[Freelance] New Destiny Chapter 12

Title : New Destiny | Author : danarizf| Genre :  Fantasy – Romance | Rating : Teen | Main Cast : L [Infinite] as Kim Myungsoo, Suzy [Miss A] as Bae Suzy | Support Cast : Hoya [Infinite] as Putra Mahkota Lee Howon, Krystal [F(x)] as Jung Krystal (2015) / Putri Mahkota Jung Soojung (Joseon), Jiyeon [T-Ara] as Park Jiyeon, Irene [Red Velvet] as Bae Joohyun, Minho [SHINee] as  Choi Minho

…. 

Joseon, 1365

 “Sebenarnya aku ingin meminta bantuanmu,” kata Myungsoo.

Woohyun menaikkan sebelah alisnya dan menatap Myungsoo penuh tanda tanya. “Apa?”

“Itu… ada seorang dayang istana. Aku butuh bantuanmu untuk menyelediki dayang itu,” kata Myungsoo.

Woohyun terlihat berpikir sejenak. Ia memang bekerja di istana, tapi sebagai koki istana. Jadi mengapa Myungsoo meminta bantuannya? Bukankah lebih mudah jika Myungsoo, yang notabene adalah seorang pengawal untuk menyelidiki dayang itu sendiri?

“Aku seorang koki, Myungsoo. Bukannya lebih mudah jika kau melakukannya sendiri?”

Myungsoo tahu itu. Tapi mengingat peristiwa beberapa waktu yang lalu saat seorang dayang istana dibunuh tepat saat Ia menyelidiki dayang tersebut, sepertinya bukan pilihan yang tepat jika Ia kembali menyelidiki dayang istana. Pihak yang ‘membunuh’ dayang terdahulu pasti akan langsung tahu jika Ia kembali menyelidiki seorang dayang istana.

“Ada satu alasan yang membuatku tidak bisa menyelidikinya. Lagipula aku tahu kau dekat dengan beberapa dayang istana, karena itulah aku meminta bantuanmu,” kata Myungsoo.

“Hmm… sebenarnya aku mau saja membantumu. Memangnya kenapa kau menyelidiki dayang itu? Apa kau menyukainya?” tanya Woohyun.

Myungsoo menggelengkan kepalanya. “Tidak. Tentu bukan itu alasannya. Ini menyangkut kasus Putri Mahkota yang menghilang beberapa waktu yang lalu,” jawab Myungsoo yang sontak membuat Woohyun kebingungan.

“Putri Mahkota? Bukannya Putri Mahkota sudah kembali?”

“Sepertinya aku harus menceritakan semuanya padamu. Putri Mahkota yang ada di istana sekarang ini… bukanlah Putri Mahkota yang sebenarnya.”

Mwo?”

….

Suzy duduk termenung di halaman penginapan. Ia tak tahu mengapa tapi kejadian kebakaran itu terus saja memenuhi  pikirannya. Apa mungkin karena Ia merindukan Joohyun? Biasanya setiap hari Ia selalu mengobrol dan bercanda bersama Joohyun. Sekarang terasa sepi. Myungsoo yang terkadang menemaninya pun kini tak ada.

Suzy menghela nafas panjang. Berbicara perihal Myungsoo, Suzy masih belum bisa bertemu pemuda itu. Memang Myungsoo mempunyai niatan yang baik karena ingin menolong Joohyun saat itu walaupun pada akhirnya Joohyun tak bisa diselamatkan. Tapi yang membuatnya tak habis pikir adalah gayageum itu. Untuk apa diselamatkan?

“Apa karena itu makanya keluargaku menyukai gayageum? Bukankah kakek juga? Lalu aku? Tapi…,” gumam Suzy.

Entahlah. Ia masih tidak mengerti dengan semuanya.

“Hemh….”

Terlalu lama termenung membuat Suzy tak menyadari kehadiran seorang anak kecil di sampingnya. Suzy yang baru saja menoleh menjadi terkejut karena anak kecil itu kini sudah duduk manis di sampingnya.

“Kau siapa? Apa yang kau lakukan disini?” tanya Suzy pada anak kecil itu.

Anak kecil itu mendengar Suzy. Ia kemudian menoleh dan menatap gadis itu tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan Suzy.

“Apa kau sedang bersedih? Kau terlihat melamun. Wajahmu juga terlihat sedih.”

Suzy tak tahu harus bagaimana membalas perkataan bocah laki-laki itu. Bagaimana anak itu tahu kalau Ia tengah sedih? Apa begitu kentara di wajahnya?

Noonim, jangan bersedih….”

Tiba-tiba saja anak itu beranjak dari duduknya dan berjalan hingga berdiri di hadapan Suzy.  Sedangkan Suzy mengernyitkan keningnya bingung. Tingkah anak laki-laki di hadapannya ini aneh sekali.

“Aku akan menari dan menyanyi supaya Noonim tidak sedih. Hyung-ku baru saja mengajariku lagu ini,” ucap anak itu.

