[Freelance] Kwajangnim Chapter 3

Title : Kwajangnim | Author : kawaiine | Genre : Angst, Family, Romance | Rating : PG-17 Main Cast: Kim Myungsoo, Bae Soo Ji, Choi Minho, Son Na Eun | Other Cast : Kim Soo Hyun,Lee Hyuk Jae [Eunhyuk] , Cho Kyuhyun,Choi Sulli, Kim Yoo Jung, Kim So Hyun, eTc

“This plot and story is pure from my mind. Sorry for typos, don’t be a siders and plagiator. Happy reading :*”

***

Author POV
Langit Seoul begitu cerah pagi ini, orang-orang berlalu lalang melakukan aktivitasnya masing-masing. Kendaraan di jalan raya juga mewarnai rutinitas pagi di kota ini. Sebuah mobil menepi tepat di depan gedung perkantoran Choi Cooporation. Pintu mobil tersebut terbuka, kaki jenjang berbalut high heels tersebut menjadi permulaan yang keluar dari mobil. Sulli, gadis itu kini berada di gedung perkantoran milik ayahnya. Ia kemudian melangkahkan kakinya memasuki gedung perkantoran ini, semua mata melihat ke  arah Sulli, tepatnya semua pria yang sedang berjalan maupun sedang duduk tertuju pada Sulli.  Sulli di dampingi oleh kedua Bodyguard dan Tuan Seo, wakil direktur Choi Cooporation.
Langkah kaki mereka terhenti di meja informasi.

“Umumkan kepada semua pegawai bahwa 2 menit lagi akan  ada pertemuan penting di Aula.” ujar Tuan Seo. Karyawan yang bertugas di meja informasi mengangguk patuh. Mereka kemudian melangkahkan kaki menuju lantai 2 dimana Aula Pertemuan berada. Selama perjalanan suara pengumuman keluar dari seluruh Speaker yang berada di sudut dinding. Membuat Sulli tersenyum bangga.

Seluruh karyawan memasuki Aula Pertemuan dengan tertib, mereka pun duduk di kursi yang berbaris memenuhi Aula Pertemuan yang terbilang besar ini. Tuan Seo, Sulli, dan kedua Bodyguard tersebut memasuki Aula Pertemuan.

“Baiklah, mengingat waktu yang ada. Aku akan mengenalkan Manager Utama yang baru kepada kalian semua. Mi Ah yang terduduk refleks membelalakkan matanya. Ia menatap tak percaya.

“Bagaimana bisa—Kwajangnim…”

“Selamat Pagi, perkenalkan namaku Choi Sulli. Aku putri dari Choi Do Shik. Mulai hari ini aku menjadi Manager Utama disini. Mengingat usiaku yang masih terbilang muda, aku meminta bantuan dan kerja sama dari kalian semua.” Sulli membungkukkan badannya, para karyawan yang sedang duduk saling berbisik dan bertepuk tangan.

“Waah, lihatlah Manager kita yang baru sangat cantik. Ia juga tampaknya baik hati.”

“Tidak seperti Soo Ji Kwajangnim, ia sangat angkuh. Bahkan pada saat pertemuannya dengan kita ia tak pernah sopan seperti Sulli Kwajangnim.”
—-
Sulli tiba di ruangan Manager Utama, ruangannya sangat rapi  dan tertata dengan baik. Para Office Boy di kantor ini selalu datang lebih awal untuk membersihkan ruangan kebesaran Manager Utama,Soo Ji. Pasalnya Soo Ji sangat sensitif dengan kebersihan, ia tak segan menegur Office Boy atau memecatnya jika ruangannya kotor. Ia tersenyum memandang namanya yang kini terpampang di plakat kaca berbentuk persegi panjang, ia pun duduk di kursi kebesarannya dan membaca map yang terletak di atas meja.

“Kerja sama dengan HyunSteel.Bagaimana bisa ia meninggalkan pekerjaan ini dan aku yang harus menyelesaikannya?” gumam Sulli.

—-0000—-
Soo Ji mengusap air mata di kedua mutiara indahnya, Myungsoo masih setia memandanginya. Mata Soo Ji sedikit membengkak. Myungsoo tersenyum dan mengulurkan tangannya mengusap kembali air mata yang tersisa di mata Soo Ji. Soo Ji kemudian menepis tangan Myungsoo.

“Mianhae.” gumam Soo Ji pelan, beruntung Myungsoo memiliki pendengaran yang tajam sehingga bisa mendengar suara pelan Soo Ji.

“Kwajangnim, tak perlu meminta maaf. Aku tak kerepotan sama sekali. Begitu pula dengan keluargaku. Jadi, berhentilah meminta maaf.”

“Aku membasahi bajumu, ckkk… bodoh.” Myungsoo tertawa, membuat Soo Ji mengernyit heran.

“Mengapa kau tertawa? Kau akan memberitakan ini di kantor kan? Kau akan bilang bahwa aku gadis yang cengeng dan tak tahu malu tinggal di rumah orang lain yang mungkin bisa di bilang sama sekali tak aku kenal.”

“Aku tertawa karena melihatmu mengenakan baju tidur adikku, kwajangnim. Motif beruang dan pita-pita ini cocok denganmu. Ditambah dengan warna pink cerah, membuatmu semakin seperti gadis SMA.”

