[Freelance] Kwajangnim Chapter 4

Title : Kwajangnim | Author : kawaiine | Genre : Angst, Family, Romance | Rating : PG-17 Main Cast: Kim Myungsoo, Bae Soo Ji, Choi Minho, Son Na Eun | Other Cast : Kim Soo Hyun,Lee Hyuk Jae [Eunhyuk] , Cho Kyuhyun,Choi Sulli, Kim Yoo Jung, Kim So Hyun, eTc

“This plot and story is pure from my mind. Sorry for typos, don’t be a siders and plagiator. Happy reading :*”

***

Author POV
Seorang pria berlari di sekitaran sungai di daerah desa Seonbichon, ia membawa sebuket bunga mawar merah yang segar di tangannya. Senyum manis dan tawa lebar terukir di wajahnya, ia berlari dengan penuh semangat tak peduli peluh yang menetes membasahi tubuhnya.

“Oppa! Kau sudah datang?” ujar gadis berambut panjang tersebut menyambut pria yang berjarak sedikit jauh darinya. Pria itu mendekat kepadanya, ia menyembunyikan buket bunga mawar tersebut di balik punggungnya.

“Apa yang kau bawa, Oppa?” tanya gadis itu penasaran. Pria di hadapannya kemudian menyerahkan buket bunga itu kepadanya, masih dengan senyuman yang sama.

“Oppa, gomawo.” gadis itu menerima dengan senang hati buket bunga dari pria yang berada di hadapannya, yang menatap lekat pada kedua manik mata indahnya.

“Jadi, kau ingin berbicara apa denganku?” tanya pria itu, Kim Myungsoo.

“Oppa, kau tahu kan? Kapten basket di sekolahku?”

“Oh, pria itu. Ya, aku tahu.”

“Kemarin juga dia menemuiku. Dan Oppa, dia menyatakan cintanya kepadaku. Aku harus menjawab apa, Oppa? Menurutmu aku harus bagaimana?” senyuman dan kebaagiaan terpancar di wajah gadis ini, Son Na Eun. Berbeda dengan Myungsoo yang kebahagiaannya telah memudar. Hatinya bagai di tusuk ribuan pedang tajam. Sakit, mengetahui kenyataan bahwa gadis yang disukainya sejak lama , cinta pertamanya ini membuat hatinya terluka. Ia telah mengorbankan apapun untuk gadis di hadapannya.

“Jika kau juga berperasaan sama kepadanya, kau harus menerimanya. Jangan mengecewakannya, dan Na Eun-ah…” Myungsoo berucap dengan lirih, membuat Na Eun sedikit khawatir.

“Ne, Oppa… Wae?” tanya Na Eun, Myungsoo menatap Na Eun dengan air mata yang tertahan di dalamnya.

“Cinta yang bertepuk sebelah tangan sangat menyakitkan.” tutur Myungsoo, ia kemudian menunduk.

“Op—Oppa..” Na Eun meraih tangan Myungsoo.

“Apa yang terjadi, Oppa? Apakah seorang wanita melukaimu?” Myungsoo hanya mengangguk. Ia kemudian berpamitan pada Na Eun untuk pulang lebih dulu. Di perjalanan, apapun yang bisa ia tendang dengan kakinya pasti ia tendang. Kekesalan tampak dari raut wajahnya. Esok adalah hari kelulusan Myungsoo di Yeongju High School. Tadinya ia meminta Na Eun hadir untuk menemaninya selain bersama kedua orang tua dan adiknya. Tapi harapannya sia-sia. Mata Myungsoo semakin memanas melihat Na Eun yang sedang naik sepeda bersama pria itu. Buket bunga yang Myungsoo berikan sudah tak  ada di tangan Na Eun. Na Eun dan pria itu kini turun dari sepeda, mereka kemudian berpelukan, Myungsoo kemudian berlari sekencang mungkin meninggalkan Na Eun sebelum ia melihat lebih.

—//—
Sungai ini masih tetap sama, pemandangannya tak berbeda. Airnya masih jernih dengan batu-batu yang menghiasi sekitarnya. Pohon-pohon menjulang tinggi, daunnya masih segar. Bunga-bunga liar yang indah semakin membuat sungai ini hidup. Ini tempat favoritnya dahulu, bertemu dengan cinta pertamanya, di tempat ini, dan ini menjadi tempat yang selalu menjadi pertemuan mereka selanjutnya. Myungsoo melamun semakin dalam, teringat wajah cantik gadisnya dahulu yang selalu menunggunya disini. Tapi, lamunannya terguncang karena gadis yang sekarang di hadapannya, oh… Ini bukan Na Eun. Ia menghembuskan nafasnya kasar.

“Myungsoo-ssi untuk apa kau disitu? Cepat kemari.” Soo Ji melambaikan tangannya pada Myungsoo yang hanya terdiam mematung tak jauh dari dirinya.

“Ah, dia pasti mulai lagi.” ujar So Hyun, Yoo Jung mengangguk.

“Wae? Wae? Wae? Apakah kalian akan menyuruhku mencuci baju ini? Aish, sungguh menggelikan jika pria mencuci baju.” ujar Myungsoo menghampiri ketiga gadis di depannya.

