Huntsville [ Chapter. 3 ]

babyrosse1

Author | Babyrosse | Tittle | Huntsville


Cast | Bae Soo Ji | Oh Sehun |


Genre | Fantasy | Romance | lil bit Dark | Drama


Length | Chaptered | Rated | Teens


Disclaimer


The story is belong to Babyrosse©


Keep Calm


Don’t be plagiator


And love your self~

.
.
.
.


Story 3 ~ The Witch and The Alpha

.
.
.


Aku mencintaimu


Sampai hati dan tubuhku terasa begitu sakit

.
.
.


Setiap mereka lewat, atau lebih tepatnya Sehun. Bisa dipastikan tidak ada yang tidak menoleh dan tidak melepas pandang darinya. Pheromone yang dimilikinya sangat kuat, bahkan para peri hutan yang biasanya bersembunyipun berani keluar hanya untuk bisa berada di dekatnya.


Suzy sudah terbiasa dengan itu, dia masih bisa mentolerir beberapa perempuan di Desa yang mengikuti mereka sampai ke perbatasan Desa, tapi dengan sekumpulan peri hutan kecil berisik yang beterbangan disekitar kepala Sehun membuat Suzy terganggu.


“ Aku bersumpah akan membakar kalian hidup-hidup jika kalian tidak segera pergi sebelum kami sampai di Pelabuhan ! “ ancam Suzy mengacungkan tongkatnya kearah kepala Sehun, dimana sekumpulan peri hutan kecil bernyanyi riang.


“ Kau gila ?! Aku bisa mati tahu ! “ protes Sehun, tapi protesnya tak bertahan lama melihat Suzy yang siap menelannya. Sejak dari rumah Sehun mood Suzy memang tidak bagus, ditambah dengan gangguan dari perempuan di Desa dan peri hutan maka sempurnalah alasan Suzy untuk meledak setiap saat.


Peri hutan di kepala Sehun berputar-putar panik dengan suara yang tak bisa disebut nyaring.


“ Pergilah…pergilah… kalian bisa dipanggang ! “ usir Sehun mengibaskan-ngibaskan tangannya.


Suzy mengangkat tongkatnya, dan dengan sekali sabetan seolah ada angin kencang yang mengusir peri hutan itu dari atas kepala Sehun. Sehun menunduk kaget mengira kalau Suzy benar-benar membakar mereka.


“ Huh… aku benci Peri hutan. “ decih Suzy.


“ Kau sih memang membenci semua mahluk. “ gumam Sehun.


“ Diam kau, aku mendengarnya. “ ujar Suzy mendelikkan matanya.

.
.
.


Setelah melewati perbatasan Hunstville, mereka harus melewati jembatan besar yang terhubung langsung dengan Pelabuhan Hunstville.


Dari pelabuhan bisa terlihat sebuah bangunan megah dengan menara-menara tinggi, di dekat danau. Itulah Huntsville Academy, satu-satunya Sekolah di Hunstville. Di sana semua mahluk diterima dengan baik . Hunstville Academy terdiri dari 12 tingkat yang mana dijalani selama 12 tahun. Suzy masuk kesana saat berumur lima tahun dan menamatkan pendidikannya saat berumur enam belas tahun seperti yang lain.


Di Pelabuhan berderet-deret kapal terparkir dengan rapi. Terlihat beberapa Gergasi sedang bongkar muatan dari salah satu kapal paling besar disana. Bau ikan pun sudah tercium dari jauh.


“ Ouch… hidungku sakit sekali mencium aroma busuk ini. “ rintih Sehun tak tahan.


“ Jangan cengeng, Ayo itu kapal kita… “ kata Suzy mengeratkan ransel kulit dan letak busurnya. Dia mengedik kearah sebuah kapal besar yang sangat indah dengan ukiran ditiap sisinya.


“ Benarkah ?! Besar sekali ! Baik sekali Bibimu menyewakan kapal sebesar ini untuk kita. “


“ Kita tidak menyewanya, kita menumpang ─ Ohh… Luhan ! “ Suzy melambaikan tangannya pada seseorang yang sudah berada di dek kapal berukir itu.


“ Eh… ?! A-apa maksudnya ini ?! “ Sehun mundur beberapa langkah melihat sosok yang dia tak suka berada di dek kapal yang akan mereka naiki.


“ Ayolah… bisa menumpang di kapal sebagus ini harusnya kau tidak banyak protes. “ sahut Suzy tak sabar, setengah menyeret Sehun untuk naik.


“ Aku lebih berenang untuk sampai kesana. “ desis Sehun.


“ Baik, berenanglah sendiri. “ ujar Suzy sengit melepas Sehun dan naik duluan keatas kapal dan disambut oleh beberapa pengawal kerajaan yang berderet rapi di dek kapal.


Sehun menggeram kesal, sementara Suzy hanya mengerucutkan bibirnya. Suzy yakin Sehun tidak akan berani menolak dan dia tidak akan mungkin berenang dilaut yang dingin selama berhari-hari. Suzy tersenyum penuh kemenangan saat Sehun naik ke kapal dengan wajah masam.


“ Senang bertemu dengan kalian lagi. “ sapa Luhan ramah.


“ Terimakasih atas tumpangannya, kami benar-benar merasa tidak enak. “ kata Suzy basa-basi.


