[Sadness on Monday] Airplane

tumblr_naipnnsAUp1sf0xh9o1_500Airplane

Little Thief proudly present    

{Kim Myungsoo and Bae Suji}    vignette (2,01k+ words)

Marriage life, sad, angst, slice of life // PG

disclaimer: inspired by @fiksimini’s (twitter) tweet.

2nd story of Sadness on Monday.

Yang kutahu, hati seorang Bae Suzy mudah sekali tersentuh.

Dia memang tipe orang yang sentimental. Lunak dan melankolis. Kata guru SMP-ku dulu, tipe orang inilah yang dibutuhkan. Kata beliau, orang-orang melankolis dapat meredam orang-orang berego tinggi. Itu kata beliau. Entahlah orang percaya atau tidak. Namun kalau begitu maksudnya, aku harus bersyukur.

Dia diciptakan untuk meredam seluruh emosi dan perasaan positif. Dalam masalah ini, hanya seorang Bae Suzy yang bisa. Meskipun aku tahu dari hati sensitifnya itu, dia kerap kali menangis bila dia mencoba menenangkanku. Yah, aku sangat suka mengobarkan api.

Dan hal kedua yang kuketahui, dia suka cahaya bulan.

Seperti malam ini, aku menatap kaku langit malam yang hitam pekat di hadapan mataku. Suzy duduk di sebelahku, kepalanya bersandar di pundak dan tangannya memeluk lenganku. Kutelaah arloji yang sedang kupakai.

Pukul dua pagi waktu setempat.

Sebetulnya, aku tak tahu lebih spesifik di mana diriku. Di negara mana, dan di kota mana. Yang jelas, aku berada di atas langit. Di ketinggian puluhan ribu kaki di atas tanah. Aku berada di negeri kapas. Seingatku, ini sudah lama sekali sejak kami berangkat dari bandara Seoul jam enam sore tadi.

Yah, mungkin aku sedang berada di atas langit Rusia. Atau India. Ah, entahlah. Yang jelas, ini adalah sebelas jam perjalanan dan butuh tiga jam lagi untukku dan Suzy untuk sampai ke Negeri Jam Raksasa, Inggris.

Tiga jam. Itu tidak masalah buatku. Aku terbiasa menunggu pada waktu sekitar itu. Tapi, aku merasa hanya merenung dalam waktu tiga jam itu melelahkan dan sangat membuang waktu. Apalagi dengan posisiku yang terkunci duduk. Aku harus tidur untuk menghabiskan waktuku. Tapi, aku tak merasa mengantuk. Aduh, sepertinya aku sudah memasuki zona jet lag mulai detik ini.

Walaupun aku tak bisa tertidur, aku menatap Suzy yang tertidur pulas di bahuku. Wajahnya kelihatan tenang, dan juga kelelahan. Aku tersenyum. Dia memang ikut bersamaku ke Inggris. Hm, aku agak canggung untuk menceritakannya.

Sudah satu bulan semenjak pernikahanku—final dari status hubungan yang sudah mencapai sekitar lima tahun. Dia tak akan bersandar di bahuku seperti ini kalau lima tahun lalu aku tidak bertemu dengan Pak Kwang, salah satu pelatih tenisku ketika aku kelas tiga SMA.

Jadi saat itu, saat kelas tiga, ketika murid lain sedang ketar-ketir menghadapi ujian masuk universitas, aku justru malah merengek pada ibuku agar memasukan aku sebagai anggota klub tenis walaupun sepertinya aku sudah terlalu tua. Lalu ibu mengenalkanku pada Pak Kwang. Dia adalah pelatih tenis handal.

Tenis mempertemukanku dengan gadis ini. Aku berkenalan dengan seorang petenis muda senior, Bae Suzy. Kuakui, di pertemuan pertama kami, dia sangat menyebalkan hingga aku ingin menampar wajahnya langsung. Namun, aku jelas tak bisa menyombongkan diri karena kemampuan tenisnya benar-benar bagus. Aku bisa disebut kurang ajar nanti.