“Sebaiknya Oppa cepat membawa mesin cuci halmeoni ke kota untuk di perbaiki. Jika kami pulang mungkin halmeoni akan kesulitan setiap mencuci baju harus berjalan ke sungai.” tutur Yoo Jung.

“Angkat ini, kita sudah selesai mencucinya.” Soo Ji menyuruh Myungsoo mengangkat cucian di keranjang, Myungsoo lalu dengan cepat mengambil keranjang tersebut, ia sungguh ingin meninggalkan tempat ini. Ketiga gadis Myungsoo mengekor di belakangnya, tak biasanya Myungsoo bersikap kaku seperti ini. Masih di daerah sungai ini, langkah Soo Ji terhenti ketika melihat sebuah bunga berwarna kuning kehijauan.

“Ah, cantiknya.” pekik Soo Ji, ketiga orang di depannya juga refleks melihat apa yang Soo Ji lihat.

“Ah, cantiknya… Oppa, petikkan satu untukku.”

“Baik, untuk gadis yang cantik.”
Myungsoo memetiknya dengan hati-hati, ia kemudian memberikannya pada Na Eun.

“Pegang ujung tangkainya.”


Bayangan itu kembali hadir di pikiran Myungsoo, ini sungguh mengerikan.

“Petik tiga Eonni, kami juga ingin.” ujar Yoo Jung, Soo Ji memetiknya dengan cepat. Tapi—jarinya terkena duri tersembunyi yang berada di tangkai bunga tersebut. Soo Ji memekik kesakitan, sementara Myungsoo hanya melamun. Sedari Soo Ji mengambil bunga Myungsoo hanya berbalik sebentar lalu kembali pada posisinya.

“Oppa, apa yang kau lakukan? Jari tangan Eonni tertusuk duri.” teriak So Hyun, Myungsoo tersadar. Dengan cepat ia meletakkan keranjang cucian di tanah lalu menghampiri Soo Ji.

“Gwenchana? Kwajangnim Gwenchana?” ujar Myungsoo sedikit khawatir, ia meraih jari telunjuk Soo Ji lalu mengusapkan jari Soo Ji di rambutnya. Soo Ji sedikit tidak enak harus menyentuh rambut Myungsoo.Myungsoo dengan sigap menekan jari tangan Soo Ji, Soo Ji sedikit memekik.

“Tahanlah Kwajangnim, durinya akan keluar sebentar lagi. Bertahanlah.” timpa Myungsoo kembali, So Hyun dan Yoo Jung hanya bertatapan bingung, mereka seperti menonton drama di dunia nyata.

“Nah, sudah keluar.” tutur Myungsoo, Soo Ji tersenyum. Ia juga mengucapkan terimakasih pada Myungsoo. Myungsoo berjalan berdampingan bersama Soo Ji. Tangan Myungsoo memegang keranjang cucian, sementara tangan Soo Ji memegang kotak kardus kecil berisi sabun cuci. Mereka tersenyum lebar melihat So Hyun dan Yoo Jung yang sedari tadi banyak bergurau di sepanjang perjalanan.

“Myungsoo, kau mengambil izin berapa hari?” tanya Suzy.

“Sampai kau bosan berlibur disini.” ujar Myungsoo, Soo Ji menghentikan langkahnya.

“Kau harus tetap bekerja. Aku akan disini sementara waktu. Jika menunggu sampai bosan entah sampai kapan, tempat ini benar-benar menyenangkan.”

“Tapi—“

“Aku sudah belajar banyak dan aku bisa melakukan semua hal. Kau jangan khawatir. Aku juga ingin menemani halmeoni. Kau harus pulang dan bekerja.”
Soo Ji menatap dalam mata Myungsoo untuk meyakinkan Myungsoo, seperti sihir, mata Soo Ji membuat Myungsoo mengangguk begitu saja.

“Karena kau sudah mengaku belajar banyak dan mampu melakukan semua hal. Kau harus membagi hasil belajar mu padaku. Bagaimana?”

—//—
Tuan Bae dan Nyonya Bae terdiam di rumah megahnya, tampak keringat dingin mengalir di wajah Nyonya Bae. Tuan Bae menatapnya khawatir.

“Yeobo, kau baik-baik saja? Apakah kau sudah meminum obatmu?”

“Aku baik-baik saja, apakah putriku juga baik-baik saja? Aku yakin meskipun ia anak nakal namun ia dapat menjaga dirinya. Ia pasti baik-baik saja kan, yeobo?” tanya Nyonya Bae dengan raut penuh harap, Tuan Bae mengangguk menenangkan istrinya.


Malam di desa Seonbichon cukup dingin tapi tetap menyejukkan, di rumah hanok milik nenek Kim, semuanya tampak sepi karena semua telah tertidur setelah makan malam dan sedikit bercengkrama. Hanya kegelapan yang berbicara dengan Myungsoo malam  ini. Myungsoo memandang langit di terasnya, ia mengingat kembali kejadian tadi siang, tepatnya bayangan tadi siang. Ia mengingat dengan jelas bagaimana Na Eun menampakkan diri bersama kekasih barunya di hadapannya tanpa memperdulikan perasaannya, sangat sakit melihat Na Eun berciuman—ya, di dekatnya. Ini memang kesalahan Myungsoo mengintip diam-diam Na Eun dengan kekasihnya yang sedang berkencan.

