluar meninggalkan Soo Ji yang masih duduk dengan arogansinya. Soo Ji terdiam ketika Minho keluar dari ruangannya.

Kediaman keluarga Choi kini tengah sibuk membereskan rumah mewah mereka, termasuk mempersiapkan makanan untuk menyambut putri satu-satunya Tuan dan Nyonya Choi. Choi Sulli, gadis yang di kabarkan akan pulang ke korea setelah lulus kuliah di Amerika. Dan pada saat ini juga keluarga besar Choi akan mengadakan pertemuan dengan keluarga Bae. Sementara di kediaman keluarga Bae yang biasanya sepi tak berpenghuni, saat ini tengah meributkan pakaian apa yang akan mereka pakai di acara penting keluarga Choi. Soo Ji tengah terduduk di kursi yang menghadap kedepan cermin. Wajahnya tampak kesal, pasalnya orang tua Soo Ji memaksa Soo Ji untuk tetap menghadiri acara yang di selenggarakan keluarga Choi. Soo Ji menghembuskan nafasnya kasar, ia kemudian mengoleskan sedikit make up di wajahnya. Dress berwarna hitam selutut melekat sempurna di tubuhnya. Rambutnya di biarkan tergerai. Ia melangkahkan kakinya keluar kamar.

“Soo Ji-ah, kau sangat cantik.” puji Nyonya Bae, Soo Ji menatap Nyonya Bae dengan tatapan dingin.

“Putriku sangat cantik, setelah melihatmu aku pastikan Minho ingin cepat menikahimu.” ujar Tuan Bae. Soo Ji tak menghiraukan ucapan kedua orang tuanya. Ia berjalan mendahului mereka yang terdiam mematung. Nyonya Bae dan Tuan Bae bertatapan lalu menyusul langkah Soo Ji.

—-0000—-
Myungsoo tengah duduk di sebuah kedai ramen di samping jalan raya. 3 mangkuk ramen yang di tumpuk berada di hadapan Myungsoo, ditambah dengan 2 botol soju yang berdiri di dekat mangkuk tersebut. Botol ketiga berada di dalam genggaman Myungsoo. Eunhyuk dan Kyuhyun hanya menatap sedih kepada Myungsoo.

“Yak! Myungsoo-ah… Kau jangan minum terlalu banyak! Sudah, hentikan” ujar Kyuhyun sembari merebut botol Soju di tangan Myungsoo. Namun tangan Kyuhyun tak dapat mengambil botol tersebut, kekuatan Myungsoo sangat besar meskipun ia tengah mabuk.

“Soju, Soo Ji. Mereka mirip kan , hyung? sama-sama membuatku pusing dan memabukkan sekali.” ujar Myungsoo, Eunhyuk dan Kyuhyun menggelengkan kepalanya.

“Kau terlalu banyak minum, ayo aku antarkan kau pulang. Kali ini aku baik kepadamu Myungsoo. Meskipun kau teknisi baru di kantor, aku peduli padamu kan?Aku kepala regu yang sangat perhatian dan sangat tampan, Mi Ah tergila-gila padaku.” ujar Eunhyuk, di antara mereka hanya Kyuhyun yang tidak minum soju. Kyuhyun mengacak rambutnya frustasi. Ia lelah menghadapi kedua orang ini.

“Ya… Kau sangat peduli padaku, tapi kwajangnim tak memperdulikanku. Aku sangat sedih, hyuuuung.” ujar Myungsoo , matanya terpejam , kakinya dihentakkan ke tanah dengan bergantian. Nadanya sedikit merengek.

“Anak malang. Sudah hentikan, jangan menangis.” ujar Eunhyuk, ia memeluk kepala Myungsoo. Tapi ia melepaskannya dengan sedikit kasar.

“Bodoh, kwajangnim mana mungkin mengenalimu.” timpa Eunhyuk.

“Aku menyelamatkannya dari preman-preman itu, ia pasti mengingatku. Aku yakin, sangat yakin. Sangat!” ujar Myungsoo, tiba-tiba handphone Myungsoo berbunyi. Ia segera meraih handphone nya di saku kemeja yang ia kenakan.