“Kau pengamat fashion? Mengapa kau mengomentari baju yang aku pakai? Menyebalkan sekali.”

“Bisa di bilang seperti itu, kwajangnim. Aku selalu memilihkan baju untuk adikku jika mereka akan berpergian kemana-mana. Dan orang-orang mengatakan bahwa itu sangat bagus untuk mereka.” Myungsoo berbicara dengan tanpa melepaskan tatapannya di mata Soo Ji. Membuat Soo Ji sedikit salah tingkah, ia kemudian mengalihkan pandangan matanya yang tadi menatap Myungsoo.

“Baiklah, aku akan keluar. Mungkin Eunhyuk hyung dan Kyuhyun hyung sudah bangun.” ujar Myungsoo.

“Mereka disini?!” pekik Soo Ji . Myungsoo mengangguk. Myungsoo kemudian melangkahkan kakinya, tapi langkahnya terhenti.

“Aku tak akan membicarakan ini pada siapapun. Aku berjanji padamu Kwajangnim. Aku akan—“

“Gomawo, Jeongmal Gomawo. Myungsoo-ssi.”  Myungsoo mengangguk dan keluar dari kamar adiknya dengan senyuman yang mengembang.

“Kau memang pria hebat, Kim Myungsoo.” ujar Myungsoo berbicara dengan dirinya sendiri di depan pintu kamar adiknya, ia kemudian berbalik dan tersenyum lebar ke  arah pintu yang tertutup, ia pun melangkahkan kakinya menuju kamarnya. So Hyun yang bersembunyi di lemari raksasa dekat kamarnya menghembuskan nafas lega, gelas yang berada di genggamannya kini kosong tak berisi air.

“Aish, Kim So Hyun apa yang kau lakukan? Kau meminum air untuk Eonni itu.”  gumamnya pelan, sepertinya putra dan putri Ayah dan Ibu Kim ini memang suka berdialog dengan diri sendiri.
—-
Eunhyuk dan Kyuhyun tengah memasang sepatunya dengan malas, Myungsoo tampak bersemangat pagi ini. Senyuman yang bahagia terpancar dari wajahnya.

“Hei, Myungsoo-ah, apakah kau tak ingin mengecek keadaan Kwajangnim?Kita bahkan terlambat ke kantor gara-gara semalam. Aish, biarlah yang terpenting kita tetap datang.” ujar Eunhyuk. Tiba-tiba So Hyun keluar dari kamarnya.

“Myungsoo Oppa, Soo Ji Eonni sudah makan bubur buatan Eomma tadi dan sudah minum obat.” Myungsoo hanya mengangguk, masih dengan senyumannya. So Hyun melangkah ke dapur untuk membantu Ibu Kim dan Yoo Jung yang sedang menyiapkan sarapan pagi.

“Ayah mu tak kelihatan pagi ini.” ujar Kyuhyun.

“Oh, ayahku sudah berangkat sebelum kita semua terbangun. Ia sedang ada penyelidikan kasus di Busan.” Kyuhyun menganggukkan kepalanya.

“Chaa~ Sarapan paginya sudah siap.” ujar Ibu Kim yang di dampingi kedua putrinya. Kedua tangan mereka memegang piring yang berisi telur gulung dan sup.

“Waaah, ini tampak melezatkan Ahjumma. Aku belum pernah sarapan seperti ini di pagi hari. Apa lagi yang menyajikan sarapan adalah bidadari-bidadari yang tinggal di bumi.” ujar Eunhyuk.

“Aigoo… Apakah aku termasuk bidadari tersebut?” tanya Ibu Kim. Mereka semua hanya tertawa.

“Tentu saja Ahjumma, bidadari terlahir dari bidadari juga.” ujar Kyuhyun, mereka semua kembali tertawa dengan sedikit keras. Soo Ji yang berdiri dipintu kamar yang sedikit terbuka tersenyum dan menutup pintunya pelan.

“Sepertinya sangat indah jika memiliki keluarga seperti ini.” gumamnya. Ia kemudian duduk di ranjang yang menahan tubuhnya sedari tadi malam.

[FLASHBACK]

“Sebenarnya apa yang terjadi padamu Kwajangnim?” tanya Myungsoo di sela-sela tangisan Soo Ji. Soo Ji yang masih berada dalam dekapannya hanya terus menangis.  Soo Ji melepaskan dirinya dari dekapan Myungsoo.

“Aku tak yakin kau akan mendengarkannya.” ujar Soo Ji.

“Aku yang bertanya, kau hanya perlu menjawabnya Kwajangnim. Aku akan mendengarkanmu.” ujar Myungsoo. Soo Ji kemudian kembali menangis dengan tersedu-sedu.

“Aku tahu kau bukan gadis yang seperti mereka katakan, Aku tahu kau adalah gadis yang baik Kwajangnim. Tapi, mungkin keadaan yang memaksamu seperti ini.” Soo Ji menghapus air matanya.

“Bagaimana kau bisa menilaiku seperti itu? Bahkan kau hanya mengenalku sekilas.”

“Aku melihat dari sikapmu Kwajangnim, kau bersikap acuh tapi sebenarnya kau peduli. Kau juga bersikap sombong karena kau menyimpan beban yang seharusnya tak kau tanggung sendiri.”
Soo Ji kembali meneteskan air matanya.

