The Memories Chapter 4

Suzy Miss A & L Infinite (4)

© Rosaliaaocha

Title : The Memories  | Author : dindareginaa | Genre : Angst, Married Life, Romance | Rating : PG-15| Main Cast : Bae Suzy, Kim Myungsoo | Other Cast : Find by yourself!

Myungsoo sedari tadi asik memperhatikan istrinya yang kini sedang bercengkrama dengan seorang lelaki yang bahkan tak ia kenal. Gadis itu tertawa, tersenyum sambil sesekali memukul pelan lengan lelaki itu saat dirinya sudah tak bisa menahan tawanya lagi. Sepertinya Sooji benar-benar menikmati pembicaraan singkatnya dengan lelaki itu. Jujur saja, Myungsoo tak suka melihat keakraban Sooji dengan si lelaki asing. Myungsoo bahkan sudah lama tak melihat Sooji seperti itu padanya. Ia benar-benar merindukan Sooji-nya yang dulu.

“Apa yang sedang kau pikirkan?”

Myungsoo tersentak kaget begitu Kang Minhyuk menepuk pelan pundaknya. Lelaki itu tak sendiri, melainkan bersama Jung Soojung. Myungsoo kemudian mengulum senyumnya. “Tidak ada,” jawabnya. “Omong-omong, siapa lelaki yang sedang bersama dengan Sooji?”

“Siapa lagi maksudmu? Dia itu mantan kekasih Sooji, Choi Minho.”

Myungsoo dapat melihat Soojung langsung mencubit pinggang Minhyuk. Namun ia tak begitu mendengar percakapan keduanya selanjutnya karena ia kembali memfokuskan pandangannya pada Sooji dan juga pada lelaki yang bernama Minho itu. Mantan kekasih? Jika Myungsoo adalah orang asing, ia pasti mengira bahwa Sooji dan Minho masih berkencan. Dan ia benci mengakui hal itu.

Myungsoo dan Sooji baru saja sampai di apartment mereka saat jam menunjukkan pukul dua belas kurang lima belas menit malam. Sedari tadi, Myungsoo sama sekali tak mengeluarkan suaranya sedikitpun.  Sooji pun sepertinya tak begitu menyadari perubahan suasana  hati Myungsoo. Buktinya, gadis itu segera pergi ke kamarnya tanpa mengucapkan sepatah katapun juga.

Myungsoo menarik nafas panjang. Benar-benar tak menyangka dengan jalan pikiran Sooji. Gadis itu secara tidak langsung berselingkuh didepan kedua matanya sendiri. Dan lebih bodohnya lagi, ia bahkan tidak bisa berbuat apa-apa!

Myungsoo menggeram kesal. Dengan segera, ia membuka kasar pintu kamarnya, membuat Sooji yang baru saja membuka kancing belakang gaunnya tersentak kaget. Gadis itu segera menghadap Myungsoo.

“Ada apa denganmu? Seharusnya kau ketuk pintu dulu!” serunya.

“Kenapa? Apa aku tak boleh masuk ke kamarku sendiri? Kamar kita?”

Sooji tertegun sejenak. Ada apa dengan Myungsoo sebenarnya? Pandangan matanya benar-benar sayu. “Tapi, aku sedang berganti pakaian!”

Myungsoo tersenyum lirih. “Aku suamimu, Sooji-ah. Suamimu.”

Myungsoo mendekat perlahan kearah Sooji. Melihat tingkah suaminya itu, Sooji segera memundurkan langkahnya Namun, sial! Sooji merutuk dalam hati begitu ia sudah tak bisa bergerak lebih jauh lagi karena langkahnya terhalangi oleh meja rias.

“Apa yang kau…” Nafas Sooji tercekat begitu Myungsoo sudah berada tepat dihadapannya, apalagi ketika lelaki itu menyentuh dagunya.