“Yeoboseyo…”

“………………”

“Ne, Ne… Pulanglah dengan membawa Soo Ji. Soo Ji. Soo Ji. Ingat, aku ingin Soo Ji. Banyak yang ingin aku bicarakan dengannya.” Myungsoo berkata dengan setengah sadar, atau bisa di bilang ia sudah tak sadar dengan perkataannya. Tak lama kemudian ponselnya ia masukkan kembali di saku kemejanya. Kyuhyun yang kesal beranjak dari kursinya, ia kemudian membawa Eunhyuk dan Myungsoo secara bersamaan masuk kedalam mobilnya. Kyuhyun juga tak lupa kembali ke tempat kedai tadi untuk membayar makanan yang telah ia pesan, tepatnya membayar juga yang Myungsoo dan Eunhyuk pesan, ia juga mengambil tas Myungsoo dan Eunhyuk yang tertinggal di kursi. Ia kemudian masuk kedalam mobilnya, dilihatnya kedua pria itu kini tengah tertidur.

“Kedua orang ini merepotkan sekali. Aish, apakah aku akan mengajak mereka ke rumahku? Tidak! Eomma pasti menghukumku jika aku membawa orang-orang mabuk. Rumah Eunhyuk Hyung? Ia tak punya rumah, hanyalah apartemen yang sepi.” Kyuhyun berdialog sendiri sembari sesekali menoleh ke kaca mobilnya, ia kemudian melihat Myungsoo lalu tersenyum penuh arti.

—-0000—-
Soo Ji dan keluarganya kini tiba di kediaman keluarga Choi. Dengan langkah kaki ringan, Soo Ji memasuki rumah megah itu. Masih dengan tatapan dinginnya. Semua asisten rumah tangga yang berjaga di depan yang menyambutnya dan menyapanya tak ia hiraukan. Bahkan melirik mereka dan tersenyum saja meskipun terpaksa, tak ia lakukan, seolah kata-kata yang keluar dari mulutnya dan senyumannya adalah hal yang paling mahal. Ia kemudian tiba di depan keluarga Choi. Kesopanannya masih ia junjung tinggi di hadapan keluarga Minho. Ia membungkukkan tubuhnya memberikan hormat. Tampak juga Minho yang turun dari tangga, Minho melihat Soo Ji dengan senyuman di bibirnya.

“Ayo, duduk.” ujar Nyonya Choi. Soo Ji dan kedua orang tuanya kini berjalan ke  arah ruang tamu. Mereka pun duduk di sebuah sofa yang besar. Di ikuti dengan keluarga Minho.

“Terimakasih keluarga Bae, kalian telah hadir di acara makan malam yang kami selenggarakan.” ujar Nyonya Choi. Nyonya Bae dan Tuan Bae hanya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.

“Kesopanan macam apa ini, seharusnya yang di undang yang mengucapkan terimakasih.” ujar Nenek Choi. Semuanya sontak menoleh ke  arah nenek Choi. Termasuk Soo Ji.

“Halmeoni.” ujar Minho.

“Eomma, bukankah terlalu kasar mengatakan hal seperti itu di depan calon mertua Minho?” ujar Tuan Choi. Nenek Choi hanya melirik sinis kepada Soo Ji. Hening.
Suara mobil yang terdengar sampai kedalam memecahkan keheningan diantara kedua keluarga ini. Tuan Bae dan Nyonya Bae hanya memaksakan tersenyum ketika mendengar ucapan Nenek Choi tadi. Bagaimanapun, jika tidak ada keluarga Choi, hidup mereka mungkin tidak sebaik ini.

“Ah, dia pasti sudah datang!” pekik Nenek Choi. Nenek Choi beranjak dari tempat duduknya diikuti oleh keluarga Minho dan Soo Ji. Nenek Choi berjalan ke  arah pintu utama, Nyonya Choi kemudian menahan lengan Nyonya Bae.

“Atas ucapan Eomma, kalian sebaiknya tak memikirkan ucapan itu. Maaf.” ujar Nyonya Choi, Nyonya Bae hanya tersenyum.

“Tak apa, ini juga kesalahan kami. Maafkan kami, Minho Eomma.”

Sepasang kaki berbalut high heels berwarna merah turun dari mobil, dress pendek berwarna merah dan kacamata yang ia pakai membuat siapapun yang memandangnya akan mengatakan bahwa ia cantik. Rambut lurusnya tergerai indah. Ia kemudian membuka kacamatanya. Gadis cantik itu, Sulli.

“Halmeoni!” pekiknya dengan suara manja, Soo Ji yang mendengarnya hanya mencibir. Sulli berhamburan memeluk neneknya. Soo Ji melemparkan pandangannya ke  arah Minho.

“Dia siapa?” tanya Soo Ji. Minho tersenyum.

“Dia adikku.” jawab Minho, Soo Ji kembali menoleh kedepan.

