[Freelance] Business Marriage Chapter 8 Final

Title : Business Marriage | Author : kawaiine | Genre : Comedy, Marriage Life, Romance | Rating : PG-17 | Main Cast : Bae Soo Ji, Kim Myungsoo | Other Cast : Lee Min Ho, Kim Yoo Jung , Kim Tae Hee , Lee Junho , Park Jiyeon , Kim Do Yeon, Lee Seung Gi,eTc.

“This plot and story is mine, sorry for typos, same characters or cast.happy reading :*”

***

Author POV

Di tempat yang sepi dan gelap gulita, seorang pria separuh baya sedang terduduk di teras rumahnya. Ia tengah menatap sebuah foto seorang anak perempuan. Tiba-tiba seorang namja kecil menghampirinya.

“Ahjussi…” pria itu membalikkan tubuhnya menatap namja kecil di belakangnya.

“Aku dan adikku lapar…” ujar namja kecil itu.

“Aku akan membelikan ramen untuk kalian.” pria itu kini beranjak dari tempatnya. tetapi tangan kecil namja itu menahannya.

“Aku dan adikku tak di perbolehkan memakan ramen minggu ini. Kami sudah memakannya minggu kemarin. Belikan saja kami sup ayam dan susu kotak.” pria itu mengangguk lalu mendorong namja kecil di hadapannya untuk masuk kedalam lalu mengunci pintu.

“Jangan kabur!” pria itu melangkah keluar rumah. Sedangkan di dalam namja kecil itu mengambil sebuah kertas foto di lantai. Ia mengerutkan keningnya, lalu membalikkan foto tersebut, tepat di belakang foto tertulis nama “Go Eun Chae”. Namja kecil itu, Hae Sun hanya tersenyum  menatap foto gadis di tangannya.

“Oppa… Eomma… Appa…” ujar Ha Neum, Hae Sun menghampiri Haneum lalu memeluk adik kecilnya tersebut.

“Oppa disampingmu, kau tak perlu takut. Kita akan segera bertemu dengan mereka.” Ha Neum hanya tersenyum. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekati mereka dan membuka pintu.

“Makanlah.” ujar pria tersebut sembari memberikan makanan kepada Hae Sun dan Ha Neum. Hae Sun mengambil makanan di hadapannya lalu membuka kotak susu terlebih dahulu dan menyerahkannya pada Ha Neum.

“Kau minum ini terlebih dahulu, agar tenggorokanmu basah dan lebih cepat menelan makanan.” ujar Hae Sun, Ha Neum mengangguk patuh. Pria itu hanya menatap kedua makhluk kecil tak bersalah, sebesit rasa bersalah yang besar menyelimuti dirinya, tapi bagaimanapun ia seperti ini untuk anaknya.

“Ahjussi kau tak makan?” pria itu tersadar dari lamunannya, ia kemudian menatap Hae Sun.

“Appa ku bilang jika ada yang bertanya padamu kau harus menjawabnya. Bahkan seorang MC sekalipun jika mengajak berbicara kepada para penonton penonton tak segan menjawabnya.” ujar Hae Sun.

“Tidak. Kau puas?”

“Setidaknya kau menjawab pertanyaanku Ahjussi.” Hae Sun tersenyum, ia kemudian menyuapi Ha Neum.

Selesai makan, Hae Sun menidurkan Ha Neum. Dalam hati pria itu mengaku kagum pada Hae Sun. Ia seorang kakak yang sangat perhatian pada adiknya.

“Ahjussi mengapa kau menculik kami?” tanya Hae Sun, pria itu terdiam.

“Eomma bilang bahwa orang yang menculik itu orang jahat.” timpa Hae Sun.

“Bukankah kau sudah tahu jawabannya, berarti aku orang jahat.” Hae Sun menggeleng.

“Kau baik kepada kami. Appa mengatakan bahwa penculik itu akan menyiksamu dan takkan memberimu makanan yang enak. Tapi kau membawakanku makanan yang ku inginkan.”

“Aku hanya melakukan ini karena aku tak ada jalan keluar lain. Dan aku akan menyiksamu jika mulutmu terus berbicara.”

“Ahjussi, kau memiliki seorang anak yang cantik.” ujar Hae Sun, pria itu kini menoleh tajam.

“Ini, aku tak sengaja menemukannya, ini pasti milikmu.” tangan kecil Hae Sun menyerahkan selembar foto pada pria itu.