Soo Ji tertidur di kamar bersama Yoo Jung , ia tertidur namun keringat dingin membasahi seluruh wajahnya. Tampaknya ia tidak nyenyak, kepalanya bergerak kesana kemari.

“Soo Ji-ah, ayo kau harus makan sayur, kau harus menyukainya. Agar lemak daging tidak menumpuk di tubuhmu.”
Soo Ji semakin tidak nyaman, seorang wanita yang suaranya tidak asing lagi baginya meneriakkan namanya, membujuknya dengan lembut. Mimpinya betul-betul menguras seluruh tenaganya, keringat terus menerus membanjiri tubuhnya.

“Soo Ji-ah, esok ulang tahunmu. Eomma dan Appa akan mengajakmu jalan-jalan.”

“Soo Ji-ah, Eomma membeli sepatu yang kau inginkan. Kau tahu? Tadi Eomma berdesak-desakkan membeli ini.”

“Agasshi, sepertinya Nyonya dan Tuan akan pulang larut malam lagi. Agasshi, kau harus makan.”

“Soo Ji-ah, mianhae… Eomma dan Appa pulang terlambat lagi. Esok di hari kelulusanmu ada kado istimewa yang ingin kami berikan.”

“Eomma!” teriak Soo Ji. Ia terbangun dari tidurnya. Nafasnya sangat cepat, jantungnya berdegup kencang. Ia menundukkan wajahnya, lalu berjalan menuju meja dan mengambil air minum. Ia masih tidak tenang, mengapa dengan tiba-tiba ia memimpikan ibunya. Bagaimanapun ibunya yang melahirkannya, ibunya membesarkannya. Soo Ji sedikit menangis. Ia melirik Yoo Jung yang masih tertidur pulas, jika Soo Ji menangis keras Yoo Jung pasti terbangun. Soo Ji beranjak dari tempatnya lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar, Soo Ji terduduk di teras samping sembari menangis dengan sedikit keras.

Myungsoo masih terdiam di tempatnya, ia kini tak mau memikirkan Na Eun. Hanya membuatnya semakin sakit dan kembali kepada luka lama. Terlintas bayangan Soo Ji di kepalanya, ia tersenyum bodoh ketika mengingat pertemuannya dengan Soo Ji, bintang yang dulu ia harapkan kini berhasil diraihnya untuk berada di sampingnya. Meskipun tanpa ikatan yang jelas. Tapi, tiba-tiba suatu suara tangisan membuat Myungsoo terkejut. Ia hendak masuk kedalam, namun… Ini suara yang pernah ia dengar sebelumnya. Belum lama ini.
Myungsoo melangkahkan kakinya mengitari seluruh rumah, ketika sampai di teras samping, ia melihat Soo Ji yang sedang menenggelamkan kepalanya di sela-sela kakinya. Dengan cepat Myungsoo menghampiri Soo Ji.

“Kwajangnim!” Soo Ji dengan cepat menghapus air matanya. Ia tersenyum pada Myungsoo.

“Kau menangis?” tanya Myungsoo, Soo Ji menahan bibirnya untuk berbicara, ia juga menahan air matanya agar tidak tumpah, mata dan wajahnya sedikit memerah. Soo Ji mengangguk atas pertanyaan Myungsoo. Myungsoo dengan cepat duduk di samping Soo Ji,Soo Ji menangis keras. Myungsoo menarik kembali Soo Ji kedalam dekapannya, setelah dirasa tenang Myungsoo melepaskan pelukannya.

“Ceritakan padaku, Kwajangnim.” ujar Myungsoo, ia menghapus sisa air mata Soo Ji dengan jarinya. Soo Ji tidak tahan dengan beban yang ia tanggung seorang diri,selama ini ia hanya memikulnya seorang diri, ia tak mungkin menceritakan kesedihan hidupnya pada sembarang orang, namun entah apa yang membuat ia percaya pada Myungsoo, mungkin karena Myungsoo sering menemaninya, dan Myungsoo juga orang yang menyenangkan. Soo Ji menceritakan semuanya pada Myungsoo, ini hampir tengah malam. Namun cerita itu tak kunjung usai, tak  ada raut wajah lelah atau mengantuk pada wajah Myungsoo, ia dengan seksama mendengarkan cerita hidup menyedihkan Kwajangnimnya. Sesekali ia memeluk Soo Ji untuk menenangkannya, ia juga tak segan memberi saran disela-sela kejadian hidup Soo Ji, namun itu sudah terlambat. Ya, andai saja Myungsoo dan Soo Ji mengenal dari dulu, mungkin Soo Ji tidak akan hancur seperti sekarang ini. Myungsoo juga terkadang menitikkan air matanya, bagaimanapun, Soo Ji, gadisnya, kwajangnimnya, gadis yang ia sukai ini—perjalanan hidupnya sangat menyedihkan. Orang-orang yang mencibir Soo Ji di belakang tak tahu bagaimana cara Soo Ji bertahan hidup, bagaimana cara Soo Ji agar tertidur dengan nyaman dan makan dengan baik, mereka juga takkan pernah tahu penderitaan yang Soo Ji alami. Mata Soo Ji sedikit membengkak, Myungsoo mengusapnya dengan perlahan. Entah angin dari arah mana, Myungsoo mengecup kedua jari jempolnya lalu mengusapnya kepada dua mutiara indah di wajah Soo Ji. Soo Ji bagai tersengat arus listrik saat itu, ini pertama kali Soo Ji diperlakukan seperti ini oleh pria.