“Tapi, Kwajangnim… Ada satu hal yang ingin ku tanyakan padamu.”

“Tanyakan saja.”

“Kau pasti lulusan universitas di Luar Negeri, kau sangat cerdas Kwajangnim, di usiamu yang seharusnya masih bermain dan bebas, kau sudah memiliki jabatan yang tinggi. Luar biasa.” ujar Myungsoo, Soo Ji hanya tersenyum pahit.

“Mendapatkan jabatan itu membuatku menderita seperti ini. Jadi, jangan pernah mengatakan aku hebat. Aku hanya bersyukur memiliki otak yang memiliki kemampuan di atas rata-rata, dan  karena kemampuan itu aku harus bekerja selepas lulus dari SMA.” jawaban Soo Ji membuat Myungsoo tercengang. Myungsoo menutup mulutnya.

“Kwajangnim—“

“Maka dari itu, berhenti mengatakan bahwa aku hebat. Sebetulnya aku hanya hebat dalam mengurus perusahaan itu, sementara mengurus batinku sendiri aku tak bisa. Kau jauh lebih hebat bisa menikmati hidup yang pantas, sedangkan aku tak bisa menikmati kehidupanku.”

“Maafkan aku.”

“Lupakan saja, tak perlu mengingat perkataanku.”

[FLASHBACK END]

—-
Soo Hyun tengah duduk di sofa ruangannya, ia tersenyum memandang foto di tangannya. Masih foto yang sama. Yun Chae, sekretaris Soo Hyun mengetuk pintu memecah keheningan di ruangan megah milik Soo Hyun. Soo Hyun dengan cepat memasukkan foto tersebut kedalam saku jasnya.

“Masuklah.”

“Sajangnim, Choi Cooporation belum mengkonfirmasi dimana kita akan mengadakan pertemuan.”

“Baiklah, kemungkinan besar kerja sama ini akan aku batalkan.” ujar Soo Hyun.

“Petinggi disana sangat tidak professional, mereka yang menawarkan kerja sama untuk kita tapi mereka sendiri yang menyusahkan. Mereka seperti mempermainkanku.” Soo Hyun meraih ponselnya.

“Aku akan mencari tahu siapa saja petinggi disana.” tambah Soo Hyun, Yun Chae dengan sigap mengambil ponselnya.

“Aku sudah mengambilnya terlebih dahulu Sajangnim. Aku akan membacakannya.” Soo Hyun mengangguk.

“Bae Soo Hyuk, ia adalah direktur disana. Namun pemiliknya tetaplah Tuan Choi Do Shik, pemilik Choi Air. Seo Sa Gon, ia wakil direktur. Dan ini yang paling menarik menurutku Sajangnim. Bae Soo Ji, Manager Utama, ia berhasil menarik perhatian HanHyu Group dengan program kerja yang ia susun dan ia tawarkan, sebagaimana kita tahu Sajangnim, HanHyu Group adalah perusahaan penghasil kendaraan  yang terbesar di Asia, bahkan mereka membuka cabang di Eropa. Dan ia juga menawarkan dengan cara yang sama sewaktu ia menawarkan pada HanHyu Group pada perusahaan kita.” Soo Hyun menyipitkan matanya.

“Baiklah, aku yang akan mendatangi mereka terkait kerjasama ini. Aku ingin bertemu dengan wanita itu. Bagaimana bisa dia meluluhkan pemilik HanHyu Group,sementara kita juga tahu bahwa mereka menolak kerja sama yang ku ajukan 10 kali untuk material kendaraan. Aku ingin bertanya padanya metode apa yang ia gunakan.” ujar Soo Hyun, Yun Chae mengangguk.
—-
Eunhyuk berlari dengan nafas terengah-engah kedalam ruangan teknisi. Myungsoo dan Kyuhyun hanya menatapnya heran.

“Kwajangnim di turunkan begitu saja dari jabatannya? Bagaimana bisa dia seperti itu.” ujar Eunhyuk sembari mengatur nafasnya, Kyuhyun mengambilkan air minum untuk Eunhyuk.

“Apa yang kau maksud , hyung?” tanya Kyuhyun.

“Posisi Kwajangnim sebagai Manager di gantikan oleh Choi Sulli. Putri dari pemilik perusahaan ini. Aku yakin kwajangnim tak mengetahuinya.” Myungsoo membelalakkan matanya.

“Mwo? Kwajangnim pasti terkejut mendengar ini. Kwajangnim ku yang malang.” ujar Myungsoo

“Meskipun ia bersikap menyebalkan tapi kemajuan perusahaan adalah berkat dirinya. Kau tahu? Beberapa perusahaan terkenal dan terbesar banyak menawarkan kerja sama begitu kwajangnim sukses besar dengan proyeknya bersama HanHyu Group.” timpa Kyuhyun

“Para karyawan disini senang mendengar Kwajangnim tidak bekerja lagi disini. Tapi mereka pasti akan segera menjadi pengangguran.” ujar Eunhyuk

“Aku merasa tak yakin dengan kinerja putri tuan Choi.” jawab Kyuhyun.

“Aku harus memberitahu Kwajangnim.” Myungsoo meraih tasnya yang berada di kursi, ia kemudian melangkah keluar dengan langkah yang terbilang cepat. Myungsoo tiba di lobby, ia kemudian sedikit berlari.