Suzy pun tersenyum saat melihat bocah itu mulai menggerakkan tubuhnya juga tangan dan kakinya hingga membentuk tarian tidak jelas. Bibirnya pun membuka dan menutup, melantunkan lirik dari lagu yang tak pernah didengar Suzy sebelumnya.

Bunga-bunga bermekaran. Daun-daun berguguran. Burung-burung berterbangan. Dan manusia saling berpelukan. La la la la la la… Bunga-bunga bermekaran. Daun-daun berguguran….”

Mendengar lirik yang aneh itu membuat Suzy mau tak mau tertawa. Apalagi tarian dan lagu yang dinyanyikan bocah itu benar-benar tidak cocok.

“Nah, seperti itu. Tertawalah seperti itu. Noonim, kau terlihat lebih cantik saat tertawa.”

Suzy tersenyum menanggapi kalimat polos anak itu. Ia kemudian mengusap pelan kepala anak laki-laki itu. “Terima kasih sudah menghiburku,” ucap Suzy.

“Siapa nama Noonim?”

“Namaku? Suzy. Bae Suzy.”

Geureyo? Noonim tinggal disini kan? Aku dengar keluarga Noonim tinggal disini untuk sementara karena sebuah kebakaran,” celoteh anak laki-laki itu.

“Hmm? Darimana kau tahu kalau rumah kami terbakar?” tanya Suzy.

Anak kecil itu lalu kembali duduk di samping Suzy. “Semua orang disini tahu itu.”

Jinjjayo?” sahut Suzy yang langsung dibalas dengan anggukan dari anak laki-laki itu. Suzy tersenyum tipis. Ia kembali mengusap kepala bocah itu. “Apa kau menginap disini juga bersama keluargamu?” tanya Suzy.

Bocah itu menggelengkan kepalanya. “Aku tinggal disini. Ayahku adalah pemilik penginapan ini. Dan aku adalah putra bungsu disini,” jawab anak laki-laki itu sambil membusungkan dadanya, membanggakan dirinya yang merupakan putra dari pemilik penginapan.

Aigoo… kau menggemaskan sekali. Siapa namamu?”

“Namaku? Changyeob. Choi Changyeob.”

Suzy membulatkan kedua matanya saat mendengar nama anak itu. Nama anak itu… siapa tadi? Choi Changyeob? Choi? Ia benar-benar tak mempercayai pendengarannya sendiri. Bukankah anak itu tadi bilang namanya bermarga Choi? Ia tidak salah dengar kan?

“Tunggu… tadi kau bilang siapa namamu?”

“Choi-Chang-Yeob!”

“Choi?”

….

Suzy sedang melipat pakaian bersama Nyonya Bae saat tiba-tiba Ia teringat anak kecil yang pagi tadi menemaninya. Marga anak itu Choi. Keluarga Choi. Bukankah itu berarti mereka adalah leluhur keluarga Choi yang dimaksud kakeknya? Kalau iya, apa yang dilakukan keluarga Choi hingga keluarga Bae berhutang budi pada keluarga itu.

Semakin berpikir keras membuat kening Suzy semakin berkerut dalam. Hal itu tak luput dari penglihatan Nyonya Bae. Ia heran melihat Suzy yang terdiam dengan kening berkerut.

“Suzy?” panggil Nyonya Bae.

Ne?” sahut Suzy.

“Apa yang kau pikirkan sampai kerutan di keningmu itu terlihat jelas?” tanya Nyonya Bae sambil menunjuk kening Suzy menggunakan dagunya.

Spontan Suzy menaikkan tangannya dan menutup dahinya. Ia kemudian menggelengkan kepalanya. “Animnida. Aku tidak memikirkan apa-apa,” jawab Suzy masih sambil memegangi dahinya.

Geureyo?”

Suzy menganggukkan kepalanya meyakinkan Nyonya Bae.

“Ah, Eomonim, penginapan ini memangnya miliknya keluarga Choi ya?” tanya Suzy tiba-tiba.

Ne, penginapan ini memang milik keluarga Choi. Memangnya kenapa kau bertanya begitu, Suzy-ah?” tanya Nyonya Bae ketika Suzy menanyakan perihal benar atau tidaknya pemilik penginapan tempatnya tinggal ini bermarga Choi.

Suzy terdiam. Ia tak menjawab pertanyaan Nyonya Bae. Tanpa Ia sadari keningnya kembali berkerut bahkan lebih jelas dari yang sebelumnya.

“Suzy?”

Ne?”

“Kau melamun?”

Animnida. Jwesongeyo.”

Srekk…

Suzy dan Nyonya Bae menolehkan kepala mereka saat pintu ruangan tempat mereka berada tiba-tiba terbuka. Seorang pria paruh baya memasuki ruangan dengan senyum lebar terpasang di bibirnya. Pria itu adalah Tuan Bae. Jelas saja senyum itu membuat Suzy dan Nyonya Bae menatap Tuan Bae dengan pandangan penuh tanya.