“Ku kira ia tunanganmu. Kalian sangat cocok jika bukan saudara.” ujar Soo Ji. Senyum minho memudar. Soo Ji masih dengan wajah dinginnya.

“Sulli-ah, ini adalah calon mertua kakakmu. Dan ini adalah calon kakak iparmu.” ujar Nyonya Choi, Sulli membungkukkan badannya memberi hormat pada keluarga Bae. Soo Ji juga tersenyum kepada Sulli.

“Terlalu berlebihan.” gumam Nenek Choi, Nenek Choi kemudian mengajak Sulli masuk dan berjalan ke  arah ruang makan, di ikuti dengan yang lainnya.

“Calon kakak iparku sangat cantik. Oppa, kau tak salah memilihnya.” ujar Sulli disela-sela kegiatan makan malam mereka, Soo Ji hanya tersenyum simpul.

“Soo Ji kami sangat sensitif terhadap penampilannya. Maka dari itu ia selalu berdandan cantik terlebih jika ada acara seperti ini.” ujar Nyonya Bae.

“Hampir lebih dari 10 kali di undang dan baru 2 kali menghadiri acara kami. Bukankah begitu Soo Ji-ah?” tanya Nyonya Choi.

“Mungkin karena Soo Ji sibuk dengan tugas kantornya.” ujar Minho. Soo Ji masih terdiam. Hal ini pasti terjadi, ia sudah memastikannya terlebih dahulu sebelum masuk kedalam sarang mulut kejam manusia ini.

“Jabatannya hanya sebagai manager, tapi kesibukannya melebihi direktur.” ujar Nenek Choi. Sulli menatap ke  arah Soo Ji. Ia bingung.

“Soo Ji Eonni bekerja dimana Oppa? Pasti di sebuah perusahaan besar kan?” tanya Sulli.

“Ya, perusahaan Asuransi yang Appa bangun, kini di kelola oleh Tuan Bae. Tapi hak milik sepenuhnya masih milik Appa.” ujar Tuan Choi.

“Oh, seperti itu rupanya. Aku terlalu lama di Amerika sehingga tak tahu masalah ini.” ujar Sulli.

“Gwenchana, cucuku tersayang. Kau lulus sekolah langsung melanjutkan kuliah, itu langkah yang bagus. Dibandingkan lulus SMA lalu ayahmu memintamu untuk mengurus perusahaannya yang tak terhitung. Itu bukanlah ayah yang bijaksana.” ujar Nenek Choi, Sulli hanya tersenyum. Tuan Bae yang mendengar ini hanya tersenyum pahit. Begitu juga dengan Nyonya Bae.

“Kau tak perlu memikirkan urusan cinta, Sulli-ah… Cinta hanya membuatmu buta, dan jika kau tak mendapatkan cinta itu kau akan menggunakan segala cara yang berlebihan. Apa lagi jika kau hanya mengejar harta dari orang yang kau cintai. Itu adalah wanita yang—“

“Gila harta.” ujar Nyonya Choi,keluarga Choi terkecuali Minho dan Tuan Choi tertawa terbahak-bahak. Soo Ji yang sedari tadi menyuapkan salad ke mulutnya sontak mengehentikan aktivitasnya. Sendok yang ia genggam di hempaskan ke piring yang berisi penuh salad tersebut. Soo Ji kemudian beranjak dari kursi mewah yang ia duduki. Semua mata tertuju pada Soo Ji. Nyonya Bae yang berada di samping Soo Ji menarik tangan Soo Ji , namun Soo Ji menghempasnya dengan kasar.

“Wae? Kau merasa tersindir Soo Ji-ssi?” ujar Nenek Choi, Soo Ji menahan air matanya. Tangannya mengepal dengan keras, tangan Minho terulur menggenggam tangan Soo Ji, namun dengan kasar juga ia menghempas tangan Minho.

“Aku tak merasa tersindir dengan perkataanmu. Tapi aku menyesali cara yang kau gunakan untuk berbicara dan mengungkapkan kekesalanmu pada keluargaku.” ujar Soo Ji, matanya menatap tajam nenek Choi dan Nyonya Choi, juga Sulli.