“Ahjussi, kami ingin pulang. Aku dan Ha Neum merindukan Eomma, Appa, dan kedua adik kembar kami.”

—-0000—-
Malam hari angin berhembus cukup lembut. Suzy yang terduduk di kursi dengan jendela yang terbuka dan secangkir coklat panas di tangannya hanya menghembuskan nafasnya kasar. Kedua matanya hanya menatap sendu pada foto keluarganya, ia tersenyum. Senyum yang menyimpan luka.

“Kau disini rupanya.” suara Myungsoo mampu membuat mata Suzy membulat dan menyimpan kembali foto yang ia genggam di tangannya. Myungsoo hanya tersenyum.

“Aku juga merindukan mereka.” ujar Myungsoo, ia kemudian menarik Suzy kedalam dekapannya.

“Polisi sudah tahu wajah penculik tersebut. Mereka sedang mengadakan pencarian besar-besaran.” Suzy hanya tersenyum mendengar ucapan Myungsoo.

“Aku sudah meminta Jiyeon dan Seung Gi Oppa mengurus proyek yang akan kita urus bersama perusahaan itu, Oppa. Aku hanya membutuhkan istirahat dan fokus dengan masalah ini.” Myungsoo mengangguk. Tiba-tiba handphone Myungsoo berbunyi.

“Yeoboseyo?”
———–
Di sudut lain, Junho tengah menekan tombol bel. Berkali-kali ia menekan tombol itu, akhirnya sang pemilik keluar dari rumahnya.

“Yak! Anak nakal kau kemana saja? Hingga kau tak menjemputku sewaktu aku keluar dari penjara?” tanya Min Ho, Junho hanya tersenyum lalu masuk kedalam.

“Aku mengunjungimu karena ada sesuatu yang harus aku tanyakan padamu.” Minho mengerutkan keningnya lalu terduduk di depan Junho.

“Apa yang mau kau tanyakan?”

“Bagaimana kabar Appa?”

“Dia baik-baik saja, hanya semakin tua.”

“Bagaimana dengan Doyeon?”

“Dia kembali ke Yeongju, ia berkata padaku bahwa ibunya sakit keras dan ia harus mengurus usaha florist disana.”

“Hyung, apakah kau tahu anak-anak Suzy yang diculik—“ Min ho membelalakkan matanya,membuat Junho heran.

“Mwo? Anak-anak Suzy? Suzy sudah memiliki anak?” ujar Min Ho yang membuat Junho semakin heran. Kakaknya ini tidak tahu apapun tentang Suzy. Bahkan berita ini sudah beredar di televisi, radio, internet. Tapi mengapa ia tak mengetahuinya?

“Ya, ia sudah memiliki 4 anak. Dan kedua dari anak mereka di culik sewaktu di sekolah. Aku curiga bahwa kau yang melakukannya. Tapi, mengapa kau tak tahu bahwa Suzy sudah memiliki anak dan anaknya sekarang tengah diculik? Hyung, ku mohon… berhentilah berpura-pura seperti ini.”

“Yak! Aku dulu memang mencintainya. Aku juga sempat menyesal karena sudah berperilaku buruk terhadapnya. Tapi sungguh, aku tak tahu masalah itu. Kau lihat saja, televisi ku rusak, handphone ku juga sedang rusak. Radio? barang seperti itu aku tak punya. Aku berani bersumpah, aku tak tahu apapun.” ujar Min Ho, Junho hanya mengangguk.

“Baiklah, hyung… Kali ini aku percaya.”

—-0000—-
Suzy membuka matanya perlahan, ia mengedarkan seluruh pandangannya pada seisi ruangan kamar. Ia mendudukkan dirinya di dashboard ranjang, matanya beralih memandang Myungsoo yang sedang menunduk, tidak… Myungsoo tertidur. Suzy mengulurkan tangannya, ia mengusap rambut Myungsoo dengan lembut.

“Kau pasti kelelahan,Oppa…” gumam Suzy pelan. Tiba-tiba Myungsoo terbangun.

“Kau sudah bangun, Suzy-ah?” Suzy mengangguk.

“Apa yang terjadi padaku, Oppa?” tanya Suzy, Myungsoo hanya tersenyum simpul.

[FLASHBACK]

“Yeoboseyo?”