“ Ya benar… seharusnya kami tidak naik ke kapal ini. “ seloroh Sehun masih dengan wajah masam.


Untungnya, Luhan terlalu baik untuk dapat mengerti arti wajah masam Sehun jadi dia tersenyum penuh pengertian, “ Tidak masalah, kebetulan aku ada urusan ke Dreamville. “


Salah seorang pengawal kerajaan menaikkan jangkar kapal, bunyi peluit panjang dari cerobong asap menandakan bahwa kapal akan berangkat sebentar lagi. Pelan-pelan daratan Hunstville makin menjauh dan kapal meninggalkan pelabuhan. Hunstville dan Dreamville dipisahkan oleh laut, perlu waktu kurang lebih dua hari untuk sampai kesana menggunakan kapal laut.


Ada sekitar 10 orang pengawal kerajaan yang mengawal Pangeran, keperluan Luhan ke Dreamsville adalah untuk menghadiri pertemuan dengan Raja Dreamsville.


Sehun memilih berdiam di sudut kapal berpura-pura melihat pemandangan laut untuk menghindari percakapan dengan Luhan. Sebenarnya dia tak punya alasan khusus kenapa dia membenci Luhan, Luhan samasekali tak pernah melukainya. Dia hanya tak menyukai orang yang terlalu baik seperti Luhan.


Suzy sendiri tak mau repot-repot untuk membujuk Sehun, nanti saat jam makan dia akan kembali seperti semula. Suzy menghela nafasnya, memandang Sehun di sudut yang menggerutu dalam diam.


“ Ada apa ? “ tanya Luhan menepuk pundak Suzy lembut.


“ Ya ? Oh… bukan apa-apa. “ balas Suzy tersenyum.


“ Apa kalian sedang bertengkar ? “ Luhan menyandarkan diri di dek kapal, menyamankan diri.


“ Haah… “ Suzy mengikuti jejak Luhan, “ … dia masih saja kekanakan seperti itu. “


“ Kau pasti sangat mengenal Sehun dengan baik. “


“ Kau benar, karna kami sering bersama aku jadi terbiasa dengan semua keanehannya. “


Luhan tersenyum simpul, “ Itu artinya dia juga pasti sangat mengenal dirimu. “


“ Eh ? “ Suzy menoleh dengan tatapan bingung kearah Luhan, tapi kini Luhan tengah menatap kearah laut lepas.


“ Bukankah seperti itu ? “ kata Luhan ambigu menatap laut lepas dihadapannya.


Suzy menghela nafasnya lagi, “ Dia tidak memahamiku samasekali… “

.
.
.
.


Hari sudah mulai gelap, dan angin laut yang berhembus kencang sangatlah dingin. Suzy mengerubungi dirinya dengan selimut tebal dari bulu domba. Sehun masih berdiam di sudut, dia menolak makanan yang ditawarkan oleh Pengawal kerajaan.


“ Temanmu belum makan dia juga menolak selimut yang kami berikan. “ lapor seorang Pengawal Kerajaan pada Suzy setelah dia mencoba memberikan selimut pada Sehun.


“ Jangan hiraukan dia. “ kata Suzy, mengusap-usap telapak tangannya yang dingin.


Luhan sedang mengobrol denga Kapten kapal diatas dek, dan para Pengawal sudah tertidur tertutup selimut diantara tumpukan barel-barel anggur kosong.


“ Kalau tahu begini aku tidak akan pernah ikut… “ gerutu Sehun, dia jauh lebih memilih untuk berenang tapi Suzy pasti akan marah-marah padanya lagipula sebelum dia sampai ditepian dia sudah mati dimakan hiu.


“ Bruk ! “ sebuah selimut menimpa tubuh Sehun.


“ Sampai kapan kau akan marah he ? “ omel Suzy, ikut duduk disamping Sehun tapi Sehun sengaja membuang muka darinya.


“ Sampai kau minta maaf padaku ! “


“ Aiisshh… bermimpi saja sana ! ─ Baik…baik… aku minta maaf, aku tidak memberitahukannya dari awal karna kalau begitu kau pasti akan menolak untuk ikut. “ jelas Suzy.


“ Kau kan tidak perlu menumpang pada Pangeran si*alan itu ! “


“ Diam kau, mendapat tumpangan dari Kerajaan adalah hal menguntungkan tahu ! “


“ Kau juga diamlah, dasar Penyihir pelit ! “


“ Huh ! “


“ Huh ! “


Keduanya sama-sama membuang muka, jika saja perjalanan Dreamsville tidak jauh Suzy tidak akan membutuhkan Sehun dan membiarkannya pulang kembali ke Huntsville.


Angin kembali berhembus kencang, membuat Suzy kembali mengusap-usap tangannya karna kedinginan. Bahkan setelah memasuki perairan Dreamsville, terlihat butiran-butiran salju meskipun bukan musim dingin. Karna di Dreamsville setiap harinya, sepanjang musim dan sepanjang tahunnya adalah musim dingin. Tidak ada musim panas ataupun musim semi dan musim gugur. Itulah yang membuat Dreamsville sangat istimewa.