Ketika Pak Kwang berhalangan hadir, Suzy menjadi mentor tenis. Gadis ini dulunya murid kesayangan Pak Kwang. Dia melatihku cukup lama. Meskipun begitu, karena bakat dari ayah, aku bisa mahir memainkan tenis dalam waktu yang bisa dibilang singkat. Walaupun tak ada niatan mengikuti kompetisi.

Jangan salah. Istriku ini adalah petenis dunia. Suzy sempat mengikuti turnamen di Jerman saat kelas satu SMA, kemudian memutuskan berhenti setelah berhasil meraup medali emas di sana. Lelah, sesederhana itu alasannya. Dia memutuskan untuk jadi pelatih saja.

Dua tahun pertemanan, aku jatuh cinta. Aku jatuh cinta pada setiap hal kecil yang dia lakukan. Aku merasa tak pernah bisa menggapainya   dia terasa jauh sekali. Bahkan aku pernah iri pada raket tenis kesayangan yang selalu ia bawa saat berlatih. Betapa beruntungnya si Raket, bisa bersama dia setiap hari dan menjadi teman hidupnya.

Dan di sinilah kami sekarang. Dalam perjalanan menuju ke Inggris. Dengan dia di sebelahku. Untuk berbulanmadu selama beberapa lama. Kota impian kami berdua. Demi Sungai Thames dan London Eye, aku datang!

Ketika aku membetulkan letak selimut Suzy yang merosot, seorang pramugara menghampiriku. Dilihat dari wajahnya, dia berdarah Prancis dan bahasa Inggrisnya terbata.

“Permisi, Monsieur. Aku tak melihat Anda tertidur malam ini. Ingin hidangan kecil-kecilan?” tanyanya.

Aku mengangguk pelan. “Mungkin karena jet lag. Apa, ya…hm, roti?”

Pramugara itu pun mengangguk, tangannya meraba troli yang ia dorong dan menyerahkanku sebuah roti dan ia menyuguhkanku secangkir teh. Dengan susah payah   karena lengan kananku direngkuh oleh Suzy, aku mengambilnya dengan tangan kiri.

“Terimakasih,” ucapku singkat.

Pramugara itu membungkukkan badan tanpa mengucapkan sepatah kata. Ia lantas berbalik. Roda troli yang bergesekan dengan lantai pesawat membuat sedikit bising. Dengan penuh perjuangan aku membuka bungkus roti, dan menyicipinya segigit.

Ketika tangan kiriku meraih cangkir dan mulai menyeruput kopi, pesawat terguncang.

Benar-benar terguncang. Seolah aku sedang naik truk dan berada di dalam perjalanan yang penuh batu, curam dan berlubang. Pesawat ini benar-benar terguncang.

Beberapa orang yang tadinya tenang langsung berbisik-bisik, tampak khawatir. Hanya beberapa saja. Guncangan ini sebetulnya tak terlalu besar karena orang yang asyik tertidur tak terbangun, seperti Suzy yang masih pulas. Tapi tak bisa dibilang kecil mengingat sebagian teh di dalam cangkir tumpah ke celana hitamku.

Dengan mendengus, aku meletakkan cangkirku ke meja knop dan bersandar di punggung kursi. Menenangkan diri. Baiklah, aku benar-benar takut sekarang. Kerusakan pesawat adalah ketakutan terbesarku. Kuharap tak ada guncangan lagi.

Belum ada pemberitahuan dari pilot. Pak Pilot terakhir kali memberi pengumuman ketika jam delapan malam tadi, ketika katanya kami sedang berada di langit China. Lewat kokpit, dia berusaha melucu walaupun terkurung di ruangan penuh tombol bersama kopilotnya. Membuat seluruh penumpang tertawa.

