[Sadness on Monday] Colors

tumblr_mwmzpxBRFd1rcoad1o1_1280COLORS

Little Thief proudly present    

{Lee Jongsuk and Bae Suji}    vignette (2,103 words)

Friendship, Slice of life // general

disclaimer: inspired by a wattpad author.

Dia tak pernah tahu apa jadinya hidup tanpa warna.

Maksud sebetulnya, dia sungguh penasaran. Bagaimana bila seluruh pandangan di dalam matanya penuh oleh warna abu-abu? Rasanya seperti menonton film bisu pada abad 18. Yah, walaupun dia tak pernah tahu seperti apa itu hidup tanpa warna.

Hingga pada pagi itu.

“Suuu!” lengking sebuah suara nyaring, memanggilnya dengan semangat. Suji kecil, dengan rambut ikat duanya yang bergoyang kesana-kemari, memberengut kesal selagi dia berlari ke arah sumber suara. Orang di seberang rumah yang memanggilnya.

“Apa?” sahutnya ketika melihat orang yang memanggilnya sedang memakai sepatu di halaman terasnya.

“Tunggu aku, ya!” teriak Jongsuk, si anak yang lebih tua enam belas bulan darinya. Anak itu dengan gesit memasuki halaman rumahnya, keluar dengan sebuah roti tercapit di antara gigi atas dan gigi bawahnya.

Melihat hal itu, Suzy tertawa. “Oppa! Kau menggigit roti itu seperti anjing!”

Bukannya marah mendengar ejekan itu, Jongsuk mengembuskan napas keras-keras seperti mendengus layaknya anjing. Gelak Suji makin terdengar jelas. Ketika Jongsuk keluar dari rumah dan mereka berdiri bersebelahan, anak itu menjambak rambutnya yang dikucir.

“Sakit!” bentak Suzy sekenanya.

“Aku sudah bilang jangan panggil aku oppa,” omel Jongsuk. “Panggil seperti biasa saja, kenapa?”

Ia tidak menjawab permintaan itu. Sudah ribuan kali Jongsuk memintanya sejak pertemuan mereka yang pertama kali. Sebagai gantinya, dia melengos melewati Jongsuk dengan wajah tak peduli. Namun lagi-lagi Suji harus dibuat kesal karena kali ini bukan menarik rambutnya, Jongsuk sekarang menarik tas ranselnya.

“Wah, tasmu baru!” pekik Jongsuk, memegangi tas itu.

Suzy langsung tersenyum ceria, melupakan kekesalannya secepat kedipan mata. “Iya! Aku dan ibu baru saja membelinya kemarin. Tas lamaku, kan, sudah jelek. Tidak bisa dipakai lagi.”

“Begitu,” Jongsuk manggut-manggut selagi menatap tas yang dipakai Suji. Lucu sekali. Ada bandul boneka beruang kecil di bagian depan tas. Pantas Suji membelinya. Dia selalu suka beruang.

“Wah, bagus. Warnanya biru!” komentar Jongsuk lagi kali ini.

Helaan napas terdengar. Suji menoleh ke arah Jongsuk, menatapnya dengan tatapan kecewa. “Hei, oppa, ini bukan warna biru. Ini warna cokelat. Tak bisakah kau lihat?”

Genggaman tangan Jongsuk terlepas dari tas ransel. Seperti biasa, dia selalu salah.

***

Ketika sedang mengerjakan tugas di sofa ruang keluarganya dengan tenang, Suji mendengar suara gemerusuk. Dia mengira itu adalah kesalahan dari sistem headphone yang dia pakai sekarang ini, memutar lagu-lagu Barat zaman dahulu kesukaannya. Namun suara itu justru makin berisik, membuat Suji yakin bahwa suara itu terjadi di luar musiknya. Kecewa karena sedang asyik mengikuti dentuman dari lagu Linkin Park, Suji pun keluar ke arah garasi rumahnya.

Dia melihat tubuh tinggi Jongsuk baru saja melompati pagar putih rumahnya. Kontan membuat amarah Suji naik ke ubun-ubun. Dia menghampiri pemuda itu dengan langkah lebar-lebar.