“Seorang pecundang hanya berani berbicara di belakang lawannya. Aku tak merasa tersindir karena aku bukan wanita yang gila harta. Aku mengakui bahwa kalian memang punya banyak sekali uang untuk membeli apapun, tapi sayangnya, kalian sendiri tak bisa membeli dan memilih perkataan yang tepat dan terpelajar meski perkataan itu berasal dari hati nurani kalian. Aku bukan gadis yang lulus dari sekolah yang tinggi, namun disini aku memiliki harga diri yang tinggi. Aku tak terima keluargaku kau rendahkan seperti itu, Choi Halmeoni.” ujar Soo Ji. Sementara Nyonya Bae menahan putrinya, sebelum putrinya ini berkata lebih jauh.

“Soo Ji-ah, sudah… Kau tak perlu seperti ini.” ujar Nyonya Bae.

“Sampai kapan kau dan pria ini akan diam di perlakukan seperti ini oleh keluarga yang terhormat ini? Aku menjamin bahwa setelah ini selesai kau akan mengomel, Eomma. Kau hanya bisa mengungkapkan kekesalanmu di belakang mereka—“ ujar Soo Ji, matanya memerah, air matanya semakin tak tertahan. Minho yang melihat Soo Ji seperti ini hanya diam, ia tak menyangka bahwa mencintai Soo Ji mampu membawa Soo Ji kedalam permasalahan yang sangat berat seperti ini.

“Dan apa bedanya pecundang seperti kami dengan orang tuamu yang mengungkapkan kekesalannya di belakang kami, Nona Bae?” tanya Nenek Choi. Soo Ji tersenyum sinis.

“Semua yang ingin mereka ungkapkan selama ini telah aku tampung dan aku ungkapkan hari ini. Berbeda denganmu yang terus menerus berkata di belakang kami. Aku tahu, jika bukan karena pertolongan Tuan Choi, keluargaku takkan seperti sekarang, mungkin aku hanya hidup seadanya. Tapi, pertolongan itu bukanlah sebuah alasan untuk menginjak orang yang kau tolong.” ujar Soo Ji, Nenek Choi mendekat ke  arah Soo Ji. Ia hendak menampar Soo Ji. Namun Nyonya Choi, Sulli, dan Tuan Choi menahannya. Tuan Bae dan Nyonya Bae berdiri di samping Soo Ji. Mereka menatap kesal pada Soo Ji.

“Kau wanita tak tahu malu, Kau, keluarlah dari rumah ini!” ujar Nenek Choi. Soo Ji tersenyum.

“Dari awal aku tak pernah menginginkan kaki ku menginjak rumah ini, namun karena cucumu ini dan kedua orang tuaku yang selalu memaksaku, aku terpaksa datang. Kau hanya perlu mengingat saja, jika aku kesini, tak lebih dari rasa terpaksa.Ku rasa ini bukan tempat untuk wanita sepertiku.” Soo Ji membalikkan badannya dan berjalan ke pintu utama, namun langkahnya terhenti.

“Dan  kau, anak manja. Aku tak bisa mengingat namamu. Kau perlu mengenal lebih dalam siapa aku dan hubunganku dengan keluargamu.”
Soo Ji melanjutkan langkahnya, Minho hendak mengejarnya, namun tangan Tuan Choi menahannya. Nyonya dan Tuan Bae memberikan hormat kepada keluarga Choi, mereka mengejar putrinya. Soo Ji kini melangkah keluar, air matanya tak terbendung lagi, ia meneteskannya dan menghapusnya dengan kasar. Ia berjalan menjauhi kediaman keluarga terkutuk ini.

“Soo Ji, hentikan langkahmu!” ujar Tuan Bae. Soo Ji menoleh ke belakang. Berharap kedua orang tuanya memahami perasaan Soo Ji saat ini. Namun harapan hanyalah harapan yang mungkin bisa dan mungkin tidak terjadi.

“Kau kembalilah kedalam, meminta maaflah pada mereka. Perkataanmu sungguh keterlaluan.” ujar Tuan Bae, hati Soo Ji semakin panas, air matanya semakin deras mengalir, sesombong apapun ia , ia tetaplah seorang wanita, wanita yang rapuh.

“Apakah kau orang tuaku?” tanya Soo Ji. Nyonya Bae dan Tuan Bae membelalakkan mata mereka.

“Apa maksudmu Soo Ji-ah? Kembalilah kesini.” ujar Nyonya Bae.

“Jika kau tidak mau meminta maaf pada mereka, jangan kembali lagi ke rumah. Jangan kembali. Ingat itu, kau anak tak tahu malu. Kau beruntung di cintai oleh Minho, karena cintanya kau mampu hidup seperti sekarang, jika bukan karenanya kau akan sengsara.” ujar Tuan Bae. Soo Ji melanjutkan langkahnya, ia melepas sepatu heels yang ia kenakan. Ia kemudian berlari cepat.