Myungsoo baru saja berniat mencium bibir Sooji namun gadis itu segera memalingkan wajahnya, membuat niat lelaki itu gagal. Myungsoo kembali tersenyum. Harusnya ia tahu jadinya akan seperti ini. Myungsoo kemudian mencengkram kuat kedua bahu Sooji, membuat gadis itu meringis kesakitan. “Aku bilang, aku suamimu!” teriaknya.

Myungsoo tersentak begitu menyadari tubuh gadis itu bergetar.Ia menangis.

Aku berjanji tidak akan pernah membuatmu menangis. Tidak akan pernah.

Ia tertegun. Ia telah mengingkari janji yang telah ia buat sendiri. Apa yang telah kau lakukan, Kim Myungsoo? Kau bodoh! Benar-benar bodoh!”

“Kau menakutiku,” lirih Sooji.

“Maaf.” Hanya itu yang bisa Myungsoo ucapkan sebelum meninggalkan Sooji yang kini sibuk menangis.

Myungsoo membuka matanya perlahan. Oh, sudah pagi ternyata. Sebaiknya ia segera bersiap untuk pergi ke kantor. Myungsoo lalu bergegas keluar dari kamar tamu. Ya, karena situasi canggung semalam, Myungsoo memutuskan untuk tidur di kamar tamu. Namun, ketika lelaki itu masuk ke kamarnya, ia tertegun begitu mendapati kamarnya dan Sooji sudah kosong. Gadis itu tak ada disana. Baru saja Myungsoo akan meraguh saku celananya untuk mengambil ponsel ketika matanya tertuju pada sebuah memo yang terletak rapi di meja samping ranjang. Dengan segera, Myungsoo meraih memo tersebut.

Aku ada janji dengan teman lamaku. Dan mungkin aku akan pulang lama. Jangan menungguku – Sooji.

Huh. Sepertinya gadis itu menghindar darinya. Lagipula, wajar saja Sooji ketakutan melihat Myungsoo marah seperti itu kemarin. Dasar bodoh, Kim Myungsoo!

Minho baru saja selesai berpakaian saat bel apartment-nya berbunyi. Sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil, ia segera membuka pintu rumahnya. Ia tak terkejut begitu mendapati Sooji menjadi tamu pertamanya pagi ini. Gadis itu memang sudah meneleponnya semalam dengan suara yang bergetar. ia mengatakan bahwa ia harus bertemu dengan Minho. Minho yang erasa sepertinya kesempatan datang padanya, tentu saja tak menolak.

“Terimakasih karena sudah meluangkan waktumu untukku. Tidak apa bukan kalau kau bolos hari ini saja?” tanya Sooji saat Minho mempersilahkannya masuk. Sooji kemudian duduk di sofa ruang tengah Minho seraya menunggu Minho mengambilkan minuman untuknya.

“Tidak masalah. Aku malah sennag kau menghubungiku. Omong-omong apa yang ingin kau tanyakan?”

Sooji tersenyum. Sebenarnya tujuan utamanya kesini tidaklah sekedar bertanya pada Minho, tapi lebih kepada mencari tempat persembunyian. Memangnya ia bisa kemana lagi? Ketempat Soojung? Tidak mungkin! Gadis itu pasti sedang sibuk dikantornya. Jung Soojung kebetulan bekerja disalah satu majalah fashion ternama di Korea. Kalian bisa membayangkan betapa sibuknya ia bukan?

“Sebenarnya, aku ingin bertanya ini saat bertemu denganmu di reuni kemarin. Hanya saja, karena terlalu ramai makanya aku menundanya,” jelas Sooji saat Minho sudah duduk disampingnya. Ia lalu kembali melanjutkan,”Apa yang terjadi dengan kita sebenarnya? Kenapa kita putus?” Sooji menatap manik Minho lekat.

Minho tersenyum, senyum yang hanya ia sendiri yang mengerti artinya. Harus darimana ia memulai pembicaraan menyenangkan ini? “Ya! Apa kau tidak ingat?”