“Kau Kim Myungsoo?” Myungsoo memencet tombol loudspeaker.

“Ya, kau siapa?”

“Aku? Aku adalah orang yang menentukan kehidupan kedua anakmu.” Suzy menatap Myungsoo, tangannya yang menggenggam secangkir cokelat panas kini menggenggam handphone milik Myungsoo.

“Kau! Katakan dimana anak-anakku berada! Aku akan memberikan apapun yang kau mau. Aku akan memberikannya padamu! Kau serahkan anak-anakku!” ujar Suzy dengan sedikit berteriak, Myungsoo hanya berusaha merebut ponselnya.

“Anak-anakmu sedang bersama anak buahku. Akhirnya aku bisa berbicara dengan pemilik Agensi terkenal di Korea. Oh, namamu Bae Suzy bukan? Wanita cantik yang sering ku lihat di internet maupun televisi. “

“Aku sedang tidak dalam mood untuk bermain-main bersamamu. Katakan padaku dimana anak-anakku berada?!!”

“Serahkan saja kemenangan proyekmu padaku. Aku akan menjamin keselamatan anak-anakmu. Jika kau tidak mau menyerahkannya, kau harus mempersiapkan telingamu mendengarkan ini…” ujar pria di seberang sana, ia kemudian membunyikan senapannya. Suzy dan Myungsoo yang mendengarkan suara itu sontak terkejut, terlebih Suzy, tangannya bergetar, air matanya tak terbendung lagi. Sambungan telepon singkat tersebut telah terputus, Myungsoo berkali-kali mencoba menghubunginya lagi, namun tak digubris. Suzy hanya memandang Myungsoo dengan tatapan kosong.

“Op—Oppa…” tubuh Suzy melemas seketika, ia pingsan. Untungnya Myungsoo dengan cepat mendekapnya.

[FLASHBACK END]

“Maafkan aku yang terlalu lemah, Oppa…” ujar Suzy, Myungsoo mengusap pipi Suzy dengan lembut.

“Aku sudah menyerahkan ini kepada Detektif Ki. Ia sedang melacak nomor handphone pria yang menelpon ku tadi…” Suzy hanya mengangguk lemas.

“Kau belum makan malam Suzy-ah… Ini sudah lebih dari jam makan malammu.” Suzy menurunkan kakinya dari ranjang, kemudian ia berjalan, di dampingi Myungsoo. Di lihatnya keluarganya yang tengah berkumpul.

“Eonni!” ujar Yoo Jung, Suzy hanya tersenyum.

“Suzy-ah, kemarilah… Makan terlebih dahulu supaya kau tak sakit.” ujar Nyonya Kim, ia kini mengambil alih Suzy yang berada dalam tuntunan Myungsoo. Nyonya Kim dan Nyonya Bae membawa Suzy untuk duduk di ruang makan.

Myungsoo duduk di ruang tamu, tak lama kemudian Junho dan Seung Gi menghampirinya.

“Aku sudah memastikan pada Hyung, ia tak berbuat itu… Dan aku percaya padanya. Gerak-geriknya tak mencurigakan. Ia bahkan tidak tahu bahwa kalian sudah memiliki 4 orang anak.” ujar Junho.

“Yak! Kau mencurigai Hyung-mu?” tanya Myungsoo, Junho hanya mengangguk.

“Aish, memalukan… Aku tak ada sedikitpun tertuju kepadanya.”

“Tapi, bagaimana dengan Do Yeon?” tanya Seung Gi

“Ia kembali ke Yeongju, ia meneruskan usaha milik ibunya yang sakit keras.” papar Junho, Seung Gi mengangguk paham.

“Myung, aku dan Jiyeon sudah membatalkan proyek dengan perusahaan itu. Aku juga sudah menjelaskan pada mereka permasalahan yang menimpamu. Mereka turut prihatin, dan mereka mengatakan bahwa jika kau memerlukan bantuan jangan segan-segan untuk meminta bantuannya.”

Tuan Bae dan Tuan Kim kini masuk kedalam rumah, di damping Detektif Ki dan polisi lainnya. Mereka kemudian mengehembuskan nafasnya lega. Senyum mengembang di wajah Tuan Kim dan Tuan Bae, membuat seisi rumah heran.