“Aku mempunyai kabar gembira untuk kita,” kata Tuan Bae seraya mendudukkan dirinya di hadapan Suzy dan Nyonya Bae. “Aku baru saja bertemu pemilik penginapan ini. Tuan Choi bilang beliau akan mengijinkan kita tinggal disini tanpa memungut biaya sepeserpun. Ia bahkan akan memberi gaji untuk pelayan kita yang membantu disini.”

“Benarkah?” pekik Nyonya Bae yang langsung dibalas anggukan oleh Tuan Bae.

Suzy yang mendengarnya pun ikut senang.

“Tuan Choi itu baik sekali mau membantu kita. Aku jadi merasa tidak enak pada mereka. Aigoo… bagaimana kita bisa membalas kebaikan mereka nanti?”

Senyum yang tadi terpasang di bibir Suzy menghilang. Sejenak Ia terdiam begitu mendengar perkataan Nyonya Bae. Kedua alisnya bertaut menyadari ada kata-kata tak asing dalam kalimat yang dilontarkan wanita itu. Kata… kata…. Kedua matanya membulat saat menyadari kata-kata itu. Membalas kebaikan Keluarga Choi. Balas budi. Hutang Budi.

Solma… inikah alasannya hutang budi yang dimaksud kakeknya? Tapi… jinjja?” batin Suzy.

“Suzy-ah, kau diam sekali hari ini. Kau sakit?”

Suzy mengerjapkan matanya saat mendengar celetukan Nyonya Bae. Pikirannya buyar seketika dan membuatnya langsung menatap sepasang suami istri di hadapannya itu.

Ne? Animnida. Gwaenchanseumnida,” sahut Suzy. “Aku… permisi ke kamarku dulu.”

“Ada apa dengan gadis itu? Tingkahnya sedikit aneh hari ini,” celetuk Nyonya Bae sedangkan Tuan Bae hanya mengedikkan bahunya tanda tak mengerti.

….

Seorang pemuda tampan berhanbok merah muda berjalan memasuki kediaman Keluarga Kim. Ia memberitahukan kedatangannya pada seorang pelayan disana dan segera mengikuti pelayan tersebut ke depan sebuah bangunan.

“Tuan, Saya akan memberitahukan kedatangan Anda pada Tuan Muda. Bisakah Anda menunggu disini sebentar?” tanya si pelayan.

Pemuda tampan itu tersenyum pada si pelayan. “Gwaenchanseumnida. Aku akan menunggu disini,” sahutnya. Pelayan itu pun segera memasuki bangunan tersebut meninggalkan si pemuda.

Mata pemuda itu sedang memperhatikan sekeliling saat tiba-tiba pelayan tadi kembali.

“Tuan Muda ada di dalam, silahkan masuk, Tuan,” kata si pelayan.

Pemuda itu pun segera melangkahkan kakinya setelah mengucapkan sepatah kata “Terima kasih” pada pelayan itu.

Srekk.

“Woohyun-ah….”

Pemuda tampan yang merupakan Woohyun itu membungkukkan sedikit tubuhnya sebelum kemudian duduk di hadapan orang yang ingin ditemuinya, Kim Myungsoo.

“Myungsoo-ya, aku sudah menyelidiki sedikit tentang dayang yang kau maksud dan sepertinya memang dayang itu adalah mata-mata Ibu Suri Park. Dayang tersebut merupakan putri dari salah satu mantan Menteri pada saat beliau masih menjadi Ratu. Menteri tersebut dicopot jabatannya karena terlibat sebuah kasus dan putrinya akan dikirimkan ke rumah gisaeng untuk dijadikan salah satu gisaeng. Menteri tersebut adalah salah satu kaki tangan Ibu Suri Park jadi tak heran jika Ia menyelamatkan putri dari mantan Menteri tersebut. Menteri tersebut meninggal setelah hukuman mati yang harus dijalaninya tiga tahun yang lalu,” jelas Woohyun panjang lebar.

Myungsoo sendiri terlihat menyimak dengan serius penjelasan Woohyun.

“Dari apa yang aku dengar juga, dayang itu belum lama menjadi dayang. Sekitar tiga bulan yang lalu. Sebelumnya Ia hanya dayang tingkat bawah dan posisinya dinaikkan menjadi dayang Putri Mahkota saat pergantian dayang beberapa waktu yang lalu,” lanjut Woohyun.

Myungsoo mengernyitkan dahinya, mencoba mengingat-ingat tentang pergantian dayang tersebut. Ia ingat. Pergantian dayang tersebut terjadi sesaat setelah salah satu dayang Putri Mahkota–yang juga merupakan dayang mata-mata yang diikuti Myungsoo–meninggal.

“Kalau begitu, aku harus memberitahukan hal ini pada Yang Mulia Putri Mahkota,” kata Myungsoo. “Woohyun-ah, tolong kau awasi gerak-gerik dayang itu di istana. Jangan sampai orang-orang terutama pihak Ibu Suri Park mengetahui kalau kau mengawasi mereka.”