“Apa?”

“Kau sendiri yang memutuskanku!”

“Kenapa?”

“Karena aku lupa hari jadi kita!”

“Benarkah?” tanya Sooji sedikit tak percaya. Apa benar bahwa ia memutuskan hubungannya dengan Minho hanya karena masalah kecil ini? Tapi, kenapa sepertinya orang-orang tidak suka jika ia membahas tentang Choi Minho? “Hanya karena itu?” tanyanya lagi.

“Iya. Hari itu, kita berjanji akan bertemu di cafe langganan kita. Tapi aku lupa dan membuatmu menunggu selama lebih dari lima jam. Wajar saja kau marah. sejak itu, aku berjanji, jika aku bertemu denganu lagi, aku akan mengingat tanggal hari jadi kita. 12 Desember! Benar bukan?

“Hmm,” Sooji hanya menggumam. Entahlah. Sebenarnya ia lega mengetahui bahwa dirinya dan Minho tidak ada masalah apa-apa. Tapi, sepertinya ada yang Minho sembunyikan darinya.

“Omong-omong, apa kau sudah sarapan? Bagaimana kalau aku membuatkanmu sesuatu untuk dimakan?”

 Sooji melirik arlojinya sekilas. Jam lima sore tepat. Sepertinya ia masih sempat untuk membuatkan makan malam untuk calon suaminya itu, Choi Minho. Sooji sudah mencoba menghubungi Minho tadi, tapi tak satupun panggilannya yang diangkat oleh lelaki itu. Sebenarnya kemana Choi Minho? Ah, sudahlah. Lagipula, Sooji bisa sekalian memberikan kejutan untuk lelaki manis itu. Sooji tersenyum seraya melirik kearah bahan makanan yang sempat dibelinya tadi. Ekspresi terkejut Minho bahkan sudah bisa dibayangkannya.

Sooji bersenandung kecil disepanjang lorong-lorong apartment milik Minho seraya menenteng kantung belanjaan. Saat sudah sampai di depan pintu berwarna marmer itu, Sooji segera menekan password. Tanggal lahir Sooji, 1010. Setelah terbuka, Sooji tersenyum puas. Namun, saat Sooji baru saja membuka ssepatunya dan berniat menggantinya dengan sandal yang sudah Minho siapkan, gadis itu tertegun begitu mendapati sepatu Minho ada disana. Oh, berarti Minho ada dirumah. Tapi, yang membuat Sooji lebih terkejut lagi adalah sebuah sepatu berhak setinggi 7 cm bertengger manis disebelah sepatu Minho. Sepatu siapa? Apa Minho kedatangan tamu? Tapi, siapa?

Tak ingin bertambah penasaran lagi, Sooji segera masuk ke dalam.

Oppa!” panggilnya. “Minho Oppa!

Kenapa tak ada jawaban? Sooji kemudian berinisiatif untuk memeriksa ke kamar Minho. Ketika Sooji membuka pintu kamar Minho perlahan, betapa terkejutnya ia begitu mendapati Minho sedang tertidur dengan wanita lain tanpa diselimuti sehelai benangpun! Oh, Sooji kenal wanita ini. Bukankah gadis ber-eyeliner tebal itu Park Jiyeon, sekretaris pribadi Minho?

Oppa!

Mendengar suara nyaring Sooji, keduanya – Choi Minho dan juga Park Jiyeon – sontak terbangun. Matanya membulat mendapati Sooji sudah berada dikamarnya dengan mata yang mulai memerah.

“Soo… Sooji-ah, aku bisa menje…”

“Cukup, Oppa! Aku tak butuh penjelasan apapun! Semuanya sudah cukup jelas bagiku! Mulai sekarang, kita tidak ada hubungan apa-apa lagi! Semuanya sudah selesai, Choi Minho!” Setelah berkata demikian, Sooji segera pergi.

Minho berniat mengejar Sooji setelah memakai kemejanya, namun Park Jiyeon terlebih dahulu menahan lengannya.