BRUKK!

Tanpa di sengaja Myungsoo bertabrakan langkah dengan pria asing yang di duga bukan karyawan maupun petinggi perusahaan ini. Pria itu kemudian berdiri di bantu oleh sekretarisnya, Myungsoo masih terduduk dengan memejamkan matanya, bagian belakangnya terlalu sakit karena terhempas ke lantai. Tiba-tiba tangan pria itu terulur hendak membantu Myungsoo, dengan cepat Myungsoo meraih tangan pria itu.

“Maaf Tuan, aku terburu-buru. Maafkan aku, aku tak sengaja.” ujar Myungsoo, pria itu mengulum senyum tipisnya, Soo Hyun.

“Gwenchana, aku yang tak melihat. Silahkan teruskan perjalananmu.” jawab Soo Hyun, Myungsoo membungkukkan badannya lalu menghilang dari hadapan Soo Hyun. Soo Hyun melanjutkan langkahnya menuju kedalam.

“Aku ingin bertemu dengan Manager Utama.” ujar Soo Hyun pada resepsionis di dekat lobby, resepsionis itu kini membuka bukunya. Lalu kembali menghadap Soo Hyun.

“Silahkan anda ke lantai 2 Tuan, ruangannya ada di tengah sesudah bagian kepegawaian.”
Soo Hyun kemudian membungkukkan badannya lalu melanjutkan langkahnya menuju ruangan Manager. Para karyawan wanita disana sibuk memperhatikan Soo Hyun, Yun Chae merasa risih dengan itu.

“Kwajangnim, ada yang ingin bertemu denganmu.” ujar Mi Ah di balik pintu, Sulli yang sedang membaca buku menyuruhnya untuk masuk. Mi Ah pun memasuki ruangan Sulli bersama Soo Hyun dan Yun Chae. Soo Hyun kemudian tersenyum pada Sulli. Tetapi senyuman itu memudar ketika melihat plakat persegi panjang yang tebuat dari kaca itu menuliskan nama yang bukan nama orang yang ingin ia temui.

“Kau bukan Bae Soo Ji?” ujar Soo Hyun, Sulli menggelengkan kepalanya.

“Aku Manager Utama yang baru disini, Soo Ji sudah tidak lagi bekerja disini.” ujar Sulli.

“Lalu bagaimana dengan kerjasamanya? Aku, Kim Soo Hyun dari HyunSteel. Bae Soo Ji merupakan orang yang mengirimkan penawaran itu padaku, jadi aku hanya akan bekerja sama jika Bae Soo Ji yang bertanggung jawab atas kerja sama kami.” jawab Soo Hyun, tiba-tiba Tuan Bae dan Tuan Seo masuk kedalam ruangan Sulli.

“Maafkan kami Tuan Soo Hyun, Nona Choi baru saja bekerja disini. Ikutlah ke ruanganku.” ujar Tuan Seo. Soo Hyun mengekor di belakang Tuan Seo. Tuan Bae memandang Sulli.

“Ahjussi, sebenarnya dia siapa? Mengapa ia ingin bertemu dengan Soo Ji?”

“Dia adalah Kim Soo Hyun, Presdir HyunSteel. Kita tak boleh sampai gagal kerja sama dengannya, akan menguntungkan sekali jika kita berhasil bekerja sama dengannya.” ujar Tuan Bae, ia kemudian melangkah keluar menuju ruangan Tuan Seo.

“Jadi, kau hanya ingin bekerja sama jika Soo Ji yang mempertanggung jawabkan ini?” ujar Tuan Seo.

“Sejujurnya, Soo Ji sedang tidak berada disini Tuan.” timpa Tuan Bae.

“Baiklah, jika begitu kerjasama ini kita batalkan saja.” Soo Hyun bangkit dari tempat duduknya, namun seseorang masuk kedalam.

“Kami akan membawakan Soo Ji agar ia mempertanggung jawabkan kerjasamanya.” ujar Tuan Choi, Tuan Bae terkejut, bahkan ia tak tahu dimana Soo Ji berada.

“Baiklah, aku menunggu kabar selanjutnya.” ujar Soo Hyun, ia kemudian keluar dari ruangan Tuan Seo.

“Mana mungkin kau berjanji seperti itu padanya? Aku sendiri tak tahu Soo Ji berada dimana.”

“Kau harus mencarinya, aku juga akan membantumu mencari Soo Ji, Kau tahu kan bahwa HyunSteel ini akan membawa keuntungan besar bagi kita. Ia akan membayar 3 kali lipat untuk ini, tapi dengan syarat Soo Ji yang harus melaksanakannya.” ujar Tuan Choi, Tuan Bae mengangguk paham.

“Komputernya sudah berhasil di perbaiki, Tuan.” ujar Kyuhyun yang berada di ruangan Tuan Seo kala itu. Ia kemudian melangkah keluar dan menghembuskan nafasnya kasar.

“Jadi, mereka sudah akan memulai untuk pencarian Kwajangnim?” tanya Eunhyuk, Kyuhyun mengisyaratkannya untuk mengecilkan suaranya.

“Aku kasihan pada Kwajangnim, ia hanya di peralat seperti itu. Dan aku juga heran mengapa Tuan Bae sebagai ayahnya juga sama saja.” ujar Kyuhyun.