“Myungsoo-ssi, gomawo…” lirih Soo Ji, Myungsoo tersenyum dan mengangguk. Soo Ji dengan begini merasa tenang, kini ia tak perlu bingung kembali dengan siapa ia harus berbagi cerita karena Myungsoo sudah sepenuhnya mengerti dan Myungsoo juga berjanji akan mendengarkannya. Soo Ji menguap, tampaknya ia mengantuk. Myungsoo terkekeh pelan.

“Apa yang membuatmu tertawa?”

“Kau lucu, Kwajangnim.” Soo Ji memalingkan wajahnya dari tatapan Myungsoo, ia kemudian menempelkan telapak tangannya di kedua pipinya, ia tersenyum malu-malu. Pipinya memerah dan kepanasan. Myungsoo bukan pria yang bodoh, ia juga tahu Soo Ji salah tingkah di buatnya. Myungsoo kemudian melirik sebuah gitar miliknya dahulu yang tertinggal disini, ya… setiap alunan dan petikan gitar ini adalah perjalanan cinta Myungsoo, bersama Na Eun, namun mulai malam  ini dan malam-malam yang lain sampai waktu yang bernama malam  itu habis, perjalanan cinta Myungsoo dimulai bersama gadis di hadapannya. Meskipun gadis ini tak mengetahui isi hati Myungsoo, tapi… biarkanlah seperti ini, ini lebih nyaman di bandingkan jika ia mengungkapkan perasaannya pada Soo Ji tapi membuat Soo Ji menghindar darinya. Myungsoo tersenyum pada gitar tersebut, membuat Soo Ji sedikit heran.

“Kau bisa memainkan gitar?” tanya Soo Ji, Myungsoo mengangguk semangat, Soo Ji tersenyum.

“na e ge mal hae bwa
neo ye ma eum so geu ro deu reo ga bol su man it da myeon
cheo reop deon na ye mo seu bi eol man keum eui mi ga dwael su in neun ji
ma nen na ri ji na go
na ye ma eum ji chyeo gal ddae
nae ma eum so geu ro

seu ryeo jyeo ga neun neo ye gi eo gi—“

Myungsoo menghentikan lantunan suaranya beserta gitar yang dipetiknya. Di lihatnya Soo Ji yang sudah memejamkan matanya dan tertidur di paha Myungsoo sebagai alasnya. Tapi tiba-tiba gadis ini bersuara.

“Mengapa berhenti? Ini lagu kesukaanku.” ujar Soo Ji, Myungsoo terkekeh pelan.

“Kau sudah terlelap, aku takut mengganggu tidurmu Kwajangnim. Meskipun mendengarkan musik sebelum tidur dapat merelaksasikan tubuhmu, namun otak tetap tak berhenti bekerja, Kwajangnim. Jika kau sudah tertidur seperti itu, lebih baik aku menghentikannya.” Soo Ji mengangguk tersenyum.
Malam  ini sudah pukul 3, namun Myungsoo tak kunjung beranjak untuk sekedar memindahkan Soo Ji dari pangkuannya. Ia menyukai ini, ia menatap wajah Soo Ji yang begitu innocent, lucu dan menggemaskan. Sesekali ia mengusap rambut Soo Ji.

“Kau sudah tidur, Kwajangnim… Tidurmu sangat nyenyak sekali. Kau tampak cantik. Ah, apa yang aku bicarakan. Aku akan memindahkanmu.” ujar Myungsoo sembari mengangkat Soo Ji dan menggendongnya menuju kamar tidur. Myungsoo menidurkan Soo Ji lalu menyelimutinya. Setelah Myungsoo pergi dari kamar, Soo Ji mengulas senyumnya.

—//—
Hari ini adalah hari dimana Myungsoo, Yoo Jung, dan So Hyun kembali ke Seoul. Sementara Soo Ji tinggal sementara di Seonbichon bersama nenek Myungsoo. Myungsoo berjanji akan menghubungi Soo Ji setiap waktu, untuk sekedar bertanya aktivitas yang Soo Ji lakukan, namun Soo Ji hanya meninta Myungsoo untuk fokus bekerja disana. Bus mulai melaju, Soo Ji dan nenek Kim melambaikan tangannya kepada mereka yang pulang ke Seoul. Soo Ji kemudian mengajak nenek Kim pulang ke rumah. Tetapi sebuah mobil berhenti tepat di seberang jalan dimana Soo Ji berdiri.

Setelah sampai di Seoul Myungsoo kembali ke kantornya, ya meskipun ini terbilang sudah siang. Ia hanya ingin melihat perkembangan kantor di bawah pimpinan Sulli.