“Lee Jongsuk! Sudah kubilang, kalau pulang sekolah, buka saja pagarnya! Melompatinya seperti itu membuatku jadi terganggu, tahu!”

Namun Jongsuk tak menghiraukan omelannya. Dia malah mendorong pagar rumahnya dan menatap Suji seolah memberikan pandangan, ayo masuk.

Melihat tatapan itu, Suji memajukan bibirnya lima senti dan melipat tangan di depan dada, membuang muka. “Aku tak akan masuk. Kau kira semudah itu? Cih!”

Jongsuk menghela napas. “Terserah. Aku seperti ini karena muak dengan tes buta warnaku.”

Mendengarnya, Suji langsung menahan lengan Jongsuk yang hendak akan kembali masuk ke dalam rumahnya. Dia mencengkramnya kuat, dan langsung terbata. “Ba…bagaimana tesnya? Aku mau lihat.”

Dengan angkuh Jongsuk melepas cengkramannya, dan masuk. Suji mengekorinya, tatapannya melunak. Selagi dia mengambil langkah ke dalam rumah, mulutnya komat-kamit berbicara. “Yah, yang kau tahu selama ini apa? Begitu saja terus. Semua orang berpikir bahwa tes itu akan membuatku bisa merefleksikan warna yang tak bisa kulihat. Aku tak mau dikasihani. Mereka kira ada yang bisa diubah dari hal itu?”

Suji menghela napas. “Kau bisa melihat beberapa warna lain, bukan?”

“Ya,” Jongsuk tersenyum miris. “Putih dan hitam.”

Perlahan pria itu berdiri dari sofa, dan berjalan menuju ke ruang makan untuk makan malam. Perutnya keroncongan. Lagi-lagi, dia harus rela dirinya dipanggil.

“Jong?”

“Hm?”

“Makan yang banyak,” sahut Suzy, menepuk-nepuk perutnya sendiri. “Biar kuat dan sehat.”

Senyum kecil tanpa sadar terulas begitu saja di wajah Jongsuk. Dia menunduk. “Iya. Dasar Gadis Rambut Cokelat.”

Mendengarnya, dia seolah lupa beban hidup yang baru saja diceritakan Jongsuk. Suji tak terima. “Ya! Aku baru saja mewarnai rambutku jadi merah hari ini!”

Hanya ada derail tawa kecil dari arah ruang makan, menandakan Jongsuk tak berminat menanggapi omelannya. Suji menatap surainya yang jatuh di atas dada yang terpoles dengan sedikit warna merah menyala. Warna semacam ini mengingatkan dia pada warna merah elektrik milik Hayley Williams. Mendengus kesal dan menyetakkan kaki ke tanah, dia keluar dari rumah Jongsuk. Kembali menuju rumahnya.

Setelah sampai di rumah, Suji memutuskan balas dendam.

Dia melepas headset yang terpasang di pemutar musiknya. Kemudian menyalakan suara penuh dan memutar lagu paling berisik yang pernah didengarnya. Sweet Child O’Mine. Sambil menari-nari, dia tertawa puas ketika mendengar Jongsuk dengan berisik membuka pagar rumahnya. Memaki-maki Suji yang mengikuti irama. Pria itu masuk begitu saja ke dalam rumahnya, berteriak kencang.

“SUUU! AKU NYARIS TULIII!”

Jongsuk mematikan pemutar musik, dan menatap Suji dengan tatapan elang. Bersiap membunuh dengan tangan kosong. Namun Suji langsung tertawa agar mencairkan amarah api dari sahabatnya itu, dan memukul bahunya, lantas terlentang di sofa.

“Kau ini tidak bisa lihat orang senang, ya?” tanya Suji. “Aku sedang ingin menari bebas. Sebebas-bebasnya saja.”

Menghela napas, Jongsuk berjalan ke arahnya, mematikan pemutar dan menendang kakinya yang tergantung. Mengisyaratkan agar Suji duduk jadi dia bisa ikut duduk. Suji segera mengambil pemutarnya dan duduk tegak. Jongsuk mengikutinya.