“ Fuuh… “ Nafas Suzy berubah menjadi uap ketika kapal memasuki perairan Dreamsville. Dia mengeratkan selimut bulu dombanya. Butiran-butiran salju mulai berjatuhan.


Suzy mendelik kaget saat Sehun merapatkan duduknya pada Suzy, dia menyelimuti Suzy dengan selimut miliknya ─ Sehun adalah serigala berdarah panas ─ dan dia meraih tangan Suzy untuk kemudian digenggam.


“ Ckk… tanganmu lebih dingin dari biasanya. “ ujarnya, seolah mengabaikan acara saling marah mereka. Sehun mengusap-usap telapak tangan Suzy dengan telapak tangannya.


Saat musim dingin, ini adalah hal yang biasa Sehun lakukan pada Suzy, karna sewaktu kecil keduanya sangat suka bermain di tanah lapang pinggir hutan dan Suzy selalu pulang dengan keadaan menggigil tapi tangannya terasa hangat karna Sehun menggenggamnya.


Suzy tersenyum, jauh lebih terasa hangat saat bersama Sehun.


“ Maaf… lain kali aku tidak akan memaksamu untuk ikut. “ ucap Suzy pelan.


Sehun nyengir, “ Kau tidak pernah memaksaku, aku sendiri yang selalu ingin ikut tapi kau tahu kan aku tidak suka pada Pangeran si*alan itu. “ sepertinya Sehun masih kesal masalah Luhan.


“ Kenapa kau membencinya ? “ tanya Suzy penasaran, dari dulu dia tak mengerti kenapa Sehun membenci Luhan.


Sehun tampak berpikir sebentar kemudian dia mengedikkan bahunya, “ Aku tak tahu. “


“ Mana bisa seperti itu ! “


“ Aku tak tahu… pokoknya aku tidak tahu. Tapi sebenarnya aku cukup menyukai dia… kurasa aku membencinya hanya pada saat tertentu. “ ujar Sehun kalem.


Suzy mengernyitkan keningnya tak mengerti, “ Maksudmu ? “



Suzy tak menolak, dan tidak akan pernah menolaknya. Tidak ada yang lebih nyaman selain perlakuan manis Sehun kepadanya, namun mengingat perasaan Sehun pada Jessica membuat Suzy ingin segera menjauh tapi dia tidak bisa. Mungkin karna pengaruh pheromone Sehun yang sangat kuat. Harus Suzy akui, saat ini dia bahkan sudah lupa diri.

.
.
.
.


Beberapa kapal penangkap ikan terlihat dari kejauhan keesokan paginya, kabut tipis menyelimuti perjalanan mereka tandanya bahwa mereka sudah semakin dekat dengan Dreamsville. Suzy sudah mengenakan mantel bulu tebal untuk menghalau hawa dingin, dia sangat iri pada Sehun yang selalu hangat ─ dia bahkan mengeluh kepanasan ─ dicuaca dingin seperti ini. Hanya dia penghuni kapal yang masih bisa topless disaat hujan salju seperti ini.


“ Jadi setelah ini kalian akan kemana ? “ tanya Luhan.


“ Tenang, tidak perlu… kau tidak perlu repot mengantar kami ke tempat tujuan kami bisa berjalan kaki kesana. “ potong Sehun sebelum Luhan menawarkan tumpangan kereta pada mereka.


“ Ya tuhaan… ! “ Suzy menepuk keningnya, dia melupakan sesuatu yang penting. “ Aku meninggalkan alamatnya di rumah ! “ pekiknya tertahan.


“ A-alamat siapa ? “


“ Bibi Marry ! Penyihir yang membeli ramuannya ! Yaa tuhaan… bagaimana bisa aku melupakannya ?! “ ratap Suzy mulai panik.


“ Eh ? Eh ? Lalu kita bagaimana ? “ Sehun ikut panik. “ Kau tidak tahu dimana rumahnya ? “


“ Sebaiknya tenang dulu, kirimlah surat pada Bibimu menggunakan burung untuk minta alamatnya. “ kata Luhan menenangkan dan memberi pemecahan masalah, “ Setidaknya hanya itu yang bisa dilakukan bukan ? “


Suzy mengangguk tapi masih merutuki kebodohannya, baru saja dia mengatakan untuk meminjam burung pengangar surat Luhan saat sebuah suara memekikkan telinga terdengar dari angkasa.


Seekor burung elang besar terbang diatas kapal menembus kabut tipis dan berkoak-koak nyaring.


“ Itu Elang milik Jessica ! “ seru Suzy semangat, dia menepuk-nepukkan tangannya keangkasa dan burung elang itu menukik turun sebelum kemudian mendarat di pundak Suzy dan mencengkramnya erat.


“ Syukurlah… dia membawa surat, semoga saja ini adalah alamat rumah Bibi Mary. “ harap Suzy saat melepas ikatan perkamen dikaki burung elang itu. Hati Suzy mencelos lega, isinya memang alamat rumah Bibi Mary tapi selain itu ada yang lain. Di tulis dengan tinta bewarna biru dibaliknya dengan tulisan rapi khas Jessica.


Aku tak sabar untuk mengatakan ini padamu


Kris sudah melamarku ! Kami akan segera menikah !


“ Apa isinya ? “ tanya Sehun penasaran melongok kedalam perkamen yang Suzy baca.