“Aish, cash flow perusahaan sangat buruk sekali.” ujar Eunhyuk, Kyuhyun mengangguk.

“Penyebabnya adalah Kwajangnim yang baru. Myungsoo-ah, kau harus membujuk Kwajangnim untuk bekerja disini kembali. Perusahaan sangat buruk, aish… Jangan sampai kita di pecat dan aku harus mengurus bar milik kakakku. Aku tidak mau mati tua dengan melihat yeoja berpakaian seksi disana.” papar Eunhyuk.

“Aku juga tak mau jika harus menjadi asisten dosen, ibuku selalu menyuruhku resign dari sini dan memintaku menjadi asistennya. Aku tidak mau belajar lagi. Aku muak.” timpa Kyuhyun. Myungsoo hanya tertawa pelan.

“Kwajangnim tak akan pernah kembali lagi kesini. Ia sudah menyukai kehidupan barunya.” Eunhyuk dan Kyuhyun hanya menatap aneh pada Myungsoo.

“Kau dan Kwajangnim berlibur bersama, apakah kalian—Omo, jangan-jangan—“ ujar Eunhyuk.

“Aish, sunbae… Kwajangnim tidak serendah itu.”

“Kwajangnim memberitahuku jika dia tak akan pernah kembali kesini, ke perusahaan ini.”

“Aku yakin kwajangnim sudah menemukan kehidupannya sendiri.” ujar Kyuhyun. Myungsoo kemudian menekan tombol di handphone nya, tak lama kemudian terdengar suara merdu dari seberang sana.

“Yeoboseyo…”

“Kwajangnim! Ah! Kwajangnim aku merindukanmu!” ujar Eunhyuk, Soo Ji hanya tertawa pelan.

“Kwajangnim, tawamu terdengar bahagia. Aish, kau bahagia di Seonbichon? Aku juga ingin kesana!” ujar Kyuhyun.

“Kalian sedang di kantor?”

“Ya, kami sedang di kantor.”

“Dan kalian me-loudspeaker ini?” tanya Soo Ji dengan nada yang sedikit menyeramkan. Eunhyuk, Kyuhyun dan Myungsoo saling bertatapan takut.

“Ne kwajangnim, Myungsoo yang menyuruhnya karena agar kami dapat mendengar suaramu.”

“Matikan, matikan.” bisik Eunhyuk, Myungsoo mengangguk.

“Chakkaman!” ujar Soo Ji, ketiga namja ini hanya bertatapan takut.

“Kalian bodoh, bagaimana kalau aku di temukan?!! Yakk!! jika aku bertemu kembali dengan kalian aku bersumpah akan menjewer telinga kalian satu persatu! Myungsoo-ssi terutama—“ sambungan telepon itu berhasil dimatikan, Eunhyuk dan Kyuhyun memukul pundak Myungsoo.

Sulli memasuki ruangan pertemuan, ini pertama kalinya ia rapat bersama petinggi-petinggi perusahaan. Tuan Choi mempersilahkannya duduk.

“Jadi, apakah kau sudah menemukan Soo Ji?” tanya Tuan Choi.

“Belum, aku belum menemukannya.” Tuan Choi enghembuskan nafasnya kasar.

“Satu-satunya yang bisa menstabilkan kembali cash flow perusahaan adalah kerjasama dengan HyunSteel. Sulli-ah, kau lebih baik mengambil liburan beberapa saat.” ujar Tuan Choi. Sulli mengangguk.

“Tapi, apakah kita sudah melaporkan kepada polisi Tuan? Apakah Soo Ji membawa ponselnya terakhir kali? Jika iya, kita bisa melacaknya.” ujar Tuan Seo.

“Ya, sekarang kita harus melaporkannya pada polisi. Aku sudah tidak sanggup untuk mencarinya.”

“Permisi, Tuan. Ponselnya sudah di temukan tapi lokasinya di kediaman Tuan Bae.” ujar kepolisian. Tuan Bae dan Tuan Choi kemudian masuk kedalam rumah, dilihatnya ponsel Soo Ji yang tergeletak di ranjang Soo Ji.

“Anak itu pasti pulang dan meninggalkan ponselnya disini.” ujar Tuan Bae.

Sementara di rumah sakit, Nyonya Bae terbaring lemah. Selang infusan melekat di tangannya, dan di kedua sisi ranjangnya terdapat alat-alat kedokteran yang berbunyi menunjukkan kondisi Nyonya Bae. Minho yang menunggunya. Minho tahu semenjak cash flow perusahaan turun, Tuan Bae tak memiliki banyak uang untuk membiayai perawatan Nyonya Bae yang terbilang sangat mahal. Oleh karena itu, Minho yang membereskan semua biayanya. Ia kini terdiam. Kepalanya sangat pusing memikirkan Soo Ji. Dimana Soo Ji berada. Tiba-tiba handphone Minho berdering.

“Hei! Minho-ssi, maaf waktu itu aku tak datang di launching maskapai penerbangan ayahmu.”