“Yeobo, kau terlalu berlebihan. Bagaimana jika Soo Ji tak pulang ke rumah?” ujar Nyonya Bae.

“Biarlah saja, ini pelajaran untuknya. Sudahlah, kita pulang saja. Aku malu dengan keluarga Choi.”

—-0000—-

Kyuhyun dengan kesulitan memapah kedua orang yang mabuk ini. Dengan susah payah ia menekan bel apartemen di hadapannya. Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya keluar dari dalam.

“Aigoo… Myungsoo-ah, Myungsoo-ah… Apa yang terjadi pada anak ini?” ujar Ibu Myungsoo, tak lama kemudian seorang pria paruh baya juga keluar dari dalam, ia melihat keadaan putranya yang kacau.

“Myungsoo-ah!” pekiknya, kemudian ia mengambil alih Myungsoo.

“Ia mabuk, Ahjumma, Ahjussi. Bisakah aku masuk? Masih ada satu orang lagi yang sangat merepotkan di bandingkan Myungsoo.” ujar Kyuhyun. Ibu Kim mempersilahkannya masuk.

“Jadi, kau teman Myungsoo di kantor?” tanya Ayah Kim pada Kyuhyun.

“Ya, tepatnya aku dan manusia jelek ini adalah seniornya.” ujar Kyuhyun sembari menunjuk ke  arah Eunhyuk yang masih tertidur dengan mulut yang terbuka.

“Maafkan anakku telah merepotkanmu, Sunbae.”

“Ahjussi, kau tak perlu seperti itu. Aku Kyuhyun, dan ini Eunhyuk Hyung. Kami dan Myungsoo sudah seperti berteman lama.” ujar Kyuhyun, Ayah Kim hanya mengangguk senang.

Ibu Kim keluar dari dapur membawa air madu hangat agar alkohol yang berada di dalam tubuh kedua pemuda ini dapat hilang. Myungsoo berhasil terbangun, ia kemudian meminum air madu yang di berikan oleh ibunya. Eunhyuk juga berhasil terbangun dan meminum air madu yang berada dalam genggaman Kyuhyun. Setelah 20 menit mereka kemudian tersadar.

“Kau mabuk berat, Myungsoo. Bagaimana bisa kau seperti ini.”

“Maafkan aku, eomma…” Ia kemudian melihat sekelilingnya, dilihatnya Eunhyuk dan Kyuhyun. Dan tangan Eunhyuk yang melingkar di tangan Kyuhyun, kepala Eunhyuk juga bersandar di pundak Kyuhyun.

“Kau seharusnya berterimakasih pada Kyuhyun, ia yang mengantarmu pulang.”

“Terimakasih, Sunbae.” ujar Myungsoo, Kyuhyun mengangguk.

“Tapi, Eunhyuk Chojangnim… Sepertinya kau merusak pemandanganku.” ujar Myungsoo, Eunhyuk dengan cepat melepaskan tangannya dari Kyuhyun.

“Eomma, Yoo Jung dan So Hyun dimana? Mengapa mereka tak  ada disini?”

“Mereka sedang berjalan-jalan bersama teman-temannya. Lagipula esok hari libur. Eomma mengizinkannya. So Hyun bilang bahwa ia juga izin kepadamu. Aigoo… Aku lupa mungkin kau menerima telepon dari adikmu ditengah mabuk.” Myungsoo tersenyum kikuk.

“Mereka adik-adikmu?” tanya Kyuhyun. Myungsoo mengangguk.

“Yeoja?” tanya Eunhyuk. Myungsoo kembali mengangguk. Eunhyuk dan Kyuhyun saling bertatapan.

“Chogiyo, Ahjumma, Ahjussi… Bolehkah kami menginap semalam saja disini?” tanya Eunhyuk antusias. Ibu dan ayah Myungsoo mengangguk.

—-0000—-
Soo Ji berjalan gontai tanpa alas kaki di keramaian kota Seoul. Sesekali ia mengusap perutnya. Lapar. Mungkin saja. Pagi hari ia hanya sarapan sebuah sosis goreng, malam hari ia hanya memakan salad. Itu pun hanya beberapa butir potongan strawberry kecil. Wajar jika penyakit lambung menyerangnya. Soo Ji melihat sekumpulan anak-anak remaja yang sedang berjalan-jalan, ia tersenyum pahit. Ia juga ingin meskipun hanya sekali dalam hidupnya berjalan-jalan bersama teman seperti itu. Soo Ji tak dapat lagi berjalan, tubuhnya melemas seketika. Ia terduduk di jalan sempit dekat toko kue. Matanya berat untuk melihat sekelilingnya, yang ia ingat hanya… Kedua wajah yang menghampiri dan menanyakan keadaannya. Setelah itu, ia tak sadar.