“Harimau itu benar-benar menyedihkan. Kita harus segera memberitahu Myungsoo dan Kwajangnim.”
Kyuhyun mengangguk menyetujui pendapat Eunhyuk.
—-
Keluarga Kim sedang berkumpul di apartemen sederhananya. Yoo Jung dan So Hyun menatap Soo Ji dengan sendu setelah mendengar perkataan Myungsoo. Ibu Kim mengusap rambut Soo Ji dengan lembut dan penuh kasih sayang. Berbeda dengan Soo Ji yang tampak tenang dan tersenyum,membuat mereka tak mengerti.

“Bersabarlah, agasshi… Kau akan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.” Soo Ji mengangguk.

“Tapi, aku benar-benar sangat menginginkan ini terjadi. Dan akhirnya ini terjadi juga.” ujar Soo Ji masih dengan senyumannya.

“Eonni, bukannya kau harus bersedih jika tak memiliki pekerjaan?” tanya Yoo Jung.

“Justru aku sangat senang, Jungie.” jawab Soo Ji. So Hyun mendekati Soo Ji dan menempelkan tangannya di dahi Soo Ji.

“Eonni masih demam. Pantas saja…” gumam So Hyun, Soo Ji terkekeh pelan, sementara ia melemparkan senyumannya ke  arah Myungsoo.

“Ini yang aku inginkan. Aku bisa beristirahat.” ujar Soo Ji pada Myungsoo yang tengah duduk di hadapannya. Mereka kini hanya berdua, melanjutkan pembicaraan dengan topik yang sama.

“Aku panik sewaktu mendengar kau di gantikan Kwajangnim, ku kira kau akan menangis lagi. Tapi ternyata kau tersenyum seperti ini. Sangat melegakan.” jawab Myungsoo dengan penekanan rendah di akhir kata yang ia ucapkan.

“Tapi, gadis itu—“

“Dia adalah putri Tuan Choi, pemilik perusahaan. Biarkanlah saja, ia mungkin akan tua dalam waktu satu minggu.” ujar Soo Ji, Myungsoo terkekeh pelan.

“Ternyata Kwajangnim juga bisa bercanda seperti ini.”  Soo Ji tersenyum, tiba-tiba tersengar suara bel apartemen.

“Aku akan membukanya.” ujar Myungsoo, Soo Ji mengangguk.

“Benar-benar keterlaluan. Pria tua itu sangat terkutuk.” ujar Soo Ji. Myungsoo, Eunhyuk , dan Kyuhyun hanya bertatapan tak mengerti. Kyuhyun dan Eunhyuk telah menjelaskannya pada Soo Ji.

“Jadi, Kwajangnim… apakah kau akan pulang dan membantu mereka?” tanya Eunhyuk dengan sedikit ragu.

“Aku baru saja ingin menikmati hari-hari liburku. Tepatnya aku akan menghancurkan mereka.” ujar Soo Ji, ketiga pria ini tak mengerti.

“Kalian mau membantuku kan?” pinta Soo Ji.

“Apa yang kau butuhkan , Kwajangnim?” tanya Myungsoo.

“Aku hanya ingin mengambil bajuku dan semua yang penting di rumah, tapi sepertinya aku tak bisa kesana. Jika aku tertangkap oleh ayahku, aku takkan bisa kembali.”

“Aku mengerti, jadi kau menyuruh kami ke rumahmu? Aish, tidak Kwajangnim… Aku takut Tuan Bae akan melihatnya.”  ujar Kyuhyun.

“Tenang saja. Aku memiliki Asisten Rumah Tangga yang menyayangiku.” ujar Soo Ji dengan senyumannya. Detik berikutnya Soo Ji menjelaskan rencananya pada mereka.

“Baiklah, Kwajangnim… Untuk kali ini aku bersedia membantumu.” ujar Kyuhyun, Eunhyuk juga mengangguk.

“Tapi, tidak ku sangka ternyata kau gadis yang banyak bicara.” timpa Eunhyuk. Soo Ji tersenyum.


Minho terduduk di ranjangnya, ia memikirkan Soo Ji. Dari kabar yang ia dengar Soo Ji tak ada di rumahnya setelah kejadian itu. Minho betul-betul merasa bersalah pada Soo Ji, ia mencoba menghubungi Soo Ji namun hasilnya nihil. Minho kemudian menatap foto Soo Ji di layar handphone nya.

“Soo Ji-ah… Kau dimana?” batinnya dalam hati.

Myungsoo dan Eunhyuk kini memasuki rumah Soo Ji dengan sembunyi-sembunyi. Ra Ahjumma telah membereskan semua barang penting Soo Ji dan baju-baju Soo Ji. Ra Ahjumma menyerahkannya pada Myungsoo dan Eunhyuk. Dengan sigap mereka memasukkannya kedalam mobil. Soo Ji yang melihat Ra Ahjumma dari dalam mobil tanpa disadari matanya berkaca-kaca.

“Kwajangnim , gwenchana?” tanya Kyuhyun. Soo Ji mengangguk.

“Apakah semuanya sudah beres? Kita harus secepat mungkin kembali.”

“Masih ada 2 yang lain, kwajangnim.”