“Oh, tak apa-apa. Lain kali kau bisa datang lagi. Aku akan mengundangmu. Dan  kau juga harus mengundangku ke restoranmu.” ujar Minho.

“Oh, ya… Dulu kau bersama seorang wanita ke restoranku kan?”

“Ya, dia adalah calon tunanganku. Wae?”

“Ku rasa aku melihatnya tadi di perjalanan pulang ke Seoul. Aku habis mengunjungi mertuaku di Yeongju.” Minho membelalakkan matanya, ia memasang wajah serius.

“Yeongju?”

“Ya, wah calon tunanganmu itu tampak seperti anak-anak.”

Minho menemui Tuan Choi yang ada di ruangannya, Tuan Choi tampak frustasi karena perusahaannya kini mengalami lemah di keuangannya. Ia tak tahu lagi harus kemana mencari Soo Ji. Satu-satunya orang yang dapat memulihkan kembali kestabilan perusahaannya.

“Appa.”

“Aku sudah menemukannya. Aku akan menemuinya. Tapi aku akan menjemputnya lusa. Kau hentikan saja pencarian ini dengan polisi.” Tuan Choi menyeringai bangga.


Soo Ji sedang makan malam bersama Nenek Kim. Suasananya tampak hangat meski hanya mereka berdua. Hari ini Soo Ji belajar menanak nasi dan memasak sup ikan tahu. Soo Ji tampak puas hari ini karena Nenek Kim menilai masakannya sangat enak. Ya, masakan yang dihidangkan memang berhasil dan tampak baik-baik saja, tapi tidak dengan dapur.

“Halmeoni, sesudah ini aku akan membereskan dapur dan mencuci piring. Kau harus beristirahat karena telah menjadi guruku hari ini.” ujar Soo Ji, nenek Kim tertawa lepas. Namun tiba-tiba seseorang mengetuk pintu.

“Oh, Na Eun-ah… Aigoo ada apa kau berkunjung malam-malam seperti ini?” tanya Nenek Kim, Na Eun melihat sekelilingnya, tak  ada Myungsoo, hanya ada gadis Seoul itu.

“Myungsoo sudah pulang tadi pagi. Kau mencarinya kan?” ujar Soo Ji. Membuat Na Eun terdiam.

“Aku hanya mengantar makan malam  ini untukmu Halmeoni, ini dari ibuku. Ia tadi berjalan-jalan ke pasar dan membeli bahan-bahan yang baru saja datang. Ini sangat segar Halmeoni.” ujar Na Eun, Soo Ji hanya tersenyum.

“Baiklah, kita makan bersama saja.” Nenek Kim membimbing Na Eun untuk duduk, Na Eun mengalas makanannya sendiri, ia mencicipi sup ikan milik Soo Ji.

“Wah, halmeoni… Sup nya sangat enak sekali.” ujar Na Eun.

“Ya, ini buatan Soo Ji, Ia belajar memasak denganku hari ini. Soo Ji-ah, kau lulus hari ini. Akan ku laporkan pada Myungsoo. Na Eun-ah, ibumu sangat enak sekali masakannya. Ayo, makan kembali.” ujar nenek Kim. Soo Ji tersenyum puas.

Soo Ji memasuki kamarnya yang telah nenek Kim siapkan, malam  ini menjadi malam yang menyebalkan karena Na Eun akan menginap disini. Soo Ji duduk seraya membereskan alas untuk tidurnya. Na Eun tersenyum melihat bunga hijau kuning yang berada di vas kecil di atas meja.

“Kau mengambilnya? Di dekat sungai? Tanganmu terluka?” pertanyaan Na Eun hanya dijawab dengan sebuah anggukan kecil Soo Ji.

“Aku jadi ingat dahulu Myungsoo Oppa mengambilkannya untukku, aku tidak diperbolehkan menyentuh tangkainya karena berduri. Dan di sungai itu juga tempat pertemuanku bersamanya.” jawaban Na Eun membuat Soo Ji terkejut, dalam hatinya ingin berteriak. “Mengapa gadis ini sangat menyebalkan.”

“Kau bekerja di Seoul?” tanya Na Eun.

“Ya.” jawab Soo Ji.

“Kau?” tanya Soo Ji balik.

“Aku bekerja sebagai guru les ballerina.” Soo Ji menganggukkan kepalanya mengerti, tiba-tiba nenek Kim masuk kedalam kamar.

“Soo Ji-ah, hentikan anak ini segera. Kepalaku pusing mendengarnya berbicara melalui video ini. Ia menanyakanmu dan menanyakan nilaimu terus. Aigoo…” nenek Kim kini menyerahkan handphonenya pada Soo Ji, Soo Ji tersenyum ketika menerimanya.

“Hei, kau membangunkan halmeoni. Ia harus beristirahat karena mengajarkanku memasak tadi.” ujar Soo Ji, Myungsoo yang sedang berada dalam video call itu hanya tersenyum polos. Na Eun yang sedang berada di samping Soo Ji mengehela nafasnya kasar.

“Ada yang merindukanmu. Hei, sunbae keluarlah dari persembunyianmu.” Soo Ji tersenyum, dilihatnya Eunhyuk dan Kyuhyun yang sedang berada bersama Myungsoo.