Yoo Jung dan So Hyun kini menekan password apartemen mereka. Apartemen ini cukup luas untuk di huni oleh keluarganya. Mereka kemudian masuk kedalam, dilihatnya banyak orang di hadapannya.

“Aigoo… Anak-anak gadisku, Yaa! siapa lagi yang kau bawa ?” tanya Ayah Kim, ia memekik ketika melihat seorang wanita di papah oleh kedua putrinya.

“Eonni ini mengkhawatirkan Appa, ia kasihan sekali. Sepertinya ia sakit.” papar Yoo Jung. Myungsoo refleks menoleh ke  arah adiknya, di ikuti oleh Eunhyuk dan Kyuhyun. Mereka berteriak keras, mereka terkejut dengan apa yang di bawa oleh kedua adik Myungsoo.

“Kwajangnim!” pekik mereka bersamaan. Myungsoo dengan sigap berlari ke  arah Soo Ji. Ia kemudian menggendong Soo Ji dan menidurkannya di sofa. Di lihatnya Soo Ji yang pucat.  Eunhyuk dan Kyuhyun terpaku melihat kedua adik Myungsoo. Mereka mengembangkan senyumannya masing-masing. So Hyun dan Yoo Jung juga membalas senyuman mereka.

“Apa yang terjadi dengan nona ini? apakah aku harus memanggil dokter?” ujar Ayah Kim.

“Sebaiknya kau memanggil Dokter Park yeobo… gadis ini sangat menyedihkan, Aigoo…” tangan Ibu Kim kini terulur mengusap pipi Soo Ji dan mengusap rambut Soo Ji.

“Maaf, Oppa… Kami harus masuk ke dalam kamar.” ujar Yoo Jung, Eunhyuk dan Kyuhyun mengangguk.

“Silahkan. Kami akan menunggu.”

“Tapi kalian menghalangi jalan kami.” ujar So Hyun. Eunhyuk dan Kyuhyun kemudian memberi jalan pada kedua adik Myungsoo.

Dokter Park kini tengah memeriksa keadaan Soo Ji, Myungsoo hanya menatap sendu pada Soo Ji. Begitu pula dengan Eunhyuk dan Kyuhyun. Wanita yang biasa mereka panggil harimau kini tertidur dengan cantik meskipun dalam keadaan sakit, bagaimanapun harimau ini dalam keadaan yang menyedihkan.

“Ia hanya kelelahan, lambungnya bermasalah, ia sepertinya sedang tertekan. aku akan menyiapkan obat untuknya. Jika obatnya habis, resep ini bisa kau tebus di klinik ku.” ujar Dokter Park , tangannya menyerahkan selembar kertas kecil, Myungsoo dengan sigap mengambilnya. Eunhyuk berbalik, begitu juga dengan Kyuhyun.

“Sepertinya ia benar-benar menyukai Kwajangnim.” ujar Eunhyuk, Kyuhyun mengangguk.

Dokter Park kini keluar dari apartemen keluarga Myungsoo. Soo Ji masih terbaring lemah di sofa milik keluarga Myungsoo.

“Kalian jelaskan mengapa bisa bertemu dengan gadis ini di jalan.”

“Kami baru saja keluar dari Toko Kue, lalu menemukan Eonni ini terduduk di samping toko, ketika kami menghampirinya ia masih sadar, namun tak lama kemudian ia pingsan. Kami tak tega melihatnya, Oppa.” ujar So Hyun, Yoo Jung hanya mengangguk.

“Sebenarnya, dia ini siapa Myungsoo-ah?” tanya Ibu Kim.

“Dia adalah manager di kantor kami, Eomma. Dia sangat—“

“Sombong.” ujar Eunhyuk

“Galak.” ujar Kyuhyun.
Myungsoo hanya menggelengkan kepalanya.

“Hyung, kau tidak lihat kwajangnim kini tak sadar di depan kita, lupakan saja sikapnya yang seperti itu.” ujar Myungsoo.

“Tapi, bukankah ia disini karena kau yang memintanya Myung.” ujar Kyuhyun, semua mata kini tertuju pada Kyuhyun

“Adikmu menelponmu tadi, kan?” tanya Kyuhyun, Myungsoo mengangguk.