“Koreografimu saat menari benar-benar tak bagus. Bahkan dari kejauhan pun aku sudah tahu,” ejeknya.

Yang diejek tidak mendengarkan. Dia justru mengelus ujung-ujung rambutnya. Benar-benar bangga warna merah ini begitu pas dengan rambut cokelat terangnya. Tidak semua teman di sekolahnya bisa menemukan warna yang cocok dengan rambut asli mereka ketika di-ombre. Yah, tadi setelah pulang sekolah, dia bergegas ke salon hanya untuk ikut-ikutan, sih.

Tapi terus terang, dia puas dan senang dengan eksperimen terhadap rambut merah-cokelatnya sekarang.

Ya, Su, apakah kau betul-betul mewarnai rambutmu dengan merah hari ini?” tanyanya. Suji menoleh kepadanya dan mengangguk kencang. Dia mengambil sejumput rambutnya yang berwarna merah dan menunjukannya pada Jongsuk.

“Ini adalah rambut yang hari ini kuwarnai jadi merah,” katanya. Dia mengambil lagi rambut aslinya, yang berwarna kecokelatan. “Dan ini adalah rambut yang tak kuwarnai. Rambut asliku.”

Mendengar penjelasan itu membuat Jongsuk tersenyum puas. Walaupun dia hanya bisa melihat rambut itu dalam warna hitam sempurna, setidaknya dia tahu rambut Suji punya dua warna. Dan gadis itu berbaik hati menunjukkan tiap warnanya meskipun dia tak melihatnya sebagai warna merah, atau cokelat.

Setidaknya, dia bisa merefleksikan, apa warna itu.

“Suji-ya, menurutmu apakah bisa melihat warna itu benar-benar enak?”

“Menurutmu?”

Jongsuk menatap Suji intens. “Hm, kau tahu, hampir seumur masa sekolahku, aku ditindas. Mereka bilang, aku ini berbeda. Padahal kata ibuku, warna mataku ini bagus. Tapi aku sendiri tak dapat melihatnya. Kau tahu apa yang orang-orang lakukan? Hidupku penuh dengan ujian kesenangan mereka. Tiap hari, mereka menanyakan padaku, ‘Jongsuk, warna ini apa?’ dan pertanyaan semacamnya.”

“Tapi, itu benar,” sangkal Suji. “Matamu cokelat terang. Itu indah bagiku, apalagi kalau ditimpa matahari.”

Trims,” Jongsuk tersenyum simpul. “Kau tahu, Su, ditanya semacam itu rasanya bagaikan matamu ditutup dan kau diminta menebak motif dalam sebuah seprai. Buta saja rasanya.”
“Memangnya kau pernah melakukan hal semacam itu?” tawa Suji berderai, kemudian berdecak dan menggelengkan kepala. “Ada-ada saja.”

“Lalu suatu saat, apakah aku bisa memaafkan mereka?”

Suji tak bisa berkata apa-apa. Dia hanya mampu terdiam.

Satu helaan napas kembali terdengar. Dia menepuk lutut Suji pelan, dan bangkit. Kemudian mengulurkan tangan di hadapan wajah gadis itu. Suji menatapnya dengan pandangan penuh tanya.

“Ayo. Kau harus belajar menari bersamaku. Tarianmu tadi itu terlalu buruk untuk dilihat,” ledeknya. Suji hanya mampu tersenyum, menerima uluran tangan Jongsuk yang hangat menggenggamnya.

Malam itu, penuh canda tawa dan ejek, mereka berdansa.

Perempuan paruh baya itu memoles lipstik merah muda ke bibir lembabnya. Kemudian menatap dirinya dalam kaca, memastikan lipstik itu tidak tercecer ke mana-mana. Setelah merasa lipstiknya terpoles dengan rapi, dia memasukannya ke dalam tas kecilnya.

Ah…lipstik ini mengingatkannya pada sesuatu.

Pakai lipstikmu dengan rapi, kata orang itu. Biarpun aku tak tahu warnanya, aku tahu, bibirmu akan bertambah manis karenanya.