Refleks Suzy menjauhkannya dari Sehun, “ A-alamatnya… ini adalah alamatnya ! “ sahutnya cepat dan memasukkan perkamen itu kedalam ransel kulitnya. Burung elang Jessica kembali terbang setelah Suzy memberinya beberapa potong biskuit.


“ Dasar ceroboh… beruntung sekali masih ada Jessica yang mengirimnya, dia benar-benar pintar ya… “ celoteh Sehun.


Suzy tak pernah merasakan sedih dan senang disaat yang bersamaan seperti ini, dia sedih karna tak tahu harus mengatakan apa saat Sehun mengetahui berita bahwa Kris ─ Kakak Sehun ─ akan menikah dengan Jessica. Tapi jauh dilubuk hatinya Suzy merasa sangat lega dan senang. Suzy segera menepis pemikiran tak baiknya itu dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


“ Apa semuanya baik-baik saja ? “ tanya Luhan, melihat Suzy yang tak bisa menyembunyikan kegelisahannya.


Suzy meremas-remas jemarinya, “ E-entahlah… “ jawabnya ambigu.


“Oi… kau kenapa ? “ Sehun ikut bertanya melihat tingkah aneh Suzy. Suzy makin salah tingkah dengan pertanyaan dari Sehun.


Dia tak mungkin menyembunyikan ini dari Sehun dan harusnya dia sudah tahu ini sejak awal bahwa Kris pasti akan menikah dengan Jessica, tapi bagaimana caranya dia mengatakannya ?


“ Oh… aku perlu bicara denganmu ! “ Suzy menarik tangan Luhan membawanya ke sudut dek, Luhan pasti bisa memberinya sedikit saran yang masuk akal.


“ Oii…oii… ! “ Sehun memanggil-manggil Suzy dengan kesal merasa tak diperdulikan, entah kenapa perutnya terasa panas dan ingin marah.


“ Bagaimana ini ? Aku…aku tak tahu harus mengatakannya darimana ─ Apa sebaiknya aku tidak perlu mengatakannya ? “ rintih Suzy.


“ Dan membiarkannya mengetahuinya dengan cara tragis ? Begitu dia pulang, dia sudah melihat persiapan pernikahan ? “ kata Luhan.


“ Ahhh… kenapa kau makin memperburuknya ? “ sungut Suzy.


Luhan terkikik, “ Maaf… aku tak bermaksud, tapi aku tak punya saran untuk masalah ini. “


“ Sudahlah… biarkan nanti dia saja yang mengurus dirinya sendiri ! “ sahut Suzy akhirnya.


“ Lalu bagaimana denganmu ? “


“ Apa ? “ tanya Suzy tak sabar mengibaskan tangannya diatas kepala menyingkirkan butiran salju diatas kepalanya.


“ Perasaanmu padanya. “


“ …… “


“ Kau terlalu sibuk dengan perasaannya sampai lupa dengan perasaanmu sendiri. “ ujar Luhan.


Suara peluit yang nyaring dari cerobong kapal menyadarkan keduanya. Sebuah daratan tampak dari kejauhan diantara kabut tipis.


“ Pangeran, sebentar lagi kita akan berlabuh di Dreamsville, harap bersiap-siap. “ lapor seorang Pengawal Kerajan memberitahu Luhan.


Luhan mengangguk, “ Baik, beritahu pengawal yang lain untuk segera bersiap. “


“ Terimakasih banyak bantuannya, kami akan berangkat sendiri mulai dari Pelabuhan. “ ucap Suzy.


“ Kau benar akan baik-baik saja ? “ tanya Luhan meyakinkan.


“ Oeh… jangan terlalu khawatir padaku. “ sahut Suzy, dia berjalan menuju ransel kulitnya membereskan barang-barangnya.


Laju kapal mulai melambat, dan peluit dari cerobong asap makin terdengar nyaring. Suzy menyampirkan mantel bulu tebal miliknya, karna dapat dipastikan udaranya sangat dingin.


“ Sehun kau sudah membereskan barangmu ? Sebentar lagi kita akan berlabuh. “ kata Suzy menyuruh Sehun untuk bersiap-siap.


“ Ckk… peduli apa kau ? “ sahutnya ketus dan pergi ke haluan kapal.


“ Kenapa dia ? “ gumam Suzy tak mengerti.

.
.
.


Mereka berpisah di Pelabuhan karna jalur yang berbeda, Luhan berangkat ke Istana menggunakan kereta yang sudah disiapkan oleh Kerajaan Dreamsville. Sementara Suzy dan Sehun berjalan kaki menuju bagian utara Dreamsville untuk mengantar pesanan.


Suzy membaca sekali lagi alamat Penyihir Marry sebelum meninggalkan Pelabuhan Dreamsville.


“ Snow White street… sepertinya aku tahu jalan itu. “ gumam Suzy, Suzy cukup sering pergi ke Dreamsville maka dari itu dia hafal dengan baik daerah-daerah disini. “ Ayo kita jalan… “


Sehun mengikuti Suzy dengan langkah uring-uringan, sepanjang mata memandang yang terlihat hanya warna putih salju. Kawasan hutan di Dreamsville jauh lebih sepi dibandingkan tempat mereka, yang terlihat hanya beberapa ekor musang bewarna putih yang berkeliaran tapi tetap saja ada beberapa ekor peri hutan yang mengikuti mereka.