“Appa, apa yang terjadi hingga kau tersenyum seperti itu?” tanya Suzy

“Lokasinya sudah kami temukan, dan itu di sekitar Busan.” ujar Tuan Kim

“Appa, tadi ada yang menelponku. Ia berkata bahwa jika aku menyerahkan proyek yang baru saja kami menangkan, anak-anakku dijamin selamat.” ujar Myungsoo. Detektif Ki mengernyitkan dahinya.

“Kami akan melacak beberapa perusahaan di Busan. Tuan, apakah kau bisa memberikan daftar perusahaan yang ikut dalam pertemuan kemarin?” ujar Detektif Ki. Myungsoo beranjak dari tempatnya, ia kemudian menyerahkan sebuah kertas kepada detektif Ki.

“Busan, Yeohak Cooporation.” gumam Detektif Ki.

“Esok kami akan segera mengurus masalah ini. Kami dari pihak kepolisian akan segera ke Busan esok pagi.” ujar Detektif Ki. Myungsoo menghembuskan nafasnya lega, dilihatnya Suzy yang tersenyum.

Pagi hari tiba, Suzy dan Myungsoo juga keluarganya kini tengah berada dalam bus yang sudah di sewa oleh pihak kepolisian. Pagi hari ini mereka akan melakukan perjalanan menuju Busan.

“Kami telah menyelidiki perusahaannya. Mereka bergerak di bidang elektronik, Kim Yeo Jo, ia adalah pemiliknya. Dan dari info yang kami dapat, ia juga mengisi daftar hadir dalam waktu yang bersamaan dengan kalian pada saat menghadiri kerjasama tersebut. Kami sudah mendapatkan alamatnya. Selagi kami menyelidikinya lebih dalam, kalian sebaiknya menyewa penginapan atau hotel.” ujar Detektif Ki. Myungsoo dan Suzy mengangguk.

“Detektif Ki, terimakasih atas kerja keras Anda.” Detektif Ki hanya tersenyum mendengar ucapan Suzy.

“Kau adalah putri dari sahabatku, mana mungkin aku mengabaikan masalah yang menimpamu. Suzy-ah… Mereka juga adalah cucuku. Bersabarlah, dan Tuan, kau harus menguatkan  Nyonya.”  Myungsoo mengangguk, ia kemudian mendekap Suzy. Suzy kemudian terlelap.

—-0000—-
Di suatu ruangan yang gelap, pria yang mendampingi Hae Sun dan Ha Neum kini tengah berhadapan dengan seorang pria paruh baya yang duduk di sebuah kursi besar. Di sana juga terdapat seorang wanita muda yang mendekat pada Hae Sun dan Ha Neum.

“Mereka telah menyerahkan berkas pembatalannya padaku dan mengajukan perusahaanku untuk bekerja sama dengan mereka. Anak-anak ini lebih baik kau serahkan saja pada kedua orang tuanya.”

“Ya, Tuan.”

“Samchon, perusahaan apa yang kau maksud?” Tanya wanita tersebut.

“KMS Advertising dan BS Agency, Wae?”

“Jangan serahkan anak-anak ini terlebih dahulu.”

“Mengapa? Urusanku sudah selesai dengan mereka.”

“Kau tak pernah merasakan sakit hati, samchon. Dan Ahjussi, kau jaga kembali anak-anak ini.”

“Y—Ya, Agasshi.”

Wanita itu tersenyum sinis pada Hae Sun dan Ha Neum. Hae Sun memeluk Ha Neum. Pria paruh baya tersebut kini meninggalkan ruangan itu.

“Ahjumma, apa yang kau mau sekarang?” tanya Hae Sun, wanita itu mendekat pada Hae Sun.

“Aku, Kim Do Yeon. Wanita yang telah disakiti oleh ayahmu. Tanyakan saja padanya.” jawab wanita itu.

“Agasshi, lebih baik anda—“ ucapan pria ini terhenti, terdengar suara sirine dari luar. Membuat Do Yeon terkejut dan ketakutan.

“Bawa anak-anak ini keluar dari pintu belakang. Cepat.” pria itu kini menggendong Ha Neum dan bukannya berlari cepat, ia berjalan lambat, seolah ingin menyelamatkan Hae Sun dan Ha Neum.

“Jangan bergerak!” ujar Detektif Ki yang berdiri di daun pintu. Polisi yang lain sudah memborgol tangan pria paruh baya yang tadi telah keluar. Detektif Ki menodongkan pistolnya ke arah Do Yeon, sementara pria yang menggendong Hae Sun dan Ha Neum menyuruh kedua kakak beradik ini berlari menuju polisi.