Bukan tanpa alasan bahwa aku merasa takut. Aku pernah punya trauma dengan pesawat terbang. Dua kali. Pertama; tiga sepupuku meninggal di udara karena kerusakan mesin pesawat saat mereka pulang ke Korea sehabis berlibur dari Eropa. Kedua; aku pun pernah. Aku pernah mengalaminya saat kecil, ketika akan pergi ke Bangkok. Pesawat berguncang parah, namun untungnya masih bisa dikendalikan.

Tapi aku tak punya pilihan lain. Naik kapal? Yang benar saja. Memangnya aku ini suka berlayar selama berbulan-bulan? Melihat ombak saja aku sudah waswas.

Ketika aku memejamkan mata, dan bayangan indahnya Sungai Thames yang airnya bercahaya karena pantulan lampu London Eye mulai muncul di kepalaku, terjadi guncangan kedua.

Kali ini lebih keras. Jadi lebih banyak orang yang bangun. Jantungku serasa hampir meledak ketika guncangan itu nyaris membuatku terlompat dari duduk. Beberapa mulai gelisah dan panik. Cuaca burukkah? Hujankah? Kami semua tak tahu.

Aku langsunng melirik Suzy. Dia masih tertidur pulas, bahkan sedikit mendengkur. Melihat tingkahnya, setidaknya membuatku mendengus dan tersenyum kecil walaupun jantungku sudah berdebar tak karuan. Dasar anak ini. Dari dulu memang sangat suka tidur seperti beruang hibernasi.

Belum lama setelah guncangan kedua, terjadi lagi guncangan ketiga.

Ah, mampuslah aku sekarang.

Berkat guncangan ketiga itu, Suzy terbangun dari tidurnya dengan wajah polos. Tak tahu apa-apa. Rambutnya acak-acakan. Dengan seulas senyum tipis aku merapikan surainya. Dia menguap dan mengerjap-ngerjapkan matanya.

“Myungsoo?” tanyanya dengan mata sayu. “Di mana kita?”

“Entahlah,” jawabku, menutupi ekspresi gugup dan berusaha sekuat mungkin untuk tidak berkeringat dingin.

Suzy hanya menghela napas, perlahan melepaskan rengkuhan tangannya dari lenganku. Syukurlah! Lenganku kebas rasanya. Karena guncangan ketiga itu, lampu pesawat kini dinyalakan dan beberapa pramugara sibuk memeriksa beberapa penumpang.

Selama beberapa saat, aku harus merasa lega karena pesawat sudah berjalan dengan mulus di udara. Tak ada guncangan hebat seperti tadi. Aku menghela napas, bersandar. Semoga akan terus seperti ini sampai kurang tiga jam lagi.

“Myungsoo.”

“Hm?” aku menoleh kepada Suzy.

“Semuanya baik-baik saja?” tanya Suzy dengan tatapan penuh pengharapan padaku.

Aku mengangguk. “Tentu saja, Sue.”

Myungsoo adalah pembohong, karena beberapa menit setelah aku meyakinkan Suzy, pesawat kembali terguncang. Kali ini lebih keras, dan tak berhenti. Lebih tepatnya, pesawat ini bagai terombang-ambing.

Mungkinkah langit malam marah pada kami semua?

Semua penumpang yang masih pulas langsung terbangun. Beberapa orang menjerit ketakutan. Lampu pesawat berkedip menyala. Ratusan masker oksigen diturunkan, menandakan keadaan darurat. Awak kabin mulai memberikan aba-aba ke penumpang.

Tidak mungkin.

Pramugara yang tadi menawariku roti dan teh—cangkir tehnya sudah pecah saat guncangan ketiga, kalau kau mau tahu—berlalu-lalang. Menenangkan penumpang dan menginstruksikan bersama rekan pramugara dan pramugari yang lainnya. Dia terlihat sedang menenangkan seorang anak kecil yang menangis tak karuan. Sama takutnya seperti aku.