“ Sepertinya tidak jauh lagi, tinggal melewati pemukiman lalu kita bisa bertanya disana. “ kata Suzy menoleh kearah belakang untuk melihat Sehun. Di kepala Sehun para peri hutan berputar dengan riang, peri di Dreamsville berkulit pucat dengan sayap putih keperakan senada seperti warna salju.


“ Apa ?! Kau mau membakar mereka ? “ balas Sehun ketus saat Suzy menoleh padanya. “ Jangan salahkan aku, pheromone yang membuat mereka seperti ini ! “


“ Aku tahu jadi berhentilah mengomel. “ ujar Suzy, “ Ya tuhan… apa itu ? “


Suzy baru menyadari salju yang turun menyentuh kulit tubuh Sehun menguap membuatnya terlihat seperti air yang diteteskan kedalam kuali yang sangat panas.


“ Apa yang terjadi ? “ tanya Suzy, Sehun memang serigala berdarah panas namun sepanas apa tubuhnya hingga membuat salju menguap ?


“ Waaah… apa ini ? “ Sehun pun baru menyadari keanehan tubuhnya. “ Apa salju disini selalu begini ? “


“ Sehun… ini bukan kali pertama kau kesini bukan ? “

Sehun menggelengkan kepalanya, “ Tidak, sebelum aku Sekolah aku pernah sekali kesini mengunjungi kerabat jauh kami. “


“ Auuw ! Kau panas sekali ?! “ seru Suzy saat coba menyentuh pundak Sehun, tangannya terasa memegang kuali panas.


“ Benarkah… aku memang merasa agak panas sih… “


“ Sudahlah … ayo cepat, kita akan memeriksanya begitu sampai di rumah Bibi Marry. “


Terdengar lolongan serigala dari kejauhan, entah kenapa membuat Suzy merinding. Lolongan ini tidak seperti yang biasa dia dengar.


“ Lebih cepat kita sampai di pemukiman itu lebih baik… Ayo ! “ Suzy punya perasaan tak baik lama-lama berada dikawasan hutan Dreamsville.


Tapi melewati daerah pemukiman keadaan tidak jauh membaik, bukan hanya peri hutan yang mengikuti Sehun, tapi hampir semua wanita yang melihatnya langsung berebut untuk menyentuh Sehun.


“ Benar kami mencari Penyihir Marry ─ Baik terimakasih. “ ucap Suzy setelah bertanya pada seorang penjual guci, sementara Sehun tengah berkutat melepaskan diri dari para wanita yang menempel padanya.
Jika saja Suzy tak mengancam para wanita itu dengan tongkat sihirnya, mereka pasti masih menempel pada Sehun sampai rumah Penyihir Marry.


Rumah Penyihir Marry terletak jauh dari pemukiman yang ramai, namun tak sulit untuk menemukan rumahnya karna berdasarkan keterangan penduduk sekitar rumahnya mudah untuk dikenali. Penyihir Marry tinggal disebuah pohon besar tua dan dijadikan pondok untukknya.


Suzy mengetuk sebuah pintu yang menempel di pohon besar, dia yakin ini adalah rumah Penyihir Marry karna dia bisa melihat papan kayu bertuliskan ─ Penyihir Marry Pengrajin Kayu.


“ Tok…tok…tok… “


Tak ada sahutan, Suzy makin menggigil tak terbiasa dengan udara dingin ditambah dia kesal dengan peri hutan yang masih beterbangan diatas kepala Sehun.


“ Tok…tok…tok… “ Suzy mengetuk pintunya tak sabar.


“ Mungkin dia tidak ada dirumah. “ celetuk Sehun berusaha mengusir peri hutan diatas kepalanya.


“ Halo… Apakah kau ada dirumah ?! Haloo ?! “ Suzy mengetuk pintu dengan lebih keras.


“ Kau bisa menghancurkan pintuku Nona… “


Keduanya terlonjak oleh suara dibelakang mereka, seorang wanita muda cantik ─ sepertinya seumuran Bibi Hyori ─ berdiri dibelakang mereka membawa sekeranjang apel bewarna putih pucat.


“ Ayo masuk… diluar sangat dingin. “ katanya tanpa perlu bertanya siapa mereka, dia melepas tudung mantelnya menampilkan rambut panjangnya yang bewarna putih keperakan.


Suzy mengedikkan kepalanya menyuruh Sehun untuk masuk, anehnya para peri hutan itu tidak ikut masuk seolah takut pada untuk masuk.


“ Aku memakai mantra anti peri hutan karna aku benci mereka. “ ujar wanita itu seolah menjawab pertanyaan Sehun.


“ Apakah anda Penyihir Marry ? “ tanya Suzy.


Wanita itu tak menyahut, dia berjalan menyebrangi ruangan dan melambaikan tongkatnya di dekat perapian membuat api dalam perapian menyala.


“ Aku bertanya pada anda. “ kata Suzy lagi agak ketus, merasa diabaikan olehnya.


Wanita itu tersenyum, sebelum mempersilahkan Suzy dan Sehun untuk duduk di satu-satunya kursi panjang diruangan ini.