Oppa, untuk apa kau kejar dia? Bukankah bagus kalau dia memutuskanmu? Kita jadi tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi bukan?”

“Kau gila?!” tanya Minho dengan nada yang tinggi. “Kalau Suzy memutuskan pertunangan kami, karirku bisa hancur danjuga aku tidak bisa menjadi penerus perusahaan Keluarga Bae! Dasar bodoh!”

Sooji tak henti-hentinya tertawa mendengar lelucon yang dilontarkan Minho padanya. Sesekali ia mengusap matanya yang mulai basah karena tawanya. Sooji kemudian melirik arlojinya sekilas. Ia tersentak. Sudah jam 10 malam! Waktu memang berjalan sangat cepat bila dihabiskan bersama dengan Minho.

“Sebaiknya aku pulang,” ujar Sooji seraya bangkit berdiri.

“Biar kuantar,” Minho mengikuti langkah Sooji.

“Apa tidak apa?”

“Tentu saja. Ayo.”

“Jadi, kau tinggal disini?” tanya Minho. Lelaki itu memandang lurus kearah sebuah apartment mewah daridalam mobilnya. Ia bisa menduga bahwa suami Sooji bukanlah orang sembarangan hingga bisa tinggal di tempat berkelas ini. Apartment-nya sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan punya Sooji dan suaminya.

“Hmm, begitulah. Kalau begitu, aku masuk dulu. Maaf karena tidak menyuruhmu masuk. Ini sudah terlalu malam.”

“Tidak masalah. Aku bisa berkunjung lain kali.”

Sooji mengangguk kecil lalu mulai keluar dari mobil Minho. “Sampai jumpa besok.” Gadis itu lalu mulai masuk.

Minho hanya tersenyum sambil menatap kepergian Sooji. Sepertinya keberuntungan sedang berpihak padanya. Kalau tebakannya tepat, hubungan Sooji dan suaminya pasti sedang tidak baik. Maka dari itu Sooji menghabiskan waktu dengannya. Minho bisa memanfaatkan kesempatan ini. Minho kembali tersenyum. Ia segera mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

“Darimana saja kau?”

Sooji tersentak kaget begitu mendapati ternyata Myungsoo menungguinya dikamarnya.

“Aku bertemu dengan teman lamaku,” jawab Sooji acuh.

“Siapa yang mengantarmu tadi?”

Oh. Apa Myungsoo tadi melihatnya diantar Minho? Sepertinya ia tidak bisa melihat wajah Minho dengan sangat jelas. “Aku diantar oleh temanku. Dan, tolonglah, Myungsoo-ssi. Berhentilah seolah kau peduli denganku. Bagiku sekarang, kau hanya orang asing! Sekarang, bisakah kau diam? Aku ingin tidur!”

Setelah menghapus make-up-nya, Sooji segera tidur disamping Myungsoo dengan membelakanginya Sedangkan Myungsoo, ia masih tak bisa berkatakata. Apa? Orang asing?

Sooji-ah, sadarlah! Aku suamimu!

TO BE CONTINUED

64 responses to “The Memories Chapter 4

  1. myungsoo Iam on your side now, aigo klo di posisi myungsoo pasti sakit bnget ya, yg bca aj jd nyesek, heoool soojiya cpet ingat myungsoomu yang tampan itu kkkk

  2. Sooji keras kepala. Tapi gak bsia disalahin juga sih, dia ngerasa Myung orang asing dan dia takut sma Myung gara2 Myung marah kmrn malam..
    Myung terlampau cemburu dan depresi gr2 ulah Sooji..
    Tapi apa Sooji hatinya gak berdebar saat sama Myung Apa karena belum ada skinship?
    Kasian Myungsoo. Makan hati..
    MInho malah menggunakan kesempatan ini untuk mendekati Sooji lagi. Ckckckckck.. Semoga Sooji cepet sadar..

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s