“Ppali, ppali… Berlarilah kesana. Bawa adikmu.” ujar pria tersebut, Hae Sun berlari menuju polisi dengan menuntun Ha Neum, namun Ha Neum terjatuh. Ketika Hae Sun akan membantu Ha Neum, tangan Do Yeon dengan cepat menangkap Ha Neum.

“Panggil saja orang tua mereka kesini. Aku akan menyerahkan mereka padanya sendiri!” ujar Do Yeon.

“Dimana mereka?” tanya Detektif Ki kepada rekannya yang berada disampingnya.

“Mereka sedang dalam perjalanan. Sebentar lagi mereka tiba.” jawab polisi yang berada di dekat Hae Sun.
Hae Sun berusaha mendekat kepada Ha Neum, tetapi tangan kekar polisi di sampingnya menahan Hae Sun.

“Dia adikku, Ahjussi… Dia ketakutan.” ujar Hae Sun.

“Tenanglah, adikmu pasti selamat.”

Tiba-tiba pintu terbuka, Suzy dan Myungsoo masuk ke ruangan tersebut. Suzy terkejut ketika Ha Neum berada dalam dekapan Do Yeon. Myungsoo melirik ke arah Do Yeon, ia hendak menghampiri Do Yeon, namun polisi menahannya.

“Ia memintamu kemari, sepertinya kau bermasalah dengannya. Jangan di hampiri, bicarakanlah terlebih dahulu.” ujar Detektif Ki, Myungsoo mengangguk paham. Suzy mengedarkan pandangannya, ia kemudian menghampiri Hae Sun.

“Sunnie!”

“Eomma!” Hae Sun berhamburan kedalam pelukan Suzy. Suzy menggendong Hae Sun.

“Apa yang kau mau, Do Yeon?” tanya Myungsoo, Suzy juga menoleh ke arah Do Yeon.

“Menikahlah denganku, Oppa… Akan ku serahkan anak ini kepadamu.” jawab Do Yeon dengan santai, Myungsoo menggelengkan kepalanya.

“Kau ini wanita gila. Serahkan Ha Neum kepadaku!” ujar Myungsoo, Do Yeon kemudian mengeluarkan pistolnya dan menempelkan pistol itu di kepala Ha Neum. Myungsoo dan Suzy terkejut.

“Ha Neum-ah!” pekik Suzy dan Hae Sun bersamaan.

“Kembalikan anakku!”

“Putuskan saja, Oppa. Dalam hitungan ketiga jika kau tidak menjawab sesuai yang ku mau, peluru ini akan segera mendarat di kepala anakmu.” ucapan Do Yeon mampu membuat air mata Suzy turun. Myungsoo mengacak rambutnya frustasi.

“Satu…” Myungsoo masih terdiam tak bergerak. Suzy mengisyaratkan Myungsoo agar menjawab iya. Namun Myungsoo menggelengkan kepalanya.

“Dua…”  Pria yang tadi bersama Hae Sun dan Ha Neum kini menghampiri Ha Neum, mendekapnya dengan erat. Sementara pistol milik Do Yeon berhasil ia singkirkan, pistol itu tergeletak di lantai. Pria itu mendorong Ha Neum, Do Yeon hendak mengambil pistolnya, namun kecepatan pria ini mengalahkannya. Pistol itu kini berada di tangannya, polisi mendekat pada Do Yeon, lalu menangkap dan memborgol Do Yeon, Myungsoo berlari mendekat kepada Ha Neum, lalu menggendongnya.

“Kau baik-baik saja? Apakah ada yang sakit? Katakan pada Appa.” Myungsoo mengusap rambut putrinya. Ha Neum menggeleng keras.

“Gwenchana Appa.” Suzy dan Hae Sun menghampiri mereka, air mata Suzy kembali turun ketika memeluk putrinya. Ia dan Myungsoo bernafas lega karena kedua anaknya kini bersamanya. Polisi kemudian menangkap pria yang menyelamatkan Ha Neum.

“Tunggu…” ujar Hae Sun, membuat polisi menghentikan aktivitasnya menangkap pria tersebut.

“Ahjussi, ia pria yang baik. Ia tak bersalah Ahjussi. Aku mohon jangan tangkap Jon Mo Ahjussi.”