“ Aku Marry, Pengrajin kayu. “ katanya datar.


Suzy memang bisa melihat disepanjang dinding rumah ini dipenuhi oleh ukiran kayu berbentuk aneka binatang. Rumah ini hanya terdiri dari satu ruangan, disalah satu sudut terlihat ranjang empuk dan sebuah meja kecil penuh buah didekat perapian, sangat sederhana.


“ Aku adalah suruhan dari Hyori, kami datang untuk mengantar ramuan anda. “ kata Suzy mengeluarkan kotak kayu dari dalam ransel kulitnya.


“ Aku tahu… “ katanya, entah sejak kapan dia sudah menyiapkan teh untuk mereka. Dia menyodorkan cangkir teh pada Suzy dan berkata, “ Tak perlu buru-buru… “


Lama-kelamaan Suzy menbenci gaya bicara Penyihir ini yang terkesan sangat mistis seolah-olah dia sudah mengetahui segalanya.


“ Wolfrine hmm… ? “ tanyanya saat menyodorkan secangkir teh pada Sehun.


Sehun mengangguk canggung, belum pernah dia melihat Penyihir selembut ini selain Jessica. Marry menatap Sehun dari bawah hingga atas, mengamatinya baik-baik.


“ Kau pasti kerepotan dengan para wanita di Desa… “


“ Harusnya kau tak pergi kesini. “ tambahnya dramatis, menyentuh tangan Sehun.


“ Kami tak punya banyak waktu ! “ potong Suzy tak sabar menepis tangan Marry dari tangan Sehun, Suzy berani bersumpah kulit Sehun masih sangat panas tapi Marry sepertinya tidak merasakan apapun. Marry tersenyum kearah Suzy, dan membuat Suzy jadi benar-benar membencinya. Suzy membuka kotak kayu yang dipegangnya dan mengeluarkan dua botol ramuan didalamnya.


“ Ini adalah ramuan perjanjian, Bibiku bilang kau harus membuat perjanjian bahwa permintaanmu hanyalah menjadi abadi. “ Suzy membuka tutup botol kecil berisi cairan bening, dia mengambil pena bulu dan selembar perkamen dan menggunakan cairan itu sebagai tinta untuk menulis.


“ Ahh… Hyori memang sangat waspada kepadaku… “ desah Marry, meraih perkamen dan pena bulu yang diberikan Suzy.


Suzy mengawasinya menulis dengan nafas tertahan, Marry kemudian menunjukkan permintaan yang dia tulis diatas perkamen pada Suzy.


Keabadian


Tulisan itu berpendar sebentar sebelum kemudian menghilang dari atas perkamen.


“ Baiklah… sudah beres, “ sahut Suzy riang mengambil kembali perkamennya, “ Kau bisa meminum ramuan perjanjian ini. “


Dengan sekali teguk, ramuan bening itu dihabiskan oleh Marry. Suzy tersenyum lega.


“ Ini adalah ramuan permintaannya, “ Suzy mendorong botol kecil berisi cairan emas keperakan kearah Penyihir Marry, “ … seperti kau tahu, jika kau meminta hal yang tidak sesuai dengan perjanjian maka ramuan ini tidak akan bekerja. “


“ Aku sudah mengetahuinya… “ kata Marry lembut memotong penjelasan Suzy.


“ Kenapa kau ingin menjadi abadi ? Itu terdengar sangat mengerikan… “ tanya Sehun, dia bergidik ngeri saat membayangkan bahwa kau tidak akan bisa mati.


Marry bangkit dari duduknya, mengambil secangkir teh untuk dirinya, membiarkan Sehun dan Suzy saling pandang tak mengerti dengan sikap anehnya.


“ Aku… “ Marry mengaduk cangkir tehnya pelan, “ … sangat mencintainya… “


“ ? ? “


“ Kekasihku adalah seorang Vampire… “ lanjut Marry.


Sehun mengangguk-angguk mengerti, Vampire adalah mahkluk yang abadi sedangkan Penyihir tidak, mereka bisa mati seperti halnya manusia biasa.


“ Kau terlalu banyak berkorban untukknya. “ cibir Suzy.


Marry membalikkan badan menghadap kedua tamu kecilnya, dia menatap Suzy lama sampai kembali berkata, “ Begitulah cinta… kau tidak akan tenang sampai kau bisa mendapatkannya,” sejenak matanya mengerling kearah Sehun. Suzy mulai curiga kalau Penyihir Marry bisa membaca pikiran. “ Apa kau sendiri akan terus berdiam diri memendam cintamu ? “ tatapannya beralih mengarah pada Suzy.


“ …… “


Sehun menatap keduanya bingung, tak tahu kemana arah pembicaraan ini.


“ Bagaimana bisa kau… “ Suzy tak melanjutkan kata-katanya karna terkejut.

Marry tersenyum mengabaikan keterkejutan Suzy, dia beralih pada Sehun.


“ Seorang Alpha(* sepertimu sangat bahaya berada di Dreamsville, apa kau tahu itu ? “


“ Seorang apa ? “ tanya Sehun merasa bodoh.


“ Alpha. “ ulang Marry, “ Terlihat sangat jelas… “

.
.
.
.


“ Tao ! Apa kau sudah selesai dengan kayu bakarnya ?! “ teriak Ibunya.