Ne, algesseumnida.”

“Ehm… terima kasih karena sudah membantuku, Woohyun-ah.”

Gwaenchanhayo, aku senang bisa membantu menegakkan kebenaran.”

“Ck… seharusnya kau mengikuti jejak mendiang ayahmu menjadi polisi. Kau berbakat dalam menyelidiki dan mengawasi sesuatu yang mencurigakan,” kata Myungsoo.

Woohyun tertawa pelan. “Arrayo, sudah banyak yang bilang begitu padaku. Tapi sepertinya bakat memasakku lebih besar daripada bakat itu. Lagipula menjadi polisi sekarang ini ujung-ujungnya bisa menjadi salah satu boneka politik. Kau tahu, suap dan sebagainya. Ck… aku harus menghindari hal itu. Aku tidak sehebat ayahku yang bisa bertahan di tengah-tengah keadaan itu. Bisa-bisa aku terseret mereka.”

Myungsoo tersenyum mendengarnya. “Aku tidak yakin kau akan terseret.”

Geureyo? Ah, sepertinya aku harus kembali ke istana sekarang. Aku tadi berpamitan pada kepala koki istana untuk membeli beberapa bahan makanan. Ia akan curiga jika aku belum kembali.”

“Kau benar. Em… kalau begitu aku juga harus ke istana sekarang.”

“Eh? Kau mau ke istana bersamaku?” tanya Woohyun.

Myungsoo menggelengkan kepalanya. “Tidak. Itu akan membuat orang curiga. Kita berangkat sendiri-sendiri,” jawab Myungsoo.

Geurohkunna. Kalau begitu aku kesana duluan. Aku pergi dulu, Myungsoo.”

Ne, hati-hati, Woohyun-ah,” ucap Myungsoo sambil menyunggingkan senyumnya.

Sedetik kemudian senyumnya menghilang begitu Woohyun keluar dari ruangannya. Ia harus bergegas ke istana dan bertemu Putri Mahkota sekarang. Jika yang dikatakan Woohyun benar, Krystal benar-benar dalam bahaya sekarang. Dayang tersebut pasti sangat loyal pada Ibu Suri Park karena telah menyelamatkannya agar tak menjadi gisaeng.

….

Jari-jemari Suzy memetik senar-senar gayageum yang ada di hadapannya. Rasanya sudah lama sekali Ia tak memainkan benda itu. Membicarakan tentang gayageum, Ia jadi teringat Joohyun. Mengapa gadis itu bersikeras menyelamatkan gayageum ini. Apa sebegitu pentingnya kah benda ini dibandingkan nyawa gadis itu?

Suzy mengusap pelan permukaan gayageum yang sedikit menghitam. Tidak hanya Joohyun, Ia juga tiba-tiba mengingat Myungsoo yang saat itu keluar sambil membawa benda ini. Bukankah itu artinya gayageum ini memang begitu berharga bagi Joohyun hingga Ia meminta Myungsoo membawa gayageum ini keluar?

Suzy menghela nafas panjang. Bicara tentang Myungsoo, Ia jadi bertanya-tanya bagaimana keadaan pemuda itu saat ini. Terakhir bertemu dengannya adalah saat Ia pergi ke kediaman keluarga Kim. Itu pun Ia tak benar-benar memperhatikan pemuda itu jadi Ia tidak tahu bagaimana keadaannya.

“Agh.. mwoya? Kenapa aku jadi memikirkan Myungsoo?”

Jemari Suzy kembali bergerak dan menyentuh senar gayageum-nya. Namun belum sempat Ia melanjutkan permainannya, tiba-tiba bayangan tentang Tuan Bae yang bercerita mengenai kebaikan keluarga Choi muncul di kepalanya.

“Haruskah aku menemui Tuan Choi untuk mengetahui kebenarannya? Tapi apa iya aku akan mendapatkan informasi yang berkaitan dengan perjodohan yang dimaksud kakek?” gumam Suzy.

Tiba-tiba saja kepalanya terasa pusing karena terlalu serius berpikir. Saking frustrasinya, gadis itu justru mengacak-acak rambutnya.

Molla! Molla! Molla!”

….

Myungsoo berjalan keluar dari kediaman Putri Mahkota setelah salah satu dayang memberitahu kalau Putri Mahkota sedang bersama Putra Mahkota saat ini di kediamannya. Mengetahui itu, Myungsoo pun segera melangkahkan kakinya ke kediaman Putra Mahkota.

Benar saja gadis itu sedang berada di sana karena kini Ia melihat dayang Putri Mahkota tengah berdiri di samping seorang Kasim yang merupakan Kasim Putra Mahkota di depan bangunan tersebut.