Myungsoo kini berhadapan dengan pemilik apartemennya, ia bersama Soo Ji. Eunhyuk dan Kyuhyun tengah asyik memakan roti yang mereka beli di persimpangan jalan tadi.Soo Ji dan Myungsoo keluar dengan wajah yang menyenangkan, tapi mereka kembali berwajah mengerikan ketika melihat Kyuhyun dan Eunhyuk yang menghabiskan roti tersebut.

Chojangnim,kami juga lapar. Mengapa kalian menghabiskan mereka?”

“Maaf, aku kira—“ Eunhyuk dan Kyuhyun memekik kesakitan ketika tangan Soo Ji berhasil menjewer telinga mereka.
Myungsoo membantu Soo Ji memindahkan barang-barang Soo Ji yang di kemas oleh Ra Ahjumma. Tak lupa dengan Eunhyuk dan Kyuhyun yang memang wajib membantu mereka. Ibu Kim beserta kedua putrinya menghampiri Apartemen yang baru saja di beli oleh Soo Ji.

“Aigoo… Agasshi  seharusnya kau tidak perlu membeli apartemen ini. Kau bisa tinggal di apartemen kami.” ujar Ibu Kim, Soo Ji hanya tersenyum

“Aku tak mungkin terus merepotkanmu Ahjumma.”

“Lagipula apartemen Eonni berdampingan dengan apartemen kita Eomma.” ujar So Hyun.

“Jadi, jika ada apapun Eonni jangan segan memanggil kami. Jika Eonni kesepian kami siap menemani Eonni.” ujar Yoo Jung, Soo Ji tersenyum lebar.

Malam hari menunjukkan pukul 12 malam, Eunhyuk dan Kyuhyun terpaksa kembali menginap di Apartemen Myungsoo karena membantu Soo Ji membereskan apartemennya. Soo Ji kini menghembuskan nafas lega karena ia mungkin sedikitnya telah bebas dari pekerjaannya yang melelahkan. Ia kemudian melangkahkan kakinya menuju balkon apartemennya. Ia merentangkan tangannya menikmati angin yang berhembus tengah malam seperti ini. Tapi suara berat menyadarkannya.

“Kwajangnim, kau belum tidur?”

“Belum, bisa kau lihat sendiri.”

“Langit malam memang indah, bukankah begitu Soo Ji-ah?” tanya Myungsoo pada Soo Ji, ia tak sadar apa yang di katakannya.  Soo Ji memandangnya dengan tatapan intens.

“Omo—“ ujar Myungsoo , ia menutup mulutnya.

“Aku senang kau memanggilku seperti itu. Seterusnya, kau panggil saja aku dengan itu.” ujar Soo Ji, ia kemudian tersenyum memandang langit. Tanpa disadari Myungsoo memandang Soo Ji. Ia tersenyum melihat Soo Ji yang seperti ini.

Yoo Jung menekan tombol apartemen Soo Ji, tak lama kemudian Soo Ji membukakannya.

“Eonni , Eomma mengajakmu sarapan bersama. Eomma sudah membuatkan sarapan yang special untukmu.” ujar Yoo Jung, Soo Ji yang kala itu sedang mengeringkan rambutnya segera bersiap menuju apartemen Myungsoo.

“Eomma, Eonni datang.” ujar Yoo Jung. Soo Ji menatap makanan di ruang makan. Makanannya sangat banyak dan mewah. Soo Ji mengernyit heran. Myungsoo, Eunhyuk, dan Kyuhyun juga menatap meja makan yang berisi penuh makanan ini dengan bingung.

“Eomma, aish… Jika Appa tahu ini kau akan di marahi.”

“Myungsoo-ah, sudah tak perlu banyak bicara. Kalian makanlah. Soo Ji, kau juga makan. Aku sengaja membuat ini untukmu Soo Ji-ah…” ujar Ibu Kim, Soo Ji kemudian duduk dan segera mengambil makanannya. Ia memandang haru pada ibu Kim dan orang-orang di sekelilingnya yang sedang tertawa riang. Soo Ji menyuapkan makanannya dengan sedikit berurai air mata.

“Aku tak pernah mendapatkan ini semua dari ibuku.” batinnya dalam hati.

Ibu Kim beserta kedua putrinya pergi keluar untuk berbelanja. Eunhyuk dan Kyuhyun juga pamit pulang.. Soo Ji dan Myungsoo berbagi tugas untuk membereskan rumah, Soo Ji mencuci piring dan Myungsoo mengepel lantai.

“Myungsoo-ssi, aku tak bisa mencuci piring.” ujar Soo Ji. Myungsoo kemudian menghampiri Soo Ji.

“Baiklah, aku akan mengajarkan mencuci piring yang benar, Kwajang—Soo Ji-ah.” jawab Myungsoo, Ia berdiri di samping Soo Ji.

“Pertama, ambil piringnya.” Soo Ji melaksanakan perintah Myungsoo.

“Lalu usapkan spons ini di permukaan piring.” Soo Ji kemudian mengusapkannya dengan sedikit kaku.

“Jangan kaku seperti itu.” ujar Myungsoo , Soo Ji memandangnya sinis. Myungsoo kemudian berdiri di belakang Soo Ji, tangannya memegang tangan Soo Ji yang terbungkus oleh sarung tangan untuk mencuci piring.  Posisi mereka sekarang seperti sedang melakukan sebuah pelukan dari belakang.