“ Oh… ! “ balas Tao dengan keringat bercucuran memotong bertumpuk kayu bakar, tugas yang seharusnya dikerjakan oleh Sehun adiknya.


“ Dimana Sehun ? Sejak pulang aku belum melihatnya. “ seorang Pria tua dengan tubuh penuh luka bertanya pada Istrinya.

“ Dia pergi bersama Suzy. “


“ Ckk…ck… sampai kapan dia mau mengikuti Penyihir terus. “ gerutu Ayah Sehun. “ Kemana mereka kali ini ? “


“ Tao ? Kau tahu Sehun pergi kemana ? “ teriak Ibunya, karna dia sendiri tidak tahu.


“ Bletak ! “ Tao mengayunkan kapaknya sebelum menjawab, “ Ke Dreamsville ! “


Seketika itu juga kedua orangtuanya tercekat dan memucat, Tao yang tak memperhatikannya tetap tekun memotong kayu.


“ Dreamsville ? Suamiku bagaimana ini … !? “


“ Tao ! Panggilkan Kakakmu ! ! “ raung Ayahnya.

.
.
.
.


Cangkir ditangan Suzy bergetar hebat, lolongan serigala dikejauhan makin memperburuk keadaan.


“ Kau tak pernah bilang kalau kau seorang Alpha ?! “ tuntut Suzy.


“ A-apa pentingnya ? Kris dan Kai juga seorang Alpha ─ Ada apa ? “ tanya Sehun tak mengerti.


“ Kau bisa mati jika kau terus berada disini, mereka sedang memburumu… “ kata Marry, Sehun masih tak mengerti apa yang dikatakannya.


“ Kau ini bodoh atau apa ?! Populasi Wolfrine di Dreamsville adalah yang terbanyak, begitu mereka mengetahui ada seorang Alpha bukan dari daerah mereka, mereka akan memburumu sampai mati ! Apa kau tidak pernah mendengar itu ?! “ kata Suzy dengan nada tinggi tak sabaran.


“ M-mati ? “


“ Haah… seharusnya aku sudah sadar sejak suhu tubuhmu meningkat dari biasanya. “ rutuk Suzy pada dirinya sendiri.


Lolongan Serigala makin terdengar jelas dimana-mana. Suzy sudah bangkit dari kursinya, busur panah dipunggungnya sudah berpindah berada ditangannya.


“ Mereka pasti sudah mencium pheromone seorang Alpha, Wolfrine di Dreamsville tidaklah seramah sepertimu─ mungkin ada beberapa─Kalian harus segera pergi. “ Marry mengayunkan tongkatnya kearah perapian, api dalam perapian seketika padam, dan dengan bunyi derak yang keras perapian itu membelah menyediakan sebuah jalan rahasia dibawahnya.


“ Aku bisa melihat sekawanan Wolfrine tak ramah bergerak kemari dari arah selatan, dengan melewati jalan bawah tanah ini kalian akan sampai di Desa dengan cepat. “ kata Marry.


“ Ayo Sehun, kita pergi dari sini ! “


“T-tunggu dulu ! Kenapa kita harus pergi ? Mereka adalah keluargaku juga bukan ? “


Suzy meremas kepalanya frustasi, entah Sehun ini polos atau bodoh.


“ Mereka bukan keluargamu, sudah kubilang Woflrine yang datang adalah Woflrine tak ramah. “ kata Marry lagi. “ Kalaupun kau ingin menghadapi mereka boleh saja, tapi perlu kuingatkan bahwa mereka adalah sekawanan Woflrine sementara kau sendiri ─ dan aku yakin teman Penyihirmu tak pandai berkelahi. “


“ Sehun cepatlah ! Jangan membuang waktu lagi ! “ seru Suzy gusar, mendorong tubuh Sehun untuk masuk kedalam perapian ─ tangannya kebas karna bersentuhan dengan kulitnya yang panas ─ dan diapun menyusul.
“ Terimakasih bantuannya… “ ucap Suzy pada Penyihir Marry.


“ Aku juga berterimakasih padamu, kau telah membawa kebahagianku dalam sebotol kecil ramuan itu. “ balasnya.


“ Tapi bagaimana kau bisa tahu tentang semua ini ─ maksudku … “


“ Aku seorang Penyihir yang pandai meramal. “ ujarnya, “ Sebaiknya kau cepat pergi … dan jangan terlalu lama memendam perasaanmu sendiri. “


Suzy mendengus tertawa, “ Terimakasih ! “ ucapnya lagi sebelum pergi menuruni tangga menuju jalan bawah tanah.


Gelap dan lembab, Suzy menyalakan pemantik dengan tongkatnya sebagai penerang.


“ Kau lama sekali… kemana kita sekarang ? “ tanya Sehun setelah Suzy benar-benar turun dari tangga.


“ Ayo jalan terus, katanya kita cukup mengikuti lorong ini. “ ujar Suzy berjalan mendahului Sehun.


“ Hei… pelan-pelan ! “ protes Sehun menarik tangan Suzy agar memperlambat langkahnya, tapi Sehun segera menepis tangannya karna Suzy meringis.