“Tapi, ia terlibat karena telah menculik kalian.” Suzy dan Myungsoo menoleh kepada Hae Sun. Hae Sun mengeluarkan ekspresi memohonnya.

“Ahjussi ini membutuhkan uang untuk perawatan anaknya di rumah sakit, Appa…” ujar Hae Sun, Ahjussi bernama Go Jon Mo ini kini menatap Hae Sun, air matanya akan menetes.

“Sunnie, tapi ia telah menculikmu.”

“Ia di suruh oleh pria tua itu Eomma… Aku mohon jangan penjarakan Jon Mo Ahjussi, Eun Chae membutuhkannya. Hanya Jon Mo Ahjussi yang dimiliki oleh Eun Chae.” Myungsoo menatap polisi yang menangkap Jon Mo, kemudian ia menganggukan kepalanya. Jon Mo kini menghampiri Myungsoo.

“Maafkan aku, Tuan… Aku hanya melaksanakan perintah itu, sejujurnya aku sudah berhenti menjadi suruhan Tuan Kim Yeo Hak, tapi ia memaksaku. Aku terpaksa melakukannya karena aku membutuhkan biaya untuk perawatan Eun Chae, putriku.” papar Jon Mo, Myungsoo hanya menganggukkan kepalanya mengerti.

“Polisi Oh, bebaskan saja penangkapan kepada pria ini.”

“Tapi, Tuan… Bagaimanapun ia terlibat.”

“Tapi ia hanya disuruh oleh Tuan Yeo Hak, bebaskan saja ia.”

“Baik, Tuan. Tapi ia tetap saja harus mengikuti persidangan.” Suzy mengusap kepala Hae Sun.

“Sunnie, jangan khawatir. Ahjussi ini akan bebas, tapi ia harus mengikuti persidangan terlebih dahulu.” Hae Sun mengangguk.

“Tapi, Oh Ahjussi harus berjanji kepadaku.” Polisi Oh mengangguk dan tersenyum pada Hae Sun.  Suzy dan Myungsoo juga tersenyum.

—-0000—-
Suzy dan Myungsoo kembali ke penginapan dengan Hae Sun dan Ha Neum di dalam gendongannya masing-masing. Raut wajah ceria dan bahagia tampak di wajah mereka semua.

“Hae Sunnie! Aigoo cucuku.” pekik Nyonya Kim dan Nyonya Bae, mereka kemudian menghampiri Hae Sun dan memeluknya dengan erat.

“Ha Neum, Hae Sun! Harabeoji merindukan kalian!” Tuan Bae dan Tuan Kim kemudian memeluk dan mencium kedua cucu mereka.

“Akhirnya kita berkumpul lengkap kembali seperti ini.” ujar Tae Hee, Myungsoo dan Suzy tersenyum.

“Apakah mereka rewel?” tanya Suzy pada Yoo Jung yang tengah menggendong Yu Sa.

“Mereka baik-baik saja, Eonni. Tidak rewel.Mereka hanya haus, mungkin.” Suzy kemudian menggendong Yu Ka.

“Jungie, kau temani Eonni kedalam, Ne?” Yoo Jung yang sedang menggendong Yu Sa kemudian mengikuti Suzy.

—-0000—-
Hari ini persidangan dimulai, keluarga Suzy dan Myungsoo menghadirinya. Mereka tampak puas dengan keputusan hakim yang memenjarakan Do Yeon dan Yeo Hak selama 15 tahun. Sementara Jon Mo di bebaskan karena Myungsoo tak berniat menuntutnya. Kini keluarga kecil Myungsoo tengah berada di rumah sakit, mereka akan menjenguk Eun Chae. Eun Chae terkena penyakit penyumbatan di jantung, ia harus di operasi. Tetapi Jon Mo tak memiliki uang untuk biaya operasi, sehingga ia harus mengikuti perintak dari Kim Yeo Hak.

“Eun Chae-ah… Ada teman Appa yang ingin mengunjungimu.” Eun Chae membuka matanya, ia tersenyum.

“Eun Chae, perkenalkan… Aku Kim Hae Sun. Kau harus sembuh. Aku mendengar banyak tentangmu dari Ahjussi.” Eun Chae tersenyum pada Hae Sun.

“Annyeong… Hae Sun…” ujar Eun Chae, Suzy dan Myungsoo saling berpandangan.