“Dan  kau bilang pada adikmu bahwa mereka harus pulang membawa Soo Ji. Begitu kan, Jungie? Hyunie?” tanya Kyuhyun.

“Bingo!” pekik kedua gadis yang duduk di dekat Myungsoo.

“Oppa bilang bahwa kami pulang harus membawa Soo Ji. Dan Eunhyuk Oppa bilang bahwa Soo Ji adalah nama Eonni ini. Oppa! Kau beruntung sekali keinginanmu dengan cepatnya terwujud.” ujar Yoo Jung.

“Ini yang namanya takdir, mungkin.” gumam Eunhyuk.

“Jungie, lebih baik kau pinjamkan piyama untuknya. Eomma akan menggantikan pakaiannya, sementara ia tidur bersama kalian.” ujar Ibu Kim. Yoo Jung mengangguk patuh lalu berjalan menuju kamarnya.

“Myungsoo-ah, kau gendong dia ke kamar adikmu.” Myungsoo mengangguk.

“Jika Eonni ini tidur di kamar kami, kami tidur dimana Appa?” ujar So Hyun. Ayah Kim hanya terkekeh melihat tingkah putrinya.

“Biarkan Jungie tidur bersama Eomma di kamar, Kau tidur bersama gadis itu. Dan pemuda-pemuda ini termasuk Appa akan tidur di kamar Oppa mu.” ujar Ayah Kim, So Hyun tertawa. Eunhyuk dan Kyuhyun juga ikut tertawa.

—-0000—-
Soo Hyun kini terduduk di ayunan dekat kolam renang, Nyonya Kim menghampirinya.

“Hyunie, masuklah kedalam… Angin malam tak baik untukmu.” Soo Hyun hanya tersenyum

“Begitu sepi disini. Andaikan dia ada bersama kita, Eomma… Andaikan dia masih hidup. Bayangan itu selalu menghampiri mimpiku, hingga selama ini tidurku tak nyenyak karena bayangan itu.” Nyonya Kim kini menggenggam tangan putranya.

“Ia sudah tenang bersama ayahmu disana. Eomma juga terkadang merindukannya, apalagi sewaktu kau belum datang kesini. Eomma sering mengingatnya, namun karena adanya kau… Eomma merasa tak kesepian.” ujar Nyonya Kim.

“Aku akan menetap di Korea, Eomma… Jangan khawatir. Tapi, aku tak percaya bahwa ia sudah meninggal, mengapa aku selalu merasa bahwa ia masih hidup dan hidup dengan tenang.”

—–
Matahari pagi memancarkan sinarnya menembus ruang-ruang kecil dan celah jendela apartemen ini. Cahaya matahari ini mampu membangunkan gadis yang sepanjang malam tertidur lelap. Soo Ji membuka matanya berat, ia melihat sekelilingnya. Cat dinding yang berbeda, baju yang berbeda. Ini bukan rumahnya. Tak ada pekikan Ra Ahjumma yang membangunkannya. Ia hanya melihat gadis yang lebih muda darinya masih tertidur, meskipun ia tak mengenalnya namun wajahnya sama dengan gadis yang menghampirinya tadi malam.

“Haus sekali…” gumamnya, ia kemudian melangkahkan kakinya keluar. Decitan pintu mampu membangunkan gadis yang tertidur pulas.

“Eonni! Kau mau kemana?” tanya gadis itu, Soo Ji hanya tersenyum dingin.

“Aku haus.” jawabnya singkat.

“Aku yang akan mengambilkannya. Kau istirahat saja Eonni.”  So Hyun menggiring Soo Ji untuk kembali ke tempat tidur.

“Apakah kau yang menolongku?” tanya Soo Ji

“Ya, aku yang membawamu ke rumahku. Kau pingsan di dekat toko kue Eonni. Perkenalkan, aku So Hyun.” ujar Soo Hyun.

“Gomawo, Hyunie…” Soo Ji tersenyum.

“Eonni mengenal Oppa-ku kan?”

“Oppa-mu? Nugu?” tanya Soo Ji

“Myungsoo, Kim Myungsoo. Dia adalah Oppa ku Eonni. Dia bekerja di kantor yang sama denganmu, tapi ia bagian Teknisi.” jawaban So Hyun mampu membuat Soo Ji membelalakan matanya.

“Ini adalah fotoku bersama Oppa.” So Hyun memberikan foto yang di bingkai oleh figura ke tangan Soo Ji. Soo Ji semakin tak percaya. So Hyun kemudian keluar dari kamarnya untuk mengambilkan minum untuk Soo Ji.