Suzy menangis, membenamkan wajahnya di bahuku. Perlahan, dipenuhi rasa ingin tahu, aku mendorong lembut pundak Suzy. “Sue, jangan menangis. Aku akan menanyakan apa yang terjadi.”

Istriku itu menahan lenganku. “Hati-hati.”

Aku mengangguk. Kulepas sabuk pengaman, dan berjalan menuju monsieur pramugara itu. Dia menyadari kehadiranku menghampirinya. Wajahnya pun sudah pucat ketakutan.

“Anda harus tetap duduk di kursi Anda!” teriak si pramugara marah.

“Aku tahu!” balasku. “Apa yang terjadi?”

Setelah selesai mengurusi anak kecil tadi, ia menatapku tajam. Namun suaranya bergetar ketika dia menjawab pertanyaanku. “Sesuatu buruk terjadi, Monsieur. Malam ini, cuaca buruk. Sangat buruk. Awan menyebalkan itu tersebar di mana-mana.”

Napasku tercekat.

“Tapi Anda tak perlu khawatir. Petugas menara ATC pasti sedang menginstruksikan sang pilot! Aku harap semuanya baik-baik saja.”

“Berharap itu mudah!” bentakku jengkel. “Baiklah, Pramugara, kalau keadaan sudah terlambat, kita harus mendarat darurat, bukan?”

Pramugara itu mengangguk. Sudah berlinang oleh airmata.

“Di mana kita sekarang?” tanyaku.

“Di atas langit Ukraina,” jawabnya bergetar.

Aku mengucapkan terimakasih dan kembali ke kursiku. Suzy menatapku, wajahnya berlinang airmata seperti pramugara tadi.

“Myung?” dia memelukku ketika aku duduk. “Aku tak mau mati di sini.”

“Siapa yang bilang kau akan mati di sini, Sue?” tanyaku, mengusap rambutnya. “Semuanya akan baik-baik saja. Sekalipun tidak, aku tahu apa yang harus kita lakukan. Kita akan selamat.”

Suzy mengangguk. Dia percaya padaku. Sial, dia percaya padaku. Berarti aku harus menanggungjawabkan hidupnya. Tapi, sejak aku melamarnya tempo lalu, memang itulah yang harus kulakukan. Tapi di tengah keadaan pelik seperti ini…oh, entahlah.

Ketika penumpang lain sudah mulai memakai masker, aku, dengan tangan bergetar, hendak memakaikannya pada Suzy ketika mata gadis itu tercenung pada langit di jendela di sebelah tempat dudukku.

“Sue?” tanyaku. Mengikuti arah pandangnya.

Matanya terpancang pada bulan yang menyinari langit malam. Bahkan di antara keadaan ini, rasanya bulan jauh lebih besar daripada yang biasa kulihat di atap rumah. Cahayanya lebih terang. Dan berpendar begitu indah.

Suzy suka bulan.

Ketika aku dan Suzy menatap bulan terang itu, lampu pesawat betul-betul mati. Keadaan darurat. Semua orang kini mulai pasrah. Masing-masing ada yang berpegangan tangan dengan sanak saudara, orang dicinta. Sebagian lagi ada yang nekat ingin membuka pintu darurat. Dasar bodoh.

Yang kuingat, aku ikut menatap bulan itu dengan syahdu. Bahkan airmata Suzy keluar.

Kemudian, aku merasakan tempat yang kupijak tak lagi lurus. Posisi pesawat mulai miring. Dan meluncur ke bawah. Cepat sekali. Rasanya seperti naik rollercoaster. Jantungku serasa dipantulkan ke bawah.

Apa ini? Sesingkat inikah perjalananku? Bahkan beberapa jam lalu aku masih bercakap dengan Suzy. Tidak. Bahkan barubeberapa menit lalu, di masih tertidur pulas di bahuku. Aku tak menyangka bahwa aku hanya tinggal menuju detik-detik terakhir sekarang.