“Sepertinya Hae Sun menyukai Eun Chae.” ujar Myungsoo, Suzy mengangguk dan sedikit tertawa.

“Aku akan membayar operasi untuk Eun Chae.” Myungsoo menatap kepada istrinya.

“Aku juga akan menambah biaya perawatannya.”

Suzy dan Myungsoo kembali ke Seoul setelah menyelesaikan urusan mereka di Busan. Operasi Eun Chae akan di selenggarakan esok. Namun karena Suzy dan Myungsoo juga harus bekerja mereka kembali ke Seoul. Bisnis yang sempat di batalkan oleh Myungsoo dan Suzy kini mendapat tawaran kembali. Mereka menyetujuinya, namun hanya Suzy yang menyerahkan ini kepada Jiyeon, karena ia sudah tak ingin bekerja lagi. Tetapi, selama Jiyeon dan Seung Gi berbulan madu, Suzy harus bekerja. Malam  ini Suzy tengah menyusui Yu Ka dan Yu Sa, Myungsoo membacakan dongeng untuk Hae Sun dan Ha Neum.

“Mereka sudah tidur?” tanya Suzy, Myungsoo mengangguk.

“Yu Ka dan Yu Sa tampaknya terlalu kenyang.” Suzy terkekeh, ia kemudian berjalan keluar dari kamar anak-anaknya. Myungsoo mengikutinya dari belakang.

“Suzy-ah…” Suzy menoleh ke belakang dan menghentikan langkahnya. Myungsoo menarik tangan Suzy, lalu berjalan ke arah kamar.

“Wae?” tanya Suzy, Myungsoo hanya memeluknya dengan erat.

“Nyaman sekali memelukmu.” ujar Myungsoo, Suzy membalas pelukan suaminya lalu tersenyum.

“Kau merindukanku?” tanya Suzy.

“Lebih dari rindu.” Suzy hanya terkekeh pelan.

—-0000—-
Hari ini keluarga Suzy dan Myungsoo mengadakan piknik di sebuah daerah perkemahan. Junho, Min Ho, Jiyeon dan juga Seung Gi ikut turut serta.  Canda tawa kebahagiaan setia menyelimuti setiap kebersamaan mereka. Myungsoo kemudian mengajak Suzy untuk duduk di sebuah danau yang sekelilingnya di penuhi oleh bunga-bunga dan kupu-kupu yang berterbangan kesana kemari. Di tambah dengan kicauan burung yang bersahutan, membuat waktu yang mereka jalani semakin indah.

“Suzy-ah, kau tahu sesuatu?” Suzy menatap Myungsoo, ia kemudian menggelengkan kepalanya.

“Terkadang aku berpikir, bahwa mencari pasangan itu seperti mencari partner bisnis. Dalam membina hubungan ini, agar pernikahan bisa berlangsung selamanya, kita harus mencari seseorang yang memiliki tujuan yang sama, misi yang sama, pandangan dan semangat yang sama. Dan aku telah menemukan semuanya di dalam dirimu.” Suzy tersenyum mendengar ucapan suaminya.

“Terimakasih Oppa. Untuk segala sesuatu yang telah kau lakukan untukku, juga untuk anak-anak kita.” Myungsoo mendekat pada wajah istrinya, ia menangkup wajah Suzy kemudian mencium bibir Suzy. Setelah sekitar 5 menit ia melepaskannya.

“Jika dalam sebuah bisnis uang adalah akar pohon dan pondasi, maka dalam sebuah keluarga kau adalah mereka Oppa. Akar pohon yang tumbuh menghasilkan banyak dahan dan dedaunan yang rindang, aku dan anak-anak kita adalah yang berteduh di bawah apa yang kau hasilkan, Oppa. Pondasi yang kuat akan menghasilkan atap dan bangunan yang kuat juga, aku dan anak-anak ibarat atap dan bangunan tersebut.” Myungsoo kemudian tersenyum, senyum yang tulus juga mengembang di wajah Suzy.

“Mereka menunggu kita, Oppa. Ayo kita kesana.” Suzy dan Myungsoo beranjak dari tempat duduk mereka, lalu menuju tempat dimana keluarga mereka berkumpul.

“Halmeoni, cepat keluarkan makanannya, aku sudah lapar sekali.” ujar Hae Sun, Nyonya Kim dan Nyonya Bae yang sedang menyiapkan makanan tersenyum.