“Kasim Hong…,” panggil Myungsoo pada seorang pria berhanbok hijau yang berdiri di samping dayang Putri Mahkota. Matanya menangkap sosok si dayang mata-mata di antara dayang-dayang Putri Mahkota yang ada di sana. Ia cukup terkejut karena beberapa hari sebelumnya dayang itu tak nampak di sekitar Putri Mahkota. Ia kemudian kembali mengalihkan pandangannya pada Kasim Hong. “Apa Yang Mulia Putri Mahkota ada di dalam bersama Yang Mulia Putra Mahkota?” tanya Myungsoo.

Ne, Yang Mulia sedang beristirahat di dalam saat ini. Kemungkinan beliau sedang tidur siang.”

Geureyo? Yang Mulia sedang tidur? Kalau begitu bisa beritahukan kedatanganku pada mereka? Ah, pada Putri Mahkota maksudku.”

Ne, algeusseumnida.”

Kasim Hong segera memasuki kediaman Putra Mahkota. Dilihatnya kini Putra Mahkota yang tengah tertidur dengan Krystal yang berada disiinya. Gadis itu terlihat sedang mengusap-usap lembut rambut Putra Mahkota.

“Yang Mulia, diluar ada Pengawal Kim Myungsoo,” kata Kasim Hong pada Krystal.

“Pengawal Kim? Tapi Yang Mulia Putra Mahkota tengah tidur. Em.. biarkan aku yang menemuinya. Lagipula aku harus kembali ke kediamanku,” sahut Krystal.

Gadis itu menolehkan kepalanya pada Howon, mengusap rambutnya sekali, lalu beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan Putra Mahkota. Begitu keluar, Ia bisa melihat Myungsoo yang tengah berdiri di samping dayangnya.

“Pengawal Kim…,” sapa Krystal.

Myungsoo dan beberapa dayang membungkukkan tubuh mereka saat melihat kedatangan Krystal.

“Kau ingin menemui Putra Mahkota? Beliau sedang tidur saat ini,” kata Krystal.

Myungsoo melirik si dayang mata-mata sekilas lalu kembali menatap Krystal. “Animnida. Saya kemari untuk menemui Anda. Bukankah Anda meminta bertemu saya karena ingin mengetahui lebih tentang Yang Mulia Putra Mahkota? Anda bilang karena saya adalah sahabat Putra Mahkota jadi Anda ingin menanyai saya.”

Krystal menautkan kedua alisnya heran. Kapan Ia mengatakan hal itu. Manik matanya menangkap kode yang diberitahukan Myungsoo lewat matanya. Ia melirik salah satu dayangnya lalu menatap Myungsoo heran.

“Ah, tapi saya tidak bisa membicarakan tentang Putra Mahkota sembarangan apalagi di tempat umum seperti ini.”

Krystal benar-benar tak mengerti. Karena bingung Ia pun hanya berkata, “kita bicara di kediamanku saja. Aku tidak ingin Putra Mahkota terbangun.”

….

“Jadi ada dayang mata-mata disini?” tanya Krystal pelan begitu Myungsoo memberitahukan apa yang diketahui pemuda itu. Ia sedikit terkejut mengetahui ada dayang mata-mata di kediamannya.

Myungsoo menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Krystal. “Ne, karena itu tadi saya berbohong saat di depan kediaman Putra Mahkota. Setidaknya dayang itu tidak tahu alasan sebenarnya mengapa saya dan Yang Mulia bertemu. Anda tidak perlu khawatir, aku dan temanku akan mengawasi dayang itu lebih lanjut. Tapi sebaiknya Anda juga berhati-hati, Yang Mulia.”

“Ah… pantas saja Ibu Suri begitu mencurigaiku dan yakin sekali kalau aku bukan Putri Mahkota yang asli. Rupanya dayang itu yang memberitahukannya,” ucap Krystal. Ia ingat saat tiba-tiba Ibu Suri Park mencurigainya saat itu hingga memojokkannya. “Eh, tapi benarkah hanya karena ada dayang mata-mata di kediamanku? Maksudku Ibu Suri Park terlalu cepat mengambil kesimpulan kan jika hanya mempercayai dayang itu.”

Myungsoo terdiam sejenak.

“Sepertinya bukan hanya karena dayang tersebut, Yang Mulia. Pasti ada alasan mengapa beliau menempatkan seorang dayang mata-mata. Lagipula sebelum Anda ditemukan pun Ibu Suri Park sudah menempatkan dayang mata-mata. Jadi Ia pasti tahu sesuatu tentang menghilangnya Putri Mahkota yang asli.”

Krystal mengangguk-anggukkan kepalanya setuju. “Kau benar. Dan entah mengapa aku curiga menghilangnya Putri Mahkota berhubungan dengan Ibu Suri Park. Aku bahkan berpikir kalau Putri Mahkota diculik Ibu Suri Park,” kata Krystal.

Myungsoo terdiam. Diculik Ibu Suri Park? Ia memang berpikir kalau Ibu Suri adalah dalang dibalik menghilangnya Putri Mahkota tapi bagaimana Ia membuktikannya? Tak mungkin Ia menemui dayang mata-mata itu seperti dulu. Bisa-bisa nyawa dayang itu melayang.