Ketika perempuan itu keluar dari toilet wanita, dia pun berpapasan dengan seorang pria yang juga baru saja keluar dari toilet pria. Perempuan itu dengan sigap langsung membungkukkan badan beberapa derajat.

“Halo, Tuan Kang!”

Pria berumur empat puluh tahun itu terkekeh melihat perempuan di depannya dan tersenyum. “Selamat malam, Nona Suji. Wah, Anda cantik sekali hari ini.”

“Terima kasih, Pak Direktur!” balas Suji riang. Berbanding terbalik dengan gaun biru selutut yang dia pakai hari ini dan juga penampilannya, dia masih saja seperti dulu. Urakan, energik, dan tak bisa diam. “Oh, Tuan Kang, bagaimana kalau kita masuk saja ke dalam restoran dulu? Nanti, orang yang punya janji dengan kita bisa-bisa bingung kenapa kita tak ada di sana.”

Tuan Kang tertawa renyah. Dia mengangguk. Mereka berjalan bersama, kembali ke ramainya restoran yang penuh gemerlap lampu berpendar oranye di sepanjang ruangan. Mereka duduk di meja yang menjadi tempat mereka menyantap malam ini.

“Suji, kau tahu bukan betapa pentingnya acara malam ini?” tanya Tuan Kang.

Suji mengangguk. “Tentu saja. Kau tahu, ini pertama kalinya perusahaan kita akan bekerja sama dengan perusahaan tekstil paling sukses itu. Aku sebagai Wakil Direktur, bagaimana tega menghancurkan janji besarnya?”

Kang tertawa, mengangguk-angguk. “Bagus, Suji. Tapi sekarang tutup mulutmu. Aish, kau ini, dari awal kuberitahu berita soal ini, selalu bertanya siapa direktur dari perusahaan tekstil itu.”

“Yah, aku hanya sangat…”

“Oh, itu dia, orangnya datang,” celetuk Tuan Kang, memotong ucapan Suji. Dia berdiri menyambut si Direktur Perusahaan Tekstil yang tadi ia sebut-sebut. Suji mengikuti arah pandangnya dan napasnya tercekat. Tuan Kang kini mulai berjalan menghampiri si Direktur Tekstil dan menjabat tangannya hangat.

Matanya tak bisa melepaskan diri dari si Direktur Tekstil. Bertubuh tegap, dan sorot mata hangat. Mata cokelat terang. Dengan jas hitam rapi. Ketika mata mereka akhirnya kembali menyapa, Direktur Tekstil itu tersenyum pada Suji.

Senyum paling berbeda yang pernah dia lontarkan.

Sekelebat kenangan muncul di kepala Suji, membuat kepalanya berdenyut pusing.

Esok pagi, aku akan berangkat ke Washington.

Si Direktur Tekstil kini berjalan ke arah mejanya dan duduk di sebelah Tuan Kang, berhadapan dengan Suji. Membuat perempuan itu mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dia memejamkan mata.

Dan dengan melihat orang itu langsung di hadapan matanya, seluruh kenangannya pun terbuka lebar-lebar.

.

.

“Su, aku lulus!”

Jongsuk dengan ceria, dengan baju seragam yang sudah acak-acakan, berlari ke arah Suji yang terduduk santai di teras. Melihat Jongsuk begitu gembira, bahu Suji menurun dengan lemas, menatap sahabat kecilnya itu dengan sendu.

“Betulkah?” tanya Suji. Meskipun dia tahu jawabannya.

“Ya. Kalau begitu, aku tinggal mengurusi saja beasiswaku ke Amerika. Semuanya sudah beres sekarang.”

Tertawa, Suji mengangguk dan memeluk Jongsuk. “Belajar yang rajin.”

“Kau juga.”

“Nah, di Amerika nanti, kau mau jadi apa?”

Jongsuk menatap Suji dengan tatapan paling polosnya, tersenyum lebar seraya menampakkan gigi-giginya. “Jadi orang sukses.”
—-
“Kapan pesawatnya mendarat?” tanya Suji cemas, melihat jadwal penerbangan dunia dari komputer miliknya.