“Kwajangnim, kau baik-baik saja? Kau tahu Kwajangnim baru itu lebih sering mengacau di kantor, aish… Aku tak tahan melihatnya.” ujar Kyuhyun.

“Kami merindukanmuuuu, sungguh.” timpa Eunhyuk, Soo Ji hanya tertawa geli.

“Kalian menginap lagi di rumah Myungsoo?”

“Tidak, aku menginap di apartemen Eunhyuk sunbae, banyak pekerjaan yang harus kami lakukan secara team.” papar Myungsoo. Soo Ji mengangguk.

“Oh, Myungsoo-ssi, Na Eun menginap disini, ia mencarimu. Na Eun-ssi, ayo katakana sesuatu pada Myungsoo.” ujar Soo Ji sembari menggerakkan ponselnya ke wajah Na Eun. Eunhyuk dan Kyuhyun terperangah melihat wajah Na Eun.

“Annyeong Oppa.” ujar Na Eun. Myungsoo hanya tersenyum dingin.

“Aish, ini bukan tempatnya kita.” ujar Eunhyuk dan Kyuhyun yang segera hilang dari layar handphone.

“Kau menginap?” tanya Myungsoo, Na Eun mengangguk. Di lihatnya Soo Ji yang sudah tidak ada di layar.

“Kwajangnim, kau mendapat nilai 90 untuk memasak. Kau hebat.” ujar Myungsoo, Na Eun kebingungan , ia kembali menyerahkan handphone tersebut ke tangan Soo Ji.

“Aku harus segera tidur, Myungsoo-ssi. Selamat malam.” Soo Ji mematikan sambungan teleponnya. Ia kemudian membaringkan tubuhnya dan membelakangi Na Eun. Na Eun juga sudah siap untuk tertidur.

“Kau manager Myungsoo Oppa di Seoul, kau hebat Soo Ji-ssi.” ujar Na Eun, Soo Ji hanya terdiam.

“Sudah berapa lama kau mengenal Myungsoo?” tanya Soo Ji.

“Kami berteman sejak kecil namun tidak terlalu dekat. Kami dekat ketika memasuki sekolah dasar.” Soo Ji kembali mengangguk.

“Myungsoo orang yang menyenangkan, kan?” tanya Soo Ji, Na Eun tertawa kecil.

“Sudah ku tebak, kau menyukainya.” tutur Soo Ji, Na Eun dengan cepat menyangkalnya.

“Kau tidak perlu berpura-pura, aku dan  kau sama –sama seorang perempuan. Aku tahu.” ujar Soo Ji kembali.

“Tapi, dalam sebuah kasus cinta, seharusnya salah satu pihak tidak merasakan sakit hati. Itu berbahaya.” ujar Na Eun. Soo Ji hanya mengernyit heran.

—//—
Soo Hyun terduduk di ruangannya. Ia selalu terpikir Soo Ji. Bagaimana wajahnya jika dilihat secara nyata dan bagaimana suaranya. Ia tersenyum bodoh mengingat Soo Ji yang selalu menghantui pikirannya, tepatnya ia yang menciptakan hantunya sendiri. Soo Hyun memutuskan untuk keluar sejenak dan membeli kopi di dekat klawasan perkantoran Soo Ji. Kopi disana sangat enak.Tapi ia kembali berpapasan dengan pria yang tak sengaja bertubrukan dengannya di Lobby.

“Oh, Tuan.” ujar Myungsoo, Soo Hyun mengulurkan tangannya dan bersalaman dengan Myungsoo.

“Kita bertemu lagi. Siapa namamu?” tanya Soo Hyun.

“Aku, Kim Myungsoo. Aku bekerja di kantor ini di bagian teknisi.” jawab Myungsoo sembari menunjuk ke  arah kantornya.

“Jika begitu, kau kenal dengan managernya yang terdahulu kan? Bae Soo Ji, dan aku, aku Kim Soo Hyun.” tutur Soo Hyun.

“O—Oh, kau rupanya Tuan yang datang ke kantor kami dan mencari Kwajangnim? Yang menawarkan kerja sama?” tanya Myungsoo, Soo Hyun mengangguk.

“Ini lingkungan kantor, hal seperti itu cepat menyebar, Tuan.” tambah Myungsoo.

“Jadi, Bae Soo—“

“Oh, dia, dia dikenal dengan gadis berperilaku kasar. Dia bahkan tak pernah tersenyum jika masuk kedalam kantor. Semua orang di kantor tahu bahwa ia sombong.” pernyataan Myungsoo membuat Soo Hyun tersenyum.

“Gadis itu menarik.” gumamnya.

“Ne?” tanya Myungsoo, Soo Hyun menggeleng dan melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.

“Ini sudah waktunya aku kembali. Kita harus bertemu lagi, Myungsoo-ssi.” ujar Soo Hyun. Soo Hyun kemudian berlalu keluar. Myungsoo menghembuskan nafasnya lega. Ia tahu bahwa pria itu yang memaksa Soo Ji untuk bekerja sama dan bersikeras untuk bertemu dengan Soo Ji. Myungsoo setidaknya sudah memberitahu kejelekan Soo Ji agar pria itu tak mendekati Soo Ji. Tapi, bagaimana dengan perusahaan?