“Saya akan menyelidiki lebih lanjut. Tapi saya tidak tahu apa bisa cepat karena Anda sendiri tahu bagaimana berbahayanya Ibu Suri Park itu. Setidaknya kita harus berhati-hati dan itu membuat pergerakan kita sedikit lambat.”

“Hmm… tak apa. Bisa bahaya jika pihak Ibu Suri tahu kita menyelidiki mereka,” balas Krystal.

“Kalau begitu saya permisi dulu, Yang mulia.”

Geure. Terima kasih, Myungsoo-ssi.

….

Suzy berjalan mondar-mandir di depan kediaman keluarga Choi. Ia ingin menemui Tuan Choi dan menanyakan tentang bantuan itu. Ia berpikir siapa tahu ada suatu hal yang bisa membantunya di masa depan dan membatalkan perjodohannya. Tapi entah mengapa Ia sedikit ragu untuk menemui Tuan Choi.

Noonim? Apa yang kau lakukan disini?”

Suzy mengalihkan perhatiannya dan mendapati anak kecil yang sama dengan yang bertemu dengannya tadi pagi tengah berdiri tak jauh darinya sambil membawa sebuah kotak besar.

“Changyeob-ah… aku… sebenarnya aku ingin bertemu Tuan Choi,” jawab Suzy.

“Ayahku? Tapi Ahbeoji sedang tak di rumah.”

“Benarkah?”

Changyeob menganggukkan kepalanya, mengiyakan pertanyaan Suzy. “Memangnya Noonim ada urusan apa dengan Ahbeoji?” tanya Changyeob penasaran.

Anieyo. Eung… kau sedang apa, Changyeob-ah? Kenapa membawa kotak besar begitu? Memangnya itu kotak apa?” tanya Suzy sambil menunjuk kotak berwarna coklat yang dibawa Changyeob.

“Eh, ini milik kakakku. Aku tidak tahu apa isinya,” jawab Changyeob. “Eung… Noonim, aku permisi dulu ya. Annyeong!”

Suzy menautkan kedua alisnya. “Annyeong? Mwoya… kenapa dia tidak sopan pada yang lebih tua? Memangnya dia tinggal di masa depan… ckck,” decak Suzy sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

….

Hari sudah beranjak sore tapi Suzy masih saja menunggu kedatangan Tuan Choi. Jika tadi Ia menunggu di depan kediaman keluarga Choi, kali ini Ia menunggu di depan gerbang penginapan yang juga merupakan gerbang menuju kediaman keluarga Choi.

Suzy benar-benar penasaran dengan semuanya. Karena itu Ia setia menunggu disini dan berharap Tuan Choi segera menampakkan batang hidungnya karena Ia mulai lelah berjalan mondar-mandir di depan penginapan.

Eoh? Bukankah kau putri keluarga Bae?”

Suzy menolehkan kepalanya saat mendengar sebuah suara yang menyapanya. Kedua matanya membulat saat melihat pria di hadapannya. Tuan Choi sudah pulang. Suzy pun membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada Tuan Choi.

An..annyeonghaseyo. Jeoneun Bae Suzy imnida,” sapa Suzy.

“Ah.. Suzy-ssi… apa yang kau lakukan disini?” tanya Tuan Choi.

“Eung itu… sebenarnya saya ingin bertemu Anda. Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan Anda, Tuan Choi,” jawab Suzy.

Geureyo? Kalau begitu lebih baik kita bicara di dalam. Tidak enak bicara di depan sini sambil berdiri.”

Suzy pun mengikuti langkah Tuan Choi menuju kediaman keluarga Choi.

….

Suzy menatap pria paruh baya di hadapannya yang tengah menyesap secangkir teh yang baru saja diantarkan seorang pelayan. Sesekali manik matanya menatap sekeliling ruangan tempat Ia berada. Sebuah ruangan yang tak begitu luas dengan beberapa lemari berisi buku-buku memenuhi ruangan tersebut. Sepertinya ruangan ini adalah ruang kerja Tuan Choi.

“Ehem.”

Suzy sontak mengalihkan perhatiannya pada Tuan Choi saat mendengar pria itu berdehem memecah keheningan. Diletakkannya cangkir teh yang baru saja diminumnya lalu menatap Suzy dan bertanya, “apa yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya Tuan Choi.

Mendengar pertanyaan Tuan Choi membuat Suzy sedikit ragu. Apakah Ia harus menanyakannya atau tidak? Tapi bukankah ini menyangkut masa depannya? Jadi Ia harus benar-benar menanyakan sesuatu pada Tuan Choi.

“Maaf sebelumnya. Saya dengar Anda memberi sebauh bantuan pada keluarga kami. Saya sangat berterimakasih atas kebaikan Anda, Tuan Choi,” kata Suzy sedikit berbasa-basi. “Sebenarnya saya ingin bertanya apa alasan Anda membantu keluarga kami. Maksud saya… Anda terlalu baik untuk ukuran seseorang yang bahkan tidak dekat dengan keluarga kami. Ah maaf kalau saya lancang bertanya seperti ini.”