“Kau harus melakukannya dengan lembut, Soo Ji-ah…” Tangan Myungsoo dan Soo Ji kini menjadi satu diatas pemukaan piring, Soo Ji tersenyum. Begitu pula dengan Myungsoo.

“Ternyata… Menyenangkan.” ucap Soo Ji dengan nadanya yang sedikit gugup. Myungsoo tertawa.
1 jam kemudian….
Soo Ji dan Myungsoo beres melakukan pekerjaan rumah, Ibu Kim telah kembali dari luar. Ia memuji rumahnya yang bersih dan rapi.

“Eomma, lipgloss ku habis. Aku harus segera ke Yeongju.” Soo Ji yang mendengar perkataan Yoo Jung mengerutkan dahinya bingung.

“Membeli lipgloss mengapa harus jauh sekali Jungie-ah?” tanya Soo Ji.

“Eonni, jika di Yeongju kami membuatnya sendiri dan sesuka hati kami.Kau harus melihatnya.
——
Keesokan harinya Soo Ji dan Myungsoo tengah berada di dalam bus untuk mengadakan perjalanan ke Yeongju. Myungsoo sedikit mencemaskan Soo Ji karena ini adalah pertama kalinya Soo Ji naik bus. So Hyun dan Yoo Jung sudah terlebih dahulu berangkat di bus pertama, sementara Myungsoo dan Soo Ji karena terlambat bangun pagi harus naik bus kedua.

“Kau lahir di Yeongju?” tanya Soo Ji

“Ya, dan aku memiliki nenek disana. Suasana disana sangat sejuk. Cocok untuk liburanmu, Soo Ji-ah.” ujar Myungsoo, Soo Ji tersenyum.

“Kau beruntung memiliki keluarga yang masih lengkap dan peduli padamu.” Myungsoo tersenyum.

“Mereka menyayangimu, artinya mereka juga adalah keluargamu.” Soo Ji menatap Myungsoo.

“Aku juga adalah keluargamu.” Soo Ji tersenyum, ia merasa semakin baik semenjak mengenal Myungsoo. Terlebih dengan adanya keluarga Myungsoo yang peduli padanya. Namun tiba-tiba di perjalanan Soo Ji membungkam mulutnya.

“Gwenchana?” tanya Myungsoo. Soo Ji mengangguk.

“Aku baik-baik saja.” Soo Ji kemudian membungkam mulutnya kembali, hendak memuntahkan sesuatu. Myungsoo mengusap punggung Soo Ji, kemudian ia menyerahkan sebuah minyak angin untuk Soo Ji hirup. Tiba-tiba sebuah tangan tua menjitak kepala Myungsoo.

“Halmeoni, apa yang kau lakukan? Appo.” ucap Myungsoo, nenek itu hanya memandang kesal pada Myungsoo.

“Jika istrimu sedang hamil muda, kau jangan mengajaknya naik bus. Anak muda memang selalu berperilaku aneh.” ujar nenek tersebut, Soo Ji dan Myungsoo hanya saling bertatapan.

—–
Setelah kurang lebih 3 jam, Soo Ji dan Myungsoo tiba di Yeongju tepatnya di Desa Seonbichon. Soo Ji menghirup udaranya dengan mata terpejam. Ia merasa damai. Begitu juga dengan Myungsoo. Mereka tiba tepat di depan gerbang rumah tradisional korea seperti drama-drama saeguk.

“Ini adalah rumah nenekku, rumahnya masih tradisional… Namun peralatan di dalamnya tidak kalah canggih. Ayo.” Soo Ji mengekor di belakang Myungsoo.

“Myungsoo-ah… Aigooo aku merindukanmu.” ujar nenek Myungsoo, ia memeluk cucunya erat-erat. Kemudian ia menoleh kepada Soo Ji, Soo Ji membungkukkan badannya memberi hormat pada nenek Myungsoo.

“Dia temanku dari Seoul, Halmeoni… Dia managerku di kantor.” Nenek Myungsoo tersenyum lalu menghampiri Soo Ji. Soo Ji kemudian memperkenalkan dirinya pada nenek Myungsoo. Nenek Myungsoo memeluk Soo Ji.

“Kau sangat cantik sekali…” ujar Nenek Myungsoo, Soo Ji yang tampak canggung kini tersenyum , ia membalas pelukan nenek Myungsoo.

Soo Ji membereskan pakaiannya di kamar yang sudah di sediakan oleh Nenek Myungsoo. Ia tampak termenung mengingat pertemuan pertamanya dengan nenek Myungsoo, ia juga tersenyum. Nenek Myungsoo memperlakukannya bagai seorang putri, berbeda dengan perlakuan nenek Minho. Soo Ji keluar dari kamarnya setelah membereskan pakaiannya. Myungsoo kemudian menarik lengan Soo Ji untuk keluar.

“Kau akan membawaku kemana?” tanya Soo Ji

“Nenek memiliki kebun bawang, pekerjanya sedang sakit—“

“Lalu, kau akan mengajakku memanen bawang?” Myungsoo mengangguk. Soo Ji tersenyum lebar.

“Sepertinya menyenangkan. Ayo!” Soo Ji kemudian berlari-lari kecil. Myungsoo yang melihatnya tertawa bahagia.