Teriakan. Doa. Tangisan. Dan aku menggenggam tangan Suzy, erat sekali. Wanita itu masih terpana memandang purnama. Aku hendak memakaikan masker itu untuknya sekali lagi.

Tapi perempuan itu menahan lenganku. Kuat sekali. Suzy dengan airmata berlinang menatapku penuh harap. Suaranya bergetar saat mengatakan, “Myungsoo, aku sangat menyukai bulan. Maukah kau menemaniku sebentar, dan untuk yang terakhir saja?”

Aku tidak pernah sanggup. Jadi aku mengangguk, dan menggenggam tangannyanya lebih erat ketika keadaan pesawat sunyi senyap. Hanya ada deru angin dan perasaan kalut dan takut dalam diri masing-masing.

Beberapa ada yang berdoa, beberapa ada yang sesenggukan. Sebagian ibu ada juga yang menyanyikan nina bobo untuk adiknya. Lalu pikiranku melayang kepada hal-hal yang bahagia.

Pertemuan kami di lapangan tenis. Seluruh canda dan tawa. Juga aku melihat beberapa bulan lalu, Suzy dengan cantiknya tampil kepadaku dengan baju pengantin. Lalu bayangan London Eye, Sungai Thames, Big Ben dan Tower Bridge. Lalu, Suzy yang menyukai bulan.

Aku menatap cahaya pendar bulan dari jendelaku. Aku menatap Suzy yang meringkuk ketakutan tapi tak bisa melepaskan matanya dari bulan yang sedang purnama. Perlahan, kuberikan seluruh kehangatan yang bisa kuberikan saat ini. Aku memeluk lengannya dan dia membalas. Dengan isakan, Suzy bersandar di pundakku dan kembali melanjutkan aktivitasnya menatap langit.

Sayangnya, bulan itu semakin kecil karena kami semakin menjauh.

“Sue, bulannya indah,” bisikku. “Terang. Seperti dirimu.”

“Bolehkah aku menyatakannya selagi menatap keajaiban ini?” dia balas berbisik. “Aku mencintaimu, Myung. Sangat.”

“Begitupun aku.”

Kami mengeratkan rengkuhan di lengan. Menatap bulan dengan tatapan tenang. Dengan adanya Suzy di sampingku, kematian seolah tak ada artinya. Dengan cintanya, rasanya aku bisa hidup untuk selamanya.

Dan lebih lagi, ketika bersama dirinya, dunia ini tanpa rasa takut. Aku menjadi lebih kuat. Seolah tak terjadi apa-apa, aku mulai membayangkan akan tiba dengan London Eye di depan mata, lalu aku dan Suzy menaiki salah satu kabin di komedi putarnya.

Bulan semakin mengecil ketika aku menutup mataku, berusaha untuk tertidur dengan Suzy, perempuan yang kucintai seumur hidupku, berada di sisiku. Meskipun aku mendengar samar ledakan, namun aku merasa damai.


First of all, ini FF pertamaku yang genrenya marriage. Terus terang, aku sangat-sangat awkward waktu nulis bagian Suzy istrinya Myung, lol.

Dan juga, aku nggak tahu banyak tentang jalur dan dunia penerbangan. Jadi maaf aja kalo scene di pesawat tadi rada-rada ngawur. Authornya juga jarang naik pesawat sih, hihihi.

Kritik dan sarannya selalu dibuka.🙂

with regards,

Little Thief.

26 responses to “[Sadness on Monday] Airplane

  1. Aku smpe deg2an.. ikut kalut kayak mgungzy.. aaaa.. mau bulan madu malah kecelakaan peswat. Tragis.
    Cinta sehidup semati..
    Nice story..

  2. sad, romancenya kerasa banget thor ikut hanyut dg ketegangan mereka.. wlwpun bulanmadunya tragis tpi mereka mati bersama.. nice story thor 😭

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s