Tuan Choi terdiam. Ia kemudian mengingat pertemuannya dengan sahabatnya kemarin.

“Aku perlu bantuanmu, Taeji-ah. Tapi sebelumnya ada yang ingin kuceritakan padamu,” kata Tuan Kim.

“Tentang apa?”

“Ini tentang keluarga Bae.”

“Keluarga Bae? Yang rumahnya kebakaran itu?”

Tuan Kim menganggukkan kepalanya. “Ya, keluarga Bae yang itu. Kudengar mereka tinggal disini untuk sementara, karena itu aku meminta bantuanmu, Taeji-ah. Dan kurasa hanya kau yang bisa membantunya.”

“Apa itu?”

“Sebenarnya ini permintaan Myungsoo. Dia bilang dia merasa bersalah pada Keluarga Bae karena tak berhasil menolong putri mereka yang terjebak dalam kebakaran. Selain itu, kau tentu tahu Menteri Park. Myungsoo bilang Menteri Park adalah dalang dari peristiwa mengenaskan itu. Ia merasa bersalah karena berpikir ulah Menteri Park ini disebabkan olehnya. Karena itu dia memintaku untuk menemuimu. Keluarga Bae jelas sedang kesusahan dan untuk membayar sewa penginapan selama berhari-hari bahkan mungkin berminggu-minggu tentu memerlukan biaya yang sangat besar. Jadi biarkan mereka tetap tinggal disini sampai mereka bisa menemukan tempat tinggal yang layak.”

Tuan Choi–sahabat Tuan Kim–jelas berpikir keras mendengar permintaan sahabatnya. Bukan karena Ia tak mau membantu, tapi keadaan finansial-nya pun sedang tak begitu baik. Jika Ia memberi ijin keluarga Bae tinggal di penginapannya tanpa membayar sepeserpun, pemasukannya akan berkurang dan gaji karyawannya bisa turun. Ia jelas tidak bisa mengorbankan pekerja-pekerjanya. Mereka juga butuh uang untuk makan dan sebagainya.

“Bukankah Tuan Bae masih bekerja?” tanya Tuan Choi mengingat Ia sering melihat pria itu keluar penginapan saat hari masih pagi dan pulang saat hari sudah sore.

“Ya, tapi setahuku Tuan Bae hanyalah seorang guru gayageum. Penghasilannya pastilah hanya cukup untuk keperluan sehari-hari mereka. Mereka akan kekurangan uang untuk membayar sewa penginapan,” jelas Tuan Bae.

Lagi-lagi Tuan Choi terdiam. Ia sedang memikirkan permintaan Tuan Kim untuk membantu Tuan Bae.

“Sebenarnya aku mau saja membantu. Hanya saja keadaan finansial penginapanku pun tak begitu baik. Akhir-akhir ini jarang banyak yang menyewa penginapan. Orang-orang sekarang cenderung lebih senang menginap di rumah atau pondok sewaan milik warga. Hanya kadang beberapa orang penting. Itu pun sangat jarang.”

“Jadi karena masalah finansial?”

“Hmm… sepertinya hanya itu.”

Tuan Kim tersenyum. Sesuai perkiraannya. Ia kemudian mengambil sesuatu di balik lengan hanbok-nya. Sebuah kantung berwarna hijau tua yang berisi beberapa uang koin diletakkannya di atas meja, di hadapan Tuan Choi.

“Karena itu aku menyiapkan ini. Aku akan membayar biaya sewa mereka. Ini untuk biaya sewa selama beberapa hari ke depan. Untuk selanjutnya aku akan terus mengirimimu uang,” kata Tuan Kim. “Sebenarnya ini ide Myungsoo. Uang ini juga sebagian adalah penghasilannya,” tambahnya.

Tuan Choi memandang Tuan Kim tak enak. Jika bukan karena keadaan keuangannya yang tak begitu baik, Ia pasti sudah menolak uang pemberian Tuan Kim dan mengiyakan permintaannya secara cuma-Cuma.

“Kau mau kan membantu?”

“Eh.. itu….”

“Aku mohon, Taeji-ah,” pinta Tuan Kim.

Tuan Choi menghela nafas. Ia tak bisa menolak permintaan pria sahabatnya itu. Apalagi tujuan Tuan Kim itu baik. Untuk membantu Tuan Bae walaupun secara tidak langsung.

“Baiklah. Aku akan membantumu,” kata Tuan Choi akhirnya.

Tuan Kim tersenyum mendengar perkataan Tuan Choi. Setidaknya Ia berhasil membujuk Tuan Choi untuk memenuhi permintaannya membantu keluarga Bae. Ah tidak. Lebih tepatnya permintaan putranya, Kim Myungsoo.