“Bagaimana bisa…”

Myungsoo keluar dari kamarnya, ia kemudian berjalan ke  arah kamar So Hyun. Ia membuka pintunya, dilihatnya seorang gadis tengah berdiri di hadapan jendela. Myungsoo menghampirinya.

“Kwajangnim, kau sudah bangun?” tanya Myungsoo, Soo Ji menoleh ke  arah dimana suara berat itu berada.

“Maafkan aku, aku merepotkanmu.” ujar Soo Ji, Myungsoo berdiri di samping Soo Ji.

“Kwajangnim, aku tahu kau tak baik-baik saja. Dokter bilang bahwa kau mengalami tekanan yang berat.”

“Kau memanggil dokter? Untuk memeriksaku?” tanya Soo Ji, Myungsoo mengangguk. Soo Ji menundukkan kepalanya, kejadian tadi malam di rumah keluarga Choi masih teringat jelas di memori otaknya, membuat ia menitikkan air mata.

“Kwajangnim, gwenchana?” tanya Myungsoo, Soo Ji menggeleng kuat.

“Ceritakanlah padaku, Kwajangnim. Maaf jika aku terlalu lancang.” ujar Myungsoo, Soo Ji menangis, air matanya tak mampu ia sembunyikan, hatinya terluka. Luka yang dalam ini takkan pernah ia lupakan, penghinaan untuknya dan keluarganya juga tak pernah ia lupakan. Soo Ji semakin terisak. Ia menangis dengan sedikit keras. Myungsoo yang berada di dekatnya mana mungkin hanya berdiri dan menyaksikan penumpahan air mata Soo Ji. Ia kemudian mengulurkan tangannya dan memegang bahu Soo Ji dengan erat, Soo Ji menangis semakin dalam, banyak kata yang tak dapat ia ungkapkan. Terlalu sulit. Ia kemudian menengadahkan kepalanya menghadap Myungsoo, air mata masih membanjiri pelupuk matanya, tangan kanan Myungsoo yang memegang bahu Soo Ji kini terulur mengusap pipi Soo Ji, tangannya sedikit bergetar. Ia kemudian menghapus air mata Soo Ji bergantian. Entah apa, Soo Ji merasa tenang berada di dekat Myungsoo seperti ini, terlebih Myungsoo yang mengusap air matanya, ia kemudian menangis semakin dalam. Tak tahan dengan tangisan Soo Ji. Myungsoo mendekap gadis itu erat-erat lalu mengusap punggungnya. Tak ada penolakan dari Soo Ji, ia merasa tenang. Begitu pula dengan Myungsoo. Pelukan yang menenangkan dan menghangatkan Soo Ji, mampu menjadi tempat berlindung Soo Ji.

“Eonni, maaf aku lama mengambilkan minumnya, aku—“ ucapan So Hyun terhenti ketika ia melihat kedua manusia di hadapannya tengah berpelukan, ia kemudian menutup pintunya lalu berbalik.

“Oppa… Myungsoo Oppa… Telah dewasa. Dan Eonni itu… Aku tak seharusnya melihat mereka. Tidak.”

_TBC_

Annyeong, hehe kembali sama part 2 nya kwajangnim. Gimana nih part ini? Oh iya mungkin bakalan ada yang nanya kemana Na Eun, nah di part selanjutnya Na Eun baru bakalan muncul, dan author sengaja ngasih perbedaan orang tua Myungsoo sama orang tua Soo Hyun. Biar kalian juga yang baca ga bingung, pokonya kalau ibu sama ayah kim itu berarti ibu sama ayah Myungsoo, kalau Nyonya Kim itu ibunya Soo Hyun, takutnya ada yang bingung kalau semuanya disamain hehe. Oke, readers yang baik pasti meninggalkan jejak. Budayakan berkomentar atau Like kalo abis baca yaa hehe😉

95 responses to “[Freelance] Kwajangnim Chapter 2

  1. Yuhuuu yuhhuu moment myungzy dimulai,,, wah jangan” (dia) yg soo hyun maksud myung,,,! Mungkinkah mereka sodara???? Klo ea pasti myung ditemuin ma ayah yg sekarang seorg polisi,,, wooo atau (dia)’y soo hyun tuh suzy,,, masa sooji adik’y????

  2. Astga soo oppa beruntung bgt prmintaannya lgsung trkabul..siapa yg dirindukan soo hyun?? Msih bngung dgn dialog soohyun

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s