“Sudah dua jam lalu,” balas ibunya dari kejauhan.

Suji menendang CPU komputernya putus asa, sampai komputer itu mati mendadak. Dia bangkit dari duduknya dan terlentang di atas tempat tidur. Dia mengambil bantal dan menelungkupkannya di wajah. Suji menangis, dan menggigit-gigit seprainya putus asa.

Jongsuk berjanji akan segera meneleponnya ketika ia mendarat di Negeri Paman Sam. Dua jam berlalu, panggilan itu tak kunjung datang. Dia ingkar janji.

“Jahat!” isak Suji. Menggigit, mencengkram, melempar dan menendang bantal itu seolah dia adalah Jongsuk. “Dasar jahat!”

Dia terus menunggu, walaupun hanya sekadar telepon. Tak pernah panggilan itu datang, sedetik saja. Suji terus menunggu. Hingga panggilan pelajar lepas darinya dan ia berhasil dipanggil dengan panggilan baru. Wakil Direktur.
***

“Ini wakil direkturku,” Tuan Kang memperkenalkan. “Namanya Suji. Nah, Su, ini adalah orang yang paling kau tunggu akhir-akhir ini. Namanya Tuan Jongsuk. Sepantaran denganmu. Dia ini pemilik perusahaan tekstil dan cat terbesar di Amerika sana, dan baru kembali ke Korea tiga hari lalu.”

Dengan cemberut, Suji menjabat tangan Tuan Jongsuk dengan kaku.

“Ah, kau harus dengar sejarah hidupnya sebelum jadi pemilik perusahaan itu. Aku terkesan sekali. Dari berbagai varian spektrum warna yang Jongsuk ciptakan, dia bahkan dulu tak bisa  

“Sebentar, Tuan Kang,” Jongsuk memotongnya dengan cepat. “Kurasa Suji ini tak perlu tahu.”

“Ah?” tanya Tuan Kang terkejut. Dalam sekejap, suasana akrab tadi menjadi menguap seketika. “Mengapa? Ini inspirasi besar buatku. Mungkin juga buat dia.”

“Aku rasa yang harus dia ketahui adalah,” Jongsuk menatap Suji dengan tatapan hangat. “Bahwa, rambut cokelatnya malam ini bagus sekali, juga lipstik merah muda, dan gaun biru langitnya.”

Dua sudut bibir Suji terangkat, mengangguk. “Ah, untungnya, kau benar, Lee Jongsuk.”

Tiga orang itu tertawa. Malam itu, Jongsuk, untuk pertama kalinya, bisa melihat pantulan warna yang begitu indah yang terpancar dari Suji. Sangat indah. Dia tak pernah menyangka, Suji akan seindah itu ketika ia bisa melihatnya dalam warna selain hitam dan putih.

Dan dia, merasa bersyukur.


Judulnya ‘Sadness’, tapi malah happy ending ;-; yha, karena tadinya bakalan full sedih.

Tapi ganti aja deh jadi happy. Walaupun judulnya tetep ada ‘sadness’. Pas bagian Jongsuk buta warna sok-sok dibikin sedih ajha. Hehehe.

Jadi, ini proyek baruku. Doain aja sukses. Selain SoM, juga bakal ada Hapiness on Sunday dan Love on Friday. Dua yang lain itu bakal dipublish habis SoM selesai😀 dan anyway, ada Monday bukan berarti kesedihannya pas hari Senin, ya…😀

with regards,

Little Thief.

25 responses to “[Sadness on Monday] Colors

  1. awalnya aku sedih ngebayangin jongsuk buta warna cuman tau warna hitam putih u,u tapi akhirnya berbahagia jongsuk sembuh xD

  2. Gimna rasanya klu cmn bsa ngeliat warna hitam putih???
    Ya ampun….
    Untung jongsuk pnya sahabat kya suzy…
    Yah walaupun mereka kdang2 berantem juga…
    Persahabatan BBQ couple

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s