Soo Ji dan Myungsoo kini tengah memanen bawang di kebun milik nenek Myungsoo, kebunnya sangat luas. Bawang ini ditanam di kebun yang sedikit berair , seperti pesawahan kecil. Myungsoo tengah beristirahat, dilihatnya Soo Ji yang gigih memanen butir-butir bawang yang berada disana. Myungsoo tertawa melihat Soo Ji. Hingga tawanya memudar, ketika…

“Myungsoo Oppa!” pekik seorang gadis dari kejauhan, Soo Ji yang sedang mengambil butiran bawang tersebut menghentikan aktivitasnya. Gadis berambut panjang tersebut semakin mendekat pada Myungsoo, Soo Ji naik ke atas. Ia duduk di samping Myungsoo

“Myungsoo Oppa, aku merindukanmu. Mengapa kau pulang kesini tapi tak mengabariku? Kau melupakanku?” ujar gadis tersebut, Son Na Eun. Gadis cantik ini adalah teman Myungsoo di Yeongju, ia putri dari kepala polisi Yeongju. Na Eun bekerja sebagai guru les ballerina.

“Oh, Naeun-ah… Maaf. Apa kabarmu?” tanya Myungsoo.

“Baik-baik saja, Oppa. Oppa bagaimana?”

“Oh, aku juga baik-baik saja. Perkenalkan ini Soo Ji. Temanku sekaligus atasanku di kantor.” ujar Myungsoo, Soo Ji membungkukkan badannya memperkenalkan dirinya pada Naeun.

“Kalian sedang memanen bawang? Apakah aku boleh ikut memanennya juga?” pinta Naeun. Myungsoo mengangguk. Tak lama kemudian mereka masuk kembali kedalam kebun bawang tersebut, Myungsoo dan Naeun tampak banyak bercanda dan tertawa karena bermain dengan tanah basah. Soo Ji yang melihatnya hanya melemparkan tatapan datar. Ia kemudian naik ke atas. Hari juga semakin menjelang malam. Naeun sudah pulang terlebih dahulu, Myungsoo tak bisa mengantarnya, alasannya karena ia tak bisa meninggalkan Soo Ji. Sebetulnya Naeun sedikit kesal. Soo Ji dan Myungsoo kembali ke rumah Nenek Myungsoo, di perjalanan Soo Ji tak bersuara. Myungsoo yang mengangkat sekantong besar bawang tersebut heran dengan perubahan sikap Soo Ji. Tapi, bagaimanapun ia seorang pria. Ia tahu mengapa Soo Ji berubah

“Kwajangnim…” panggil Myungsoo, Soo Ji menghentikan langkahnya. Ia menatap Myungsoo dengan tatapan benci.

“Wae?” jawabnya singkat.

“Kau baik-baik saja?” tanya Myungsoo, Soo Ji tak menjawab.Ia kemudian melanjutkan kembali langkahnya. Soo Ji dan Myungsoo berjalan di sekitar kebun-kebun bunga dan kolam kecil. Kunang-kunang berwarna kuning bermunculan dari sana. Soo Ji dan Myungsoo menatap kunang-kunang tersebut takjub. Soo Ji menghentikan langkahnya, Myungsoo dengan cepat berdiri di samping Soo Ji.

“Indah sekali.” gumam Soo Ji, Myungsoo tersenyum menatap wajah Soo Ji. Mata Soo Ji masih tertuju pada kunang-kunang yang berterbangan di sekitarnya.

Percayalah Soo Ji-ah, uri Kwajangnim… Aku akan berusaha untuk menjadikanmu milikku seutuhnya. Aku akan menjaga dan melindungimu mungkin di atas kemampuanku. Aku pernah jatuh hati namun di kecewakan. Sangat sulit untuk bangkit. Tapi, sejak hari itu… Aku seolah menemukan separuh diriku kembali. Saat aku bertemu denganmu.” batin Myungsoo.

_TBC_

Hai, gimana chapter 3? Makin runyam ya? Hehehe. Jangan lupa Comment atau like ya kalo udah baca😉 We Are Not King and Queen sama project baru lagi dalam proses. Tunggu yaa😉 makasih😉

85 responses to “[Freelance] Kwajangnim Chapter 3

  1. Semoga dengan hadirnya myungsoo, akan banyak kebahagiaan yang hadir dalam diri suzy !
    Soohyun ngebet banget pengen ketemu suzy, aku harap foto yang sering hyun pandangi itu bukan suzy.

    Nah, son muncul juga walaupun tidak ditunggu kkk. Son suka ya sama myung?

  2. suzy pindah ke sebelah aperteman myung?.. bakal sering ketemu nih…kkk…
    haha…mereka dikira suami istri dan suzy juga di kira hamil sama halmeoni” semoga hal itu menjadi kenyataan…kkk…
    suzy cemburu sama naeun….kk..
    semua keluarga myung kayaknya suka sama suzy…ayo myungsoo tunggu apalagi rebut hati suzy….kkk…

  3. Heol itu sulli gantii suzy jadi kwajangnim? Ga salah? Awas investor pada kabur lohh wkwkwk

    Suzy ngerencanain apa buat keluarga Choi?
    Myungsoo jagain suzy baik2yahh😉

  4. Wahhh siapa yg berani ngecewain myung,,,??? Tapi untung ada suzy! Mendapat hati yang baru,,, semoga utuh dengan sooji yang membalas perasaan myung…

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s