“Ah satu lagi. Tolong jangan beritahukan kepada keluarga Bae kalau kami yang membantunya. Katakan saja kau memang berniat menolong mereka,” tambah Tuan Kim. “Dan ini. Ini tambahan uang. Tuan Bae sedang kesusahan jadi pasti sulit untuk menggaji pekerjanya. Berikan ini pada mereka. Kau bisa menawari mereka pekerjaan di penginapanmu dan memberikan uang ini sebagai gaji mereka.”

“Baiklah aku akan memperkerjakan mereka tapi biar aku yang membayarnya.”

“Tak apa?”

Tuan Choi menganggukkan kepalanya. “Jika mereka bekerja untukku, aku yang harus membayar mereka. Lagipula ada beberapa pekerjaku yang mengundurkan diri bulan lalu jadi kehadiran mereka cukup membantu.

Geureyo? Hm.. terima kasih, Taeji-ah. Kau memang sahabat yang baik.”

 

Suzy terpaku mendengar cerita dari Tuan Choi. Benarkah bantuan ini yang dimaksud kakeknya di masa depan? Jika Ia berarti kakeknya salah. Perjanjian itu… perjodohan itu salah. Walaupun keluarga Choi berperan penting dalam membantu keluarganya, tapi bantuan itu bukan berasal dari keluarga Choi. Mereka bukan berhutang budi pada keluarga Choi tapi…. Mata Suzy membulat begitu pikirannya melayang pada seseorang.

“Myungsoo…,” gumam Suzy.

“Apa?”

Suzy membuyarkan pemikirannya. Ia kemudian menatap Tuan Choi. Haruskah Ia menemui keluarga Kim dan menanyakannya? Atau Ia harus memberitahu keluarga Bae yang lain agar selalu mengingatkan keturunan mereka akan hal ini jadi Ia tak perlu dijodohkan dengan Choi Minho?

“Emm… Tuan Choi, jeongmal gamsahamnida karena telah memberitahu saya yang sebenarnya. Eung… bolehkah saya permisi keluar?”

“Ah ne, silahkan.”

….

“MYUNGSOO!”

Myungsoo sedang berjalan memasuki rumahnya saat tiba-tiba Ia mendengar sebuah suara memanggilnya. Ia membalikkan tubuhnya. Matanya menyipit saat mendapati seorang gadis dengan hanbok merah marun baru saja memasuki halaman rumahnya. Sedetik kemudian matanya membulat saat menyadari siapa gadis itu.

“Suzy?”

Gadis itu berjalan menghampiri Myungsoo yang jujur saja membuat Myungsoo heran. Bukankah Suzy sedang menghindarinya? Lalu mengapa tiba-tiba gadis ini menemuinya? Apa Suzy sudah tidak marah dengannya?

“Myungsoo….”

….

TBC

….

Maaf ya lama update-nya. Minggu ini sama minggu kemarin aku sibuk ngurusin kuliah dan pulangnya sore terus. Nggak sempet ngelanjutin ff ini maaf banget.

Buat readers yang udah ninggalin rcl makasih banget yaaaa. Coba aja komennya sepi… pasti moodku langsung jelek dan males ngelanjutin. Buat chapter 13-nya blm tahu kapan. Sebenernya ini 3 hari libur dari Jum’at-Minggu tp nggak tahu sempet ngebut buat bikin beberapa chapter atau enggak.

Buat yang nungguin Myungzy moment maaf ya disini blm ada.

Jangan lupa RCL yaaaa! Annyeong!!!! =D

65 responses to “[Freelance] New Destiny Chapter 12

  1. suzy sudah tau klo yang nolong keluarga bae itu keluarga kim….kira2myungzy baikan ga ya???ternyata ibu suri park.pingin nyingkirin putri mahkota dan kristal….ibu suri kah orang yang ada hubungannya sm hilangnya purti mahkora…next min

  2. akhirnya suzy tau kebenaranya, ternyata yang membantu keluarga Kim.. jadi kakek suzy salah, perjodohannya juga batal kan

  3. Huwaaa tbc nya knp disitu??
    I need myungzy moment
    Semoga kejahatan Ibu Park segera terbongkar dan putri mahkota yg asli bisa diselamtkan
    Ditunggu bangey lanjutannua ne…aku gregetan dan kepo banget sm lanjutannya nih

  4. eon kok masih belum sih dilanjutin ceritanya aku penasaran banget nich. greget banget sama ceritanya. seperti nonton drama korea gitu. ditunggu kelanjutannya thor . fighting

  5. setelah suzy mengetahui kebenarannya.apa yg akan ia lakukan saat ini untuk kebaiakannya dimasa depan…?

    next partnya ditunggu author fighting

  6. kyaaaaaa…akhirnya suzy tau…krystal makin mesra sama howon..awasss ntar jth cinta sm suami org…ditunggu next partnya thor…fighting!!!

  7. Owalahh jadi ini tuh kesalahpahaman,,, trus kalo keluarga bae tau keluarga kim yg sebenernya nolongin mereka, ntar suzy dijodohinnya sma myungsoo donk hehehe

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s