“ Auww ─ panas sekali ! “


“ Ah… maaf … aku lupa. “ Sehun merasa bersalah, melihat tangan Suzy yang hampir melepuh karnanya. “ Sebaiknya kau berjalan didepan dan menjauhlah… “


Hanya derap langkah keduanya yang terdengar, mereka pasti berada jauh dari atas tanah tapi suara lolongan serigala masih terdengar sayup-sayup. Satu-satunya penerangan hanyalah pendar hijau dari tongkat Suzy. Keduanya tak ada yang bicara, Sehun masih merasa bersalah karna tangan Suzy yang terluka, sementara Suzy sendiri merasa bersalah karna telah mengajak Sehun ke Dreamsville.


“ Aku… “


“ Aku… “


Keduanya buka suara disaat yang bersamaan.


“ Kau duluan. “ suruh Suzy sambil terus berjalan.


“ Tidak. Kau yang duluan… “ tolak Sehun.


Suzy terdengar menghela nafasnya, “ Aku minta maaf… dari awal seharusnya aku tidak memintamu untuk menemaniku. “


“ Tidak, jika saja aku mengatakan kalau aku adalah seorang Alpha dari awal… mungkin ini tidak akan terjadi ─ saat Gerhana dua bulan yang lalu aku resmi menjadi Alpha. “ jelas Sehun.


“ Maafkan aku… “ ucap Suzy lagi.


Keduanya kembali terdiam, sampai Sehun buka suara lagi.


“ Bagaimana tanganmu ? “ tanya Sehun.


“ Aku baik-baik saja, hanya kebas sedikit dengan sedikit ramuan akan segera sembuh. “


“ Syukurlah… sebaiknya kau jangan menyentuhku lagi. “


“ Sepertinya kita sudah mendekati Desa… “ gumam Suzy tak jelas karna dia sudah bisa mendengar hiruk-pikuknya Desa dari bawah.


“ Kau benar ! “ sahut Sehun setuju.


Secercah cahaya lain yang tampak dari ujung lorong memperjelas pernyataan keduanya. Mereka akhirnya muncul di dekat salah satu gudang rumah penduduk. Teriakan para penjual aneka pernak-pernik sempat menggoda Suzy untuk berhenti, tapi dia tahu ini bukan saat yang tepat.


Untuk sampai ke Pelabuhan mereka harus melewati Hutan lagi, tempat dimana kemungkinan besar mereka akan bertemu dengan Wolfrine yang akan memburu Sehun. Keduanya bergerak dengan cepat melewati Hutan.


“ Kita akan naik kapal kapal sewaan begitu sampai di Pelabuhan ! “ Suzy perlu berteriak agar suaranya tetap terdengar karna mereka sedang berlari. Kini Sehun yang memimpin di depan.


Mereka seolah berlomba dengan lolongan Serigala yang semakin mendekat. Suzy tak pernah berlari secepat ini meliuk diantara pepohonan.


Kejadiannya sangat cepat saat Suzy merasakan sesuatu yang berat menerkamnya dari belakang.


“ Arrghh ! ! “ Suzy jatuh terguling ketanah.


“ Suzy ?! “ Sehun berhenti dan mendapati sekawanan Wolfrine berhasil mengepung mereka. Suzy jatuh diterkam salah satu dari mereka yang sudah berwujud Serigala dan berhasil menangkapnya.


“ Grr… grr… “


“ Grr… grr … “


“ Lari ! Lari Sehun ! “ teriak Suzy, berusaha berontak dari cengkraman cakar tajam ditubuhnya. Tapi Sehun sepertinya berancang-ancang untuk melawan balik.


“ Grr…grr… “


Sehun menerjang Serigala yang mencengkram Suzy, tapi sebelum dia melakukan itu tiga Woflrine lain sudah menghadangnya.


“ Sehuun ?! “ teriak Suzy tercekat, saat sekitar sepuluh Wofrine menerkam kearah Sehun.


“ Grrhh… ! “ Serigala diatas Suzy menggeram dan menggoreskan cakarnya dibahu Suzy menyuruhnya untuk diam.


Pandangan Suzy mengabur, darah segar mengalir dari bahunya rasanya sangat sakit dan perih.


‘ Sehun… ‘

.
.
.
.


Dan kalian tahu ?

.
.
.
.
.


Waktunya untuk bilang


To be continued

.
.
.


See you in the next chap !



Baby perlu jelasin dikit ya…


Istilah Wolfrine digunakan saat masih berwujud manusia, kalau udah berwujud serigala maka yang digunakan adalah kata ‘ Serigala ‘ .


Terimakasih ya yang sudah review, jangan lupa review lagi !


(* Alpha = Pemimpin diantara kawanannya, dalam satu kawanan bisa ada lebih dari satu Alpha─seperti dalam keluarga Sehun─Seorang Alpha adalah yang terkuat dari kawanannya, tugas utama Alpha dalam adalah melindungi anggota kawanan lain.


Hei jangan lupa baca next chap yang udah langsung Baby post juga hari ini 

22 responses to “Huntsville [ Chapter. 3 ]

  1. omo suzy dan sehun diserang?
    akankah mereka selamat smoga ada yg menolong mereka?
    dan bagaiaman reaksi sehun ketika dia tahu gadis pujaannya itu akan menikah dgn kakaknya?

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s