“Tunggulah sebentar Tuan Muda. Sebentar lagi selesai.” Nyonya Bae kini membagikan makanannya kepada keluarganya, setelah semuanya siap mereka kemudian makan bersama.

Tapi, tiba-tiba di sela-sela kegiatan makan, Suzy membungkam mulutnya, hendak mengeluarkan sesuatu dari dalam perutnya, tak mau mengganggu yang lain, Suzy memisahkan dirinya dan berjalan cepat, Tae Hee dengan cepat menyusulnya.

“Ada apa dengan istrimu Myung? Apakah ia sakit?” tanya Min Ho pada Myungsoo, Myungsoo hendak menyusulnya namun tangan Tuan Bae menahannya.

“Noona mu telah menemaninya, sudahlah… Aku yakin dia baik-baik saja.”

“Mungkin asam lambungnya kembali naik sehingga ia mual. Ku dengar Suzy tak makan dengan baik sewaktu Hae Sun dan Ha Neum di culik.” ujar Seung Gi.

“Solma….” Jiyeon, Yoo Jung, Nyonya Kim dan Nyonya Bae saling bertatapan, lalu menggelengkan kepala mereka bersamaan.

“Tidak mungkin!” pekik mereka bersamaan, Junho yang melihatnya hanya membalas dengan tatapan heran.

“Oh, itu mereka.” ujar Junho, Suzy dan Tae Hee berjalan ke arah keluarganya.

“Suzy-ah, Gwenchana?” tanya Myungsoo. Suzy menganggukkan kepalanya.

“Oppa… Sebenarnya…” Suzy tak melanjutkan perkataannya. Tae Hee kemudian terduduk di dekat Yoo Jung, Yoo Jung dan para wanita menatap Tae Hee.

“Eonni, sebenarnya Suzy Eonni kenapa?” Tanya Yoo Jung, Tae Hee menghembuskan nafasnya berat.

“Eomma, setelah ini Myungsoo pasti akan pindah rumah.” Nyonya Kim dan Nyonya Bae menatap Myungsoo geram.

“Wae? Suzy-ah, katakan saja. Aish, Eomma jangan menatapku seperti itu.”

“Oppa, aku sudah terlambat periodeku selama 4 minggu. Dan…..”

“Sepertinya aku hamil lagi.” ujar Suzy dengan wajah polosnya.

“Mwo?!!” Pekik Tuan Kim, Tuan Bae, Junho, Min Ho, dan Seung Gi secara bersamaan. Suzy hanya tertawa kecil.

Myungsoo menatap sekelilingnya, dilihatnya semua yang menatapnya dengan tatapan geram. Ia kemudian beranjak dari tempat duduknya, Tuan Kim dan Tuan Bae juga melakukan hal yang sama, Myungsoo berlari karena Tuan Kim dan Tuan Bae mengejarnya.

“Sudah ku bilang jangan menghamili Suzy lagi, anak nakal! Berhenti!”

_END_

pppfffhh akhirnya ff ini tamat juga hehehe, gimana endingnya? Pada suka gaa ? Wkwkwk. Semoga suka yaaaaaa, oke makasih udah ngikutin terus ff ini, jangan lupa RCL. Jangan lupa baca ff author yang baru yang judulnya Kwajangnim. Makasih ya~

54 responses to “[Freelance] Business Marriage Chapter 8 Final

  1. akhirnya hae sun sama ha neum ditemukan🙂
    do yeon emang gila ya, baru aja keluar dari penjara udah bikin onar lagi. kurang tuh kalau cuma 15th seharusnya seumur hidup sekalian biar jera.
    omo!! :O
    suzy hamil lagi?myungnya daebak nih😀😀

  2. bagus dan menghibur bgt ni ff nya..
    author berhasil buat aku terharu dan ngakak di akhir cerita.pi yg aku binggungkan dari part 7 & 8(end) ini adalah, kok bisa da tuan bae?.bukannya tuan bae dah meningal dari awal cerita makannya suzy dan myungsoo menikah demi perusahaan tuan bae yg semakin menurun saham nya.
    pi over all semuanya Daebbak…
    author hwaiting…!!!
    di tunggu karya” y lainnya.oiya izin baca yg lainnya juga ne…*bow
    GoMaWoo… ^^

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s