Sudah sekitar 5 hari Soo Ji berada di Yeongju, ia merasakan lebih hidup dari sebelumnya. Ia sangat senang berada disini, penduduknya sangat ramah dan peduli. Satu hal yang membuat ia tak nyaman, adalah gadis ballerina itu. Ia selalu mengacau apa yang akan Soo Ji lakukan, kemarin ketika Soo Ji sedang mengangkat wortel ke gudang, ia merampasnya dan memasukkannya ke gudang, disana banyak penduduk yang bekerja dan lebih memuji Na Eun. Malam  ini Soo Ji tak bisa tidur, ia teringat ibunya yang kerap kali hadir di dalam mimpinya. Tiba-tiba suara seseorang membuka gerbang pintu menyadarkannya, pria itu… Pria yang paling ia benci, pria yang sama sekali tak ia harapkan. Choi Minho.

“Kau disini rupanya.” ujar Minho mendekat. Soo Ji menjauh.

“Aku merindukanmu, Soo Ji-ah.” tutur Minho kembali.

“Bagaimana kau bisa kesini? Lebih baik kau pulang.” jawab Soo Ji. Minho hanya mendekatkan dirinya kembali pada Soo Ji, diraihnya tangan Soo Ji, namun Soo Ji menepisnya.

“Kau harus ikut ke Seoul bersamaku.” ujar Minho, Soo Ji berdiri dari tempat duduknya, Ia kemudian mendorong Minho yang hendak memeluknya.

“Kau pria kurang ajar, kembalilah ke tempat asalmu. “ ujar Soo Ji, Soo Ji hendak masuk kembali kedalam.

“Aku akan mencabut peralatan yang menempel di tubuh ibumu. Ayahmu tak punya biaya untuk merawat ibumu di rumah sakit. Alat-alat dan obat-obatan mahal itu yang membuat ibumu tetap hidup.” ujar Minho, membuat Soo Ji menghentikan langkahnya, ia terkejut bukan main. Air matanya menetes begitu saja, ia memegang dadanya, sakit. Ia merindukan ibunya.

“Pertimbangkanlah kembali. Aku akan kembali lagi besok.” tambah Minho. Nafas Soo Ji semakin tercekat, air matanya tak dapat ia tahan kembali. Ia terjatuh di lantai yang dipijaknya, bagaimanapun wanita itu ibunya.

Minho keluar dari rumah hanok itu. Ia kemudian menghampiri gadis berambut panjang itu.

“Terimakasih sudah menunjukkan jalannya.” ujar Minho. Gadis itu tersenyum dan mengangguk.

“Kau sudah berhasil memfotonya? Ternyata pria itu yang menyembunyikan Soo Ji selama ini. Terlalu berani sekali. Berikan foto tadi kepadanya.” ujar Minho.

“Y—Ya, tapi ku mohon jangan menyakitinya.” Na Eun sedikit memohon pada Minho, ia memang kesal pada Myungsoo sejak kejadian itu. Namun ia juga tak ingin menyakitinya.

“Ikutlah ke Seoul.”

_TBC_

Chapter ~

[“Mengapa kau melakukan itu? Kau bilang kau tak akan kembali kesini sebelum aku menjemputmu. Tapi kau melanggarnya. Kau pembohong.”]

[“Chakkaman, ada yang tak kau mengerti Myungsoo-ssi. Aku akan menjelaskannya padamu setelah ini, Myungsoo Op—pa…”]

[“Mana mungkin aku melihat ibu mertuaku sekarat hanya karena kau tak mau kembali? Kembali atau tidak, itu tak akan berpengaruh apapun untuknya. Aku tak sejahat itu.”]

[“Senang bertemu denganmu, Soo Ji, kita memiliki mata yang mirip bukan?”]

[“Jangan sakiti Myungsoo Oppa, jangan pukul ia. Kumohon!”]

Annyeong,gimana chapter ini? Jangan lupa yah comment atau like hehe, readers disini kan baik semuaaa hehe😉 hemm mau minta pendapat aja, We Are Not King and Queen lanjut jangan ya hehe.

86 responses to “[Freelance] Kwajangnim Chapter 4

  1. aigoo… belum ketemu aja sohyun udah tertarik sama suzy….
    myungsoo kenapa sih masih ngenang neun? belum bisa move on? myung nyebelin….
    oohh…naeun yang ngelaporin tempat keberadaan suzy ke minho?
    dasar wanita rubah… kesel3x

  2. Selanjutnya akan terjadi kesalah pahaman kah gara2 suzy kembali ke seoul? Heol dengan kekayaannya keluarga Choi bisanya ngancam terus huft

  3. aaa penasarann apa suzy yang adiknya soohyun yaaa ..
    minho jahat kamuu nak..
    kenapa naeun harus ikut ke seoul??
    haduh minhooooo kamu jadi baik ddeh coba .. wkwkwk

  4. Wah wah ada kejuatan apalagi nichhh,,, serba mengejutkan…. Masih penasaran siapa dia yg soo hyun maksud,?? Myungsoo atau soo ji????

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s